Jump to ratings and reviews
Rate this book

The O Project

Rate this book
The Orgasm Project lahir dari rentannya kedaulatan tubuh perempuan karena mitos dan ketabuan. Berbasis cerita orgasme berbagai perempuan dari Aceh, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar, penulis membahas seksualitas dengan menyeluruh.

Dari sunat perempuan, mitos keperawanan, tingkat kebugaran, perilaku seks aman, masturbasi, sex toy, keberagaman orientasi seksual dan identitas gender, dengan narasi yang memikat.

Proyek ini berhasil membongkar kebisuan perempuan terhadap kenikmatan seks dan orgasme.

138 pages, Paperback

First published March 27, 2010

15 people are currently reading
180 people want to read

About the author

Firliana Purwanti

3 books20 followers
Firliana Purwanti lahir di Jakarta pada 3 Juli 1977.

Semasa kuliah penulis aktif di ASEAN Law Students’ Associations dan English Debating Society – Universitas Indonesia. Meraih gelar sarjana hukum pada 2001 di Universitas Indonesia, Depok. Menekuni isu hak asasi manusia perempuan sejak tragedi perkosaan massal terhadap perempuan Tionghoa saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarta. Pengetahuan dan perspektif penulis tentang gender dan feminisme didapat saat bekerja di Pusat Kajian Wanita & Gender Universitas Indonesia pada 2001-2003.

Kemudian mendapat gelar master hukum bidang hak asasi manusia di Universitas Utrecht atas beasiswa pemerintah Belanda, STUNED. Ia belajar menulis narasi panjang yang memikat di Pantau, Jakarta, pada Agustus 2008.

Maraknya peraturan daerah yang membatasi otonomi tubuh perempuan membawa penulis ke isu seksualitas. Firli adalah lulusan kursus gender dan seksualitas GAYa NUSANTARA di Surabaya pada Juli 2009 dan Summer Course on Gender, Sexuality, and Culture di Amsterdam Universiteit pada Juli 2010.

Firli pernah tinggal di Albuquerque, New Mexico, Amerika Serikat, 1994-1995 dalam rangka program pertukaran pelajar AFS, Brisbane dan Toowoomba, Queensland, Australia dan Batu, Malang, Jawa Timur Oktober 2000 – Februari 2001 dalam rangka program pertukaran pemuda Australia – Indonesia (AIYEP), Utrecht, Belanda 2003-2004 untuk menyelesaikan program masternya, dan Banda Aceh 2008 – 2009 dalam rangka tugas.

Pernah bekerja sebagai Senior Development Programme Coordinator di New Zealand Aid Programme di Jakarta selama sepuluh tahun. Sejak akhir 2021 sampai dengan 2024, ia tinggal di Kanada dan bekerja untuk Ontario Ministry of Attorney General.

Penulis dapat dikontak melalui e-mail: firliana.purwanti@gmail.com atau Instagram @firlianathewriter

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
33 (26%)
4 stars
35 (28%)
3 stars
42 (33%)
2 stars
13 (10%)
1 star
2 (1%)
Displaying 1 - 30 of 36 reviews
Profile Image for Tenni Purwanti.
Author 5 books36 followers
November 8, 2013
Jangan pernah baca buku ini di tempat umum/kendaraan umum, sebab masyarakat Indonesia memang masih menganggap seks itu tabu, sehingga saya sempat risih baca buku ini selain di rumah. Ada saja mata yang mengintai isi buku saya, karena menemukan kata seks dan orgasme. Untung judul bukunya tidak gamblang misalnya 'The Orgasm Project' tapi disingkat menjadi 'The O Project' sehingga saya masih sedikit aman membacanya di kantin kantor.

Buku ini memang membahas seks terutama orgasme secara lugas. Tapi bukan saru apalagi porno. Pembahasan lebih ilmiah, dilengkapi dengan data-data dari berbagai institusi terpercaya. Tak hanya itu, penulis juga mewawancara banyak perempuan dari berbagai daerah di Indonesia. Hanya untuk menanyakan, apa itu orgasme menurut mereka? rasanya seperti apa? bagaimana cara meraihnya? Sebab, selama ini orgasme merupakan sebuah kebisuan, yang tabu untuk diungkap dari mulut perempuan, terutama di Indonesia.

Pembaca akan menemukan pembahasan lengkap soal seks dan perempuan, mulai dari sunat perempuan, mitos keperawanan, tingkat kebugaran, perilaku seks menyimpang, masturbasi. sex toys, keberagaman orientasi seksual dan identitas gender. Semuanya dibahas dengan cara yang menarik. Itulah mengapa saya merasa buku ini perlu dibaca perempuan Indonesia, bukan hanya edukasi tentang seks, tapi sekaligus sebagai wadah refleksi kehidupan seks mereka (bagi yang sudah aktif secara seksual).

