Elang adalah sebuah novel roman humanis idealis penuh motivasi. Terinspirasi dari “Sajak Rajawali” sang Burung Merak, WS. Rendra, “Sakal Melodia” sang Presiden Penyair Marlioboro, Umbu Landu Paranggi & kalimat sakti “Eagle flies alone” dari sang Elang, Prof. Dr. Riswandha Amawan.
Operasi seroja memberi energy nama sepasang bayi lelaki kemar fraternal (non identik) Elang Timur, ilmuwan sejati, begitu nasionalis selama hidup di Timika dan Agats, menjadi bapak asuh anak-anak suku Asmat di bumi Papua dengan segala riset yang dilematis, mengeksplorasi negeri sendiri untuk negeri asing, dan Elang Laut, penyair sejati, bukan hanya menulis syair anggur dan rembulan, setia kepada pilihan, memilih kewajaran hidup, jalan hidup yang sunyi, memotret “etalase kemiskinan” di Gili Meno Lombok…sebuah kesalahan atau kebenaran cinta sejati? Ketika mereka berseteru menjatuhkan cinta kepada Kejora, perempuan yang sebenarnya telah begitu dalam melukai mereka di masa lalu…menikah dengan lelaki lain, bercerai karena menolak berada dalam sampan madu.
HAWK By Kirana Kejora "When a hawk was 40 years old, he had to choose ... wait for death or 150 days imprisoned by a terrible pain on top of the mountain ... beak into rocks off, waiting for a new beak to grow for pulling its claws, after his new claw grows , he would pluck the feathers on her body, 5 months later he'll be back flying, continuing a new life for the next 30 years! Learn from the HAWK! An idealist humanist romance novel full of motivation Inspired by the "Eagle poem" The Bird Peacock, WS. Rendra, “"poem melodia" the President Poet Marlioboro, Umbu Landu Paranggi, & mantra "eagle flies alone" from the Eagles, Prof.. Dr. Dr. Riswandha Imawan. Operation Seroja to energize a pair of baby boy fraternal twins (non identical). Eastern Eagle, a true scientist, as nationalists during life in Timika and Agats, became the father custody of children in Papua Asmat with all the research that made him a dilemma, explore, exploit own country to a foreign country, and Sea Eagle, a true poet, not just write poetry of wine and the moon, faithful to the choice, choose the fairness of life, living a quiet street, taking pictures "window of poverty" in Gili Meno Lombok ... an error or true love truth ? When they fell out of love for Morning dropped, a woman who has actually hurt them so deeply in the past ... married to another man, divorced, for refusing to be in the canoe honey The Eagle of the true traveler, always fly alone! Kirana Kejora eidelweis_kirana@yahoo.com
SOME excerpts "HAWK" Daaagkh! Revolver Caliber fell 6.5 millimeter from the East right hip, sliding into the wooden floor, stopping for breath foot of the table. "Kill me! Come on, kill!So that you can take him and your son! " Flash of the eyes that see Sea Caliber revolver fell from 6.5 milli East right hip, right at his feet, very sharp burning, want to resolve their feud moment, vanished instantly. Awareness wrapped anger gradually recovered, as his eyes met with the East, twins. Satan is so angry that his supporters saw the wistful sadness that began emanating Sea. ***************************************** Suddenly Simon, who from the outset the Eastern arrivals only see bland, close, kissing the hand of the East, said flatly, "Daddy had said to the father of the President, about the desire Simon, if Dufan can move here?" East for a moment to stare, then squatting in front of one of the foster children. "Study diligently, let could be useful man. If I can, so yours is the next president.In order to build a more magnificent Dufan here. " *********** *********************** Sea from the point of lush gardens, with black glasses, and some outlets covering hair jaw, staring Key with shady, saying to himself, "I am the father .. angel." Her eyes were warm, immediately reached into his pocket. Lit a cigarette to distract her taste. He looked back to the angel who is now in Jora's lap. Apsara little like looking at him, even though the boy did not understand what was deemed a clear eye towards the sea was far away in front of him. Sea tried to smile and wave a little light. Little angel's gaze as if he were called for holding and rocking him. Before moving from where he stood, he looked Key muttering that his words sounded hoarse. "My angel ... one day you will look at me with understanding!" *****************************************
Kirana Kejora (lahir di Ngawi, Jawa Timur, 2 Februari 1972; umur 39 tahun) adalah penulis Indonesia. Karya-karyanya berupa artikel, cerpen, dan puisi dimuat di berbagai media cetak. Ia juga produktif menulis novel dan script film, baik layar lebar maupun film televisi. Sebelum memutuskan sebagai penulis penuh waktu, Kirana adalah peneliti Sosial Ekonomi Perikanan Unibraw (1991-1993), Staff pengajar pada SMK Dipasena Citra Darmaja, Lampung (1996-2000), Staf Ahli Sosial Ekonomi proyek Management Monitoring Cosultant JBIC-DPK di Sulawesi Tenggara (2000-2001) Staff pengajar pada Universitas Hang Tuah Surabay (2003-2004), dan wartawati tabloid Infotainment Fenomena (2003-2004).
