Sebagai pramugari maskapai penerbangan internasional Corissa Airlines, tidak seorang pun mengira Natasya Petra Rahadian memiliki tiga fase kehidupan yang membuat gadis itu terluka karena cinta.
Dimulai dari ayahnya yang meninggalkan Natasya bersama ibu dan adiknya. Kekasih masa kuliah yang menduakannya dengan sahabat karibnya sendiri. Dan terakhir, pilot yang dekat dengan dirinya ketika menjalani pelatihan berselingkuh dengan teman sekamarnya. Natasya bersumpah takkan jatuh cinta lagi. Sampai ia bertemu Craig Hayden, penumpang Corissa Airlines yang menyebalkan. Sementara Craig sudah tertarik pada Natasya yang begitu menawan hati saat kali pertama ia memandangnya.
Entah bagaimana Craig tahu, Nat memendam luka dalam hidupnya. Ia bertekad akan menyingkap kabut tersebut, memberi Natasya siraman kasih sayang, dan mengembalikan kepercayaannya kepada cinta.
Mampukah Craig membuktikan bahwa ia layak masuk dalam kehidupan Natasya? Bisakah Craig mewujudkan tekadnya untuk menjadi bagian dari lukisan hidup Natasya yang keempat, sekaligus yang terakhir?
She is just an ordinary woman with million dreams. Falls in love with words, music and lots of thing. Knows everything that she has, is only by His grace. The author of Nonik Jamu, Selangkah Darimu, Let's Fall in Love, Gravity, Falling, Lullaby, and more.
For her, life is what happen while you're busy making other plans :))
Gara-gara Buku Amore 2. Saya penasaran dengan buku Amore yang pertama yaitu Lukisan Keempat oleh Rina Suryakusuma. Dan kesan yang saya dapat adalah saya suka.
Oke seperti biasa, apapun mengenai buku, jatuh cinta pandangan pertama saya adalah pada covernya, selain tidak ada penampakan wajah seseorang atau tokoh didalam buku, saya menyukai gambar pasangan yang sedang bergandengan tangan disini. Terkesan Si Cowok tidak akan melepaskan pegangannya terhadap si cewek. Belum padang bunga dan awannya yang terkesan lembut dan ceria.
Seperti yang dijelaskan pada halaman belakang mengenai apa sebenarnya Amore: Cinta Sepanjang Masa, (dugaan saya ternyata benar) bahwa GPU menciptakan genre baru dalam dunia fiksi Indonesia, genre baru ini bertujuan memanjakan pembaca dengan kisah cinta yang romantis dan menghanyutkan, diharapkan pembaca akan terhibur dan tersentuh perasaannya.
Well, untuk kisah Natasya dan Craig dari halaman pertama cerita sudah mengalir lancar ke tokoh utamanya (Natasya) yang berusaha menjalani test masuk Pramugari di sebuah Perusahaan Penerbangan International, Corissa Airlines (entah kenapa saya membayangkan Singapore Airlines). Test diterima, suka duka menjalani training di Colorado, kemudian lulus, dan mendapatkan jadwal penerbangan. Untuk kisah cintanya dengan Craig juga tidak bertele-tele, singkat dan lancar meski dibumbui penolakan-ponolakan Natasya karena masalah pribadi dan mantan-mantan Natasya yang memang brengsek. Dan cover sesuai dengan cerita didalamnya, Craig dengan kelembutannya, selalu membawa keceriaan pada Natasya. Belum menyentuh perasaan saya sih, tapi saya cukup menikmati saat membacanya. Imaginasi saya cukup terpuaskan saat membaca buku ini.
Saya juga penasaran dengan buku Mbak Rina yang lain yaitu The Calling, selain covernya menarik, juga karena berlatar belakang kota Manchester dan Bali. Eeehhhmmm...Manchester...my next year adventure!
Saya rekomendasikan buku ini buat teman-teman yang menyukai happy ending story! Selamat membaca!
Natasya Petra Rahadian melarikan rasa frustasinya setelah putus cinta dari Edward Dwiansyah dengan meng-apply lowongan pekerjaan sebagai stewardess sebuah maskapai penerbangan internasional yang berbasis di Amerika Serikat. Ia berharap diterima sehingga dapat segera menyingkir dari segala kenangan tentang Edward untuk sementara waktu, kalau perlu selamanya. Tak dinyana, Natasya lolos seleksi hingga dikirim ke Colorado untuk mengikuti training calon pramugari sebelum secara resmi dikontrak oleh maskapai tersebut. Dan, dimulailah babak baru episode kehidupannya.
Natasya mulai ada rasa pada trainernya yang ternyata adalah seorang pilot, meski kemudian dia kembali harus tertusuk realita bahwa cowok itu berselingkuh dengan teman baiknya sesama pramugari. Pada saat itulah, Natasya dipertemukan oleh takdir dengan seorang penumpang pesawat menyebalkan yang berusaha menarik perhatiannya. Aura permusuhan yang muncrat pada awalnya, perlahan menjadi semacam candu yang membakar gairah asmara Natasya hingga ia tak lagi mampu membohongi diri sendiri bahwa ia terjatuh dalam kubangan pesona si penumpang bengal tersebut. Apakah kali ini kisah cinta Natasya akan berakhir dengan happy ending? Belum lagi ketika laki-laki lain dari masa lalunya tiba-tiba menyeruak ke dalam hidupnya, bagaimana ia menghadapinya? Lalu, apa yang dimaksud dengan lukisan keempat itu? Temukan jawaban-jawabannya dengan membaca novel pertama dari lini Amore yang digagas Gramedia ini.
Kecewa dengan keseluruhan elemen cerita dalam novel Amore 02 membuat saya sempat mengucap ‘sumpah’ untuk tak lagi menyentuh novel lain dari lini Amore ini. Namun, ternyata saya malah tak tahan untuk ikut-ikutan teman yang sudah membaca novel Amore 01 dan berkomentar bahwa it was better than Amore 02. Saya menjadi tertarik dan kebetulan ada teman yang baru membelinya dan mengizinkan saya “memerawaninya” terlebih dahulu. Terima kasih buat mas Tomo.
Hasilnya? Saya setuju dengan komentar teman tersebut bahwa novel ini lebih ngalir ketimbang novel Amore 02. Meskipun masih sama-sama dalam dunia khayal kesempurnaan para tokohnya, namun Lukisan Keempat ini menyajikan cerita yang lebih natural dan smooth. Metamorfosis karakter rekaan sang penulis dapat terekam dengan baik dan cukup hidup dalam belitan konflik yang diciptakannya. Walaupun, lagi-lagi, semua berjalan dengan sangat sederhana. Dan, tidak terlalu istimewa.
