Politisi identik dengan orang-orang ambisius dalam meraih kekuasaan. Tidak jarang dengan menghalalkan segala cara. Tetapi Yukio Hatoyama, perdana menteri Jepang yang mulai menjabat 16 september 2009 mempublikasikan filsafat yang sulit dipahami apalagi diterapkan, yaitu: politik itu cinta. Mungkinkah? Novel ini bercerita tentang Ari, politisi bermata matahari yang tidak pernah mampu menangkap asap. Juga tentang Rafi, politisi berkaki angin yang terjebak basah gerimis. Dan tentang Fung Lin yang menantikan laki-laki yang akan menciumnya di bawah hujan. Dengan rasa setia kawan, tanggung jawab, pengorbanan, kerinduan, dan pengharapan, Ciuman di Bawah Hujan menerabas dunia politik, dunia tanpa ampun itu.
Note: Novel ini dimuat sebagai cerita bersambung KOMPAS Oktober 2009-Februari 2010
Lan Fang adalah seorang penulis kelahiran Banjarmasin. Alumni Fakultas Hukum Univ. Surabaya ini menulis sejak 1986. Karya-karyanya menjuarai lomba di tabloid Nyata dan novelette Femina 1998, 1999, 2003 dan 2005.
Lan Fang telah menerbitkan: Reinkarnasi (2003), Pai Yin (2004), Kembang Gunung Purei (2005), Laki-laki yang Salah (2006), Yang Liu (2006), Perempuan Kembang Jepun (2006), Kota Tanpa Kelamin (2007), Lelakon, Ciuman di Bawah Hujan (2010). Di tahun 2009 ia juga menerbitkan buku cerita anak: Kisah-kisah si Kembar Tiga (2009). Dan akan menerbitkan kumpulan puisi Ghirah Gatha.
Pertama kali saya dapat buku ini dari ayah saya. Hadiah karena selesai ujian nasional, katanya. (Selesai UN, bukan lulus UN karena sampai saat ini hasil UN belum diumumkan.) Kebetulan? Mungkin.
Sebenarnya ini buku yang bagus. Saya agak heran karena ternyata buku yang saya pegang masih cetakan pertama dan juga didiskon 50%. Semua orang tahu, kalau ada diskon di Gramedia, berarti buku tersebut kurang laku di pasaran. Yang jadi pertanyaan saya "Masa sih buku begini bagus gak laku?" Setelah saya telaah, mungkin judulnya yang terlalu 'aneh' untuk telinga orang Indonesia. Semua orang (termasuk adik, teman, dan seorang nenek di panti jompo yang saya kunjungi) langsung bingung kenapa saya mau membaca novel yang kata pertamanya saja sudah 'ciuman'.
Desain kover novel ini bagus. Saya suka dengan ekspresi kedua manusia di kover. Saya juga suka perpaduan warnanya. Tapi ya itu tadi... judulnya membuat semua orang mengernyitkan alis.
Dari segi penulisan, saya belajar banyak dari buku ini. Diksi indah, majas keren, bahkan penamaan babnya pun bagus. Saya tak menemukan satu pun kesalahan eja atau typo, dan pembacaan bisa berjalan lancar.
Kenapa saya memberi 3 bintang, bukannya 4? (5 bintang takkan pernah saya berikan)
1. 9 dari 10 orang pasti setuju sama saya: cerita ini belum selesai. (Karena katanya si penulis memang tak mau menyelesaikannya.) Membaca buku ini seperti naik roller coaster. Ngebut...naik....kemudian turun sedikit dan berhenti di sana tanpa berniat mengembalikan penumpang ke tanah lagi. Jadi mau tidak mau saya harus lompat sendiri dari roller coaster itu.
2. Terlalu banyak lelaki dalam hidup Fung Lin dan saya disuruh menebak kenapa mereka tiba-tiba menghilang begitu saja. Tak ada penjelasan ke mana semua lelaki itu pergi. Mulai dari Anto, Lie Ming, Udin, Nanang, bahkan Ari. "Ke mana mereka?" "Ah, sudah lupakan saja. Ada Rafi nih..."
3. Tokoh Rafi dan Fung Lin sedikit banyak membuat saya bingung. Kenapa mereka bisa saling jatuh cinta? Apa hanya karena 'mimpi-mimpi'? Nah, di sini saya melihat Ari hanya sebagai batu loncatan agar Fung Lin bisa sampai ke Rafi. Setelahnya, batu itu menghilang. Bukankah Ari juga menyimpan ketertarikan pada Fung Lin? Kenapa dia mengalah pada Rafi? "Siapa sih Rafi?"
4. Novel Fung Lin. Saya mengasumsikan bahwa novel itu tidak ada hubungannya dengan plot utama. Maka, saya selalu skip bagian itu. Menurut saya isi novel Fung Lin kurang penting. Apakah hal ini ditulis untuk mempertebal buku? Saya tidak tahu.
