Jump to ratings and reviews
Rate this book

Memory and Destiny #1

Memory and Destiny

Rate this book
Memory and Destiny. Kisah cinta dua dunia. Apakah teman khayalan itu benar-benar ada? Ataukah itu malaikat pelindung anak kecil?

Maroon Winata, calon dokter, yakin bahwa Donald-nya benar-benar ada. Sejak pertemuan pertama di Westminster Abbey, pada hari terakhir Maroon kecil di kota London, sampai Maroon di Jakarta dan berjuang menyesuaikan diri dari lidah bule ke bahasa ibunya, Donald adalah teman bermain dan belajar.

Maroon dan Donald dewasa bertemu, namun mereka belum menemukan tali penghubung memory masa lalu mereka. Nasib mempermainkan mereka. Lalu muncullah David yang tampan dan kaya. Lelaki itu percaya destiny telah mempertemukannya dengan Maroon. Memory dan destiny dalam hidup Maroon pada akhirnya menunjukkan bahwa Tuhan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya.

264 pages, Paperback

First published May 1, 2010

4 people are currently reading
52 people want to read

About the author

Yunisa K.D.

9 books25 followers
Yunisa has a very long name, such that her Junior High Physics teacher commented that her name contained the whole neighbourhood’s names. KD is her middle name, stands for Kusuma (=Flower) Dewi (=Goddess).

Yunisa is raised as the eldest child as her elder twin sisters passed away before she could remember them. Her three younger sisters are her source of inspiration in writing novels. The first 18 years of her life, Yunisa lived in Yogyakarta, a small town in Central Java, Indonesia, where she was known of her consistently excellent academic performance. Feeling lack of challenges, she decided to go international and got her first taste of international study in National University of Singapore, majoring in Applied Mathematics. She then pursued MBA from The University of Newcastle, Australia, and hopeful to obtain a PhD some time in the future.

Currently Yunisa works in a giant Internet company and (temporarily still) resides in Singapore with her husband and their baby.

1. Sakura Bersemi di Yokohama (Theriza Books, 2006) was in the Top 5 Finalist for Pantene Shine Award 2006 in Singapore.
2. Sydney Darling Harbour (Cupid, 2008)
3. Schoolaholic Princess 1: The Miracle Boys
4. Schoolaholic Princess 2: Romansa Singapura
5. Schoolaholic Princess 3: Simfoni Cinta (Andi Offset / Sheila, 2008)
6. Memory and Destiny (Gramedia, 2010)
7. Obsesi dan Deja vu (Gramedia, 2013)
8. Sepotong Kata Maaf (Grasindo, 2013)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
6 (7%)
4 stars
5 (6%)
3 stars
14 (17%)
2 stars
13 (16%)
1 star
42 (52%)
Displaying 1 - 30 of 42 reviews
Profile Image for ijul (yuliyono).
811 reviews970 followers
July 8, 2010
(mungkin) Saya hanya nggak dapet feel-nya

Maroon Winata kecil tidak menyadari bahwa sesosok lelaki dewasa bernama Donald Basuki yang selalu menemaninya belajar dan bermain adalah bukan seutuhnya manusia. Maroon seolah tak peduli dan hanya menikmati kehangatan hubungan yang terjalin diantara dirinya dan Donald, karena Donald selalu berhasil membuatnya nyaman sebagai sahabat yang membantu melewati masa-masa sulit sejak kepindahannya dari London ke Jakarta. Namun perjumpaan itu pada akhirnya harus berujung pada sebuah perpisahan ketika Donald menghilang dari kehidupan Maroon.

Waktu terus berganti, cerita kehidupan Maroon pun bergulir meninggalkan jejak-jejak yang penuh warna. Begitu pula pada tokoh-tokoh lain, termasuk keluarganya, teman-temannya, juga dua orang lelaki yang kelak menggoreskan tinta dengan warna berbeda pada lembaran kehidupan Maroon yang sangat penting, yaitu Donald dan David. Lalu di manakah Maroon dapat bertemu dengan destiny-nya? Apakah sepotong memory masa lalunya yang sempat hilang dapat menuntunnya ke arah yang benar? Temukan jawabannya dengan membaca novel dalam lini terbaru Gramedia, Amore, karya Yunisa KD ini.

Sejak awal, saya sudah menyampirkan asa setinggi angkasa bahwa lini baru Gramedia ini setidaknya bisa melengkapi lini metropop yang novel-novelnya saya gemari. Apalagi ketika saya menyadari editor yang menggawangi kemunculan lini ini sama dengan yang membidani kelahiran metropop. Buncah harapan itu terbit dalam bisik kalimat di hati, “kalo yang ini oke, guwe bakal ngikutin Amore seterusnya deh, gak peduli siapa penulisnya.” Nyatanya, hmm… saya agak kecewa, dan yah boleh dibilang icip-icip saya ini membawa simpulan untuk mencukupkan baca lini Amore pada novel ini saja. Saya fokus ke metropop saja lah. Seperti sejak mula.

Sekilas, kemasan novel pada lini ini hampir mirip dengan harlequin. Baik dari segi ukuran (panjang-lebar) hingga cover design-nya. Sedangkan jika dibandingkan dengan metropop yang sebagian besar masih menggunakan gambar ilustrasi (bukan foto) saya lebih appreciate metropop yang menggunakan cover gambar karena lebih original (penilaian subjektif). Tapi, dibanding Lukisan Keempat (Amore 01 karya Rina Suryakusuma) saya lebih suka cover novel ini, karena saya adalah penggemar kota London (Inggris secara umum).

Membaca lembar-lembar awalnya, saya seolah diberikan harapan akan mendapat sebuah sajian romance story yang menjanjikan. Namun, antusiasme saya justru terus menurun dan secara perlahan saya menjadi agak terengah-engah membaca lembar-lembar selanjutnya. Yang paling membuat saya hilang semangat adalah potongan adegan di halaman 34 – 35. Karena adegan tersebut sangat mirip dengan film Just Like Heaven-nya Reese Witherspoon dan Mark Ruffalo. Saya mungkin tidak akan mempermasalahkannya kalau saja penulis tidak secara terang-terangan mengidolakan Reese, yang artinya seharusnya dia sudah menonton film ini. Entah ceritanya beliau terinspirasi dari film tersebut sehingga menulis novel ini atau bagaimana, yang jelas saya agak kecewa dengan kesamaan adegan ‘pengusiran-arwah’ (bahkan soal sosok Donald juga mirip dengan Elizabeth yang diperankan oleh Reese, yang keduanya adalah ‘jiwa-kelana’ dari seseorang yang sedang koma, sama-sama berprofesi sebagai dokter, serta mengalami jenis kecelakaan yang sama, astaga!). Dan, yang membuat saya semakin ilfil adalah film ini pun sudah dijiplak (entah berijin atau tidak) oleh Multivision Plus dalam bentuk sebuah film televisi yang saat ini masih bisa didapatkan keping VCD originalnya (saya beli!) dengan judul Cinta Untuk Cinta yang dibintangi oleh Masayu Anastasia dan Dimas Seto. Ya ampunn….

Okay, mungkin karena penulisnya tinggal dan menetap di luar negeri sehingga tak tahu-menahu soal FTV ini, lalu apakah editor (yang orang Indonesia) juga tidak tahu? Fine, mari di-justifikasi lagi bahwa penulis dan editor tidak tahu atau kenyataan bahwa di zaman sekarang sudah lumrah jika satu karya dengan karya yang lain bisa saja ada kesamaan, tapi… apa iya harus mirip banget begitu? Soalnya yang bikin geli, versi novel ini mirip banget sama versi FTV-nya (ada ahli agamanya, ada ahli perdukunan lokal, dan ada ahli perdukunan China). What a coincidence, hah!

Dan, ngomong-ngomong soal kebetulan, novel ini dipenuhi dengan taburan kebetulan demi kebetulan yang too much, menurut saya. Okay, judulnya memang merujuk pada destiny, tapi masak iya destiny itu begitu mudahnya dituju dengan serendipity yang sebagian kurang penjelasan. Pertama, saya ingin tahu bagaimana seorang Donald bisa berteman dengan Wiro, di mana Wiro adalah bersepupu dengan Sharon yang adalah teman Maroon. Kedua, termasuk juga kebetulan Donald satu tempat fitness bersama Romeo II (ada dua nama Romeo di novel ini) yang nantinya adalah calon suami Sharon, teman Maroon, kok bisa? Ketiga, saya ingin tahu mengapa Donald bisa bertugas sebagai dokter di Singapura dan secara kebetulan Maroon sedang mengambil spesialisasi keahlian kedokterannya di negeri Singa itu. Keempat, sedang ngapain kah Donald ke Westminster Abbey pada Kamis 18 Juni 2009 ketika Maroon juga secara kebetulan pergi ke situ. Saya perlu logic-nya.

Amnesia lagi – amnesia lagi. Rasanya sudah semakin membosankan tema hilang-ingatan-sementara ini diangkat menjadi latar sebuah kisah percintaan karena ujungnya pasti ketebak, begitu ingatannya kembali, si tokoh akan kembali ke pelukan love interest pertama. Dan, penulis mengambil pakem itu juga. Yang agak aneh adalah begitu ingatannya kembali, Maroon blingsatan mencari kesana-kemari sosok Donald di Singapura. Lah, kan di handphone Maroon ada nomor kontak Donald (seingat saya tidak diceritakan Donald mengganti nomor kontaknya dan meskipun di halaman 203 disebutkan Maroon tak yakin itu nomor kontak Donald, setidaknya ia bisa mencobanya, ataukah karena amnesia maka seluruh kejadian di saat amnesia akan terlupa ketika ingatan sudah kembali? Dunno).

Sudah hilang selera akibat adegan per adegannya, kepenatan saya ditambah dengan banyaknya typo dan kejanggalan kata/kalimat yang bertaburan di sana-sini. Sebut saya aneh (atau bahkan gila/miring/sedeng) bahwa saya kurang kerjaan banget memelototi kesalahan teknis sebuah buku. Namun, apa mau dikata jika kesalahan-kesalahan teknis tersebut mempengaruhi kenyamanan saya dalam membaca. Maklum, otak saya tidak lagi prima (sudah dari dulunya sih) sehingga sedikit kesalahan teknis-cetak membuat proses membaca saya menjadi ter-pause dan otak bekerja keras menafsir sendiri apa maksud dari kata/kalimat tersebut. Berikut beberapa kejanggalan yang saya temukan:

(hlm: 11) menggenaskan, (hlm: 24) mengenaskan = inkonsistensi
(hlm: 15 dan 63) kata di panggil harusnya digabung menjadi dipanggil (merujuk kata kerja)
(hlm: 16) meski dia sudah pernah mendengar….., dan dia masih ingin… ini hanya soal enak diucap-didengarkan versi saya sih, sebaiknya kata meski diikuti kata sambung tapi/namun, bukan dan….meski dia sudah pernah mendengar….., tetapi/namun dia masih ingin…
(hlm: 18, 64, 137) ha-rus, pergela-ngan, ada-lah, sebaiknya tanda (-) dibuang saja karena kata tersebut muat dalam satu kalimat (sebatas marjin halaman).
(hlm: 20) …menunjuk ke arah pedagang asongan [yang:] menawarkan… (hlm: 117) …aku tidak bisa mengingat siapa laki-laki [yang:] duduk itu,….lebih enak dikasih tambahan kata ‘yang’
(hlm: 21) memertahankan, (hlm: 89) memedulikan, (hlm: 171) memerkenalkan, (hlm: 192) memerlakukan, (hlm: ?) memerlancar…terkhusus hal ini saya sendiri belum mencari aturan bakunya, namun secara lidah penulisan itu kurang begitu enak diucapkan.
(hlm: 27) aku sempat cita-cita menjadi penyanyi opera…lebih enak jika kata cita-cita diubah menjadi bercita-cita.
(hlm: 28) menyamangati = menyemangati
(hlm: 36) …masker oksigen di pasangkan…kata dipasangkan terpisah batas marjin, sebaiknya demi konsistensi diberi tanda (-) menjadi di-pasangkan.
(hlm: 37) Lalu kau bisa menghajar anak-anak yang mengolok-olokmu…saya merasa terlalu kasar nasihat yang diberikan Donald pada Maroon yang baru 10 tahun ini (kata “menghajar”).
(hlm: 48) semua bully di kelasku menjadi tidak berkutik…bukankah seharusnya yang tidak berkutik itu ‘pelaku’ bully, bukan bully-nya.
(hlm: 62) mengantung = menggantung
(hlm: 68) …aku sudah memimpikannya keberadaannya……fungsi –nya pada kata memimpikannya untuk apa ya? Menurut saya mending dibuang saja.
(hlm: 73-74) entahlah, saya masih tidak bisa menerima seorang profesor salah memberikan resep.
(hlm: 74) pertanyaan-pertanyakan = pertanyaan-pertanyaan
(hlm: 76) Maroon tidak hanyak = hanya
(hlm: 77) padahal dia baru beberapa tahun yang lalu, ia melewati masa…….saya agak kurang sreg dengan kalimat ini, redundansi pada kata ganti (dia, ia), lebih baik dibuang salah satunya.
(hlm: 82) saya agak muak dengan proses pengenalan tokoh David di sini karena kemudian terdapat jeda yang agak lama sebelum tokoh ini ‘tampil’ lagi, maaf.
(hlm: 89) …pria muda ini mengajak orang-nya bersulang….orang-nya = orangtuanya?
(hlm: 92) …mendampingin = mendampingi (ataukah sengaja dipakai sebagai bahasa gaul dengan tambahan huruf n, kalau mau gaul sekalian ditulis “ngedampingin”)
(hlm: 94) kuturunkan cursor, kembali kembali ke…….duplikasi kata ‘kembali’
(hlm: 94) tidak hapis bikir…..hapis = habis
(hlm: 95) tidak ada yang menyeram di jogging…….menyeram = menyeram[kan:]
(hlm: 110, 119) terpekur, (hlm: 124) tepekur = inkonsistensi
(hlm: 111) keaggunan = keanggunan
(hlm: 114) menakhlukkan = menaklukkan
(hlm: 131) penasar-an, (hlm: 179) tatan-an….. yang ini saya belum mencari kebenaran cara pemenggalan kata tersebut.
(hlm: 137-138) mati aku, ini cewek ini kayaknya…..duplikasi kata ‘ini’, sebaiknya buang salah satu
(hlm: 165) ada alasan untuk mengantarnya Maroon untuk pulang…..’nya’ itu merujuk ke Maroon, jadi sebaiknya pilih salah satu saja, menggunakan ‘nya’ atau Maroon.
(hlm: 177 dan satu hlm lagi saya lupa) nama Maroon terketik Maron, kurang satu 'o'.
(hlm: 189) ..untuk memainkan melodi Basch....siapa itu Basch? Johann Sebastian Bach (Bach)kah yang dimaksud?
(hlm: 214) …entah karena…..dengan sepenuh hati atau makin benturan kepala……saya merasa ada kata yang ‘nyelip’ di antara kata makin dan benturan.
(hlm: 228) rencanaku pertama sebenarnya memang menyusul Donald di negeri Singa….bagaimana kalau saya usul begini: rencana pertamaku sebenarnya memang untuk menyusul Donald ke negeri Singa.
(hlm: 236) …mirip orang gadis Harajuku yang…….saya kok merasa kata orang dan gadis redundansi ya? Sebaiknya kata orang-nya dibuang, langsung disebut gadis Harajuku saja.
(hlm: 237) …setengah menelanjangi isi hatiku, sambil melepaskannya pelukan beruang Teddy ala…….aku kok merasa kurang pas dengan kata melepaskannya pelukan.
(hlm: 239) pria yang baru akan kukenal…..kukenal = kukenal[kan:]
(hlm: 247) …lagu Sunday Morning milik Maroon 5 yang selalu diputar Donald di setiap Minggu pagi saat kami bertemu untuk brunch selama beberapa ini……saya merasa ada informasi yang hilang, harusnya setelah kata beberapa ditambahkan keterangan waktu.
(hlm: 251) …ketika kamar pintu diketuk….rasanya terbalik, lebih enak ‘pintu kamar diketuk’.
Tambahan: cetak miring/tidak pada beberapa tempat juga masih inkonsisten, termasuk untuk menggambarkan suasana hati (bukan dialog) kadang menggunakan tanda petik, kadang dimiringkan.

Itulah beberapa kejanggalan yang saya temukan ketika merampungkan-baca novel bercover dominasi langit biru ini. Untuk deskripsi saya juga agak terganggu dengan pengulangan-pengulangan informasi tokoh atau keadaan. Misalnya, di awal sudah dideskripsikan bahwa Donald itu tampan bla-bla-bla, dan saya yakin pembaca sudah mampu menangkap pesannya, namun informasi ini diulang lagi-ulang lagi untuk menggambarkan sosok Donald. Begitu juga dengan tokoh David yang dimirip-miripkan Ricky Martin. Behhhh, saya sampai mual membaca nama Ricky Martin yang banyak itu, saya sampai berniat nyeletuk, “iya-iya udah tau, kan dah lo bilang tadi, capek dehhh…” Termasuk juga informasi soal Wiro yang homo. Beberapa kali jika tokoh ini muncul, si pembicara selalu menambahi, “sepupu Sharon yang homo.” Saya pikir sekali-dua kali saja pembaca sudah bisa menangkap deskripsi tokoh tersebut, tidak perlu diulang-ulang-ulang-ulang-ulang-ulang.

Intermezo: novel ini harusnya bersifat futuristik (setting hingga tahun 2015, berarti 2012 nggak jadi kiamat) sehingga seharusnya penulis berkreasi dengan menciptakan nuansa-nuansa masa depan. Sayang sekali, saya justru tidak merasakannya. Misal istilah lebay yang sekarang sedang nge-trend ternyata oleh penulis masih dianggap sebuah trend di tahun 2015. Gosip-gosip artis juga jadul sekali, misal soal perceraian Britney Spears – Kevin Federline atau tentang salah satu lagunya Jessica Simpson. Saya berharap penulis berinovasi dengan menghadirkan suasana future yang mampu menggeliatkan fantasi pembacanya.

Soal lain, saya berharap penulis konsisten untuk menghadirkan tokoh Olivia (adik Maroon), yang kadang disebutkan sebagai Olive. Hal itu tidak menjadi masalah kalau nama Olivia dan Olive dibedakan pemakaiannya, misalnya dipanggil Olive jika terjadi dialog atau ketika salah satu tokoh bercerita dari PoV mereka (sebagai panggilan sayang) dan disebut Olivia dalam narasi/deskripsi.

Hmm, kritik terakhir. Dan, lagi-lagi berdasar selera saya (subjektif banget). Konsistenlah, wahai sang penulis. Jikalau tidak bisa fokus, mending gunakan satu PoV saja dalam penceritaannya, tidak perlu berganti-ganti PoV. Saya jadi merasa bahwa penulis benar-benar tuhan di novel ini. Penulis mencoba menjadi dalang otoriter yang mengendalikan semua tokohnya sehingga tidak menyisakan ruang imajinasi bagi pembacanya.

Akhirnya, saya hanya dapat menyimpulkan bahwa novel ini adalah sekadar kisah cinta segitiga biasa yang seperempat bagian awalnya mirip jalan cerita sebuah film. Konflik hanya berputar di situ-situ saja dengan senjata andalan: amnesia. Namun, tentu saja, keseluruhan cuap-cuap ini hanyalah sekadar penilaian subjektif saya yang kebetulan kurang dapat feel dari novel setebal 250-an halaman ini. Maka, bagi yang ingin mengerti maksud judul Memory and Destiny, silakan baca novel yang ditulis oleh Yunisa KD, salah satu dari Top 5 Finalis Pantene Shine Award 2006 di Singapura, ini.
Profile Image for Iyut.
231 reviews26 followers
July 17, 2010
Kisah di balik review..

Reaksi pertama setelah melihat penulis menambahkan buku ini di Goodreads (dan memberi rating 5 bintang) adalah menyelamati beliau dan menagih reviewnya. Yang sayangnya dijawab begini oleh penulis: HAHAHA, Iyut, Iyut. Pengarang tidak boleh meresensi karangan sendiri. Bias ntar. Tapi ceritanya Hollywood banget coz pas nulis targetnya ntar difilmin Hollywood :P

So, rasa penasaran saya akan bukunya ini tidak terjawab saat itu. Mengapa saya penasaran?
1. Karena buku hasil karyanya sebelum ini yang bisa menggoda saya untuk membeli dan membacanya hanya satu, Scholaholic Princess 1, karena konon didasarkan pada kehidupan si penulis semasa SMU (yang notabene = SMU saya). Kesan saat membaca buku tersebut tidak pada tempatnya saya tuliskan di sini, hehe (malesnya kumat). Yang pasti, buku yang merupakan bagian 1 dari trilogi Scholaholic Princess tersebut tidak sanggup membuat saya berminat membeli lanjutannya.
2. Buku MD ini diterbitkan oleh GPU. Saya pikir, wow, pasti ceritanya benar-benar bagus kalau sampai GPU menerbitkannya.

Nah, satu ketika, penulis sms saya begini: Bu dokter ada kenalan goodreads jkt? Atau ada akses resensi ke any media? Cetakan Memory n Destiny 10rb eksemplar oi. Kalo ada ntar kusuruh manajer promo kirimi
Akses ke media jelas saya tidak punya. Kenalan Goodreaders Jakarta sih banyak.. maka, setelah tanya teman-teman Skypers, muncullah nama Roos. Atas persetujuan Roos, contact details Roos kuberikan ke penulis. Demikian ceritanya hingga Roos dikirimi buku Memory and Destiny langsung oleh Gramedia.

Dan tidak disangka-sangka, setelah itu sang penulis juga menghadiahi saya satu buku gratis dengan tandatangan penulis menghiasi halaman depannya, disertai sebaris kalimat: to Iyut, teman paling kupercaya kemampuan berpikir IPA-nya :) HAPPY READING, Bu dokter! Jangan lupa bantuin promosi hihi
Oh, diberi buku dengan titipan pesan untuk membantu promosi rupanya…

Karena kesibukan di kantor, baru berminggu2 kemudian saya sempat membacanya. Kisah Maroon dan ‘teman tak kasatmata’ masa kecilnya, Donald, yang kemudian ternyata adalah destiny-nya, menyelingi daftar currently reading saya yang terdiri atas beberapa buku sekaligus.

Biasanya saya murah hati dalam memberi bintang. Buku-buku yang tidak bagus atau tidak saya sukai biasanya masih bisa mendapat 2 bintang. Tapi untuk buku ini, maaf, saya hanya bisa memberi 1 bintang. Mendapat PM dari penulis dan mengetahui prasangka penulis tentang Ijul dan Roos bahkan membuat saya ingin menurunkan ratingnya menjadi setengah, seandainya bisa.

Kesan pertama saat membaca buku ini adalah buku ini biasa- biasa saja, bahkan cenderung tidak menarik minat saya untuk terus membaca. Menginjak bagian tengah, makin sulit menjaga semangat untuk membaca, karena banyak bagian yang menurut saya berlebihan, sekadar dipanjang-panjangkan dan berputar-putar di satu masalah saja.

Bukan semata-mata typo (yang sudah didaftar dengan sangat teliti oleh Ijul) yang terasa mengganggu. Ada sesuatu dalam cara penulis menyampaikan maksudnya yang membuat kalimat demi kalimat dalam buku ini, setidaknya bagi saya, tidak mengalir dengan lancar dan enak dibaca.
Oke, saya langsung bahas dari awal buku saja. Maaf jika tidak mengikuti pakem menulis resensi yang baik dan benar, toh saya hanya amatiran, bukan peresensi professional.

Bab I yang diberi judul Potongan Misteri dibuka dengan deskripsi suasana kamar Donald di hari pernikahannya. Cara penulis bercerita di sini sudah terasa berlebihan untuk selera saya. Kalimat-kalimatnya panjang dan bertingkat. Begini contohnya (Bab 1, halaman 7):
Sinar mentari pagi menerobos kamar dari celah tirai jendela yang tidak tertutup rapat. Seorang pria di pertengahan dua puluhan, dengan rambut awut-awutan seperti singa, bangun karena merasa silau. Dia bersyukur kepada Tuhan atas sapaan sinar matahari yang kaya akan vitamin D telah membangunkannya pagi itu, di hari spesialnya, tepat dua menit sebelum jam beker berbunyi dan tepat tiga menit sebelum ibunya mengetuk pintu kamarnya.

Selesai membaca kalimat ini saya seakan-akan kehabisan nafas, saking panjangnya kalimat tersebut.

Oya, karena penulis menyebutkan logic-check sebagai salah satu komponen pakem menulis resensi, mestinya dia sendiri konsisten dong.. Logic-check tidak cuma diperlukan untuk seabrek fakta (tidak terlalu) penting yang diselipkan di novel ini, tapi juga perlu diperhatikan dalam tiap kalimat yang ditulisnya. Dalam kalimat yang saya kutip di atas, pernyataan penulis bahwa sinar matahari kaya akan vitamin D tidak benar. Sinar matahari tidak mengandung vitamin D. Lebih tepatnya, sinar UV B menginduksi produksi vitamin D di kulit. Apakah sebelum menulis kalimat tersebut, pengarang sudah mengecek kebenaran faktanya? Sepertinya terpikir pun tidak.

Yang makin bikin eneg, kalimat serupa muncul lagi di Bab 4, tepatnya di halaman 55:
Udara menjelang musim panas sungguhlah menyegarkan. Kehangatan dari bola api sumber energi yang kaya akan vitamin D adalah suatu kenikmatan yang mewah bagi penduduk yang tinggal di negara dingin.