Seharusnya, terlebih dahulu saya mengosongkan pikiran dari segala pengetahuan yang pernah terekam dalam memori otak sebelum mulai membaca sebuah buku untuk menghindari keinginan hati mengaitkan cerita dalam buku yang saya baca dengan cerita lain yang pernah saya baca, dengar, atau lihat sebelumnya. Sayang, saya tak terpikir melakukannya ketika mulai membaca novel ini, sehingga kelebatan adegan demi adegan film View From The Top-nya Gwyneth Paltrow tak mampu saya bendung dan menyerbu benak saya. Tapi, untunglah, kesamaan novel ini dengan film itu sepertinya hanya terletak pada latar belakang kehidupan pramugari dan situasi training di awalnya saja. Selebihnya, seingat saya, berbeda sekali. Ahh, jadi pengen nonton film itu lagi…
Novel ini memang tidak menawarkan sebuah cerita yang rumit dan penulis juga nampaknya tidak berkeinginan untuk membuatnya rumit. Tak ada konflik bombastis dan hanya berkutat pada nasib percintaan tokoh utama sebelum dipertemukan dengan ‘jodoh’ yang telah dipersiapkan oleh si penulis. Yeah, ‘lil bit boring memang karena segalanya menjadi tampak begitu mudah. Pengaturan tokoh yang bermusuhan-dahulu-berkencan-kemudian terjadi begitu gampang tanpa banyak halangan. Namun, cara mengemas penulis patut diacungi jempol, sehingga pembaca (saya, maksudnya) bisa ikut larut dalam setiap adegan yang dimainkan oleh para tokohnya.
Pada satu sisi saya menyukai bagaimana sosok Craig ditampilkan sedikit tersamar, misterius. Namun, pada sisi yang lain juga ingin menuntut jawaban atas pertanyaan bagaimana ia bisa tahu banyak hal tentang Natasya. Dan, entah apakah ada fakta yang terlewat, seingat saya, penulis memang tidak menerangkan posisi Craig secara jelas, pekerjaan, keseharian, dan atau kekuasaan yang dimilikinya, sehingga memungkinkannya untuk memperoleh informasi-informasi penting soal Natasya itu. Bukan masalah sih dibiarkan misterius, tapi tetap saja diperlukan jawaban pasti atas pertanyaan mendasar itu. Di buku selanjutnya, maybe?
As usual, berikut laporan kejanggalan yang saya temukan di novel ini: (hlm. 22) …ucap si pris bule………, pris = pria (hlm. 16, 23, 114, 194, 195)…..hmm, meskipun dalam KBBI terdapat kata ‘kuatir’ namun juga ingin tahu artinya disarankan merujuk kata khawatir, nah, dalam novel ini alih-alih kata khawatir atau cemas, penulis lebih menggemari menggunakan kata ‘kuatir’, bagi saya kata itu lebih cocok untuk percakapan/dialog, sedang untuk deskripsi/narasi lebih enak jika memakai ‘khawatir’. Namun, sempat pula agak keselip ingin menggunakan kata khawatir (hlm. 26) tapi justru menjadi typo….mengkhatirkan = mengkhawatirkan? (hlm. 83) unbeliaveble = unbelievable (hlm. 108) adakah istilah force major untuk kondisi darurat/mendesak……..kalau setahu saya sih force majeur(e) (hlm. 114) ….Craig ada didekatnya……., didekatnya seharusnya dipisah = di dekatnya. (hlm. 123) “What?” Tasia tercengang menatap Craig……, ehmm, seharusnya demi konsistensi, untuk selain dialog penulisan nama tokohnya yang lengkap, Natasya, apalagi diceritakan bahwa panggilan “Tasia” hanya dilakukan oleh dua orang tokoh tertentu di novel ini. (hlm. 164) Semua impiannya terkabu……., terkabu = terkabul (hlm. 170) “……apa akibatnya?” mama menatap anak…….., mama = Mama (hlm. 188) kurang tanda titik pada kalimat akhir paragraf….gadis yang bisa dibawa-bawa(titik)
My thought: saya kok agak geli ya membaca frasa “memijit tombol handphone”…kalau mendengar kata itu, saya selalu terasosiasikan pada kegiatan pijat-urut. Sama juga dengan frasa “mengenakan lipstik”, hmmm….agak kurang familiar saja, bagi saya, soalnya terbiasa mendengar, “mengenakan kemeja” atau “mengenakan sepatu.”
Dalam ukuran selera saya sih, typo tersebut masih dalam batas wajar dan tidak begitu mengganggu dalam proses melumat cerita novel ini. Namun, tetap saja, hal tersebut menunjukkan masih terdapatnya titik lemah pada sektor penjaminan kualitas cetakan yang perlu dibenahi. Kenapa sih guwe secerewet ini? Pertama, saya ingin seluruh elemen yang terlibat dalam penerbitan sebuah buku sadar bahwa kualitas cetakan juga penting sehingga sangat perlu untuk menghindari beragam ‘cacat’. Kedua, sudah ada yang namanya editor jadi harusnya kesalahan seperti ini dapat terminimalisir, kalaupun ada yang menyebutkan bahwa bisa saja terdapat faktor-faktor khusus pada proses konversi file ke dalam aplikasi lain untuk dicetak, masak iya nggak ada quality check lagi pada tahap itu? Ketiga, pada kenyataannya ada lho buku yang ‘nyaris’ tidak ada ‘cacat’ teknis cetaknya, jadi kenapa buku yang lain tak bisa begitu.
Oops, kok malah melantur ke mana-mana. Kembali ke…..buku ini. Pada akhirnya, saya memang menyukai novel Lukisan Keempat ini. Bagaimana alur dibiarkan mengalir alami dan latar belakang pramugari yang meskipun tidak diuraikan secara mendetail tapi cukup untuk dapat menghilangkan kesan bahwa profesi itu ‘hanya’ tempelan belaka, membuat saya nyaman menuntaskan novel tipis yang baru saya sadari font-nya agak lebih eye-friendly ketimbang novel Amore 02, sehingga tidak melelahkan mata. Ending berasa mengundang sekuel meskipun ternyata kata penulisnya, ia belum memiliki gambaran akan meneruskan cerita ini atau tidak. Bagi saya, I love to wait for the next story of Natasya.
Tentu anda ingin tahu, mengapa saya yang penggemar komik ini juga senang membaca kisah romance? Hal ini dimulai dengan status jomblo saya yang menghabiskan sebagian besar kehidupan masa dewasa saya. Pelarian saya dari kenyataan pahit itu ("Jomblo itu pedih, Jenderal", seperti kata Adhitya Mulya pada bukunya: "Jomblo") adalah membaca buku genre ini. Saat membaca buku ini, saya sudah tahu akhirnya akan seperti apa, tapi saya memang ingin dibuai oleh kisah cinta yang mengharu biru dan adegan hubungan seks (khusus di Harlequin hehehe) dan pada akhirnya setelah selesai membaca novel itu, saya jadi lebih tenang dan bisa bilang: "masih ada harapan di dunia ini" hehehe.
Saat membaca sinopsis di cover belakang buku ini, saya langsung teringat pada lagu dangdut yang ngetop di jaman saya masih muda. "Tidak semua laki-laki bersalah kepadamu. Contohnya aku mau mencintaimu. Tapi mengapa engkau masih ragu..." ("Tidak Semua Laki-Laki", dinyanyikan oleh Basofi Sudirman). Dengan bekal itu saya membaca buku ini.
