What do you think?


The Ninth - Anak Kesembilan
Bagaimana mungkin seseorang bisa mengutarakan isi batinnya di tengah dunia yang rusak nyaris di segala bidang?
Novel ini mengajak pembaca memasuki alam pikiran seorang anak kecil dengan ingatan luar biasa. Dia menceritakan rahasianya yang paling kelam, mimpi-mimpi paling brutal karena tekanan hasrat terpendam ingin menyalurkan dendam, iri dengan bekal milik kawannya, bertahan dari kekerasan kakak kelas, kesenangan setiap kali ada orang yang meninggal, juga bersaing dengan kawan sekelas untuk menarik perhatian gurunya.
Anak ini juga pengamat sosial yang tajam. Dia penasaran kenapa gaji ayahnya gagal memenuhi kebutuhan keluarga, padahal seluruh anggota keluarga sudah dikerahkan untuk banting tulang, betapa seorang kawannya diam-diam menyembunyikan foto perempuan telanjang, dia juga menyaksikan ada ayah kawannya yang tiap hari mabuk sampai ambruk di bar, dan di sela-sela main sepak bola bersama saudara dan kawan-kawannya, pikirannya kerap khawatir soal hari esok, sampai dia sendiri akhirnya nekat melakukan dosa pertama, meskipun ia pernah menjadi putra altar dan ibunya senantiasa mengajak doa bersama sebelum tidur.
The Ninth adalah novel perenungan pribadi yang lebih memberikan dasar untuk eksplorasi daripada yang muncul di permukaan, dan merupakan novel yang berhasil memunculkan suara anak kecil dengan baik.
---Josh Maday
Novel ini mengajak pembaca memasuki alam pikiran seorang anak kecil dengan ingatan luar biasa. Dia menceritakan rahasianya yang paling kelam, mimpi-mimpi paling brutal karena tekanan hasrat terpendam ingin menyalurkan dendam, iri dengan bekal milik kawannya, bertahan dari kekerasan kakak kelas, kesenangan setiap kali ada orang yang meninggal, juga bersaing dengan kawan sekelas untuk menarik perhatian gurunya.
Anak ini juga pengamat sosial yang tajam. Dia penasaran kenapa gaji ayahnya gagal memenuhi kebutuhan keluarga, padahal seluruh anggota keluarga sudah dikerahkan untuk banting tulang, betapa seorang kawannya diam-diam menyembunyikan foto perempuan telanjang, dia juga menyaksikan ada ayah kawannya yang tiap hari mabuk sampai ambruk di bar, dan di sela-sela main sepak bola bersama saudara dan kawan-kawannya, pikirannya kerap khawatir soal hari esok, sampai dia sendiri akhirnya nekat melakukan dosa pertama, meskipun ia pernah menjadi putra altar dan ibunya senantiasa mengajak doa bersama sebelum tidur.
The Ninth adalah novel perenungan pribadi yang lebih memberikan dasar untuk eksplorasi daripada yang muncul di permukaan, dan merupakan novel yang berhasil memunculkan suara anak kecil dengan baik.
---Josh Maday
296 pages, Paperback
First published January 1, 2006
About the author
Ferenc Barnás
6 books15 followersBarnás Ferenc 1959-ben született Debrecenben. Középiskolai tanulmányait a Szentendrei Ferences Gimnáziumban végezte. 1978 és 1982 között fizikai munkás. 1982 és 1988 között egyetemi tanulmányokat folytatott Debrecenben, Budapesten és Münchenben, illetve magánúton zenét tanult. 1983 és 2000 között évente 3-4 hónapot utcazenészként fuvolázott Németországban, Svájcban, Angliában, Franciaországban, Olaszországban és Ausztriában. 1988-ban végzett az ELTE magyar nyelv és irodalom, illetve esztétika szakán. 1991-ben doktori fokozatot szerzett ugyanott, disszertációja címe Hermann Hesse világképe. 1988 és 1994 között budapesti művészeti középiskolákban tanított irodalmat és esztétikát. 1990 és 1992 között az ELTE Művelődéstörténeti Tanszékén tanított zeneelméletet. 1994 és 2000 között szabadfoglalkozású író. 2000 óta múzeumi dolgozó.
Művei
Az élősködő (regény, 1997)
Bagatell (regény, 2000)
A kilencedik (regény, 2006)
Másik halál (regény, 2012)
Ferenc Barnás was born in 1959 in Debrecen, Hungary. From 1982 until 1988 he takes university courses in Debrecen, Budapest, and München. In 1988 he graduates from Eötvös Loránd University (ELTE) with degrees in Hungarian language/literature and Aesthetics. In 1991 he earns his doctoral degree at ELTE, with a dissertation entitled Hermann Hesse világképe (The World View of Hermann Hesse). From 1988 until 1994 he teaches literature, philosophy and aesthetics in secondary schools for the arts in Budapest. From 1990 until 1992 he works as an instructor of music aesthetics at the Department of Cultural History, ELTE. From 1994 until 2000 lives as a freelance writer. From 2000 to present works at Ernst Museum in Budapest.