Berikutnya terkait CPR..
Di Bab 2 (halaman 30), papa Maroon tiba-tiba ambruk. Tanpa menyentuh dan memeriksanya, Donald bisa tahu jika papa Maroon kena serangan jantung dan memerlukan CPR.
Begini kutipan bukunya: Tiba-tiba pintu ruang perpustakaan terbuka. Papa masuk dengan napas terengah-engah, sedikitpun tidak memerhatikan keberadaanku di pojok ruangan. Sesaat Papa mengomel sendirian, aku tidak begitu mengerti apa yang sedang Papa ucapkan. Aku hanya memandang dengan heran, lalu semuanya berlangsung secepat kilat. Papa ambruk beberapa meter di hadapanku.
“Mama!!! Papa, Ma!!!” aku menjerit sekuat tenaga. Suaraku melengking nyaring melebihi teriakanku ketika ketakutan dikejar anjing, teriakanku ultrasonik super panic.
Donald juga menghambur, buku yang dipegangnya dilemparkan begitu saja. “Papa kamu kena serangan jantung. Maroon, cepat beri CPR!” perintahnya, …


Mungkin perlu diceritakan setelah papa Maroon terjatuh, Donald segera memeriksanya, cek A B C (airway, breathing, circulation), baru menyebutkan kemungkinan serangan jantung dan sebagainya. Toh si Donald bisa memegang buku, jadi mestinya dia juga bisa memeriksa papanya Maroon terlebih dulu kan? At least mencek ada tidaknya denyut nadi sebelum menginstruksikan Maroon untuk melakukan CPR.

Kemudian saat melakukan CPR, Donald ‘merasuki’ Maroon agar dapat melakukan pertolongan pertama pada Papanya yang mendadak kehilangan kesadaran. Di situ disebutkan: dan tiba-tiba saja aku merasa tanganku bekerja secepat kilat si Flash dengan kekuatan Superman.

Berlebihan dong kekuatannya saat melakukan CPR, bisa patah tulang tuh pasiennya.

Tanganku seperti ada yang menggerakkan untuk memompa diafragma Papa.

Kenapa diafragma-nya yang dipompa? Saat melakukan kompresi dada pada prosedur CPR, tangan diletakkan di tulang dada, kira-kira 2 jari di atas processus xyphoideus (silakan googling untuk mencari bagian ini, saya tidak ingat padanan bahasa Indonesianya, maklum bukan otak prima). Berarti bukan diafragmanya yang dipompa. Penulis mengutip dari mana ya?

Lalu setelah CPR, ada lagi yang aneh. Donald kan mestinya hanya berupa “jiwa-kelana” (pinjam istilah Ijul), tapi kok bisa berkeringat ya?

Donald melompat ke ujung ruangan, dan tubuhku terasa kembali lunglai. Kulihat Donald menyeka keningnya yang berkeringat.

Ugggghhh.. ini baru sampai bab 2…

--bersambung--
*mikir-mikir lagi mau nyelesain review ini atau tidak*
Profile Image for Roos.
391 reviews
July 5, 2010
Oke, setelah tunggu-tungguan siapa yang mau duluan...hehehe. *ngelirik yang dilirik*.

Alasan mengapa memberikan 1 bintang, pertama adalah covernya yang menurutku sudah bagus dengan menampilkan Westminster Abbey, London dan langit biru menjelang malam. Seandainya tidak ada gambar sosok pria didepannya. Tidak tahu apa alasan menampilkan sosok pria tersebut, tapi terus terang, agak sedikit mengganggu saat membaca bukunya.

Yang kedua, dari cerita mungkin memang dikarenakan serial Amore yang menjadi tagline di kiri atas cover, jadi ya bercerita mengenai cinta-cintaan dengan akhir yang happy ending, meskipun saya berharap akhir cerita yang menyentuh atau sesuatu yang lebih dramatis. Tapi kok kayak cerita cinta di dongeng-dongeng yah atau roman picisan, ceritanya melambung keatas terus jatuh berdebum oleh karena dialog-dialognya, yang menurut saya kesannya begitu-begitu saja dan membosankan.

Bingung juga antara jarak umur Maroon dan Donald, mereka bertemu pertama kali di Westminster Abbey London saat Maroon masih kecil (10 tahun) dan Donald dalam kondisi (arwah) yang sudah memasuki usia pernikahan. Tapi mereka dipertemukan kembali saat Maroon sudah dewasa dan Donald setelah beberapa tahun sadar dari koma...kira-kira berjarak berapa ya umur mereka seharusnya? Karena yang membuat bingung kenapa setelah mereka bertemu lagi, terkesan umur mereka sama...ehhhmmm.

Penjelasan mengenai tokoh-tokohnya disini juga agak mengganggu karena cenderung berlebihan seperti ketika Maroon kecil bertemu Donald,

Dan sekarang di depan matanya, ditemuinya pesona Phantom yang sama, hanya saja dalam jas putih dan tanpa topeng. Kesedihan yang sama, gaya cool yang sama, potongan perawakan tinggi dan tegap dengan rambut hitam berkilat karena gel (hal.14).

Mengganggunya pembaca jadi dimanjakan dengan penggambaran yang sudah ada, dan sedikit tidak sesuai dengan penampilan sosok pria yang ada di cover depan buku ini. Dan banyak lagi penggambaran-penggambaran yang menurut saya berlebihan karena cenderung mendekati sosok sempurna.

Buat teman-teman yang suka membaca cerita cinta yang happy ending, selamat membaca.
Profile Image for Nilam Suri.
Author 2 books141 followers
September 3, 2012
Baru aja dapat pencerahan.... God, how i was wrong....
bego banget sempet ngasih bintang 5....
ampuni saya dewa buku, saya bertobat....

________________



Haha,pasti banyak yang misuh-misuh melihat bintang yang saya berikan buat buku luar biasa ini. tapi jujurly ;p buku ini menurut saya memang luar biasa, well actually penulisnyalah yang amazing, seperti arti dari lima buah bintang yang saya beri.

Bagaimana tidak, buku kacangan yang tipis ini berhasil menggoncang dunia goodreads indonesia, sampai-sampai para anggotanya yang tersebar ke berbagai pelosok negeri bersatupadu, untuk menghujat. dan lagi, saya memang sepenuhnya salut pada YKD, siapapun yang punya rasa percaya diri sebesar itu patut dikagumi,hahah.

Selain itu, YKD dengan caranya sendiri berhasil mempromosikan buku ini, buktinya,sekarang di GRI siapa sih yang tak tahu buku biru bergambarkan seorang lelaki asia yang ceritanya meggambarkan perpaduan Rhett dan Ken ini? Bahkan halaman update goodreads saya sempat berwarna semuanya biru, menakjubkan bukan? Buku mana lagi yang pernah membuat kehebohan macam ini?
Mungkin YKD mengetahui rahasia publisitas, bahwa tak ada yang namanya bad publicity.semua cara halal dilakukan untuk meraih ketenaran.lihat saja para artis,nama mereka menghiasi layar infotainment atau tabloid, padahal banyak diantara para artis itu yang sedang tak menghasilkan karya apapun, tapi nyatanya ulah mereka berhasil membuat mereka eksis juga toh.so,kenapa YKD tak bisa berbuat sama?
kenyataannya dia berhasil, tingkah lakunya yang 'unik' sukses menjadi black campaign yang membuat buku ini terkenal, diperbincangkan, bahkan seseorang sesepuh GRI menjadikannya topic di twitter. para publisis profesional pun belum tentu bisa mendapatkan hasil serupa.

sayang bukunya terlalu melelahkan untuk dibaca. coba seandainya buku biru lebih bagus sedikit sajaa..mungkin segala kehebohan ini akan terasa layak.

stop dulu bicara ttg YKD, waktunya kita bicara ttg MD.

buku biru ini...sungguh saya berusaha untuk menyukainya. mungkin sebagian diri saya yang optimis mengharapkan kalau rasa percaya diri YKD mungkin pada tempatnya, dan buku ini sebenarnya layak dibaca,dan dinikmati...tapi sayangnya saya harus menerima kenyataan kalau saya berharap pada sesuatu yang semu.baru beberapa halaman,buku ini sudah hampir saya letakkan dan tak pernah buka lagi.

but i'm a survivor.jadi dengan mengumpulkan seluruh tekad, saya ngotot menyelesaikan buku ini. karena saya tak ingin menjadi seseorang yang menghakimi sesuatu yang dia tak tahu.

tapi perjuangan saya membaca buku ini juga tak bisa dibilang sia-sia, setidak-tidaknya saya yakin, bahwa segala hujatan dan rasa sentimen saya sebelum membaca buku ini memang pada tempatnya.

kalau YKD bilang orang yg tak pernah tinggal lama di luar negeri tak bisa menikmati buku ini, jujur saya tak mengerti. toh kalaupun setting tempat dalam buku ini dipindahkan pun tak akan mengganggu jalan cerita.mau itu di jakarta,tegal,purwerejo sekalipun,ceritanya juga akan tetap sama.tinggal cari saja kuburan,jadi deh tempat makam tua kota london itu.kenapa harus repot-repot membawa pembaca kesana-kemari kalau toh si penulis tak berhasil membangun suasana apapun.atau hanya sekedar pamer?

selain itu,tentang drama broadway.reaksi saya adalah "yaelah,kirain apa??" saya pikir buku ini akan habis-habisan menggambarkan atmosfer suasanan teater kebanggaan kota new york tersebut,ternyata??hanya beberapa halaman,itu pun sama sekali tak ada deskripsinya.sama sekali nggak relevan untuk mengatakan kalau bukan penikmata broadway tak akan menikmati buku ini.kenapa tak sekalian bilang, kalau nggak suka Barbie,nggak akan bisa menikmati buku ini juga??

dan lagian,kenapa sih kata2nya mesti lebay??buku tsb lagi tak ada di tangan saya,jadi saya tak bisa mengquote-nya secara persis,cuma seingat saya ada kata "nestapa" kenapa tak pakai kata "durjana" sekalian??

saya juga jadi teringat sebuah novel best seller yang ditulis oleh seorang penulis islam,bersaratkan dakwah,saya pernah menghujat buku itu karena menurut saya kata-katanya basi.tapi saya masih mengerti kebasian si penulis buku itu,mungkin di dunia pergaulannya mereka berbicara dengan cara seperti itu,sehingga terbawa pada tulisannya.tapi YKD???bukankah harusnya dia bisa menulis dialog yang lebih mengalir,lebih nggak terasa dibuat-buat,dan kekinian??kenapa ini malah sama atau malah lebih basi dari si penulis islam tersebut??
atau dia terlalu sibuk hilir mudik keliling dunia,mampir sana,mampir sini sampai-sampai nggak punya waktu bergaul, dan tak tahu bagaimana percakapan yang mengasikkan itu seperti apa??

apakah YKD adalah seseorang yang socially awkward?

yah bagaimanapun, buku ini mengesankan.membuat saya mengalami sesuatu yang baru,mengetahui jenis manusia yang berbeda dari yang biasanya ada di sekitar saya.dan juga untuk pelajaran nanti2nya,supaya bisa lebih arif menyikapi sesuatu.

thanks YKD, i really love to hate you your book :D

Profile Image for Primadonna.
Author 50 books374 followers
December 27, 2011
Akhirnya kelar membaca.

Kesimpulan? Penulisnya bukannya tidak mampu menulis. Ia mampu kok, hanya saja ada beberapa kecenderungan yang kutemukan setelah baca beberapa karya penulis ini. Mungkin masih berkutat di zona nyaman saja jadi kurang menjelajah berbagai ranah lain dalam mengembangkan karyanya.

- Karakter yang... what shall I say, Mary Sue? Pokoknya kalau baca karya-karyanya, terasa karakter ini sungguh mirip dengan diri penulis. Sebenarnya tidak apa-apa, hanya saja setelah menerbitkan beberapa buku aku sebagai pembaca mengharapkan adanya variasi. Seolah karakternya plek, fully formed, dan seolah tanpa cela.

- Kurangnya emosi. Meski barangkali cerita ini ada bagian sedihnya, karena dituturkan dengan bertele-tele (kadang penjelasan mengenai bridesmaid dll. membuat pembaca sepertiku mengerang, merusak aliran cerita)

- Banyak memasukkan adegan klise. Show, don't tell. Readers don't really want to visualize Ricky Martin/Rhett Butler/Ken doll every time the male character is present. OK, dia tampan. Seperti apa? Lukiskan sedemikian rupa sehingga kalaupun pembaca berpikir, "Mirip Ricky Martin ya?" itu karena deskripsi penulis, bukan karena disebutkan blak-blakan.

- Beberapa logikanya kurang berterima bagiku. Tahun 2013-2015 dan kata gaul 'lebay' masih dianggap baru? Bahkan lagu-lagu Maroon Five yang liriknya beberapa kali dikutip menurutku kurang pas.

- Karakter seolah tidak benar-benar punya emosi. Kurang digambarkan dengan dramatis. Bayangkan galaunya seseorang kalau mencintai tapi karena alasan tertentu, memutuskan tidak bisa bersama. Di sini sebagai pembaca, aku tidak merasakannya. Seolah karakter Maroon itu dingin, tak tersentuh.

- Mengapa seseorang bisa jatuh cinta? Remember, fiction has to make sense. Dalam buku ini aku kurang bisa paham mengapa ada dua pria tampan mengejar-ngejar Maroon. What's so special about her? I don't really feel they have a deep connection. Meski pernah "bersua" atau kesannya ditakdirkan, aku lebih menghargai kalau penulis bisa menggambarkan chemistry di antara mereka dengan lebih baik. OK, so you're beautiful and smart and talented, but that doesn't mean handsome, rich, eligible men will pursue you because you're a good wife material.

