Tak mudah menjalani pembuangan di sebuah negeri asing, meskipun negeri itu adalah negeri Belanda! Tempat ia pernah menyemai cita-cita menggali ilmu pengetahuan setinggi-tingginya. Sekar Prembayun tertatih-tatih menyusuri kehidupan yang jauh dari dugaannya. Termasuk harus berurusan dengan Roesmini van de Brand, seorang perempuan indo yang dijual oleh ‘ayahnya’ di rumah pelacuran dan menjalani affair dengan seorang anggota parlemen.
Tak mudah untuk tetap mempertahankan semangat juang, di saat badai menerpa dari segala penjuru. Membuat idealisme seperti barang tertawaan. Seperti yang dialami Everdine Kareen Spinoza, pengacara yang memperjuangkan nasib kliennya, Rinnah van de Brand yang ingin mendapatkan hak pengasuhan anaknya, meski ia hanya seorang Nyai Belanda.
Sekar dan Everdine, di tengah perjuangannya melawan sistem hukum yang tak berpihak pada kaum inlander, harus pula memperjuangkan arti sebuah kesetiaan. Karena, cinta sejati memang begitu sulit diejawantahkan. Apakah Sekar, Everdine dan yang lain berhasil meramu sebuah de liefde, cinta yang menginspirasi perjuangan mereka?
Dan, siapakah sebenarnya keluarga Van De Brand itu? Mengapa di satu sisi Richard van de Brand menjadi salah seorang yang sangat berkuasa di Hindia Belanda dan memiliki peluang menjadi gubernur jenderal, bahkan perdana menteri, namun di sisi lain ada Daalen van de Brand, kakaknya yang tergolek sebagai pecandu narkotika di salah satu kamar sempit di Rumah Bordil De Lente? Mengapa kakak-beradik yang sejak muda bermusuhan itu menempuh jalan hidup yang begitu berbeda? Dan apa hubungan mereka dengan Rinnah van de Brand yang gila dengan Roesmini van de Brand yang menjadi pelacur?
Novel kedua dari tetralogi De Winst ini begitu penuh liukan konflik. Akan tetapi, konfliknya bergaris-garis romantis. Epik menggariskan idealisme yang tegas, namun balutan asmara membuat epik ini menjadi kisah yang memikat. Jika De Winst berhasil mencatat kesuksesan, maka sequelnya ini pun tak kalah menawan. Selamat membaca!
Afifah Afra telah aktif menulis sejak kecil. Hingga sekarang, telah menghasilkan lebih dari 50 judul buku, serta ratusan cerpen, artikel dan syair yang dimuat di berbagai media. Aktif di Forum Lingkar Pena, sekaligus menjadi pendiri dan CEO di PT Indiva Media Kreasi (penerbit buku).
Buku ini cukup menguras energi saya saat menulisnya. Saya sadar, banyak bolong-bolong di buku pertama (De Winst) yang harus ditutup di edisi ini. Alhamdulillah, saya pribadi puas dengan diksi dan alur ceritanya, meski masih tetap pengin lebih baik lagi di karya yang lain. Saya merasa novel ini mengalami kemajuan dibanding De Winst, namun tentu saja para pembaca pasti punya penilaian sendiri. Meski banyak yang mengkritik: kok berat banget, kok Rangga nggak ditampilkan, kok begini, kok begitu ... saya menanggapi dengan senang hati. Karena kritik, saya insya Allah lebih berkembang. Semoga saya bisa menampilkan yang lebih baik lagi di tetralogi ketiga. Kritik dan saran teman-teman sangat kami tunggu.
De Liefde adalah buku kedua dari trilogi De Winst yang ditulis mbak Afifah Afra. Setelah menyelesaikan buku pertamanya sy sukses disergap rasa penasaran untuk membaca buku keduanya, terlebih saat bu Guru sy menyematkan bintang 5 di buku De Liefde ini. Dan akhirnyaa.. selesai juga sy membacanya. (sebenarnya udah lama selesainya :p)
Prolog di novel ini terbagi dengan dua bagian, yang keduanya memuat tentang dua tokoh baru yang kemudian berpengaruh terhadap jalan cerita yang secara garis besar bersinggungan dengan Everdine Kareen Spinoza dan Sekar Prembajoen yang telah kita kenal di buku pertama De Winst. Dua tokoh baru itu bernama Joedistira, seorang terpidana mati yang melarikan diri dan Roesmini Van De Brand seorang wanita yang ditemukan Sophie tergelatak hampir mati di hamparan salju. Ah ya, bukan dua tokoh yang diperkenalkan di prolog tapi 3, satunya adalah Sophie Angela Reynierse, seorang gadis Belanda yang terlihat kuat tapi ternyata sangat rapuh.
Cerita kemudian bergulir dengan manis. Tentang Sekar Prembajoen yang mengalami pembuangan di Belanda dan Kareen Spinoza yang merintis karir menjadi seorang advocaat dengan membela kaum pribumi di Hindia Belanda, jadii.. ada dua tempat yang menjadi setting novel ini, Belanda dan Hindia Belanda (Indonesia, red). Kemudian keduanya bertemu dengan dua wanita yang berbeda, Kareen bertemu dengan Rinnah Van der Brand yang kemudian menjadi kliennya dan membuat Kareen harus mengalami perjuangan berat dalam meperjuangkan nasib kliennya itu dan Sekar bertemu dengan Roesmini Van De Brand yang ternyata seorang penghuni rumah Bordil De Lente yang tengah hamil muda.
