TOTO
DALAM bahasa Swahili, kata “toto” berarti anak. Dan di Tanzania (sebuah negeri yang rakyatnya sehari-hari memakai bahasa Swahili) tahun 1984, perempuan Jepang itu seperti mendengar namanya terus-menerus dipanggil.
“Mtoto, Mtoto…”
Tetsuko Kuronayagi, perempuan Jepang itu, hanya bisa heran. Pengarang Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela, di masa kecilnya, sering mendengar kata serupa. Dari telinganya yang mungil, nama panggilannya “Tetsuko” terdengar seperti “Totto”—seperti kata “mtoto” atau “anak” dalam bahasa Swahili.
Mtoto, Mtoto…
Di Tanzania itu, di sebuah klinik kecil yang kekurangan alat, Kuroyanagi menemui “sekumpulan anak yang tidak bersuara”, yang terang sudah tak bisa memanggilnya “mtoto”. Dua puluh anak dan bayi tak punya cukup tenaga untuk menangis dengan suara, juga untuk menggerakkan tangan mengusir lalat yang merangkak dan memenuhi muka mereka. Mereka menangis: mata mereka yang besar dipenuhi air mata. Bayi-bayi itu tak tersenyum, sebab tak memiliki “nutrisi” untuk tersenyum. Yang mereka lakukan hanya memegang-megang baju Kuroyanagi.
Adakah masa depan bagi mereka? Atau pada akhirnya akan mati dalam diam? Saya tak tahu. Kuroyanagi tak tahu. Yang dia tahu: kita tak menyaksikan bayi-bayi yang berbaris tidur berselimut manis seperti kepompong, dengan pipi yang gembul dan merah, yang esok akan punya cita-cita jadi insinyur, pilot, polisi, atau dokter.
Di Tanzania, Kuroyanagi percaya kalau alam bisa kejam. Dalam buku Anak-Anak Totto-chan itu—judul versi Jepang Totto-chan to totto-chan tachi, yang berarti Totto-chan dan para watoto (bentuk jamak dari mtoto)—kita diberi kisah daerah bernama Dodoma. Di sana hujan tidak turun delapan bulan. Tanaman jagung, tanah, sungai, tak perlu ditanya—semua kering. Tapi Kuroyanagi diberi kehormatan mencuci tangan. Yang membuat kegiatan remeh-temeh cuci tangan itu menjadi besar adalah ini: air itu, yang berada di dalam sebuah panci kecil, adalah air yang diambil dari jarak 4,8 kilometer. Pemandu Kuroyanagi bilang jarak itu tidak terlalu jauh. Lainnya bisa 10-16 kilometer.
Yang meraih simpati terdalam Totto, yang mengambil air itu adalah sekelompok anak kecil. Mereka berjalan kaki, berkilo-kilo meter, dan sampai di tempat tertentu anak-anak kecil itu menggali lubang sedalam 30 senti dan lebar kira-kira 40 senti. Mereka diamkan sebentar lubang itu, dan hola: dasar lubang mulai basah, mulai terisi air. Sekitar 10 menit, akan ada mudah-mudahan cukup air untuk dua mangkuk kecil. Tapi di permukaan air itu masih mengambang debu-debu. Agar lebih bersih (hanya “lebih”, tidak bisa bersih sempurna tanpa lumpur), mereka menyendoki debu dan kotoran di permukaan air itu. Dalam situasi sulit, anak paling kecil dalam pengembaraan didahulukan meminum airnya. Tidak heran, di Dodoma sekolah tidak lebih penting ketimbang mencari air. Logikanya sederhana: tanpa sekolah mereka bisa hidup, tanpa air mereka mati.