Oke. Masalah yang dihadapi para penulis kisah romance adalah bahwa semua pembaca sudah tahu siapa yang akan jadi dengan siapa di 1/10 halaman pertama buku. Nah tricknya adalah bagaimana membuat para pembaca tetap terbuai selama 9/10 halaman sisanya. Banyak yang berhasil dan banyak yang tidak.
Nah saat ini, saat saya membaca buku ini, saya tahu bagaimana akhir kisah antara Natasya dan Craig, everybody knows, pasti si cantik itu akan menikah dengan si tampan itu. Tapi saya ingin tahu apakah sang penulis berhasil membuai saya dengan ceritanya.
Nah secara jujur harus saya akui si penulis cukup berhasil menjaga tempo dan "buaian" dalam 9/10 bagian itu sehingga saya cukup terhibur dengan buku ini. Mulai dari proses lamaran pekerjaan Natasya di Corissa Air (sepertinya Singapore Airline yang dijadikan rujukan) hingga masa pendidikan, pekerjaan sebagai pramugari, pertemuan dengan Craig, kisah cinta yang gagal, hubungan dengan Craig, pertemuan dengan ayah yang telah puluhan tahun meninggalkannya, upaya pendekatan dari mantan, hingga akhirnya happily ever after, yang berhasil dijalin sehingga pada saat selesai membaca buku ini kemarin, saya langsung bisa tidur nyenyak dan bermimpi indah. Mantap. :-)
Oke, gaya penulisan buku ini tentu saja tidak bisa anda bandingkan dengan karya Helen Fielding misalnya, tapi menurut saya paling tidak dia telah berhasil memenuhi syarat minimal sebuah penulisan karya romance. Disamping itu nggak masalah juga sih, saya memang tidak berharap terlalu banyak kok dengan buku dari genre ini. hahaha. Yang penting saya baca dan saya senang, selama saya tidak terganggu dengan hal-hal musykil dalam cerita, atau typo yang terlalu banyak atau "ocehan" penulisnya di luaran (kasus apa ya ini? hehehe).
Oke, saya beri buku ini 3 bintang, karena saya bisa menikmatinya. Dan saya suka ide "tidak semua laki-laki bersalah kepadamu" itu. hanya karena ayahmu meninggalkan ibumu dan dirimu, pacarmu meninggalkanmu demi sahabatmu, pria yang kau sukai memilih teman sekamarmu, bukan berarti tidak akan ada pria keempat yang akan setia padamu, ya kan? :-)
tapi dengan sangat menyesal, saya hendak mengatakan terlepas novel ini bilang begitu, tapi pada kenyataannya di dunia nyata, tidak ada pria seperti Craig, yang akan mengajakmu ke Disneyland, yang pada kencan pertama memberikan buku dan coklat (dan bukan bunga), yang mencintaimu apa adanya. Kalau pun ada kemungkinan besar dia tidak memenuhi standar fisik yang anda tetapkan. Yang banyak ada adalah pria seperti Aditya yang menginginkan wanita lain yang lebih muda, Edward yang senang tebar pesona kepada wanita lain, Lou yang menduakan sambil memilih mana yang lebih baik. Tapi inilah guna genre ini, untuk membuat anda merasa lebih baik dan tetap memiliki harapan. Hidup harus penuh harapan... walaupun nanti pada akhirnya menjadi harapan nan sirna. :-) Tapi tetap harapan harus terus ada di hati kita, karena itu yang menyebabkan sebagian kebahagiaan di hati kita.
Sekian.
NB: saya cukup terganggu dengan adanya "harapan" adanya sebuah sexual intercourse di cerita ini yang kemudian batal. Mending tidak usah diadakan deh kemungkinan itu (untuk hal itu saya cukup baca seri Harlequin dan bukan Amore). karena saya jadi ingat rasa frustrasi saya saat menonton film Indonesia jaman dulu dimana tokoh wanitanya hampir diperkosa oleh para penjahat yang sedang tertawa terbahak-bahak (ingat: tertawa berarti orang jahat. si jagoan selalu tampil cool tanpa tertawa-tawa), eh tiba-tiba diselamatkan oleh sang jagoan. Dongkol bangettt... mending nggak usah dibikin deh adegan itu, kalau cuma untuk digagalkan. :-)
Dapat pinjaman buku ini dari Roos.Semalam dibaca, tadi pagi sudah selesai. A good read. Light and fun. Well, yang pasti bisa dibaca dalam kondisi otak bagaimanapun.
A lil bit cliche, tapi cerita romance mana sih yang nggak? Dan sebenernya buku ini malah bikin saya lebih iri sama kehidupannya si Natasya, bukan karena dia akhirnya bertemu dengan si prince Charming yang baik hati dan tidak sombong, tapi justru karena dia adalah seorang pramugari yang bisa berkelana keliling dunia, hahaha.
kalau suka cinta2an, dan terutama kalau suka bacaan macam Harlequin, buku boleh dipilih.saya sih menikmati membacanya, jadi mungkin kalian juga :)
I feel excited knowing how she put a chance on applying to be a stewardess.. 😍 Jadi tau ya salah satu proses menuju seorang pramugari... As her past frightened her, she didn't give her time to release it.. dia hanya berkubang di masa lalunya, yang menyakitkan itu.. But, Craig came. Wanting her to be happy.. Aaaa, gemes aje yeeee... Tasia jual mahal tp pengen juga... two thumbs deh waktu Taisa mulai.membuka dirinya... Uluuuuhhh... 😂😂
Lukisan Keempat.. Begitu lihat judulnya di salah 1 gramedia,gk ragu untuk megang dan baca sinopsinya.. Dari sinopsisnya pun udah tertarik untuk dibawa pulang ya..
Ceritanya tentang perempuan bernama Natasya,yang bekerja sebagai pramugari di salah 1 airlines terbesar di dunia. Natasya sudah disakiti 3 cowo sekaligus.. Pertama disakiti oleh ayahnya sendiri yang tega meninggalkan dia demi perempuan lain.. Lalu oleh 2 cowok yang selingkuh dengan temannya sendiri. Sakit ya.. Iya,bacanya aja udah miris banget :’( Dari situ Natasya sudah menutup rapat hatinya untuk tidak mencintai laki-laki lain. Sampai akhirnya dia bertemu dengan seorang bule bernama Craig. Craig yang semula melihat Natasya sudah tertarik dan ingin memilikinya. Butuh waktu lama untuk Craig meluluhkan hati Natasya,sampai akhirnya yaaaaa Natasya luluh juga ^^
Ya,inti ceritanya seperti itu.. Sungguh,salah 1 cerita yang gue suka banget.. Alurnya yang manis bikin hati gue ikutan ngerasain apa yang dialami sang tokoh..
Hanya aja kekurangannya pas udah mau endingnya, itu kenapa kaya sinetron banget dah.. Natasya ingin balas dendam ke mantannya,akhirnya mereka berdua dinner. Dan saat itulah Craig ngeliat dan ngambek. Kesannya kya sinetron pas bagian ini. But, for all its okeyy.. Memang mungkin udah jalan ceritanya seperti itu kali ya..
