Lasmi karya Nusya Kuswantin ini adalah novel berlatar sejarah yang berkisah tentang keluarga muda di masa ketika Presiden Soekarno menyerukan konfrontasi dengan negara tetangga Malaysia dan mengatakan “Go to hell…” kepada Amerika Serikat. Adalah seorang suami yang menceritakan aktivitas istrinya sebagai kader Gerwani, o...rganisasi kaum perempuan yang dianggap ikut terlibat dalam Gerakan 30 September 1965; mulai ia mendirikan taman kanak-kanak hingga memilih menyerahkan diri untuk dieksekusi mati.
Diawali pada Pemilihan Majelis Daerah tahun 1957 di sebuah desa di Kabupaten Malang (Jawa Timur) dan diakhiri awal tahun 1966. Novel ini memberikan gambaran sekilas tentang suatu masa yang paling berdarah di negeri ini pasca-kemerdekaan (1945): pembantaian paling berdarah terhadap aktivis berhaluan komunis.
“Lasmi, aktivis desa yang berusaha memajukan pendidikan dan pengetahuan warganya kemudian terbawa semangat zaman menjadi tokoh organisasi perempuan Gerwani. Ketika kudeta September 1965 meletus dan para anggota/simpatisan partai komunis dibantai di Pulau Jawa, Lasmi sempat mengungsi dan menyelamatkan diri sebelum ia kemudian menunaikan takdirnya sendiri. “Sebuah novel yang turut memperkaya khazanah sastra, sejarah, dan kemanusiaan bangsa kita yang paling mengenaskan.”—(Noorca M. Massardi, novelis, pewarta)
Lasmi, perempuan desa itu membaca Di Bawah Bendera Revolusi-nya Bung Karno, Habis Gelap Terbitlah Terang-nya Kartini, juga novel-novel Pujangga Baru. Ia terpesona gagasan Bung Hatta tentang koperasi dan menyukai gagasan Bung Karno tentang negeri ini. Sutikno terpesona Lasmi pada aktivitasnya, pikirannya yang progresif, dan caranya berargumentasi. Meraka kemudian menjalani kehidupan sebagai dua orang berpikiran terbuka, progresif, maju dan membangun rumah tangga ideal a la aktivis pergerakan masa itu.
Lasmi adalah seorang pecinta buku. Ia merintis Kerukunan Belajar Bersama hingga memiliki semacam perpustakaan yang antara lain diisi dengan buku-buku hasil karya warga desa sendiri. Yang ditulis dengan tangan dan berisi tentang apapun. Mulai dari seluk beluk bercocok tanam, hingga dongeng pengantar tidur. Untuk anak-anak, ia dirikan TK Tunas. Disana ia mengajar dengan semangat perubahan paradigma warga desa sedari usia dini.
Sayang, novel ini miskin dialog. Sosok Lasmi tak tergambar melalui percakapan maliankan tuturan Sutikno. Akhirnya, pembaca seakan digiring untuk melihat dan berpendapat seperti kacamata Sutikno. Lasmi menurut Sutikno, bukan Lasmi menurut bacaan pembaca. Hingga di akhir novel pun, konflik batin Lasmi hanya tergambar dalam surat yang ditulisnya untuk Sutikno.
Sekira tahun 1963, ketika Presdien Soekarno sedang getol menyerukan permusuhan dengan Negara tetangga, Malaysia, Lasmi mengambil keputusan penting: Menggabungkan Taman Kanak-kanaknya ke dalam Yayasan Melati dan sebagai konsekuensinya, Lasmi resmi mejadi anggota Gerakan WanitaIndonesia (Gerwani).
Di depan Taman Kanak-kanaknya kini ada tiga papan nama berjajar: TK Melati, Gerwani, dan Barisan Tani Indonesia (BTI). Aktivitas Lasmi pun berkembang. Ia tak hanya mengajar anak-anak, tapi mulai menggalang petani dan warga kampung untuk bergabung dalam BTI dan Gerwani. Ia membuat terobosan-terobosan pemikiran diantara masalah-masalah warga. Ia membuka ruang-ruang dialog antar warga. Ia mengikuti pelatihan dan pengkaderan. Hingga ia memiliki 5 anggota andalan yang suka membaca, bisa menulis, mampu menyusun surat, mengetik, berani bicara, dan tak segan menjadi ujung tombak; Sarip, Darsiyem, Jum, Bakir, dan Kamidi.