Elang Laut dan Elang Timur, kembar fraternal (non identik) yang selalu dihadang kompetisi di antara hubungan mereka. Timur, ilmuan jenius yang tak pernah mau kalah atas Laut. Keras, tegas, penuh perhitungan. Laut, penyair kalem yang atas nama hormat persaudaraan dan kasih terhadap kembarannya lebih banyak mengalah atas Timur. Banyak hal yang harus mereka perebutkan sejak kecil. Hingga sampai pada titik mereka mencintai perempuan yang sama, Padma Kejora. . Pertarungan dua Elang. Persaudaraan, kelapangan hati, keikhlasan, semangat tinggi, ulet, ambisi, dan cinta. Belajarlah dari Elang. Eagle always flies alone...
Banyak kesan yang kuingat dari novel ini. Karakter-karakter tokoh yang cukup membuat novel ini hidup dan bikin ketagihan untuk membaca halaman selanjutnya. Hanya saja, bahasa yang digunakan sedikit membuat mikir. But, it's no problem for me. Bagi penggemar novel yang mengandung banyak metafor dan puitis, kalian mungkin akan menyukai novel ini. Selamat membaca :)
Terkesan dengan tokoh elang-elangnya Hanya, dialog langsung antar tokohnya kerasa kurang mengalir dan natural, mungkin karena banyak ungkapan puitis yang ingin diungkapkan penulis di cerita ini.
Elang menurut saya adalah master piece dari Kirana. Saya baca novel ini tahun 2010 dan saya suka metafor-metafor segar yang digunakan Kirana dengan gaya penulisannya yang khas.
Novel Elang adalah sebuah novel roman humanis yang menceritakan tentang kisah cinta segitiga antara Kejora Padma, seorang penulis novel dengan dua pemuda kembar fraternal (non identik) Elang Timur dan Elang Laut.
Tidak seperti hubungan saudara kembar pada umumnya yang hidup rukun dan memiliki kedekatan emosional yang saling mengikat, Elang Laut dan Elang Timur hidup dalam suasana penuh persaingan yang mereka lakoni semenjak kecil. Hal ini menyebabkan hubungan antara mereka tidak harmonis, masing-masing didominasi oleh perasaan untuk saling mengalahkan satu dengan yang lainnya. Hal ini terus terbawa hingga mereka dewasa dan mencintai wanita yang sama, Kejora Padma.
Sayangnya pertarungan untuk memperebutkan cinta Kejora harus kandas, tak ada yang menang karena akhirnya Kejora menikah dengan Abi, lelaki pilihan ibunya. Dari pernikahannya dengan Abi, lahirlah seorang putra yang dinamainya Laskar. Sayang rumah tangga Kejora tidaklah bahagia, dan ketika Abi meminta izin Kejora untuk menikah kembali, Kejora memilih untuk bercerai daripada dimadu.
Walaupun hati Elang Timur dan Elang Laut pernah terluka karena pernikahan Kejora dengan Abi, namun cinta mereka pada Kejora tak pernah lenyap. Perceraian Kejora dengan Abi membuka kesempatan bagi Elang Timur untuk kembali mendekati Kejora, bukan hal yang mudah karena masih ada Elang Laut yang tetap menjadi pesaing utamanya. Kejora pun sempat dilanda kebimbangan mana yang akan dia pilih untuk menjadi ayah bagi Laskar.
Jika hanya membaca sinopsis di atas tampaknya tak ada yang istimewa dalam novel ini, tapi tunggu dulu, walau inti ceritanya tampak sederhana tapi dibalik tema utama yang sederhana ini penulis dengan piawai meramu kisahnya sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah cerita yang menarik dan sarat dengan konflik diantara para tokoh-tokohnya.
Dari segi penokohan, ketiga tokoh utama di novel ini tereksplorasi dengan baik. Timur dideskripsikan sebagai seorang imuwan sejati yang sukses secara materi. Ia tipe pria yang teguh pada prinsip dan pilihan hidupnya. Cintanya pada Kejora sudah final dan ia tak terus mengejar Kejora ketika diketahuinya bahwa Kejora telah bercerai dengan Abi.
