Gue mau Marshmallow, band sekolah yang gue dirikan menang Festival Band SMA. Tapi gimana mau menang, kalau cuma dapat dana seuprit dari sekolah? Gue nggak terima. Bukan perkara jumlahnya, tapi fakta bahwa sekolah telah tidak adil. Ayo kita lawan ketidakadilan ini!
Mama-papaku sudah bercerai! Harus kuakui kadang aku berharap ada keajaiban yang bisa menyatukan mereka kembali. Lebih bagus lagi kalau keajaiban itu juga bisa membuat Devon jatuh cita padaku. Biar gimana kan aku sudah susah payah berusaha membuat cokelat Valentine untuk cowok itu. Eh yang muncul malah jembel rese yang selalu membuatku sial!
Orangtuaku yakin sekali aku harus masuk IPA. Tapi nilai matematikaku di rapor cuma lima! Sebetulnya nilai IPS-ku bisa lebih baik, kalau saja aku tidak harus sekelompok dengan anak aneh dalam proyek sosiologiku. Aduh, kalau begini nilai IPS-ku juga terancam karam. Sayangnya Marcella dan Joy tak banyak membantu, yah mereka kan juga punya masalah sendiri.
Konfliknya masih sama ringannya dengan buku sebelumnya. Cuma di awal dibikin kesel sama Marcee dan segala keinginannya yang menurutku berlebihan, tapi ya untungnya itu cuma di awal aja, ke belakangnya sudah bisa ditolerir. Tapi sayangnya aku notice ada kesalahan, kayak penggunaan aku-kamu dan lo-gue yang kurang konsisten.
Marshmallow Cokelat ini adalah kisah kedua dari tiga sahabat (Joy, Wening, dan Marcella) di sekolah mereka, lanjutan dari buku My Friend My Dreams. Nah, di Marshmallow Cokelat ini masih soal hingar-bingar kehidupan cinta, sekolah, dan persahabatan ala Joy si buntal, Wening si Pendiam dan Marcella si cantik nan modis.
Kali ini Marcella, Joy dan Wening ceritanya sudah berada di semester kedua. Kisahnya berawal dari kegiatan membuat resolusi tahun baru, yang tentu saja digagas oleh Marcella. Dan seperti biasa, Marcella memaksa kedua sahabatnya untuk turut membuat resolusi tahun baru dan menuliskannya di buku harian bersama mereka. Oh iya, sudah menjadi kebiasaan mereka menulis hal-hal yang mereka alami di satu buku harian bersama itu. Resolusi Marcella di antaranya adalah ingin agar Marshmallow, bandnya menjadi band sekolah. Sedangkan Wening ingin masuk IPA, walaupun sebenarnya ini murni paksaan orang tuanya. Dan Joy? Tentu saja ingin menjadi pacar Devon, cowok incerannya sejak masuk sekolah.
Satu-persatu masalah datang menghampiri. Oleh guru sosiologi mereka diminta membuat karya tulis dengan tema kaum marjinal. Sayangnya, ketiga sahabat itu tidak bisa memilih pasangan mereka untuk membuat karya tulis. Marcella dengan Dayu. Joy dengan Devon, yang tentu saja disambut dengan sukacita oleh Joy. Sedangkan Wening dipasangkan dengan Mantra, yang menurut mereka adalah cowok paling aneh di kelas, penyendiri dan tidak punya teman.
Urusan menjadi semakin rumit, ketika Marcella (yang dengan memaksa) meminta anggota bandnya dan dua sahabatnya untuk membantunya mengadakan demo pada pihak sekolah, karena ternyata pihak sekolah hanya memberikan dana sebesar tiga juta rupiah saja untuk band Marshmallow. Rencananya band Marshmallow akan mengadakan pentas di lapangan sekolah. Waktu 2 minggu ternyata tidak cukup untuk mempersiapkan segela keperluan berdemo. Ya bisa ditebak, demonya gagal total.
Wening berhadapan dengan si aneh Mantra. Mantra banyak memprotes kehidupan Wening dan sahabat-sahabatnya. Menurut Mantra, Wening tidak menjadi dirinya sendirinya, dan mau-maunya selalu diatur orang lain. Mantra benar-benar menyebalkan, namun apa yang dikatakan Mantra selalu benar. Selama ini Wening tidak penah berusaha mengeluarkan pendapatnya di depan orang lain.
Lain lagi Joy. Ternyata perjuangannya untuk mendapatkan Devon kandas. Di hari valentine, Joy yang susah payah berjuang membuat cokelat untuk Devon (yeah, akhirnya gagal dan ia akhirnya ia berencana memberikan cokelat yang sudah jadi saja) ternyata kecewa ketika melihat ternyata Devon memberikan cokelat untuk Marcella. Sebenarnya Joy sudah tahu bahwa Devon menyukai Marcella, namun ia tetap saja nekat, dan akhirnya patah hati.
Persahabatan Joy, Marcella dan Wening mendapat cobaan. Namun apakah mereka mampu melewatinya? Bagaimana nasib Marshmallow yang terancam bubar karena Marcella memutuskan mundur dari bandnya untuk menjauhi Devon? Lalu apakah Wening berhasil masuk IPA? Terus, Joy gimana setelah patah hati dari Devon?
Sila lanjutkan sendiri :D
Saya suka buku ini. Suka cara menulis Ken Terate tepatnya. Entah ya, tapi kok rasanya kata-kata yang ditulis oleh Ken Terate itu mengalir apa adanya. Keren, lucu, tapi tidak dibuat-buat. Ken Terate itu benar-benar pinter deh milih kata-kata dan meramunya menjadi kalimat. Bahasa novel ini menurut saya enak sekali. Dan judul di setiap bab itu benar-benar menarik mata. Ih, kok Ken Terate bisa aja ya nemu kalimat-kalimat keren.
Ya pokoknya, novel ini asik. Kamu akan merasakan senyum, gemas, tawa, sedih, haru yang datang silih berganti. Liked it :)
Masing teringat jelas kata kata Wening pas Cella lagi pusing masalah perasaannya,
Cella : "Gw ngga mau nyakitin siapapun"
Wening : "Iya, tapi jangan nyakitin diri kamu sendiri"
Anjritttt,dalam banget, memang diantara mereka bertiga, Wening yang lebih dewasa dan menjadi pendengar. Tapi justru itu, Wening jarang bicara meski menyangkut masalahnya juga.
Pokoknya buku ini jempolan banget deh, nunjukkin keegoisan, kesedihan dan kesusahan masing masing karakter di saat teman mereka ngga ada dan malah sibuk dengan urusan sendiri... wajib baca buat para remaja nih!
Buku ini menyenangkan untuk di baca. Aku suka persahabatan ketiga tokoh ini. Aku suka dengan karakter masing-masing terutama Wening. Satu hal yang menjadi favorit di dalam buku ini adalah pada saat mereka mendapatkan tugas sosiologi dan Wening membahas tentang Trafficking.
Ken Terate buat aku adalah sebuah jaminan dari suatu tulisan yang bagus. Dan buku ini sendiri adalah lanjutan dari seri My Friends My Dreams yang secara umum berkisah tentang persahabatan tiga orang siswi SMA.