Ini buku pertama kak Rina yang gue baca,dan sekarang lagi baca buku dia juga yang judulnya Postcard from Neverland. Mungkin telat kali ya kalo gue bilang: mulai jatuh cinta dengan tulisan kak Rina.. Dari dulu kemana ajaahhh??
recommended this book buat bacaan ringan yg bikin cerah hari.lol (krn mank bgs n bikin hanyut,4 stars layak menurut saya) n mw nyari buku karangan mba rina lg #spt nya saiia ketagihan#hehheee
Bagus Aku suka cara penulis deliver the story ttg Natasya. Suka caranya menggambarkan pergumulan si Natasya, but the most important thing that I love is, the part where the realized that the is really in love to Craig and fight for it. Itu masuk akal bgt. Kita nggak bisa duduk diam nunggu org kasih bunga, dlm hal ini, membiarkan org lain yg menolong kita sementara kita pasrah. kitaus pro aktif setelah yakin itu the best buat kita
Apabila lukisan pertama dan kedua di dalam hidupmu tidak begitu indah, segeralah beranjak dan mulai melukis kembali lukisan ketiga, keempat dan seterusnya, hingga lukisan itu menjadi bermakna, indah, dan penuh dengan kebahagiaan.
Ini tentunya merupakan sebuah kiasan. Lukisan disini merujuk kepada kehidupan dan lembaran yang diwarnai cinta pada diri Natasya, si tokoh utama dalam buku karya Rina Suryakusuma ini. Dua lukisan pertama Natasya hancur berkeping-keping, lukisan pertamanya memang bukan cinta antar sepasang kekasih, tetapi cinta terhadap ayah terhadap anaknya. Ya, Natasya sejak berusia sepuluh tahun telah menjadi anak yang broken home. Ayahnya pergi begitu saja dengan wanita lain, meninggalkan Natasya dengan adik dan ibunya. Tanpa belas kasihan, si ayah melupakan begitu saja keluarga lamanya, terkekang oleh cinta barunya dengan seorang wanita lain. Lukisan kedua Natasya berupa cinta sepasang kekasih. Cinta ini pun berujung kekecewaan bagi dirinya, Edward, sang kekasih hati berpaling dan memutuskan Natasya hanya untuk berhubungan dan berpacaran dengan Dwina, sahabat dari Natasya sendiri. Di buku inilah Natasya harus move on, dan memulai lukisan barunya...
Cerita berawal dari kenekatan Natasya dan sahabatnya untuk melamar menjadi Corissa Girl, yaitu seorang pramugari di maskapai penerbangan Corissa Airlines. Langkah ini diambil Natasya sebagai pelariannya dari Edward, untuk melupakan Edward yang telah mengkhianatinya. Tanpa diduga, kenekatan dan keisengan Natasya berujung manis, dirinya diterima bekerja menjadi seorang pramugari dan harus tinggal di Colorado, Amerika Serikat, demi profesi barunya ini.
Sangat menarik membaca cerita dengan sudut pandang dan latar belakang baru yaitu di dalam dunia kepramugarian. Bagaimana tes yang harus dilakukan Natasya, kepribadian yang harus selalu ceria ketika menjadi pramugari, serta syarat-syarat ketat lainnya untuk dapat menjadi pramugari yang memenuhi kualifikasi, yang diantaranya ialah harus melakukan simulasi ketika pesawat akan mengalami kecelakaan, dimana pramugari harus menjadi orang terakhir ketika aksi evakuasi dilakukan dan harus semaksimal mungkin menekan rasa takutnya demi menjadi seorang pramugari yang baik. Di dalam cerita ini juga seolah pembaca diingatkan, bahwa pramugari merupakan manusia biasa yang mempunyai emosi tersendiri dan seolah hanya menjalani tugasnya yang penuh senyuman demi tuntutan profesinya. Bayangkan saja, dalam situasi apapun pramugari yang baik harus tetap tersenyum dan profesional, tak peduli apa yang sedang dirasakannya di dalam hati kecilnya.
Sambil mejalani profesinya ini, perlahan lukisan ketiga dan keempat Natasya mulai digoreskan. Dengan pilot Corissa dan dengan seorang penumpang tengil yang sama-sama berasal dari Amerika Serikat. Tentunya tidak mudah menjalani kisah cinta sementara kehidupan Natasya sebagai pramugari kebanyakan dihabiskan di udara. Disinilah tantangan dan ujian Natasya sebenarnya dalam pencarian cinta sejati dan pembuatan lukisan yang sempurna.
Cerita cinta yang ditulis di buku ini mungkin terkesan agak picisan dan penuh dengan kepahitan yang bertubi-tubi menimpa Natasya. Namun begitu, lumayan banyak filosofi dan pelajaran yang dapat diambil dari kisah cinta pahit yang terjadi disini. Salah satu pelajaran yang cukup dalam dan dapat diambil hikmahnya yaitu tentang lukisan pertama Natasya dengan ayahnya. Bagaimana langkah yang diambil ketika sang ibu mengetahui bahwa ayah Natasya selingkuh merupakan hal menarik yang dapat dipetik sebagai pelajaran. Di dalam buku, diceritakan bagaimana si ibu langsung menutup pintu hati ketika si ayah ketahuan selingkuh. Si ibu seakan tidak memikirkan hal lainnya dan hanya mengambil langkah yang sesuai egonya, yaitu tidak memaafkan suaminya. Si ibu tidak berpikiran jauh ke depan, bahwa akan ada yang dikorbankan gara-gara sifat egoisnya itu, yaitu anak-anak mereka, alias Natasya dan adiknya. Untungnya, si ibu akhirnya sadar walaupun terlambat untuk mendapatkan suaminya kembali. Setidaknya, si ibu tidak membiarkan Natasya dan adiknya menyimpan dendam yang lebih dalam terhadap ayahnya, karena bagaimanapun, ayah tetaplah ayah bagi mereka.
Dari segi cerita, tema dan topik yang diangkat penulis sungguh sangat menarik dan ringan untuk dibaca. Hanya sayangnya, terlalu bebasnya pergaulan yang terjadi menjadikan buku ini saya rasa terlalu terbuka. Atau apa ini yang menjadi khas dari genre Amore ini ya? Kehidupan modern dan metropolitan yang sebelumnya kita kenal di dalam genre metropop berubah haluan menjadi Amore ketika ditambahkan adegan-adegan seks di luar nikah serta hubungan cinta antara orang Indonesia dengan orang bule. Inilah yang saya tangkap dari dua buku Amore yang telah saya baca. Pada akhirnya, alasan terakhir inilah yang membuat saya tidak memberikan rate sempurna terhadap buku ini.