Cerita tentang keluarga Van De Brand ini cukup menguasai jalan cerita, karena muncul lagi tokoh yang bernama Richard Van De Brand, seorang pejabat penting di Hindia Belanda dan Daelan Van de Brand, pecandu narkitika di rumah Bordil De Lente. Misteri tentang keluarga Van der Brand ini pun satu persatu terkuak seiring bertambahnya halaman yang dibaca.
Kesimpulannya novel ini penuh liukan konflik, tapi menjadikannya penuh kejutan. Intinya sy sepakat dengan tulisan salah satu MPers ketika mereview Trilogi Ilalang, mbak Afifah Afra memang piawai meracik cerita yang punya banyak tokoh tapi tidak menjadikan tokoh itu datang secara tiba-tiba atau kemudian menghilang tiba-tiba. Semua tokoh dimunculkan dan dihilangkan dengan cara yang sungguh manis dan rapi. Oh ya satu lagi, misteri tentang seorang gadis bernama Julie juga membuat sy terkejut begitu mengetahui siapa Julie sebenarnya. :)
Okay… kemudian "komentar" sy tentang buku ini..
Pertama, Kesempatan kadang tak selalu datang dua kali, hati-hati ntar nyesal kayak Sekar yang sebegitu menyesalnya menentang perjodohannya dengan Rangga, sehingga kemudian dia hanya bisa gigit jari ketika laki2 itu telah menjadi milik orang lain. Kepedihan Sekar dalam ini membuat sy ikut tersayat-sayat. Periiiiih.. :p
Pernahkah kau merasakan begitu mengharap seseorang untuk bisa menjadi milikmu, sementara seseorang itu tak hanya tak mampu kau miliki, namun telah menjadi milik orang. Aku seperti seorang Banowati yang hanya bisa menggigit jari melihat Arjunanya bermesraan dengan Srikandi.
Aku memiliki cinta, dan aku tak tahu, kepada siapa cinta ini harus dialamatkan.
Terkadang, menikmati luka-luka pun berasa nikmat.. Buktinya kisah-kisah tragedy percintaan pun menjadi sebuah drama yang digemari.
Kedua, Kalau suami istri LDLan godaannya beraaaaat… Apa coba? Kayak yang pernah ngalamin aja :p
Yah, setidaknya cerita tentang Kareen menunjukkan hal ini. Kareen yang harus ditinggal suaminya, si Rangga karena Rangga sedang dalam masa pengasingan, hingga kemudian muncul tokoh Joedistira yang mempertaruhkan nyawanya untuk Kareen. Hati Kareen pun bersuara, "dalam sejarah hidupnya, baru kali ini ada seorang lelaki yang berhasil mengenyahkan Rangga dari hatinya".. Di sinilah kesetiaan seorang istri mendapat ujian. Deuuuu….
Ketiga, cara mbak Afifah Afra dalam menulis keren banget deh. Selain yang sy sebutkan di atas itu, tentang bagaimana mbak Afra menghadirkan banyak tokoh tapi terjalin manis dan rapi, juga cara mbak Afra membahasakan sesuatu.. Hadooh.. bingung ngejelasinnya. Contohnya saja, kalimat yang sy jadikan status : Ada yang memanas di wajahku, sepasang kelopak mata. Namun segera kuhardik dengan bengis. Tuh kan.. padahal kalau kita amati, sama aja kali maksud kalimat itu dengan kata2 "Aku tak ingin menangis", tapi rasanya beda deh.. Dan kalimat2 bersayap lain cukup banyak sy temukan di sepanjang cerita.
Hatiku mungkin telah remuk, namun masih ada waktu untuk mengumpulkan perekat dan memunguti kepingan-kepingan itu. Tak sesempurna awalan, karena pasti menyisakan rekahan-rekahan. Namun, itu lebih baik daripada jika terus menerus dibiarkan berserak.
Cerita picisan itu telah berakhir, dan aku tak ingin terjebak dalam lingkar kenisbian. Tak ada ruang untuk segala jenis rindu
Keempat, karena ini genrenya fiksi sejarah.. tentu dong ada sejarah yang ditampilkan.. Ada tentang NAZI, ada tentang perjuangan merebut kemerdekaan dalam berbagai cara dan terutama tentang KEADILAN yang sangat sulit didapatkan ketika Indonesia dalam masa Penjajahan. Betapa keadilan hanya berpihak ke mereka yang berkuasa saja. Sedangkan yang terjajah, sekalipun benar tetap akan tersalahkan.
favorite quotes
Saat harapan terasa begitu jauh, memang do'alah yang akan mendekatkan kita. Karena doa adalah jembatan antara harapan dengan kenyataan.
“Kami, para wanita tak diberikan kesempatan yang sama dengan lelaki. Seandainya aku tidak ngeyel, mungkin aku tidak akan diizinkan bersekolah di ELS. Menjadi satu-satunya inlander perempuan di sana. Aku mungkin akan dipingit seperti perempuan-perempuan yang lain. Diajari masak, macak, dan persiapan manak. Seakan derajat perempuan memang hanya sekedar konco wingking belaka. Perempuan bersekolah dianggap murang tata, kurang ajar, tak tahu tata krama. Kami juga menyaksikan, para Rama kami setiap saat menambah gundiknya seenak hati, tanpa perlu—bahkan untuk sekedar memberi tahu—kepada istrinya yang sah. Kami dianggap sebagai biji-biji dakon yang bisa diatur sekehendak pengaturnya. Kami tak punya kesempatan untuk mengeluarkan pendapat.” • • ‘De liefde, memoar Sekar Prembajoen’ adalah buku kedua dari tetralogi ‘De Winst’. Awalnya begitu antusias ingin baca lanjutan ‘De Winst’, karena menyisakan rasa penasaran, ingin segera tahu lanjutannya seperti apa. Akhirnya, beli lah ke @tokobukuafra, beli buku kedua dan ketiganya sekaligus. Tapi, ya... Dasarnya aku.. Tipe book lover yang..... ‘yang penting beli dulu bacanya kapan-kapan’. Yang nggak tahu bacanya itu kapan.. 😁.