Ada beberapa hal yang ingin saya kutip:

"Seperti yang dikatakan Lia (salah satu narasumber), mitos tentang keperawanan itu tidak adil. Mitos itu mempengaruhi hasrat perempuan dengan menanamkan keraguan dan kecemasan pada diri perempuan sehingga perempuan tidak bebas mengendalikan tubuhnya sendiri. Kalau perempuan memilih untuk menikmati hasratnya, ia dianggap perempuan nakal atau gampangan. Sedangkan kalau laki-laki mengekspresikan seksualitasnya, ia dianggap jantan. Mitos keperawanan menjadi alat kontrol masyarakat terhadap seksualitas perempuan hingga perempuan tidak mempunyai kedaulatan atas tubuhnya sendiri." - halaman 30.

"Pendidikan seks sudah tercantum dalam kurikulum pendidikan nasional. Namun, Wati Darwisyah dari World Population Foundation mengatakan bahwa pendidikan seks yang dipromosikan pemerintah masih masih bersifat fear-based dan abstinence. Pendidikan seks berbasis rasa takut, dengan cara menakut-nakuti remaja agar tidak melakukan seks sama sekali sampai menikah. Program ini hanya membicarakan aspek negatif dan berbahaya seks dan membesar-besarkan rasio aktivitas seksual agar seks tampak begitu menakutkan. Sedangkan abstinence mengajarkan remaja bahwa tidak melakukan hubungan seks sama sekali sampai menikah adalah cara terbaik untuk mencegah HIV-AIDS dan infeksi menular seksual lainnya." - halaman 106.


Membaca buku ini, saya jadi berharap suatu hari Indonesia bisa menjadikan pendidikan seks setara dengan pendidikan sains, olahraga, atau bahasa Indonesia. Dalam artian, dianggap sama penting, sama-sama perlu diketahui oleh pra remaja dan remaja. Bukan berarti melegalkan seks bebas, tetapi justru memberi pemahaman bagi mereka tentang seks sehingga mereka bisa memilih untuk melakukan atau tidak melakukan, atas dasar pemikiran sendiri, yang logis dan bertanggung jawab.

Isi dalam buku ini pun sebagian besar belum pernah saya ketahui sebelumnya. Artinya, perempuan (yang boleh dikatakan) well educated seperti saya saja, masih salut akan kelengkapan buku ini. Saya membacanya tanpa nafsu birahi, melainkan justru nafsu keingintahuan yang besar akan dunia saya sendiri, dunia perempuan dan kehidupan seksualnya.

Saya berhasil teredukasi.
Profile Image for ijul (yuliyono).
815 reviews971 followers
May 1, 2010
Jangan takut disebut perempuan nakal karena bicara seks (hlm. 114)

Buku riset tentang kenikmatan pencapaian orgasme perempuan dengan metode wawancara pada beberapa narasumber dan dukungan fakta-fakta ilmiah, penelitian, survey, pemberitaan media, hingga pernyataan tokoh-tokoh yang "dianggap" berkompeten di bidang masing-masing.

Buku yang oleh penulisnya dimimpikan bisa mencapai tujuan, agar setiap perempuan menikmati seks yang menyenangkan dan aman ini begitu terbuka, dan (bagi saya pribadi) dengan kata-kata yang sangat vulgar. Tak ada lagi ruang samar, semua benar-benar dibuka. Selebar-lebarnya.

Buku ini bagus sebagai pengungkap segala mitos seks perempuan, tapi terlalu kebablasan bagi saya. Entah karena saya seorang laki-laki, entah saya ingin menggenggam segala aturan ukhrowi dari agama saya, entah saya yang dari kecil dididik dengan segala macam larangan seputar seks, sehingga banyak sekali fakta-fakta yang saya tidak setujui (saya ingkari). Maka saya hanya memberikan rating 2,5 (sangat subjektif pribadi saya sendiri)

Buku yang diriset dalam jangka waktu kurang lebih setahun ini cukup vokal membicarakan segala pernik seks perempuan yang kesemuanya ditautkan dalam satu kata, orgasme. Pertanyaan utama yang terlontar setiap wawancara biasanya, "Kalau orgasme rasanya seperti apa sih?" Makna dan rasa orgasme dipertanyakan pada beragam narasumber, mulai dari perempuan yang berasal dari daerah yang dikenal alim dan ketat (Aceh), perempuan big size, lesbian, biseksual, perempuan tak lagi perawan, transgender, hingga yang menggunakan sex toy untuk mencapainya. Hanya yang saya pertanyakan, kenapa penulis (periset) tidak menyertakan pendapat dari narasumber yang berseberangan dengan pemikirannya? Tak adakah pihak berseberangan yang mau diwawancarai? Ataukah, memang sudah di-setting, penulis "hanya" akan mencari narasumber yang segaris-lurus dengan pemikirannya? Untuk mendapat jawabannya, hanya penulis dan timnya yang bisa memberikan klarifikasi.

