"Yang segar dari bawah tanah kota Bandung, komik yahud beraroma gembira."
Engkus Kusmiran datang lagi! Dengan Pamali #2. Dengan lebih banyak komik tentang Pamali. Dengan lebih banyak kisah Pamali. Dan tidak dengan lebih banyak lubang hidung!
"Jangan duduk di atas bantal. Pamali. Nanti bisulan," kata ibu ikan kepada anak ikan. Anak ikan bilang, "Ibu, istigfar, Bu. Coba Ibu introspeksi deh... Kita kan gak bisa duduk!"
Budaya Pamali itu keren, ganjil, sekaligus indah. Maka... Sebelum hilang tersapu waktu, dan lenyap dilahap negeri tetangga, lebih baik kita rayakan, untuk sekadar membuat ingat. Agar norma kembali berharga. (Norvan Pecandupagi, 050809)
Tetap lucu dan "garing with a style" :-) Namun terpaksa diturunkan jumlah bintangnya menjadi 3 (dibandingkan 4 bintang untuk Pamali #1) dikarenakan: 1. bagaimana pun tidak selucu Pamali #1. Ya begitulah nasib sekuel. 2. di halaman belakang buku, di bagian "Bonus Trip", diceritakan pertemuan Penulis "Pamali" dengan Dada Rosada, Wali kota JAWA BARAT. Apakah Jawa Barat saat ini sudah menjadi kota? ckckck.
The Best "Garing" Moments: 1. Pamali kalau difoto bertiga, karena salah satunya akan mati. Maka tambah satu orang lagi deh, dan mereka mati semua. 2. Pamali jarang datang kalau diundang ke perkawinan, si anjing membantah krn kalau anjing kawin kan memang nggak ngundang-ngundang. hehehe....
Sekian.
NB (Nambah Berita): Dada Rosada adalah walikota Bandung untuk periode 2003-2008 dan 2008-2013. Beliau juga pernah menjabat Ketua Umum Persib Bandung pada tahun 2002-2009.
Jangan duduk di bantal, nanti pantatnya bisulan. Jangan keluar rumah saat magrib atay senja hari, nanti digondol setan. Jangan duduk di atas meja, jangan makan di depan pintu, jangan menebang pohon yang rindang, jangan begini dan jangan begitu nanti ini dan anu.
Kita sepertinya sudah akrab dengan berbagai pamali atau pantangan di atas. Terutama bagi yang sempat mengalami era 90-an ke bawah, pasti koleksi pamali yang pernah didengarnya lumayan banyak. Bila dipandang dengan sudut pandang manusia modern dan logika, memang pamali ini kayak nggak ada hubungannya, nggak logis banget, sekadar omong kosong. Apa coba hubungannya duduk di atas bantal dengan bisul di pantat? Atau, masakan yang terlalu asin menandakan seseorang pengen cepat menikah. Hubungannya dimana?
Tetapi mari coba kita lihat dari sudut pandang Paman Iroh atau Dumbledore deh *halah jauh banget" Maksudnya kita pandang pamali ini dari kaca mata kearifan. Orang zaman dulu sering kali mendapatkan kearifan dari pengalaman, kadang ilham. Banyak yang kemudian tidak mampu menjelaskan alasan di balik dilarangnya sesuatu secara gamblang, padahal itu benar adanya. Siapa tahu, pamali menjadi cara ampuh untuk menjawab pertanyaan "mengapa tidak boleh?" dari orang zaman dulu, yang mungkin bila dijelaskan secara logis pun belum tentu dia mudeng.
Dengan demikian, pamali menjadi jalan pintas untuk menjelaskan sesuatu yang sulit dijelaskan atau mungkin yang dijelaskan susah untuk memahaminya. Ibaratnya, caranya bisa bermacam-macam asalkan tujuan baiknya tercapai. Kita yakin, pamali - pamali ini juga dibuat untuk tujuan baik semata. Sebagai warga yang katanya modern dan memiliki akses mudah ke sumber-sumber ilmu, mari kita mulai memandang pamali atau pantangan ini dari substansinya.