Aku baca ‘De Winst’.. Ehm.. Agustus tahun lalu. Jujur aku sedikit kesulitan untuk membaca buku ini. Karena ingtanku tentang ‘De winst’ tidak begitu jelas. Aku harus berusaha untuk mengingat alur cerita ‘De Winst’. Selain itu, prolog dari buku ini dibuka dengan kehadiran Tokoh baru. Nah loh, bingung dech 😁. Tapi ku putuskan untuk tetap lanjut membacanya.
Sesuai dengan judulnya, ‘Memoar Sekar Prembajoen’.. Jadi buku ini menceritakan tentang pembuangan Sekar di Negeri Belanda—Netherland. Tapi sayang, seperti di buku petamanya, yang seharusnya di buku tersebut, Tokoh Utama yang mestinya banyak di sorot adalah Rangga Puruhita, namun Mbak Afifah lebih menonjolkan Tokoh Sekar. Tokoh Sekar begitu terlihat menakjubkan dan lebih menarik perhatian pembaca.
Nah, di buku kedua kali ini pun juga begitu. Seharusnya yang banyak di sorot adalah bagaimana kehidupan Sekar.. Tapi ya.. di buku ini, Tokoh Sekar tidak begitu menarik perhatian. Justru yang menarik perhatian adalah Tokoh Everdine Kareen Spinoza—Tokoh lama, dengan segala sepak terjangnya. Dan juga para Tokoh baru. Justru kisah mereka lah yang lebih menarik perhatian, dibanding kisah Sekar sendiri selama di pembuangan.
Tapi, bagaimana pun juga. Aku tetap mengidolakan Sekar Prembajoen. Dari awal, di buku pertama, dia adalah perempuan pribumi yang sangat mengagumkan. Dia, coba menunjukkan kecintaannya terhadap Bangsanya dengan segala perjuangannya dalam usaha memerdekakan Bangsanya. Dia juga, mencoba menunjukkan, bahwa perempuan memiliki derajat yang sama dengan laki-laki.
Sekar adalah sosok yang sangat kritis. Biar pun dia dibesarkan dalam lingkungan Keraton, tapi dia tidak sama dengan para perempuan Keraton pada umumnya. Yang hanya dipersiapkan untuk urusan memasak, macak, rajang, dan melahirkan.
Tidak dengan Sekar, dia memiliki pandangan dan cara berpikir yang berbeda. Menurutnya, perempuan dilahirkan bukan hanya untuk urusan-urusan itu saja. Perempuan ada, bukan hanya untuk sekedar menjadi konco wingking belaka. Bukan hanya untuk mendampingi dan melayani laki-laki saja.
Seperti yang aku tulis di awal review. Kalimat tersebut adalah salah satu bukti ke-kritis-an Sekar. Aku suka dibagian tersebut. Ketika Sekar mencoba mencari tahu tentang kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Dia mencoba mancari kebenaran tersebut dari guru ngajinya. Itu sangat menarik, di usia Sekar yang masih remaja ketika itu, dia sudah berpikir begitu kritis. Dan iya, dari keseluruh kisah Sekar dalam buku ini, bagian itu lah yang aku sukai.
Melalui buku ini, sudah sangat jelas bahwa Mbak Afifah ingin menunjukkan pada dunia, bahwa perempuan juga bisa melakukan hal-hal yang juga bisa di lakukan oleh kaum lelaki. Bahwa perempuan, juga bisa menjadi hebat dan menakjubkan. Dan bahwa perempuan, sesungguhnya memiliki kesetaraan derajat dengan laki-laki.
Yaa.. Walau dunia ini sudah bisa di katakan merdeka. Dan setiap manusia memiliki kesamaan hak antara satu dengan yang lain, tak memandang dia itu laki-laki atau perempuan. Tapi.. selaaaluu saja ada, entah di belahan bumi bagian mana, masih saja membedakan kedudukan antara laki-laki dan perempuan. Yang masih saja, menganggap perempuan jauh lebih rendah dibanding dengan laki-laki. Tak terkecuali di Indonesia.
Di Indonesia, di daerah-daerah tertentu, aku yakin.. masih ada saja yang memiliki cara pandang dan berpikir seperti itu. Sebab itu, melalui buku ini, Mbak Afifah mencoba mengajak kita untuk melek terhadap batasan-batasan tersebut. Bahwa tidak ada batasan perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Kita semua sama, kita semua memiliki hak yang sama.
Aku acungi jempol untuk Mbak Afifah dalam usahanya ini. Walau di buku ini, tentu masih ada kekurangannya. Diantaranya seperti; -Penggunaan kata dalam satu kalimat, misal menggunakan kata Aku dan saya, wanita dan perempuan dalam satu kalimat. Harusnya kalau menggunakan kata aku, ya aku saja. Janga tiba-tiba ganti dengan kata saya. -Sejak dari buku petama, Mbak Afifah kurang begitu konsisten dalam penggunaan ejaan, kadang menggunakan ejaan lama dan kadang juga menggunakan ejaan baru. Sebagai contoh, seperti nama Sekar Prembajoen, kadang di lain halaman, penulisannya berubah menjadi Sekar Prembayun, Rangga Poeroehita jadi Rangga Puruhita. -Perubahan gelar kebangsawanan. Di buku pertama gelar Sekar adalah Raden Rara, di buku kedua ini menjadi Raden Adjeng. -Adanya kesalahan cetak dibeberapa bagian. Dan, masih ada beberapa kekurangan lainnya.
