Everything changes for orphaned Jan when his beloved uncle, Gustav—anatomist, natural scientist and aspiring alchemist—enlists his help in a quest to create a life-generating serum. To test the serum, they must follow a set of ancient instructions and play a dangerous game of bringing the inanimate to life. . . . When Gustav dies suddenly, it’s up to Jan to continue his work—little does he know that his beautiful, calculating aunt dreams of using the serum for her own purposes—eternal life.
Under the facade of her grief, she convinces Jan they must move from Vienna to Prague, and when she mysteriously disappears, Jan searches for her. In the plague-ridden ghettos and the court of the mad Emperor Rudolf, he must pit his wits against an extraordinary cast of characters and events. His only ally is Zuzana, a girl with secrets of her own.
Set against the vivid backdrop of 16th century Prague and the equally breathtaking Vienna, a magical, historical adventure.
Joanne Owen was born in Pembrokeshire, Wales, and studied Anthropology, Archaeology and Social Sciences at St. John's College, Cambridge. She has worked in children's bookselling and publishing ever since. Joanne plays bass guitar and accordion in a band and lives in London.
Apa yang ada di benak pembaca sekalian saat mendengar kata “Alchemist”? Mungkin sebagian pembaca akan membayangkan novel The Alchemist karya Paulo Coelho. Para pencinta anime kemungkinan akan membayangkan anime terkenal berjudul Fullmetal Alchemist yang penuh aksi itu. Saya sendiri, begitu mendengar kata Alchemist yang muncul di benak saya adalah elixir kehidupan, sebuah cairan yang membuat peminumnya akan memperoleh hidup abadi (iya, itu gara-gara membaca buku pertama Harry Potter, hehe).
Praha dan Vienna abad ke-16 menjadi latar dari kisah fantasi ini. Tokoh utama kita adalah Jan, anak laki-laki yang menjadi yatim-piatu sejak wabah pes merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kini ia tinggal bersama paman dan bibinya di Rumah Tujuh Bintang. Jan beruntung sebab pamannya, Gustav, adalah seorang alkemis terkenal. Jan yang memiliki minat terhadap ilmu pengetahuan dan obat-obatan menyambut gembira ketika Gustav mengangkatnya sebagai murid. Mereka bersama-sama berusaha membuat serum ajaib yang mampu membangkitkan makhluk hidup dari kematian. Serangkaian instruksi yang rumit mereka ikuti demi membuat serum tersebut. Harapan Gustav dari serum tersebut adalah semoga dapat menjadi obat yang mampu menghalau wabah pes yang menghatui Eropa pada masa itu.
Sayangnya, Paman Gustav meninggal sebelum mereka berhasil menyempurnakan serumnya. Tak lama sesudah itu, Bibi Greta, istri Gustav mengajak Jan untuk pindah dari Vienna ke Praha. Masih bingung dengan keputusan mendadak bibinya, Jan memutuskan untuk menurut saja. Akan tetapi, Bibi Greta menghilang saat berada di Praha! Jan menduga seseorang telah menculik bibinya demi mengincar harta peninggalan suaminya. Di tengah keputusasaannya, Jan ditolong oleh seorang malaikat cantik bernama Zuzana. Tapi bisakah Jan mempercayai gadis cantik misterius itu?
Petualangan Jan terus berlanjut. Ia bertemu dengan orang-orang hebat yang hanya pernah didegarnya dari cerita-cerita Gustav. Orang-orang yang ahli dalam bidang sains, alkimia, atronomi, dan ilmu pengetahuan lainnya. Dan untuk pertama kalinya Jan menyaksikan sihir yang benar-benar luar biasa. Sambil mencari bibinya, Jan tetap berusaha menyempurnakan serum peninggalan sang paman.
Berhasilkah Jan dengan serumnya? Apa sebenarnya yang terjadi kepada Paman Gustav? Dan di manakah Bibi Greta? Siapa sebenarnya sang malaikat cantik yang ditemuinya tempo hari?
Temukan jawabannya dalam The Alchemist and The Angel karya Joanne Owen.
Setelah beberapa saat tidak membaca buku fantasi, saya merasa cukup mendapat penyegaran saat membaca novel ini. Novel ini terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama novel ini sangat menyedot perhatian. Tanpa berlama-lama, pembaca langsung dipertemukan dengan hal-hal luar biasa di dalam ruang kerja Gustav, sang alkemis. Sama seperti Jan, saya merasa sangat penasaran dengan proses pembuatan serum kehidupan. Instruksi dan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat serum sangatlah menarik. Instruksinya agak sedikit mengerikan sebetulnya, mengingatkan saya pada aktivitas-aktivitas klenik, tapi tetap saja bikin penasaran. Saya selalu tak sabar untuk segera membalik halaman berikutnya, mencari tahu seperti apa hasilnya. Sayang sekali Gustav keburu meninggal, dengan cara yang membuat penasaran pula.
