Jump to ratings and reviews
Rate this book

Asmaraloka

Rate this book

247 pages, Paperback

First published January 1, 1999

13 people are currently reading
116 people want to read

About the author

Danarto

30 books42 followers
Danarto dilahirkan pada tanggal 27 Juni 1941 di Sragen, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Jakio Harjodinomo, seorang mandor pabrik gula. Ibunya bernama Siti Aminah, pedagang batik kecil-kecilan di pasar.

Setelah menamatkan pendidikannya di sekolah dasar (SD), ia melanjutkan pelajarannya ke sekolah menengah pertama (SMP). Kemudian, ia meneruskan sekolahnya di sekolah menengah atas (SMA) bagian Sastra di Solo. Pada tahun 1958–1961 ia belajar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta jurusan Seni Lukis.
Ia memang berbakat dalam bidang seni. Pada tahun 1958—1962 ia membantu majalah anak-anak Si Kuncung yang menampilkan cerita anak sekolah dasar. Ia menghiasi cerita itu dengan berbagai variasi gambar. Selain itu, ia juga membuat karya seni rupa, seperi relief, mozaik, patung, dan mural (lukisan dinding). Rumah pribadi, kantor, gedung, dan sebagainya banyak yang telah ditanganinya dengan karya seninya.


Pada tahun 1969—1974 ia bekerja sebagai tukang poster di Pusat kesenian jakarta, Tam Ismail Marzuki. Pada tahun 1973 ia menjadi pengajar di Akademi Seni Rupa LPKJ (sekarang IKJ) Jakarta.