Namun, terlepas dari beberapa kekurangan tersebut. Sekali lagi, aku harus mengakui buku ini memang keren. Dibandingkan dengan buku pertamanya, ‘De Winst’, buku ini lebih menggugah selera. Ada beberapa bagian yang cukup membuat pembaca merasakan ketegangan. Emosi yang tercipta dalam buku ini lebih terasa. Dan, dengan ending yang menggantung.. cukup membuat pembaca penasaran untuk membaca buku selanjutnya.. 😁
Jadi, buat kalian yang ingin tahu lebih detail, tentang kisah yang ada dalam buku ini.. Siapa saja Tokoh baru yang dihadirkan mbak Afifah.. Kalian, segera saja untuk membaca buku ‘De Liefde’ ini. Jangan lupa untuk membaca buku pertamanya terlebih dahulu, jika kalian belum pernah membaca tetralogi ‘De Winst’. Selamat membaca... 🤗
Selama ini, puteri keraton dari abad silam selalu digambarkan sebagai sosok perempuan yang menjunjung tinggi kehalusan budi pekerti dan tutur bahasa. Ia adalah pribadi yang santun, manut, serta anggun. Namun tidak demikian dengan sosok Bendara Raden Ajeng Sekar Prembayun Suryanegara—atau yang biasa dipanggil Sekar Prembayun. Sebagai cucu Pakubuwana X—raja Surakarta Hadiningrat—memang sejak kecil Sekar tinggal dalam lingkungan istana dan dididik dengan tata nilai hidup kejawen yang serba mementingkan kehalusan budi. Tapi berbeda dengan puteri keraton lainnya, Sekar mendapat latihankanuragan dari penjaga istana, selain pendidikan modern di bangku sekolah sampai tingkatAMS—kira-kira setara SMA saat ini.
Pergaulan dengan guru-guru dan teman-teman bangsa Belanda, membuat Sekar menyadari betapa rendah kedudukan dan harga diri kaum pribumi di mata kaum penjajah berkulit pucat itu (halaman 50). Selain itu, pengamatan akan serbaneka peraturan keraton yang demikian merepotkan, membuat gadis muda itu tumbuh menjadi pemberontak tata nilai yang sudah digariskan leluhurnya sejak beratus tahun silam. Ia enggan mengenakan pakaian sebagaimana kaum bangsawan putri pada umumnya. Ia juga menolak sungkem dan laku dhodhok saat menghadap orang yang dituakan. Sebaliknya, ia memilih selalu memakai blouse dan menggeraikan rambut, dengan alasan kepraktisan. Tidak jarang Sekar kabur dari istana dengan menyamar sebagai laki-laki.
Di luar tembok istana, Sekar aktif menjadi guru bagi anak-anak dari kalangan rakyat jelata miskin. Ia juga menceburkan diri dalam aktivitas politik dengan menjadi anggota Partai Rakyat dan kerap menulis kritikan bagi pemerintah Hindia-Belanda dengan nama samaran Elizabeth Fenton. Terakhir, ia menulis artikel yang mengkritik pembubaran Partai Rakyat dan penangkapan para aktivisnya. Buntut dari penulisan artikel itu, Sekar ditangkap politiewezen dengan tuduhan melawan kebijakan Sri Ratu Belanda. Ia dijatuhi hukuman externering ke negeri Belanda dengan jangka waktu tak terbatas (periksa juga novel De Winst; sekuel sebelum De Liefde).
Sekar sampai di Belanda pada akhir tahun 1931, saat negeri itu sedang disergap musim dingin. Tentu tidak mudah bagi bagi gadis yang selama 22 tahun hidup di daerah tropis untuk menyesuaikan diri di tengah lingkungan yang dingin. Belum lagi status narapidana yang membuat ruang lingkupnya demikian terbatas. Meski ia tidak dimasukkan ke dalam penjara—melainkan “dititipkan” di sebuah puri milik bangsawan Jawa yang menetap di Leiden, tetap saja ada politiewezen yang senantiasa menguntit dan mengawasi gerak-geriknya (halaman 14-16).
Tapi bukan Sekar namanya jika tidak mbalelo. Satu kesempatan ketika politiewezen dan induk semangnya lengah, ia manfaatkan untuk kabur. Ia pun dapat leluasa menjelajahi seantero sudut Leiden dengan mengayuh sepeda . Bahasa bukan jadi kendala, karena sebagai lulusan AMS dan penulis lepas di surat kabar berbahasa Belanda—saat masih di Surakarta—Sekar bisa fasih berbicara menggunakan bahasa kaum penjajah negerinya itu. Sampai kemudian ia berhasil menyusup ke Universiteit Leiden dan menjumpai Profesor Johan van de Vondell—salah satu ilmuwan pendukung politik etis yang dicetuskan Meneer van Deventer. Ilmuwan itu pula yang menjadi dosen Rangga Puruhita; sepupu Sekar yang pernah kuliah di Leiden (halaman 60-64; periksa juga novel De Winst).
