"TAHUKAH ANDA jika kota Jakarta itu dibangun para Freemason? Sejak pembangunan Stadhuis (kini dikenal sebagai Gedung Museum Sejarah Jakarta atau “Museum Fatahillah”) di tahun 1707 hingga sekarang, para Freemason ini terus membangun Jakarta dan menyisipkan aneka simbol pagannya ke Ibukota tercinta ini.
TAHUKAH ANDA jika luas keseluruhan Museum Fatahilah adalah 13.000 meter persegi?
TAHUKAH ANDA jika gerbang utama Museum Fatahillah terdiri dari 13 buah batu berbentuk Arch?
TAHUKAH ANDA jika batu istana DAM di depan Museum Fatahillah tersusun atas 13 baris?
TAHUKAH ANDA jika struktur piramida keanggotaan Freemasonry juga terdiri dari 13 tingkat?
TAHUKAH ANDA jika Freemason Belanda membangun pusat Menteng (Taman Suropati dan Gedung Bappenas sekarang) dengan desain simbol kepala kambing iblis Baphomet yang sampai sekarang masih bisa disaksikan oleh siapa pun?
TAHUKAH ANDA jika renovasi Air Mancur Bundaran Hotel Indonesia di tahun 2001 sarat dengan simbolisme Kabbalah, dimana proyeknya mengambil tema sentral “Cahaya” atau “Illuminaty”?
TAHUKAH ANDA jika ratusan simbol Kabbalah bertebaran di Museum Taman Prasasti di Tanah Abang?
TAHUKAH ANDA jika ada sebuah makam di Museum Prasati Tanah Abang yang tidak bernama namun memiliki simbol Grand Master Freemasonry?
TAHUKAH ANDA jika di bawah tanah Jakarta ada berbagai terowongan rahasia yang saling terhubung, yang sampai sekarang pintunya masih bisa disaksikan di berbagai tempat?
TAHUKAH ANDA jika Masjid Istiqlal dibangun di atas sebuah benteng Belanda yang dikenal sebagai Benteng Tanah karena di bawahnya ada terowongan rahasia?
Dan masih banyak kejutan-kejutan fakta lainnya meliputi Jakarta yang dilengkapi dengan foto! Diramu dengan kisah pembunuhan terhadap tokoh Neolib negeri ini, novel “The Jacatra Secret” terasa begitu renyah dan akan mengubah paradigma Anda tentang Jakarta dan bangsa ini secara keseluruhan!"
Tadinya ngebet banget pengen ngasi 3*, dan sangat terpesona sampai-sampai ngeracunin temen untuk beli dan ngeracunin diri sendiri untuk photohunt ke Kota Tua dan Taman Prasasti, tetapi ternyata oh ternyata...
Dimulai dari beberapa halaman di bagian depan yang tiap 5 lembar halaman dari 10 isinya teori konspirasi dan pancaran kebencian (taela!) penulis terhadap semua yang berbau Yahudi/AS, saya mulai curigation. Hanya saja semua itu masih saya kibas ke belakang karena alur agak mengasyikkan, walaupun sampai ke tengah buku sudah mulai bosan dengan istilah bidadari sebagai kata ganti nama 2 pemeran utama wanitanya. Tiba-tiba, setelah hampir sampai 15 halaman terakhir, saya mulai bertanya-tanya kapan penulis akan memberikan konklusi terhadap Tuan John Grant, si bule titisan Robert Langdon-nya Dan Brown. Ternyata oh ternyata...
Lepas dari teori konspirasi yang mengisi 3/4 isi buku ini, banyak hal yang ingin saya tanyakan: 1) Judul 'the Jacatra Secret' itu dari mana yak? Kenapa tidak diberi judul 'Rahasia Jakarta' saja, berhubung kita ingin mengangkat martabat bangsa dengan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Selain daripada itu (hua3, Soeharto banget je..), apakah asal usul Jakarta itu dari 'Jacatra'? Apakah terlewat saya baca sejarahnya di buku ini? 2) Kenapa aktor utama harus seorang bule? Apa dari sekian banyak orang Indonesia di Harvard, tidak ada yang memilih jurusan Sejarah? Jika si John Grant ini orang AS tulen, kenapa setiap memanggil seorang wanita di bawah umur 35 harus memakai awalan 'Nona'? Kalau di Barat, biasanya seseorang bisa dipanggil Ms. Jackson mengikuti nama keluarganya, kecuali jika orang tersebut sudah dikenal publik maka bisa juga dipanggil Ms. Janet. Di Indonesia, sebutan Miss lebih disamakan tingkatnya dengan Mbak. Di Jakarta, wanita2 kantoran di bawah 30 tahun pun sepertinya sudah tidak mau dipanggil Mbak, karena tidak ingin disamakan dengan mbak-mbak yang bertugas sebagai SPG ataupun ART. 3) Kenapa pemeran utama wanita harus bule juga, ataupun jika campuran digambarkan lebih bule daripada Cinta Laura?
