Deze roman van de belangrijke jonge Indonesische schrijver Ahmad Tohari vertelt de geschiedenis van enkele inwoners van een afgelegen gehucht op Midden-Java. De elfjarige Srintil wordt door een op geld beluste dorpsgeestelijke opgeleid tot ronggeng, danseres en prostituée. De dorpsjongen Rasus ziet het met lede ogen aan: hij idealiseert Srintil en ziet in haar het beeld van zijn overleden moeder. Pas nadat hij het dorp verlaten heeft en onder de hoede is gekomen van militairen, kan hij zich losmaken van de bekrompen dorpsgemeenschap en van zijn ambivalente gevoelens voor Srintil.' ...Het boek geeft voldoende stof tot overdenking. het is een schokkend relaas, zelfs in vergelijking met de duistere verhalen van Pramoedya Ananta Toer en Toha Mobtar..
Ahmad Tohari is Indonesia well-knowned writer who can picture a typical village scenery very well in his writings. He has been everywhere, writings for magazines. He attended Fellowship International Writers Program at Iowa, United State on 1990 and received Southeast Asian Writers Award on 1995.
His famous works are trilogy of Srintil, a traditional dancer (ronggeng) of Paruk Village: "Ronggeng Dukuh Paruk", "Lintang Kemukus Dini Hari", and "Jantera Bianglala"
On 2007, he releases again "Ronggeng Dukuh Paruk" in Java-Banyumasan language which is claimed to be the first novel using Java-Banyumasan. Toward his effort, he receives Rancage Award 2007. The book is only printed 1,500 editions and sold out directly in the book launch.
Bibliography: * Kubah (novel, 1980) * Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982) * Lintang Kemukus Dini Hari (novel, 1985) * Jantera Bianglala (novel, 1986) * Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1986) * Senyum Karyamin (short stories, 1989) * Bekisar Merah (novel, 1993) * Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995) * Nyanyian Malam (short stories, 2000) * Belantik (novel, 2001) * Orang Orang Proyek (novel, 2002) * Rusmi Ingin Pulang (kumpulan cerpen, 2004) * Mata yang Enak Dipandang (short stories, 2013)
Finally managed to read this Indonesian classic in its original language! Last year, I watched the movie adaptation of this book because the cinematography of the film won a lot of awards. Several people have told me that I should read the book version too and I can now say, that the book has elicited more feelings out of me than the movie.
"Ronggeng Dukuh Paruk" can be translated as "the ronggeng dancer from Dukuh Paruk (name of the village)." Ronggeng is a specific kind of Javanese dance that is sort of interlinked with prostitution. In this story, the village Dukuh Paruk has not had a ronggeng dancer for many years and the villagers suffer from poverty and natural disasters. A little orphan girl named Srintil proves to be a talented dancer and her grandparents bring her to the "ronggeng" trainer/master and his wife so that they can raise her to become a professional ronggeng dancer. The couple see the little girl's potential too and teach her all the ins and outs of "ronggeng" (how to dress, put on make-up, seduce and approach men to ask them to dance etc). When Srintil starts performing for the village, everybody rejoices because it has been a long time that they listened to music and they believe that a ronggeng belongs to everybody; men can visit and sleep with her without the wives becoming jealous because the ronggeng is supposed to have a good effect on the men (weird superstition, I know). However, there are two requirements that the 11-year-old girl has to fulfill before she can be officially considered a ronggeng; she needs to 1.) dance on the grave of the village's founder, and 2.) auction off her virginity. Things get very complicated because the story's protagonist Rasus, an orphan boy of Dukuh Paruk, is the ronggeng's childhood sweetheart.
Ahmad Tohari is a fantastic writer. The story flows beautifully and I especially loved the way he described nature's way of survival and procreation. His observations on nature were 100%. To me, it was very important that the writing was good, because the subject matter was quite distressing. Here, a little girl is taken advantage of and manipulated by her dance teachers and the entire village - to be their entertainer, prostitute and money maker by selling off her virginity to the highest bidder. Also, at times I thought that the protagonist Rasus was very biased and sort of fantasizing what Srintil's intentions were. He blamed the village's low morality and lack of decency for the ronggeng tradition and how seductive Srintil is even though she is really only 11 years old. It bothered me especially how he avoided responsibility for what happened between him and Srintil. The poor girl was seriously taken advantage of by everybody. The setting of the story is a few years before 1965 when Indonesia’s politics were heating up, but the details and facts are never mentioned so the reader experiences the time just like how the villagers did, which was good, I think. I will definitely be reading the next two books of this series.