Sekar berniat ngangsu kawruh atau setidak-tidaknya berdiskusi dengan profesor bercambang-bauk itu. Malangnya, aksinya itu diketahui politiewezen, sehingga ia lalu dikurung di puri milik bangsawan Jawa yang menjadi induk semangnya. Tetapi selang waktu kemudian, Sekar kembali kabur. Kali berikutnya untuk mengikuti pertemuan tokoh-tokoh Indonesische Vereeniging, Sarekat Islam, dan Communistische Partij Holland. Namun setelah Sekar mengikuti pertemuan tokoh organisasi yang disebut paling terakhir, ia didatangi mahasiswa Indonesia yang mengingatkan betapa bahayanya organisasi komunis itu.
“’Jangan kira mereka memiliki nasionalisme, Nona!’ ujar Ahmad Baradja, mahasiswa dari Solo. Ayahnya memiliki perusahaan batik yang cukup besar di Laweyan. ‘Setelah Revolusi Bolshevik pecah di Rusia, mereka lebih setia kepada komintern, komunis internasional, dibanding kepada negerinya sendiri.’” (halaman 65).
Kelakuan Sekar yang berkali-kali kabur dan malah ikut serta dalam pertemuan organisasi berhaluan pergerakan pembebasan Hindia, membuat politiewezen berang. Sekar pun “dikirim” ke Den Haag, daerah yang dianggap lebih “aman”. Ia kembali “dititipkan”. Kali ini di sebuah puri bernama Paleis de Liefde; milik Joseph Reynierse, seorang anggota parlemen Belanda.
Di tempat pengasingannya yang baru, Sekar berkenalan dan bergaul akrab dengan Sophie; putri Meener Reynierse, yang bekerja sebagai juru warta The Woman Tribune—surat kabar kaum feminis. Pergaulan dengan Sophie mengantarkan Sekar pada petualangan menelusuri kasus yang menimpa Rusmini van de Brand; perempuan muda asal Jawa yang dijual ayahnya di rumah pelacuran dan kemudian terbukti menjalani affair dengan Meener Reynierse; ayah Sophie (halaman 144).
Keadaan makin runyam manakala Rusmini—yang dijuluki Burung Hindia—diculik; hendak dienyahkan. Sementara Sekar yang berusaha menolong Rusmini, justru dikejar tentara kerajaan yang mengira ia mata-mata Jerman (halaman 371-372). Tahap selanjutnya, Sekar malah diculik pasukan Schutzstaffel—pasukan rahasia Nazi (halaman 435).
Novel karya Sekjen Forum Lingkar Pena Pusat ini menyuguhkan sisi keberandalan dan maskulinitas seorang puteri keraton yang selama ini selalu digambarkan berperangai lemah lembut. Karakter dominan tokoh Sekar Prembayun adalah keras kepala, grasa-grusu, kadang kurang berpikir panjang—ini menjadi ciri khas tokoh perempuan dalam novel Afifah Afra lainnya.
Menariknya, meskipun cenderung berandal, serta memiliki sejumlah teman yang berafiliasi dengan partai komunis, Sekar tetap mengukuhi pemahaman dasar agama Islam—agama yang dianutnya, seperti tidak mau meneguk minuman beralkohol (halaman 141), menjalankan sembahyang wajib (halaman 257), meyakini kemahakuasaan Allah (halaman 200), serta enggan murtad (halaman 175).
Sekelumit kekurangan dalam novel ini antara lain; Pertama: kekeliruan pemahaman bahwa suku bangsa Jawa sama dengan Melayu (halaman 8, 280), meski kemudian Afifah sedikit meralatnya di halaman 111. Kedua: sejumlah diksi yang terlalu modern untuk ukuran tahun 1930-an, seperti “acuh tak acuh”, “teater”, “litotes”, dan “sublim”. Jika membaca karya sastrawan Indonesia tempo doeloe, akan dapat ditemukan padanan kata yang lebih sesuai dan cocok digunakan daripada daftar kata bertanda petik dua tersebut. Misalnya kata “masabodoh” lebih sesuai digunakan daripada “acuh tak acuh” (periksa buku Gema Tanah Air karya H.B. Jassin yang antara lain menghimpun karangan-karangan bertitimangsa saat pendudukan Belanda, baca juga buku-buku Nh. Dini yang ber-setting sebelum Indonesia merdeka).
Atau “tonil” yang lebih cocok dipakai daripada “teater”—karena menurut catatan Nh. Dini (baca seri cerita kenangan Kuncup Berseri, halaman 68), sebutan “teater” muncul sekitar tahun 1955, dipopulerkan Asrul Sani. Sementara roman Tenggelamnya Kapal van der Wijck karya Buya Hamka yang ber-setting tahun 1930-an menggunakan kata “tonil” untuk menyebut “teater”.
Ketiga: diceritakan bahwa saat masih mengenyam pendidikan AMS, artinya sekitar tahun 1920-an, Sekar sempat mengunjungi Ya’ik di kota Semarang (halaman 257). Menurut catatan Nh. Dini—yang lahir dan besar di Semarang, Ya’ik justru muncul setelah selesai Perang Revolusi Kemerdekaan, di akhir tahun 1940-an (Kuncup Berseri, halaman 52-53).
Keempat: dalam novel ini halaman 440, tertera titimangsa 1 Februari 2009, saat menandai terjadinya pemberontakan di kapal de Zeven Provincien. Rasanya ini adalah kesalahan ketik, karena seluruh isi novel menceritakan kejadian dalam rentang tahun 1910-1930-an.