Yawes, sekian dulu uneg-uneg saya. Review ini memang lebih mengarah ke pelampiasan amarah, dan belum mencakup kecaman terhadap kebencian sengit penulis terhadap Nekolim dan Neolib. Pendeknya, jika ingin membangun Indonesia, harus dari diri sendiri. Setelah mengubah diri sendiri, baru dapat memotivasi atau menginspirasi orang lain. Orang Indonesia sama saja dengan orang di belahan dunia manapun, hanya manusia biasa, buntutnya pasti ingin menyelamatkan diri sendiri dahulu. Jadi, tidak perlu terlalu menjelekkan penjajah jika bangsa sendiri mau dijajah... he3
salut untuk fakta sejarah hasil kerja keras riset serta keberanian Rizki Ridyasmara menuliskannya dg sejelas dan sedetail ini.
yang suka sejarah kudu baca. terlebih yg percaya teori konspirasi, wajib baca. :D *nggak dibilang jg bakal baca kali.. hehe*
bentuknya novel (novel sejarah, novel thriller) jadi enak aja bacanya. meski fakta dan uraian sejarah yg dibeberkan lumayan luas, dalam, dan kompleks. ttg konspirasi global yg ada dibalik semua peristiwa besar dunia. selanjutnya saya bicara ttg fakta sejarah yg diuraikannya, bukan ttg cerita novelnya.
bahwa Jakarta adalah kota Masonik. seantero Jakarta penuh dengan simbol Masonik yg penuh misteri. ttg ini silakan baca sendiri, banyak banget!
tujuan persaudaraan Mason Bebas (freemasonry) adalah menghancurkan semua agama langit (Yahudi, Kristen, Islam). di novel ini diuraikan alur sejarahnya yg terentang panjang dr ajaran sihir Mesir Kuno (Kabbalah), melahirkan Ksatria Templar, lalu Mason Bebas dst. panjaaaang bgt rangkaian sejarahnya.
bicara fakta.. Amerika adalah negara bentukan Mason; mereka juga melakukan penguasaan thdp seluruh sektor kehidupan (dunia) dg berbagai cara termasuk didalamnya membidani lahirnya PBB, WB, IMF, ADB, G-7, Uni Eropa.. dll. (lupa) *mmm.. lalu apa yang enggak dikuasai?*
mengarsiteki berdirinya kerajaan Saudi (aka. meruntuhkan kekhalifahan Turki); berada dibalik semua peristiwa besar dunia, PD 1 & 2, peristiwa Holocaust (klo mmg ada. tp yg memprovokasi Hitler membunuhi n mengusir Yahudi jg mereka), perang Vietnam, Perang Salib juga hasil provokasi mereka; terkait Indonesia, berperan besar dlm menjatuhkan Soekarno dan mendudukkan Soeharto di kursi kekuasaan. hal2 yg selama ini sy dengar hanya sebagai 'gosip'.
yg membuat saya lebih terkejut2 adalah fakta ttg Indonesia. disitu disebutkan pasca kejatuhan Soekarno (1967), Indonesia praktis dikuasai Mason kembali, setelah sebelumnya mereka mengusai Indonesia lewat VOC. VOC itu organisasi Mason juga. di masa itu, mereka masuk di organisasi Boedi Utomo.
ironisnya, Soeharto dkk. demi mendapatkan kekuasaan masuk perangkap Mason ini dg 'menjual' Indonesia pada mereka. tanpa kita sadari, Indonesia sdh terjual (hampir) habis.
agak rumit menceritakannya, tp ada 3 hal (sumber) saling terkait yang dipaparkan novel ini (sory klo salah nulis):
majalah radikal Ramparts, artikel berjudul The Trojan Horse: A Radical Look at Foreign Aid, disini David Ransom mempopulerkan istilah 'mafia Berkeley'.
tulisan Lisa Pease di Majalah Probe berjudul "JFK, Indonesia, CIA, and Freeport". kisah ttg bagaimana gunung emas di Irian ini dikuasai dan utk apa. membaca penggalan tulisan ini, miris! ada kalimat ini: "Freeport adalah pertambangan emas terbesar di dunia! Namun termurah dalam biaya operasionalnya." dan siapa yg menikmati hasilnya? untuk apa?
terakhir, film dokumentasi John Pilger berjudul The New Rulers of The World (ada di Youtube). penggalannya berisi ttg betapa Indonesia (dg segala sumber daya yg dimilikinya) paska kejatuhan Soekarno mjd hadiah besar untuk tatanan dunia baru. dg bisa diajakbekerjasamanya (lebih tepatnya sih didikte) Soeharto dg deal2 yg menguntungkan mereka dan segelintir penguasa negeri ini (tp lebih menguntungkan mereka), praktis Indonesia terjual, menjadi budak imperialisme Barat. sampai sekarang. melalui isu globalisasi, melalui jerat utang. fakta ini kmdn diperkuat oleh pengakuan John Perkins dlm bukunya Confessions of an Economic Hit Man (pengakuan bandit ekonomi).
