Kisah di balik review..
Reaksi pertama setelah melihat penulis menambahkan buku ini di Goodreads (dan memberi rating 5 bintang) adalah menyelamati beliau dan menagih reviewnya. Yang sayangnya dijawab begini oleh penulis: HAHAHA, Iyut, Iyut. Pengarang tidak boleh meresensi karangan sendiri. Bias ntar. Tapi ceritanya Hollywood banget coz pas nulis targetnya ntar difilmin Hollywood :P
So, rasa penasaran saya akan bukunya ini tidak terjawab saat itu. Mengapa saya penasaran?
1. Karena buku hasil karyanya sebelum ini yang bisa menggoda saya untuk membeli dan membacanya hanya satu, Scholaholic Princess 1, karena konon didasarkan pada kehidupan si penulis semasa SMU (yang notabene = SMU saya). Kesan saat membaca buku tersebut tidak pada tempatnya saya tuliskan di sini, hehe (malesnya kumat). Yang pasti, buku yang merupakan bagian 1 dari trilogi Scholaholic Princess tersebut tidak sanggup membuat saya berminat membeli lanjutannya.
2. Buku MD ini diterbitkan oleh GPU. Saya pikir, wow, pasti ceritanya benar-benar bagus kalau sampai GPU menerbitkannya.
Nah, satu ketika, penulis sms saya begini: Bu dokter ada kenalan goodreads jkt? Atau ada akses resensi ke any media? Cetakan Memory n Destiny 10rb eksemplar oi. Kalo ada ntar kusuruh manajer promo kirimi
Akses ke media jelas saya tidak punya. Kenalan Goodreaders Jakarta sih banyak.. maka, setelah tanya teman-teman Skypers, muncullah nama Roos. Atas persetujuan Roos, contact details Roos kuberikan ke penulis. Demikian ceritanya hingga Roos dikirimi buku Memory and Destiny langsung oleh Gramedia.
Dan tidak disangka-sangka, setelah itu sang penulis juga menghadiahi saya satu buku gratis dengan tandatangan penulis menghiasi halaman depannya, disertai sebaris kalimat: to Iyut, teman paling kupercaya kemampuan berpikir IPA-nya :) HAPPY READING, Bu dokter! Jangan lupa bantuin promosi hihi
Oh, diberi buku dengan titipan pesan untuk membantu promosi rupanya…
Karena kesibukan di kantor, baru berminggu2 kemudian saya sempat membacanya. Kisah Maroon dan ‘teman tak kasatmata’ masa kecilnya, Donald, yang kemudian ternyata adalah destiny-nya, menyelingi daftar currently reading saya yang terdiri atas beberapa buku sekaligus.
Biasanya saya murah hati dalam memberi bintang. Buku-buku yang tidak bagus atau tidak saya sukai biasanya masih bisa mendapat 2 bintang. Tapi untuk buku ini, maaf, saya hanya bisa memberi 1 bintang. Mendapat PM dari penulis dan mengetahui prasangka penulis tentang Ijul dan Roos bahkan membuat saya ingin menurunkan ratingnya menjadi setengah, seandainya bisa.
Kesan pertama saat membaca buku ini adalah buku ini biasa- biasa saja, bahkan cenderung tidak menarik minat saya untuk terus membaca. Menginjak bagian tengah, makin sulit menjaga semangat untuk membaca, karena banyak bagian yang menurut saya berlebihan, sekadar dipanjang-panjangkan dan berputar-putar di satu masalah saja.
Bukan semata-mata typo (yang sudah didaftar dengan sangat teliti oleh Ijul) yang terasa mengganggu. Ada sesuatu dalam cara penulis menyampaikan maksudnya yang membuat kalimat demi kalimat dalam buku ini, setidaknya bagi saya, tidak mengalir dengan lancar dan enak dibaca.
Oke, saya langsung bahas dari awal buku saja. Maaf jika tidak mengikuti pakem menulis resensi yang baik dan benar, toh saya hanya amatiran, bukan peresensi professional.
Bab I yang diberi judul Potongan Misteri dibuka dengan deskripsi suasana kamar Donald di hari pernikahannya. Cara penulis bercerita di sini sudah terasa berlebihan untuk selera saya. Kalimat-kalimatnya panjang dan bertingkat. Begini contohnya (Bab 1, halaman 7):
Sinar mentari pagi menerobos kamar dari celah tirai jendela yang tidak tertutup rapat. Seorang pria di pertengahan dua puluhan, dengan rambut awut-awutan seperti singa, bangun karena merasa silau. Dia bersyukur kepada Tuhan atas sapaan sinar matahari yang kaya akan vitamin D telah membangunkannya pagi itu, di hari spesialnya, tepat dua menit sebelum jam beker berbunyi dan tepat tiga menit sebelum ibunya mengetuk pintu kamarnya.