Works
Novels
Az élősködő (The Parasite)
Bagatell (Bagatelle)
A kilencedik (The Ninth)
Másik halál (Another Death)
Awards
2013: AEGON Prize
2006: Tibor Déry Prize
2001: Sándor Márai Prize
Művei
Az élősködő (regény, 1997)
Bagatell (regény, 2000)
A kilencedik (regény, 2006)
Másik halál (regény, 2012)
Ferenc Barnás was born in 1959 in Debrecen, Hungary. From 1982 until 1988 he takes university courses in Debrecen, Budapest, and München. In 1988 he graduates from Eötvös Loránd University (ELTE) with degrees in Hungarian language/literature and Aesthetics. In 1991 he earns his doctoral degree at ELTE, with a dissertation entitled Hermann Hesse világképe (The World View of Hermann Hesse). From 1988 until 1994 he teaches literature, philosophy and aesthetics in secondary schools for the arts in Budapest. From 1990 until 1992 he works as an instructor of music aesthetics at the Department of Cultural History, ELTE. From 1994 until 2000 lives as a freelance writer. From 2000 to present works at Ernst Museum in Budapest.
Works
Novels
Az élősködő (The Parasite)
Bagatell (Bagatelle)
A kilencedik (The Ninth)
Másik halál (Another Death)
Awards
2013: AEGON Prize
2006: Tibor Déry Prize
2001: Sándor Márai Prize
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 26 of 26 reviews
September 15, 2019
Sorra olvasom a családon belüli erőszak különböző formáiról szóló könyveket, és nem direkt alakult ez így, ez a téma van most a levegőben. És bár sok szegény gyerek sorsáról is olvastam már, talán ez váltotta ki leginkább a tehetetlenségérzetet, épp azért, mert itt nem a körülmények tehetnek róla, a valahonnan eredő absztrakt szegénység, hanem sokkal inkább a szülők. Borzasztóan kiszolgáltatottak ezek a gyerekek, ha egyszer a szülők a maguk bigottságában teljesen rendjénvalónak találják, hogy a gyerekeknek nincs mindig mit enni, koszosan, ápolatlanul járnak, és hozzá kell járulniuk a családi kasszához. Nem. Nem elfogadható, semmilyen körülmények között, semmilyen indokkal. És az egyik fő vonulat a könyvben épp az, hogy mások mennyire sajnálták őket, mennyire próbáltak több eszközzel segíteni. Életre szóló trauma ez az életkezdés. A sóvárgás az alapvető dolgokra. Ami történt, törvényszerű, egy ilyen sorsban.
March 24, 2014
#24 - 2014
membaca ini saya jadi teringat Oeroeg-nya Hella S. Haasse. dari awal cerita sampai menamatkannya, saya gak berhasil menemukan nama tokoh si aku. demikian juga dengan aku si anak kesembilan dalam cerita ini. sementara nama saudara-saudaranya bolak-balik di sebut dengan lancar oleh si aku, urutan nama anaknya begini :
1. Klaro
2. Bubu
3. Tera
4. Pater
5. Kaus
6. Risi
7. Imuka (saudara ketujuh yang sudah meninggal)
8. Mara
9. si "aku"
10. Jungkit
11. Benjamin
membaca ini saya jadi teringat Oeroeg-nya Hella S. Haasse. dari awal cerita sampai menamatkannya, saya gak berhasil menemukan nama tokoh si aku. demikian juga dengan aku si anak kesembilan dalam cerita ini. sementara nama saudara-saudaranya bolak-balik di sebut dengan lancar oleh si aku, urutan nama anaknya begini :
1. Klaro
2. Bubu
3. Tera
4. Pater
5. Kaus
6. Risi
7. Imuka (saudara ketujuh yang sudah meninggal)
8. Mara
9. si "aku"
10. Jungkit
11. Benjamin
July 31, 2026
Szerintem ez egy szépen megírt, de nagyon megrendítő történet a szegénységről, bántalmazó családról, tehetetlenségről.
July 27, 2020
Saya membeli buku ini sewaktu SMA. Jujur waktu itu saya sulit memahami apa istimewanya novel ini. Membaca dua kali, lalu saya biarkan tersimpan bertahun-tahun di dalam laci. Membacanya kembali ketika masa pandemi, di mana saya sudah lulus kuliah, cukup bisa memahami karya sastra, dan punya pengalaman bekerja dengan anak kecil.
Blurb pada bagian sampul belakang terasa maksa, menurut saya. Walau buku ini mengambil latar belakang sejarah pendudukan kaum komunis pada pemerintahan Hongaria di abad ke-20, fokusnya adalah alam pikir anak kesembilan dari 12 bersaudara ini. Dia lahir dan besar dalam keluarga Katolik yang taat, gagap bicara, punya kondisi kesehatan lemah, dan sulit untuk mengidentifikasi emosi yang dia rasakan. Yang biasa ia lakukan adalah mengamati kehidupan di sekitarnya: ibu yang sangat religius, ayah pengusaha yang otoriter, kegiatan gereja, tekanan teman sebaya, dll. Segala informasi itu lalu ia coba pahami dalam kerangka pikirnya yang sederhana:
Bagian lain yang juga menarik adalah kesulitannya mengidentifikasi emosi dan mengkonseptualisasikannya menjadi perasaan. Jarang sekali anak kesembilan ini bilang bahwa ia takut dan marah, karena yang ia ceritakan adalah sensasi yang dirasakan badannya saat emosi-emosi itu terjadi. Sesuai juga dengan yang pernah saya baca di tempat lain bahwa emotional reactivity adalah bodily sensations. Hanya saja banyak dari kita manusia yang cuek dan tidak memerhatikan baik-baik tentang ini.