Kelima: dalam sekuel sebelumnya—De Winst—disebutkan bahwa gelar kebangsawanan Sekar Prembayun adalah Raden Rara (halaman 80). Sedang dalam De Liefde, gelar kebangsawanan Sekar menjadi Raden Ajeng (halaman 36). Jadi, mana yang lebih tepat?
Keenam: penggunaan ejaan yang kurang konsisten—kerap kali menggunakan ejaan van Ophuijsen seperti oe untuk u, tj untuk c, j untuk y, dan dj untuk j, tapi juga memakai ejaan yang disempurnakan (EYD) yang menghilangkan aturan van Ophuijsen tersebut.
Rasanya sayang sekali jika novel sebagus ini memiliki kekeliruan-kekeliruan yang barangkali tampak remeh-temeh tapi potensial menggerogoti bangunan cerita dan ujungnya jadi kurang meyakinkan pembaca. Ini menandakan Bunda Syaki—sang editor—kurang bermata dewa saat menyunting isi novel ini. Mudah-mudahan bila kelak novel ini mengalami cetak ulang, sekelumit kekeliruan tersebut dapat diperbaiki.
Jalinan ceritanya rumit, tapi asyik diikuti. Seru. Hebat deh pengarang! Saya membayangkan kalau novel ini difilmkan pasti bagus sekali. Da Conspiracao saya sudah punya, tinggal baca, dan penasaran sekali bagaimana penulis akan mengakhiri kisah perjuangan Rangga-Sekar-Everdine di buku keempat nanti. Kapan terbitnya? *nodong penulis*
Sayangnya, entah apakah sudah dikoreksi atau belum karena yang saya beli adalah cetakan pertama, banyak ketidakkonsistenan penulisan. 1. Kenapa tiba-tiba pakai ejaan lama sedangkan di De Winst tidak menggunakan ejaan lama? Akibatnya, mungkin karena penulis juga hidup di masa di mana ejaan jenis ini sudah tidak dipakai, jadi banyak ketidakkonsistenan. Misalnya, penulisan nama Rangga yaitu Rangga Poeroehita dan Rangga Puruhita. Yang lebih lucu adalah penulisan Surabaya, yang bisa dalam satu bab ditulis Soerabaja, Soerabaya, dan Surabaya. Tinggal tambaha Soerabaia lengkap deh. Hehe. 2. Ada adegan di mana Sekar menjotos seorang Belanda, namun kemudian diceritakan bahwa kakinya yang sakit. 3. Ada lagi ketika Rinnah menemui Everdine, tidak jelas yang bersama dia itu kakak atau adiknya karena sebelumnya disebut kakak lalu kemudian di halaman sebelahnya disebut adik.
Lalu, mengenai kertasnya. Kenapa kertas koran ya? Sepertinya ada penurunan kualitas dari buku De Winst, lalu kualitasnya naik lagi di Da Conspiracao karena pakai kertas bagus lagi.
Karena dua hal ini, bintang 3 cukup. Kalau dari segi cerita sih bintang 5.
Sekuel De Winst ini menurut saya tidak lebih baik dari buku pertamanya, makanya saya cuma kasih tiga bintang. Buku pertama sangat berkesan buat saya, karena kuat di cerita. Bagus juga memperkaya tentang sejarah dan politik pada masa itu bagi yang masih awam. Mbak Afifah Afra sudah melakukannya dengan baik. Di buku kedua ini, cerita semakin panjang kali lebar, banyak tokoh-tokoh yang akhirnya kurang fokus ceritanya. Saya tipikal tidak begitu mudah untuk mengingat terlalu banyak tokoh di novel sepertinya. Kedua, yang menurut saya buku ini jadi kurang karena gak konsisten dnegan buku pertama yang nulis namanya biasa aja kayak Sekar Prembayun misalnya. DI buku kedua, jadi Sekar Prembajoen, Rangga Poeroehita. Menurut saya kalau mau menggunakan ejaan lama di nama tokoh, baiknya dari buku pertama hal tsb dilakukan.
Cukup lama waktu tenggang dari membaca yang pertama, De winste. Hal yang membuat saya meraba-raba di awal untuk mengingat bagaimanakah jalan cerita di sekuel awalnya....
keseluruhan saya suka...meski banyak yang menggantung dan menimbulkan tanda tanya di akhir cerita
De Liefde adalah buku kedua dari tetralogi De Winst. Kalau di buku sebelumnya kita berkenalan dengan pesona Rangga dan Sekar, maka di buku ini kita akan di fokuskan berkaca pada ketangguhan perempuan dari sosok Sekar dan Kareen Everdine.
Sekar, putri bangsawan Surakarta, calon yang dijodohkan dengan Rangga sejak kecil, adalah pribadi yang keras, suka berpetualang tetapi amat peduli dengan nasib rakyat pribumi.
Sebab itulah, diam-diam dia tergabung ke dalam Partai Rakyat, bahkan kerap kali menuliskan suaranya yg menentang keras pemerintah Belanda dibalik nama pena Elizabeth Wenton. Nah, karena itulah dia ditangkap dan diasingkan ke Belanda.
Sedangkan Kareen Everdine adalah seorang Belanda totok, yang belajar hukum di Belanda dan ingin berkarir sebagai advokat di Indische. Siapa sangka, dalam perjalanan pulangnya di kapal, ia bertemu Rangga. Mereka jatuh cinta, dan setelah beragam lika liku, akhirnya menikah. Hanya saja, belum sempat mengecap bulan madu, pembuangan Rangga ke Ende memisahkan dua sejoli tersebut.