Buku ini juga berkesan sangat feminis sekali. Menolak poligami. Mempertanyakan praktik sunat perempuan. Menyetujui LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Mempermaklumkan seks pra nikah. Setuju aborsi, yang legal dan aman.

Covernya bagus dan elegan. Typo di beberapa bagian (tidak banyak dan karena buku non fiksi menjadi tidak terlalu mengganggu). Lay out dan font, saya suka. Informasi lembaga-badan-yayasan yang dapat membantu beragam masalah perempuan yang disertakan di bagian epilog sangat informastif dan membantu bagi yang memerlukan.
1 review
June 3, 2010
gilaa bukunya ;-) ini buku yang perlu dibaca oleh tidak hanya perempuan, tapi laki-laki yang butuh untuk memahami seksualitas perempuan. Ditulis dengan narasi yang tidak menggurui, tapi jelas menambah pengetahuan, dan mendorong untuk berefleksi akan banyak hal. Buku yang sarat informasi mengenai budaya sexual, yang ditulis dari sudut pandang perempuan. Buku soal sex yang pernah terbit di negeri ini lebih banyak didominasi oleh pandangan laki laki, contohnya Jakarta Undercover.

Bukunya melengkapi pengetahuan saya soal seksualitas diantara perempuan homoseksual/biseksual - sesuatu yang baru buat saya, karena selama ini hanya fokus dengan kesehatan seksual laki-laki homoseksual.
Sudah terlalu lama perempuan dianggap makhluk 'aseksual' di budaya Indonesia, saatnya untuk mengubah perspektif ini.

Menurut saya buku penting dan wajib jadi bacaan untuk laki laki, terutama laki laki Indonesia yang hidup dan besar dalam lingkungan macho/ patriakhi yang kental. Penulis secara gamblang menggambarkan bahwa laki laki tidak mengakomodasi soal kenikmatan sexual perempuan dengan mengutip hasil riset dari Asia Pacific Sexual Health and Overall Wellness ; bahwa hanya 29 persen perempuan yang mencapai orgasme, sementara lelaki lebih dua kali lipat mendapatkannya (75 persen), atau ketidakpuasan hubungan intim perempuan mencapai 77 persen (dibandingkan 64 persen yang dialami lelaki). Itu mungkin yang menjadi alasan mengapa alat bantu sex di Indonesia laris manis dijual di Kuta Bali( dalam bab Mr Rabbit). Jadi pengen ke Bali beli "Mr Rabbit" hihi..

Profile Image for Danu Primanto.
15 reviews1 follower
July 11, 2010
Soal seksualitas, bukan hanya bagaimana soal perkelaminan, namun jauh dan lebih personal, ialah soal relasi manusia dengan kekuasaan, dirinya sendiri, identitasnya, masyarakat, gender, pengetahuan dan segenap kompleksitas yg samar2 menyertainya. Saya rasa, pengetahuan yg ada masih belum menjawab pengalaman seksualitas manusia. Sejarah seksualitas sama panjang dan kompleksnya dgn sejarah manusia sendiri.

Buku karya Firliana Purwanti ini, menuliskan pengalaman seksualitas manusia dgn dekat dan intim. Pengalaman para subjek yg dalam kehidupannya terkait dgn perkara seksualitas, dituliskan dgn sentuhan rasa dan kegairahan, disusupi data2 populer ilmiah, tanpa kehilangan disiplin verifikasinya. Buat saya, cara Firliana mengajak bicara subjek dalam ruangnya yg paling pribadi pun menjadi soal tersendiri. Saya kagum dgn tulisannya. Bagi siapapun yang hendak belajar ttg seksualitas, buku ini bisa jadi panduan.

Suka tak suka, benci atau simpati, cerita di buku ini, ada di depan halaman masyarakat Indonesia. Setelah membaca buku ini, sikap masyarakat dan individu manusia Indonesia yg mengaku multikulturalisme pun akan diuji, terus menerus.
Profile Image for Siregar.
2 reviews2 followers
April 6, 2010
For something that is quite well-researched, the book has been an enjoyable read. The way it brings a rarely talked-about issue on such a personal level - with a pleasant narrative style - is refreshing.
1 review
April 5, 2010
against the mainstream..
breaks the rules..
based on reality..


it's cool..
1 review4 followers
April 5, 2010
I like the way Firli put stories, opinions and data in a smooth flow, and broke taboo into pieces at once.
Profile Image for Aribowo Sangkoyo.
9 reviews12 followers
June 4, 2010
Salah satu pembuka jalan untuk membongkar tabu di balik seksualitas perempuan yang selama ini ditindas agama dan budaya.
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
December 26, 2017
Banyak yang mau kutulis. Moga moga bisa bikin review lengkapnya segera! Btw ngga cuma buat cewek, ini buku kudu dibaca buat laki laki juga. Biar ngga buta tentang orgasmenya wanita.


