Buku ini memang klasik. Diterbitkan pertama kali dalam bahasa Inggris pada awal dekade 1990-an, namun entah mengapa masih terasa relevan untuk direfleksikan terhadap konteks kekinian. Pembangunan perkotaan yang masih 'membeo' terhadap konsep dari luar (terlihat bersih, rapi, pas buat para pekerja dan pengusaha kelas menengah [ke-atas, tentunya]). Perkampungan masyarakat banyak (yang notabene berasal dari desa, atau masyarakat perkotaan menengah ke bawah), memandang perkampungan mereka yang tidak rapi, berantakan dan kotor sebagai titik awal sebelum 'melompat lebih jauh' dalam memperbaiki kehidupan.
Ada gap pemahaman mengenai pemukiman rakyat banyak yang padat dan 'disebut kumuh ini'. Satu sisi dianggap sebagai basecamp rakyat dalam memperbaiki kehidupan, di sisi lain, bagi perencana kota, sebagai gangguan dan pemandangan tak sedap dipandang mata.
Lea Jellinek sangat apik dalam menjelaskan seperti apa kesatuan sosial di dalam Kampung Kebun Kacang (tempat penelitiannya), perubahan sosial-ekonomi dan kultur pemukim Kebun Kacang, dinamika sosial sejak boom ekonomi awal Orde Baru hingga penggusuran yang memiriskan nurani pada 1980-an.
Namun, kelemahan-kelemahan dalam penelitian Jellinek ini agaknya sudah dijelaskan oleh Prof. Sajogyo dalam kata pengantarnya, salah satunya bagaimana belum adanya pertautan peristiwa antara tingkat kampung dengan konteks yang lebih besar (dengan kota, provinsi, nasional, regional, bahkan internasional). Di sisi lain, Jellinek masih belum begitu jelas mengenai masalah kelas sosial masing-masing informan, apakah ia kelas bawah, menengah bawah, kelas menengah atas (meski jika membaca lebih teliti, stratifikasi dan kelas sosial ini terlihat). Sehingga, bisa jelas, mana yang bisa bertahan dari penggusuran (pemukiman kembali) dan mana yang akhirnya terlempar (yang terlempar pun nasibnya berbeda, ada yang akhirnya dapat membangun kembali dan lebih baik; ada yang terlempar dan masih berjuang keras; ada yang akhirnya kalah dan menyerah, parahnya jika membaca pada bagian akhir, bernasib seseorang merasa perlu mengakhiri hidupnya dengan jalannya sendiri beserta anaknya).
Buku ini sangat menarik, bagaimana pembangunan tanpa menggusur itu masih jauh dari harap bahkan masih sawang-sinawang. Perlu catatan, jika kawan-kawan melihat dalam kacamata analisis gender, buku ini menarik, karena informan banyak juga dari perempuan, dan bahkan kaum perempuan-lah yang paling parah terkena dampak penggusuran ini.