Memiliki buku ini di rak buku namun sempat terabaikan. :P Yeah, ada beberapa alasan yang bikin kuabaikan buku ini, dan alasan itu lebih kepada buku-buku HR yang sangat menggoda untuk dibaca. *gigit* Namun pada akhirnya, kubaca juga toh? Walaupun memang cenderung terlambat. Buku ini sudah lama terbit dan merupakan buku pertama dari Amore serial, rite? *ketip2* Jadi sudah terlambat banget ini. :P
Oh, tulisan berikutnya full spoiler. Beware, btw! :D
Natasya, tokoh utama kita adalah salah satu Corissa Girl; sebuah Airlines terkenal yang membuatnya memiliki penghasilan lumayan dan berkeliling dunia (oke, abaikan kalimat ini, aku masih terganggu dengan perasaan pertama kali membacanya). Dia memiliki seorang adik dan ibu, tanpa kehadiran seorang ayah sebagai pelengkap keluarganya. Ayah kandung Natasya (kenapa berasa nyebut nama sendiri ya? :p) sudah lama mengkhianati keluarga kecil mereka dan menikah dengan perempuan lain, dan juga memiliki seorang anak perempuan; adik tiri Natasya. Ini membuatnya terluka, walau ia tetap mencari cinta dari kehadiran lelaki lain di hidupnya.
Pria kedua, teman kuliah Natasya. Berkencan dengannya namun kembali mengkhianati dirinya. Pria itu justru berkencan dengan sahabat karib Natasya dan membuat tokoh utama kita lebih memilih untuk menjadi Corissa Girl dan tidak berada di negara yang sama dengan mereka. Pria inilah yang menjadi lukisan kedua buat Natasya, lukisan cacat dalam hidup Natasya.
Lukisan ketiga. Seorang pria muda, dekat dengan dirinya dan mulai menarik perhatian Natasya semenjak pertemuan pertama mereka di pelatihan menjadi Corissa Girl. Suara dari sang pria-lah yang membuat Natasya memberanikan diri menjalani pelatihan, dan semenjak itu mereka menjadi dekat. Namun, Natasya dan sang pria terpisah karena tuntutan tugas penerbangan, dan Natasya yang khawatir sang pria tidak bisa dihubungi, mendapati perselingkuhan si pria dengan teman sekamarnya. Ia lagi-lagi kembali kecewa.
Craig, seorang pria muda, tertarik pada Natasya semenjak melihatnya pada kali pertama, dan dengan sengaja bersikap menyebalkan hanya untuk menimbulkan kesan di depan Natasya (sweet ya?). Sejak awal dia sudah muncul di depan Natasya di salah satu penerbangan sebagai penumpang, dan terlihat jelas kalau dialah lukisan keempat buat Natasya. Mudah menebaknya IMO. Dan memang pada akhirnya Natasya menjadikan Craig sebagai lukisan pelengkap hidupnya.
Oke, itu bisa dibilang sinopsis lengkapnya, tapi aku masih kepingin komentar adegan-adegannya. XD Aku merasa kisah ini masih kurang 'dalam', lebih terkesan main save dan kurang berasa feel tiap tokohnya. Dendam Natasya buat lelaki-lelaki yang mengkhianati dirinya kurang terlampiaskan, padahal aku berharap dia memiliki kesempatan lebih untuk membalaskan dendamnya. *smirk* Oke, bilang aku yang jahat, tapi gemes saja kalau ceritanya bisa lebih kuat lagi namun terkesan dieksekusi terlalu cepat. *hugs Natasya* *peluk diri sendiri* *kembali ingat adegan pertemuan Natasya dengan keluarga tiri dan ayahnya di pesawat* I want more! :P
Umm, adegan terakhir, saat Craig mendapati Natasya berpegangan tangan dengan lelaki mantan kekasihnya semasa kuliah, entah mengapa adegan yang awalnya bikin greget itu malah berakhir *yahh* so-so. ._.
Overall, aku lebih suka dengan buku Jejak Kenangan dari penulis yang sama, tapi buku ini sukses membuatku penasaran dengan pengalaman naik pesawat lagi... XP Dan juga menceritakan sedikit pengalaman menjadi salah satu pramugari. Lumayan buat nambah pengalaman khan? :D
Untuk setiap musibah yang kaualami, selalu ada berkat tersembunyi yang tersedia bagimu. Asalkan kau sabar, bersyukur, dan tetap berharap pada Sang Pencipta.
Setelah dikhianati oleh tiga orang pria di masa lalunya, Natasya Pertra Rahadian membentengi diri serta hatinya agar tidak terluka lagi. Setelah menyelesaikan administrasi wisudanya, dia bersama temannya Hellen, mengikuti test Corissa Girl. Nasib ternyata berbaik hati kepada Natasya, dia di terima menjadi Corissa Girl yang berarti dia akan berkeliling dunia, tetapi di sisi lain dia harus berpisah jauh dengan ibunya serta adiknya. Selama menjalani pelatihannya sebagai pramugari maskapai terbaik dunia, Corissa Airlines, Natasya belajar banyak hal, dan dia sadar menjadi pramugari bukanlah hal yang mudah karna mereka di berikan kepercayaan dan tanggung jawab yang cukup besar saat sedang bertugas di pesawat. “Menjadi pramugari bukan tugas mudah. Kalian harus tetap tenang, berkepala dingin, dan tidak mudah panik. Kalian adalah kru pesawat yang akan memimpin penumpang dalam keadaan darurat. Kalian harus mampu bekerja sama, memastikan setiap nyawa bisa diselamatkan. Ini tidak main-main. Kalian harus tahan banting dan kuat.” Saat menjalani tugasnya, Natasya bertemu dengan seorang pria bule, yang buatnya sangat angkuh, sombong dan menyebalkan, Craig Hayden. Tanpa di sangka pertemuan-pertemuan selanjutnya terjadi di antara mereka berdua. Awalnya Natasya membentengi diri dari Craig, dia menjaga jarak agar sejauh mungkin dari sosok pria bule tersebut. Namun Craig tidak pernah menyerah dia selalu berusaha untuk mendekati Natasya walaupun Natasya sering menolak ajakan makannya serta keberadaan dirinya, tapi Craig tidak pernah menyerah sama sekali dan hal inilah yang membuat aku kagum sama sosok Craig yang tidak pantang menyerah ini. Setelah mengalami berbagai macam penolakan, Craig berhasil mendekati Natasya dan berusaha untuk menjadi teman yang baik yang selalu ada di saat dia di butuhkan. Craig mencintai Natasya dari awal mereka bertemu keangkuhan yang di tunjukkan Craig pada saat pertama kali mereka bertemu hanyalah cara agar Natasya mengetahui dan mengakui keberadaannya. Setelah sebulan dekat bersama Craig, Natasya sadar bahwa dia jatuh cinta kepada pria tersebut tapi masa lalunya, yaitu tiga lukisan di masa lalunya yang telah mengecewakan hatinya, serta melukai perasaannya membuatnya untuk tidak memulai hubungan yang serius dengan Craig. Tapi sejauh apa pun kita berusaha untuk membentengi diri kita, sejauh apa pun kita berlari untuk menjauh dari takdir yang telah di berikan oleh Tuhan, tentu saja itu percuma karna kita akan kembali lagi ke titik awal. Jadi apakah Craig berhasil meyakinkan bahwa dia bisa menjadi lukisan keempat sekaligus lukisan terakhir di hidup Natasya? Bisakah Craig meyakinkan Natasya? Silahkan di baca ^^ Lukisan Keempat adalah novel mbak Rina kedua yang saya baca, dan sungguh tidak mengecewakan malah membuat saya semakin ketagihan untuk membaca novel Amore mbak Rina yang lainnya :’) Ceritanya yang sangat menginspirasi, sangat menyentuh, dan juga sedih. Aku sangat salut sama sosok Natasya di sini yang begitu tegar saat menghadapi cobaan, serta berusaha untuk memaafkan masa lalunya yang telah melukai hatinya. Benar-benar jatuh cinta sama ceritanya, dan novel ini berhak untuk mendapatkan 4 bintang.