Setelah Gustav meninggal alur cerita novel ini melambat. Ditambah lagi aktivitas membuat serum sempat terhenti karena mandrake (ya, mandrake yang pernah muncul di seri Harry Potter itu) yang dibutuhkan untuk membuat serum, yang proses membuatnya membutuhkan usaha keras, ternyata dicuri orang! Pertemuan Jan dengan para ahli ilmu pengetahuan dari penjuru Eropa mungkin terasa luar biasa bagi Jan, tapi entah mengapa kurang begitu terkesan bagi saya. Saya curiga, apakah ini berkaitan dengan terjemahannya yang kurang memuaskan? Yang jelas sejak di bagian tengah hingga akhir buku ini gairah membaca saya tidak lagi sekuat seperti ketika mulai membacanya. Mungkin juga karena tak banyak adegan aksi dalam novel ini. Tokoh jahat dalam buku ini sudah bisa ditebak, namun saya tetap berharap konfrontasi antara Jan dengan sang tokoh antagonis akan sangat seru... tapi ternyata tidak. Malah penulis terkesan terburu-buru mengakhiri ceritanya.
Meski demikian, masih terdapat banyak hal menarik dalam novel ini. Misalnya, seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, tentang instruksi-instruski unik juga bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat berbagai macam benda alkimia, seperti membuat serum, membuat golem, atau mengubah benda biasa menjadi emas. Unik sekali. Hal lain yang membuat buku ini sangat memikat, adalah ada beberapa dongeng yang disisipkan penulis dalam buku ini untuk mendukung cerita. Ingat dongeng tentang Relikui Kematian yang diceritakan Hermione di buku Harry Potter yang ketujuh? Kurang lebih seperti itulah. Yang membedakan adalah dongeng-dongeng dalam buku ini ditulis dalam bentuk manuskrip dan terpisah dari cerita utama. Mungkin sebagian pembaca akan mengganggap hal tersebut dapat mengganggu ritme cerita, tapi bagi saya dongeng-dongeng itu sangatlah memikat. Dalam buku ini juga terdapat ilustrasi-ilustrasi yang cukup menarik.
Secara keseluruhan, saya cukup menikmati novel fantasi ini. Meski beberapa bagian buku ini kurang memuaskan saya, namun banyak hal menarik dari buku ini yang sayang untuk dilewatkan.
Meskipun ceritanya sangat standar YA Fantasy, tapi saya sangat suka buku ini. Mungkin karena mood saat membaca yang lagi baik, atau memang ceritanya asik, ringan walau sedikit gelap, dengan aura sihir dan petualangan yang kental.
Cover Ilustrasi sampulnya unik, sebuah ilusi optikal. Kita bisa memilih untuk melihat gambar 2 orang bocah, dua buah pohon, sebuah ampul cairan eliksir dan sederetan nisan (dan banyak detil-detil lainnya), atau kita bisa melihat sebuah tengkorak.
Ilustrasi-ilustrasi Dalam cerita banyak ilustrasi-ilustrasi lain yang tidak kalah unik. Yang jadi favoritku adalah gambar Mandrake dan gambar kupu-kupu dalam botol. Sayangnya, tidak seperti Abarat yang full color, semua gambar di sini hitam putih.
Side Stories Walau banyak yang bilang terganggu dengan side stories di buku ini, saya malah menyukainya. Kisah-kisah pendek sebagai selingan. Tidah ada hubungannya dengan cerita utama, tapi lebih menjelaskan setting atau sumber inspirasinya.
Alur cerita Bersetting di Vienna dan Praha abad 16, kisahnya berkisar tentang kehidupan para alkemis yang sibuk mencari rahasia kehidupan. Cara mengubah benda menjadi emas dan cairan eliksir yang mampu memperpanjang umur manusia. Juga tentang wabah pes yang melanda kota-kota di Eropa saat itu. Suka kelokan ceritanya, terutama tentang ambisi Greta, tapi sedikit kecewa karena Croll ternyata benar-benar orang baik. #eh :p Gak sukanya karena endingnya terlalu mudah. *ya iyalah, ini kan YA F, bukan Grotesque!* Dan kemudian mereka berdua live happily ever after. jyaaahhh....
Lemari Benda-benda Aneh Raja Rudolph Wunderkammer sering disebut-sebut dalam kisah ini tapi sedikit sekali dijabarkan detil-detilnya. Jadi pengin tahu lebih banyak....