Oh iya. Di novel ini banyak surealisme-nya loh. Hmmm... sejauh ini salah satu yang saya sadari yaitu jumlah anak hamster Fung Lin. 44. Itu kan jumlah yang sama dengan jumlah partai politik yang ikut pemilu pada tahun 2009 lalu. Mungkinkah ini adalah suatu bentuk simbolisme? Apalagi karena dengan tragis keempat puluh empat anak hamster itu dimakan induknya sendiri, dan kemudian si induk diumpan ke harimau. Nah, seperti ini. Banyak 'pesan rahasia' yang hendak disampaikan Lan Fang kepada pembacanya.
Lalu... penggambaran politisi sebagai samurai. Sedikit banyak sebenernya gak nyambung juga karena masih banyak analogi lain, tapi not bad lah. Samurai juga oke. Ah iya, dan saya sangat teramat cinta (bener-bener cinta mati) sama adegan Rafi (si samurai) yang melukai leher wanitanya. (Hal. 94-98) Duh, super romantis. Saya sampe baca berkali-kali saking indahnya.
Kesimpulan. Seandainya isi novel ini tidak terlalu berat dan penuh dengan surealisme (juga beberapa bagian plot yang rada maksa), saya akan dengan senang hati memberi 4 bintang.
Akhir kata. Beberapa minggu lalu, ketika saya pertama kali mendapat buku ini, saya baru tahu kalau penulisnya belum lama berpulang. (25 Desember 2011) Selamat jalan, Kak Lan Fang. Karyamu terlalu keren untuk otak saya yang pentium 2. Maka izinkanlah saya belajar banyak darimu.
Aku ingin terus membaca angin........, Aku ,masih menunggu laki-laki yang juga menyukai hujan itu - Fung Lin-
Aku memang bukan penggemar cerita romantis, walau tidak menolak membaca buku genre itu asal menarik. Namun ada 3 wanita yang karyanya (bergenre romance/metro pop) menarik minatku. Mereka adalah Lan Fang, Winna Efendi. serta Eyang Nh Dhini (walau banyak yangmenyebut karya beliau sebenarnya bergenre kisah hidup)
Lan Fang membuka kisah dalam buku ini dengan sebuah pengantar yang manis. "Kebetulan" sepertinya menjadi inti dari sebuah pengantar. "Kebetulan" jualah yang membuatku mengenal penulis yang satu ini."Kebetulan" ada acara diskon di sebuah toko buku dan "Kebetulan" kehabisan bahan bacaan membuatku tertarik untuk mampir , dan menemukan sebuah novel dengan warna cover yang "Kebetulan" berwarna biru, warna favoritku.
Novel ini merupakan pengembangan dari cerota Novelette 1001 Hari di Hongkong. Tokoh utama seorang perempuan bermata sipit bernama Fung Lin. Fung berarti angin, Lin berarti pepohonan. Sehingga Fung Lin berarti angin yang bertiup di pepohonan. Keluarganya sudah tiada saat terjadi kerusuhan di tokonya beberapa waktu yang lalu. Hanya nasib baik yang membuatnya selamat. Walau untuk nasib baiknya, ia harus berkorban seluruh keluarganya, toko hingga kuliahnya yang tidak tamat.
ung Lin jatuh cinta pada Anto sahabatnya saat kuliah dulu. Karena Anto berbeda dengan yang lainnya. Anto selalu menemaninya di perpustakaan, menyediakan bangku untuk berdua.Berbeda dengan kawan-kawan lelaki yang hanya mendekatinya saat membutuhkan bahan kuliah dan saat ujian. Anto sering mengajaknya makan bakso dan sesekali memesan bakso untuk dibawanya pulang. Mereka tidak pernah pulang bersama, hanya beriring hingga gerbang kampus lalu berpisah. Anto hanyalah penggalan masa lalu yang membuatnya teringat akan kisah lamanya saat bertemu dengan Ari
Fung Lin jatun cinta pada Ari, politisi bermata matahari yang tak mampu menangkap asap. Bersamanya Fung Lin merasa nyaman tanpa pernah mengingatkannya kepada hal-hal yang ingin dilupakannya dengan susah payah. Sosok Ari sangat jauh berbeda dengan para anggota dewan yang dikenalnya. Begitu biasa dan menyatu dengan lingkungan. Ari selalu membuatnya tertawa. Ari jugalah yang membuatnyamengenal dan menyukai sosok Rafi
Fung Lin jatuh cinta pada Rafi, politisi berkaki angin yang terjebak basah gerimis. Karena saat ia tersenyum, maka itu bener-benar sebuah senyuman.Bukan hanya bibirnya yang tersenyun, namun juga matanya. Karena Rafi memperhatikan dirinya dengan tulus. Hanya pada Rafi Fung Lin mau menyatakanperasaan yang sesungguhnya, ia sudah tak mampu membendung perasaannya lagi." Aku ingin kau peluk dan cium di saat hujan, Raf" Ungkapnya tanpa malu,canggung dan kikuk.