Dalam bidang seni sastra, Danarto lebih gemar berkecimpung dalam dunia drama. Hal itu terbukti sejak tahun 1959—1964 ia masuk menjadi anggota Sanggar Bambu Yogyakarta, sebuah perhimpunan pelukis yang biasa mengadakan pameran seni lukis keliling, teater, pergelaran musik, dan tari. Dalam pementasan drama yang dilakukan Rendra dan Arifin C. Noor, Danarto ikut berperan, terutama dalam rias dekorasi.
Pad tahun 1970 ia bergabung dengan misi Kesenian Indonesia dan pergi ke Expo ’70 di Osaka, Jepang. Pada tahun 1971 ia membantu penyelenggaraan Festival Fantastikue di Paris. Pada tahun 1976 ia mengikuti lokakarya Internasional Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat, bersama pengarang dari 22 negara lainnya. Pada tahun 1979—1985 bekerja pada majalah Zaman.
Kegiatan sastra di luar negeri pun ia lakukan. Hal itu dibuktikan dengan kehadirannya tahun 1983 pada Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda.
Tulisnanya yang berupa cerpen banyak dimuat dalam majalah Horison, seperti “Nostalgia”, “Adam Makrifat”, dan “Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaekat”. Di antara cerpennya, yang berjudul “Rintrik”, mendapat hadiah dari majalah Horison tahun 1968. Pada tahun 1974 kumpulan cerpennya dihimpun dalam satu buku yang berjudul Godlob yang diterbitkan oleh Rombongan Dongeng dari Dirah. Karyanya bersama-sama dengan pengarang lain, yaitu Idrus, Pramudya Ananta Toer, A.A. Navis, Umar Kayam, Sitor Situmorang, dan Noegroho Soetanto, dimuat dalam sebuah antologi cerpen yang berjudul From Surabaya to Armageddon (1975) oleh Herry Aveling. Karya sastra Danarto yang lain pernah dimuat dalam majalah Budaya dan Westerlu (majalah yang terbit di Australia).
Dalam bidang film ia pun banyak memberikan sumbangannya yang besar, yaitu sebagai penata dekorasi. Film yang pernah digarapnya ialah Lahirnya Gatotkaca (1962), San Rego (1971), Mutiara dalam Lumpur (1972), dan Bandot (1978).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
19 (21%)
4 stars
30 (34%)
3 stars
25 (28%)
2 stars
11 (12%)
1 star
2 (2%)
Displaying 1 - 15 of 15 reviews
Profile Image for Kaha Anwar.
46 reviews5 followers
May 4, 2013
(Eyang) Danarto, penulis fiksi bergaya sufi, kembali menyajikan cerita yang unik, membuat pembaca sesaat mengeryutkan dahi. Jalan cerita, tokoh, dan gaya bahasanya memang khas sufistik. semua bisa dilakonkan, semua bisa berbicara seperti manusia. Menghantam logika umum, dan itu memang perlu demi mengingatkan kembali bahwa selain manusia, makhluk pun bisa berbicara. Sekaligus menegaskan, logika bukanlah satu-satunya jalan manusia memperoleh pengetahuan. Dooorr..
Kali ini, Eyang, hadir dengan Novel Asmaraloka. Entah mengapa judulnya harus Asmaraloka. Sebab, Asmarolaka mengajak kita pada terma "Wadah Asmara". Ya, memang dalam novel ini memang terjadi pergulatan Asmara. Perjuangan cinta Arum pada Suaminya, Busro, yang telah meninggal. Ada Firdaus Muhammad, santri kecil, yang berjuang mencari jatidirinya. Fir, sebutan santri kecil ini, harus turun ke medan laga, medan perang yang selayaknya tak dijamah anak kecil. Namun, garis takdir harus berkata lain.
Kembali pada sosok Arum. Ia "ngalembono", "ndlajah milangkori", blusukan desa dan medan laga yang sedang berkoar hebat demi mencari jenazah suaminya. Yang mati tak lama setelah keduanya menikah. Tragis, memang. Arum menguber-uber malaikat maut yang kemana-mana menenteng wadag suaminya. Apakah ia, Arum, mendapatkannya? Tidak, sampai cerita berakhir Arum tak pernah membawa suaminya.
Namun, Arum menemukan belahan hati lain, yakni anak kembarnya yang lahir di kancang peperangan. Dan, itu lebih berharga daripada ia harus mengejar malaikat maut.
Fir, Santri baru menginjak masa balig itu pun sebenarnya jatuh cinta pada Arum yang bertaut umur 10 tahun. Sayang, kebersamaan mereka hanya bumbu cerita, dan bukan itu (sepertinya) yang ingin ditekan dalam novel ini. Fir, yang digadang menjadi penerus pesantrennya ternyata tidak mau. Dia memilih ke medan perang yang konon lebih mengajarkan arti kehidupan.
Fir Bertemu Ibunya, Soba, yang telah diangkat menjadi ratu kalangan setan. Dan, Fir, diangkat menjadi anak mahkota. Meski Awalnya ia menolak dan mengajak ibunya pulang ke kampung halaman. Akhir cerita, Fir menyesal telah menuruti bujuk setan. Fir mempunyai ekor di pantatnya, pertanda dia salah satu kalangan setan. Ia menangis sejadi-jadinya. Menyesal dan mati terkubur lumpur beras.
Novel ini mengambil setting segala ruang: dunia, alam kedamaian. Ya, sesuatu yang tak lumrah. Eyang seakan lihai menelisik dan mengangkat alam-alam sunyaruri menjadi setting yang menarik. Ia (eyang) pun mahir menghadirkan image-image malaikat yang mengharuskan pembaca berhenti sesuai kadar yang dituliskan dan diterima kalangan umun: Cahaya.
Jelas, novel ini bukan menyoroti cinta semata. Ada yang lain jadi sorotan eyang, yakni perang. Perang yang telah berlangsung beribu tahun, mungkin semenjak Adam dan Hawa memadu kasih. Dan, ini mungkin amanat tersiratnya, manusia tidak pernah berhenti berperang dari waktu ke waktu, ada saja pergulatan besar dengan dirinya sendiri, yaitu nafsu.
Menariknya lagi, perang yang dicaci dan dimaki banyak pihak, banyak yang merindukan. Perang menjadi komoditi laris, wisata yang mendebarkan dibanding menelusuri jagat raya dengan pesawat angkasa. Perang menjadi "sorot cahaya" yang mengundang ngengat berduyun-duyun mendatanginya. Biro wisata digelar, persenjatan dimodernisasi se-modren mungkin.Tujuannya, supaya adegan perang semakin menarik dan mendulang pemasukan yang lebih. Lantas, siapa yang mendulang dari bisnis perang? Siapa lagi kalau bukan para penggagas sejata! Manusia yang haus dengan dentuman bom, desingan peluru dan muncrat darah dari dada.
Perang, boleh saja dihardik, tetapi beranikah kau menghentikan pabrik-pabrik senjata yang tiap detik bernafsu menginovasi alat-alat matikan? Sederhananya: kalau memang cinta kedamaian kenapa harus ada pabrik senjata? Apakah kedamaian harus dijaga dengan tank, ruda, peluru yang siap menyalak dan melumatkan umat? tanyalah, pada selongsong peluru yang malas melutus.
Profile Image for fara.
280 reviews42 followers
August 19, 2022
Ini agak subjektif, tapi tak apa. Yang namanya resensi adalah 'suka-suka pembaca', meski saya juga punya kewajiban untuk menjelaskan kenapa saya mengomentari Asmaraloka dengan subjektif. Awalnya saya bukan penggemar sastra serius, tapi membaca Danarto dan kumcer-kumcernya melatih kemampuan otak saya mencerna diksi dengan lebih baik lagi. Akhirnya setelah berjumpa dengan Asmaraloka, saya menemukan apa yang saya cari: yang surealis, yang realisme magis, yang filosofis. Meskipun dibingungkan oleh adegan perang yang itu-itu melulu dan judul yang hampir nggak ada korelasinya sama cerita (atau nggak? atau mungkin saya salah tafsir), saya tetap memuja Asmaraloka. Ketika membaca inilah saya akhirnya mulai sadar kalau saya perlu sering-sering membaca karya sastra yang modelnya seperti tulisan Danarto.
Profile Image for Melati Permata Sari.
4 reviews1 follower
October 13, 2016
ini bukan review.
karena Goodreads nanya 'what do you think?' maka ini adalah apa yang saya pikirkan saat akan; sedang; dan setelah membaca Asmaraloka.