Ada waktu menemukan, ada waktu kehilangan. Ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk melepaskan dan membiarkan apa yang kita cintai pergi.
"Setelah kamu dewasa, Natasya, hitam tidak selalu hitam. Dan putih tidak selalu putih. Ada garis abu-abu di antara keduanya."
Ini adalah karya kedua dari Rina yang saya baca. Karena buku ini relatif tipis, bisa saya selesaikan dalam satu kali membaca.
Novel Amore ini banyak mengupas tentang pekerjaan sebagai pramugari. Walaupun pekerjaan ini terlihat bergengsi, dengan gaji tinggi dan kesempatan keliling dunia, tapi ternyata juga mengemban resiko yang besar. Ketika penumpang pesawat panik karena pesawat yang mengalami turbulensi, pramugari harus menenangkan mereka walaupun sama-sama panik. Dan pada pendaratan-pendaratan darurat, pramugari dan kru pesawat adalah orang-orang terakhir yang menyelamatkan diri, setelah yakin tidak ada penumpang yang belum diselamatkan.
Saya sempat menonton J-dorama berjudul Attention Please. Sama-sama mengupas tentang pramugari, tapi bedanya Attention Please lebih panjang, lebih terdramatisasi, dan lebih fokus pada lika-liku training pramugari. Walau tidak selengkap drama tersebut, saya merasa penjabaran yang diberikan di Lukisan Keempat telah cukup baik dan menarik. Dan memang karena novel ini novel Amore, sudah selayaknya membahas tentang cinta.
Cinta yang disajikan di sini ada dua macam: cinta pada keluarga dan cinta pada kekasih. Keduanya saling bertautan dan menyelesaikan untaian satu dengan yang lain. Sesuai judul, pembaca dituntun untuk menilik kehidupan Natasya, dan dibawa untuk mengerti mengapa Natasya tidak menginginkan komitmen. Sebagai pembaca, saya bisa relate dan mengerti mengapa Natasya ogah komitmen, mengingat kelakuan ayahnya yang tidak adil padanya.
Ada beberapa hal dalam novel ini, however, yang mengganjal. Contohnya adalah ketika Natasya mendarat di Paris dalam tugas kerjanya. Disebutkan ia mendapatkan cuti terikat tiga hari, di mana ia bisa melakukan apa saja. Dengan syarat, selama tiga hari itu ia harus berada dalam negara terakhir ia mendarat (yaitu, I assume, Perancis) dan harus muncul pada bandara ketika ia harus berangkat lagi.
Namun beberapa halaman kemudian, Natasya dikatakan berkencan ke Inggris. Lah, kalau begitu dia keluar dari negaranya, dong? Dia melanggar kode pekerjaannya? Apakah saya yang miss di sini, atau memang ada kekeliruan?
Karakterisasi Natasya sendiri cukup baik, walau sederhana. Tapi saya tidak bisa dibilang puas dengan karakterisasi Craig Hayden. Alasannya hanya satu, adalah karena saya merasa Craig Hayden terlalu mirip dengan karakter Clay di The Calling, buku Rina lainnya. Pingin lihat cowok 'jenis' lain, dong, Rin! :)
Ada sesuatu dalam Lukisan Keempat yang membuat saya kagum, yaitu tentang pandangan ibu Natasya dalam cinta. Dia telah disakiti, tapi dia tidak meminta anaknya untuk tidak mencintai. Kata-katanya yang bagi saya sangat memorable dan mengena adalah:
“"Biarpun hatimu terluka karena kegagalan cintamu pada seseorang,tapi percayalah rasa itu lebih berharga daripada ketika hatimu hampa. Tanpa mencintai, kamu tidak akan tersakiti,namun kamu juga tidak pernah bahagia. Apa artinya hidup kalau begitu?”
Ending dari Lukisan Keempat ini pun terasa tidak dipaksakan, tidak muluk-muluk. Pas, menurut saya.
Tiga setengah dari lima bintang dari saya untuk Lukisan Keempat, yang saya bulatkan keatas menjadi 4/5 bintang karena quote-quote memorable-nya. Juga karena semua riset tentang pramugarinya yang menurut saya cukup rapi dijalin. Kurang tebal!
Ada 1 hal yang sangat mengganggu selama membaca buku ini, yaitu sinopsis di cover belakang buku ini. Mustinya bagian waktu Natasya ga usah diceritain dulu di sinopsis belakangnya. karena udah baca belakangnya, pas nyampe bagian ntu, bawaannya pengen ngeskip bagian itu mulu.
Another criticism for the author, tentang wishednya natasya di bagian akhir itu entah kenapa buat saya, seakan-akan pengarangnya lupa sama wishednya itu trus baru keingetan pas ceritanya udh di akhir and males buat ngubah lagi karena banyak yg harus dirubah, jadi ya udah buat aja kaya gitu. Buat saya, yg paling bisa dikategorikan sebagai wish yang ga mungkin kesampaian itu, wishnya yg no 3, Take me to the moon and the stars. The other? that's too simple especially number 1. dan saya harap ada scene Natasia nanyain Craig gimana caranya dia bisa ngabulin wishnya Natasia. Apa dia pernah nyuri liat? ato gimana? dan ngomong2 soal mistri, gimana caranya Craig bisa ngecek
And the second last kritik, waktu Craig ngeliat Natasya lagi dinner & dicium (kalo ga salah) tangannya sama Edward. Ok, Craig kecewa sama Natasya karena Natasya ngebiarin tangannya dicium sih no problem lah. masih make sense. tapi kata2 " dan begitu kita dekat, dengan mudahnya kamu dinner bersama pria lain!nya itu loh.. Hello?!? Itu di Indonesia, sir kejadiannya bukan di luar negeri. Entah kalo di luar negeri and dinnernya sama orang yang belum lama kenal juga. Karena deket sama situ, jadi dia ga boleh dinner sama cowok lain gitu? Kalo dia punya temen deket yang bener-bener temen juga ga boleh dinner bareng Natasya gitu? ckckck..
And the last, kali ini cuma saran aja. kalo scenenya lagi ngobrol pake bahasa Inggris, mendingan jangan setengah Inggris, setengah Indonesia deh. Waktu awalnya saya sampe mikir ini lawan bicaranya hebat bgt bisa bahasa Indonesia juga.
Pujiannya, ada pesan tentang memaafkan. Terutama hubungan antara Natasia sama ayahnya yang bikin dia sakit hati bgt. dan sangat susah nyembuhin sakit hati terutama yg dilakuin sama org yang sangat disayang. Judulnya kreatif dan bikin saya ga langsung ngeh apa maksudnya. Pemilihan kata2nya jg bagus, ga terlalu baku jadi ga terlalu mbosenin.