Sebuah perhitungan nasib membuatnya bertemu dengan Lie Ming. Mama Lie Ming sangat menyukainya, dan ia telah lolos test kelayakan untuk anaknya. Ia tidak pernah melihat Lie Ming tersenyum pada dirinya. Ia membiarkan dirinya menjadi boneka demi Lie Ming. Semuanya hanya karena perhitungan. Dan ia tahu, walau semua perhitungan nampaknya bagus, namun Lie Ming bukan untuknya
Novel ini terbilang cukup unik, karena dalam novel ini terdapat sebuah draf novel yang ditulis oleh sang lakon utama Fung Lin,yang juga menjadi bagian dalam keseluruhan novel ini. Kisahnya juga luar biasa, sangat cocok dengan aktivitas dua lelaki dalam kehidupannya, Ari dan Rafi.Entah mengapa, aku justru lebih menyukai cerita yang dibuat oleh Fung Lin. Andai saja ini dijadikan sebuah cerita secara utuh, tentunya akan sangat menarik. Atau jangan-jangan malah sudah hanay saya yang kurang tahu.
Seperti beberapa buah karyanya yang lain, kisah cinta dalam novel ini dibuat dengan aneka kiasan yang bermakna indah.Betapa Fung Lin sangat menyukai hujan,karena saat bermain hujan ia merasa sama dengan lingkungan sekitar. Dalam hujan ia menemukan kedamaian, oleh karenanya ia mengharapkan suatu saat menemukan seorang lelaki yang mengusap air hujan dari kedua kelopak matanya dan menciumnya di bawah hujan. So sweet....
Untuk aku yang bukan penggemar cerita romance, tentunya membutuhkan ekstra usaha untu kmengartikan sebuah kalimat puitis, mencoba menguraikan sebuah rajutan kata-kata bermakna guna mendapat inti terpendam. Latar belakang kedua tokoh yang berasal dari dunia politik, memberikan nuasan tersendiri.Sepak terjang mereka kadang seperti mencari pembenaran atas sikap-sikap mereka selaku anggota dewan, namun dilain sisi, kadang kala sifat mereka sebagai manusia biasa juga muncul. Lelaki memang makhluk yang unik, apa lagi jika mereka adalah politikus.
Aku juga suka hujan, namun sepertinya aku tidak mengharapkan mendapat ciuman di bawah hujan.Walau seorang lelaki dari kota hujan sempat mengusik hatiku.
Dan sekali lagi sebuah "Kebetulan" buku ini dibaca saat hujan turun selama perjalan pulang dari Kota Hujan.
Ketika saya menutup novel "Ciuman Di Bawah Hujan" ini, timbul satu pertanyaan di benak saya. "Apakah Lan Fang sudah tidak berniat untuk menulis novel ini ketika dia menyelesaikannya?"
Bagian awal novel ini memperkenalkan kita pada Fung Lin, seorang wartawati keturunan Chinese, yang sedang meliput diskusi kumpulan cerpen para TKW Indonesia. Di sana dia bertemu dengan Ari, si politisi bermata matahari yang tidak pernah mampu menangkap asap. Dari sinilah hubungan mereka berdua mulai terbentuk.
Di bagian awal cerita, pembaca dibuat "mencium" aroma percintaan antara Fung Lin dan Ari. Tetapi hal ini tidak pernah terjadi. Hubungan antara Fung dan Ari terasa mengambang. Bukan percintaan, mungkin lebih ke arah TTM. Tapi tiba-tiba hubungan itu menghilang begitu saja dan fokus pada tokoh Ari tiba-tiba berpindah ke Rafi, politisi berkaki angin yang terjebak basah gerimis dan tiba-tiba saja tumbuh benih percintaan antara Rafi, yang menyalip peranan Ari sebagai tokoh utama pria, dengan Fung Lin. Ari? Uh... Entahlah. Dia tiba-tiba saja menghilang.
Menjelang akhir cerita, Fung tiba-tiba saja berhenti dari pekerjaannya sebagai wartawati freelance dan melamar sebagai kasir di sebuah depot. Ketika bekerja di depot inilah, Fung tiba-tiba saja diserang oleh segerombolan tikus (benar-benar tikus. Bukan tikus-tikusan). Di saat diserang inilah, Ari untuk pertama kalinya menolak permohonan Fung dan sebagai gantinya, Rafi lah yang datang dan menyelamatkan Fung dari serangan para tikus.
Setelah serangan itu, Fung dipaksa untuk beristirahat di rumah dan Rafi memberinya komputer dan sepasang hamster untuk menemani hari-hari Fung Lin.