Blurb pada bagian sampul belakang terasa maksa, menurut saya. Walau buku ini mengambil latar belakang sejarah pendudukan kaum komunis pada pemerintahan Hongaria di abad ke-20, fokusnya adalah alam pikir anak kesembilan dari 12 bersaudara ini. Dia lahir dan besar dalam keluarga Katolik yang taat, gagap bicara, punya kondisi kesehatan lemah, dan sulit untuk mengidentifikasi emosi yang dia rasakan. Yang biasa ia lakukan adalah mengamati kehidupan di sekitarnya: ibu yang sangat religius, ayah pengusaha yang otoriter, kegiatan gereja, tekanan teman sebaya, dll. Segala informasi itu lalu ia coba pahami dalam kerangka pikirnya yang sederhana:
...Pater tak kelebihan berat badan sedikit pun, perutnya kencang, mungkin itu hasil dari banyak membaca. Jika Kaus juga gemar membaca, aku yakin itulah penyebab perut Kaus kencang juga, tapi Kaus sama sekali tak gemar membaca. Maka aku bingung mengapa di keluarga kami hanya mereka berdua yang berperut rata...Pengamatannya sangat jeli, jadi kita sebagai pembaca dewasa bisa memperkirakan bahwa dalam novel itu terjadi pembatasan ekspresi keagamaan oleh pemerintah komunis, tanpa si anak kesembilan ini harus menjelaskan panjang lebar dan mengerti apa yang ia amati layaknya orang dewasa.
...Mengenai membaca, Papa lebih ketat terhadap Mara, bahkan pernah menepis buku di tangan Mara dan berkata, "Kamu ini selalu membaca omong kosong! Aku tak pernah membaca novel seumur hidup, dan hidupku baik-baik saja." Sebelumnya, Papa pernah berkata pada Pater, tapi ditangkisnya. "Ayah, akan jadi apa kita tanpa Alkitab? Ataukah itu juga omong kosong belaka?" Biasanya Papa bingung mesti menjawab apa.Dalam novel ini ada cukup banyak beberapa ekspresi semacam "X terlintas di pikiranku, lalu aku lupa". Biasanya saya mengeluh dengan ekspresi macam itu, karena jika seorang tokoh lupa dengan apa yang dia pikirkan, maka dia tidak perlu bilang setelahnya bahwa ia lupa. Apalagi dengan sudut penceritaan orang pertama. Tapi untuk buku ini saya bisa mengerti karena gaya penceritaannya yang walau sebenarnya linear, si anak kesembilan suka teringat tentang hal lain yang berkaitan dan menceritakannya juga dalam narasi.
Bagian lain yang juga menarik adalah kesulitannya mengidentifikasi emosi dan mengkonseptualisasikannya menjadi perasaan. Jarang sekali anak kesembilan ini bilang bahwa ia takut dan marah, karena yang ia ceritakan adalah sensasi yang dirasakan badannya saat emosi-emosi itu terjadi. Sesuai juga dengan yang pernah saya baca di tempat lain bahwa emotional reactivity adalah bodily sensations. Hanya saja banyak dari kita manusia yang cuek dan tidak memerhatikan baik-baik tentang ini.
July 22, 2014
aztakurva
April 7, 2010
Salonica World Lit
Hungry in Hungary
Theme: Eastern Europe
Ferenc Barnas' novel, The Ninth, resides in misery. The kind of misery that only a large, stridently Catholic family living in Communist Budapest in 1968 can fathom. What saves the reader from enduring the same misery and oppression is the sweet and wise voice of the nine year old narrator, a hapless victim of the double barreled gun of Communism and Catholicism. Having been born into a family of eleven children(one died-perhaps he knew better), he is the ninth, one of the Little Ones as categorized by the family. Nine of the children live at home, one being married, and these nine children starve and work their way through a joyless childhood without the knowledge to know that a better, or at least, different world exists. Their father, shunned by the Communists because of his faith, becomes a microcosm of the Communist system-stealing their monthly state food supplement to buy supplies for their devotional rosary business, having the nine children sleep on three beds and forcing his wife to sell her engagement ring to buy food for the family while she goes hungry.
And there's lots of hunger, yearning for food, thinking about food, throughout this novel. And we're talking food as sustenance on many levels--from the burning pit of starvation to the moral crumbs that serve as short palliative respites for the abuse and the cruelty the people in this novel must endure. The father is in the midst of building a big house that will have an indoor bathroom and a single bed for each person. In order to get the money to fund this house, the children all work in the evening making rosaries and devotional items. After a typical dinner of toast and many cups of tea, they sit down to meet the rosary quota expected by the father. Our narrator's miserable life isn't limited to the home-front, no, he also has trouble speaking and writing which makes school another place that is a challenging and unrewarding. He has a friend, Donalics and he likes the teacher, Miss Vera. Our narrator is so abused, that he can't even understand hatred or anger when he feels it:
My problem is that as soon as I hear Papa's voice my belly gets all knotted up. Even until I wrote him a letter it was like this, but since then, it's been worse. I have no idea how doing it occurred to me at all and how I even dared to do it, but I did. That day I finished my homework fast, and then asked Donalics for a blank sheet of paper, since my notebook was full. And the I wrote down everything I wanted to. I wrote: Please don't call my big sister fat. And: Give the child benefits to Mama, because at the village council office that's supposed to come to us. And also: Please don't whip the backs of my big brothers and sisters with a belt. Then I folded the sheet and, after getting home, stuck it under Papa's pillow.