- Do not, and I repeat, DO NOT write about amnesia unless you have a very strong reason for it, and you're confident that you can write it well. It's too cliche. Begitu pula kalau saat amnesia kepala terbentur, tak berapa lama ingatanmu akan kembali. Daripada membuat karakter amnesia, lebih baik ciptakan konflik moral mendalam sehingga karakter misalnya, merasa tidak bisa mengejar orang yang ia cintai karena alasan tertentu. Alasan apakah itu? Skilled writers will weave 'em well. Kalau banyak membaca novel roman/HQ bisa membandingkan, akan kelihatan bahwa ada banyak dilema moral yang mungkin dialami seseorang yang menghalanginya mengejar cintanya.

- Bab pertama yang merupakan bagian penting untuk menarik pembaca, sad to say, membuatku mengernyitkan dahi. This could've been written more beautifully! Bagiku mengawali cerita dengan bangun pagi dan bertele-tele pula menceritakannya, terlalu membosankan. Bagaimana kalau diganti: "Donald terbangun lebih awal, bahagia merasuk ke segenap jiwanya. Ini hari pernikahannya. Senyumnya lebar dan harapannya mengangkasa, tak menyadari kebahagiaan akan segera berubah jadi tragedi." (Itu cuma contoh, tentunya bisa dituliskan dengan jauh lebih menarik oleh penulis roman yang piawai.)

-OK, karakter utamanya dokter, tapi mengapa aku nggak merasakannya ya? Apa karena tak pernah dijelaskan dia memeriksa pasien? Seakan profesi dokter itu hanya embel-embel.

- Aku merasakan beberapa adegan kayak kurang nyambung dengan yang lain. Seolah konsentrasi penulis terpecah-pecah. Di bagian A mungkin detailnya bagus, tapi di bagian lain seolah ditulis terburu-buru. Konsistensinya kurang.

Aku berharap penulis akan lebih banyak membaca dan latihan, sehingga karya-karyanya kelak lebih bisa dinikmati pembaca. Karena memang kisah cinta takkan pernah lekang sepanjang masa, apalagi yang ditulis dengan sepenuh hati. :)


Profile Image for e.c.h.a.
509 reviews257 followers
July 13, 2010
Wajar saya memberikan 1 bintang terhadap buku ini, jelas saya tidak lulus semua persyaratan yang ada untuk suka dan mengerti buku ini.

1. Saya tidak bisa bahasa Inggris.
2. Saya tidak tinggal di luar negeri (tapi habis kembali dari jalan-jalan ke Indochina)
3. Dan yang terakhir saya tidak punya "good brain". Merujuk ke kalimat penutup buku ini di halaman terakhir "Carpe Diem, Seize The Moment???????" Sejak kapan arti carpe diem mengalami pergeseran makna? Dan "diem" itu artinya bukannya "day"???

Carpe Diem adalah satu pepatah latin terkenal dari puisi yang ditulis oleh Horace (Odes I,11,8) yaitu Carpe diem quam minime credula postero yang artinya Seize the day, trusting as little as possible in the future
http://en.wikiquote.org/wiki/Horace
http://en.wikipedia.org/wiki/Carpe_diem

Ah, saya memang bukan "good brain".

Sekian dan terima kasih.
*Echa yang ranking 1 dari bawah*
Profile Image for Aveline Agrippina.
Author 3 books69 followers
July 24, 2010
"Membaca adalah soal selera dan itu tidak dapat dipaksakan."

Saya selalu mengatakan kepada teman-teman saya tentang hal ini. Bukan bagus atau tidak, bukan jelek atau tidak. Semua kembali kepada pribadi lepas pribadi bagaimana menelaah isi dari sebuah bacaan.

Penilaian saya hanya ada 3: 2 bintang berarti saya tidak suka, 3 bintang berarti biasa saja, dan 4 bintang berarti saya menyukainya. Tidak akan pernah akan ada kata sangat terhadap penilaian saya. (Kecuali ada beberapa hal yang membuat saya terpaksa memberikan 1 atau 5 bintang karena sesuatu hal yang menurut saya patut mendapatkannya).

Saya memang tidak suka dengan cerita yang pasti saya sudah tahu bahwa akan berakhir bahagia. Juga saya kurang menyukai cerita cinta yang berbau gombalisasi (saya suka menyebut gombal dengan gombalisasi dibandingkan dengan gombal saja).

Oh ya, khusus edisi ini saya tidak mereview isi bukunya. Saya hanya hendak bercerita pengalaman saya membaca buku ini. Kalau soal mereview, rasanya pasti sudah banyak yang menulisnya.

Jujur saja, saya tertawa sejak kali pertama membuka halaman awal buku ini.

Apa yag menggoda saya untuk tertawa? Banyak hal yang patut untuk ditertawakan dari buku ini. Pada halaman 7, Yunisa mulai membuka cerita dengan kalimat yang begitu piawai namun sangatlah berlebihan akan hal tersebut.

"Dia bersyukur kepada Tuhan atas sapaan sinar matahari yang kaya akan vitamin D telah membangunkannya pagi itu, di hari spesialnya, tepat dua menit sebelum jam beker berbunyi dan tepat tiga menit sebelum ibunya mengetuk kamarnya."

Di bagian seharusnya kita diajak oleh penulis untuk menangis, berempati dengan keadaan dukacita, saya semakin terbahak-bahak. Untuk itulah, saya ucapkan terima kasih kepada Yunisa yang telah berbagi cerita lucunya kepada kita semua. Saya hargai itu semua, sebaik atau seburuk apa pun itu.

Isi ceritanya?

Secara to do point saja kali ya? :P

Saya sudah tahu bahwa pada akhirnya Donald akan bersatu dengan Maroon. Walau Maroon dalam kondisi seperti apa. Bagaimana keadaannya setelah ayahnya yang professor Fisika itu meninggal dan sebagainya dan sebagainya dan sebagainya.

Ceritanya seperti ini. *inget! saya cerita to do point* Donald kecelakaan dan koma, arwahnya gentayangan. Maroon bisa melihat arwahnya Donald dan menanggap Donald sebagai dewa penolongnya. Kemudian Donald kembali ke tubuhnya. Kemudian kembali lagi Donald dan Maroon bersatu. Akhirnya mereka menikah.

Baik kaver atau hal ini itu, saya tidak perduli. Saya hanya peduli dengan isinya saja. Terutama dalam hal logika. Banyak hal yang tidak bisa diterima denga logika begitu saja. Kesalahan typo yang segambreng juga semakin memperlengkap isi buku ini.

Contohnya hal yang sederhana: CPR. Kalau memang CPR bisa dilakukan oleh seorang anak kecil, harusnya banyak jiwa yang terselamatkan. Sampai saat review cerita ini dibuat, yang saya ketahui adalah CPR tidak pernah dan tidak boleh dilakukan oleh anak kecil. Mengapa? Alasan yang relevan saat ini adalah anak kecil dalam masa pertumbuhan dan perkembangan dan mereka masih memiliki pola nafas yang pendek.

Kemudian pembaca benar-benar digurui oleh penulisnya. Saya merasa tersinggung secara tidak langsung ketika membaca novel ini. Seperti ketika penulis menekankan bahwa depresi tidaklah sama dengan gila. Ya, saya tahu akan hal itu. Depresi adalah perasaan yang tertekan (dan belum tentu gila) dan gila berarti kewarasan yang telah menghilang.

Kemudian juga seperti ketika ritual pengusiran setan. Yaaaa, saya tahu memang itulah saatnya tertawa. Tetapi saya tidak ingin tertawa dengan beberapa pertimbangan. Itu hal yang biasa, seperti halnya ada di sinetron Indonesia yang entahlah apa tujuan yang sebenarnya ingin diutarakan dengan dukun, fengshui, atau Pastor.

Carpe diem. Kalimat seutuhnya adalah "carpe diem, quam minimum credula postero" yang berarti petiklah hari ini dan percayalah sedikit mungkin akan hari esok. Kalau untuk "carpe diem, seize the moment" benar-benar terlalu janggal dan maknanya sudah bergeser begitu jauh.

Tak semua orang Indonesia yang membaca buku ini memiliki kamus Bahasa Inggris. Ada baiknya cantumkanlah catatan kaki. Juga untuk istilah yang sebenarnya tak perlu dijelaskan dalam cerita. Berikanlah glosarium. Deskripsikan latar yang ada pada novel ini lebih kuat sehingga feel-nya bisa didapatkan pembaca.


Novel ini lebih layak terbit sebagai cerpen dibandingkan sebuah buku. Saya percaya akan hal itu. Terlalu mendayu-dayu dan terlalu banyak bagian yang tersisipkan. Gunting editor mungkin terlalu tumpul. Dan satu lagi.. cerita seperti ini sesungguhnya sudah sering saya baca di majalah remaja, hanya cara membawakannya saja yang berbeda.



PS: saya siap berdiskusi agar saya dan penulis memiliki persepsi yang sama.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for miaaa.
482 reviews420 followers
Read
July 16, 2010
Awright^ mates! As I was promised a dozen of Korean chopsticks let's do some fabulous err chat here with someone, whom some of you better avoid whenever you saw her, about the book:

O: And what is that suppose to mean?
M: Nevermind so the book, you've read it now tell me about it.

O: Darlin' it makes reading those Twilight series bearable you know .. some manicure that's what you need, look at those nails!
M: My fingernails are fine. You talked about characters or the plot here?

O: That bimbo^ was hopeless but at least the blokes^ covered up, the vampires and the wolves likewise. I know you have your eyes on one or two eh from the movie. What's his name again Jackson something ...
M: Rathbone. We're not talking about TW but this book! So the characters in this book are somehow lame?

O: Lame? They're fooking iffy^, too busy struggling with their roles let alone covering any arse^!
M: ...

O: Have you met any Japanese who looks like Ricky Martin?
M: Errm maybe one of the parent has Southern American DNA .. oh do not give me that look will you!

M: What about eh the leading girl?
O: Goodness gracious she's such a mouthy^ playing smart-ass! She's fancy to be the next Wikipedia or what?! Keep explaining things like I'm a dumb and dumber cast.

M: Ummm moving on. One allegedly remarks her work will equal Jane Austen's charm in err let's say in 50 years on.
O: Why would anyone think comparing their works to classic literature will do the fate of their craps. Sounds like an insult to Austen herself oh let's hope she's not mental^ down or up there. Austen I meant.

M: I can't attach myself to Austen's works ..
O: Oh here we go again just say you dislike them!

M: Anyway, the plot is about emmm that you actually will meet the love of your life ..
O: Yeah yeah destiny whatsoever some believe in that and I don't blame them but please make it a bit realistic and logic.

M: Like ...
O: Too many coincidence! How many you can have of that in your one lifetime? Definitely not that much! Oh blimey^ this girl utterly an itch you'd dying to get rid off along with her two adorers.

M: No likeable character then? Not one?
O: Oh I put a hope for the nancy boy^ but ah he's no Stefan Olsdal and one didn't let the characters to develop on their own . Beside only homophobes^ use homo word blah another insult!

M: So how many stars you'd put? Most gave one though one or two gave four?
O: None. I've read some that may be a nightmare for literature but nothing like this. Why you made me read it again?

M: Korean chopstick. A dozen of it!
O: Right just don't you ever made me read something like this again. Ever! Bloody memory and destiny my arse!

M: Well at least we know what we're talking ... oh allright no more Amore series for you goodness.
Thanks for the chat girl really appreciate it.
O: You owe me!
Korean chopstick! She puts me through hell of boredom for chopstick!

I guess the chat summed up everything err she and I think about the book and oh I got some assistance for the slang here I hope they can help.

Slang:
awright = a greeting literally meaning "is everything all fine?"
bimbo = a young woman considered sexually attractive but of limited intelligence
bloke = common term for a man
iffy = dubious
arse = originated from US ass
mouthy (pronounce: maafy) = someone who shouts a lot or talks too much
mental = to be crazy or get very angry
blimey = abridged version of "Core blimey" an utterance of shock. Core blimey is a abridged version of "God blind me" also an utterance of shock or dismay
nancy boy = a now seldom used term for a gay man
homophobes = a person who displays homophobia or is thought to do so
Profile Image for Ordinary Dahlia.
284 reviews
July 17, 2010
G jelas senang karena tidak perlu ngeripiu. Kalo tetep mao liat, intip saja repiu ala warga gudrid di :

1. ijul perhatikan yang ngevote ;D
2.penghuni radal dari dia kupinjam bukunya dan dikasih waktu baca cuma semalam! huahahahaha...
3. my keeper yang bilang masukin aja ke rak telah dibaca walo g baca bener cuma 70 halaman dan sisanya skimming dengan alasan mata dah sliwer berolling eyes sepanjang baca
4.ketua klub pengunyah nggak bisa berhenti ketawa pas bahas Carpe Diem, Seize The Moment
5.dokter sungguhan yang masih g pertanyakan keprimaan otaknya :D
6. Aveline thanks dah ngasih ide buku ini seharusnya masuk genre mana
7. irwanbeneran men-judge buku karena pengarang!