Maaf, kalo ada yang ga suka sama review saya. tapi itu yang saya rasain waktu baca buku ini. Seperti yg org bilang, mengkritik itu lebih gampang daripada melakukannya dan saya akui menulis itu tidak gampang.
Novel ini berkisah tentang Natasya Rahadian. Seorang pramugari salah satu maskapai penerbangan terbaik di dunia, yang biasa disebut "Corissa Girl". Pengkhianatan Edward, mantan kekasihnya dengan sahabatnya sendiri Dwina membawa Natasya ke Colorado basecamp Corissa Airline dan meninggalkan keluarga dan kampung halamannya, Indonesia.
Pengkhianatan demi pengkhianatan yang dialaminya seperti melukis tinta hitam dalam hidupnya, bermula dari ayahnya, kekasihnya Edward hingga Lou, pilot yang sempat dekat dengannya. Hal ini membuat kepercayaannya akan pria dan cinta lenyap, memilih untuk membentengi dirinya dari cinta para pria. Hingga pertemuannya dengan Craig Hayden, saat dia sedang bertugas membuat pertahanannya goyah. Kesan pertama yang kurang baik tentang Craig dan cukup membekas dihatinya. Craig pun sebaliknya telah jatuh cinta pada Natasya sejak pertemuan pertama tersebut dan bertekad untuk mendapatkan hatinya ^^
Novel ini cukup romantis, cukup menarik dan gaya penulis memaparkan ceritanya pun mengalir. Perkembangan hubungan Natasya dengan pria yang mengkhianatinya hingga pertemuannya dengan Craig digambarkan cukup detail dan kerasa banget ^^ Walaupun ending sudah bisa ditebak, tidak mengurangi sedikitpun kenikmatan membaca novel ini, kita dibawa kedunia Natasya Rahadian. Dan suka dengan karakterisasi seorang pramugari, suka dukanya yang cukup detail. Jadi, punya ilmu yang baru.
Suka banget dengan kata-kata Craig untuk Natasya ini: "Suatu saat kita akan menjadi tua, Tasia. Mungkin 30 atau 40 tahun lagi aku tidak akan kelihatan seperti sekarang. Mungkin aku lebih bungkuk. Dan mungkin sudah ada kerut diwajahmu. Tapi aku percaya, cinta kita akan selalu baru, apapun yang terjadi. Tasia, dimataku kamu akan selalu cantik. Dan aku berharap, begitu juga diriku dimatamu."
Wah, it's a sweetest statement, dan semua wanita yang mendengarnya pasti akan sangat terharu sekali ^^ Cinta tanpa syarat, cinta yang tulus dari dalam hati =) Yang jelas cocok buat pembaca yang suka dengan romance sepertiku
Pengalaman nampaknya mengajari Natasya segalanya. Terlebih pengalaman hidupnya yang pahit. Disakiti dan dikhianati membuat Natasya menjadi anti terhadap cinta. Luka demi luka yang memenuhi hatinya telah menutup hatinya kepada pria. Namun semuanya berubah ketika pria bule bernama Craig Hayden hadir dalam hidup Natasya.
Craig jatuh cinta pada pandangan pertama. Natasya telah mencuri hatinya saat mereka bertemu pertama kalinya di pesawat. Craig cukup cerdik untuk menarik perhatian Natasya dengan menciptakan sedikit masalah. Berkat masalah yang ditimbulkannya, otomatis Natasya akan mengingat dirinya meski bukan kesan yang baik. Bagi Craig ini sudah merupakan awal yang baik. Craig akan berjuang untuk mendapatkan Natasya karena ia yakin Natasya berbeda dengan wanita lainnya.
Natasya tidak begitu saja menerima Craig. Tidak aka nada lagi luka lain yang bisa menyayat hatinya. Craig pria yang sangat baik. Kebaikan dan ketulusan Craig membuat Natasya mau berteman dengannya. Mereka menjadi akrab. Sayangnya Natasya menolak saat Craig melamarnya. Ia bertekad untuk tidak hidup dalam komitmen. Daripada ia menderita seperti sebelumnya, ditinggal pergi oleh sang Ayah dan cintanya dikhianati dua kali oleh pria, lebih baik ia hidup sendiri.
Meski demikian, Natasya tidak dapat berbohong pada hati kecilnya. Ia juga mencintai Craig. Berada di sisi Craig merupakan momen bahagia melebihi apapun. Bersama Craig lah ia menemukan kembali bagian yang hilang dalamn dirinya. Ia dan Craig melewati malam pergantian tahun bersama di California. Craig mengajaknya menaiki wahana menegangkan, membawanya melihat kembang api yang luar biasa indah. Sungguh romantis. Namun sekali lagi tekad Natasya mencegahnya untuk melangkah lebih jauh.
“Setelah kamu dewasa, Natasya, hitam tidak selalu hitam. Dan putih tidak selalu putih. Ada garis abu- abu di antara keduanya.” (Mama Natasya, hal. 171)
"Untuk setiap musibah yang kaualami, selalu ada berkat tersembunyi yang tersedia bagimu. Asalkan kau sabar, bersyukur, dan tetap berharap pada Sang Pencipta."
Kisah ini bermula dari seorang perempuan bernama Natasya Petra Rahadian; yang barusaja dikecewakan oleh seorang lelaki bernama Edward. Lelaki itu mengkhianatinya dan menduakannya dengan sahabat Natasya sendiri. Hal tersebut sedikit banyak mendorong Natasya untuk mengikuti pendaftaran menjadi Corissa Girl; pramugari salah satu maskapai penerbangan yang terkenal secara mendunia. Tak disangka, Natasya lolos dan diterima menjadi seorang Corissa Girl. Sejak saat itulah, ia memulai sebuah perjalanan hidup yang baru - kehidupan seorang pramugari.
Dalam perjalanannya menjadi seorang pramugari itulah ia bertemu dengan seorang lelaki bernama Lou. Hubungan keduanya berjalan cukup baik; mereka berteman dekat, dan meskipun tidak ada kata-kata yang memastikan hubungan mereka, Natasya yakin Lou memiliki perasaan yang sama dengannya. Tetapi sayangnya, hal tersebut tidak berlangsung lama. Natasya harus dengan pahitnya menemukan Lou berduaan dengan salah seorang pramugari lain - yang juga adalah teman baiknya. Kejadian-kejadian yang menimpanya itu membuatnya tidak lagi percaya pada cinta; ia tidak akan lagi mempercayakan hatinya kepada lelaki. Suatu hal yang sudah ia pelajari bertahun-tahun lalu lewat Ayahnya....
Ini merupakan novel Amore pertama yang saya baca. Dan saya mengerti satu hal, novel jenis ini kurang cocok dengan saya. Logika saya seperti dibolak-balik, tapi toh, saya tetap menikmatinya.