Lasmi berhasil. Warga tersadar akan pentingnya organisasi buruh tani dan petani penggarap. Mereka ingin memperoleh bagi hasil secara adil dengan pemilik tanah. Dengan payung BTI, warga bertekad melakukan demonstrasi melawan kekuasaan 7 setan desa: tuan tanah penghisap, tengkulak jahat, tukang ijon, lintah darat, kapitalis birokrat alias kabir, bandit desa, dan penguasa jahat.
Dan hari pertama Oktober 1965 pun tiba. Tersiar berita di radio bahwa Pasukan Cakrabirawa menangkap sejumlah jenderal. Keesokan harinya tersiar lagi kabar bahwa gerakan penculikan jenderal-jenderal adalah upaya kodeta yang dipelopori oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ormas-ormasnya. Berita itu mneyebutkan bahwa pembunuhan terhadap para jenderal dilakukan di daerah Lubang Buaya oleh Pemuda Rakyat dan Gerwani.
Situasi politik nasional mencekam. Lasmi sebagai ketua Gerwani di desanya, menanggung resiko penangkapan. Ia pun memutuskan bersembunyi sementara dari kejaran. Bersama suaminya, Sutikno dan anaknya, Gong, ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Dalam persembunyiannya itu, ia mendengar berita pembunuhan, pembantaian, dan kekejian terjadi. Saudara-saudara seorganisasinya menjadi target pemberangusan yang sadis. Kondisi ekonomi makin memburuk. Pangan semakin sulit di dapat. Pelariannya bukan hanya penuh ketakutan, tapi juga derita. Puncaknya, ketika Gong tak lagi mampu melawan sakit dan menghela nafas terakhir di 13 Desember 1965. Sayang, bagian pelarian ini tak diceritakan dengan narasi yang mampu menyedot pembaca pada situasi mencekam dan mendebarkan. Datar saja. Penulis tak banyak mengeksplorasi data seputar peristiwa paska september 1965. Ia hanya menuturkan narasi yang kaku dan dangkal. Tiba-tiba saja muncul berlembar-lembar transkrip pidato Bung Karno yang memecah alur novel.
Lasmi pun guncang. Ia merutuki kecelakaan jaman. Lirih ia berbisik pada Sutikno “Sut, maafkan aku ya? Kalau aku tidak masuk Gerwani, tentulah kita tak perlu mengalami ini semua ini”. Dan ia pun mengambil keputusan untuk menyerahkan diri pada aparat. Dalam suratnya ia menulis “ Sut, meninggalnya Gong telah membuatku menyesali segala aktivitasku sebagai Ketua Gerwani desa kita yang menyebabkan aku jadi buronan dan jadi musuh sebagian masyarakat. Bila sejak awal aku memilih menjadi perempuan biasa-biasa saja, mungkin anak kita masih bisa diselamatkan…”
Aktivis Gerwani adalah kader-kader terpilih. Mereka yang tertangkap, tersiksa, dan terbuang nyaris disepanjang sisa hidupnya pun, tak pernah terdengar menyesali diri telah menjadi bagian dari Gerwani. Mereka adalah kader ideologis yang militan. Simak fakta dari tiga orang periset Gerwani. Saskia E Wieringa (Penghancuran Gerakan Perempuan, Kuntilanak Wangi), Fransisca Ria Susanti (Kembang-kembang Genjer), dan Hikmah Diniah (Gerwani Bukan PKI). Dari ketiganya tak ada kesimpulan bahwa gelombang besar aktivis utama Gerwani menyesal telah bergabung.
Sejarah peristiwa tragis 1965 dalam novel ini memang hanya dijadikan tempelan, sehingga nyaris tak memberikan hal baru kecuali keberadaan tokoh dengan pernik-pernik permasalahan dan setting cerita. PKI tetap sebagai tertuduh dan Lasmi adalah semata korban.