——————

Edited

——————

Buku ini pertama kali saya tahu judulnya lewat twit seorang teman (mput) di timeline. Judulnya langsung membuat saya penasaran, kenapa saya ngga pernah denger buku ini ya padahal termasuk buku lama.

Banyak hal tentang orgasme wanita yang dikupas di dalam buku ini, beberapa berdasar literatur dan beberapa berdasar wawancara langsung si penulis dengan wanita dari berbagai kalangan. Bab pertama membahas tentang sunat wanita yang masih dipraktikkan di beberapa daerah sampai saat ini di Indonesia. Lewat bab ini saya baru tahu kalau Departemen Kesehatan RI telah mengeluarkan surat edaran yang melarang sunat wanita sejak tahun 2006.

Bab berikutnya membahas tentang keperawanan yang overrated. Saya pribadi juga setuju sih dengan overrated ini. Konon katanya kalau saat bersenggama di malam pertama si wanita ini tidak mengeluarkan darah, maka dia dianggap tidak perawan lagi. Padahal selaput dara itu ketebalannya bermacam macam, jadi Ngga berdarah bukan berarti udah ngga virgin lagi. Selain itu kalau wanita "dilabeli" dengan selaput daranya, gimana dengan laki laki? Mereka bisa aja dengan bebas bilang masih perjaka karena ngga ada yang bisa "dilabeli". Kan. Bikin kesel kan.

Bab ketiga membahas tentang orgasme perempuan. The Jakarta Globe pada edisi Desember 2009 mengutip sebuah penelitian kalau 77% wanita Indonesia tidak merasa puas dengan kehidupan seksualnya, sedangkan lelaki sebesar 64%. Bab ini membahas bagaimana seorang wanita bisa mendapatkan orgasmenya dan apa saja yang perlu diketahui pasangannya agar bisa membuat si wanita ini orgasme. Hng.. Di sini juga dijelaskan peristiwa orgasme sih, tapi seperti kutipan di hal.41

Orgasme perempuan itu seperti bersin. Jika perempuan sudah merasakannya, maka ia akan mengetahuinya. Jika belum, upaya menjelaskan orgasme seperti menjelaskan pelangi kepada orang buta.


Bab berikutnya membahas tentang poligami, nah yang ini baca aja sendiri nanti ya. Bab lainnya membahas tentang sexercise. Tentang bagaimana "penerimaan" kita dengan fisik kita sendiri sangat mempengaruhi kehidupan sex kita.

Total ada 9 bab dalam buku ini, dan meskipun ada beberapa hal yang tidak saya setujui, tapi saya menghargai pendapat masing masing pribadi yang diceritakan di buku ini. Termasuk pendapat si penulis sendiri. Saya banyak berharap buku ini dibaca tak hanya oleh para wanita, tapi juga para pria. Seks sebaiknya bukan lagi hal yang dianggap tabu, melainkan sebagai pengetahuan. Orgasme itu indah, saudara-saudara!
Profile Image for Vanda Kemala.
233 reviews68 followers
April 4, 2021
Entah kenapa, sejujurnya, cukup miris membaca data yang pada kompas.com tanggal 17 Juni 2009, yang menulis bahwa hanya 29% perempuan dapat mencapai orgasme saat melakukan hubungan intim, dibandingkan lelaki yang menyentuh angka 75%. Bagiku, seharusnya, hubungan intim adalah sarana yang bisa menyenangkan dua belah pihak, apalagi kalau dilakukan dengan konsensual.

Kenyataannya, amat banyak faktor yang memengaruhi perempuan untuk bisa orgasme dan di buku ini dijabarkan semuanya. Makin miris karena di beberapa tempat, perempuan justru dibuat untuk tidak bisa menikmati hubungan seks dan terkesan "menghambakan dirinya" semata-mata hanya demi kenikmatan lelaki, lewat sunat perempuan. Dari buku ini, aku mengasumsikan kalau banyak lelaki yang merasa (sok) jantan jika bisa orgasme dan mengabaikan kepentingan perempuan untuk mencapai hal yang sama. Ada pula yang merasa (sok) bangga dengan melakukan poligami, karena merasa libidonya terlalu tinggi, padahal inti dari melakukan poligami bukan untuk menyalurkan libido.

Pada lelaki yang berpikiran semacam itu, seringkali aku pengen ngomong sarkas, "Kok anda bangga, sih, menyamakan diri sama binatang yang nggak bisa menahan syahwatnya? Kenyataannya lelaki makhluk yang selalu ingin dinilai kuat, tapi nggak kuat dan lemah tanpa daya dalam menahan libido, ya?".

Hehehe...

