Daripada mengeksplorasi fenomena soal gay love, I guess tema yang diberikan Hanakimi lebih menekankan pada panseksualisme: I love you no matter whether you're a boy or a girl. Kesan itu semakin kuat setelah Sano mengungkapkan perasaan itu pada Mizuki untuk menjawab pertanyaan: "Apakah aku terlihat seperti perempuan?". Sano menggunakan kata "like", sih. Bukan "love". Baik Nakatsu, Nakao, dan Akiha, semuanya menyukai seseorang secara spesifik, bukan karena gender orang tersebut. Cuma dr. Hokuto Umeda yang terang-terangan bilang dia nggak tertarik sama perempuan karena sebal dengan kakak yang selalu otoriter padanya sejak dia kecil sampai sekarang.
Sungguh aku berharap ada cerita serupa dari penulis muslim dan membawakan tema Islam yang berani mengeksplorasi masalah ini secara lebih mendalam dan empatik, tentunya dengan resolusi yang tak bertentangan dengan nilai Islam. Karena cinta itu menyakitkan. Lebih menyakitkan lagi bagi mereka yang bukan heteroseksual.