Lasmi yang progresif, revolusioner, berpikiran maju, penggerak dan agitator ulung itu rubuh sudah di juntai stagennya. Bukan hanya tubuhnya yang rubuh, tapi idealisme dan militansinya sebagai kader Gerwani ! (Diana AV Sasa)
dan cover buku ini juga menggunakan warna serupa. akankah isi na tentang pertumpahan darah? seperti na. dengan siluet perempuan dan judul lasmi di depan na, mungkinkah korban na adalah perempuan?
diceritakan dengan sudut pandang orang kedua tunggal, sutikno, lelaki yang sangat mengagumi dan mencintai lasmi, akankah kisah ini jadi cerita yang memihak? seperti na demikian karena akhir na mereka pun dipersatukan mejadi suami-istri. karena ini mengkisahkan tentang aktivis perempuankah maka diceritakan oleh lelaki yang pasif?
sutikno, seorang guru, saat itu merupakan pekerjaan dengan pamor yang disegani pada masyarakat namun memilih mengalah pada isteri na. orang yang dianggap na lebih aktif, berjiwa sosial dan mampu mewujudkan apa yang selama ini dia inginkan. lelaki yang hidup saat feodalisme masih sering dianut, yang menjadikan perempuan sebagai “konco wingking”, memilih mengedepankan perempuan untuk mengambil keputusan terlebih dahulu tentang apa yang akan mereka jalani nanti na. kepala keluarga yang lebih memilih menjaga anak na dari pada mengekang keinginan isteri na. lasmi, yang tanpak begitu hebat na di depan lelaki tenang nan pendiam ini.
janggal ketika lasmi yang tampak banyak ide namun hanya dikisahkan melalu cerita pasif penutur na. di mana lasmi yang aktif, yang berkemauan kuat, yang berusaha meraih mimpi na, yang memperjuangkan hak-hak petani, yang ingin mengentaskan buta huruf dari desa na? semua itu hanya mewujud dari kisah yang dituturkan sutikno. lasmi hanyalah kisah, bukan seorang perempuan yang berdialog, berdiskusi dan menyampaikan pikiran na kepada pembaca. dan kisah na adalah…
kembang desa yang beruntung didekati beberapa pria namun akhir na memutuskan menikahi sutikno karena dia bukan dari partai mana pun. seleksi calon suami berdasarkan aktivitas politik yang dianut na. dari awal sudah diarahkan minat na pada pergerakan rakyat. sampai akhir na menikah dan punya anak. menikah tidak menghalangi aktivitas na, malah justru lebih bebas karena dianggap bukan tanggung jawab orang tua lagi tapi tanggungan suami dimana si suami pun membebaskan kegiatan na.
menjadi ibu adalah merasa khawatir terus-menerus (hlm. 62)
namun aktivitas na sempat menurun saat melahirkan gong walaupun akhir na tetap meninggalkan anak pada pengasuhan sang ayah demi mengikuti pelatihan. tetapi pada dasar na lasmi tetaplah seorang perempuan, yang memenuhi kodrat na sebagai ibu, yang mencintai anak na, yang tetap menyempatkan diri menyapa anak na di tengah segala kesibukan na. bukan memuja suami na, lelaki yang selama ini telah memberikan banyak kebebasan pada na.
seorang bayi mampu membuat seorang pria mengalah (hlm. 64)
dan lagi-lagi… sutikno pun mengalah ga hanya untuk lasmi tapi untuk bayi mereka. setelah segala wujud dukungan yang diberikan na kepada isteri na, sekarang segala kasih na yang dicurahkan untuk anak na supaya dia tidak kekurangan kasih dari orang tua na. persamaan derajat di sini digambarkan dari tidak enggan na suami untuk lebih merawat anak di rumah karena keberadaan istri yang lebih sering di luar rumah. setidak na jika si anak tidak dapat memperoleh kasih yang cukup dari ibu na, dia tidak boleh diperlakukan serupa dari sang ayah pula. dan di situlah sutikno mengambil peran na, yang kembali tampak pasif.
