Sosok hitam itu mendesis. Matanya berkilat kegirangan memperhatikan gelang yang bersinar di leher Zappa. Tapi, Zappa tidak tinggal diam. Cuping hidungnye mendengus ganas dan tanduknya yang tajam berkilau mengerikan. Dalam hituhngan ketiga, Zappa menyerang. Terlambat...! Sosok hitam tersebut telah bergerak ke samping dan dengan cepat mengarahkan sinar kemerahan ke arah leher Zappa.
Ini adalah novel pertama yang saya baca. Pertemuan pertama saya dengan Nuno adalah saat saya sedang duduk di kelas 3 sekolah dasar. Kakak saya yang membawa Nuno dari perpustakaan sekolahnya saat itu ke rumah. Saya membaca kisah Nuno sebanyak tiga kali. Mungkin karena saya masih terlalu kecil untuk memahami dunia fantasi saat itu, ceritanya tidak terlalu saya pahami. Tapi saat membaca yang kedua, barulah saya mulai memasuki alur ceritanya. Saat masa membaca yang kedua itu, saya sedang Ujian Sekolah. Saya harus membacanya sembunyi-sembunyi karena Papah akan marah jika tahu saya malah membaca novel bukannya belajar.
Singkat cerita, saya kembali dipertemukan dengan Nuno saat saya duduk di bangku kelas 3 SMP. Hampir 6 tahun semenjak pertemuan pertama kami. Kali ini, saya menemukannya dengan secara tidak sengaja di sebuah akun Instagram yang menjual buku-buku yang sudah tidak diproduksi. Semenjak itu, Nuno resmi menjadi penghuni rumah saya. Dia hidup berjejeran bersama tokoh-tokoh lain yang bukunya nangkring dengan manis di lemari.
Dari sejak membaca halaman pertama, sekalipun saat itu saya belum mengerti benar dengan alur ceritanya yang bergenre fantasi, saya langsung jatuh hati dengan Nuno. Nuno itu apa ya, hanya seorang anak remaja laki-laki yang apa adanya. Dia bermain dengan temannya, punya seorang adik, dan tinggal di keluarga yang hangat.
Untuk kelanjutan cerita dengan dimensi yang sudah berjarak jutaan tahun cahaya, saya tidak terlalu ingin membahas. Menarik, tapi bukan sesuatu yang harus saya jelaskan secara spesifik.
Terakhir, bagian yang paling saya ingat selama saya membaca kisah, adalah saat Nuno dijemput oleh 'seseorang'. Saat ia pergi meninggalkan rumah, orang tuanya serta adiknya, itu adalah bagian yang selalu saja setiap saya membacanya, saya selalu menangis. Memang baper sih. Jadinya sedih.
Im not the one that love spoiler at all. Dan nggak niat buat spoiler juga. Tujuan menulis review ya hanya penilaian saya pribadi. Jadi, mungkin, untuk buku pertama ini, dan buku-buku selanjutnya, review yang saya tulis mungkin akan sangat apa adanya. Sangat saya banget aja gitu. Saya nulis hanya karena saya ingin biar saya ingat.
Astaga, astaga!!!!! Saya baca buku ini 5 tahun yang lalu waktu kelas 8 smp tahun 2015 ( baca di perpus sekolah). Seinget saya, saya suka bener sama buku ini sampe2 didiskusiin sama temen2 dikelas. Tapi harus kecewa karena sekarang ingatan saya tinggal redup2 gt, hohoho. Ps: waktu itu saya baca yang covernya warna ungu gt kalo nggak salah.