Nah cukup mewakili bukan???
Jangan lupa intip repiu pengarang yah temans!

Moral repiunya adalah :
Jangan remehkan pembaca kalo nggak mao mati malu dan....bukunya nggak laku tentu saja hahahaha...*ngarang abiez*


NB: G dah bosan bgt dengan buku biru yang menghias tampilan depan Gudrid, yuk ganti bahas buku yang lebih baik?!

NB 2 : Ijul d larang keras periksa typo! nggak ada niat berbahasa baku neh g :D


Profile Image for Irwan.
Author 9 books122 followers
July 8, 2010
a new personal record!! i manage to totally hate a book while being thousands miles away from even a glimpse of a copy of this book. for the first time i do judge a book by its cover, err, author actually.
... i amaze myself... hehehe
Profile Image for bakanekonomama.
573 reviews85 followers
March 17, 2016
Jadi gini, waktu si Maroon yang waktu itu baru sepuluh tahun, masih imut-imut najong, minta sama orang tuanya buat maen di kuburan di Enggris sonoh. Di sono, Maroon yang lagi tergila-gila sama "Phantom of the Opera" ketemu sama om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler lagi duduk melow galow di kuburan. Mereka bertatapan mata, bertukar senyum, terus pisah deh. Abis itu si Maroon balik pulang ke ibu pertiwi (ternyata doski orang endonesah cuy) sama orang tuanya. Eh tau-tau si Maroon ketemu lagi sama si om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler di pesawat. Mungkin takdir.

Sesampainya di tanah ibu pertiwi, si Maroon masuk ke sekolah Indonesia. Tapi, dia yang udah kelamaan di Enggris bahasa Endonesahnya jadi kaco balo. Sayangnya, nggak ada yang bisa bantuin dia karena mama pergi papa pergi. Ada tali ku gantung diri, talinya putus digigit tikus. Kata pak camat tikusnya empat. Pak camat pulang lewat kuburan. Ada pocong berbaju putih. Putih-putih melati alibaba, merah-merah delima pinokio. *generasi 90-an*

Maroon sedih, nggak ada yang bisa bantuin dia. Saat itulah sosok om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler muncul lagi di hadapan dia. Idih, si om ini ganjen amat sih anak sepuluh tahun diintilin ke mana-mana. Pedofilkah dia?

Ternyata tidak! Rupanya yang bisa melihat si om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler cuma Maroon aja. Artinya, si om ini setan yang mengikuti Maroon sejak dia maen di kuburan waktu di Enggris sana. Atau begitulah pikir orang tua Maroon, yang karena takut anaknya kesurupan, akhirnya memanggil segala jenis pengusir setan, mulai dari pastor, ahli feng shui, sampe dukun beranak (kagak pake beranak sik, dukun doang).

Tapi si om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler yang ternyata invisible sama orang-orang di sekitar Maroon ini ternyata nggak mau pergi. Dia masih betah maen sama Maroon. Si om sebenernya berguna kok, soalnya dia bantuin Maroon belajar bahasa endonesah bahkan bantuin Maroon ngasih CPR ke bapaknya Maroon waktu si bapake tiba-tiba kena serangan jantung.

Yang bisa mengusir si om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler-yang-ternyata-invisible itu ternyata pocong! Iya, si pocong yang ketemu sama pak camat yang bilang kalo tikus yang gigit tali bocah yang mau gantung diri itu ada empat. Si poconglah yang berhasil mengembalikan si om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler-yang-ternyata-invisible itu ke dunianya. Emang hantu Indonesia nggak ada matinye. Jangan maen-maen lu! Enak aja dari luar negeri mau ambil wilayah kekuasaan orang. Berantem deh mereka, sampe si Maroon kena demam tinggi dan besokannya si om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler-yang-ternyata-invisible itu menghilang dari pandangannya.

Tapi tenang, soalnya di masa yang akan datang mereka bakalan ketemu lagi. Dan si om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler-yang-ternyata-invisible itu berubah menjadi om-om-ganteng-tigapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler-yang-sekarang-visible.

Lantas, bagaimanakah kelanjutan misteri antara Maroon dan si om yang telah saling menghantui selama satu dekade itu? Apakah akhirnya cinta akan merasuki dua insan yang dipisahkan oleh ruang, waktu, dan dunia itu? Kenapa Maroon takut lewat kuburan lagi? Apakah ada hubungannya dengan si pocong berbaju putih yang bertemu dengan pak camat?

Silakan baca sendiri kalau Anda berani.

Kalau saya sih udah lambai-lambai tangan ke kamera. Karena takut kena penuaan dini, akibat bibir yang selalu tertarik ke bawah dan mata yang selalu memicing, ketika membaca cerita ini, saya memutuskan untuk bacanya ala orang kerasukan. Sungguh saya merasa empati dengan editor novel ini. Semoga beliau tidak terkena penuaan dini karena harus membaca ceritanya berkali-kali.

Ngomong-ngomong, kenapa sih dari tadi saya bawa-bawa hal-hal mistis macam itu? Soalnya si penulis demen banget pake kata-kata itu. Mungkin obsesinya mau bikin cerita horor belum kesampean kalik? Meskipun bagi pembacanya, cerita ini adalah horor yang akan menghantui sepanjang hidup *lebay*

Lagipula, saya juga nggak habis pikir kenapa buku ini sampai ada di tangan saya... Mungkin saya sedang kerasukan saat itu? Hingga tangan saya terulur untuk mengambil buku seharga 7.500 rupiah yang lagi obral di Gramed Matraman ini dan bukannya mengambil komik Doraemon yang lagi diskon gocengan. Ya, mungkin itu jawabannya.

Kalau saya percaya bahwa buku itu memiliki destiny dengan pemiliknya, maka saya akan memutuskan tali destiny itu. Baik dengan saya maupun orang-orang setelah saya. *nyalain korek*

Tambahan: Setelah baca sinopsis buku ijo yang ada deja vu-deja vunya itu, katanya adeknya si Maroon mengalami pengalaman serupa sama kakaknya di usia yg sama juga ya? Jangan-jangan ni keluarga berbakat buat ngeliat gitu-gituan lagi? Jangan-jangan mamake Maroon ketemu bapake dengan cara yang sama? Jangan-jangan neneknya Maroon ketemu kakeknya juga ketemu dengan cara itu juga? Hhhiii......
Profile Image for Ratrichibi.
53 reviews8 followers
August 8, 2010
I have to admit, I didn't finish this book. I couldn't.
I'm not saying this is a bad book or whatever, but some phrases are just too... annoying. The typos, the dialogues which like a tragic translated soap-opera, the similarity of the scenes to Reese Witherspoon's "Just Like Heaven" movie, the mom's obsession of Barbie and Ken (WTF), ... OMG this is a suicidal experience for me.
And judging from the author's personality description about this book in her blog(s), this book is definitely NOT a Jane Austen material. How dare you to compare this to Jane Austen's. Yes, perhaps in Jane Austen's era, girls love to see boys with thick greasy black hair with mustache, but ew, I thought this book was set in 21st century.

But maybe, maybe this book is not so bad. Maybe my brain is incompetent to swallow the whole storyline. Maybe the author is a god in her own universe which I don't have the guts to enter.
Or maybe the publisher was desperate enough to get a new script to publish and end up with this one.
Profile Image for Alvina.
732 reviews118 followers
July 10, 2012
Kepada :teman-teman yang memotivasi saya membaca buku ini.
Hal : Laporan


Salam keprimaan!!


Yaaaa.. akhirnya saya berhasil membaca buku bertuah ini! (ketawa dulu sebentar)

Lanjutin cerita dulu ya baru berbagi kesan pesan :p.

Jadi begini, ternyata cerita di buku ini berawal di tahun 1999, di Westminster Abbey, London. Ketika sebuah mobil pengantin mengalami kecelakaan, sebelum mereka sempat mengikrarkan janji sehidup-semati. Pengantin wanita meninggal, sedangkan mempelai pria mengalami koma (CMIIW). Arwah pengantin pria ini berkelana di luar tubuhnya, sampai ia bertemu dengan seorang gadis kecil yang dapat melihat dia.

Semenjak itu, arwah si pengantin pria, yang bernama Donald, terus mendekati gadis kecil yang bernama Maroon itu. Donald membantu Maroon mengerjakan tugas sekolah, menguatkan Maroon yang masih dalam tahap beradaptasi dengan lingkungan sekolahnya yang baru, menceriakan hari Maroon, menjadi teman Maroon, sampai-sampai membantu Maroon memberikan CPR kepada Ayah Maroon yang kena serangan jantung.

Catet ya, Maroon berumur 10tahun-an, saat itu.

Lalu cerita berkembang lagi, maju ke masa depan, sepuluh tahun lebih setelah pertemuan Maroon dan Donald.
Di bagian ini diceritakan bagaimana kehidupan Maroon dewasa. Ia sebagai dokter, ia sebagai anak, ia sebagai wanita yang suatu hari bertemu lelaki yang mirip sekali dengan Donald. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama (CMIIW) dengan lelaki yang membuatnya penasaran itu.

Akankah mereka bersatu?

Nah, Ini sinopsis singkat yang bisa saya berikan atas cerita di buku ini. Meski cerita aslinya nggak sesederhana itu. (beneran, nggak sesingkat itu!)


Jadi begini kesan saya setelah membaca ceritanya Maroon dan si Donald.

1.Capek. Berasa kayak Yoyo yang dilempar maju mundur-maju mundur buat memahami isi cerita. Tahun 1999-2009-2000-2013 dst

2.Bingung. Kadang diceritain dari sudt pandang Maroon, kadang dari PoV orang ketiga, kadang juga dari Donald bahkan dari Sharon, sahabat Maroon <-- ini Nggak konsisten.

3.Boros. Banyak kata-kata yang diperpanjang sampai berpanjang-panjang ria membahas cerita yang sebenarnya bisa disingkat dalam dua atau tiga kalimat terpisah saja seperti contoh kalimat panjang saya yang satu ini. <-- mengutip dosen saya ”Penggunaan kalimat yang terlalu panjang itu Nggak efektif . menandakan kamu itu nggak ngerti apa yang sebenarnya akan kamu bicarakan atau kamu memang tidak mengerti pola penggunaan SPOK untuk kalimat.”

4.Lebay. Contohnya seperti saat menggunakan tenaga Flash dan Superman waktu Maroon ngasih CPR. Atau pada bagian yang menjelaskan Maroon pulang sekolah bareng bersama sahabatnya dengan tujuan hemat dan mengurangi polusi udara. (sekalian kampanye Go Green, Mbak?)

5.Typo. Ah sudah banyak review senior-senior yang membahas hal ini. Jadi nggak perlu saya ulangi deh, daripada dibilang otak ngga prima.

6.terkurung. Alias kebanyakan tanda kurung, contoh : (mode kedip-kedip, harap-harap tidak cemas) dll.

Berapa bintang yang akan saya berikan untuk buku ini?

Hmm.. bintang tujuh aja kali ya. Soalnya saya perlu menenggak puyer bintang toedjoeh setelah membaca buku ini. Kepala saya mules, perut saya pusing.

Dan ya, saya berhasil menyelesaikan membaca buku ini dalam waktu < 4 jam tapi bukan berarti saya suka membaca buku ini. Tetapi lebih dikarenakan semangat memotivasi diri agar selesai baca sekali duduk, biar kagak kebawa mimpi kalo kudu baca lama-lama. :p



Demikian laporan saya.
Sekian.
Terima kasih.
Salam keprimaan, lagi! :p

Profile Image for Dini Novita  Sari.
Author 2 books37 followers
Read
January 8, 2015
terharuuu! akhirnya saya berhasil menyelesaikan baca novel ini. Novel yang tipis sebenernya, tapi entah kenapa setiap membalik halamannya semacam mengupas bawang, lapisannya ada teruuus, nggak kelar-kelaaar! hehehe.
my thought about this book? penulis seolah menempatkan diri sebagai guru dan pembaca adalah murid yang tidak tahu apa-apa. segala informasi dijejalkan, penjelasan-penjelasan yang (sayangnya) kurang perlu, deskripsi yang tidak terlalu tepat konteks. Lalu, alurnya kayak lompat2, gonta-ganti POV yang bikin saya bingung. Belum lagi kesalahan penulisannya. (saya berusaha menghibur diri bahwa novel ini diterbitkan lama, tahun 2010, tapi ya yang namanya salah ya salah, sih >.<). Nah, saya juga memasukkan novel ini ke shelf komedi, soalnya, hihihi... beberapa bagian berhasil bikin saya ngakak karena penulis menyelipkan joke2 semisal perumpamaan kata2 manis mengandung glukosa tinggi, belum lagi menyelipkan lirik lagu untuk menggambarkan suasana. ngakak karena... ya lucu sih, ngapain yaa masukin kayak gituan? wkwkwkwkwkwk. :D

Oh ya, saya nggak memungkiri bahwa saya baca buku ini karena latah, saya telat tahu perihal kehebohan buku biru ini. makanya begitu tahu dan nemu novel ini di obralan, ya saya belilah, belinya udah lama tapi baru dibaca semingguan ini (eh berapa hari sih saya kelarnya? pas nulis ini nggak kelihatan status kapan mulai bacanya). jadi, saya memilih untuk nggak menyematkan bintang berapa pun, karena sesungguhnya saya sudah 'terkontaminasi' dg banyaknya opini dari teman2 pembaca di GR. Meski setelah membacanya, saya berkali-kali menyepakati opini mereka. btw, apakah saya tertarik membaca kelanjutannya, seperti teaser yg ada di akhir halaman? sayangnya, tidak, terima kasih. ^^
Profile Image for Dani Noviandi.
229 reviews16 followers
October 21, 2012
Maroon, seorang bocah cilik tanpa sengaja bertemu dengan Donald di masa kecilnya. Donald yang ia temui ternyata bukan manusia biasa, tetapi jiwa dari seorang Donald, pemuda berumur 20 tahunan yang sedang mengalami masa kritis di Negeri Lady Di sana. Seiring berjalannya waktu, Donald akhirnya menghilang dari kehidupan Maroon, tetapi di kehiduapn yang nyata, Donald ternyata mencari-cari Maroon, begitupun Maroon, jiwa Donald yang ia temui sungguh sangat memberikan kesan mendalam baginya.