seperti judul yang sudah-sudah, saya selalu saja belum kapok penasaran dengan teka-teki apa lagi yang akan Danarto sampaikan.
waktu membaca isinya saya tetap pusing dan terus saja berusaha berpikir keras paragraf demi paragraf.
sampai selesai saya membaca, yang tersisa tetaplah pikiran pusing yang sama.

jelas sudah bahwa Danarto masih jauh untuk level otak saya. dan bila suatu hari akhirnya saya bisa paham dengan maksud kata-kata Danarto, mungkin itulah saat dimana saya sudah tidak lagi penasaran dengan apa yang terjadi di bumi.
Profile Image for Marfa Umi.
Author 1 book8 followers
May 28, 2016
“Jaket anti pelurunnya mana, Neng?” kata botol minyak tanah (hlm. 225)

Buku unik kedua yang saya baca setelah Rahvayana : Aku Lala Padamu milik Sujiwo Tejo, bedanya, Asramaloka lebih ramah. Menemukan buku ini di bazzar buku murah, bah, masih segel, seakan punya magnet tersendiri agar tangan saya mengambilnya, yang saya kira harganya 25an seperti buku lainnya, ternyata harus mengeluarkan 40rb. Berakhir sudah hidup saya sebagai mahasiswa

More review -> http://www.umimarfa.web.id/2016/05/as...
Profile Image for Risda Nur Widia.
10 reviews6 followers
August 12, 2015
Adakah dunia yang benar-benar pantas dihuni oleh manusia? Sampai mana batas ideal suatu realitas; antara kenyataan dan alam bawah sadar. Karya yang sangat menggugah. Kuat bermain akan ppertanyaan-pertanyan nakal tenta letak diri sebagai "aku" dalam kerangka realitas yang nyata atau pada batas sadar pemikiran. Atau ah, barangkali kita sendirilah karya fiksi itu?
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
293 reviews6 followers
March 26, 2024
Asmaraloka karya Danarto merupakan novel yang bercerita tentang peperangan fatamorgana yang sejatinya lekat dan dekat dengan gambaran kehidupan nyata serta tentang bagaimana cara manusia merespon atas segala apa yang dihadapinya.

Dalam sudut pandang yang berbeda, boleh dikatakan novel ini merupakan potret dari sebuah perjalanan tubuh membersamai semesta. Pembaca akan dihadapkan pada ihwal bias, antara nyata atau gambaran perumpamaan.