Ini sama sekali bukan buku porno, sekalipun membahas tentang orgasme. Buku ini justru menunjukkan apa-apa yang diperlukan, dirasakan, dan dipikirkan perempuan tentang orgasme. Karena setiap perempuan itu unik, caranya mendapat orgasme juga bermacam-macam. Cukup rekomen dibaca untuk perempuan, baik yang sudah dewasa maupun sedang beranjak dewasa, APALAGI ANDA, PARA KAUM LELAKI!
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
November 10, 2021
Setelah banyak buku tentang seksualitas yang ditujukan untuk kepuasan dan keingintahuan laki-laki, buku ini hadir sebagai penyeimbang. Ditulis oleh perempuan, dengan sudut pandang perempuan, dan juga mengupas begitu dalam tentang kebutuhan, keinginan, permasalahan, lika-liku, dan aneka rupa seksualitas perempuan. Bahwa perempuan sejajar dengan laki-laki, termasuk dalam hal seksualitas tetapi budaya dan latar belakang tempat tumbuh, besar, dan hidup yang membuatnya dibeda-bedakan. Sebuah buku yang pemberani. Senang dengan berbagai isu gender yang diulas di buku ini, cuma bias lesbianisme agak terlalu mencolok di buku ini. Daftar pustaka ya bikin kenyang banget.
Profile Image for Alvi Harahap.
251 reviews14 followers
July 5, 2011
Suka banget ma 'gaya penulisan' Firli yang menginformasikan seksualitas wanita dan sekitarnya. Dan buku ini lebih menarik karena juga mengupas dari sisi narasumbernya langsung. Jadi ga melulu tentang teori-nya doang. Karena mungkin kita udah sering dan terlalu banyak mendengar tentang teori maupun rumours seksualitas wanita ini, namun apakah benar kenyataannya seperti rumours ataupun teori tersebut? Dari buku ini kita, terutama diri gw, bisa mendapatkan jawabannya. Well done, Firli:)
2 reviews
April 25, 2010
A lot of information especially for man
5 reviews
January 15, 2011
i got the first edition with firli's autograph on in. yay! :D
great book about women and orgasms. a must read if you want to have an extragalactic orgasmic adventure :)
Profile Image for summerreads ✨.
110 reviews
January 27, 2021
Secara garis besar, The 'O' Project bercerita mengenai orgasme perempuan. Nah, agak-agak tabu gitu, kan, untuk ukuran buku lokal? Tapi di situlah menariknya The 'O' Project! (Well, beberapa orang mungkin merasa topik yang diangkat buku ini berlebihan, keterlaluan, apaan deh, dan sebagainya. Tetapi menurut saya oke, kok. Walau saya merasa penulisnya sangat-sangat menyorot LGBT — entah perasaan saya saja atau memang begitu).

Jadi penulisnya memang menamakan proyek bukunya dengan nama The 'O' Project. O = orgasm. Jadi semacam pengen tahu gimana testimoni perempuan-perempuan Indonesia tentang pengalaman orgasme mereka. Well. Poin awalnya ini yang menarik.

Sebab, kan, selama ini katanya: perempuan lebih lama orgasme, sementara lakik lebih cepet. Tapi lakik jarang yang peka masalah ginian. Semacam, abis kelar yaudah bobo ganteng. Terus ceweknya sebel. Bener, kan, bener?

Tapi penulis The 'O' Project rupanya ingin menggali lebih dalam dari sekadar 'puaskah perempuan pada kehidupan seksnya?’. Ia menggalinya dari banyak POV. Mulai dari perempuan heteroseksual, perempuan lesbian, transgender, PSK, yg obesitas, yg backgroundnya sangat Islami, dan lain sebagainya. Ada beragam point of view di The ‘O’ Project. Semuanya punya porsi masing-masing. Kesampingkan dulu kenyataan bahwa tema buku ini agak tabu atau terlalu blak-blakan, mungkin dengan begitu kamu bisa menikmatinya.

Menarik membaca pengalaman sang penulis ketika mewawancarai bagaimana tanggapan perempuan di pelosok Aceh mengenai sunat perempuan, misalnya. Atau bagaimana beliau ngobrol dengan dua perempuan lesbian yang hidup bersama dan adopsi anak, misalnya. Ada pula 2 teman penulis yang mempunyai opini jauh berbeda. Yang satu sangat menjunjung kebebasan seks meski belum menikah. Yang satunya sangat mengagungkan keperawanan. Well, sangat menarik.

Ada banyak lagi pengalaman-pengalaman yang dijabarkan dalam The 'O' Project. Oh, iya, bukunya non fiksi. Which mean, ada beberapa tabel sederhana mengenai data-data valid juga. Misal data negara yg masih menjunjung tinggi tradisi sunat perempuan. ✌🏻

Terus, yang lebih menarik, ternyata ada perempuan lesbian yang tidak mau menggunakan sex toys ketika bercinta dengan pasangannya. Alasannya bagus menurut saya: kalau kami masih perlu penis buatan, ngapain kami menyebut diri lesbian?