I will definitely be reading the next two books of this series.
Konflik dalam diri apabila perlu memberi rating kepada buku sebegini. Rating atas makna tinggi atau rating atas cerita? Rating atas nilai moral, atau rating atas kecemerlangan pengungkapan karya? Sama seperti isu Salina, bolehkah memuji novel yang mengangkat kebobrokan/kebejatan sebagai jalan cerita?
Dari segi kejayaan pengarang menghidupkan karya, cukup saya katakan, saya sempat berasa loya (secara literal, bukan metafor) ketika tahu apa yang perlu dilalui Srintil sebagai anak ronggeng di Dukuh Paruk. Sampai hari ini pun, masih. Apabila terbayangkan Srintil.
Dari segi kebobrokan/kebejatan, ada apa dengan kegilaan tamadun Barat dan para pengarang yang mengikuti aliran ini, mengangkat serendah-rendah contoh kehidupan manusia dan menuangnya ke dalam karya?
Namun ada beberapa ayat dalam novel ini, yang saya lihat diulang dua kali (mungkin dua atau lebih, sebab saya baca secara superfisial saja buku ini). Lebih kurang begini sari ayat itu: Kalaulah saja orang-orang Dukuh Paruk itu berilmu, mereka tentu tidak bergelumang dalam kehidupan seburuk itu.
Kasihan Srintil dan orang-orang Dukuh Paruk. Islam yang memberi kekaki (pedestal) istimewa kepada ilmulah, ubat paling cocok untuk kebiadapan terhadap wanita separah itu.
Susah memang menilai suatu tradisi. Atas nama kebiasaan, nilai2 moral yg kita pegang bisa jauh berlawanan dgn budaya tempat lain. Adilkah mencap srintil sebagai tak lebih dari 'sundal' sedangkan dirinya sendiri bangga menjadi seorang ronggeng yg menitis dalam tradisi berpuluh generasi?
Berbagai bagian dr perubahan Srintil mjd ronggeng mengingatkanku pada pengalaman Nitta Sayuri mjd Geisha di Memoirs of a Geisha.
Lalu ada pula Rasus. Pemuda desa miskin, yatim piatu, tak berpendidikan, dan jatuh cinta setengah mati pd Srintil. Di balik ketertarikannya, ada oedipus complex parah hingga nyaris dapat memadamkan nafsu birahinya. Srintil memang dapat dipetiknya meski tanpa sekeping emas, tapi tetap jauh sekali di luar gapaian tangannya. Justru tepat saat Srintil berada dalam jangkauannya -saat ia memakai topeng pahlawannya-, ia justru memilih melepaskan sang ronggeng, bayangan sang emak, serta kemelaratan dan kebodohan desanya. Ironis memang, tapi mungkin Rasus sudah lebih siap mencari mimpinya yang baru dan lebih luas dari cungkup keramat Ki Secamenggala.
I've lost a tiny bit of my soul reading this book.
Mengutip pesan singkat yang pernah kukirimkan ke seorang teman: "gak tau ya soale nek sastra klasik isinya ngaduk2 hati tu berarti bagus" "tp ak gasuka diaduk2"
For a piece of art, ini literatur yang bagus banget 10/10. Pengalamanku baca ini kayak hatiku digebuk-gebuk lalu ending bukunya dibikin K.O. (maaf perumpamaannya aneh)
I'm not a fan of classic literature, dan ini memang bukan buku yang bisa aku nikmati sepenuhnya. Mungkin aku bakal lebih siapin hati jika suatu saat pengen baca lanjutannya.