Setelah lewat beberapa waktu, sepasang hamster itu tiba-tiba melahirkan 44 anak hamster (ya, 44 saudara-saudara!!) dan tiba-tiba saja Fung bertindak gila dengan pergi ke kebun binatang dan mengumpankan kedua hamster dewasa peliharaannya kepada harimau. Setelah mengumpankan kedua hamsternya, Fung menceritakan hal ini ada Rafi tanpa rasa bersalah dan setelah beberapa percakapan singkat yang (seharusnya) menyentuh hati, Rafi tiba-tiba saja memilih untuk mundur dari dunia politik dan menjadi orang biasa.
Ada terlalu banyak tiba-tiba di dalam novel ini, serta ending yang menggantung. Ada banyak pertanyaan di benak saya. Bagaimana jadinya hubungan antara Ari dan Fung? Bagaimana hubungan Fung dan Anto sampai putus total? Bagaimana Fung dan Lie Ming putus? Akhir ceritanya terasa terburu-buru, seolah-olah ada sesuatu yang memaksa novel ini untuk tiba-tiba berakhir.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Karya kedua Lan Fang yang saya baca. Still amazed with her way of combining politics with love and metaphors. Meskipun saya bukan fans berat cerita cinta Fung Lin (jadi gak terlalu peduli kalau cerita cintanya selalu mengambang hehe), but I love how Lan Fang portrays the world of politicians in this novel, termasuk tentang sejarah tahun 1998.
Salah satu quote yang paling saya suka, yaitu di fragmen flash back ketika Fung Lin ketahuan mencuri jeruk di pasar dan diminta oleh Mama nya untuk mengembalikan jeruk tersebut.
"Tikus tadi mencuri. Walaupun hanya remah-remah, ia tetap mencurinya. Dan selamanya tikus hanya akan mendapat remah-remah. Tikus hanya bisa sembunyi-sembunyi karena ia mencuri. Dan tempat yang pantas untuk pencuri adalah di kegelapan. Lin, kamu tidak akan pernah menemukan tikus yang berani menatap matahari."
Mungkin karena itulah saya lebih tertarik pada karakter Ari, politisi bermata matahari yang tidak pernah mampu menangkap asap....
Ceritanya super ngambang. Saya kayak naik angkot ADL arah Arjosari yang karena jalan utama macet banget trus mutusin lewat jalan tikus tapi disuruh turun mendadak di pinggir jalan yang gak dikenal karena angkotnya mogok, tau nggak? Trus saya mau ke Arjosarinya gimana? Naik apa? Saya di mana?
Oke, lupakan.
Kurang lebih kayak gitu pengalaman saya naik angkot, eh... Maksudnya baca novel ini. Karena entah karena alasan apa penulis enggan menamatkan ceritanya. Jadi dibiarkan berhenti di situ saja. Mungkin kalau ini bukan Lan Fang saya udah ngamuk karena ceritanya gak selesai. Tapi kalau dipikir-pikir saya juga ngapain ngamuk, wong belinya aja diskonan. #heh
Tiga bintang saya berikan sepenuhnya untuk apresiasi tulisannya Lan Fang yang cantik banget. Serius. Saya lemah dengan tulisan cantik kayak gini. Bikin iri aja...
Judul : Ciuman di Bawah Hujan Penulis : Lan Fang Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Terbit : Maret, 2010 Tebal : 360 halaman Rate : 4/5
“Ternyata sakit bisa jadi nikmat jika kita tahu bagaimana caranya mengubahnya.” – hal 97
Fung Lin adalah seorang wartawati yang hidupnya tanpa sengaja bersinggungan dengan Ari dan Rafi. Kedua pria itu merupakan salah dua dari para manusia yang menghuni gedung Senayan. Bersama Ari, Fung Lin menemukan keceriaan dan persahabatan yang begitu erat hingga membuatnya benar-benar merasa nyaman berada di dekat pria itu. Sementara bersama Rafi, Fung Lin justru menemukan kekacauan hati yang bernama cinta.
Kemunculan kedua pria itu membangkitkan kenangan-kenangan masa lalu Fung Lin yang sudah lama terpendam dalam-dalam. Luka-luka yang dulu ada akibat gambaran pahitnya tentang para pejabat, bapak presiden, pemilu, dan kerusuhan hebat di negeri ini yang sempat meluluhlantahkan hidup gadis-gadis bermata kuaci seperti dirinya pun terkuak.
Fung Lin mulai dihatui mimpi-mimpi aneh, tapi kebanyakan ia bermimpi tentang Rafi—pria yang ia kenal jauh sebelum kehidupannya yang sekarang. Ia menceritakan mimpi-mimpi anehnya serta firasa-firasat tidak baik yang menakut-nakutinya kepada Rafi, tapi pria itu hanya menanggapinya dengan tenang sembari mencoba untuk realistis.