Maroon pun beranjak dewasa, tanpa ia sadari, ia bertemu dengan Donald yang kebetulan sama-sama menjadi dokter. Namun ketika itu ia sama sekali tidak menyadari kalau Donald ini ialah Donald yang ia temui di masa kecilnya. Begitupun Donald, ia tidak menyadari bahwa inilah Maroon yang selama ini ia cari. Kejadian berlalu dengan cepat, akhirnya Donald dan Maroon sama-sama menyadari kalau mereka sebenarnya sedang saling mencari satu sama lain. Mereka pun berhubungan erat, bahkan berpacaran, hingga suatu hari Maroon dan ayahnya terlibat kecelakaan. Ayahnya meninggal, sementara Maroon kehilangan ingatan. Donald pun menjadi orang asing bagi Maroon, dan hubungan mereka kandas seiring dengan ditolaknya pinangan Donald terhadap Maroon. Muncullah David disini, ia mendekati Maroon, bahkan berencana meminangnya pula, sampai suatu ketika, ingatan Maroon pulih kembali...

***

Amore, suatu genre buku baru yang saya baca. Mirip harlequin kali ya kalau di luar negeri sana, tapi tentunya minus adegan-adegan agak panas yang lazim ditemui di harlequin. Kebetulan buku Amore yang pertama saya baca ini merupakan buku yang sangat ngetop di goodreads. Lebih dikenal dengan buku biru, ternyata review-review dari teman-teman goodreads selama ini cukup beralasan mengenai kualitas dari buku ini.

Jujur saja, ide cerita buku ini lumayan seru dan baru. Sesosok jiwa muncul dalam kehidupan manusia, jatuh cinta, dan akhirnya mencari jiwa itu di dalam sesosok manusia yang benar-benar ada dan nyata. Apalagi, dengan judul Memory dan Destiny seolah-olah penulis ingin mencocokkan dengan tokoh utama buku ini, yaitu Maroon, Donald dan David. Lihat, inisial nama mereka sama dengan inisial judul buku bukan? Tetapi sayang seribu sayang, buku-buku metropop yang cinta-cintaan yang saya bisa nikmati ketika baca tidak saya temui di buku ini. Ceritanya benar-benar membosankan dan bertele-tele. Apalagi gaya penulisan si penulis membuat buku ini agak menyebalkan. Pembaca seakan-akan digiring, bahkan diseret untuk memenuhi hasrat si penulis dalam membaca buku dan menyelami hobinya. Bayangkan saja, ada berapa banyak lirik lagu bertebaran di buku ini. Belum lagi masalah hal-hal detail yang terlalu diceritakan, seperti apa itu brunch, gatot, serta banyak lagi hal-hal yang seolah penulis lebaykan disini. Ada juga perandaian tentang rasa manis. Penulis menggambarkan, saking manisnya, semut pun bisa mati gara-gara kebanyakan glukosa, haduuuh.... Gitu banget deh mbak penulis.. Saya rasa, hal-hal yang terkesan detail tak penting mending gak usah masuk buku deh. Hmm, apa ini taktik juga ya buat ngebanyakin halaman? Hihi...

Ah, gak bisa nikmatin saya, untungnya buku ini cuma minjem, jadi gak terlalu nyesel sih udah baca buku ini. Sorry to say, cuma 1 bintang buat buku ini. Dan semoga saja amore-amore selanjutnya yang mungkin saya baca gak separah ini, aaamiiin...
224 reviews
September 5, 2012
Mulanya saya penasaran kenapa buku ini beken-dalam-tanda-kutip.

Trus jadinya penasaran pengen baca.

Eh, tapi sebelum baca kok jadi ilfil duluan.

Trus males deh.

Eh, tapi tetep penasaran.

*ya uda buruan baca aja napa, ribet amat*

*ditendang*

Secara obyektif, terlepas dari review-review lainnya nih. Jujur ya, sejak paragraf pertama... saya udah nggak tertarik lagi. Bukan bertele-tele sih, malah rasanya kalimatnya normal-normal aja, tapi nggak tahu kenapa ya kok kesannya di panjang-panjangin gitu. Apa ya istilahnya, hm.. Kalimat yang berbunga-bunga?

Yang jelas bab 1-2 saya skimming, cuma baca dialognya aja dan ngelewatin deskripsinya.

Mulai Bab 3 nih saya bisa konsentrasi. Horee!

.
.
.

Eh, ga jadi deng. Masih harus skimming lagi ternyata..

*skimming lagi...*

*skimming*

*Skimmiiiing... skimmiiing...*

*skimmiiiiiiiing*

*skimming lagiiii...*


Yak selesai.

Makasih ya mba @asdewi uda minjemin buku ini. Siap langsung saya oper ke mba @dewidisik.

*gitu doang?*

Iya, gitu doang. Lha trus emange kudu piye?

*dijitak*


The End.







**

Hehe, maaf, tadi becanda doang. Tapi yang skimming itu beneran sih, nggak becanda. *enelan loh, kakak*

*kembali serius*

Bagus kok ini ide ceritanya. Walo ada banyak juga yang ga masuk akal. Tapi, miapah, kayak pernah baca juga entah dimanaaaa gituuu.. dimana yaaaah?

Komedinya juga ada kok. Banyak malah. Biar skimming gini tetep ikutan ngakak pas ada adegan Donald jambak-jambakan sama pocong. Buahahaha. Eh, mereka pake jambak2an nggak sih? Lupa ah. Yang jelas itu lucu.

Alurnya juga lumayan fast paced. Malah terlalu cepet bgt. Coba kalo lebih alus peralihan waktunya, pasti enak bacanya.

Herannya, kenapa tetep serasa a bit off ya. Saya sama sekali nggak bisa menikmati buku ini. Bukan karena saya skimming jadi nggak nikmatin. Tapi justru karena nggak bisa menikmati itu makanya saya skimming.

Anyhoo.. setiap baca bagian deskripsinya, ngerasa too much information. Padahal itu juga ga penting2 bgt lho. Biar ndeso gini saya juga tau apa itu arti brunch.

Tapi mungkin menurut penulis, penting buat pembaca yg dianggapnya belum tahu... ya sudahlah.

Eh, saya jadi terngiang-ngiang tulisan mba Hetih *lho, kenapa tiba2 jadi mba Hetih?*

Ini nih, setelah nyari-nyari, ketemu deh kutipan dari blognya mba Hetih:

Atau yang lebih menyebalkan adalah pengarang-pengarang yang suka banget pamer pengetahuan yang nggak nyambung sama alur cerita, hanya untuk menunjukkan, “Nihhh… gue ceritain ya… Gue kasih tau nih tentang gimana membuat roket.” Hanya karena dia tahu caranya…
Profile Image for Nura.
1,056 reviews30 followers
December 30, 2015
Reading Challenge 2015 #47 : A book with bad review

Sebenernya ini buku dengan review yang jelek atau buku jelek yang di-review?
Nggak maksud mengorek luka lama, tapi #buku biru ini sempat membuat kehebohan di sini lima tahun yang silam. Semoga yang sakit hati udah pada sembuh, ya.

gw sebenernya sukaaaaaa... langit biru di covernya doang :p other than that... just read other reviews, ok? yang jelas pengen cuci otak abis bacanya. abis mo tak sobek-sobek, buku pinjeman XD over all menurut gw sih bukunya nggak banget. bukan karena gw udah apriori duluan, dan yang jelas bukan pula karena buku ini memang bukan jenis bacaan kesukaan gw, tapi ada beberapa kalimat yang ndak jelas mau ngungkapin apaan. mungkin maksudnya mo puitis kali ya, tapi... ah, sudahlah...
Profile Image for Uthie.
326 reviews76 followers
September 23, 2012
Oke... Hhhmmm.... Dari mana saya akan mereview buku ini? *nggak bisa narik nafas panjang karena debu vulkanik sedang banyak-banyaknya* Oh iya, sebelum membaca review ini, saya cuma mau mengingatkan kalau review ini panjang dan biasa aja sih isinya...

Lega adalah perasaan pertama yang saya rasakan ketika telah menyelesaikan buku ini. Bukannya tidak menikmati cerita di dalamnya tapi lebih karena akhirnya saya berhasil membaca buku yang kabarnya sempat mengguncang dunia Goodreads Indonesia sehingga seorang reviewer menghapus reviewnya untuk buku ini *lirik yang merasa*

"Bagaimana kalau sebenarnya jodohmu bukan dia? Dan sebenarnya kalian, maksudku, kau dan belahan jiwamu belum dipertemukan oleh Tuhan?"

Pertanyaan singkat itu berhasil membuat galau seorang calon pengantin pria tepat di hari pernikahannya. Pertanyaan yang dilontarkan oleh sang best man, orang yang seharusnya bertugas untuk menenangkan keraguan sang calon pengantin pria itu malah berbalik arah membuat calon pengantin mempertanyakan kembali tindakannya.

Sayang, pernikahan itu tidak pernah terjadi. Kecelakaan hebat menewaskan calon pengantin perempuan dan calon pengantin pria dalam keadaan koma selama berminggu-minggu. Di sudut lain kota Inggris, tepatnya di Kompleks Westminter Abbey, seorang gadis kecil yang sedang menikmati keindahan Westminter Abbey mendapatkan teman barunya. Pria muda nan tampan yang mengenakan tuksedo putih dengan bunga tersemat di dada kirinya. Tanpa diduga si pria begitu setia pada si gadis kecil. Ia bahkan mengikuti si gadis kecil hingga ke Indonesia dan membantunya beradaptasi baik terhadap lingkungan maupun dalam hal pelajarannya. Mereka begitu kompak. Tapi, kata orang, pria itu hanyalah imaginary friends si gadis kecil.

Sekian waktu berselang, pria itu tak pernah muncul kembali dalam hidup si gadis kecil. Gadis kecil itu pun telah menjelma menjadi gadis cantik yang menjadi dambaan para lawan jenisnya. Gadis itu bernama Maroon. Nun jauh di kota London, pria yang mengalami kecelakaan di hari pernikahannya itu kini telah sadar dari koma panjang. Hal pertama yang ditanyakan kepada kedua orangtuanya adalah "Mama, Papa, kalian tahu di mana Maroon?"

Siapa bisa menduga jika sebenarnya mereka saling terhubung? Namun takdir memiliki keputusan sendiri kapan keduanya bertemu meski memakan waktu hingga hitungan tahun. Ketika mereka bertemu, ternyata takdir masih menyimpan kejutan. Ada sosok lain hadir diantara mereka yang percaya ia ditakdirkan untuk bersama dengan salah satu diantara mereka.

Cerita yang menarik bukan?

Ya... ide ceritanya memang menarik. Namun ada beberapa hal yang perlu dicermati di setiap lembarnya. Awalnya saya percaya, sekian banyak reviewer yang berhasil gilang gemilang menemukan hal-hal yang dirasa kurang tepat sehingga saya pasti tak menemukan hal-hal yang kurang tepat ganjil tersebut. Ternyata saya salah besar. Masih ada (sisa-sisa) keganjilan yang bisa saya kutip.