terlepas dr pengaruh kekuasaan para Mason atau bukan, jika saja sang para penguasa negeri tdk jatuh dalam kenistaan menghambakan diri pada harta dan kekuasaan, Indonesia harusnya lebih dr bs untuk mandiri. dan merdeka dalam arti sesungguhnya.
tidak sekedar menjadi negeri yg penuh paradoks.
membaca buku ini, membaca sejarah, smoga menjadikan kita lebih mawas diri.
btw, cari bukunya masih susah? hubungi Group The Jacatra Secret di FB. ada rekaman video bukti2 yg ditemukan di Jakarta jg di grup ini. dan katanya mau difilmkan.
buku ini intimidatif dan melelahkan. sejak halaman pertama penulis sibuk menjejali pembaca dengan data, angka dan hal-hal yang diperkirakan bisa menimbulkan sensasi. satu hal yang dilupakan penulis, menyajikan sebuah cerita dengan pesona dan pesona itu hemat saya tidak muncul dari angka, data atau berbagai rahasia yang terkuak, tapi dari pergumulan manusia yg problematik didalamnya.
di jaman banjir informasi seperti sekarang ini, menulis roman sejarah mestinya bukan bertambah mudah. karena pembaca novel, bagaimanapun tidak akan menyimak fakta atau catatan sejarah sebagai sesuatu yang wah, jika jalinan ceritanya sendiri sulit utk dimengerti dan penuh spekulasi. semakin hari semakin banyak buku rujukan sejarah yang memungkinkan pembaca di jaman ini lebih memahami masa lalu. jika minat terhadap sejarah yang lebih utama, buku sejarah dari sejarahwan tentu akan menjadi pilihan utama.
Membaca buku ini seakan-akan membaca buku Dan Brown versi Indonesia. Selain berbedaan lokasi, sisanya nyaris sama.
Alur cerita sudah pasti bsia ditebak dengans angat cepat. namun yang membuat menarik adalah kedekatan emosional lokasi dengan pembaca, minimal buat saya.
Setiap hari saya melewati Gedung Bapennas serta Air Mancur Bunderan HI Beberapa kali bersama rekan2 fotografi memotret keindahan malam di sekitar air mancur, namun tidka terpikir untuk membuat foto dari sisi yang diambil penulis sehingga menampakkan mata Ra.
Saya sekedar pensaran, nyaris setiap tahun mahasisawa baru diajak mengunjungi Gedung Stovia, dimana di sanalah cikal bakal pendidikan tinggi dimulai. Tapi apakah mereka tahu bahwa Dr. H. F. Roll pendiri sekolah Kedokteran Stovia dimakamkan di Museum Prasasti.
Banyak juga kata-kata menarik yang layak dikutip, seperti " Sejarah itu mengejutkan! Oleh sebab itu banyak penguasa menggelapkannya"
Seandainya aku belum membaca buku dan Brown, tentunya buku ini bisa mendapat bintang 4. Namun mengingat uraiannya yang banyak membuatku terkejut, bintang 3 cukuplah.
NOvel ini tampaknya ditulis terinspirasi oleh novel da vinci code karangan dan brown yang cukup meledak pada tahun 2000an dan membuat pasar buku booming dengan novel2 teori konspirasi seputar topik freemason, illuminati, dan komunitas rahasia-rahasia lainnya.
penggunaan jakarta sebagai setting novel konspirasi sebenarnya cukup ambisius dan membutuhkan tantangan hebat. disinilah si penulis berusaha menjembantani topik konspirasi global dengan konteks indonesia. suatu hal yang tidak mudah karena umumnya sejarah yang ditulis di indonesia umumnya sudah ditulis dengan unsur politik (bangsa asia yang terjajah oleh barat) sehingga banyak detail2 sejarah menjadi sesuatu yang obscure.
terlepas oleh riset sang penulis yang menurut saya luar biasa detailnya, tapi teknik narasi dalam novel ini bisa dibilang sangat menyebalkan. nyaris 80% dari isi novel ini adalah eksposisi informasi yang diberikan karakter utama (John Grant) untuk membangun latar belakang cerita. Bahkan yang paling parah, di suatu titik, si penulis bahkan menuliskan percakapan langsung dengan menggunakan BULLET POINT. Yang saya bisa tangkap dari teknik narasi dengan informasi yang berlebih ini adalah, si penulis terlalu ambisius. misalnya pada satu titik, para protagonis ini sedang membahas mengenai salah satu karakter yang dibunuh, tapi pembahasannya melebar ke simbol bulan bintang yang dipakai oleh partai politik islam yang sebenarnya adalah simbol pagan. Satu karakter bahkan mengatakan topik pembicaraan sudah menyimpang. Saya geleng2 saja karena rasanya si novelis ingin mendekonstruksi simbol yang kita kenal, tapi teknik eksekusinya kalau saya bisa katakan, overkill.
Ya, mungkin Jakarta/Batavia pernah menjadi salah satu pusat freemason, illuminati dan arsitekturnya penuh simbolisme, tapi 150+ halaman penuh dengan penjelasan latar belakang sejarah konspirasi global yang hendak dimasukkan dalam konteks Indonesia rasanya melelahkan, dan jujur saja, si penulis lebih baik menulis buku nonfiksi soal konspirasi ketimbang novel konspirasi.