When he called me out to the kitchen the next evening and said, "I want a word with you, son," I thought I was really going to get it. But I didn't. Papa had me sit down on his and began talking as quietly as can be. All I can remember are snippets, like, "You can't yet understand this, son," and "Don't dare do such a thing again, son," and "If you don't tell anyone else, I won't give you a whipping right this instant.">
Escaping the obvious metaphorical relationship between the father and Communism is impossible. And although it may seem that this novel, because of it's honesty and brutality, would be difficult for the reader to survive, Barnas subtly and bravely delivers a nine year with a speech impediment and enough innocence to keep us reading and wondering how he remain a child with a modicum of goodness. The church does offer a reprieve to our nine year old by letting him serve at funerals where he begins to earn pocket money. Though, temptation does make its way into the story through an object. Miss Vera's unguarded black purse. We see our narrator walking right into this evil temptation, but Barnas makes us feel so sympathetic we have to understand ho one could easily fall prey to such temptation. Especially after Donalics hangs himself during the summer break. Right after our narrator steals for the first time from Miss Vera's purse, Barnas stays in first person but switches to a stream-of-consciousness that let's deeper into our narrator's head and how he feels about his life:
BLESSED IS THE FRUIT OF YOUR WOMB, GODDAMNIT FUCKING HELL/i'm on the way/ miss vera spoke to me, i obeyed others, too, i only hope they won't make me talk/i threw my village council pullover in the trash bin by the market sqaure, where mr. pista was found last week, we couldn't serve at his funeral/ little zsusi and her brother would surely have been happy to have us there, they attend school number one, where kerepesi went before joingin us, one time we met up in front of the butcher's, right after seeing the lady/ a plastic bag in her hand/ she seemed older than mama, it hit me right away what she was up to, so we have something in common, that's what i was thinking while standing in line' she was wearing a yellow raincoat, i couldn't get a better look/ my father can suck in his gut, too, from the closet i saw what it's really like when he pulls the belt out of his pants, not once have we been able to check mama on this score, nanny's different, while cuddling she lets us look, she can't imagine we'd be thinking anything bad: before i step into the butcher's i hear miss vera's voice/ you're feeling sick, little la, go one home and lie down!/ i was sitting there on the bench and would probably have stayed put if szabo hadn't given my arm a shake/ didn't you hear what miss vera said? snapped szabo and kicked my shoe, the one with the money in it: i get in line, there are four people ahead of me, and as the butcher man tends to them i practice inside my head what i am to say/ the ten-forint bill is in my hand, so i stole three dead people out of miss vera's handbag/
It's difficult to make a nine year narrator compelling, much less substantive enough to express complexity and strength of voice. Precisely why Barnas is one of Hungary's premier writers, though this is only his third novel, the first translated into English. Semi-autobiographical and forthright, ,The Ninth is a potent combination of sorrow and black humor that takes of off-guard. If you're looking to not just read a Hungarian author, but one the conveys the hardship of Hungary's past, Barnas is your man, if you can take it.
May 9, 2020
A könyv végéig sem tudtam eldönteni, hogy tetszik-e. A nyelvezete kicsit eröltetett, a cselekménye kicsit lassú. Viszont óriási értéke, hogy nagyon szép betekintés enged, abba milyen Rákosi alatt vallásosnak lenni, elnyomottnak lenni, a rendszerben, az iskolában, a családban. És ami még fontosabb, milyen a szegénység, milyen gyerekként a szegénység. A múltban játszódik, de ma is élnek itthon gyerekek százai ilyen szegénységben és ez nem csak régen, de most is tabu. Ezért érdemes elolvasni.
May 15, 2017
Entah terjemahan yg jelek atau bagaimana, yg jelas, saya ga bisa ngerasain di mana suara anak kecilnya.
January 3, 2021
Even if you don't want naturally you will compare this book to Szilárd Borbély's Dispossessed.
Lots of similarities but I've sensed much more integriy in Dispossessed. If you want to read about the same topic I would definitely recommend that.
[HU-Kindle]
Lots of similarities but I've sensed much more integriy in Dispossessed. If you want to read about the same topic I would definitely recommend that.
[HU-Kindle]
May 15, 2013
Books “ANAK KESEMBILAN”
Judul Asli : THE NINTH
Copyright © 2009 Ferenc Barnás
English translation copyright © Paul Olchváry
From Hongarian edition with title “A Kilencedik”
Translation from English edition by Saphira Zoelfikar
Editor from the original edition : Katalin Böszörményi Nagy
Indonesia edition published by PT. Gramedia Pustaka Utama
Editor : Anwar Holid
Cover design by : Ariani Darmawan ; photos © by Paulo Costa
Cetakan I : Februari 2010 | 296 hlm | ISBN 978-979-22-5459-4
Rate : 3 of 5
Ini adalah sebuah kisah tentang perjalanan kehidupan sehari-hari bocah berusia sembilan tahun, anak kesembilan dari sepuluh bersaudara sebuah keluarga kelas menengah ke bawah masyarakat Hongaria. Walaupun sang tokoh utama yang berperan sebagai narator adalah sosok bocah, ini bukanlah bacaan bagi anak-anak, karena berbagai perenungan serta pemikiran yang cukup unik serta sedikit lebih matang untuk anak-anak pada usia tersebut. Penulis membuat kisah ini bagai jurnal pribadi, tentang hasil pengamatan serta buah pikiran bocah yang hidup pada masa transisi peralihan kekuasaan serta politik yang melanda negar-negara Eropa, khususnya masyarakat Hongaria pada era Perang Dunia II.
Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu serta ke-sepuluh anaknya, hidup dalam kondisi sulit setelah sang suami / ayah, lepas dari ikatan dinas sebagai tentara, tanpa memiliki kemampuan serta keahlian khusus untuk mencari nafkah setelah perang usai. Dengan impian serta ambisi yang cukup tinggi, sang kepala keluarga akhirnya terpuruk dalam pekerjaan yang tak disukai, bergaul dengan sesama masyarakat kelas bawah, mengutuk pemerintah yang menghambat berbagai ‘kesuksesan’ yang diimpikan olehnya. Sang istri, wanita saleh yang memiliki kehalusan budi serta pemahaman akan seni serta keindahan, harus berjuang bekerja keras, mendampingi suami yang tak mau memahami dirinya, berjuang hari demi hari mengisi kekosongan jiwanya demi menyediakan makanan bagi keluarga. Anak-anak mereka sebagian besar ‘dipaksa’ tidak bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi, bahkan telah diperkenalkan dengan dunia pekerjaan sedini mungkin. Makanan sehari-hari berupa roti dan bercangkir-cangkir teh adalah menu yang mengisi keseharian mereka, terkadang mereka bisa memperoleh kemewahan dengan adanya daging dalam menu, atau bisa juga hanya tersedia teh untuk mengisi perut mereka yang kosong.
Kisah ini cukup unik karena alih-alih sebuah fiksi tentang kehidupan keluarga kelas menengah yang jatuh ke strata yang lebih rendah akibat ekonomi yang memburuk, perjalanan kehidupan sehari-hari dituturkan oleh bocah – anak kesembilan dari keluarga ini. Bocah ini memiliki kesenangan mengamati berbagai hal, seringkali ‘mengintip’ kehidupan di tempat-tempat lain, berkelana dalam dunianya sendiri, tentang kehidupan yang aneh serta pemahamannya sebagai anak kecil yang terpaksa memahami kehidupan orang dewasa di masa-masa sulit. Namun karena ini dibuat berupa narasi dari jurnal ‘pemikiran’ sang bocah, sebagai pembaca, seringkali diriku kesulitan mengikuti pemikirannya yang ‘meloncat-loncat’ dari satu hal ke hal lain yang sama sekali berbeda. Membaca buku ini mengingatkan diriku saat berbicara dengan kemenakan, anak-anak, perhatian mereka mudah berpindah-pindah dalam sekejab dari satu subyek ke subyek lain, tergantung pada hal-hal yang menarik minat mereka. Walau demikian, jangan pernah meremehkan pemikiran kanak-kanak, karena justru mereka seringkali lebih ‘awas’ dalam mengamati sesuatu dan menangkap hal-hal yang merupakan permasalahan orang-orang dewasa, dan jika ada hal yang menarik perhatian mereka, jangan sampai lengah saat menjawab – karena mereka akan ‘mengejar’ jawaban dari A – Z.
more about this book, check on my review at here :
http://lemarihobbybuku.blogspot.com/2...
July 24, 2010
Novel ini mengksplorasi hal-hal yang ada dalam pemikiran anak usia sembilan tahun. Fokus awal adalah ketika keluarga besar tersebut tinggal di rumah berukuran kecil. Ditandai dengan terbatasnya ruang tidur, sehingga anak-anak tidur dalam satu ruang yang sama.
Kemudian, seiring dengan peningkatan pendapatan yang diperoleh sang ayah, keluarga tersebut membangun tempat tinggal yang lebih besar, sekaligus mereka pindah rumah.
Alur ceritanya sendiri terkesan datar. Cerita berkutat di seputar sekolah, peran sang tokoh mendapatkan uang tambahan dengan bekerja membantu pejabat gereja setempat, maupun membantu sang ayah membuat rosario yang akan dijual ke pemuka-pemuka agama.
Akhir cerita, sang tokoh yang sebelumnya digambarkan sebagai anak baik-baik, menghadapi ujung yang diserahkan kepada pembaca untuk menerka bagaimana akhirnya. Tugasnya di gereja dihentikan, sehingga ia tidak punya uang sendiri untuk membeli panganan dan jajan. Akibatnya, ia mencuri uang dari tas salah seorang gurunya, yang biasanya di taruh di meja guru di ruang kelas.
Ada sedikit hal yang mengganggu di halaman 233 sampai dengan 255. Sepertinya proses finalisasi dalam editing naskah terlewatkan. Di halaman-halaman tersebut masih digunakan ”/” yang menurut saya harusnya menggunakan tanda titik. Kemudian, penulisan nama orang tidak diawali dengan huruf besar. Paragraf baru yang biasanya digunakan untuk perpindahan penuturan juga terlewatkan.
Kemudian, seiring dengan peningkatan pendapatan yang diperoleh sang ayah, keluarga tersebut membangun tempat tinggal yang lebih besar, sekaligus mereka pindah rumah.