Siapa tahu, dilarang duduk di atas bantal tidak diperbolehkan karena bantal adalah tempat istirahatnya kepala saat kita tidur. Jangan pergi saat senja hari adalah upaya melindungi diri dari musibah kecelakaan karena pergantian hari adalah saat ketika mata masih menyesuaikan diri dengan perubahan cahaya dari terang ke gelap sehingga mungkin akan silap sejenak. Dan, siapa tahu juga, masakan asin bukan tanda seseorang ingin segera menikah, tetapi dorongan agar anak mau belajar masak jika tidak ingin segera dijodohkan.
Jangan baca buku nomor 2 sebelum yang nomor 1. Pamali. Nanti bingung.
Sebelumnya, saya tidak akan membaca buku tidak dari nomor pertama juga. Tapi karena buku pertamanya toh tidak ada, sepertinya tidak nyambung juga, ya sudahlah :p
Jujur saja saya membeli buku ini hanya karena harganya murah. Tipis, bergambar, dan hanya 7500 rupiah, tentunya bukan pilihan yang akan ditolak. Setidaknya, di saat sedang membutuhkan bacaan yang ringan dan cepat, terutama untuk kejar setoran reading challenge di akhir tahun, buku ini akan dengan mudah diputuskan untuk dibaca.
Ciri gambarnya seperti kartun di koran, ya cocoklah untuk modelnya yang toh hanya sepotong cerita pendek untuk setiap pamali. Di setiap percakapannya juga ada terjemahan, sepertinya dalam bahasa sunda, meski saya tidak tau terjemahannya tepat atau tidak. Komentar-komentar pepatah tidak nyambung juga sering diselipkan. Sayangnya terlalu sering hingga terasa repetitif dan tidak lucu. Beberapa lelucon selain pepatah juga diulang-ulang, meski saya juga tidak yakin terasa lucu bahkan saat pertama digunakan. Tapi yah, sebagai bacaan ringan, tidak jelek juga. Cukup untuk sekedar refreshing dengan melihat gambar-gambar sederhana dan pamali-pamali yang mungkin belum kita ketahui sebelumnya.
The Pamali is back! Yeah. Atas nama kebudayaan, Pamali jilid dua hadir kembali menguak mitos-mitos yang berarti pantangan untuk dilakukan. Bagaimanapun, Pamali adalah cerminan budaya bangsa yang kini sudah semakin terlupakan. Arus modernitas yang menimpa hidup kita ikut berperan dalam degradasi nilai-nilai moral dalam masyarakat.
Kembalinya Pamali mengingatkan kembali pada kita semua. Bahwa, sebagai bagian dari kebudayaan dan kearifan lokal, pamali tetap harus dihargai dan ditempatkan sebagai kekayaan bangsa. Terlepas dari isi, muatan, atau esensinya. Sebelum pamali diakui sebagai hasil pemikiran dan kebudayaan negara tetangga.
Pamali #1 dan #2 saya beli langsung dari Lygia, saudara almarhum. Terus terang, saya suka membaca buku tentang mitos seperti ini. Saking sukanya, sekarang saya sedang menggarap naskah yang berhubungan dengan mitos juga (nyambung nggak komennya?:)). Buku yang menarik. Saya tuntas membacanya dalam waktu singkat.
belum baca pamali yang pertama, aku sudah baa pamali #2 ini. berisi beberapa pantangan alias mitos yang berlaku di masyarakat kita. oleh norvan mitos-mitos itu diramu menjadi cerita yang lucu. tapi menurutku sih garing. namun yang jelas, di penghujung komik norvan menyampaikan pesan bahwa mitos sebetulnya dibuat supaya kita punya aturan hidup.
Hyah... numpang baca juga di Gramedia Plangi. Sengaja cari komik atau novel grafis kalo mo numpang baca, biar ga kelamaan berdiri.
Wahai Gramedia Plangi, tolong sediakan tempat duduk seperti di toko buku Gramedia lain, biar para penumpang gelap macam aku bisa membaca gratis dengan nyaman...
tau komik pamali ini justru pas baca berita kalo penulisnya meninggal (bener ga sih?). kalo bener, sayang sekali :(. komiknya sendiri enak dibaca sbg bacaan ringan sambil nunggu busway. btw, nemu ini di rak obral seharga 10.000
Beli pas diskon 40%. Lucu juga soal pamali di Indonesia, dibalut kelucuan tapi diakhir juga ada beberapa kisah soal pamali ini. Saya kurang suka ilustrasinya aja sih.