menjadi pendamping yang membesarkan hati na, menjadi sahabat mendiskusikan persoalan yang menggangu na, dan menjadi api yang membakar semangat na, sekaligus menjadi telaga yang mendinginkan emosi na. (hlm. 90)
sungguh, beruntunglah perempuan yang bisa memperoleh lelaki dengan pola pikir seperti itu. tapi apakah keberuntungan ini berlangsung lama? dengan kehidupan yang “nrimo” tanpa coba menengahi dan mengajak didkusi ini. dukungan tanpa henti yang terkesan tidak memperjuangkan atau memikirkan kepentingan pribadi. woi!!! kau ini guru bukan? –pengen lempar sutikno- coba dunk jadi orang yang mampu mengemukakan pendapat, yang mampu mengambil kendali dalam sebuah keluarga, yang mampu meredam hasrat pasanganmu saat itu mulai tampak tidak terkontrol lagi. kalau bukan demi kau, ya demi anak kau! pufh… -kelar teriak teriak-
sampai akhir na teriakan soekarno pun mencapai puncak na pada pidato peringatan kemerdekaan ke-40.
that’s the revolution is for. and we take it! (hlm. 115)
perang dingin antara indonesia dengan malaysia yang disebut sebagai boneka amerika mulai berbuntut panjang. ntah siapa lawan siapa. orang vs orang, negara vs negara, paham vs paham atau keyakinan vs keyakinan. siapa yang menang ditentukan seberapa mampu kita menggerakan massa dan berdiri di paling belakang setelah semua na tubing. pihak yang tidak sedang memanfaatkan segala yang ada untuk mengembalikan kejayaan mereka. peringatan soekarno ternyata merupakan ancaman bagi banyak pihak sampai akhir na terjadi gerakan 30 september.
sekali lagi, 30 september ya sebutan awal gerakan itu. dan orang yang ingin memperkeruh suasana indonesia memanfaatkan na, mendompleng peristiwa ini untuk menghilangkan musuh-musuh berat mereka –mungkin kalau sekarang sebutan na adalah provokator-. mulai menyalahkan PKI, gerwani atau apalagi gerakan masyarakat saat itu yang mengancam “sesuatu” saat itu. yang terancam pastilah mencari celah untuk membinasakan mereka. atau setidak na menggunakan mereka sebagai kambing hitam supaya mereka bisa muncul atau justru menyelundup masuk menanamkan akar ajaran mereka.
siapa yang jadi korban selanjut na? semua na. semua orang jadi korban na. indonesia merah, indonesia penuh darah. tidak hanya pengikut partai atau gerakan yang dituju yang jadi sasaran na. tidak hanya “sesuatu” penyelundup ini yang menjadi pelaku na. tapi orang yang tidak suka dengan tetangga sebelah na aja bisa jadi saling bunuh dengan tuduhan mereka terkait partai atau gerakan tertentu. bukan lagi berkelahi dan saling tuduh, tapi saling bunuh. seakan nyawa tak lagi ada harga na. terutama di lokasi-lokasi konsentrasi gerakan ni: bali, jawa timur atau medan. ntah seperti apa suasana sat itu. mungkin yang tidak tinggal di daerah-daerah konsentrasi tersebut tidak terlalu merasakan imbas na –jadi kangen ayah yang mengalami masa tersebut, andai ada bukti hidup yang masih bisa bercerita ke rhe kejadian saat itu, ah… senang na-.
air mata, darah atau kencing, apakah saat itu masih bisa dibedakan jika jalan bentar aja ketemu na mayat dan mayat lagi dengan pembunuh yang tidak diketahui. tidak hanya dari manusia na, tapi juga dari ketakutan dan status gizi na. seperti gong yang harus menyerah dengan penyakit na, seperti lasmi yang karena kodat na dan seperti sutikno yang menyerah karena cinta na, yang memilih takut kehilangan isteri na daripada berjuang untuk anak na. lagi-lagi sosok ayah yang ingin membuat rhe teriak… wahai ayah, dimana perjuanganmu sebagai kepala keluarga. saat harus memilih antara anak dan isteri mu, apakah besar cinta untuk isteri mengalahkan hati menyelamatkan seorang anak kecil?
lasmi, novel singkat yang mampu menyisipkan sedikit sejarah yang sering terlewatkan dari buku pelajaran sejarah dengan mengambil konflik keluarga. yang ditulis perempuan menggunakan sudut pandang lelaki untuk tetap mengedepankan perempuan. jadi.. bagaimana dengan cover merah na?