Selesai membaca kalimat ini saya seakan-akan kehabisan nafas, saking panjangnya kalimat tersebut.
Oya, karena penulis menyebutkan logic-check sebagai salah satu komponen pakem menulis resensi, mestinya dia sendiri konsisten dong.. Logic-check tidak cuma diperlukan untuk seabrek fakta (tidak terlalu) penting yang diselipkan di novel ini, tapi juga perlu diperhatikan dalam tiap kalimat yang ditulisnya. Dalam kalimat yang saya kutip di atas, pernyataan penulis bahwa sinar matahari kaya akan vitamin D tidak benar. Sinar matahari tidak mengandung vitamin D. Lebih tepatnya, sinar UV B menginduksi produksi vitamin D di kulit. Apakah sebelum menulis kalimat tersebut, pengarang sudah mengecek kebenaran faktanya? Sepertinya terpikir pun tidak.
Yang makin bikin eneg, kalimat serupa muncul lagi di Bab 4, tepatnya di halaman 55:
Udara menjelang musim panas sungguhlah menyegarkan. Kehangatan dari bola api sumber energi yang kaya akan vitamin D adalah suatu kenikmatan yang mewah bagi penduduk yang tinggal di negara dingin.
Berikutnya terkait CPR..
Di Bab 2 (halaman 30), papa Maroon tiba-tiba ambruk. Tanpa menyentuh dan memeriksanya, Donald bisa tahu jika papa Maroon kena serangan jantung dan memerlukan CPR.
Begini kutipan bukunya: Tiba-tiba pintu ruang perpustakaan terbuka. Papa masuk dengan napas terengah-engah, sedikitpun tidak memerhatikan keberadaanku di pojok ruangan. Sesaat Papa mengomel sendirian, aku tidak begitu mengerti apa yang sedang Papa ucapkan. Aku hanya memandang dengan heran, lalu semuanya berlangsung secepat kilat. Papa ambruk beberapa meter di hadapanku.
“Mama!!! Papa, Ma!!!” aku menjerit sekuat tenaga. Suaraku melengking nyaring melebihi teriakanku ketika ketakutan dikejar anjing, teriakanku ultrasonik super panic.
Donald juga menghambur, buku yang dipegangnya dilemparkan begitu saja. “Papa kamu kena serangan jantung. Maroon, cepat beri CPR!” perintahnya, …
Mungkin perlu diceritakan setelah papa Maroon terjatuh, Donald segera memeriksanya, cek A B C (airway, breathing, circulation), baru menyebutkan kemungkinan serangan jantung dan sebagainya. Toh si Donald bisa memegang buku, jadi mestinya dia juga bisa memeriksa papanya Maroon terlebih dulu kan? At least mencek ada tidaknya denyut nadi sebelum menginstruksikan Maroon untuk melakukan CPR.
Kemudian saat melakukan CPR, Donald ‘merasuki’ Maroon agar dapat melakukan pertolongan pertama pada Papanya yang mendadak kehilangan kesadaran. Di situ disebutkan: dan tiba-tiba saja aku merasa tanganku bekerja secepat kilat si Flash dengan kekuatan Superman.
Berlebihan dong kekuatannya saat melakukan CPR, bisa patah tulang tuh pasiennya.
Tanganku seperti ada yang menggerakkan untuk memompa diafragma Papa.
Kenapa diafragma-nya yang dipompa? Saat melakukan kompresi dada pada prosedur CPR, tangan diletakkan di tulang dada, kira-kira 2 jari di atas processus xyphoideus (silakan googling untuk mencari bagian ini, saya tidak ingat padanan bahasa Indonesianya, maklum bukan otak prima). Berarti bukan diafragmanya yang dipompa. Penulis mengutip dari mana ya?
Lalu setelah CPR, ada lagi yang aneh. Donald kan mestinya hanya berupa “jiwa-kelana” (pinjam istilah Ijul), tapi kok bisa berkeringat ya?
Donald melompat ke ujung ruangan, dan tubuhku terasa kembali lunglai. Kulihat Donald menyeka keningnya yang berkeringat.
Ugggghhh.. ini baru sampai bab 2…
--bersambung--
*mikir-mikir lagi mau nyelesain review ini atau tidak*