Tapi mimpi-mimpi itu tak mau pergi, mimpi itu terus datang hingga akhirnya Fung Lin mengerti mengapa mimpi-mimpi terus menghantuinya. Melalui penyerangan tikus-tikus di rumah makan tempatnya bekerja setelah ia memutuskan berhenti sebagai seorang wartawati dan hamster peliharaannya yang memakan anaknya sendiri, Fung Lin disadarkan tentang betapa bobroknya dunia politik dan ia tidak mau pria yang ia cintai hancur termakan dunia yang keji itu.
Review:
Aku menemukan buku ini di rak buku-buku diskon dan membelinya setelah membaca tema politik di sinopsisnya. Cukup membuatku tertantang untuk membacanya karena jarang sekali menemukan buku seperti itu, apa lagi ada kata-kata yang mengiming-imingiku tentang membongkar bobroknya politik. Sangat cocok untuk tema kondisi Indonesia beberapa bulan belakangan ini yang sedang dirundung euphoria pemilu presiden.
Secara garis besar, buku ini sebenarnya buku yang “aneh”. Kenapa bisa aku bilang begitu, karena alur ceritanya benar-benar membingungkan dan membuat kita harus berpikir dua kali. Bagaimana ya menceritakannya, agak sulit, bikin resensinya juga lumayan memeras otak sih ini, karena buku ini tidak berlandaskan pada plot ceritanya melainkan pada sudut pandang penulis terhadap kondisi politik di Indonesia pada zamannya (Lan Fang menulis buku ini kira-kira tahun 2009 – 2010).
Kehidupan Fung Lin diceritakan secara alur maju-mundur yang penuh dengan gaya bahasa personifikasi tentang angin, hujan dan matahari yang menggambarkan masing-masing tokoh. Kita harus bisa mendalami buku ini dengan perumpamaan-perumpamaan Fung Lin dan bagaimana ia menceritakan perasaannya saat bertemu dengan kedua tokoh pria tersebut, juga bagaimana perasaan Fung Lin saat mengungkapkan burukan kondisi politik Indonesia dari penyerangan tikus-tikus dan hamster yang memakan anaknya sendiri.
Lalu, kenanehan lain di buku ini adalah tentang novel di dalam novel. Pada awal cerita, Fung Lin meminta Ari untuk membaca calon novel perdananya yang mengangkat tema TKW—salah satu permasalahan yang ditangani komisi tempat Ari bekerja—dan di dalam buku ini pun menceritakan Novel tersebut.
Aku sendiri bisa mengambil kesimpulan dari hal itu karena penulis ingin mengungkapkan kehidupan tenaga kerja Indonesia. Tapi menurutku hal itu tidak begitu kentara karena kisah novel di dalam novel ini tidak benar-benar menendang. Meski sejujurnya justru akan lebih menarik jika novel yang ditulis oleh Fung Lin dalam novel ini digodok lebih dalam menjadi novel baru karena idenya lumayan bagus. Namun sayangnya, Lan Fang, sang penulis telah berpulang sebelum bisa menelurkan karya-karya supernya yang lain.
Kemudian untuk penggambaran karakter dari setiap tokohnya sendiri sebenarnya cukup blur dan bikin bingung karena banyaknya perumpamaan yang menggambarkan sosok tokoh-tokoh tersebut. Tapi kalau kalian bisa menelaah lebih dalam dari setiap kata-kata yang digunakan, niscaya kalian bisa mengerti dengan mudah setiap karakternya. Tapi, aku pribadi sih memang pada kenyataannya masih merasa sedikit mengambang dalam penggambaran karakternya, mungkin karena kurang terbiasa dengan gaya bahasa beliau kali ya, secara ini novel pertama yang aku baca dari Lan Fang.
Terus untuk endingnya, sebenarnya agak keki juga sih untuk bagian ini, karena buku ini memang terkesan sangat menggantung. Pada bagian akhir ada pesan Lan Fang yang menyampaikan kalau “akhir yang menggantung juga merupakan sebuah akhir”, sehingga ia memutuskan untuk membiarkan kisah Fung Lin dan Rafi menjadi rahasia masing-masing pembaca. Well, sebenarnya ini merupakan keputusan egois sih menurutku karena tidak mau menyelesaikan cerita, tapi karena sang penulis sudah meminta maaf bukunya sendiri sejak semula tidak menitik beratkan pada plot cerita. Jadi, aku bisa memaklumi.
Lalu untuk pesan dalam cerita ini bisa dibilang benar-benar tersampaikan karena berhasil menggambarkan buruknya kondisi politik Indonesia kala itu dari sudut pandang yang berbeda-beda. Dari polosnya Fung Lin kecil yang berharap bertemu presiden, keluguan gadis itu saat bertemu pejabat, kemudian pandangan-pandangannya terhadap fenomena asingnya dunia politik.