Mb...
Tegas. Berprinsip.
Wkwk 👏🏻👏🏻👏🏻

Padahal, ye, kan, susah juga ya kalau tanpa bantuan gitu. Tapi ternyata orgasme bagi perempuan (termasuk lesbian), tidak hanya secara fisik tapi juga perasaan. Mereka senang kalau pasangannya senang. Ya, semacam orgasme tanpa penetrasi gitu katanya.

Untuk yang satu ini entah mengapa saya setuju. Beberapa lelaki yang ‘peduli’ sering kali malah penasaran kapan perempuan orgasme, atau mengapa perempuan orgasme lebih lama. Well. Patut dihargai. Setidaknya mereka tidak mau seenaknya sendiri, ena terus tidur. LOL.

Selama ini budaya kita menganggap bahasan seks adalah tabu. Setiap anak terutama perempuan tidak diperkenankan membahas seks ketika kecil beranjak remaja, sehingga informasi tentang seks seringkali kurang dan mengakibatkan berbagai hal seperti PMS (Penyakit Menular Seksual), KDT (Kehamilan Tidak Direncanakan), dan lainnya.

Di samping komentar orang-orang yang menganggap bahwa The ‘O’ Project berlebihan atau terlalu ‘kasar’ dan blak-blakan, menurut saya buku sejujur inilah yang sebenarnya dibutuhkan generasi muda. Setidaknya, kita tahu. Ketimbang tidak tahu sama sekali, yekan? Hmm.
Profile Image for Sofiatul Hardiah.
1 review
August 8, 2018
Mendengar kata ‘seks’ dan membicarakannya di Indonesia, menjadi suatu hal yang tabu, apalagi jika pelakunya adalah perempuan. ‘Seks’ kental dengan imaji penis dan vagina, penetrasi, pikiran kotor, dosa, dan istilah sekarang tuh, ‘ena-ena’!

Tidak sepenuhnya salah, tetapi jika seks hanya dimaknai sekadar itu maka sangat disayangkan. Padahal, seks dapat berbicara banyak hal dan inilah yang diungkapkan oleh Firliana Purwanti dalam bukunya, The ‘O’ Project.

The ‘O’ Project mengulas kenikmatan seksual dan orgasme yang dialami oleh perempuan- perempuan dengan berbagai orientasi seksual dan identitas gender yang berada di Aceh, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar. Dari berbagai perspektif dan pengalaman para perempuan tersebut memberikan penjelasan bahwa perihal kenikmatan yang dicapai melalui orgasme adalah suatu yang penting sebagai pemenuhan kebutuhan fisik dan mental perempuan. Namun, untuk mendapatkan kenikmatan tersebut para perempuan harus berjuang dan bernegosiasi dengan keadaan yang masih menomorsatukan mitos dan tabu perihal perempuan berbicara seks karena rentannya kedaulatan tubuh perempuan. Terang saja, ketika perempuan kedapatan berbicara tentang seks maka langsung dicap sebagai maniak seks dan tidak bermoral, atau biasa distigma sebagai ‘perempuan tidak baik’. Padahal, defenisi dari ‘perempuan baik’ dan ‘perempuan tidak baik’ itu sangatlah cair. Baik dan tidak baik adalah konstruksi sosial.

Firliana Purwanti yang berlatarbelakang peneliti dan aktivis di bidang hukum dan kajian gender, membawa tulisan ini cukup kental dengan penjelasan- penjelasan hukum di Indonesia mengenai perkawinan, pornografi, dan hak asasi manusia. Hal tersebut menjadi salah satu kelebihan dari buku ini.

Kelebihan lainnya adalah narasi yang dibangun dalam tulisan disusun sangat menarik dan ringan untuk dibaca. Dengan kata lain, topik yang dibawa terbilang berat dan berani, namun membaca dan memahaminya seperti membaca rubrik curhat di majalah. Penulis berhasil menyampaikan gagasan dengan tepat tanpa memojokkan pihak- pihak yang ‘berlawanan’ dengan berbagai jenis perempuan pada tulisan ini.

Satu kekurangan yang sangat saya sayangkan: buku ini terlalu tipis untuk menggemakan tentang nikmatnya orgasme bagi perempuan. *angel and evil laugh*

Satu hal yang penting untuk diperhatikan sebelum membaca buku ini: ingat berapa umur, pengalaman sosial, dan pengetahuan teoritis dan praktis apa yang telah dimiliki. Pasalnya, buku ini menuntut keterbukaan pikiran dan penerimaan keberagaman manusia. Bahaya jika dibaca oleh pikiran yang tertutup dan judgemental.