A good friend of mine lent me this book a while ago. At first I doubted that I would enjoy it, I had never heard of the author before, but then again, I don't read much of Indonesian literature. From the very first page, I could tell that this wasn't just a book. It's a piece of art and whoever wrote it is definitely an artist. The more I read it the more I enjoyed it. It was really hard to put it down. The story, the plot, the characters... everything about it is captivating.
I believe a good book is not only about how good the story is, but also how the author tells it. To me, for this one, Mr. Ahmad Tohari definitely delivered it.
Aku anak Dukuh Paruk.. sebuah gerumbul kecil ditengah padang yang amat luas kecil dan menyendiri, sebuah dukuh yang menciptakan kehidupannya sendiri. Penghuninya adalah orang-orang seketurunan, yang konon nenek moyangnya adalah Ki Secamenggala Seorang brocomorah insyaf yang sengaja mencari daerah paling sunyi untuk menghabiskan sisa umurnya. Aku yatim piatu sama seperti Srintil, setelah petaka tempe bongkrek. Hidup hanya bersama Nenek, tidak pernah ingat bagaimana rupa keduaorangtuaku.
Srintil adalah cermin Emak yang tak pernah kuingat dan kumiliki. Srintil menjadi ronggeng, ia bukan hanya milikku lagi, tetapi juga milik semua orang.
Aku pergi meninggalkan Dukuh Paruk, Dawuan memperluas cakrawalaku, bagiku Dukuh Paruk hanyalah sebuah ‘tanah air kecil’ dimana kemelaratan di sana terpelihara secara lestari karena kebodohan dan kemalasan penghuninya. Aku kemudian menjadi Tobang, dan kembali ke Dukuh Paruk lagi..dan bertemu Srintil kembali. Aku memutuskan menolak perkawinan yang ditawarkan Srintil dan memberikan sesuatu yang berharga bagi Dukuh Paruk: Ronggeng! Aku bisa hidup tanpa bayangan Emak, tanpa Srintil. Dengan membawa bedil dipundak kutinggalkan Dukuh Paruk, masih utuh disana: keramat Ki Secamenggala, kemelaratan, sumpah-serapah, irama calung dan seorang Ronggeng..
Dukuh Paruk, terpuruk dalam kemiskinan dan kemelaratan. Tanah retak pecah-pecah, air layaknya barang mewah, ditambah tidak ada tumbuhan yang sanggup hidup semelarat itu. Namun, Dukuh Paruk masih punya kebanggaan: ronggeng. Tapi, sang ronggeng terpilih tak kunjung hadir.
Konon katanya menjadi seorang ronggeng adalah sebuah takdir. Seorang ronggeng tidak pernah dilatih, ia secara alami bisa menari ronggeng. Rasus, seorang anak lelaki berumur 14 tahun menemukan sosok seorang ronggeng dalam diri Srintil, seorang gadis yang 3 tahun lebih muda usianya dari Rasus.
Seorang calon ronggeng harus melewati beberapa tahapan sebelum ia menjadi ronggeng yang bisa disawer. Ia harus dimandikan di depan makam Ki Secamenggala dan tahapan terakhir adalah malam bukak-klambu, malam dimana si calon ronggeng harus menyerahkan kegadisannya pada lelaki yang memenangkan sayembaranya.
Rasus yang punya rasa terhadap Srintil tidak kuasa menahan kekecewaannya karena gadis pujaannya tidak akan lagi sama setelah malam bukak-klambu itu. Dengan tekad kuat Rasus pergi dari Dukuh Paruk yang telah merampas Srintil dari kehidupannya.
Membaca buku ini kedua kalinya. Pertama, saat masih SMA. Meminjam dari perpustakaan sekolah yang sungguh sangat antik karena isinya adalah buku-buku cetakan Balai Pustaka.
Dulu membacanya terkesan dangkal dan seadanya. Sekarang, saat membacanya sangat terasa satir dan kritik tajam yang dituliskan Pak Ahmad Tohari. Detail, nyata, sinis yang satir.
Saat SMA, baru sempat membaca buku pertama karena lanjutan dari Trilogi ini tidak tersedia di perpustakaan. Sekarang, here we go! Langsung lanjut ke buku kedua.
