Apakah politik emansipasi masih mungkin di era pascamodern yang justru merayakan matinya subyek politik? Apakah perjuangan untuk merebut keadilan dan kesetaraan masih mungkin di tengah kapitalisme kontemporer yang kian membius kita sedemikian rupa, di tengah perpolitikan yang kian menjadi arena dagang?
Di tengah kecemasan dan pesimisme itu filsuf Slavoj Žižek muncul dengan sebuah gebrakan optimistis: POLITIK RADIKAL MASIH MUNGKIN! Filsafatnya adalah upaya untuk menyegarkan politik radikal tanpa kembali pada doktrin-doktrin perjuangan gaya lama. Kapitalisme global-digital-kontemporer dengan ciri-cirinya yang khas dan baru membutuhkan cara-cara perlawanan yang baru pula.
Buku ini adalah kajian komprehensif berbahasa Indonesia pertama atas pemikiran Žižek --yang sering dijuluki "the Elvis of cultural theory"--filsuf unik dan urakan yang mengagetkan dunia dengan pemikiran-pemikirannya yang brilian dan orisinal!
Menyelesaikan pendidikan S1 di Jurusan Sosiologi FISIP-UI dan Master di bidang "Twentieth Century Political Thought and Theory" dari University of Birmingham, Inggris. Gelar doktor diperoleh dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.
Sehari-hari aktif sebagai sekjen Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) dan dosen tetap di Jurusan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Buku-buku-nya antara lain: Republikanisme dan Keindonesiaan: Sebuah Pengantar (2006) dan Politik Hak Asasi Manusia dan Transisi di Indonesia: Sebuah Refleksi Kritis (2008). Artikelnya "Perda, Fatwa and the Challenge to Secular Citizenship in Indonesia" dimuat dalam kumpulan State and Secularism: Perspectives from Asia (Singapura: World Scientific Publishing, 2010).