Namun, Lan Fang tidak hanya menggambarkan keburukan kondisi politik tersebut, penulis juga menyertakan pesan harapan di sana. Seperti saat Rafi menolong Fung Lin yang dikerumuni tikus-tikus dengan membuka pintu dan jendela sehingga cahaya matahari bisa masuk dan membuat tikus-tikus pergi. Sebanarnya itu adalah perumpamaan penulis bahwa harapan seperti cahaya pasti akan datang seburuk apa pun kondisi politik saat itu.
Akhirnya, setelah buku ini selesai aku pun memberi kesimpulan empat bintang untuk buku ini. Secara garis besar aku sangat menyukai buku ini tapi tetap minus satu bintang karena beberapa point yang sudah kusampaikan di atas. Buku ini sangat cocok untuk kalian yang penasaran ingin melihat sisi politik Indonesia dari sudut pandang yang berbeda-beda dan cukup merasa tertantang untuk menelisik lebih jauh politik dari buku ini.
Gaya penulisan yg unik. Ibarat buku. Aromanya aroma memabukkan lapuklapuknya kertas. Berasa kuno tapi menggairahkan untuk diselami. Sentilan-sentilan frontal realisme nya, wuaw. Claps. Saya jujur ga terlalu tertarik baca realisme indonesia, ga tahan. Berasa dekat sekali dengan saya tapi jauh ya tapi dekat. Perasaan absurd seperti itu yg saya rasakan setiap kali ketemu sisi realisme di sini. Awalnya asal ambil aja di rak buku perpus fakultas, dibaca setiap mampir karena nunggu jam kuliah/pulang atau karena iseng. Eh ketemu cerita unik. Nyeleseinnya juga lama ini haha. Berasa ikut berjelajah di dalamnya. Unik uniiiiik sekali karakter perempuan utama di sini. Unik unik unik!!!
Buku ini merupakan kumpulan cerita yang dimuat di Harian Kompas sejak Oktober 2009 hingga Februari 2010. Buku ini tidak lagi seperti kumpulan cerita, melainkan menjadi sebuah novel apik yang memiliki alur yang rapi. Novel ini bercerita tentang Fung Lin, Ari, dan Rafi.
Fung Lin adalah seorang wartawan yang diharuskan mewawancarai seorang pejabat mengenai TKW. Pada pertemuan inilah ia mengenal Ari, pejabat yang seharusnya diwawancarainya, namun tertunda karena ia sama sekali tak menganggap bahwa orang yang ada di hadapannya adalah pejabat. Penampilan Ari yang dianggapnya tidak sesuai dengan pejabat membuatnya merasa aneh pada awalnya, namun selanjutnya kenyamanan itu hadir dan membuatnya lebih akrab bersama Ari.
Ari, adalah seorang pejabat, dewan rakyat yang sederhana. Sikapnya itu bahkan tidak seperti pejabat kebanyakan. Entah memang tabiat Ari yang begitu, atau Fung Lin yang memandangnya seperti itu. Kedekatan Fung Lin dengan Ari tak lebih dari sekadar sahabat. Mereka saling mengisi. Ari, dengan segala kesibukannya, selalu menyempatkan waktu untuj bertemu dengan Fung Lin, mendengarkan ceritanya.
Fung Lin yang seoranf wartawan sempat ingin menjadi penulis. Ia menuliskan kisah seorang TKW yang bekerja di Hong Kong dan menyerahkannya kepada Ari agar menjadi pembaca pertamanya, namun Ari tak pernah selesai membacanya. Menurutnya, membaca itu berbeda dengan mendengarkan. Ia bisa mendengarkan Fung Lin bercerita, namun untuk membaca ia butuh fokus yang lebih.
Maka, Ari menyuruh Fung Lin menyerahkan naskahnya kepada Rafi, teman Ari di kantor dewan. Disinilah Fung Lin merasa bahwa ia pernah bertemu Rafi. Rafi yang seperti embusan angin. Rafi yang seperti... Anto, seseorang yang pernah mengisi hari-hari Fung Lin saat kuliah dulu. Rafi yang tak mudah digenggam. Dingin, tapi menyejukkan seperti hujan. Rafi yang diingatnya pernah menciumnya di bawah hujan. Apakah itu Rafi?
Fung Lin mungkin jatuh cinta dengan Rafi. Bahwa bagi Rafi, Fung Lin adalah angin yang juga tak mudah ditangkap. Ia harus berhati-hati, karena ia seorang anggota dewan. Ia tidak bisa bersikap seperti Ari kepada Fung Lin. Ia dan Ari berbeda. Tetapi Rafi menginginkannya. Ia menginginkan Fung Lin.