Alur ceritanya sendiri terkesan datar. Cerita berkutat di seputar sekolah, peran sang tokoh mendapatkan uang tambahan dengan bekerja membantu pejabat gereja setempat, maupun membantu sang ayah membuat rosario yang akan dijual ke pemuka-pemuka agama.
Akhir cerita, sang tokoh yang sebelumnya digambarkan sebagai anak baik-baik, menghadapi ujung yang diserahkan kepada pembaca untuk menerka bagaimana akhirnya. Tugasnya di gereja dihentikan, sehingga ia tidak punya uang sendiri untuk membeli panganan dan jajan. Akibatnya, ia mencuri uang dari tas salah seorang gurunya, yang biasanya di taruh di meja guru di ruang kelas.
Ada sedikit hal yang mengganggu di halaman 233 sampai dengan 255. Sepertinya proses finalisasi dalam editing naskah terlewatkan. Di halaman-halaman tersebut masih digunakan ”/” yang menurut saya harusnya menggunakan tanda titik. Kemudian, penulisan nama orang tidak diawali dengan huruf besar. Paragraf baru yang biasanya digunakan untuk perpindahan penuturan juga terlewatkan.
May 8, 2011
Buku yang menarik. Si anak kecil suka memperhatikan sekeliling dengan seksama meskipun ya... dengan daya telaah anak kecil umur sembilan yang naif. Sepertinya, kegemarannya menelaah dan memikirkan ini diamplifikasi oleh hambatan wicara yang dialaminya. Dia selalu mencoba melatih di pikiran apa yang akan diucapkannya dan lumayan bingung kalau harus membaca dengan banyak huruf 'r'.
Keluarganya berasal dari Rumania dan pindah ke Hongaria pada masa rezim komunis. Bapaknya mantan tentara rakyat dan akhirnya bekerja di Perusahaan Kereta Api milik negara. Si bapak sangat sering mengeluh dan menunjukkan ketidaksukaannya pada rezim komunis. Sejak awal novel, terlihat sekali antipati keluarganya terhadap komunisme. Antipati itu termanifestasikan dalam bisnis keluarga mereka yang tak jauh-jauh dari urusan agama (membuat rosario, gambar rohani, patung-patung rohani, dll)--tentu saja agama sangat tidak dianjurkan oleh rezim komunis Hongaria.
Satu motif yang terus-menerus muncul dalam novel ini adalah mimpi. Si anak kecil (siapa namanya ya? sebut saja 'tokoh kita') mengawali narasinya dengan menceritakan mimpinya, ketika dia menghabisi teman-temannya di danau. Nah, danau ini juga akan jadi poin vital dalam cerita ini.
(btw, karena saya belum sempat menyelesaikan dan anak saya minta ditemani main-main, ya... sementara begini dulu ya reviewnya. silakan dilanjut di www.berbagi-mimpi.info nanti malam...)
Keluarganya berasal dari Rumania dan pindah ke Hongaria pada masa rezim komunis. Bapaknya mantan tentara rakyat dan akhirnya bekerja di Perusahaan Kereta Api milik negara. Si bapak sangat sering mengeluh dan menunjukkan ketidaksukaannya pada rezim komunis. Sejak awal novel, terlihat sekali antipati keluarganya terhadap komunisme. Antipati itu termanifestasikan dalam bisnis keluarga mereka yang tak jauh-jauh dari urusan agama (membuat rosario, gambar rohani, patung-patung rohani, dll)--tentu saja agama sangat tidak dianjurkan oleh rezim komunis Hongaria.
Satu motif yang terus-menerus muncul dalam novel ini adalah mimpi. Si anak kecil (siapa namanya ya? sebut saja 'tokoh kita') mengawali narasinya dengan menceritakan mimpinya, ketika dia menghabisi teman-temannya di danau. Nah, danau ini juga akan jadi poin vital dalam cerita ini.
(btw, karena saya belum sempat menyelesaikan dan anak saya minta ditemani main-main, ya... sementara begini dulu ya reviewnya. silakan dilanjut di www.berbagi-mimpi.info nanti malam...)
May 17, 2014
** Books 112 - 2014 **
Buku ini secara keseluruhan menceritakan sudut pandang anak kecil dimana dia adalah anak kesembilan di keluarganya. keluarganya sangat miskin dan disini diceritakan mereka sedang menunggu rumah mereka dibangun jadi sementara tinggal dirumah kecil lama mereka yg dimana tidurpun harus berdempet2an..
si anak kecil ini selalu was was akan hari esok karena mereka terkadang sulit untuk makan sehingga dia harus memabantu ayah ibunya bekerja sebagai penjual rosario dan foto agar bisa makan.. Si anak ini kadang2 bahkan perlu berpura2 untuk sakit dan dirawat di rumah sakit agar bisa makan dan istirahat dengan nyaman dariapda di rumahnya sendiri..
Di sekolah anak kecil ini selalu menjadi pusat perhatian entah karena dia miskin ataupun karena dia mengalami kesulitan akan bicara.. dia selalu menjadi bahan bully teman2nya.. pokoknya sengsara banget kehidupan anak ini.. dia dan saudara2nya juga menjadi anak altar yang membantu pekerjaan di gereja agar mendapat upah untuk bisa diberikan ibunya..
