Saya sudah terkontaminasi virus ‘Tere Liye’ ahahaaa… Buku2 bang Tere sukses menghipnotis saya, termasuk buku ‘Pukat’ ini,,kembali saya beri 4 bintang *plok..plok..plok*
Pukat merupakan buku ke-3 dari serial anak2 mamak, tetapi menjadi buku ke-2 yang terbit setelah Burlian. Untuk urutan terbit buku2 dalam serial anak2 mamak ini, sungguh saya masih bingung, kenapa penulisnya tidak menerbitkan sesuai dengan urutan kelahiran anak2 mamak, dari yg tertua Eliana-Pukat-Burlian-Amelia, tetapi justru acak: Burlian-Pukat-rencananya Amelia dulu-terakhir Eliana. Lepas dari urutan penerbitan buku2 itu,,saya tetap bersemangat mengikuti serial ini,,lagipula buku ke-2 bukanlah sambungan dari buku sebelumnya,,hanya tokoh2nya yang sama,,sehingga kita bisa saja membaca Pukat dulu baru kemudian Burlian,,tanpa merasa kebingungan.
Buku ini menampilkan tokoh utama seorang anak laki2 dari pedalaman Sumatera yang duduk di kelas 6 SD. Pukat mempunyai seorang kakak –Eliana yang bersekolah di SMP di kota kabupaten-, dan dua orang adik –Burlian (kelas 5) dan Amelia (kelas 4). Walaupun mereka hidup jauh di desa kecil,,tetapi mereka tetap merasakan keriangan masa-masa indah kanak-kanak,,yang diisi dengan sekolah plus PR yang setumpuk dari Pak Bin, bermain bola air sambil mandi di sungai setiap sore, kenakalan2 sehingga diomeli mamak setiap pagi-siang-sore, dan keharusan membantu bapak-mamak di ladang-hutan.
Pukat diberi predikat ‘anak pintar’ oleh orang tuanya dan penduduk kampung lainnya. Dia dianggap sebagai anak yang tahu jawaban dari semua pertanyaan dan teka-teki. Pukat lebih senang bertindak sebagai pengamat, dan berpikir untuk menemukan sebuah jawaban, berbeda dengan adiknya Burlian yang banyak bertanya sampai malas berpikir sendiri. Hanya satu teka-teki dari Wak Yati yang tidak bisa dijawab Pukat.
“Langit tinggi bagai dinding, lembah luas ibarat mangkok, hutan menghijau seperti zamrut, sungai mengalir ibarat naga, tak terbilang kekayaan kampung ini. Sungguh tak terbilang. Maka yang manakah harta karun yang paling berharganya?”
Wak Yati membuat Pukat berjanji akan segera datang secepat mungkin untuk menemuinya jika sudah tahu jawabannya, bahkan jika nantinya harus menyebutkan jawaban tersebut di atas pusara Wak Yati.
Begitulah Pukat dan saudara2nya, meski dibesarkan dalam kesederhanaan dan segala keterbatasan, Mamak mereka selalu menanamkan pentingnya kejujuran, kerja keras, harga diri dan perbuatan baik. Banyak nilai-nilai kehidupan yang sudah sering ditinggalkan sekarang ini,, dijabarkan dengan baik melalui interaksi antar tokoh2 di buku ini tanpa terkesan menggurui. Salah satu contohnya yaitu di bab ‘Petani adalah Kehidupan-3’, yaitu melalui kata2 bapak kepada Pukat dan Burlian saat berada di ladang.
“Petani adalah kehidupan. Proses panjang menghargai kasih sayang alam dan lingkungan sekitar. Proses panjang dari rasa syukur kepada yang maha kuasa. Padi2 ini tumbuh subur, tapi hanya dengan kebaikan Tuhan-lah, esok lusa akan muncul bilur2 padi. Kita tidak akan pernah bisa menumbuhkan padi, membuatnya berbuah, kita hanya bisa membantu prosesnya.” ---hal.313
“Tetapi apapun yang terjadi, kita sudah melaksanakan prosesnya dengan baik. Sekarang tinggal menunggu dan berharap. Itulah kebijaksanaan tertua yang dimiliki leluhur kita. Menunggu dan berharap. Selalulah meminta pertolongan dengan 2 hal itu. Menunggu itu berarti sabar. Berharap itu berarti doa.” --- hal 314
Atau melalui teka-teki Wak Yati:
“Waktu adalah segalanya, tidak ada yang memilikinya. Tidak ada yang bisa meminjamkannya. Bagaimana cara menghabiskan waktu dengan baik, tanpa beban dan tanpa keluhan?
Jawabannya: berpikir,,bekerja keras,,dan bermain!!” --- hal 176
Kasih sayang keluarga juga sangat terasa dalam aliran kata-kata di buku ini, terlebih lagi kasih sayang mamak, seperti kata bapak:
“Jangan pernah membenci Mamak kau, jangan sekali-kali… karena jika kau tahu sedikit saja apa yang telah ia lakukan demi kalian, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian.”
Jadi teringat dengan ibuku,,yang entah sudah berapa ribu kali aku tidak menuruti kata2 ibu (terutama waktu kecil,,sering kabur lewat jendela saat waktunya tidur siang hehee),,dan sampai segede ini belum bisa membanggakan & membahagiakan beliau
Ibuuuu…maapin anakmu ini. I lope u full……ibu #1 di dunia ^.^