Sampul ini buku nggak banget, pertama kali gue ngeliat ini buku. Berkali-kali mampir ke Gramedia yang gue liat ya buku ini.. The Alchemist and The Angel. Sekali pun gue nggak pernah bernait beli ini buku, kalo di pinjemin sih oke, gue bakal baca hehehe Sampai pada tanggal 25 Agustus 2012 kemaren.. hari yang sama dimana gue baca Pink Project, buku ini masuk ke katagiri diskon di Gramedia. Berhubung novel yang lumayan bagus secara phisicly maupun cerita dan harga tentunya gue pun membawa-bawa ini buku selama gue baca Pink Project, bersama buku satunya lagi (bukan disini tempat gue nge-review buku itu). Oke, begini kisahnya.... Jan seorang yatim-piatu dari sebuah desa tidak lagi berada di desa dimana orang tuanya telah dimakamkan akibat terkena wabah pes. Jan, seorang anak laki-laki yang haus ilmu akhhirnya dibawa pamannya yang seorang ahli kimia (alchemist) ke rumah mewahnya bersama bibinya di Vienna. Pamannya Gustav, adalah seorang jenius yang bijak dan mulia, berkebalikan dengan bibi-nya Greta yang gila harta dan haus kekayaan, pemurung, penyendiri, meskipun pintar dibandingkan wanita-wanita pada masa itu. Beberapa bulan sejak kepindahan Jan kerumah pamannya, dia lebih sering menyendiri entah itu membaca dikamarnya atau berjalan-jalan di tengah kota. Pamannya terlalu sibuk dengan proyeknya sedangkan bibinya lebih sering mengurung diri di kamar. Hingga suatu hari, pamannya memutuskan inilah waktu yang tepat bagi Jan untuk belajar menjadi alkemis, maksud ini diungkapkan Gustav pada Greta pada suatu pagi. Gustav membangunkan Jan yang masih tertidur lelap dengan hari yang juga belum menampakkan semburat cahaya matahari. Setelah mengetahui kehendak dari Gustav, Jan dengan amat sangat senang mengikutinya keruang bawah tanah-laboratorium pribadi miliknya. Betapa terkejut dan bahagianya Jan dengan suasana, peralatan, dan semua yang ada dalam laboratorium Gustav. Yang nggak kalah mengejutkan adalah keberadaan sebuah taman mini di bawah tanah itu. dan gue masih belom bisa ngebayangin itu taman segede apa dan gimana bentuk2 dari tumbuhan disana. Gustav memulai pelajaran dengan mengajarkan arthropoda, lepidoptera pada Jan lalu dilanjutkan dengan penjelasannya mengenai sebuah serum-eliksir kehidupan dimana serum ini bisa menghidupkan kembali makhluk yang sudah mati. Jan takut akan dan sangat terpesona dengan kenyataan dari apa yang telah dilihatnya bahwa kupu-kupu yang sudah mati itu bisa sedikit bergerak ketika telah ditetesi serum. Kemudian Gustav memperlihatkan hewan kerdil hasil uji cobanya, merak kerdil betina yang cantik dan akan diberikan pada isterinya sebagai hadiah. Pada makan malam itulah si burung merak diberikan pada Greta dan pembaca bakalan pada tau kalau si tokoh antagonis dari novel ini adalah makhluk cantik ini. setelah mendengar cerita Jan, mengenai apa saja yang telah mereka kerjakan di laboratorium. Greta semakin takut bahwa dia akan semakin tersingkir dari mereka, dia menginginkan sesuatu yang dapat di jadikan emas. Para alkemis memiliki 3 tjuan dasar. Yang pertama, perubahan material-material biasa menjadi emas atau perak, bagi Gustav hal ini hanya sedikit bermanfaat bagi umat manusia “aku akan meninggalkan pencarian ini untuk kolega-kolegaku yang berorientasi pada materi” (ini jleb looh). Yang kedua, pencarian akan sebuah obat untuk menyembuhkan penyakit dan memperpanjang kehidupan manusia, yang merupakan tujuan dari serumnya. Ketiga, penciptaan manusia Gustav mengambil kain dari dalam lemarinya kemudian mengeluarkan akar mandrake. Kalian pasti inget bentuknya dari film Harry Potter, tanaman yang ketika kita menariknya keluar dari tanah dia akan berteriak nyaring sampai memecahkan kaca-kaca jendela (di film HarPot). Tapi di novel ini si akar mandrake bisa menciptakan manusia kerdil yang disbut homuniculus. Mulailah pekerjaan mereka, sebenernya sih novel ini mengisahkan si Jan yang pengen menghilangkan wabah Pes dan Greta yang kepengen jadi ratu di Praha. Nah, ketika Jan dan Gustav sedang fokus pada menhidupkan homuniculus, Greta mendapat kesempatan untuk menyelinap ke dalam laboratorium yang tidak terkunci, dia terkejut melihat betapa spektakulernya itu lab, dengan cepat dia mencari serum dan mengambil satu botol untuk