Buku ini menggambarkan dan menganalisa secara kritis evolusi dan transformasi kampung Kebun Kacang di Jakarta sejak tahun 1930-an, yang selayaknya dipahami dengan mempertimbangkan kekuatan-kekuatan di kota dan daerah pinggiran, yang mengakibatkan munculnya hingga lenyapnya kampung tersebut. Dalam hal ini, dominasi kemiskinan tidak tampak, melainkan justru sifat tidak punya pegangan hidup dan rasa tidak aman merupakan ciri-ciri dominan dalam kehidupan mereka. Ini sebagai akibat perubahan cepat yang pasang surutnya – merupakan pengaruh eksternal – di luar kontrol mereka.
Meskipun mengenai hanya sebuah kampung, namum sarat dengan pengalaman-pengalaman serupa – di berbagai kampung sejenis – mengenai perpecahan hubungan sosial, kemajuan dan kegagalan ekonomi, munculnya harapan-harapan yang dihadapkan pada keputus-asaan yang dialami oleh rakyat manapun.
Buku ini sangat bagus untuk mereka yang ingin mengetahui sejarah sebuah tempat di belahan Jakarta yang bernama Kebon Kacang. Lea Jellinek sangat piawai dalam menggambarkan detail sejarah dengan menggunakan sentuhan ethnography yang kuat. Data-data yang tersaji juga lengkap sehingga membuat banyak orang berdecak kagum. Perubahan sosial yang digambarkan sedikit banyak akan membantu kita memahami bahwa orang miskin selalu tidak beruntung dalam kebijakan yang memihak para elit..
Buku ini memang klasik. Diterbitkan pertama kali dalam bahasa Inggris pada awal dekade 1990-an, namun entah mengapa masih terasa relevan untuk direfleksikan terhadap konteks kekinian. Pembangunan perkotaan yang masih 'membeo' terhadap konsep dari luar (terlihat bersih, rapi, pas buat para pekerja dan pengusaha kelas menengah [ke-atas, tentunya]). Perkampungan masyarakat banyak (yang notabene berasal dari desa, atau masyarakat perkotaan menengah ke bawah), memandang perkampungan mereka yang tidak rapi, berantakan dan kotor sebagai titik awal sebelum 'melompat lebih jauh' dalam memperbaiki kehidupan.
Ada gap pemahaman mengenai pemukiman rakyat banyak yang padat dan 'disebut kumuh ini'. Satu sisi dianggap sebagai basecamp rakyat dalam memperbaiki kehidupan, di sisi lain, bagi perencana kota, sebagai gangguan dan pemandangan tak sedap dipandang mata.
Lea Jellinek sangat apik dalam menjelaskan seperti apa kesatuan sosial di dalam Kampung Kebun Kacang (tempat penelitiannya), perubahan sosial-ekonomi dan kultur pemukim Kebun Kacang, dinamika sosial sejak boom ekonomi awal Orde Baru hingga penggusuran yang memiriskan nurani pada 1980-an.
Namun, kelemahan-kelemahan dalam penelitian Jellinek ini agaknya sudah dijelaskan oleh Prof. Sajogyo dalam kata pengantarnya, salah satunya bagaimana belum adanya pertautan peristiwa antara tingkat kampung dengan konteks yang lebih besar (dengan kota, provinsi, nasional, regional, bahkan internasional). Di sisi lain, Jellinek masih belum begitu jelas mengenai masalah kelas sosial masing-masing informan, apakah ia kelas bawah, menengah bawah, kelas menengah atas (meski jika membaca lebih teliti, stratifikasi dan kelas sosial ini terlihat). Sehingga, bisa jelas, mana yang bisa bertahan dari penggusuran (pemukiman kembali) dan mana yang akhirnya terlempar (yang terlempar pun nasibnya berbeda, ada yang akhirnya dapat membangun kembali dan lebih baik; ada yang terlempar dan masih berjuang keras; ada yang akhirnya kalah dan menyerah, parahnya jika membaca pada bagian akhir, bernasib seseorang merasa perlu mengakhiri hidupnya dengan jalannya sendiri beserta anaknya).
Buku ini sangat menarik, bagaimana pembangunan tanpa menggusur itu masih jauh dari harap bahkan masih sawang-sinawang. Perlu catatan, jika kawan-kawan melihat dalam kacamata analisis gender, buku ini menarik, karena informan banyak juga dari perempuan, dan bahkan kaum perempuan-lah yang paling parah terkena dampak penggusuran ini.
This was the book that got me into the field of urban informality. Jellinek painted a vivid account of the everyday life of residents of Kp Kebon Kacang in the 70s Jakarta. What is amazing is that much of what she wrote is relatable to my childhood memory of the 90s, fully realised that that is no longer the case in the year I read the book in 2009. The book's narrative style is easy to digest which, in retrospect after being involved in "the field" for some time, is an authoritative feat given the complexity found in urban informality. I wholeheartedly recommend this book to anyone who want to wet their toe in Jakarta's other side of modernity.