Novel ini seperti ditulis dengan spirit yang ingin membuat da vinci code versi indonesia. tapi hasil eksekusinya seperti Dunia Sophie. Adegan-adegan aksinya jauh lebih sedikit, dan hanya terjadi sekitar 10% dari cerita, dan itu pun terjadi di akhir buku.
Buku ini juga tampaknya memiliki nuansa antiglobalisasi. terlihat dari tema-tema dan percakapan karakternya yang anti neoliberalisme, konstruksi bahwa seakan2 ritus pagan adalah sesuatu yang negatif, dan tampanya ada sedikit spirit anti-yahudi di novel ini, tapi saya lupa bagian mana. Yang pasti beberapa konstruksi informasi yang diberikan oleh si novelis membuat saya jadi sedikit antipati.
Akhir kata, novel jacatra secret merupakan novel yang cukup menarik dan ditulis dengan riset memadai. pencinta novel konspirasi dan sejarah esoterik mungkin akan menikmati novel ini. Saya sebetulnya berharap novel ini seimbang antara eksposisi dan action, tapi ternyata Jacatra secret lebih pantas dijadikan buku non-fiksi ketimbang novel action karena penggunaan teknik narasi yang sangat tidak seimbang ini.
untuk perbandingan, silahkan baca novel Rahasia Meede, novel konspirasi juga dengan setting jakarta.
Awal mendengar buku ini, banyak yang menyamakan buku ini dengan karya-karya Dan Brown, Davinci Code, Angel and Demons, dan The lost Symbol. Bahkan, yang skeptis mengatakan buku ini adalah copycat dari karya Dan Brown.
Terlepas dari itu semua, keberagaman literatur yang dimiliki Bang Rizky tentulah bukan sembarang literatur. Kepiawaiannya membangun cerita fiksi dengan menghubungkan latar belakang sejarah, lokasi dan teori-teori konspirasi cukup terasa relevan. Terlebih setting lokasi sangat akrab dengan keseharian kita. Toh, memang sudah jarang buku mempunyai ide yang benar-benar orisinil.
Membaca buku ini, saya kembali dipaksa mengingat sejarah yang saya dapat dibangku sekolah. Kembali sibuk mencerna, apakah sejarah itu benar atau cuma sejarah milik pemenang.
Buku ini saya anugrahi bintang 4 untuk keberaniannya bertutur tentang sejarah dalam sudut pandang teori konspirasi dunia. Buku yang membangkitkan nasionalisme saya, dan mengharu birukan kenyataan pahit yang sekarang terjadi di Indonesia. Buku layak baca.
Cuma satu kurangnya, buku sarat informasi sejarah ini akan jauh lebih menarik kalau Bang Rizky lebih banyak mencantumkan footnote atau ref literatur yang dia gunakan. Sehingga keotentikan informasi yg diklaim otentik itu, terasa kebenarannya. :)
Walau berbentuk fiksi, namun novel ini mampu menyodorkan sejumlah fakta sejarah yang tak terbantahkan keotentikannya. Jika Batavia, yang kemudian berubah nama menjadi Jakarta merupakan sebuah kota Masonik, dibangun VOC sebagai loji terbesar Freemasonry lengkap dengan simbol-simbol iblis di dalam tata ruang kotanya. Serta sejumlah bangunan penting lainnya yang terdapat di dalamnya. Seperti kata pepatah, jika sebuah novel kadangkala sering lebih jujur bertutur tentang sejarah ketimbang buku-buku teks pelajaran di sekolah-sekolah resmi.
Ditulis dalam bahasa ringan dan mengalir, novel thriller dengan tempo amat cepat ini mampu menyuguhkan kejutan-kejutan yang akan mengubah paradigma para pembaca selama ini tentang sejarah bangsa, khususnya sejarah terbentuknya ibukota Jakarta. Semuanya dibingkai dengan sangat apik oleh penulis serta dipertegas lagi dengan sejumlah foto otentik yang menyulitkan bagi siapa saja yang ingin membantahnya.
Inilah novel sejarah dengan hasil kerja riset yang keras dan berani. The Da Vinci Code nya Indonesia. Selamat menikmati sajian sejarah dari kota kita semua, The Jacatra Secret !
Ini benar-benar buku gila. Tak sampai satu hari lewat saya menghabiskannya. Lembar demi lembar saya buka tanpa kenal ampun. Semua fakta ini disuguhkan dalam fiksi yang kelewat nyata. Semua bukti otentik dan detil cerita seakan mengantarkan saya menelusuri lekuk-lekuk dan sisa-sisa simbol tarekat Mason Bebas di Indonesia sebagai salah satu basisnya. Saya tak percaya, tapi saya dipaksa percaya dan akhirnya termakan juga.
