Anda yang tak suka permainan ini memang harus berpikir dua kali untuk membacanya saat sebuah kata "Hooligans" terpampang jelas di judul buku ini. Inggris dan Jerman memang terkenal punya suporter sepakbola brutal pada dekade 80 sampai akhir 90-an. Di Indonesia, beberapa suporter garis keras pun ada dan hampir mirip dengan Hooligans ini. Tapi seiring menjamurnya surat kabar dan media elektronik, perlahan fenomena suporter brutal mulai pudar.
Separah itu kah mereka mencintai sebuah klub? nyawa sekalipun seperti tak berarti di mata mereka, benarkah? Seorang sastrawan Uruguay pernah membuat sebuah pernyataan saat melihat fenomena penggila bola dengan ungkapan "Setiap manusia dalam kehidupannya boleh saja mengganti pasangan, pandangan politik, bahkan keyakinan. Tapi tidak untuk tim sepakbola favorit".
Buku ini wajib anda pegang jika ingin melihat sisi lain dunia kulit bundar.
Sepakbola adalah perang. Sepakbola tidak hanya terjadi di tengah lapang, tapi juga di jalanan, di tribun, di kepala dan dada orang-orang yang menggantungkan harga dirinya pada sebuah lambang.
The Land of Hooligans bukan cerita fiksi. Ini kenyataan tentang cinta yang berubah jadi dendam, tentang kebanggaan yang dipertahankan dengan kekerasan. Karena sepakbola bukan cuma tentang menang dan kalah. Dan jangan pernah lo lihat sepakbola hanya dari satu sisi. Ini adalah antitesis dari semua narasi damai yang lo dengar di layar kaca.
Kadang, pemain pun ikut larut dalam kebrutalan itu. Di tengah flare, chant, dan barisan yang memadat, batas antara sportivitas dan fanatisme bisa lenyap. Ultras dan hooligans lahir dari keresahan, dari ikatan kolektif yang gak dimengerti mereka yang berdiri terlalu jauh dari emosi stadion. Rivalitas bukan hanya soal jadwal pertandingan. Ini soal wilayah, soal mental, soal siapa yang tunduk lebih dulu.
Gue gak sekadar nonton, gue bagian dari itu. Dari mereka yang menolak tunduk pada aturan stadion steril. Dari yang masih percaya bahwa loyalitas bisa diteriakkan, bukan dikomersilkan. Sepakbola di tangan para gila bukan permainan. Tapi deklarasi hidup dan mati. Jadi jangan bilang lo paham bola... kalau lo belum pernah ngerasain teriakan dari barisan paling depan.