Novel Ronggeng Dukuh Paruk menceritakan tentang kehidupan seorang ronggeng yang hidup di sebuah desa kecil. Masyarakat desa ini mempercayai jika ronggeng adalah tradisi desanya, maka dari itu mereka juga percaya srintil sudah dimasuki roh inang oleh leluhur sehingga bisa menghidupkan desanya kembali. Untuk menjadi seorang ronggeng srintil harus melewati tahap-tahap yang tidak mudah. Srintil harus diserahkan kepada dukun ronggeng, karena ia harus mendapat perawatan khusus. Srintil juga harus dimandikan di depan cungkup makam Ki Secamenggala, dan yang terakhir adalah prosesi bukak kelambu. Pada prosesi bukak kelambu srintil harus menyerahkan keperawanannya pada lelaki manapun yang sanggup memenuhi syarat yang telah ditentukan. Rasus dan Srintil saling jatuh cinta, namun sejak Srintil menjadi ronggeng, ia semakin jauh dari Rasus dan Rasus merasa kehilangan sosok emaknya. Sejak saat itu pula Rasus memilih untuk keluar dari desa yang telah membesarkannya. Di dusun Dawuan inilah Rasus mampu mengubah pandangan hidupnya dan menghilangkan semua peristiwa yang selama ini membayangi dan menyakitkan hatinya. Selama di Dawuan kehidupan Rasus pun berubah, ia menjadi seorang Tobang para tentara. Saat ia bermalam di dukuh paruk untuk menemani neneknya yang sudah tua, srintil berkata pada Rasus bahwa ia ingin menjadi pendamping hidupnya dan ia rela meninggalkan profesinya sebagai ronggeng di dukuh paruk tetapi Rasus menolaknya. Akhirnya, saat semua masih terlelap dalam tidurnya Rasus meninggalkan sepenuhnya desa Dukuh Paruk dan berbagi macam kenangannya di desa yang telah membesarkannya. Apresiasi saya terhadap novel ini yaitu tema yang diangkat tentang budaya Indonesia pada zaman dahulu, sehingga buku novel ini bisa menjadi rujukan sejarah budaya Indonesia hingga pada saat ini, penulis sangat piawai dalam menjelaskan latar dan setting sehingga seakan-akan pembaca masuk ke dalam cerita dan larut dalam imajinasi. Latar Ahmad Tohari banyak menggunakan flora dan fauna di Indonesia, namun setelah membaca seluruh novel ini terdapat suatu kejanggalan, tidak sinkronnya antara flora dan fauna yang ada dalam cerita dan yang sesungguhnya. Hal ini dapat menmbulkan spekulasi yang tidak diharapkan dan dapat menjadikan pula nilai minus untuk Ahmad Tohari sebagai sastrawan, karena seorang sastrawan selalu dituntut untuk peka terhadap lingkungan dalam menghidupkan suasana. Ronggreng Dukuh Paruk adalah sebuah novel realis. Artinya, karya fiksi tersebut berangkat dari peristiwa-peristiwa yang dapat, bahkan lazim terjadi di masyarakat dan penulis berusaha untuk melukiskannya dengan gaya sepersis mungkin meskipun di sana-sini ada yang agak didramatisir. Dalam situasi seperti ini, kesalahan, kejanggalan dan kekurangcermatan tentu akan mengganggu. Lain halnya dalam karya fiksi yang sifatnya satiris, surealis atau absurd. Dalam keadaan seperti ini, penjungkirbalikan fakta atau unsur-unsur yang terdapat dalam fiksi merupakan sesuatu yang sah. Kesepakatan seperti ini tidak hanya melulu monopoli sastra atau dunia perfiksian. Dalam seni lukis, drama dan lain-lain juga ada kesepakatan serupa. Beberapa kejanggalannya seperti, Ahmad Tohari mengakui bahwa burangrang dan kamitua adalah istilah di kampungnya atau istilah Dukuh Paruk. Mungkin pada waktu menulis Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari tidak pernah memikirkan bahwa novel tersebut bakal dibaca oleh