Kisah ini bercerita tentang pengungkapan simbol-simbol Freemason yang ada di sekitar Jakarta. Jakarta yang dulunya disebut Batavia, merupakan basis Freemasonry di Indonesia. Berbagai lambang yang kadang terlewat oleh kasat mata orang-orang Jakarta sendiri, memang benar adanya. Ada bukti otentik dari foto-foto yang tak bisa lagi disangkal.
"Cara terbaik menyimpan rahasia adalah melalui tempat umum." Begitulah, kata salah satu tokoh Freemason Amerika pada bagian sampul buku.
Memang, kalian mungkin takjub ketika menyadari simbol-simbol tersembunyi di sekitar Jakarta. Bacalah! Dan nikmati sendiri euforia-nya. Saya tak bisa berkata apapun lagi. :)
Mengawali hari pertama ditahun 2012 dengan menyelesaikan (baca) buku ini. Cukup menarik untuk dijadikan bahan diskusi tentang isu konspirasi global freemasonry. Bila tidak sedikit yang 'mencap' buku ini 'mengikuti gaya' Dan Brown, namun saya tetap acungkan jempol untuk riset sejarah yang dilakukan penulis pada jejak2 mason di kota Jakarta. Tentu tidak mudah untuk merangkai sejarah menjadi sebuah cerita fiksi. Dan begitulah yang saya rasakan dari isi buku ini. Setiap plotnya seperti ada jarak yang dipaksakan 'nyambung'. Pertanyaan saya untuk penulis: Sudah anda membaca buku The Key of Solomon? yang berisi tentang penjelasan 72 satan (pengikut Solomon) yang kini disembah oleh kaum Kabbalah, beserta simbol dan mantra (cara2) pemanggilannya yang diambil dari kitab Taurat? Bila belum, saya bisa meminjamkannya hehe.. (note: saya mendapatkannya bersama teman dari situs 'terkunci')
Selalu penasaran dengan teori konspirasi sampai akhirnya tertarik baca buku ini karena mengambil lokasi di tempatku sekarang, Jakarta. Sayangnya dari pembukaan saja buku ini sangat terlalu mirip Dan Brown, bahkan hingga pemerannya, konflik dan juga plot cerita. Memang informasi yang dipaparkan cukup menarik, namun sayang banyak hal yang sedikit diluar konteks yang tampak membuat penulis ingin menunjukkan bahwa ia tahu banyak hal. Akhir cerita pun kurang greget, dan kurang disimpulkan dengan baik. Tapi tetap membuat saya ingin berkeliling tempat-tempat yang diceritakan di buku ini.
Banyak teman-teman GRI menyebut novel ini "Da Vinci Code nya Indonesia". Setelah dibaca sampai tuntas, alur cerita memang mirip. Dari novel ini saya jadi lebih aware dengan sejarah terutama tentang simbolik. Ga nyangka ternyata dibalik simbol atau semcam tugu memiliki arti dan maksud tertentu.
Saya pikir bakal kaya Da Vinci Code, Rahasia Meede, atau Negara Kelima. Ternyata tidak. Jacatra Secret menawarkan penuturan sejarah Jakarta yang belum banyak diketahui orang, walaupun sejarah itu belum tentu ada hubungannya dengan jalan cerita. Puzzle yang sangat minim, dan cenderung sederhana untuk dipecahkan. Hasil dari baca buku ini: pengen liat langsung Museum Taman Prasasti (biasanya kalo kesini cuman ngeliatin makam Gie), pengen liat area Istiqlal (jalan masuk terowongan yang dipake Drago).
John Grant adalah seorang ahli simbol. Setelah pertemuannya dengan Angel, mereka berdua lalu dihadapkan dengan beberapa kasus pembunuhan yang erat kaitannya dengan suatu kelompok persaudaraan rahasia. Didasari ketertarikan sebagai seorang conspiratus, mereka lalu menelusuri kasus itu dan mengungkap fakta di baliknya. Kasus inilah yang diramu dalam sebuah novel berjudul "The Jacatra Secret"
Sejauh ini, The Jacatra Secret adalah buku tentang konspirasi pertama yang pernah saya baca di samping artikel ataupun video tentunya. Membaca buku ini, saya seakan-akan membaca ulang buku mengenai sejarah atau pun politik dari sudut pandang yang berbeda. Banyak pengetahuan yang baru saya ketahui terkait Indonesia dan dunia luar. Namun, tentu saja fokusnya ada pada kota Jakarta.
Rahasia tentang simbol-simbol di tempat-tempat umum di Jakarta seakan ingin dikupas habis oleh penulis, soalnya dialog tokoh utama dalam novel ini rasanya malah seperti kutipan dari artikel: detail dan panjang. Bahkan, meskipun si tokoh sedang menceritakan suatu hal, ujung-ujungnya dia malah bisa menceritakan tentang hal lain yang meskipun menurut saya masih bersinggungan tapi rasanya agak bertele-tele. Banyak sekali paparan sejarah mencakup tokoh, tahun, nama, tempat, dan istilah yang di beberapa bagian novel, yang kebanyakan ada pada dialog, mesti saya skip saking banyaknya itu. Namun, saya masih tetap bisa menikmatinya tanpa henti. Secara keseluruhan bagi penikmat sejarah ataupun teori konspirasi, novel ini akan menarik untuk dilahap. Dan bagi saya, lumayan!
begitu membacanya yang terbayangkan adalah Da Vinci Code versi Indonesia
Jakarta, kota yang dikelilingi simbol mason, Eye of Horus a.k.a Bundaran HI, Gedung Bappenas di menteng yang dulu menjadi loge, alias perkumpulan para mason, yang peta lokasinya membentuk simbol baphomet jika dilihat dari atas. Dan, hey, jangan lupakan juga Monas yang merupakan simbol sacred sectum!