Sedangkan Elang Laut digambarkan sebagai seorang seniman sejati yang setia terhadap jalan hidupnya. Sama seperti Timur yang tetap menharap cinta Kejora, demikian pula dengan Laut, namun selayaknya seorang penyair, ia lebih mengungkapkan cintanya melalui karya-karyanya, berbeda dengan Timur yang mengungkapkan cintanya dengan tindakan dan kata-kata yang lugas.
Berbeda dengan karakter Timur yang terlihat sangat kokoh dan tegas akan pendiriannya untuk mencintai Kejora, karakter Laut terkesan lemah dan penuh keraguan, namun cintanya pada Kejora betul-betul mulia Ia mampu mencintai Jora meski tak harus memilikinya. Inilah cinta dalam level tertinggi yang mampu mengalahkan egonya. Kedua bersaudara ini memang berbeda secara karakter, namun merekapun memiliki kesamaan, sama-sama setia pada profesinya dan sama-sama memiliki kepedulian sosial terhadap lingkungannya
Kejora sendiri digambarkan sebagai seorang penulis yang mulai menanjak kariernya, walau gagal dalam pernikahannya ia tak tenggelam dalam kepedihan ia bukanlah tokoh yang lemah, Kejora adalah sosok wanita yang tegar, berani mengambil sikap, bahkan ia berani menanyakan secara langsung kepada Laut bagaimana sesungguhnya perasaan cinta Laut pada dirinya.
Sejak dari awal pembaca akan disuguhkan oleh berbagai konflik antar tokoh-tokohnya. Persaingan abadi antar dua saudara kembar menjadi hal yang menarik dan rumit karena menyangkut soal cinta. Kejora sendiri dilanda kegalauan untuk memilih siapa diantara mereka yang merupakan pelabuhan terkahir hatinya, ia mencintai keduanya, haruskah ia mengorbankan salah satu pria yang dicintainya?
Dan yang juga menarik adalah sekujur novel ini tersaji dengan kalimat-kalimat puitis yang membuai pembacanya. Walau demikian penulis tampak tak terjebak untuk menggunakan metafora-metafora yang berlebihan yang kadang bisa membingungkan pembacanya. Dalam novel ini rangkaian kalimat-kalimat bersayap dan metafora-metafora yang digunakan masih bisa dimengerti dan dinikmati oleh pembaca awam sekalipun karenanya novel ini saya rasa memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi karena tersaji dengan indah, mengalir, mudah dipahami dan enak dibaca.
Plot ceritanyapun tertata dengan baik perlahan tapi pasti emosi pembaca akan meningkat seiring dengan meruncingnya konflik yang terjadi antar tokoh-tokohnya dan mencapai klimaksnya di akhir cerita. Hanya saja ada satu bagian yang bagi saya sedikit mengganggu yaitu saat menceritakan bagian kehidupan Elang Laut ketika berada di Lombok..
Bagian ini memang menarik karena penulis berhasil menangkap landskap alam dan realita sosial yang ada di Lombok. Namun dengan munculnya konflik-konflik baru seperti soal demo masyakarat Lombok yang tanahnya yang diserobot oleh pihak-pihak tertentu, saya koq merasa bagian ini seakan-akan terlepas dari inti novel ini sehingga terkesan seperti berdiri sendiri.
Setting cerita yang berlokasi di tiga tempat, Papua, Jakarta, dan Lombok menjadi nilai tambah sendiri bagi novel ini. Walau tak banyak setidaknya akan tertangkap realita sosial di tiga tempat tersebut. Melihat cover novel ini yang menggambarkan panorama pegunungan, tadinya saya menyangka settingnya akan banyak berkisah di Papua atau tempat-tempat eksotis lainnya, namun ternyata tidak, setting di Jakarta lebih mendominasi, andai kisahnya lebih banyak di Papua atau Lombok tentunya akan lebih menarik lagi.
Terlepas dari hal-hal di atas secara keseluruhan novel yang diangkat dari kisah nyata ini bagi saya tetaplah menarik, karenanya tak heran jika novel ini banyak diapresiasi dengan baik oleh para sastrawan-sastrawan tanah air ketika novel ini baru diluncurkan. Selain itu kabarnya novel ini juga akan segera diadaptasi ke layar lebar.
Akhir kata novel ini tak hanya menghibur pembacanya, ada banyak hal yang dapat kita maknai ketika membaca novel ini antara lain bagaimana kita harus berani mengambil pilihan dalam hidup kita serta memiliki komitmen untuk tetap setia menjalani kehidupan sesuai dengan pilihan yang telah kita ambil.