"... Inilah saat paling bersejarah bagi umat manusia, ketika jarak dan waktu tidak lagi menjadi penghalang. Inilah saat paling bersejarah bagi saya, sebagai pencipta mesin Transpondex, mesin yang dapat membawa manusia melintasi dimensi, waktu, dan jarak. Rekaman ini akan menjadi saksi mata dimulainya era baru dalam sejarah umat manusia."Dr. Suhendra (pencipta mesin Transpondex) Semua berawal dari peristiwa kematian istrinya. Dr. Suhendra, ayah Rima terobsesi untuk memutar balik waktu. Ia berhasil menciptakan mesin berteknologi luar biasamesin Transpondexyang dapat membawa manusia melintasi dimensi, waktu, dan jarak.Tujuan awal hanya untuk menemukan istrinya yang hilang dalam sebuah penerbangan internasional harus dibayar Suhendra dengan sejarah yang tertukar. Rima, putri semata wayangnya memutuskan mencari ayahnya yang terlempar ke masa depan. Ia tak pernah menyangka, perjalananannya melintasi dimensi, waktu, dan jarak, justru membawanya pada sebuah jawaban yang selama ini ia cari: siapakah cinta sejatinya. Namun, apa jadinya, jika jawaban itu adalah Arjuna, lelaki yang justru berasal dari masa depan? Ketika dimensi, waktu, dan jarak berhasil dilintasi, sejarah pun berubah. Tapi, ada sesuatu yang tak pernah bisa diubah; takdir.
I was very disappointed when I finished and closed the book. I appreciate enough for an Indonesian author to write fantasy fiction. But sorry to say, but the combination of ancient story of Wayang, Adolf Hitler and futuristic thing is pretty much the lamest thing I've ever read. Oh never again I'll read this book.
Saya membaca buku ini saat saya masih kelas 7. Bagi saya waktu itu, buku ini sangat memukau dan orisinil, tokoh-tokoh pewayangan digabungkan dengan latar waktu dan tempat di masa depan. Mungkin buku ini yang membuat saya sangat menyukai genre fantasy. Jika sekarang saya membaca ulang buku ini, mungkin penilaian saya akan berbeda. Tapi saya rasa, buku ini patut untuk dicoba.