"Gadis kecil itu merasa pria di depannya adalah sosok asli boneka Ken yang menjadi pasangan Barbie, boneka kesayangannya." (p. 13)
Gadis kecil itu baru berumur 10 tahun. Wajar jika ia punya boneka Barbie dan Ken. Namun membayangkan sosok pria dewasa sebagai sosok asli bonekanya perlu diacungi semua jempol (empat jempol tangan dan kaki si gadis kecil, empat jempol tangan dan kaki penulis review ini, empat jempol tangan dan kaki pembaca review ini) buat gadis kecil itu. Luar biasa imajinasinya. Membayangkan sosok yang jauh lebih tua dari usianya sebagai sosok asli bonekanya. TOP MARKOTOP!!! Saya jadi bertanya-tanya mengapa saya sewaktu seumur gadis kecil itu tak mampu membayangkan boneka Ulil yang kakinya warna-warni imut menggemaskan dan banyak itu sebagai seekor Anaconda *mikir serius*

Cerita ini mengambil lokasi di tiga negara dua benua. Inggris, Indonesia, dan Singapura. Yang membingungkan, mengapa Maroon yang besar di London lantas kembali ke Indonesia harus bersusah payah mengikuti pelajaran di sekolah karena bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Indonesia sedangkan Maroon tak begitu lancar berbahasa Indonesia. Jika memang ada rencana kembali ke Indonesia, mengapa sedari awal orangtua Maroon tak membiasakan berbahasa Indonesia dengan Maroon selama di Inggris? Kalau memang orangtua Maroon biasa berbahasa Indonesia dengannya, mengapa sewaktu di Indonesia mereka memasukkan Maroon ke sekolah biasa? Kenapa tidak ke international school yang notabene bahasa pengantarnya bahasa Inggris. Jadi Maroon tak perlu begitu susahnya berbahasa Indonesia. Contoh dong Cinta Laura. Dia tuh nggak lancar bahasa Indonesia tapi dia sekolah di international school.

"Yah, siapa yang tidak ngeri kalau anaknya melihat seorang pemuda yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, apalagi pemuda itu mengenakan jas putih seperti layaknya jenazah yang disemayamkan di negeri Inggris?" (p. 34)
 Si pria itu 'kan diceritakan di awal mau menghadiri acara pernikahannya sendiri makanya bertuksedo putih. Mengapa konteks jas putih itu malah mengacu ke jenazah bukannya ke calon pengantin? Sedih juga saat membaca kalimat tersebut. Bukankah berarti yang memakai jas putih itu tampak seperti mayat? *menatap pilu ke arah jas putih yang tergantung di dinding*

"Keahlian khusus? Apa ya? Membedah mayat? Hahaha, mana mungkin kutulis seperti itu." (p. 41) Bedah mayat? Masyarakat awam memang mengenal Ilmu Forensik dengan sebutan Bedah Mayat. Seharusnya Maroon yang (katanya) calon dokter itu sudah fasih dengan istilah medis bukan malah membiasakan diri menggunakan bahasa awam. Kan calon dokter. Malu dong kalau nggak terbiasa bicara istilah medis.

"Wiro juga berpikiran sama denganku. Begitu dia kenal kamu, dia teringat dokter Don. Sementara aku, begitu melihat dokter Don, aku teringat kamu! Itu kan berarti there is something about you two.." (p. 52)
Kalau gara-gara satu profesi atau kemiripan yang lain dan langsung ada sesuatu diantara mereka, berarti jodoh itu nggak jauh kemana-mana dong? Hhhhmmmm... curhat dulu ya... Dulu tuh ya saya pernah punya teman yang namanya PUTRALISASI BUNGSU (bener ini nama aslinya) dan dipanggil dengan nama Putra. Sedangkan saya namanya Putri. Berarti??? *langsung mandi kembang tujuh rupa yang airnya diambil dari tujuh aliran sungai* *amit-amit cabang bayi kalau sempat kejadian, soalnya udah nggak berstatus single lagi* *ingat single, jadi ingat kejadian bapak-bapak beberapa hari lalu* *pukpuk si bapak*

One man, one soundtrack adalah salah satu hal yang paling menonjol di buku ini. Donald punya lagu tetap "Sunday Morning"nya Marron 5. Yang terinspirasi dari nama Maroon. Bahkan saking terinspirasinya Donald dengan nama Maroon, hampir semua kemejanya dan warna favoritnya menjadi Maroon. Sementara David, punya lagu kebangsaan "Umbrella"nya Rihana. Semua lagu itu selalu saja berputar-putar di hidup mereka. Apa pun kondisinya lagu ini selalu saja mewarnai perjalanan masing-masing tokohnya. Uuummm... selama saya membaca dan menulis review ini sambil berselang-seling ber-BBM ria, ringtone untuk new message BBM saya yaitu Pasangan Jiwa-nya Kla Project. Setelah dipikir-pikir lirik lagunya sepertinya tepat buat soundtrack saya untuk buku ini. Jadi setiap saya melihat buku ini saya langsung teringat pada lagu Pasangan Jiwa begitu juga sebaliknya. Setuju kan?

 Begitu ingin berbagi batin
Mengarungi hari yang berwarna
Di mana dia pasangan jiwaku
Ku mengejar bayangan, kian menghilang

Tapi masalahnya lagu itu keren dan syahdu banget. Nggak ikhlas rasanya mengasosiasikan lagu sekeren itu dengan buku ini. Walaupun setelah liriknya dilihat-lihat sesuai sih dengan ide dan jalan cerita buku ini. Tapi...

Dengan begitu banyaknya kata "destiny" muncul dibuku ini, saya jadi kepikiran kalau buku ini sebenarnya tidak tepat diberi judul MEMORY and DESTINY tapi lebih tepatnya diberi judul MENGEJAR DESTINY yang jumlah kata destiny-nya... saya nggak ngitung. Males.

Oke, jadi berapa rating untuk buku ini? Satu rating saya berikan untuk covernya yang enak dipandang mata karena berwarna biru dan gambar Westminter Abbey yang berkilauan karena cahaya lampu dengan tidak memandang sosok laki-laki berjas hitam yang tiba-tiba muncul disitu. Merusak pemandangan keindahan Westminter Abbey saja.
Profile Image for Tezar Yulianto.
391 reviews39 followers
January 10, 2013
Maroon Winata, di usia kecilnya berjumpa dengan jiwa Donald Basuki, yang hampir meninggal ketika kecelakaan yang menimpanya. Kemunculan Donald, dalam bentuk malaikat(?), selalu membekas dalam diri Maroon, namun beranjak dewasanya, Maroon melupakan sosok Donald. Sementara itu Donald yang kemudian pulih, dari kecelakaan tersebut, langsung menjadi tergila-gila terhadap segala sesuatu yang terkait dengan hal bernama maroon, dari warna sampai ke grup band Maroon 5.

Ketika Maroon menginjak dewasa, perjumpaan dengan Donald mengingatkan pada sekilas bayangannya di masa kecil ketika sering ditemani sosok Donald. Kedekatan pun berjalin antara Maroon dan Donald. Sayangnya kecelakaan yang menimpa Maroon mengakibatkan Maroon menderita amnesia. Berharap akan kesembuhan Maroon, Donald menunggu Maroon untuk menjalin kisah cintanya.

Sebenarnya saya tak teratraik untuk membaca buku ini, kalau tidak ada heboh mnegenai buku ini di Goodreads. Entah berapa karakter yang terhabiskan dalam kehebohan terkait review buku ini di Goodreads. Dan kebetulan ketika saya datang ke perpustakaan, ada buku ini yang tersedia dipinjam. Berkaitan dengan target baca yang menumpuk, disertai alasan tipisnya buku ini, serta menuntaskan hasrat ingin tahu saya akan buku ini, saya kemudian meminjamnya.

Kesan saya hampir sama seperti apa yang dikeluhkan teman-teman. Tak ada yang istimewa dalam kisah Maroon dan Donald. Keluhan saya terutama perlu diungkapkan terhadap penggunaan kata, yang maaf, menurut saya terlalu berlebihan. Juga jalan cerita yang sungguh membuat saya kerap berkening kepala. Bagaimana sosok Donald yang mengalami kecelakaan, jiwanya bisa berpetualang sampai bertemu Maroon kecil di Westminster Abbey bahkan sampai ikut menemani di Jakarta dan selama sekolah. Atau ketika Maroon kecil merenungkan sosok tampan Donald, sampai menciptakan rumus (?) Ken/Rhett + Pantom = Ken/Phantom = kakak ini. (halaman 15). Belum lagi keseharian jiwa Donald menemani Maroon. Menemani belajar, menolong ayah Maroon, George ketika sakit jantung mendadak, atau malah bertempur melawan pocong (?) (halaman 35).

Apalagi konflik, yang kerapkali menjadi jalan buat penulis membuat buku menjadi menarik, kesannya di buku ini datar. Saya yang jarang membaca kisah romance, sudah yakin kalau di akhir kisah Maroon akan berpasangan dengan Donald. Meskipun ada tokoh David sebagai sosok ketiga, kesannya kurang kuat. Juga ekspos yang terlalu berlebihan dari penulis untuk hal-hal yang tak penting, seperti anting besar yang disebut sebagai sering dipakai tokoh sinetro di Indonesia, troli di bandara Singapura, dan sebagainya. Juga kesan yang saya herankan, adalah buku ini mirip seperti buku motivasi kalau dilihat dengan kata-kata motivasinya. Maaf buat penulis, saya menganggap buku ini bukan buku bagus. Meski saya bisa menghabiskan buku ini dalam 1 hari, tetapi itu pun demi target membaca buku berikutnya.
Profile Image for Perdani Budiarti.
489 reviews27 followers
September 5, 2012
Buku dengan kover berwarna dominasi biru ini terlihat keren saat terpajang di toko buku, namun dengan catatan jika hanya menampilkan gambar Westminster Abbey dengan Big ben di latar belakangnya. Gambar pria yang ada di latar depan terasa sangat mengganggu karena sekali pandang saja langsung terlihat bahwa posisi Mas Jose Antonio Reyes sebagai visualisasi tokoh pria dalam buku ini salah perspektif*sigh*

Hanya sebatas itulah kelebihan buku ini, karena kalimat “don’t judge a book by it’s cover” amat sangat berlaku untuk buku yang selanjutnya akan disebut sebagai #bukubiru ini.

Begitu menerima paket #bukubiru yang dipinjam langsung dari teman sang penulis ini, aku menyempatkan diri membuka halaman pengenalan penulis dan langsung menemukan kata-kata yang tidak enak untuk dibaca. Hmm, tergoda go international dan melupakan keinginan menjadi dokter? Bukannya di luar negeri juga bisa belajar kedokteran ya? Hmm, lupakan. Di daftar karyanya ternyata cukup banyak juga, sampai menyebutkan tentang keikutsertaan sang penulis dalam lomba kecantikan segala. Hmm, mulai terasa narsisnya nih.

Kemudian aku beralih ke halaman ucapan terimakasih. Langsung kutemukan beberapa kalimat-kalimat yang tidak nyaman dibaca serta nyempil beberapa bahasa inggris yang mungkin lupa diterjemahkan karena sebenarnya ada kata dalam bahasa indonesia yang lebih pas…eh, tapi ini buku berbahasa Indonesia kan ya? *silent* Hmm, lanjut sajalah.

Masuk ke Bab I aku langsung dihadapkan dengan kenyataan bahwa kalimat ketiga yang disajikan mampu membuatku mendadak terdiam sesaat dan terpaksa membaca ulang dari awal untuk mencerna kalimat yang cukup pajang itu. Err, ini novel genre romance dewasa kan ya? Kenapa ada kalimat yang membawa-bawa syukur kepada Tuhan atas sapaan sinar matahari yang kaya vitamin D segala? Ah, lanjutkan sajalah.

….

more review here:
http://sekotakceritaseusaibaca.wordpr...
Profile Image for lala.
19 reviews7 followers
November 14, 2010
*akhirnya selesai juga*
huff..

buku ini aku baca tepat setelah aku tersenyum sehabis membaca Canting-nya Wendo, yang terasa sekali atmosfer Jawa-nya
Aku masih berharap sedikit, bahwa buku ini mampu menghadirkan suasana yang khas London, yang tidak di temui di tempat manapun. Dalam hal ini, sayangnya penulis gagal menghadirkan suasana itu. Bahkan ketika diceritakan bahwa Maroon berlari ketakutan di kuburan *apa ya nama kuburannya* aku cuma bisa membayangkan kuburan dekat rumah yang penuh dengan pohon kamboja, yang menurutku "cukup" menyeramkan, karena aku tidak bisa menangkap "keseraman" dari kuburan yang digambarkan penulis

Hal yang membuat aku bertahan membaca buku ini adalah, ekspektasi akan menemukan sesuatu yang berbeda, perjalanan indah ke London yang dihadirkan penulis mungkin?
Sayangnya sampai akhir saya tidak menangkap sesuatu yang "spesial" dari London yang digambarkan disini :(
semuanya serba datar, serba "terlalu kebetulan", dan sangat membosankan..
Profile Image for Ephi.
59 reviews14 followers
Read
December 19, 2010
I'm sorry, I stopped at the third or fourth page. I couldn't go on. I wonder whether the editors also thought this is a lost cause.

The opening line is so long just to read them in one breath would asphyxiate you. The point that made me stopped? Is when the author halt the plot just to explain the definition of a bridesmaid. OH PLEASE, we're supposed to have "otak prima" to read this or "otak kosong"?

The book doesn't even worth a star. The publisher must be desperate.
1 review1 follower
September 19, 2012
Aku tadinya mau bikin review buat buku ini. Aku sampek mau belajar bikin review yang bagus itu gimana. Tapi aku baru dikasi tau kejadian2 yang dulu dan aku sadar kalo percuma aja bikin review bagus2.
Kalo memang sudah hate grup ya bakal seterusnya jadi hate grup. Jadi mending gak usah coba dibela sekalian aja. Percuma, pasti nanti juga bakal ada yang protes dan enggak setuju.