Saya pribadi sebagai pembaca awam sedikit merasa kesulitan untuk memahami konteks dan juga esensi tentang bagaimana cerita dalam novel ini akan menemui akhir. Saya hanya berusaha menikmati bagaimana pemikiran dari sang penulis memainkan plot dan susunan cerita.
Profile Image for zanubatiq_.
24 reviews
March 29, 2025
Hancur di mana-mana, mulai dari isi hingga diksi. Jujur aja, rasanya hambar sekali padahal punya tema yang sangat menarik dari segala sisi; realisme-sosial memenuhi dan hal-hal surrealis menjadi inti. Menarik. Tapi, rasanya terlalu penuh dengan satir, ketika membaca seperti tidak perlu memakai logika. Plotnya ke sana-sini, gak jelas dan entah apa yang menjadi nilai dari buku ini. Pertama kali baca danarto langsung DNF di halaman 142.
Profile Image for Pieter Sahibu Labobar.
17 reviews1 follower
October 19, 2022
Novel ini menarik jika dilihat dari cara penyusunannya. Mulanya novel ini dimuat di Harian Republika sebagai cerita bersambung yang muncul setiap hari. Seperti ada 'ketergesaan' untuk membuat deskripsi jadi lebih padat, ada gairah untuk membuat setiap hari adalah page turner. Seru hampir di beberapa halaman itu sesuatu banget loh....
February 13, 2024
Cerita yang cukup menarik tentang perjalanan hidup Fir di Medan perang dan secuil cerita tentang Arum yang sangat menarik.

Memang membaca novel ini memerlukan banyak waktu untuk mencerna arti dari rangkaian paragraf demi mengerti maksud penulis dalam novel Asmaraloka ini, dan saya menikmati waktu demi waktu saat membaca novel ini sembari ikut berpikir.
Profile Image for Eka Fajar Suprayitno.
80 reviews
February 17, 2019
"Ruwet."
"Runyam."
"Sinting"

Rasanya buku ini memang seperti tiga kata itu. Terasa tak memiliki plot. Mengalir, mengalir, mengalir begitu saja. Sesekali berhenti sejenak lantas mengalir kembali.

Sinting!
Profile Image for Niskala.
94 reviews1 follower
June 21, 2025
Baguss
Jarang2 danarto bikin novel
Sayang antiklimaks di akhir, byk tokoh yang ga diceritakan akhirnya gmn... seperti cerita yang belum selesai.
Buat novel yg dibikin dlm waktu 60hari ini bagus sangat

Cerita ini ada versi cerpennya berjudul sawitri di buku kumcer sayap jibril
Profile Image for Fluer  Da'Bloom.
3 reviews
February 18, 2022
Menurut saya, buku ini sangat unik. Menyajikan cerita fiksi berbalut sufi. Memang, pembahasan di dalam buku cukup rumit untuk sebagian orang yang tidak terbiasa dengan gaya cerita alm Danarto. Seperti halnya saya, perlu membacanya berulang. Membacanya berulang membuat saya memahami lebih dalam inti cerita, maksud, dan makna serta menjadikan novel Asmaraloka sebagai buku favorite🥰
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for eti.
230 reviews107 followers
July 21, 2012
dapat buku ini gak sengaja di IBF 2012, waktu itu di stand buku bekas "sinar harapan" kalo nggak salah ingat setelah capek muter-muter nggak karuan. cuma cebanan, barengan sama bukunya ws rendra, martin aleidya.

Asmaraloka ini bercerita tentang Arum yang mencari jazad suaminya yang dibawa malaikat maut, yang membawanya hingga ke perang fatamorgana, bertemu Fir (Firdaus Muhammad), seorang santri yang terobsesi dengan perang dan Kyai Mahfudz pemilik pondok pesantren tempat Fir menimba ilmu. Dikisahkan dalam perang fatamorgana ini bukan hanya tentara/serdadu saja yang berperang, tapi juga pasukan setan dan malaikat yang ikut bertikai, yang pada akhirnya hanya sia-sia belaka.

Akhirnya setelah cukup lama terkatung-katung buku ini selesai juga saya baca. meski agak kecewa dengan endingnya yang menurut saya terlalu dipaksakan, tapi akhirnya saya maklum karena cerita ini memang ditulis dengan deadline yang mencekik, menurut penulisnya cerita ini merupakan cerita bersambung yang dimuat di harian Republika, hari itu ditulis hari itu juga dimuat, jadi kadang ceritanya terlalu dibuat-buat dan muter-muter nggak karuan juntrungannya, sepertinya penulisnya sudah kehabisan ide. Sebagai akibatnya endingnya dipenggal begitu saja, tidak jelas bagaimana nasib tokoh-tokoh selanjutnya.

melihat judulnya tadinya saya pikir ini roman semacam siti nurbaya :D
Displaying 1 - 15 of 15 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.