bangsa Indonesia yang bahasa daerahnya macam-macam hingga tidak akan tahu istilah-istilah Khas Dukuh Paruk. Ahmad Tohari juga melukiskan bagaimana ganasnya burung alap-alap memangsa pipit dengan cara mengejar lalu menggigit menggunakan paruh. Padahal semua jenis burung ordo Falcoiformes selalu menangkap mangsanya dengan menggunakan cakar dan dengan cara menyambar. Jelas dalam hal ini penulis malas untuk membuka-buka raferensi. Alasan bahwa perubahan perangai alap-alap tersebut adalah untuk tujuan mendramatisir suasana tentunya kurang kena. Dari novel Ronggeng Dukuh Paruk ini terdapat pesan bagi pembaca yaitu, bahwa segala cobaan, kerusakan, serta keterbelakangan yang dialami oleh Dukuh Paruk tidak lain dan tidak bukan adalah ulah dari warga Dukuh Paruknya sendiri bukan dari pihak lain. Mereka mengalami tragedi 1965 yang merusak serta menghancurkan desa mereka karena ditipu oleh anggota komunis, itu karena mereka tidak mengenal huruf, tidak dapat membaca dan menulis, tidak mengerti akan hal yang berhubungan dengan politik. Jika mereka ingin belajar dan mencoba bisa serta ada keinginan untuk menuntut ilmu, kecil kemungkinan mereka terjerat penipuan politik. Namun merekanya sendiri yang terlalu nyaman dengan keadaan yang jauh dari kata makmur, tidak ada rasa terbesit untuk menuntut ilmu.
"Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan buat Emak" oleh Ahmad Tohari berhasil membuatku ternganga sepanjang cerita. Tak ada bosan-bosannya saya berjam-jam membuka lembar halaman buku dan masuk ke dalam catatan dari tokoh tercinta kita, Rasus ini. Tak pernah saya rasakan kesulitan untuk berhenti pada satu bab atau satu halaman saja, selalu saya terbawa dan dengan hati memberikan hati saya kepada cerita ini. Sebuah pengalaman yang luar biasa.
Mari kita membahas dulu kelebihan buku ini. Disini, Ahmad Tohari berhasil menuliskan buku ini benar-benar seperti sebuah catatan, dengan membuat tulisan ini seakan-akan Rasus telah berubah ketika menuliskannya, namun tetap dapat membuat perubahan Rasus di akhir cerita masih bisa sangat berkesan. Dan penggambaran Dukuh Paruk disini sangat teramat baik. Rasanya sangat mudah membayangkan seperti apa keadaan secara material maupun spiritual Dukuh Paruk itu di dalam benakku. Begitupun penggambaran konflik batin dari Rasus yang juga digambarkan dengan baik, dengan diksi-diksi dendam dan marah yang mengikuti kejadian-kejadian pelik yang Rasus alami. Dan yang paling aku suka adalah bagaimana Ahmad Tohari menggambarkan seindah apa tokoh Srintil, bukan main, serta bagaimana keindahan itu berduet dengan tragedi yang dialami, membuat ceritanya semakin dalam menarik saya masuk ke dalam ceritanya.
Namun, sayangnya buku ini memiliki satu kekurangan, yaitu penggambaran lokasi dan suasana yang terlalu lebay. Meskipun diksinya sangat indah, dan penggambarannya sangat baik, sayangnya deskripsi lokasi dan suasana dalam buku ini terkadang tidak terlalu relevan dengan suasana yang dibangun dalam cerita ini. Sungguh sangat disayangkan, mengingat Ahmad Tohari sangat baik menggambarkan lokasi dan suasana dalam cerita ini dengan metafora dan diksi-diksi alam yang indah.
"Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan buat Emak" adalah buku yang berhasil membuatku sulit berhenti membaca ceritanya dan menjadi buku yang paling cepat aku selesaikan. Bayangkan betapa hebatnya cerita yang disajikan dalam buku ini.