Aku cuma mau bilang kalo aku suka sama buku ini. Buatku karakter Maroon itu menginspirasi. Dan buku ini mengajarkan buat tetap tegar kalo ada masalah. Terus soal destiny itu, kalo memang sudah takdirnya ya pasti ketemu juga.

Udah cukup segitu aja. Buatku enggak perlu kesini lagi. Aku anggap selesai aja. Seperti yang aku bilang, males juga ngeladenin kalo memang sudah haters.

Mau nambah tweet dari seseorang : Jgn bikin review yg nyakitin perasaan pengarangnya. Toh kitanya sendiri belum tentu bisa bikin kelar satu novel (Dr Kathryn Effendi)

Profile Image for Natha.
780 reviews73 followers
May 25, 2011
Well, baru dapat rekomendasi tentang buku ini.
Sayangnya rekomendasi yang aku dapat, bukanlah rekomendasi yang bagus. *lirik temen2 GRI* Kayanya pada tahu kenapa rekomendasi ngga bagus itu karena apa. :)

Dan itu bikin aku pengen baca ini buku, paling ga untuk sekilas saja, hanya saja aku ngga mau beli sama sekali. Adakah yang bisa meminjamkan? :p
Profile Image for Dewiyani.
70 reviews
September 12, 2012
Alasan saya membaca buku ini bisa jadi sama dengan yg lainnya, karena penasaran setengah hati. Ada apa sih di buku kecil berwarna biru ini kok sampai segitu hebohnya. Jadilah saya beranikan diri meminjam buku biru milik bu dokter yg saat itu tengah dipegang oleh mbak Oky.

Apakah teman khayalan itu benar-benar ada? Maroon Winata, gadis kecil berusia 10 tahun itu percaya karena ia punya satu. Laki-laki bertubuh tinggi tegap dan berwajah tampan bernama Donald Basuki. Yg tidak Maroon ketahui, teman khayalannya adalah arwah gentayangan seorang laki-laki yg koma setelah mengalami kecelakaan fatal.

Beberapa tahun kemudian destiny mempertemukan mereka, Maroon yg telah dewasa dan Donald yg kembali dari tidur panjangnya. Sayang destiny masih ingin bermain-main dengan mereka untuk beberapa waktu. Akankah Maroon & Donald bisa bersatu?


Apa yg saya rasakan setelah membaca buku ini? Lelah luar biasa.

Dari awal saya juga sudah mengira klo buku ini nggak bakalan asyik buat saya, karena metropop bukanlah genre yg saya sukai. Apalagi buku ini telah menuai puluhan kritik di GRI. Tapi sebelum membaca buku ini saya mencoba bersikap netral, bukannya mau nggaya tapi saya menganut paham coba sendiri, buktikan dan rasakan!

Alhasil saya langsung kejengkang sejak paragraf pertama buku ini. Jeduk-jeduk… arghhh tolong hentikan saya sekarang juga sebelum saya tersesat lebih jauh. Sayang suami saya bukanlah pecinta buku jadi dia biarkan saja saya megap-megap kesrimpet dalam destiny. Mbok ya dikasih CPR gitu ya…

Sudah ah… mari sedikit serius.

Kita mulai dari depan ya… dari covernya. Sebetulnya sampul buku ini bisa menjadi favorit saya karena biru adalah warna kesukaan saya. Sayangnya saya menganut paham sampul tanpa wajah. Maksudnya saya nggak suka jika covernya pakai foto yg menampakkan wajah seseorang dengan jelas, karena saya lebih suka memainkan imajinasi saya sendiri. Sabodo teuing ah klo penulisnya berulang kali menekankan Ken/Rhett + Phantom = Ken/Phantom = kakak ini. Buat saya mah Ken/Rhett dipasangin topeng Phantom = Jhonny Depp arghhh so sekseh… mendesah frustasi sambil ngeces ces… cess… cesss…

Bagi orang lain masalah cover adalah urusan kesekian, tapi sampai saat ini saya masih bertahan untuk tidak membeli buku Dark Lover padahal itu adalah buku kesukaan saya, masih ngarep keluar edisi cetak ulang dengan cover yg berbeda. Jadi cover buku adalah penting buat saya. Lantas ada gerutuan yg mengatakan, sebentar saya lupa karena lagi ndak prima otak saya… eng… apa ya? Susah nih tetap saja ndak ingat mungkin terkena amnesia mendadak sayanya. Intinya sih merasa keberatan klo ngomongin soal cover buku. Lha! Bukannya sampul buku dengan buku itu sendiri adalah satu kesatuan, klo nggak suka sampulnya dinyinyirin ya udah sobek aja sampulnya jual tanpa sampul. Beres dah… *langsung ditoyor teman yg nyari makan lewat sampul buku*.

“Don’t Judge a Book by Its Cover”

Ok marilah kita telanjangi buku biru ini meskipun agak sulit karena hampir semua sisi buku ini sudah diungkap reviewer andal di GRI.

Selama membaca buku ini saya merasa alur cerita berjalan sangat cepat sehingga perpindahan waktunya terasa kasar. Kalimat-kalimatnya sangat WOW dan terkesan dipaksakan untuk ada. Kesan saya penulis ingin menunjukkan kepintarannya melalui rangkaian kalimat yg mbulet dan berusaha melucu melalui cuplikan lagu kanak-kanak yg membuat saya ingin menangis darah. Banyaknya typo juga cukup mengganggu (lebih jelasnya bisa dilihat review mas Ijul dari GRI) padahal buku ini punya editor dan co-editor loh. Zuperrr sekali.

Kalau ingin menanggapi soal pemakaian bahasa Inggris atau konten yg berhubungan dengan dunia medis, kok rasanya saya nggak punya kapasitas disitu ya. Kalo gitu saya ngulik soal mak comblang aja deh, profesi yg pernah saya tekuni dahulu kala #plakkk. Sebagai comblang saya juga pasti ngewes seperti Sharon, ngejual dagangan saya bahkan jika perlu dilebih-lebihkan dikit hahahaha… Kalau saya nih ya, asal udah ngucap niat ingsun dadi comblang maka saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menyatukan mereka. Mempertemukan mereka minimal kasih liat fotonya deh. Kan ada pepatah yg bilang dari mata turun ke hati, sayangnya kok hal ini nggak terlintas di otak Sharon ya.

Destiny oh destiny…

Eh tahu nggak saya suka liat FTV lho, tertunduk malu lantas ngumpet di goa. Tapi saya akan segera ganti channel TV sambil misuh-misuh saat tema yg diangkat adalah amnesia. Basi!!! Klo soal cinta segitiga dengan pemeran pelengkap penderita masih bisa saya terima asal nggak over. Belum lagi banyaknya kebetulan yg mau tak mau membuat saya menarik kesimpulan oh ternyata Jakarta+Singapura+London = Ciputat. Luasnya cuma seuprit jadi wajar saja klo dalam bilangan tahun anda akan bertemu lagi dengan orang yg sama.

Ah sudahlah klo dituruti bisa melebar kemana-mana nih maklum emak-emak klo udah menghina dina suka lupa nginjek tanah. Ringkasnya buku ini adalah sebuah buku yg berisi kisah cinta segitiga dengan bumbu amnesia. Saya tidak berani merekomendasikan buku ini kepada siapapun, karena saya nggak mau disumpahin. Tapi kalau anda memaksa ya silahkan saja baca buku ini.
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
February 17, 2014
Akhirnya rasa penasaran atas novel ini terbayarkan sudah, dan akhirnya tahu kenapa buku ini sebegitu fenomenal dan banyak dibicarakan beberapa tahun lalu. Walau emang aku sudah berusaha untuk memosisikan diri sebagai pembaca yang objektif, tanpa melihat review-review lain sebelumnya.

Novel ini sebenarnya "menarik", mengangkat tema tentang "destiny". Tapi entah kenapa membaca lembar demi lembar novel ini, aku tidak merasakan feelnya, aku malah sering bingung dengan alur yang coba disajikan oleh penulis, apalagi mengingat banyaknya typo bertebaran disepanjang novel ini, entah itu kata-kata yang tidak baku, kurang huruf dan sebagainya, benar-benar mengganggu kenikmatan membaca sekali. Tapi, aku berusaha untuk terus melanjutkan, karena aku masih punya harapan bahwa novel ini setidaknya punya sesuatu yang lebih dari novel lain.

Entahlah, apa mungkin saat membaca novel ini aku sedang tidak dalam kapasitas otak yang sedang prima, sehingga tidak bisa mengetahui apa yang dimaksud dengan novel ini. Padahal, aku termasuk orang yang jarang sekali memberikan rating kurang dari 2, dan mungkin novel ini bukanlah salah satu "my cup of tea".

Novel ini mengisahkan tentang Maroon, gadis yang bertemu dengan Donald sewaktu dirinya masih kecil. Tanpa dia ketahui Donald yang dia temui, tidak bisa dilihat orang lain selain dirinya, dan kemudian Donald menghilang dari kehidupannya. Donald bagaikan malaikat pelindung bagi Maroon, yang mengajarkan dan memberikan kekuatan bagi Maroon saat-saat dia menjadi anak baru dan pindahan ke Indonesia.

Ketika Maroon kecil dan Donald pun harus berpisah, Donald pun berjanji suatu hari akan bertemu kembali dengan Maroon. Ya, memory masa kecil itu terus menghantui Maroon hingga dewasa dan tanpa disangka dia bertemu kembali dengan sosok dokter Donald. Tapi, sayangnya Donald langsung mengenali Maroon, sebagai gadis kecil yang selama ini dia cari, tapi Maroon sama sekali tidak bisa mengingat Donald karena kecelakaan yang menimpanya. Kemudian muncul juga sosok David, seseorang yang menganggap Maroon sebagai "destiny"nya? Siapakah yang akan dipilih Maroon? Akankah "memory" masa kecilnya mengantarkan dirinya bertemu dengan "destiny" yang selama ini dia cari?

aaaaaah, sebenarnya ide novel ini menarik, tapi karena terlalu banyak "kebetulan" demi "kebetulan" membuat cerita ini jadi tidak lagi menarik. Hampir semua tokoh saling berkaitan dan itu terasa terlalu dikait-kaitkan, belum dengan alur yang sengaja dilambatkan-lambatkan, padahal banyak adegan yang mungkin tidak harus ada. Apalagi dengan part amnesia, oh noooo lagi-lagi amnesia dan kerasa banget terlalu dipaksakan. Setting pun tidak terlalu mendukung, apalagi anehnya novel ini mencoba mengambil setting tahun 2014 dan 2015 sebelum novel ini dibuat, tapi tidak berasa sekali.

Yang jelas, kembali ke masalah selera, novel ini bukanlah "my cup of tea", tapi alhamdulilah bisa juga membayarkan rasa penasaranku ^^
Profile Image for Martha A.H..
85 reviews12 followers
November 16, 2012
Baca buku ini cuma sehari. Sengaja dibawa mudik sbg bahan bacaan ringan yg gak butuh konsentrasi khusus. Sebelum baca gak punya ekspektasi tinggi, secara sudah ada warning dari resensi2 para gudriders. Asik aja rasanya ketika baca menemukan point2 yg disorot dlm resensi2 tsb. Bikin senyum-senyum sendiri. :-)

Yah, seperti yg sudah disentil oleh peresensi lain, sepertinya sang penulis memang ingin berbaik hati mengajar bahasa Inggris sembari menulis novel. Ada banyak kalimat (sentences) dan ungkapan (phrases) yang ditulis secara bilingual (dwi bahasa). Saya sih positive thinking aja deh, berpikir positif.

Mengenai bertaburannya destiny di buku ini, saya menduga itu mencerminkan kepercayaan sang penulis sendiri pada destiny. #dugaanngawur#

Dua bintang alias it was okay, sebab tema ceritanya sendiri cukup membuat saya terhibur. Cuma terasa agak dipanjang-panjangin, pdhl konfliknya sebenarnya sederhana. *menurut saya lho*

*siap untuk mengoper buku biru ini kepada Nissa*
Profile Image for Peni Astiti.
249 reviews21 followers
May 24, 2013
Saya bukan ikut-ikutan kasih satu bintang, kok. Serius.
Saya suka idenya. Keren! Duarius!
Cuma... saya gagal memahami keseluruhan cerita, karena eksekusinya gagal.

Di luar kontroversinya, saya menjura pada mbak Yunisa. Dia telah berhasil mempersatukan banyak pembaca di Indonesia. Saya jadi kenal banyak pembaca di Indonesia, karena buku ini. Kegiatan saling share, berawal dari buku ini juga.

Jujurly, saya berterima kasih banget sama mbak Yunisa, atas jasa-jasanya membuat saya kenal dengan banyak pembaca di Indonesia. #binaryme #blessings

Saya mau baca buku keduanya. Saya masih penasaran sama kelanjutan kisah Maroon dan Donald. Juga David dan Olivia(?)

Review lain bisa dibaca di sini
Displaying 1 - 30 of 42 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.