Yang penting, kamu ingat saja. Semakin besar ukuran rahasiamu, kamu harus semakin pandai mengunci mulut. Makin besar rumah dan makin banyak harta, makin besar pintu dan kuncinya. Kira-kira seperti itulah.
Hai, namaku Sharafina Labiba, siswi kelas 9. Teman-teman biasa memangilku Sher. Aku terkenal sebagai tempat curhat. Karena rahasia siapapun, akan aman padaku. Pokoknya, aku bisa dipercaya! Kakakku, Lintang, dia punya kegiatan ’rahasia’ yang kalo sampe ketahuan, bisa bikin papa dan mama marah besar. Dia percayakan rahasianya itu hanya pada satu orang: Aku! Apalagi teman-temanku. Bagi mereka, aku adalah bank rahasia yang paling tepat!
Tapi, bisakah aku menjaga rahasia orang yang menyebalkan? Menjadi bank rahasia yang paling aman bagi orang yang sensible: bijaksana, berpikiran sehat, selalu melakukan hal-hal positif, TAPI MEMBOSANKAN? Dan kebetulan ... orang itu adikku sendiri?
Read this again for the sake of nostalgia. Aku pinjam punya adikku sebenarnya. Buku ini adalah Pink Berry Club pertama yang aku baca dan dulu aku menyukainya. Aku bersyukur dan senang karena masih menyukainya sekarang. Selain ceritanya, aku suka dengan gaya ilustrasinya Dewa. Sayang Dewa ini nggak disebutkan nama lengkapnya. Padahal, aku penasaran dengan portofolionya.
Cerita ini adalah kisah tentang hubungan adik dan kakak. Sherafina atau Sher si anak kelas 9, sering nggak akur dengan adiknya, Soraya atau Aya yang masih kelas 7. Sebenarnya diam-diam Sher terintimidasi karena adiknya terkesan jauh lebih dewasa. Adiknya suka belajar dan suka membantu orangtua, tidak seperti dirinya. Nah, Sher ini sering dipercaya buat jadi kotak curhat teman-temannya. Dia menyimpan semua rahasia itu dengan baik. Sampai kakaknya, Lintang, pun memintanya menjaga rahasia dari orangtua mereka bahwa diam-diam dia masih latihan tae kwon do.
Bagian paling keren di sini adalah waktu Sher disuruh orangtuanya membantu di perpustakaan milik Tante Frenda selama liburan. Dan perpusnya tuh keren abis! Sher berteman dengan Titani dan berdua mereka menjadi panitia acara untuk anak-anak SD yang diselenggarakan di sana. Sher juga berkenalan dengan Valdi, cowok pengunjung perpustakaan yang seumuran dengannya.
Nah, ternyata Valdi ini teman seklub bahasa Inggrisnya Aya. Dan Aya suka pada Valdi. Woohoo! Tapi Aya minta Sher merahasiakannya. Karena ini pertama kalinya Aya mempercayakan rahasia padanya, Sher jadi gugup. Dia ingin menunjukkan bahwa dia bisa diandalkan dan dia ingin mendekatkan Aya dengan Valdi. Tapi terjadi insiden. Sher nyaris keceplosan dan Aya marah besar. Mereka pun bertengkar hebat. Bagaimana Sher mengatasi masalah ini?
Masyaallah. Penulisnya masih begitu muda saat menulis ini tapi caranya menulis begitu memikat. Dia memadukan gaya narasi dan dialog ala buku terjemahan dengan gaya kasual ala Indonesia. Surprisingly it blends so well! Baru kali ini aku nggak ngerasa awkward baca novel remaja yang para tokohnya ngomong "kau" ala cerpen koran dan bukannya "kamu". Beberapa dialog juga terkesan pakai bahasa yang terlalu resmi. Tapi karena aku udah menikmati ceritanya, gaya dialog itu terasa nggak kaku buatku. Masyaallah. Gimana kabar penulisnya sekarang? Lebih dari sepuluh tahun sudah berlalu. Apakah dia masih menulis
Terlihat sekali perkembangan menulis Izzati. Makin terasah teknis penulisannya, makin lincah tuturannya. Idenya pun makin unik. Suka sekali dengan novel yang ini.