Kota Jakarta ternyata dibangun melalui para arsitek2 mason!
Secara pribadi saya cukup menggemari tentang cerita2 konspirasi dan tentang buku2 mengenai jaringan yahudi. Untuk hal ini Rizki Ridyasmara adalah salah satu yang cukup menggebrak dengan riset yang telah dilakukan dan mampu menampilkannya dalam bentuk novel yang berisikan data dan fakta sejarah. Salut untuk mas Rizki! NICE!
Data-data yang ditampilkan dan terutama kedekatan secara lokasi dengan pembaca yang notabene orang Indonesia tentu jadi nilai plus tersendiri.
Tapi sebetulnya dari sisi alur cerita secara pribadi saya merasakan terlihat agak dipaksakan terutama menjelang akhir cerita. Mungkin bisa lebih dieksplorasi lagi tidak sekedar wilayah jakarta tapi juga bisa jadi mengambil tempat di Aceh yang juga dikenal karena adanya operasi yang dilakukan misionaris Snouck Hurgronje yang juga keturunan Yahudi.
Saya membayangkan barangkali tensi petualangannya akan jauh lebih tinggi jika dibuat macam trilogy.
Premisnya menarik. Saya terbujuk untuk membeli lantaran sinopsis di belakang buku mengindikasikan bahwa buku ini cukup menjanjikan. Terlalu banyak buku teori konspirasi berlatar luar negeri, maka ketika ada yang berlatar di Indonesia, saya langsung membelinya.
Nyatanya, buku ini memang cukup menarik. Fakta-fakta mencengangkan tentang sejumlah situs sejarah di Jakarta membuat saya manggut-manggut kepala. Siapa sangka loji freemason peninggalan Belanda masih berdiri tegak dan dipergunakan sampai sekarang? Tetapi, pada akhirnya buku ini berisi terlalu banyak himpunan fakta yang tidak terikat dengan baik dalam jalinan cerita. Penulis seolah ingin menjejalkan sebanyak mungkin fakta ke dalamnya, termasuk yang tidak terlalu relevan dengan cerita (fakta Madonna-Britney-Christina di MTV VMA, dll.) dan pada akhirnya memang ceritanya berakhir dengan tidak seru. Entah ya, seperti puff, kelar (saya saja lupa gimana akhirnya saking ceritanya tidak membekas).
Atau mungkin ending yang kentang ini sengaja, karena dimaksudkan untuk dibuat sekuelnya?
Robert Langdon-ish, benar sekali. Aneh juga mengapa pemeran utamanya dipilih bule, tapi cintanya pada Indonesia sangat luar biasa, yang mana terasa janggal dan dipaksakan. Jalan ceritanya terasa diulur-ulur dengan hiasan, detil di sana-sini, yang pada akhirnya menuju ke pemecahan/konklusi konflik yang sangat biasa.
Saya beri bintang dua, karena usahanya patut diacungi jempol bagaimanapun juga.
Memutuskan untuk membeli novel ini karena tertarik dengan tema sejarah yang dibawanya. Tak menyangka begitu banyak hal yang entah fakta entah tafsiran semata dari sejarah masa lalu bangsa ini. Iluminati, Freemason, simbol2 yang dalam islam di sebut dajjal.Kelompok2 persaudaraan yang meyakini ritual pagan yang dianggap suci untuk menggalang kekuatan. Beberapa malah terlalu mengerikan untuk dibayangkan saja, apalagi kalau ternyata memang ada. Cerita tentang doktor John Grant, Angelia Dimitrea, Profesor Sudradjat sera beberapa pemeran figuran lain ini tidak terlalu menarik, karena justru di dominasi oleh percakapan2 yang kebanyakan bercerita tentang sejarah kota tua jakartadan simbol2 yang mengelilingi tatanan kota itu, saking penasaran saya kadang membaca sambil iseng membuka google, mendapati memang ada beberapa yang sangat real. Well tapi setiap orang bebas punya tafsiran atau memaknai apapun yang dilihatnya. Dan bebas mendukung, memiliki pendapat yang berlawanan atau bahkan sebodo amat tak perduli. Yang jelas setan memang diturunkan bersama Adam dan Hawa, menggoda anak2-nya sampai dunia ini berakhir. Selebihnya segala teori konspirasi yang mendominasi buku ini, bisa jadi memang ada bisa jadi juga mengada-ada....