dirinya sendiri. Greta nggak sengaja memabaca catatan pembuatan manusia homunulus, dia pun membuat homuniculus untuk dirinya sendiri dengan cara lain yang ada di catatan itu, sayangnya dia nggak menciptakan dengan anjuran-anjuran dari catatan itu seperti misalnya harus menggunakan telur ayam dia malah memakai telur burung meraknya dan pembelokan lainnya. Suatu pagi, Jan bangun dengan keterkejutan bahwa pamannya sudah menginggal di lab-nya. Hari dimana mereka akan mencabut akar mandrake mereka. Dari kematiannya Jan merasa ada yang mengganjal. setelah menguburkan pamannya, Jan memeriksan keadaan mandrake mereka yang ternyata telah raib. Entah diambil siapa, bahkan sampai akhir cerita itu akar mandrake nggak tau ilang diambil siapa. Beberapa minggu kemudian, bibinya sudah berkemas tepat setelah Jan kembali dari pelayatan. Hampir saja Jan tertinggal jika saja dia tidak bergegas pulang. Greta membujuk Jan untuk pindah ke Praha. Kota dimana Raja juga memindahkan kerajaannya dari Vienna ke Praha. Bibinya bilang bahwa mereka akan mengenalkan serumnya pada raja, sehingga mereka bisa mendapatkan emas dan memberantas penyakit. Perjalanan mereka di Praha pun dimulai. Dan disanalah Jan bertemu dengan si Angel, Zuzana.. seorang gadis cantik, secantik dan seputih boneka porselen. Waktu gue baca sinopsisnya gue kira si Zuzana bakalan caludih, dekil compang-camping gitu. Nggak taunya si Zuzana amat sangat cantik dan anggun, nggak cocok banget ada di kota Ghetto yang kumuh dan penuh penderita pes. Si Greta menghilang begitu aja waktu Jan lagi asik2nya menyaksikan atraksi dari seorang pesulap bijak gitu. Beruntung si serum yang udah dimodifikasi Jan nggak ikut ilang bareng Greta. Jan mengira kalau Greta diculik. Dalam dirinya sama sekali nggak ada dugaan bahwa Gretalah yang pergi ninggalin dia. Zuzana memberikan tempat persembunyian sekaligus sebagai tempat Jan untuk meneruskan modifikasi dan percobaannya pada serum. Tapi Zuzana juga menyembunyikan identitas dirnya sendiri. Yang disayangkan adalah si penulis nggak terlalu menjelaskan luka di tangan Greta waktu mereka kembali bertemu, juga nggak menggambarkan kisah Greta yang tersisihkan dari keluarganya. Kisah si Raja juga nggak begitu detail sperti kenapa keluarganya bisa dikutuk, atau kenapa waktu dia dinobatkan jadi Raja ada bintang biru yang jatoh. Cerita lebih terfokus pada Jan dan upaya si Greta untuk menjadi ratu. Poin bagusnya gue suka ini buku karena istilah ilmiah dan cerita-cerita sejarah yang ada. Serta pengalihan ide, tadinya gue nangkep ini serum bakalan ngeidupin orang mati, nggak taunya serum ini jadi obat untuk wabah pes pada jaman itu. dari latar belakang cerita ini kita bakalan tau kalau si penulis emang bener2 ngelakuin ekspolari mengenai Praha dan sejarah raja Ridolf II pada masa itu. novel ini ringan jadi pas buat anak2 SD ke atas ya SD kelas 6 laah hehehe. Soalnya ada kisah pembunuhan dan ide Greta yang jelek. Tanpa pengawasan orang tua anak-anak bisa terpengaruh bukan? Gue juga suka pada bagian Zuzana yang nggak suka calon suami bodoh, seperti kata dia: tentunya ini adalah tugas kita untuk memahami apa yang membuat roda berputar, berusaha untuk mengubah jalannya, untuk membuat kehidupan orang-orang lebih baik? Itulah kenapa aku mengunjungi Ghetto. Itulah kenapa Jan mengerjakan serumnya. Pasti ada sebuah harapan. Bahkan melalui hari-hari yang paling gelap, seperti bunga yang menyembul dari kuburan Rusalka, pasti ada harapan bahwa segala hal bisa berubah. (hal.204) Juga untuk kata2 Loew “kematian terus sj menguntit jalan-jalan mencuri jiwa-jiwa dari anak-anak kami saat mereka tidur. Kami kehabisan jari-jari untuk mentutup mata mereka, suara-sura untuk mendoakan jiwa-jiwa mereka, tangan-tangan untuk menggali kuburan mereka. Asap beracun dari tubuh-tubh mereka yang tak terkubur mengontaminasi lorong-lorong, dan hantu-hantu dari orang-orang yang telah dilubur menari-nari diatas batu nisan mereka, sebuah pengingat menyedihkan atas kegagalan kami menolong merka” pada si Raja atas kelambanan aplikasi janjinya untuk memberantas wabah pes. Sayang kematian Loew nggak terlalu dijealasin selain dari rumor yang ceritain beberapa orang. Menurut gue ucapan si Loew ini bisa kita pake buat ngingetin