~~~ Lasmi, seorang perempuan dan istri dari seorang guru pada masa di mana Presiden Soekarno digantikan oleh pemerintahan Soeharto, bersamaan dengan terjadinya peristiwa kelam pembunuhan jendral pasca-kemerdekaan.
Lasmi, begitu mengusahakan adanya persamaan perlakuan bagi perempuan dan laki-laki. Ia juga aktivis desa yang berusaha memajukan pendidikan dan pengetahuan warganya. Cita-citanya yang luhur ini membawanya tergabung dalam sebuah organisasi wanita yang nantinya membuatnya masuk ke dalam daftar nama yang dicari pemerintah saat itu. Hingga akhirnya, ia pun memutuskan menyerahkan diri untuk di eksekusi. ~~~
Di sinopsis pada Ipusnas, dituliskan bahwa novel ini diangkat dari kisah nyata. Sebenarnya tanpa dituliskan pun, penulisan dan penggambaran cerita memang terasa begitu nyata sekali.
Melalui sudut pandang Sut, suami dari Lasmi, cerita ini dikisahkan seperti membaca catatan harian yang begitu rapi.
Novel ini bukan hanya mengisahkan peristiwa kelam yang terjadi, tapi juga menyuguhkan nilai-nilai budaya masyarakat pada saat itu. Selain itu, yg paling kusuka adalah nilai pendidikan dalam keluarga Bu Kerto dan Pak Kerto ke Lasmi, pus Lasmi dan Sut ke anaknya, hanya tentang prinsip mendidik perkara agama saja yang aku tak sepakat 😅. Ada pun prinsip dalam mengarungi rumah tangga, patut sekali untuk dicontoh dari kisah Lasmi dan suaminya ini.
Meski terdapat beberapa kata yang tak kumengerti, juga beberapa ketypoan dalam penulisan, bagiku itu tidak mengganggu untuk menikmati kisahnya.
Novel ini menarik, meski menyesakkan untuk dibaca. Sosok Lasmi yang ah, hanya karena cita-citanya yang luhur ia harus berakhir dan mati ditangan sesama perempuan 😭
"Apakah merupakan langkah yang benar mengimbangi kematian enam orang jenderal dengan pembantaian sekian banyak masyarakat sipil yang tidak tahu-menahu tentang peristiwa Lubang buaya?" hal.216
Tak bisa kubayangkan jika aku yang hidup di masa itu 😭
Lasmi adalah sebuah novel suram berlatar belakang sejarah kelam Indonesia di tahun 1965. Walau sudah ada beberapa novel yang mengambil setting sejarah di masa-masa itu, novel Lasmi tetaplah menarik untuk disimak dan diapresiasi.
Kisah Lasmi diceritakan melalui tuturan Tikno, suami Lasmi yang berprofesi sebagai guru, sedangkan Lasmi sendiri di mata suaminya adalah wanita yang cerdas dan berpikiran progresif. Kegemarannya membaca buku membuat dirinya memiliki wawasan berpikir yang luas, berani melawan arus, berjuang dalam hal kesetaraan perempuan dan pria, dan memiliki cita-cita luhur untuk memajukan pendidikan dan pengatahuan warga kampungnya.