Obsesi terhadap teori konspirasi mungkin membuat penulis membuat novel ini. Namun sayang informasi yang diberikan terasa hanya sekedar tempelan dari cerita yang mirip sekali dengan The Davinci Code. Lebih baik apabila penulis menulusuri lebih dalam misteri-misteri yang diceritakan. Misalnya misteri mengenai gedung Bappenas yang menjadi salah satu spotlight novel ini, hanya diceritakan berdasarkan cerita orang saja, tidak didalami lebih jauh. Misteri-misteri yang diceritakan sebenarnya cukup menarik untuk disimak meskipun pasti banyak perdebatan mengenai kebenarannya. Sayangnya ada beberapa narasi cerita yang informatif namun nggak nyambung dengan jalan cerita novel ini.
Terakhir, satu hal yang membuat saya tertarik adalah saya sangat dekat dengan lokasi-lokasi yang diceritakan di novel ini. Terlebih yang disebut 'pusatnya freemansory di Indonesia' yaitu gedung Bappenas, karena sehari-hari saya bekerja di dalamnya. :D
Mari kita lupakan sejenak Lost Symbol-nya Dan Brown. Buka mata kita lebar2 terhadap sejarah yang terlupakan. Ijinkan nalar kita bertelusur dan semua akan mengalir mengikuti alur ceritanya. Buku ini layak dibaca khususnya bagi saya yg sebelumnya kurang begitu memahami sejarah.
Mulai dari kisah keruntuhan Soekarno dan John F Kennedy, Madonna, asal-usul "ganyang malaysia", hingga rahasia2 gerakan freemason illuminati, dan penindasan Amerika berbentuk Freeport di Tembagapura. Semua diungkapkan dengan lugas dan berhubungan.
Terlepas dari terlalu banyaknya unsur sindiran yang bagi saya kurang begitu penting untuk dimasukkan ke dalam sebuah buku, bagi saya Jacatra Secret cukup mampu bersaing dengan buku2 segenre, bahkan sekelas Dan Brown sekalipun :)
Jika Anda penikmat sejarah, pasti akan sangat menghayati novel setebal 400halaman ini. Saya menyelesaikannya dalam waktu kurang dari seminggu. Sebenarnya ini bukan novel baru, sebelumnya sudah pernah diterbitkan tapi kemudian menghilang. Minggu kemarin, agak kaget juga Jacatra Secret ada di katalog bentang pustaka. Sejarah yang kita hafalkan sejak SD adalah sejarah yang sudah disaring semau penguasa. Di Novel ini saya merasa pengetahuan saya terhadap sejarah nasional, agama islam, agama kristen, dan tentunya Freemasonry bertambah.
Melelahkan. Untuk yang pernah membaca the Da Vinci Code mungkin akan sangat kerasa (banyak) kesamaan di antara keduanya, kecuali tempat-tempatnya tentu saja. Selain itu menurut saya penulis lebih banyak 'memaksakan pembaca untuk mempercayai satu teori konspirasi' dibandingkan menyajikan saja apa dasarnya lalu menyerahkan kepada pembaca untuk percaya atau tidak.
Untuk konten sejarahnya, tidak banyak dipaparkan hal baru sebenarnya. Tetapi bagian pemaparan sejarah adalah satu di antara sedikit bagian yang menurut saya cukup seru dan tidak membosankan.
Inilah Dan Brown-nya Indonesia namun sayangnya kurang promosi y? Coba deh diangkat kisah novel ini ke layar bioskop, pasti meledak buku ini. Setelah baca buku ini jadi tersadar bahwa selama Belanda menjajah kita mereka banyak menebar simbol-simbol pagan di sekujur kota Jakarta, tak hanya itu para founding fathers negara kita ternyata lumayan banyak yg menjadi pengikut ajaran mereka. Btw overall buku ini layak dibaca dan diikuti ceritanya sampai habis.
Saia kayaknya burn out abis ngerjain tesis. Jadi coba deh ambil buku random terus baca.
Pas ke Gramed kemarin Nyokap nunjuk, "Eh ini kayaknya asik. Beli yuk." Saia belilah. Dan hasilnya, saia banyak mukapalem.
Saia coba apdet deh per progress.
Adu, jadinya malah banyak tsukkomi kan. >_< Tiap baca ada yg bingungin, langsung cablak. Eah. Ya coba deh. Soalnya ga ngabisin post it-note, jadi ga papalah jajal.
Satu bintang hanya buat desain covernya yang cantik sekali.
Tidak suka buku ini begitu tokoh utamanya sudah keluar konteks dari sejarah-sejarahan (?) dari situ langsung minat batjaku hilang. Skimming, skimming hingga halaman terakhir. Dan aku lupa sih apa ceritanya dari situ XD
"Kita mungkin menganggap keyakinan itu lucu. Namun bagi mereka hal itu suatu kewajiban untuk menempatkan diri dalam spektrum yang sama dan sejalan dengan alam." -hlm. 136
Aku sedikit prihatin sama diriku sendiri, karena seiring halaman demi halaman di buku ini berjalan ternyata rating yang aku berikan justru semakin rendah. Dibuka dengan ekspektasi yang langsung membuatku menyimpulkan kalau aku bakalan kasih novel ini 5 bintang, tapi kemudian turun menjadi 4,5; 4,25; sampai ke kesimpulan akhir sekarang di 3,8 bintang saja.