kita dengan apa yang udah kita lakuin untuk membantu mereka yang susah di Indonesia, bukan cuman susah dari segi materi tapi juga susah dari segi fisik maupun batin. Hei... bukan kah di Indonesia ini banyak sekali wabah penyakit yang tidak diberantas, gue rasa harus ada dari keluarga atau orang terdekat kita dulu yang menderitanya baru kita tergerak buat nolong..... Bukankah lembaga-lembaga masyarakat, yayasan-yayasan yang ada saat ini pada awalnya lebih banyak yang didasari cerita pahit dari keluarga atau dirinya sendiri? Seperti misalnya anggota keluarganya ada yang menderita kanker hati lalu meninggal karena kurang dana dan fasilitas, baru mereka bergerak mendirikan yayasan untuk membantu kasus serupa. Coba kalau itu nggak pernah terjadi apa yayasan itu tetep bakal lo diriin? Gue rasa belom tentu, keinginan boleh saja ada tapi aplikasi tanpa dorongan yang kuat gue rasa bakal lama terwujud. Gue berharap pada diri gue sendiri bahwa gue nggak kepengen motivasi membantu orang itu bukan berasal dari hal yang sangat pahit seperti kehilangan... gue pengen punya kepekaan yang bagus dan keberanian buat jalan. GOING!! Kepekaan tanpa keberanian gue rasa bakal percuma, sama seperti pisau atau ilmu yang nggak diasah atau di tambah.. lama-lama percuma bahkan bisa ilang. Jangan jauh-jauh ngebayangin ngasih duit atau apalah, seperti ngasih tempat duduk di busway buat ibu-ibu ato lansia aja udah lumayan, apalagi dengan bersikap tidak menyusahkan dan bermalas-malasan. Berapa banyak sih pengemis palsu? Gue kepengen keluar rumah tuh berasa aman. Gue masih maklum sama pengamen, ya mereka masih ada yang bisa dijual-lah seperti suara meski kadang sura jelek aja mereka jual, maksa dibeli lagi hahaha..... Ya bisa kan memaksakan diri bekerja? Jadi sukarelawan aja udah kerja. Emang sukarelawan nggak ada duitnya. Tapi tetep dapet makan kan? Bukankah di bus-bus kalian bilang “untuk sesuap nasi pak” sama kan? Sukarelawan jauh lebih mulia dari pada meminta-minta. So, gue harap kita bisa buat kemajuan yang berarti. Novel ini ditutup dengan kisah happy end, dan emang layak buat dibaca. Secara keseluruhan penuh ilmu dan pesan moral. Dari keinginan Jan jadi dokter dan gimana Jan serta Zuzana sama-sama memegang janji. Pokonya novel ini BAGUS!!!!! Empat bintang buatnya. Thanks for the story Joanna Owen, novel pendidikan, misteri yang ringan dan mudah dimengerti :)
The descriptions of alchemy workshops,Prague in the 1500s,and the cabinet of curiosities drew me in. Jan’s parents have died in the Black Plague and he is being raised by his alchemist uncle Gustav and mysterious aunt, Greta. Descriptions of Natural Magick practices of Gustav and apprentice Jan as they hunt for mandrake and try to create the elixir of life are intriguing. Weaving historical events, folktales, and illustrations throughout the text develops a rich sense of place and mood. The folktales provided a array of storytelling focused on bringing inanimate objects to life-perfect fodder for an exploration of Czech stories. I enjoyed Jan’s journey with the help of Zuzana, but some major plot points are rather predictable. This book would appeal to young fans of magical realism who yearn for dark fairy tale adventures.
The rating I gave maybe low, but it's not mean that its so bad to make me tore my hair out or wanted to slam the book to the wall (tho, I can't, because I read it as an e-book). I've encountered books that latter I will give 2 stars and made me mad as I currently read it. But this on isn't. I would actually give it 3 stars, but 3 stars was also too much.
I see the writer were trying to use classical literature kind of writing voice, but the implication is not so well. It feels flat, redundant, and sometimes jumpy? (skipping between one action to other action of the characters constantly like without a bridge).
Cliche, yet also anti-climatic. I love the vibe is gothic and center around alchemy, but its could be better. I can see some people will like it, but clearly it's not for me.
I enjoyed the folk tales that were interwoven into the story. They added to the story but also worked well as a stand alone aside. I strange little tale of the perils of the quest for the elixir of life.