Oke, sekian review singkat dari saya. Saya sangat merekomendasi buku ini bagi Anda yang memenuhi syarat. Ingat juga bahwa: buku ini akan mengundang geli dan tawa ketika membacanya!

Happy reading! xxo.
Profile Image for Yuliana Martha Tresia.
66 reviews19 followers
January 27, 2021
Satu hal yang paling menarik dari buku ini adalah ketika Firliana Purwanti memulainya dengan mengangkat topik soal ‘clitoris envy’—untuk ‘mendebat’ teori Freud mengenai ‘penis envy’ yang katanya dialami para perempuan. Firliana Purwanti dengan berani mengangkat suara bahwa sebenarnya, laki-lakilah yang mengalami kecemburuan terhadap perempuan (dan klitorisnya), sehingga selama berabad-abad terus berusaha mengendalikan dan mengontrol seksualitas perempuan dalam relasi kuasa yang timpang antara laki-laki dan perempuan.

Firliana Purwanti membantu kita menyadari bahwa orgasme perempuan ternyata terkait dengan berbagai pengalaman kompleks di tataran sosial-struktural masyarakat. Dalam buku ini, ia juga membahas mitos keperawanan, pernikahan, poligami, pekerja seks, kondisi tubuh dan berat badan, pendidikan seks, aborsi, sex toys untuk perempuan, tradisi sunat perempuan, HIV-AIDS, identitas seksual, dan bahkan intervensi negara—semuanya ternyata memiliki kaitan erat dengan orgasme perempuan.

Satu buku yang sangat kaya, lengkap dan membuka wawasan mengenai seksualitas perempuan, khususnya terkait topik orgasme. Di akhir, tak lupa Firliana Purwanti juga menambahkan info kontak lembaga yang bisa dihubungi bagi para perempuan yang membutuhkan bantuan, termasuk untuk kasus kekerasan.

“Tabu-tabu terhadap seksualitas perempuan adalah malapetaka yang membisukan pengalaman seksualitas perempuan untuk mendapatkan kenikmatan atau orgasme. Karena itu, mari kita bongkar tabu-tabu seputar seksualitas perempuan karena untuk mendapatkan orgasme, syaratnya bukan harus menjadi ‘perempuan baik-baik’ atau ‘perempuan tidak baik-baik’, melainkan percaya dengan diri sendiri, berdaya, dan punya pengetahuan. Jangan takut disebut perempuan nakal karena bicara tentang seks.” (Firliana Purwanti, halaman 114).


Buku ini perlu dibaca para perempuan Indonesia.
Profile Image for Merlyn.
38 reviews
November 25, 2018
Buku ini sudah lama saya beli sejak April 2016 namun saya baru baca sekarang. Singkatnya, inilah review saya:

1. Plus
Jika dikatagorikan sebagai buku yang tidak pasaran, maka memang benar bahwa buku ini berhasil mengangkat suatu hal yang tabu yaitu mengenai pentingnya orgasme untuk setiap perempuan karena selama ini orgasme seolah-olah hanya milik laki-laki karena perempuan akan dipandang negatif jika membicarakan mengenai seksualitas sehingga boro-boro mau membicarakan mengenai orgasme.

2. Penulis memberikan beberapa lembaga yang bisa membantu perempuan yang mengalami masalah seksualitas (termasuk orientasi seksual).

Minus:
1. Saya mengerti bahwa penulis adalah feminis, namun saya mengharapkan materi yang lebih bukan hanya terlau membicarakan mengenai lesbian.

2. Saya pikir penulis kurang dalam melakukan riset ke wanita-wanita yang berada di pedalaman atau wanita-wanita yang memiliki budaya matrineal.

3. Penulis kurang mendeskripsikan imbas tidak tercapainya orgasme pada masing-masing subjek?

4. Apakah setiap individu harus rutin orgasme? Setiap pekan? Mungkin karena saya menyakini bahwa lust adalah tingkatan paling dasar dalam teori psikologi "triangle of love", maka saya pikir masih banyak hal produktif selain orgasme dan Anda masih tetap keren kok meskipun jarang orgasme asalkan Anda memaknai hidup Anda dengan baik dan bermamfaat untuk banyak orang.

5. Saya pernah membaca bukunya Baby Jim Aditya. Beliau adalah psikolog seksual dan juga memperjuangkan hak-hak wanita namun ide-ide yang beliau sampaikan lebih santun dan tidak ekstrim mengatakan bahwa wanita adalah makhluk yang paling benar.

Maaf, saya tadinya saya berharap buku ini tajam setidaknya seperti buku karya Baby Jim Aditya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Hudzaifah Ibnu Yaman.
3 reviews
August 26, 2020
Sejujurnya suka sama tema yang diangkat penulis untuk mengedukasi. tipe buku sekali duduk selesai. Dikemas menarik. Penulis berusaha memberikan aneka bentuk persoalan dan cara pandang yang menarik tapi saya merasa penulis tidak konsisten. Ditambah lagi saya terkejut ketika mengetahui latar kepercayaan penulis.
Penulis memetik beberapa ayat dalam Al-Quran sebagai dalil dari sudut pandangnya, namun mengabaikan fakta lain bahwa Islam menentang praktek homoseksualitas.