Secara keseluruhan, novel ini membuat saya ingin cepat-cepat menghabiskannya. Bahasanya ringan dan mengalir. Meskipun novel ini memiliki ending yang mengecewakan bagi saya. Entah sang penulis yang bingung menuliskan endingnya, atau bagaimana. Pada intinya, novel ini cukup sederhana menggambarkan alurnya. Judulnya pun hanya diulas di akhir, bahwa Fung Lin memiliki ingatan akan seseorang yang menciumnya di bawah hujan.
Tak hanya itu, novel ini bersinggungan dengan politik zaman 1998, juga tentang kisah kecil Fung Lin yang merupakan keturunan Tionghoa.
seperti progress yg sudah saya update sebelumnya, awalnya saya lebih tertarik dengan selipan cerita calon novel Fung Lin ketimbang cerita utama di novel ini. seperti ada sesuatu yg misterius yg tersembunyi di balik cerita itu.
sejujurnya saya kecewa dengan endingnya. bahkan saat saya membaca bab Coda, penulis pun mengatakan, "tidak menyelesaikan pun itu adalah sebuah penyelesaian. jadi maaf jika ada yg merasa cerita ini belum selesai."
oh... tentu saja. saya termasuk orang yg merasakan hal itu. cerita ini bagi saya memang belum selesai. di cerita pun tidak terwujud hal yg tertera pada judul. tidak ada part di mana Fung Lin dicium di bawah hujan.
untuk novel dengan tebal buku 359 halaman, menurut saya cerita ini sudah cukup panjang dan bisa mempunyai ending yg benar2 ending. harapan saya begitu ;)
seandainya cerita ini benar2 selesai, saya bisa saja memberi 4 bintang. saya suka dengan perumpamaan cerita di sini, tetapi agaknya terlalu panjang hingga memakan 1 bab penuh. kenapa tak langsung pada intinya saja?
bagian yg paling saya suka adalah... tentang Bobo Ng. tentang dia mengeluh kenapa anak2nya menganggap dia bawel, padahal dia tidak pernah mengeluh ketika ia mengurusi anak2nya dari kecil yg lebih bawel dan bandel.
ah, ini juga, kemana ending cerita dari calon novel Fung Lin? padahal itu yg saya tunggu2 selama membaca novel ini :(
Harusnya saya mampu memberikan empat bintang untuk buku ini (di bagian awal). Gaya bercerita Lan Fang yang ringan membuat saya dengan cepat menelannya. Meski saya masih sering mengerutkan kening dengan analogi-analogi penulis yang cukup 'aneh' bagi saya dan pada beberapa bagian saya merasa ada part-part yang berlubang. Lama kelamaan, analogi penulis terhadap dunia politik semakin menjadi-jadi, hingga saya tak sanggup lagi menemukan 'chemistry' dengan kisah Fung Lin. Rasanya terlalu melebar dan dipaksakan. Seharusnya buku ini bisa menjadi sangat 'bermuatan' dengan begitu banyaknya pesan yang ingin disampaikan. Namun, penulis terburu-buru menyampaikannya dalam satu koridor cerita, sehingga terkesan melebar. Di atas itu semua, Lan Fang berhasil mempertahankan karakter 'budaya chinese' yang kental dalam buku ini dan begitu banyaknya kritik sosial yang disampaikan, sehingga menjadikan kisah yang berbeda.
Tokoh ceritanya adalah perempuan keturunan tionghoa berprofesi sebagai wartawan bernama Fung Lin, artinya angin.
berteman dengan anggota DPR bernama Ari dan Rafi dan ciuman di bawah hujan adalah mimpi yang hadir di tidur fung lin dan rafi
Ceritanya bagiku acak. tapi suka dengan teknik ceritanya. tak ada ending semua mungkin. Cerita yang banyak simbol2 didalamnya. Kadang menyindir, kadang bingung. dan akhirnya aku bingung maksud cerita ini apa sih?
Dari novel ini, terekam kehidupan anggota DPR yang gak jelek-jelek amat lah. Tetap mikirin bangsa kok, meski juga terseret kepentingan partai. Satu imej yang tetap membuatku miris, Anggota DPR tentu saja menjadi orang kaya.
hmm...maka berlomba-lombalah pemilu ini menjadi Anggota DPR, demi kekayaan...tentu saja kekayaan. rakyat..nanti dulu, urusan belakang, itupun setelah tergeser oleh kepentingan partai.
Bisakah berubah? jangan cari jawabnya di novel ini. Novel ini cuma bikin bingun aja. :D
Buah pena seseorang akan tetap menghiasi hidup orang lain biarpun sang penulis sudah tiada. Lan Fang adalah penulis favorit saya semenjak saya membaca buku kumpulan cerpen Yang Liu yang ia tulis. Ini kali pertama saya membaca novel penuh yang ditulis oleh Lan Fang. Masih sangat penuh metafora dan pelajaran hidup. Hanya saja, saya lebih menyukai karya Lan Fang ketika berbentuk cerpen karena padat berisi.