Dari sanalah bermula perjuangan dua perempuan tangguh tersebut. Sekar yang bertemu dengan beragam konflik dan banyak politikus di Belanda, dan Kareen yg menghadapi kasus demi kasus yg berat yang membawanya pada ujung bahaya.
Bukan tulisan Afifah Afra kalau nggak mengandung plot twist yang berkelindan 🤩
Mulai dari kasus yang dipegang Kareen dan sosok yang ingin diselamatkan Sekar di Belanda ternyata berhubungan. Tokoh demi tokoh yg satu sama lainnya saling memiliki benang merah. Belum lagi soal romansa, huwaaaa bisaan banget nih penulis membuat cinta saling terpaut antara tokohnya.
Terlepas lagi-lagi soal banyaknya diksi Belanda yang rada bikin senewen, menurutku reset yg dilakukan oleh penulis keren banget sih. Pemaparan sejarah yg detail, dan sikronisasi alur yg menarik.
Hanya saja, kalau kamu berharap ketemu Rangga disini,sudahi harapanmu ! 😋
Akhirnya selesai. Ya Tuhan, para tokoh dan percabangan ceritanya banyak sekali. Sampai pusing. Konfliknya lebih rame daripada De Winst yang berjalan lebih linier. Alur yang digunakan di De Liefde ini maju mundur, sering nggak ada keterangan waktunya juga. Untung masih bisa nyambung.
Membaca buku ini membuatku banyak bersyukur karena lahir dan tumbuh di masa Indonesia sudah merdeka.
Kisah dibuka dengan tokoh-tokoh yang tidak familier. Sophie Reyneise, putri anggota dewan Twide Kramer yang bekerja sebagai wartawan di The Women Tribune yang digambarkan menemukan seorang wanita hamil melayu berparas Indo bernama Roesmini van De Bard, pingsan di tengah salju. Pembukaanya begitu bertele-tele. Masak adegan orang menemukan wanita hamil yang pingsan disisipi dengan narasi feminisme?
Pembukaan cerita tentang Sekar Prembajoen juga memutar. Pada dasarnya aku sebel sama tokoh ini sejak di De Winst karena kesotoy-annya yang picik dan tanpa dasar pada Rangga Poeroehita.
Aku baru mulai tertarik terus membaca novel ini setelah cerita masuk ke bagian Everdine Kareen Spinoza yang sudah jadi advokat dan berhasil memenangkan kasus beberapa pribumi yang dicurangi oleh pihak lain.
Subjudul "Memoar Sekar Prembajoen" yang dicetak di kover sebenarnya nggak pas karena pusat cerita buku ini nggak hanya tentang dia, tapi berbagi porsi yang juga sama kuatnya dengan cerita Kareen dan Joedhistira.
De Liefde adalah buku fiksi yang cukup berat. Latar kolonial yang kental menurut saya menjadikan novel ini tidak sekadar roman yang menyajikan cerita cinta biasa. Bumbu utamanya justru ada pada perjuangan-perjuangan yang banyak digambarkan Afra seperti saat Sekar berada di pengasingan Belanda, Kareen dengan keislamannya, atau gambaran gerakan kemerdekaan yang ditulis dengan epik. Saya juga dengan asyiknya mengikuti alur yang dibuat Afra ketika dibolak-balik pada setting Hindia Belanda ke Belanda. Juga dengan sajian-sajian sejarah yang dikemas dengan lancar. Ya, meskipun saya cukup banyak menyita waktu untuk membaca novel ini, tapi sepertinya roman cinta antara Sekar, Rangga, dan Kareen perlu dituntaskan sampai setuntas tuntasnya.
Sekuel kedua novel De Winst ini berpusar pada kasus hukum seorang mantan pelacur. Rinnah, demikian nama mantan pelacur itu, menggugat agar Roesmini, putrinya yang terpisah dengannya selama belasan tahun, dikembalikan.
Konflik itu kemudian melibatkan karakter utama yang telah muncul sebelumnya dalam De Winst. Ada Sekar Prembajoen yang sedang menjalani masa pembuangan di Belanda, dan Everdine Kareen yang berkiprah sebagai advokat pembela pribumi di tanah jajahan, di Pulau Jawa. Selain itu, muncul karakter baru seperti Joedhistira, sersan mayor Koninklijke Marine yang memberontak; Sophie Reynierse, jurnalis The Women Tribune, putri semata wayang dari seorang anggota parlemen Belanda yang kaya raya; dan Garendi, seorang insinyur, pangeran keraton yang memilih bertahan dan bekerja meraih kesuksesan di negeri penjajah.
Karakter-karakter tersebut memunculkan kisah romantikanya tersendiri. Ada kerinduan seorang istri terhadap suaminya yang berada di pengasingan. Ada perempuan yang berusaha meredam penyesalan karena menolak perjodohan. Ada kekaguman seorang lelaki pribumi kepada noni Belanda. Sebaliknya, ada pula cerita wanita Belanda yang jatuh hati kepada lelaki pribumi. Meskipun demikian, romantisme yang dibangunnya tidak terasa instan atau terlampau gampangan. Dari konflik utama dan pengisahan perasaan karakter-karakternya, tak heran kalau novel ini dijuduli De Liefde (cinta).
Dengan latar zaman kebangkitan nasional Indonesia (awal 1900-an), muatan sejarah De Liefde terasa lebih kaya dibanding De Winst. Berbagai peristiwa sejarah dunia seperti malaise dan perang dunia, tampak membingkai apik alur penceritaan. Polemik politik etis pun tergambar lebih nyata. Termasuk intrik politik dalam negeri Belanda yang memperhadapkan kekuatan konservatif dan liberal. Suasana pemerintahan dan peradilan a la kolonial Belanda di Indonesia kala itu pun terceritakan secara cukup jelas.