Intinya keseluruhan cerita ini adalah pemikiran susahnya kehidupan oleh seorang anak kecil. sebenernya tema ceritanya bagus entah kenapa terkesan membosankan dengan gaya bahasa yang seperti itu.. mungkin karena disini anak kecil yang bercerita kali ya.. saya berikan 3 dari 5 bintang deh :)
Buku ini secara keseluruhan menceritakan sudut pandang anak kecil dimana dia adalah anak kesembilan di keluarganya. keluarganya sangat miskin dan disini diceritakan mereka sedang menunggu rumah mereka dibangun jadi sementara tinggal dirumah kecil lama mereka yg dimana tidurpun harus berdempet2an..
si anak kecil ini selalu was was akan hari esok karena mereka terkadang sulit untuk makan sehingga dia harus memabantu ayah ibunya bekerja sebagai penjual rosario dan foto agar bisa makan.. Si anak ini kadang2 bahkan perlu berpura2 untuk sakit dan dirawat di rumah sakit agar bisa makan dan istirahat dengan nyaman dariapda di rumahnya sendiri..
Di sekolah anak kecil ini selalu menjadi pusat perhatian entah karena dia miskin ataupun karena dia mengalami kesulitan akan bicara.. dia selalu menjadi bahan bully teman2nya.. pokoknya sengsara banget kehidupan anak ini.. dia dan saudara2nya juga menjadi anak altar yang membantu pekerjaan di gereja agar mendapat upah untuk bisa diberikan ibunya..
Intinya keseluruhan cerita ini adalah pemikiran susahnya kehidupan oleh seorang anak kecil. sebenernya tema ceritanya bagus entah kenapa terkesan membosankan dengan gaya bahasa yang seperti itu.. mungkin karena disini anak kecil yang bercerita kali ya.. saya berikan 3 dari 5 bintang deh :)
May 31, 2014
A strange and sad novel about a large, devoutly Catholic family living in Hungary during the Soviet Era. The narrator--the ninth of ten children--is a struggling, introverted child. All of his siblings, including himself, have emotional and/or physical disabilities. His father is a staunchly anti-Communist, erratically violent man, whose business schemes--having his family make religious objects for sale; an illegal activity under the Communists--ensure only that his family remain deeply impoverished, despite his and his wife's hard work and long hours (as known adversaries of the government, they are allowed only the least remunerative of jobs).
The novel has not plot--it's mostly the boy's retelling of everyday life, as seen, understood, and explained by a nine-year-old. An aura of menace hangs over the novel, as if something terrible could happen at any moment. And although nothing truly terrible does occur, it's to the translator's credit, Paul Olchváry, that this child's sense of omnipresent dread is conveyed, as an overarching mood that affects the tone of this whole novel, because the child himself cannot, or rarely will allow himself to, do it.
The novel has not plot--it's mostly the boy's retelling of everyday life, as seen, understood, and explained by a nine-year-old. An aura of menace hangs over the novel, as if something terrible could happen at any moment. And although nothing truly terrible does occur, it's to the translator's credit, Paul Olchváry, that this child's sense of omnipresent dread is conveyed, as an overarching mood that affects the tone of this whole novel, because the child himself cannot, or rarely will allow himself to, do it.
August 8, 2010
Buku ini bisa aku katakan buku yang cukup serius untuk dibaca, karena isinya menggambarkan psikologi seorang anak yang berumur 9 tahun. Bagaimana dia dengan pengamatannya terhadap sekalilingnya.
Mungkin selama ini kita liat anak-anak itu biasa saja, tapi ternyata mereka juga mampu menganalisa cukup jauh, bahkan sudah lebih dewasa dibandingkan pemikiran orang dewasa pada umumnya.
Diceritakan juga bahwa apa yang dia lakukan semua untuk menarik perhatian orang-orang disekitarnya. Dia tidak mengucapkannya secara langsung tetapi melalui perbuatan dia tahu dan mengerti bahwa dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.
Ending cerita ini kurang jelas, apakah si anak meninggal atau tidak, tapi yang jelas bahwa...judulnya sepertinya salah. Bukan Anak Kesembilan tetapi Anak Umur Sembilan Tahun.
Karena dia adalah anak ke 7 bukan anak ke 9. Atau ada maksud lain si penerjemah untuk judul di atas?
Mungkin selama ini kita liat anak-anak itu biasa saja, tapi ternyata mereka juga mampu menganalisa cukup jauh, bahkan sudah lebih dewasa dibandingkan pemikiran orang dewasa pada umumnya.
Diceritakan juga bahwa apa yang dia lakukan semua untuk menarik perhatian orang-orang disekitarnya. Dia tidak mengucapkannya secara langsung tetapi melalui perbuatan dia tahu dan mengerti bahwa dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.
Ending cerita ini kurang jelas, apakah si anak meninggal atau tidak, tapi yang jelas bahwa...judulnya sepertinya salah. Bukan Anak Kesembilan tetapi Anak Umur Sembilan Tahun.
Karena dia adalah anak ke 7 bukan anak ke 9. Atau ada maksud lain si penerjemah untuk judul di atas?
September 15, 2009
My full review appeared in
The Quarterly Conversation
, and later as part of the Review-A-Day feature at Powells.com. Here's the opening:
Telling a story from a child's point of view is one of the most difficult modes of fiction to write successfully. The narrator of Ferenc Barnas's The Ninth is a nine-year-old boy -- the ninth child of ten (eleven, counting the brother who died) in a large Hungarian family -- whose inexperience and bare vocabulary are compounded by a speech disability.