Ciuman di Bawah Hujan menawarkan pandangan lain mengenai politisi dan cinta antara politisi dengan rakyat jelata yang tentu saja bermata sipit. Pandangannya mengenai politisi sangat mengena di hati saya. Kisah cinta yang tiada berakhir, mungkin itu juga yang saya sukai dari karya Lan Fang. Tidak menawarkan sebuah penyelesaian hanya menikmati indahnya perjalanan hidup yang rumit.
Bagus untuk dinikmati di kala santai. Bahasanya tidak terlalu rumit dan dekat dengan logika dan perasaan awam.
Novel Lan Fang pertama saya. Novel kedua saya yang ada cerita kerusuhan Mei 1998-nya and even I just read it, it feel like hell. Seperti namanya, Fung Lin agak terlalu berangin-angin. Saya juga rada sebel sama Fung Lin ini, ya seperti tidak bisa melihat keadaan saja. Ya saya tahu dia butuh perhatian dari seseorang karena menurut saya hidup Fung Lin sepi banget, tapi yaa caranya gak begitu juga kali. Jalan ceritanya, saya sempat merasa sesak kalo ada kata-kata Fung Lin ke Rafi yang gimanaaa gitu (gak jelas weee). Scene paling lucu adalah ketika Fung Lin "berperang" dengan Ketua Dinar (a.k.a tikus got besar) dan akhirnya Fung Lin yang kalah :(
Ga sengaja nemu buku ini. Langsung beli karena penulisnya Lan Fang tanpa perlu baca reviewnya. Kisahnya tentang wartawan yang menulis kisah tentang TKW di Hongkong. Bukunya sebenarnya ber setting di Jawa Timur, khususnya di Gedung DPRD Surabaya. Dialog yang dilakukan tokoh utama dengan sekitarnya sangat mengena.
Hongkong, TKW, Surabaya, Lumpur Lapindo, gedung DPRD, dewan, artikel, novel, wartawan rasanya sesuatu yang berkaitan kehidupan saya pribadi. Buku ini sangat recommended buat dibaca. Meski saya ga suka endingnya. Tapi tetep salut! ;D
"Kebetulan" kata yg dibahas dalam pengantarnya. sama, kebetulan baca buku ini pas lagi hujan dan musim caleg tokoh yg dibahas dlm buku ini. Lan Fang, nama yg aku lihat dari seorang guru FB sy beberapa tahun lalu (walaupun dia tdk mengenal sy, apalagi menganggap murid) mengurainya bersama kesedihan karena wafat. Lantas, siapakah Lan Fang itu? sy masih beradaptasi di imajinasi agar infromasi segera kudapatkan.
first reading, di antara semua tulisan Lan Fang, saya lebih menyukai Ciuman di Bawah Hujan. Meski dengan akhir terbuka yang terus mengundang tanya dan gaya bercerita yang melompat dan berkeliaran layaknya angin, lumayan!
pembahasan lebih lanjut setelah selesai membaca untuk kedua kalinya (mungkin).
Personifikasi dan diksinya indah. Alurnya juga tidak sederhana. Meski tidak begitu menyukai keseluruhan ceritanya, terutama bagian novel Fung Lin sehingga saya lewati, tetapi kali ini saya tak perlu menyesal telah membelinya (apalagi dgn disc 40 %). Buku ini bagus untuk belajar menulis.
Terima kasih Lan Fang Baru ingat kalau sang penulis telah tiada :(
Buku ini untuk memenuhi New Author Reading Challenge 2015
2 dari 5 bintang!
Endingnya antiklimaks sekali dan gantung. Saya merasa tidak mendapatkan apa-apa dari novel ini kecuali politisi lemah yang akan dijatuhkan oleh politisi yang kuat dan cerita seorang TKW di Hongkong. thats it..
Novel Lan Fang pertama yang saya baca. Walaupun saya kurang paham sama situasi politik jaman dulu (maklum waktu itu masih kecil) tapi saya gregetan sama kisah Fung Lin dan Rafi kira-kira endingnya kayak apa walaupun penulis sendiri bilang maaf kalau novel ini terkesan belum selesai. Menurut saya bagian novel Fung Lin yang diceritain di dalam novel ini kurang penting.
Lan, slh satu amanatmu sdh kuselesaikan, aku sudah membaca novel terakhir-mu, tinggal satu amanat lagi yg belum, membuat reviewnya.. nantikan. #mengenangLanFang.
Aku tidak terlalu suka buku ini. Konflik politik di dalamnya terlalu rumit. dan ada cerita di dalam cerita pada novel ini. Ah...ini seperti novel tingkat tinggi. Appreciate sama penulisnya. :)
beli buku ini karena tertarik pada judulnya. Tetapi isinya kurang greget dan secara keseluruhan buku ini membuat bosan. saya membacanya hanya sampe pertengahan buku.