Menemukan novel di sebuah toko buku diskon di tengah-tengah pusat pertokoan di kota Palembang seharga 27ribu rupiah. Sangat murah dari harga asli, 60 ribu rupiah. Novel ini sudah setahun yang lalu terbit. Saya mengira novel The Alchemist yang ini sama dengan novel The Alchemist yang tersohor itu. Setelah saya cek di Goodreads, ternyata banyak sekali judul novel yang serupa. Sedikit merasa kecewa but setelah dibaca sampai habis hasilnya tidak terlalu mengecewakan.
Berlatar belakang Praha dan Vienna (Wina, Austria) pada abad ke-16 masehi dibawah kepemimpinan Kaisar Rudolf II. Membaca novel ini membawa kita ke masa-masa sejarah dimana sains, mitos, dan sihir sangat berkembang pada masa itu. Jan, seorang pemuda yatim piatu memiliki seorang paman bernama Gustav, seorang alkemis (ahli kimia), ahli anatomi, dan ilmuwan alam yang sangat termasyur di Vienna, meminta bantuan Jan membuat serum pemberi kehidupan, menghidupkan kembali yang tidak bernyawa. Namun secara tiba-tiba pamannya ditemukan tidak bernyawa lagi pada suatu pagi. Jan bertekad meneruskan cita-cita pamannya seorang diri. Setelah kematian pamannya, Jan hidup bersama istri pamannya (bibinya) bernama Greta. Bibinya memutuskan pindah ke Prague (Praha) dan Jan membersamainya.
Di Praha, di bawah kepemimpinan Kaisar Rudolf II, terjangkit wabah pes yang mematikan para penduduknya. Di kota itu Jan bertemu dengan Zuzanna yang merupakan anak dari Kaisar Rudolf II. Mereka berteman baik, selama di Praha Zuzanna lah yang membantu Jan. Zuzanna dikenal sebagai malaikat bagi penduduk penderita pes. Sampai suatu hari serum yang dimiliki Jan bisa menyembuhkan pes seorang anak kecil bernama Miriam.
Singkat cerita, Jan dipanggil menghadap Kaisar untuk menunjukkan kebolehan serum yang dimilkinya. Di tempat itu Jan bertemu dengan bibinya yang sudah lama menghilang. Di luar harapan Jan, bibinya memfitnah Jan sebagai pencuri rantai emas milik alkemis kenamaan di kota itu. Selain itu, bibinya juga menciptakan burung berwujud setengah manusia untuk menghancurkan Jan dan mengambil alih kekuasaan beserta harta Kaisar Rudolf. Tidak berhenti sampai di situ, fakta lain yang tidak kalah mengejutkan bahwasanya bibinya, Greta yang membunuh paman Jan dengan meracuninya melalui media kupu-kupu.
Dugaan pembunuhan Jan terhadap alkemis itu tidak terbukti. Bibinya, Greta mengalami nasib sial. Burung-burung setengah manusia yang diciptakannya sendiri menyerangnya bertubi-tubi hingga dia tak sadarkan diri. Di akhir cerita, Jan dan Zuzanna makin akrab, keduanya berbahagia...
Overall, saya suka ceritanya, tidak membosankan. Alurnya jelas, endingnya jelas, tokohnya variatif, ada antagonis dan protagonis. Ini novel terjemahan, saya sudah menduga-duga pasti akan menemukan paparan-paparan vulgar. Tetapi saya salah besar, dari awal sampai akhir novel ini CLEAN dan saya sangat suka.
The Alchemist and the Angel by Joanne Owen is a story of Jan, a young man finding his place in the Prague scientific community in the wake of his beloved uncle and mentor’s unexpected death. He meets the beautiful and mysterious Zusanna that changes how he views the rest of society and drives him to see the good in others and work toward the betterment of all while remaining completely ignorant another nefarious person that is also guiding his path in life.
This plotline probably comprised a generous third of the book. Rather, most of the book is an eloquent description of Prague’s streets, its history in the late 1500s under the rule of King Rudolf II and his many idiosyncrasies, whose family history is described by the author with liberty, and common Czech folklore that resonates with other popular common YA fantasy books and television. Upon initially reading the synopsis of the book, it seemed like it would indeed be a YA fantasy novel, but it turned out to be for a younger audience than expected.
While Owen has obviously done her homework on Prague’s history and folktales, the main storyline is predictable and short-lived. She uses an interesting style, reminiscent of J.K. Rowling’s Harry Potter and the Deathly Hallows by interweaving tangentially related folklore (think the Tales of Beetle the Bard, also by Rowling) into key points in character and plot development. While the folk tales add to the richness of an immersive experience into Prague, the overall story fell flat and felt especially rushed in the last few chapters, culminating with a rather abrupt ending.
It is apparent that Owen’s true discipline is anthropology and archaeology through her eloquent descriptions of the dark alleys and numerous spires dotting the skyline of Prague along with its strong ties to alchemy, however, her characters were minimally developed and the plot fills little more than a short story. Despite this, it is an enjoyable read for anyone interested in Prague, the Holy Roman Empire, royal genealogy, or the origins of alchemy.
