Novel ini menawarkan isu sosial yang jelas. Dia mengolah pandangan generasi muda terhadap konformitas dan rutinitas; ingin mandiri, lepas dari tatanan umum, mencari celah kompromi di antara kebutuhan dan kenyamanan hidup. Menegaskan bahwa setiap generasi memiliki spirit, jargon, dan idealitas yang ingin diwujudkan. Novel ini menegaskan adanya gerakan generasi muda awal abad ke-21 yang memang menggejala di berbagai kota.
meski sederhana, Perang novel yang bagus. tapi sayang, di sini terlalu banyak tulang. mmm... gini, kalau di chicklit atau novel-novel metropop kebanyakan daging, di sini komposisi tulang terlalu banyak. jadi kalo bagi pembaca awam, pasti kurang liat memamahnya. memamah semua informasi yang ditawarkan novel ini. mulai dari arti menjadi dewasa, menjadi manusia, punk, radikal, neolib, gig, sampai arti cinta sejati dibahas di novel ini. tapi yaa.... hidup itu kan pilihan, termasuk menulis.
Novel ini memberi penekanan pada pentingnya sebuah prinsip. Perang Hayat,mencoba lari dari rutinitas. Tersadarkan menjadi manusia yang lebih manusia setelah bertemu dengan seorang punk, Deni. Sebuah pemberontakan atas tatanan dunia yang bobrol ada di dalam novel ini.Keren deh,menginspirasi saya juga dalam menulis novel Delusi (masih proses).
Dari novel ini saya belajar untuk bisa menikmati hidup dengan melakukan banyak kompromi. Sebab idealisme yang kita anut dan menantang dunia yang luas justru akan menyulitkan kita. Hidup harus realistis dan optimis agar setiap waktu yang kita lewati tidak dipenuhi energi negatif akibat overthingking.
Ku suka pembawaan penulis dengan bahasa yang sederhana, tapi diselipkan obrolan yang menjelaskan apa itu kapitalisme, anarkisme, neoliberalisme dsb. Tapi plot menuju halaman-halaman akhir sungguh mengecewakan huhu.
"Pergolakan Perang Hayat untuk mengatasi kebosanan adalah fokus dalam Perang."
"Tidak bisa dimungkiri bahwa adegan diskusi dalam Perang memberikan pengetahuan tentang topiknya, tapi cara adegan itu digambarkan membuatnya jadi terasa kaku, padahal itu adalah unsur penting dalam pengatasian masalah Perang Hayat."
" Jadi, walaupun bagi Perang Mirah adalah orang masa lalu yang sempat diabaikannya, tapi ternyata dialah perempuan yang dia inginkan jadi kawan hidup, bagi pembaca Mirah adalah tokoh yang peran pentingnya bagi kisah Perang dinodai oleh keujug-ujugan kemunculannya."
"Perang itu kisah yang kepersonalan masalahnya membuat akhir bahagia terasa wajar, walaupun mesti melibatkan omong-omong besar gara-gara tokoh utamanya tertarik pada topik itu."