Buku merupakan buku pertama dari trilogi Ahmad Tohari -Ronggeng Dukuh Paruk. Pada buku cetakan lama memang masih dengan 3 buku yang terpisah (Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala) namun saat ini dalam edisi terbaru terbitan Gramedia sudah dijadikan 1 buku dengan judul Ronggeng Dukuh Paruk bercover warna oranye. Buku ini bercerita tentang sebuah perdukhan terpencil di tengah sawah, dengan penduduknya yang merupakan keturunan dari leluhur bernama Ki Secamenggala, Dukuh Paruk. Dengan seisi kehidupan penduduknya yang dikungkung kemeralatan, sumpah-serapah, hal-hal cabul yang sah, irama calung dan tembang yang mengiringi hal paling berharga dan dihormati di Dukuh Paruk; Ronggeng.
This book is insane!!! Ceritanya yang begitu mengalir bener-bener bikin hatiku berdesir selama membacanya. Penggambaran pedesaan yang dilakukan oleh Ahmad Tohari begitu detail menggugang imajinasi seolah ikut jadi penduduk yang menyaksikannya. Hal paling menarik di sini bagiku tentang bagaimana asal muasal Ronggeng dibentuk. Karena di sini, ronggeng tak ada bedanya dengan persundalan. Jual-bbeli liang peranakan seorang perempuan ronggeng yang dikramatkan, bahkan menjadi mandat leluhur Dukuh Paruk sekaligus jati dirinya. Sebagai perempuan, perasaan sangat teraduk saat membaca buku ini. A worthy to read!!
Tokoh "aku" yang digambarkan Ahmad Tohari sebagai Rasus, salah satu pemuda yatim piatu Dukuh Paruk berhasil memukauku dengan pergulatan batinnya. Mantullll banget dah udah. Ternyata Dukuh Paruk, Rasus dan Srintil belum selesai bakal kayak apa jadinya, the second-book listed on to-be-read rightaway after this.
The story happens in a small, impoverished fictional village called Dukuh Paruk in the middle of Java Island. The main character, the 14-year-old Rasus, is in love with an 11-year-old girl, Srintil, whose grandfather believes she has a talent for Ronggeng—the Javanese dance. Moreover, in Rasus's imagination, the girl is a replacement for Rasus's mother, whom he had lost in childhood. A Ronggeng dancer isn't a simple entertainer. The dancer is considered a sacred vessel for the village's ancestral spirit and is expected to be available to the men of the village! I am not sure if it is comparable with the "sacred prostitute" in the temples that we read in the ancient Sumerian stories.
I read the first book in the trilogy in German—Die Tänzerin von Dukuh Paruk. Sadly, the other two volumes aren't available to buy. In English, the trilogy is published in one volume with the title "The Dancer".
The central conflict of the story is that Rasus has to emotionally put up with the tradition that everyone in his village believes in or benefits from. Rasus grows out of this calamity; he criticizes his village and its culture. In a nutshell, the story is the classic archetype: a boy becomes a man.
Tohari's writing voice brings this archetype to life, especially his descriptions of nature and animals, which immersed me in the atmosphere of a Javanese village. The main theme of the story is the battle between tradition and humanity. In spite of the dire atmosphere in the story, it is very optimistic. Poverty and tradition cannot kill the humanity in Rasus.
Being born as a Muslim is something to be grateful for for me, dengan nilai nilai agama yang dibawa sejak kecil, lingkungan yang supportif, dan lingkungan yang memang aman untuk saya berkembang nunjukin kalau lingkungan yang dibawa dari lahir bisa berdampak untuk mindset maupun habit. sampe akhirnya saya baca buku ini, awalnya saya mau mikir "untung aja gue lahir di zaman modern" tapi saya tiba tiba sadar kalau jahat banget ya, banding bandingin hidup saya yang beruntung ini sama hidup orang yang lahir dalam keadaan (menurut saya) kurang beruntung, mana ngomongnya tanpa empati.
review tentang itu, saya bersyukur karena Indonesia punya banyak budaya dan adat istiadat, tapi terlepas dari itu semua bisa ga kita mulai milah milih mana yang harus dikembangkan dan mana yang harus ditinggalkan? i think, yang bahaya bukan cuma modernisasi tapi beberapa budaya yang giving act like perempuan sebagai object itu harus diubah. mulai kurang-kurangin patriarki, misogyny, dan hal-hal lainnya yang bikin satu gender lebih unggul padahal kita semua setara.