Awalnya Lasmi berjuang sendiri dengan mendirikan TK dan sekolah menjahit, namun ketika akhirnya ia mencari seorang guru jahit, ia bertemu dengan Sumaryani seorang kader Gerwani. Melalui Sumaryani lah akhirnya Lasmi ikut menjadi kader Gerwani karena di mata Lasmi Gerwani adalah organisasi perrempuan yang mempunyai cita-cita luhur seperti dirinya yaitu berjuang demi kesetaraan perempuan. Namun siapa sangka, sebuah tragedi politik menyebabkan PKI dianggap sebuah partai yang paling bertanggung jawab terhadap Gerakan 30 September 1965. Akibatnya PKI dan organisasi bentukannya termasuk Gerwani menjadi organisasi terlarang dan harus ditumpas hingga ke akar-akarnya termasuk orang-orang yang berada di dalamnya.
Hal ini membuat Lasmi dan keluarganya berusaha menyelamatkan diri, ia hidup berpindah-pindah tempat guna menghindari kejaran masa terhadap dirinya. Hal ini terus berlangsung hingga akhirnya sebuah tragedi membuat Lasmi tersadarkan dan mengambil takdirnya sendiri, Ia membuat sebuah keputusan yang tidak terduga demi kehormatan dirinya dan demi pembelajaran bagi banyak orang atas peristiwa yang paling keji yang pernah dialamai bangsa yang berasazkan keTuhanan dan perikemanusiaan ini Kisah kehidupan Lasmi inilah yang tertuang dalam novel ini, dimulai dari perkenalan Lasmi dengan Tikno saat Pemilihan Majelis daerah tahun 1957, pernikahannya, kelahiran anak semata wayangnya, hingga fase kehidupannya yang harus berpindah-pindah untuk menghindari kejaran masa dan berujung saat Lasmi akhirnya mengambil keputusan yang sama sekali tak terduga olehj siapapun.
Di bagian-bagian awal kita akan disuguhkan pengenalan karakter Lasmi menurut pandangan suaminya. Di bagian ini kita akan melihat karakter Lasmi yang tampak begitu maju, modern dan progresif. Pandangan kaum komunisme yang begitu menghargai kerja petani tampak dalam bagaimana cara Lasmi mendidik anak-anak didiknya yang berdoa sebelum makan, alih-alih berterima kasih pada Tuhan, ia mengajarkan agar mereka berterima kasih pada petani yang telah bekeja mengolah padi menjadi beras.Pandangan-pandangan progresif Lasmi soal kesetaraan perempuan dalam pernikahan, pendidikan anak, dll juga mewarnai sekujur novel ini.
Di novel ini juga pembaca akan disuguhkan berbagai fakta sejarah seperti konforntasi dengan Malaysia, demonsrtasi anti Indonesia di Kuala Lumpur, pembentukan angkatan kelima, hingga cuplikan Dekrit Dewan Revolusi. Dan yang mengejutkan adalah munculnya cuplikan pidato Bung Karno “Tahun Vivere Pericoloso” yang diselipkan dalam novel ini.
Secara keseluruhan saya menikmati novel ini, pandangan-pandangan kaum progeresif revolusioner yang biasanya yang baca dalam teks-teks non fiksi kini dituangkan dalam ranah fiksi sehingga terkesan lebih hidup dan membumi. Berbagai fakta sejarah baik yang tercatat maupun yang tidak tercatat di buku-buku teks seperti gosip tentang jari telunjuk Bung Karno ketika sedang berpidato atau betapa kejinya peristiwa pembantaian orang-orang PKI d bisa ditemui di novel ini. Tak hanya itu penulis juga memasukkan sedikit tradisi setempat seperti dalam hal pernikahan, kelahiran anak, dll. Walau tak banyak tapi cukuplah untuk menambah wawasan.
Yang disayangkan dalam novel ini adalah kurang tereksplorasinya karakter dan konflik batin yang dialami Lasmi, karena dituturkan melalui sudut pandang suaminya, otomatis hanya sedikit konlik batin Lasmi yang terungkap. Walau pada akhirnya ada surat panjang Lasmi untuk suaminya tapi hal ini tentunya tidaklah cukup, akan lebih menarik jika Lasmi sendiri diberi kesempatan lebih banyak untuk menuturkan kisahnya sendiri sehingga konflik batin yang dialami Lasmi akan lebih tereksplorasi dengan baik Penulis juga tampaknya kurang sabar dalam mengembangkan kisah Lasmi ini. Ada banyak hal yang sebetulnya bisa dikembangkan lebih dalam lagi. Kisah pelariannya tampak kurang tereksplorasi dengan baik. Semua seakan terjadi selewat-selewat saja padahal jika hal ini digali lebih dalam lagi pasti akan lebih menarik.