Pas lihat novel ini di stan-nya Gramedia pas Jogja Book Fair kemarin, saya sebenarnya gak niat beli ini. Malah saya lebih tertarik sama novel Entrok yang juga dipajang di sana. Lebih-lebih, saya malah pingin banget baca novel Amore yang fenomenal (buku biru) terlebih dahulu. Sayangnya, sampai sekarang saya belum dapat pinjaman atau belum ada toko buku online yang menyediakan stoknya. Setelah dipikir-pikir, kalau beli Entrok yang sampulnya vulgar itu, bisa-bisa sampai rumah saya dimarahi habis-habisan sama Ibu saya. "Baca kok novel beginian, buanh!" *teringat kejadian pas baca novelnya Bang christian Simamora*. Akhirnya karena gak ada pilihan lain yang bagus, saya pun membeli novel tipis ini.
Ternyata .... Halamannya boleh sedikit, tapi isinya enggak. Ceritanya sederhana dan mengalir lancar walau logika saya dibuat berbingung-bingung. Entahlah, aneh aja si Craig, Lou, dan Jenny di sini. Mana si Kristy juga kagak jelas kelanjutannya. Namun gaya bercerita Bu Rina yang mengalir lancar membuat saya tetap betah menyelesaikan novel ini.
Ah, review kagak jelas dari saya ini sebenarnya berintikan kalau saya cukup menyukai novel ini walau genre-nya agak kurang saya sukai. :)
Awalnya tertarik sama sinopsisnya yang menggambarkan job si heroine sebagai Pramugari. Karena itu hal baru, aku jadi semangat banget nih... Tapi, aku SAMA SEKALI NGGAK SUKA sama si Heroine ini.
Mungkin karena tokohnya dibuat serbasempurna yang malah bikin aku bertanya-tanya, cewek secantik Natasya Petra yang bikin banyak orang menatap dua kali (termasuk Mas Craig alias kloningan James Bond) bisa diselingkuhin. Yeah, semua hal mungkin saja, toh temenku yang cantiknya kayak bidadaripun diselingkuhin sama pacarnya (Nggak bersyukur banget jadi laki!) tapi puh-leaze.... Alasan dari Edward dan Lou yang selingkuh juga nggak dijelasin ini. Apa si Jenny dan Dwina itu lebih cakep apa gimana enggak tau. Yang jelas si Natasya yang too perfect to be true ini kalah saing sama dua orang mantan sahabatnya.
Perlakuan Natasya ke Craig juga amit-amit nyebelinnya. Apa coba maunya nih cewek?? Sorry to say, heroine macem ini sangat disarankan untuk pergi nyebur ke laut yang banyak hiu nya.
Buku pertama Rina Suryakusuma yg kubaca & so far, my fave ^^ suka dgn karakter Nat yg ga takut tuk mencoba, ga gampang menyerah & tegar walo tumbuh tanpa perlindungan seorang ayah..
Tapiiiii.. (oops, tapi lg nih Rin hehehe..) satu pertanyaan lg dari buku yg satu ini, WHY Daniel Craig??? wkwkwkwk.. si Bond terbaru ini klo menurutku ya, sekali lg MENURUTKU LHO ^^ adalah Bond plg ga cocok.. wajahnya sama sekali ga menunjukkan karakter Bond yg cool tp agak2 "nakal" malah klo liat dia sll mikir cocoknya dpt peran "villain" aja kali yaa bknnya peran hero sbg Bond hahahaha..
Emang sih, cewe2 lain pst pada protes, kan si Craig body-nya six pack gitu loh.. tp please deh.. body ga selamanya jd jaminan gals!!! wkwkwkwkw.. ya sudahlah, tiap nulis review buku Rina aku koq bnyk protesnya ntar Rina ngambek pula..
Once again, congratz buat Rina.. God Bless U sis ^^
sempet kecewa sama bukunya yg tipis banget karena hanya dalam itungan 2 jam udah selesei dibaca tapi i must say, the story is good, i like it much. awalnya saya tidak mengerti arti dari judulnya yg sepertinya gak nyambung dengan cerita sebelum akhirnya sy ngeh klo ada empat laki-laki di hidup Nathasya. lika liku ceritanya saya suka, karakter tokoh2nya saya juga suka, emosinya juga berasa hanya saja saya kurang sreg dengan tambahan kata tangan kokoh yang berulang-ulang, mungkin bisa diganti dengan kata yang lain ya? hueheheheheh tapi this book is great, love it. two thumps up for the author ^^
Aq selalu suka novel roman, temanya sendiri aja udah bikin aku tertarik, ditambah dengan genre amore yang agak bersifat ke-harlequin-an, aku langsung beli deh. Ceritanya sendiri segar, fresh, karena pertama kalinya aku baca novel kayak gini. Lumayan light buat bacaan santai, menghibur. Tapi aq kurang dapat merasakan permainan emosinya. Mungkin karena detail penggambarannya kurang ya. But anyway, its a good story.
Kisah cinta antara penumpang dan pramugari juga kerap terjadi di dunia nyata. Bang Narji 'Cagur' kabarnya kepincut pramugari yang kini menjadi istrinya. Wajar aja sih, siapa yang gak naksir gitu : cantik, tinggi, putih, senyum menawan, aduhh... saya rasa para wanita pun iri.
Saya sempet gak mau lagi baca Amore karena dulu waktu pertama kali baca kebetulan dapet cerita yang gak asik. Membaca Amore yang ini karena rekomendasi seorang kawan. Ya, lumayanlah... Cukup bagus ceritanya kali ini.
Tidak mengesankan buatku karena tidak ada kejutan di setiap bagiannya. Standar dan terlalu ringan. Untung saja hanya 224 halaman, kalau terlalu dipanjangin kemungkinan untuk aku skip pasti ada. Karakternya juga kurang kuat dan aku tidak mendapatkan feel sama sekali. Tapi diksinya lumayan juga, dan ceritanya mengalir. Bagi penyuka novel romance dengan tema yang ringan, novel ini bisa menjadi pilihan karena bisa dilahap dalam waktu kurang dari sejam.
speechless *sering nampak di gramed dan bodohnya sering kulewatkan begitu saja* :o
stelah dibaca isinya adu cinta berat!! Idenya fresh,isi ceritanya benar-benar berisi,sarat makna,quotes nya amat sangat membangun,dan romance nya dapet banget. Salut deh ma ci Rina.
Habis ni bakal lanjut postcard from Neverland,dan pantengin terus buku barunya ci Rina :*
Selalu suka sama tokoh cowoknya cici Rina! Adaaaa aja 'unsur' adoreable-nya. Craig salah satunya. Ceritanya gak cuma "hey i'm falling in love with you, let's built a relationship" tapi satu-dua pesan moralnya adalah. Tentang ibunya yang jadi single parent, perjuangannya jadi pramugari, dan masih banyak yg lain. Titip cium buat Craig! ;))
suka bangett... si craig tipe cowok gue banget... sukses si rins bikin gue berdecak kagum.... ^^ like tasya very much... you're very tough gurl... kiikikiikiiik... sempat ketawa aja, pas lagi baca sambil ngebayangin adegannya si craig sama tasya waktu ketemu pertama kali di pesawat... hehehe...
lebih suka postcard drpd ini..mgkn karena q gak demen sama gambaran Rin ttg Craig..hahhaaa...abiz gak suka sama James Bond ala Craig sih..tp overall oke koq..cuma terlalu tipis n konflik ny dangkal bgt...