dan satu hal yang bisa di highlight adalah waktu Rasus pergi ke luar dukuh dan kita bisa liat kalau dia jadi open minded + critical thinkingnya keluar saat dia bandingin hal-hal yang ada di dukuh paruk dengan desa luar. dia sadar kalau dukuh paruk bener bener terbelakang dengan tradisi + mitos mitos yang masih dipercaya. itu ngajarin kita kalau kita sesekali harus keluar dari zona aman, belajar dari luar, mengadaptasi lingkungan luar supaya kita engga terbelakang dan ketinggalan.
Membaca buku ini untuk yang kedua kalinya pada umur dan tingkat kematangan diri yang berbeda. Pada kali pertama membaca buku ini aku berfokus pada Rasus dan Srintil, emosi Srintil dan kisah cinta mereka. Tetapi saat aku membaca untuk kali kedua, aku baru bisa memahami tentang sosial budaya yang digambarkan berkembang pada Dukuh Paruk. Ahmad Tohari menyampaikan penggambaran keterbelakangan sosial, kemiskinan, patriarki, dan nilai-nilai budaya yang bertolak belakang dengan moral bersarang di suatu Dukuh terpencil. Terdapat kritik sosial yang juga dibalut manis dalam cerita ini. Srintil seorang anak kecil dari Dukuh Paruk harus menjadi Ronggeng kebanggaan Dukuh Paruk dan menjalani kehidupannya sebagai Ronggeng. Ronggeng Srintil yang pada mulanya mencoba menolak tanpa memberikan perlawanan pada budaya dan kehidupannya menggambarkan ketidakberdayaan perempuan kecil itu pada budaya yang mau tidak mau harus dipilihnya. Bertumbuh dengan menerima diri menjadi seorang ronggeng dan melupakan siapa dirinya yang sebenarnya.
sebenarnya novel bukanlah tipe bacaan favorit. Lebih memilih membaca biografi atau bacaan lain mengenai sejarah. Tertarik membaca novel ini karena sebelumnya pernah membaca 1 review yang mengatakan bahwa novel ini mengambil setting di tahun 1960 - 1970 an yang bisa dibilang sebagai masa tergelap dalam sejarah Bangsa Indonesia. Ingin menghilangkan rasa penasaran akan bagaimana sejarah tersebut mempengaruhi Dukuh Paruk dan penduduknya. Jadi intinya, membaca novel tetap karena ada hubungan dengan sejarah Bangsa.
Penulis berhasil membangun pencitraan yang kuat akan keadaan2 dalam novelnya. Bagaimana Dukuh Paruk dan warganya dengan segala kekumuhannya, keterbelakangannya, ketertutupannya, keerotisannya, masih menjaga nilai2 leluhur yang turun temurun. nilai leluhur yang tidak bisa dianggap benar di luar Dukuh Paruk. Tetapi, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung bukan? Penggambaran Dukuh Paruk beserta tokoh2 yang cukup mendetail juga membantu pembaca dalam memvisualisasikan Dukuh Paruk dan tokoh2nya dalam imajinasi pembaca Penulis dengan bagus menggambarkan kondisi Dukuh Paruk dengan rumah2 sederhananya, dengan pohon2 rimbunnya, dengan kompleks pemakamannya, dengan jalan setapak dan persawahan yang mengelilinginya dll. Dan yang pasti, penulis dengan sangat bagus menggambarkan sosok Srintil sebagai wanita desa biasa dengan pesona luar biasa yang seolah bisa menundukkan semua lelaki hanya dengan sedikit kedipan matanya.
Cukup sekian reviewnya. yang jelas, hubungan G30S belum bisa ditemui pada buku pertama ini. Setting waktu kejadian pada buku pertama ini masih di era sebelum G30S. Buku 1 lebih banyak membahas keadaan Rasus yang mencari sosok emak dalam diri Srintil serta pencarian jatidirinya dan pribadi Srintil sebagai ronggeng baru kebanggaan Dukuh Paruk.