Jan lives with his aunt and uncle. His parents died of the plague and he had to leave his home village and move to Vienna. At first he is, understandably withdrawn and upset, but after a few months his uncle suggests that he help out and become his apprentice. At once Jan begins to perk up, maybe he can become an alchemist doctor and help to cure people suffering from the plague.
I loved the design and layout of this book. The main story is interspersed with drawings and other tales which fill out the world Owen has created. The main plot itself, revolving around Jan, promised a lot more than it delivered. It felt thin and lacked the detail that would have brought it to life for me. It felt, in many ways, almost like an outline of what would happen. It is a huge pity, because this could have been a really great book.
It is, in many ways, a predictable story. You know from the outside who is going to turn out to be the *bad guy*. Actually, it was really unfortunate that that particular character was the black hat, because I found that particular character the most interesting of the bunch. And in the beginning I had quite a lot of empathy for them. I mean, you could really understand their frustration and annoyance at always being left to one side.
Still, even with those negative aspects, I did enjoy this book. I read it almost in one sitting, and there were some lovely little touches that really made me like the book. I’ll be certain to keep an eye out for more by this author in the future.
I pretty like this book. Berlatar di Praha dan Vienna abad ke-16, novel ini berkisah tentang Jan dan pamannya Gustav—ahli anatomi, ilmuwan alam, dan alkemis—yang bergelut pada serangkaian instruksi kuno untuk menemukan eliksir kehidupan. Saat membaca bagian pertama, perasaanku menggebu-gebu dan antusias, isi laboratorium Gustav yang luar biasa buat aku kepincut untuk terus membaca, meskipun setelah selesai membaca bagian pertama ending novel ini bisa diprediksi dengan mudah. Entah mengapa, bagian kedua novel ini kurang membuatku tertarik, padahal pertemuan penting Jan bersama sejarawan Eropa lainnya seharusnya menjadi momen yang mengesankan karena impian Jan tak lama lagi terwujud. Sampai ke bab akhir pun aku merasakan hal yang sama, perseteruan yang terjadi antara Jan dan pemeran antagonis tidak terlalu seru, ending novelnya juga terkesan terburu-buru. Namun, terlepas dari semua hal itu. Novel ini cukup mengesankan, perhatianku tertuju sama Lemari Benda-Benda Aneh Rudolf—yang sayangnya tidak terlalu dijabarkan—dan instruksi unik yang mereka lakukan seperti pembuatan serum, penciptaan homonculi, dan yang lainnya. Kedua hal itu menurutku sangat unik dan menarik. Selingan kisah-kisah pendek dan ilustrasi di novel ini juga menjadi pemikat yang keren bagi aku. Secara keseluruhan, aku menyukai novel ini. Tiga bintang untuk cerita dan alurnya yang unik.
Lumayanlah ceritanya. Cuma kadang-kadang bosan dan sebal juga karena selalu ada selipan dongeng di tengah bab-bab tertentu, imajinasi dan konsentrasi yg dipusatkan pada cerita yg sedang berlangsung langsung buyar tiap kali sampai di bagian dongengnya. Pada beberapa kesempatan di saat sampai pada bagian dongeng, niat utk meneruskan membaca langsung surut seketika dan buku ini pun diletakkan dan dibaca dan diletakkan lalu dibaca lagi, terus begitu selama 2 hari.
Dilihat dari ending yg terlalu singkat, tampaknya pengarangnya terburu-buru utk mengakhiri cerita ini, bandingkan dgn bab-bab awal yg terkadang cukup bertele-tele. Dan entah kenapa aku tidak begitu suka dengan gaya penulisan pengarang di bab-bab awal, terlalu berbunga-bunga. Yg menarik dari buku ini adalah ilustrasi-ilustrasi yg diselipkan dlm bab-babnya, dan juga ide menciptakan makhluk hidup jenis baru.
I did love this book. The way Owen has written it is beautiful, and makes it all a better book. The folk tales interwoven into the book makes it interesting, and I did enjoy them very much. The book seems to be researched with great care and wholly, making it a startling book to read.
However, I did not give it 5 stars because the story takes a while to get going, and reaches the climax only a couple of chapters from the end. It felt as if this book had been written in lots and lots of detail at the beginning, and then hastily rushed in the last part, especially the last chapter.
I plan to read more of Owen's books in the future, and I hope she writes more - she has a great talent with words and writing.
Butuh waktu 9 hari untuk menyelesaikannya. Termasuk waktu yang lama untuk 1 buku yang ketebalannya hanya 300-an halaman. Itu artinya, buku ini sedikit membosankan bagiku.