Hanya karna banyak manusia beragama berbuat salah tidak menjadikan agama itu sumber kesalahan. Sangat menyangkan langkah penulis mengkritisi Imam Syafi'i Ra, bahkan dibuku hanya dituliskan " Syafi'i " tanpa gelar atau bentuk pemuliaan lainnya.
Halaman 12:
" Ajaran Syafi'i ini jelas tidak memihak pada perempuan"
Profile Image for Husni Magz.
213 reviews1 follower
January 7, 2021
Setidaknya aku tidak benar-benar mubazir membaca buku ini hanya untuk melihat betapa bodohnya orang-orang feminis dalam pola pikir mereka. Maka, maaf jika saya hanya memberikan satu bintang.
Yang saya tangkap dari pemikiran si penulis adalah
Setiap orang berhak dengan kehidupan seksualnya, sehingga penyimpangan seksual tidak boleh diatur oleh adat timur. Barangkali bagi si penulis hubungan incest atau hubungan dengan sewan sekali pun bisa ditolerir selama suka sama suka. Konyol!
Si penulis juga terkesan mengkriminalisasi poligami dan permisif terhadap pelacuran.
Aneh saja jika ada orang yang merasa 'wah' dengan apa yang ditulis oleh si penulis ini.
Profile Image for Maddy Pertiwi.
65 reviews2 followers
November 15, 2025
Walau diterbitkan tahun 2010, tapi isunya masih sangat relevan hingga sekarang. Membaca buku ini aku sarankan untuk setidaknya pernah membaca isu seksualitas dan kesehatan produksi sebelumnya. Karena bagi orang yang belum pernah tersentuh isu itu, akan sangat mudah menganggap buku ini mengglorifikasi seks bebas maupun LGBT. Padahal isunya simpel, bagaimana perempuan memandang orgasme dan kepuasan seksual sebagai hak pribadi SETIAP MANUSIA terlepas dari jenis kelamin maupun orientasi seksual. Buku ini juga banyak data yang menunjukkan Firliana serius menekuni isu ini.
Profile Image for Jeyaa.
96 reviews
September 10, 2022
Aku memberikan 4 bintang pada buku ini karena penulisnya memberiku pengetahuan baru dan "oh ada ya yang seperti ini" dan judulnya yang ngga gamblang bikin aku aman pas bacanya meski baca lewat digital (waktu itu temanku penasaraan sama buku yang kubaca dan karena gamau diganggu aku hanya menunjukkan kovernya). Buku ini menyajikan sudut pandang yang jarang sekali kulakukan karena kurang nyaman, tapi "ayolah, baca saja jangan banyak pinta. Renungi dan pahami." dan aku bisa mengerti.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book265 followers
December 26, 2017
Buku kuning ini isinya bukan tips atau trik mendapatkan orgasme. Tapi mengenai pengalaman atau lebih tepatnya pendapat beberapa wanita tentang orgasme. Kenapa penting sampai dibukukan segala? Karena masih banyak perempuan Indonesia yang belum memahaminya.
Dan bukan hanya tentang orgasme, pemahaman akan alat reproduksi, tentang sunat pada wanita juga dibahas di dalam buku ini. Mencerahkan.
Profile Image for Andina Sholekhah putri.
60 reviews32 followers
April 19, 2018
Finally, aku bisa nemu buku ini disalah satu rak C2O library. Mengedukasi banget dah!




but still, I have different opinion about LGBT. If the writer support LGBT, well I don't. You can call me conservative, but for me, LGBT is WAY OUT OF THE TRACK.
Profile Image for Oni 媛馨.
190 reviews24 followers
April 20, 2021
Cerita tentang bagaimana wanita heterosexual dan homosexual mendapatkan orgasme dan apa arti orgasme itu sendiri. Kalau baca ini harus dengan pemikiran terbuka, karena secara ga langsung buku ini mendukung LGBT dan aborsi.
2 reviews
May 23, 2021
Gara-gara baca buku ini, teman saya menulis buku tandingannya The "aRa" Project. Bukan dari sisi perempuan, tapi laki-laki. Bagaimana edukasi seks sebaiknya dipahamkan kepada anak laki-laki saat mereka menjelang dewasa.
Profile Image for MAILA.
481 reviews120 followers
July 15, 2017
sangat saya rekomendasikan untuk dibaca oleh semua perempuan,

jadi ingat sebuah judul lagu, tubuhku otoritasku.


rekumen!
Displaying 1 - 30 of 36 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.