Munculnya pidato Bung Karno yang menghabiskan berlembar-lembar halaman dalam novel ini bisa jadi bumerang, di satu pihak mungkin ada orang yang suka, namun di lain pihak bagian ini bisa jadi membosankan karena seolah terlepas dari inti cerita.
Yang menarik Novel ini juga memiliki ending yang tak terduga. Keputusan Lasmi untuk menjalani takdirnya benar-benar menyentuh nurani, dan bagaimana kelak nasib Tikno, suaminya atas keputusan yang diambil Lasmi benar-benar tidak akan terduga oleh pembacanya.
Namun sayangnya penerbit telah mengungkapkan ending kehidupan Lasmi di sinposis yang terdapat di cover belakangnya. Mungkin penerbit berpendapat bahwa endingnya justru merupakan sisi menarik yang perlu diungkapkan untuk menarik minat pembaca, tapi alangkah baiknya jika penerbit menggantinya dengan kalimat bersayap sehingga akhir kehidupan lasmi tetap misteri dan baru bisa diketahui ketika kita membaca sendiri novelnya.
Terlepas dari hal di atas novel ini bagi bagi saya sangat menarik penulis berhasil memotret situasi sosial di tahun –tahun itu dengan baik. Kisah kehidupan Lasmi berhasil menguggah kesadaran pembacanya untuk memaknai peristiwa pembantaian di tahun 65 dalam perspektif kemanusiaan. Atau seperit diungkap penulisnya di lembar terakhir novel ini, Lasmi diharapkan bisa menjadi semacam upaya kampanye anti kekerasan, semoga demi alasan apa pun kekerasan massal yang melecehkan akal sehat dan mengorbankan kenaifan warga tidak lagi terjadi di negeri ini.
Lasmi adalah sebuah novel yang berkisah tentang suatu masa sekitar dua dasawarsa setelah kemerdekaan Republik Indonesia di Jawa Timur. Oleh karena itu novel ini juga adalah tentang suasana ketika Presiden Sukarno menyerukan konfrontasi dengan Malaysia dan tak segan menunjukkan rasa geramnya kepada Amerika Serikat. Lasmi juga adalah tentang politik aliran dan krisis pangan yang kemudian mengarah pada kekacauan politik negeri ini, serta tentang lagu rakyat Osing di zaman Jepang yang dipopulerkan oleh pendukung sebuah organisasi politik. Lasmi juga adalah tentang mantera-mantera berbahasa Jawa dan tentang pelafalan Basmallah yang belum sempurna. Pendeknya ini juga menyangkut situasi antropologis dimana islamisasi belum merata di tanah Jawa. Lasmi juga adalah tentang rasa hormat kepada petani, ketika anak-anak mengucapkan rasa syukur: ”Terimakasih Bapak Tani, terimakasih Ibu Tani,” sebelum mereka menyantap makanan, karena Tuhan adalah konsep yang terlalu abstrak untuk zaman kekurangan pangan. Namun laiknya novel, Lasmi sesungguhnya adalah tentang rasa cinta, dari seorang suami terhadap isterinya – seorang perempuan yang gigih mengupayakan pemerdekaan bagi warga desa, kaum perempuan, anak-anak dan kaum tani -- melalui sekolah dan kursus serta program pemberantasan buta huruf. Sayangnya semua aktivitas yang dianggap sebagai kebajikan tertinggi ini kemudian menyeret sang inisiator ke suatu anti-klimaks kehidupan yang tanpa nalar. Adalah motif di balik keputusan fatalistis yang dibuat oleh tokohnya ketika ia menyerahkan diri untuk dieksekusi – di antara dilema cinta kepada keluarga dan tanggung-jawabnya sebagai seorang panutan masyarakat desa -- yang agaknya paling penting dari Lasmi. Adapun setting waktu dari novel ini layak disimak oleh anak-anak muda yang ingin menengok ke