Membacanya sama kayak baca dongeng kuno untuk pengantar tidur anak kecil, namun dengan alur yang lebih lambat, membuat cerita ini berhasil menjadi sebuah novel. Sejujurnya ceritanya menarik dengan beberapa hal yang berkaitan dengan sejarah. Banyak pesan moral yang mengisi buku ini dan dongeng - dongeng tambahan yang sebelumnya belum pernah aku dengar.
Secara keseluruhan, aku tetap menyukai buku ini. Meskipun di awal sedikit membosankan, tapi aku tidak bisa memungkiri bahwa buku ini bagus :) itulah sebabnya aku memberi rating 3!
Untuk selengkapnya akan direview di blog pribadi ku.
2.5 stars: I was expecting more of an elaborate magical adventure, and instead I found myself reading a series of short fairytales and legends interspersed with the central story of Jan, the apprentice Alchemist.
The Alchemist and the Angel themselves, however, were actually given very little page-time. While the legends were enjoyable, I would have liked more detail and development of the central storyline, and characters. It seemed like Jan's story was more of an outline than a full-fleshed book.
That said, the illustrations in this book were amazing. I loved them, and the layout of the book. That made it worth picking up, though I'm glad this was a library copy.
Saya cinta buku ini, Gaya cerita joanne unik, suka sisipan dongeng juga banyaknya ilustrasi didalamnya.
Like melted chocolate on lava cake. Suprising!! jd pengen trus baca sampai habis.
saya suka banget campuran dr dongeng yg agak gelap banyak menyangkut kematian dan darah. Cerita ini bukan sekedar fiksi atau dongeng sebelum tidur biasa. Buku ini disusun berlandaskan sejarah kelam daratan eropa saat wabah pes merenggut nyawa banyak org ditengah kesuksesan ilmu pengetahuan.
Saya kasih bintang 4, karena akhir buku ini terlalu singkat, knp gak dibuat series. Masïh penasaran dengan petualangan jan sang alkemis muda bersama zuzana putri kaisar yg baik hati. :)
Joanne Owen has woven an interesting tale around an interesting piece. The characters are quickly drawn in and the reader is obviously asked to emphasise with young Jan. Although the story has almost been done to death for young readers, alchemy etc, in this instance the history of Ludwig and the plague add another interesting element to the story.
This is definitely written for the teenager, not adults, so I did find myself swiftly reading through some parts. I did enjoy the drawings and other illustrations throughout the story. I think they appeal to any age.
Cerita lain tentang alkemis dan Praha. Kalau ada alkemis pasti ada eliksir kehidupan. Kalau ada Praha pasti ada golem.
Saya jadi penasaran eliksir kehidupan sama golem itu beneran ada gak ya? Gimana rasanya hidup di Praha pada zaman itu ya?
And salah satu hal yang paling saya suka dari buku ini adalah ada banyak dongeng yang sengaja diselipkan di antara petualangan para tokoh utamanya. Dongengnya dituliskan dalam format khusus sehingga rasanya seperti membaca manuskrip. Keren deh.
Belakangan buku dengan tema Alchemist mulai bertebaran. Setiap buku mengusung tema yang nyaris sama namun menawarkan cerita yang beragam. Demikian juga buku ini. Dalam buku ini lebih ditonjolkan mengenai penciptaan makhluk hidup dari berbagai sumber seperti lumpur, kayu bahkan dari tanaman Mandrake
BUKUNYA KEREEEN!! Jadi pingin asuk ke jaman dulu.. penasaran banget, bener gak sih jaman dulu itu penuh dengan penyihir? Bener gak sih ada ramuan yang bisa menghidupkan orang atau ramuan pengubah sampah jadi emas..
Kalau beneran begitu, kenapa kok sekarang gak ada yang namanya alat pengubah sampah menjadi emas? Kan lumayan tuh, mengurangi dampak global warming.
berarti orang jaman dulu itu lebih PINTAR dari pada orang jaman sekarang kali ya.. hehe :P
3 1/2 but I'll round it up. That half was lost because of Zuzana proclaiming herself to be the Angel of the Ghetto among other things (seriously who does that? ever heard of modesty?) But it was a nice read and I loved the magical feel to it and the settings. Greta made a fabulous villain but the fact that the only woman with a desire to be included in a very male profession was a "baddie" was very unsavoury to the equalitist inside.
This entire review has been hidden because of spoilers.
sebenarnya ceritanya menarik hanya saja karena banyak "dongeng" yang terselip membuat alur ceritanya terasa sangat lambat IMHO yang bisa mengakibatkan pembacanya bosan dan mengskip "dongeng" tersebut.
Oke, buku ini...membosankan. I really like fast-paced books, but this one is so slow and...i just lost interest in it. I read until 100-something and skipping it to the last chapter. The idea and cover is nice, so it was okay i guess.
I found the story a little bit slow to get started, but the attention to historic detail was interesting and I liked the little folk tales that appeared throughout the text.