Tidak terkecuali dari itu, adalah catatan-catatan Sekar Prembajoen. Selain mampu menggambarkan bagaimana suasana di pembuangan, solilokuinya sangat mencerminkan pergulatan pemikiran seorang perempuan pergerakan. Terlebih bila mengingat latar belakang Sekar sebagai seorang muslimah, putri keraton, dan aktivis partai sosialis.
Tak hanya muatan sejarah, banyak pula muatan religiusitas- universal yang terbaur dan menyatu dalam novel karya penulis Forum Lingkar Pena ini. Contohnya ialah bagaimana keadilan ditegakkan, ketika kantor advokat Kareen maju di meja hijau, membela Haji Suranto melawan pemilik perkebunan teh, Meneer Rob Haijboer. Termasuk peran hakim JP Grijns, seorang Belanda totok yang masih punya idealisme.
Dari De Liefde, pembaca dapat kembali membuktikan, bahwa ketika dikemas sebagai novel, sejarah (khususnya sejarah kebangkitan nasional) bisa dinikmati secara lebih mengalir dan menghibur. Lebih dari itu, novel karya pengarang perempuan ini, dengan karakter-karakter utamanya (yang juga perempuan) yaitu Rinnah, Roesmini, Sekar, Kareen, dan Sophie, tampaknya sedang berusaha memperlihatkan peran-peran sekaligus menyuarakan pesan-pesan kaum perempuan, sesuatu yang sampai saat ini masih tetap relevan.
Sequel dari De winst yang ku baca sekitar dua tahun yang lalu. Awalnya merasa begitu antusias karena De Winst seperti menyisakan penasaran yang cukup nyata ketika selesai membacanya dulu. Sedikit kesulitan awal nya membaca buku ini, mulai dari ingatan tentang De Winst yang tidak terlalu jelas, tokoh yang diceritakan bertambah dua kali lipat, dan yang cukup mengganggu adalah "mengapa buku ini dicetak dengan kertas buram??" Mengapa tidak mencetaknya dengan kertas-kertas novel pada umumnya.
Overall, buku ini berakhir dengan membuat penasaran kembali. Entah lanjutannya sudah terbit atau belum. Enjoy !!!
ada yang aneh pada halaman 440. Dalam buku itu tertulis 1 Februari 2009. hohoohoho ... padahal keseluruhan cerita yang saya pahami settingkan tahun sebelum kemerdekaan.
Just wondering, apakah ini hanya salah cetak saja??
Sekuel novel ini yayaya masih menyisakan tanda tanya apa yang terjadi dengan sekar?? Kareen ??? Joedhistira ?? dan satu lagi Rangga Phoeroehita?
Menanti-nanti kapan nih triloginya keluar?? apakah satu lagi. Huffhhh ....
Terlepas dari beberapa kekurangan, harus diakui bahwa novel ini memiliki kemampuan dan kekuatan merepresentasikan sebuah epik yang memikat, menawan, mematahkan kesan akan bacaan fiksi sejarah yang jadoel dan membosankan sekaligus berpotensi menggerakkan emosi dan rasa penasaran yang naik turun di benak pembaca hingga tak jarang memancing ucapan yang spontan berdecak kagum: WAH, DAHSYAT.
Karena saya penggemarnya(?) Sekar prembayun saya sangat puas dg totalitas penulis mengupas hidupnya di pengasingan belanda. Mungkin memang sudah rencana penulis untuk menjadikan kisah sekar-rangga-everdeen satu persatu dlm buku Dan sayangnya saya memutuskan berhenti membaca diserial ini karena tdk sabar dg konflik yg begitu berat Umm.. semakin bertambah umur, semakin selera saya berganti pda cerita ringan sepertinya *hallah*
bagus kok, di bagian menjelang akhir mulai seru.. cuma nangkep ketidaksinkronan misal: Rahardja yang seharusnya Kakak Nyai Rinnah, di satu waktu malah disebut Adik.
Semoga sekuel selanjutnya kertasnya bukan kertas buram :D
Ini novel yang berat, tapi menarik dan enak disimak. Mungkin, inilah karya terbaik Afifah Afra. Setting, diksi, alur dan penokohan nyaris semua digarap dengan enak. Hanya saja endingnya kok kurang greget, ya?! Seperti biasa, Afifah Afra selalu bikin penasaran pembaca dengan ending yang menggantung.
di banding buku pertamanya sekuel kedua de liefde punya intrik yang lebih banyak dan lebih menarik. meski penggunaan kata-kata lama yang kebanyakan masih bikin jengah tapi tetap bikin penasaran tentang ending dari semua ceritanya
saya sangat suka dengan cerita keluarga van de brand. meski.. kenapa sih yang berandalan dan suka mabok2an akhirnya bikin saya jadi punya rasa kasihan di ending cerita dan orang yang terpelajar dan terhormat ternyata menyembunyikan kotoran di balik jas dan pantalon mereka.
Di novel kedua ini kesalahan-kesalahan teknis sudah mulai berkurang. Cara penyampaian cerita sih masih sama kayak novel pertama, bagi saya terlalu bertele-tele. Untungnya konflik yang dibuat memang cukup menarik.
Di sinilah tampak kepiawaian seorang Afifah Afra dalam 'mendesain' konflik yang berkelok-kelok namun saling berkaitan. Jadi selalu pengen baca kisah/buku selanjutnya.