In writing The Ninth, Barnas seems to have wanted to give himself a taste of what difficulty his narrator must face when trying to give expression to his experience. Overall, Barnas succeeds . . .
April 10, 2018
Nekem nagyon tetszett, bár elég különös írásmódot használ és nem csak...
Nem sok minden történik mégis sok mindent leír, amik igen érdekes dolgok.
Nem gyakran olvastam ilyen élethelyzetű gyerek szemszögéből. Tizenegy testvér , hárman alusznak egy ágyban, mindenki dolgozik, hogy valahogy meglegyen a napi betevő, egy héten egyszer fürdés, se cipő, se kabát, a tetű és a bolha mindennapos....
A szegénység egy elképzelhetetlen fokáról van szó, -számomra- ebbe az életbe kaptam egy kis betekintőt, ezért örülök, hogy olvashattam. Az hogy ez egy önéletrajzi ihletésű regény csak még erőteljesebbé teszi az "irományt".
Tetézi a balsorsot a kötekedő, mindentisjobbantudó, kemény kezű apa és az érzelmeit kimutatni nem tudó anya, aki kerüli a testi kontaktust saját gyermekeivel.
September 19, 2015
Sastra hongaria, jujur bacaan ini terlalu berat untuk saya. dibeberapa bab saya sangat menikmati nya tapi di bab lainnya malah membuat bosan dan bingung. secara keseluruhan buku ini menarik hanya membacanya harus dalam kondisi sangat tenang hahaha.
seperti membaca buku harian seorang anak kecil yang memiliki ingatan luar biasa, pemerhati segala hal yang sempurna, Ke Sembilan adalah anak yang luar biasa. merupakan bacaan yang kelam dengan tokoh utama seorang anak kecil. jika ada waktu senggang mungkin saya akan mengulang membacanya.
seperti membaca buku harian seorang anak kecil yang memiliki ingatan luar biasa, pemerhati segala hal yang sempurna, Ke Sembilan adalah anak yang luar biasa. merupakan bacaan yang kelam dengan tokoh utama seorang anak kecil. jika ada waktu senggang mungkin saya akan mengulang membacanya.
March 22, 2011
Buku yang sangat menarik......
baca buku ini kayak lagi masuk ke dalam pikiran seorang anak. bahasanya sangat sederhana, persis seperti bahasa anak-anak (bukan orang dewasa yang mencoba mengerti anak). gak pernah terpikirkan bahwa seorang anak bisa merekam sekian banyak kejadian (lagi-lagi dengan sangat sederhan). dunia yang rumit dan sengaja dibikin rumit ini membuat si anak menjadi bingung....
ahhh.....
baca buku ini kayak lagi masuk ke dalam pikiran seorang anak. bahasanya sangat sederhana, persis seperti bahasa anak-anak (bukan orang dewasa yang mencoba mengerti anak). gak pernah terpikirkan bahwa seorang anak bisa merekam sekian banyak kejadian (lagi-lagi dengan sangat sederhan). dunia yang rumit dan sengaja dibikin rumit ini membuat si anak menjadi bingung....
ahhh.....
February 20, 2013
Agak membosankan. Yang menarik, tak diberitahu nama si anak ke-9 tersebut. Sepanjang cerita, ia nyerocos terus tentang keluarganya yang tinggal di Rumah Kecil, membangun Rumah Besar, pekerjaan semua anggota keluarga, sekolahnya, teman-temannya, kegiatan di gereja, dan mimpi-mimpi absurdnya.
Jadi sebenarnya si anak ke-9 itu mengalami mental disorder.
Walaupun agak bosan menyimak racauannya, saya kasih bintang 2.75 deh.
Jadi sebenarnya si anak ke-9 itu mengalami mental disorder.
Walaupun agak bosan menyimak racauannya, saya kasih bintang 2.75 deh.
September 14, 2015
Di awal saya membaca buku ini saya berharap sesuatu yang spektakuler di dalamnya. Ternyata hingga akhir saya tidak menemukan sesuatu yang bisa dianggap "spektakuler" menurut ukuran saya. Novel ini terkesan datar, meski demikian saya menyukai detail yang diberikan penulis. Sayangnya pada beberapa halaman terkesan belum sempat diedit. Secara keseluruhan novel ini cukup lumayan.
December 10, 2010
Tolong jangan sebut kakak perempuanku gendut.
Tolong serahkan uang tunjangan anak kepada mama, karena menurut dewan desa seharusnya uang itu untuk kami.
Tolong jangan cambuk punggung kakak-kakakku dengan ikat pinggang.
Tolong serahkan uang tunjangan anak kepada mama, karena menurut dewan desa seharusnya uang itu untuk kami.
Tolong jangan cambuk punggung kakak-kakakku dengan ikat pinggang.
August 14, 2009
beautifully wrought
Want to Read
October 9, 2010reviewed in TLS 26 February 2010
September 16, 2012
837 - 2012
October 14, 2009
Written in the voice of a Hungarian school boy growing up in poverty during the communist regime.
Displaying 1 - 26 of 26 reviews
