Buku ini termasuk ke dalam salah satu khazanah bacaan klasik dalam sastra Indonesia. Di dalamnya saya menemukan penggambaran utuh soal kehidupan sebuah desa yang lengkap dengan tradisi, keyakinan-keyakinan mistis dan keterbelakangan moral yang menjadi bahan bakar utama di dalam ceritanya.
Kesenangan saya sewaktu membaca novel ini terletak di penggunaan diksi yang mewah meskipun jalan ceritanya sebenarnya biasa-biasa saja. Beberapa kesalahan riset yang dilakukan penulis juga agak tertutupi karena penggunaan bahasa tadi. Kalau kamu sedang memperkaya kosakata bahasa Indonesia buku ini cocok.
Endingnya terlalu sederhana dan saya berharap semoga ini karena saya yang baru membaca versi terdahulunya dan belum menyelesakan versi yang sudah tebal.
Novel ini mengisahkan tentang budaya dan adat yang perlu dilalui seorang penari ronggeng. Dari novel tersebut pembaca mampu mendapatkan pengetahuan mengenai salah satu budaya yang ada di Indonesia berupa adat yang harus dilewati sebelum menjadi penari ronggeng.Selain pengetahuan mengenai adat, juga terdapat pengetahuan mengenai kehidupan politik di Indonesia saat itu yaitu G 30 S/PKI.
Penulis mampu membentuk karakter yang unik dalam diri Srintil dan Rasus. Penggunaan bahasa yang digunakan dalam novel ini juga menggambarkan kehidupan di daerah Jawa. Melalui novel ini, pembaca bisa mendapatkan berbagai nilai kehidupan yang bermanfaat.
Saya membaca buku ini secara gratis,bersambung sepotong-sepotong selama beberapa kali mengunjungi Kineruku (Library and Book Cafe di Bandung) biar bagaimanapun, sejak awak saya ingin menyelesaikan membacanya karena penasaran juga akhirnya bagaimana. Bahasa dan ceritanya menarik, a real page turner in Indonesian classic. Beberapa hal mungkin membuat pembaca kaget dan terheran-heran tapi memang perlu diingat kalau buku ini ditulis di era yang jauh berbeda, setting tahun yang berbeda, dan juga kemelaratan dan terpencilnya Dukuh Paruk ini membuatnya begitu berbeda. Dan itulah yang membuat plot dan karakternya sebegitu menarik. :)
This book has such a unique way of phrasing things. Ahmad Tohari delivers the story beautifully, with just enough detail to vividly bring the scenes to life. That said, the pacing can feel a bit slow at times, especially between pages 20-45. There were moments I doubted I’d even finish it, as the language felt a bit complex for someone not deeply immersed in Indonesian literature.
But honestly, it’s worth sticking with. The writing has a quiet, undeniable beauty, and the story lingers in your mind long after. It’s heartfelt and thought-provoking, the kind of book that grows on you with each page. A solid 3.5/5 stars for me. 🤗
Plot-plotnya disajikan dengan sangat manis, itu yang sangat aku sukai dari buku ini. Ketika seorang penulis mengangkat kemelaratan dan keterpurukan kedalam tulisan yang begitu indah, menjadi terbelakang bukan lagi terdengar seperti sesuatu yang buruk. Mereka selalu mempunyai cerita sendiri, rahasia sendiri, budaya sendiri, dan hiburan sendiri.
Rasus terus berputar dalam rasa hausnya terhadap sosok emak yang hilang dalam hidupnya. Rasus tak terima takdir, ia pun mencari penghiburan dengan menanamkan imajinya itu pada Srintil. Entah memang ada rasa cinta atau hanya pelampiasan, yang dapat Rasus tuai dari upayanya menghidupkan kembali emak hanyalah marah dan kecewa.
Nggak tahu mau nulis apa tentang masterpiece ini. Yang jelas, tentang Dukuh Paruk dan nilai-nilai yang mereka anut, serta nilai seorang perempuan ronggeng di masa itu, disampaikan dengan sangat keren. Saatnya lanjut baca 2 buku lainnya!