Tapi tidak hanya alam yang kejam terhadap anak-anak. Perang turut andil menyebabkan kehidupan anak-anak semakin sulit. Dalam era di mana anak orang kaya menghabiskan berjuta-juta sekali main di mall, di belahan dunia lain anak-anak hanya mampu bermain di tanah lapang—untuk menjadi korban ranjau. Mari kita perhatikan angka-angka: diperkirakan 110 juta ranjau darat masih tertanam di 64 negara. Tiap tahun hanya mampu diamankan sekitar 100.000 ranjau. Secara matematis, pembersihan semua ranjau membutuhkan 110 tahun. Dalam 110 tahun, bisakah kita memastikan tak ada anak-anak yang jadi korban?
Berdasarkan cerita Kuroyanagai, kita masih bisa membuat deret yang tak habis-habis mengenai kekejaman perang dan derita anak.
Di Angola, 1989, anak-anak yang tak bisa berlari cepat dalam pelarian diikat di pohon. Tangan atau kaki mereka dipotong dengan golok agar tak bisa membalas dendam atas kematian orang tua mereka. Di Ho Chi Minh City, 1988, lima ribu anak tuna netra akibat racun yang dipakai tentara Amerika Serikat. Itu masih belum ditambah betapa kejamnya sebuah kecerdasan: pihak yang berperang menciptakan bom dalam bentuk boneka—mainan yang dalam situasi perang bagaikan hadiah Santa, teramat berharga bagi seorang anak yang rumah dan kotanya hancur. Di Leningrad, anak-anak sampai memakan plester dinding. Dalam situasi perang sering kali bayi-bayi digoncang, untuk tahu apakah mereka masih hidup atau mati. Dokter? Dokter-dokter hanya bisa melihat, tak bisa mengobati, tak bisa mengoperasi. Ada memang suatu kisah yang agak menyenangkan kita, tentang seorang anak yang amnesia—mungkin itu bentuk baik hati dari Tuhan daripada ia mengingat apa-apa yang menyeramkan.
Selain perang apa? Mengungsi?
Jutaan anak-anak hidup di barak pengungsian. Mereka tumbuh di kota di mana gedung-gedungnya dipenuhi lubang peluru. Di perkampungan kumuh di Port-au-Prince, Haiti, 60.000 pengungsi menghuni bangunan-bangunan kotak 2,7 x 1,8 meter dengan atap dinding seng bergelombang yang membikin udara makin panas. Di kota Juba, Sudan, 400.000 orang menggantungkan hidup dari apa yang dijatuhkan dari udara. Di sebuah gereja di Nymata, 2000 mayat tanpa kepala bertumpukan. Di lantainya, tengkorak-tengkorak berserakan. Mereka adalah korban-korban perang yang mati dipenggal dengan golok, senapan, atau granat tangan.
Di tempat-tempat seperti itu jutaan anak-anak hidup, juga mungkin setelah perang berakhir. Mereka mungkin akan sekolah seadanya sambil bekerja. Di Phnom Penh, dari 1 juta anak sekolah dasar, 60.000 diantaranya bekerja setiap hari. Mereka mungkin tak punya orang tua lagi, dan sibuk menyalahkan diri sendiri atas kematiannya. Dan memang itulah yang terjadi. “Aku melakukan hal yang dilarang Ibu,” kata seorang anak yang percaya, “karena itulah dia dibunuh.”
Mtoto, mtoto…
Di sini barangkali Tagore menjadi berarti. Membaca cerita perjalanan Kuroyanagi, kita sulit membayangkan apa yang dibayangkan Tagore tentang anak-anak, saat betapa damainya tangan-tangan kecil itu meluncurkan “daun yang kisut seolah-olah jadi perahu, dan dengan senyum mereka apungkan ke laut dalam.” Kita hanya bisa murung oleh apa yang diperikan kepala desa di Tanzania kepada Kuroyanagi, bahwa orang-orang dewasa meninggal sambil mengerang dan mengeluhkan rasa sakit mereka, tapi anak-anak hanya diam. Anak-anak, Miss Kuroyanagi, anak-anak itu “mati dalam kebisuan, di bawah daun-daun pisang, memercayai kita: orang-orang dewasa”.
In the dark times/ will there also be singing/ Yes, there will be singing/ About the dark times—Motto, Bertolt Brecht