masa lalu yang belum lama di negeri ini, ketika nalar dikesampingkan, ketika nurani diberangus, dan ketika kebringasan merajai negeri. Tak pelak, novel ini menceritakan suatu kisah cinta yang egaliter antara seorang perempuan dan seorang pria di era paling berdarah di negeri ini. Lasmi adalah novel berlatar sejarah yang berkisah tentang keluarga muda di masa ketika Presiden Sukarno menyerukan konfrontasi dengan negara tetangga Malaysia dan mengatakan “Go to hell…” kepada Amerika Serikat. Adalah seorang suami yang menceritakan aktivitas istrinya sebagai kader Gerwani, organisasi kaum perempuan yang dianggap ikut terlibat dalam Gerakan 30 September 1965; mulai ia mendirikan Taman Kanak-kanak hingga memilih menyerahkan diri untuk dieksekusi mati. Diawali pada Pemilihan Majelis Daerah tahun 1957 di sebuah desa di Malang (Jawa Timur) dan diakhiri awal tahun 1966. Novel ini memberikan gambaran sekilas tentang suatu masa yang paling berdarah di negeri ini pasca-kemerdekaan (1945): pembantaian paling berdarah terhadap aktivis berhaluan komunis.
“Lasmi, aktivis desa yang berusaha memajukan pendidikan dan pengetahuan warganya kemudian terbawa semangat zaman menjadi tokoh organisasi perempuan Gerwani. Ketika kudeta September 1965 meletus dan para anggota/simpatisan partai komunis dibantai di Pulau Jawa, Lasmi sempat mengungsi dan menyelamatkan diri sebelum ia kemudian menunaikan takdirnya sendiri. Sebuah novel yang turut memperkaya khazanah sastra, sejarah, dan kemanusiaan bangsa kita yang paling mengenaskan. “Sebuah fragmen dalam sejarah hitam Indonesia yang ditulis dengan sangat intens, deskriptif, dan tidak memihak.” (Noorca M. Massardi, novelis, pewarta)
"Layakkah pembantaian ini terjadi? Layakkah membunuh sesama manusia hanya karena perbedaan pandangan politik dan keyakinan? Sudah benarkah dasar argumentasi pembantaian ini? Apakah bisa dibenarkan membunuh manusia tanpa proses peradilan? Apakah pembantaian ini sesuai dengan sila kemanusiaan yang adil dan beradab? Kita mempunyai sila tentang kemanusiaan yang adil dan beradab, tetapi agaknya tak banyak orang yang bisa memahami maknanya.
Aku berharap orang pada akhirnya akan berpikir, apakah merupakan langkah yaang benar mengimbangi kematian enam orang jendral dengan pembantaian terhadap sekian banyak masyarakat sipil yang tidak tahu-menahu tentang peristiwa Lubangbuaya?"
Ternyata tidak semua niat baik membuahkan sesuatu yang baik pula. Awalnya niat baik sang tokoh untuk mendirikan sebuah tempat pendidikan bagi anak-anak perlu diacungi jempol. Namun dengan berjalannya waktu, ternyata banyak hal yang terjadi. Niat baik itu malah membuat dirinya terlibat dengan hal-hal yang kelak malah menyusahkan dirinya sendiri dan keluarganya.
Reminded me of my childhood in East Java. For so many people the dark history in the late 1965 still giving a deep scars in their heart & soul. It's heart moving's story. I recommend this book to you all! Hopefully it will be in English and Japanese translation soon.
Masih sembunyi-sembunyi, tidak seutuhnya bergaya blak-blakan mungkin adanya pertimbangan menjadi tidak "populer". Pun tidak merayu-rayu alam bawah sadar dan kecerdasan pembaca. Setidaknya novel ini bisa jadi "pintu gerbang" agar pembacanya tertarik melanjutkan pengembaraan atas topik ini.