Aku sebenernya tahu membahas novel ini akan panjang sekali kalau di sini, tapi aku bakalan jabarkan dalam bentuk poin-poin supaya lebih enak untuk dirangkum gitu ya. (Meskipun nantinya juga bakal kubahas di blog yang bakal membahas novel ini habis-habisan).
Yang pertama di sini aku mau kasih tahu kelebihan buku ini: 1) Tema yang nggak biasa, meskipun banyak yang bilang buku ini plek mirip The Da Vinci Code, aku belum bisa ambil kesimpulan demikian sih karena aku sendiri belum baca buku itu. Jadi tema seperti ini mungkin cukup baru buat jadi genre bacaanku, meskipun topik yang diangkat bukan hal yang baru kudengar juga sih. 2) Narasi yang digunakan juga surprisingly enak. Aku kira akan membahas hal-hal yang di luar nalar tak habis pikir gitu. Meskipun memang topiknya berat bisa kubilang penulis menyampaikan ulangnya terkesan santai. 3) Penyajian cerita yang dikemas dalam bentuk novel misteri-thriller bikin buku ini semakin menarik. Jujur aja sih aku nggak nyangka kalau tokoh-tokoh atau kemasan novel ini itu sedikit di-fiksi-kan. Sampai-sampai saking kerasa nyatanya, aku google-in nama-nama tokoh di dalam sini dong. Astaga, fool me!
And now lets move to the negative points of this book: 1) Ini sedikit berkaitan dengan poin no (3) sebelumnya. Jujur menurut aku penulis sedikit kebingungan untuk menyampaikan ceritanya. Kesannya tuh semua informasi harus dimasukkin ke dalam buku ini nggak mau tau gimana caranya. Memang sih ya informasi itu bener-bener mind blowing bahkan aku sampai kayak "hah, masa iya?" gitu. Tapi karena keburu kita disodorin narasi berupa cerita Thriller, informasi-informasi mengenai sejarah itu bener-bener jadi tempelan yang nggak nyambung sama ceritanya. Sampai-sampai tokoh polisi di sini juga blak-blakan menyatakan bahwa itu nggak ada hubungannya sama kasus yang terjadi di sini. Dan setelah kupikir-pikir, iya juga ya. 2) Masih membahas mengenai sejarah. Aku nggak tahu kenapa semakin belakang itu justru porsi sejarahnya makin banyak. Kalau memang diniatkan seperti itu menurutku nggak usah dibuat cerita seperti novel thriller sih. Karena kesannya kayak "gonta-ganti" format bacaan gitu. Tadinya fiksi sejarah, malah sejarah beneran, terus fiksi lagi. Semacam ada ketidak-konsisten-an gitu di sini. Dan jadinya tuh "bagian cerita historical fiction"-nya malahan ketutupan dan kalau bisa kuterka, palingan mentok cuma 150 halaman aja. 3) Mengular ke pembahasan halaman, menurutku juga jadinya tuh terkesan membuang waktu untuk mengikuti cerita yang sesungguhnya. Aku entah kenapa merasa kecewa dengan ending ceritanya. Lagi-lagi, menurutku penulis emang lebih fokus ke sejarah yang mau disampaikan ketimbang cerita fiktifnya. Jadi kesannya tuh penyelesaian di dalam ceritanya keburu-buru banget. 4) Mungkin kalian nggak merasa tapi buku ini kebagi jadi dua bagian. "Novel fiksi sejarah" sama "teks informasi sejarah". Udah bilang sih sebelumnya. 5) Saran aku judulnya jangan Jacatra Secret kalau ternyata yang dibahas justru teori konspirasi dunia. Ya memang sih, semua bermula dari luar negeri dulu baru merambah berkecambah di Indonesia. Tapi menurut aku masih terlalu general / umum, dibandingkan dengan topik yang lebih inti atau spesifik yang bener-bener di Jakarta aja. Aku bukan orang Jakarta, gak pernah ke Jakarta, jadi gak bisa komentar banyak. Peace~
Intinya menurutku novel (jujur aku bingung harus nyebut buku ini tuh novel atau sekadar buku sejarah aja) ini cocok untuk menambah pengetahuan. Banyak banget istilahnya "dark side" yang ditunjukkan di dalam novel ini. Tapi kalau kalian orangnya nggak sabaran kayak aku, dan mungkin agak blenek mendengarkan cerita sejarah yang mana itu keluar dari dialog antar-tokoh di sini, mengingat kejadian naas yang menimpa salah satu tokoh di sini, pikir-pikir lagi deh untuk baca.
Karena menurutku sayang aja gitu loh. Cerita utamanya tuh menarik dan thrilling abis. Bahkan aku bilang mau kasih 5 bintang. Tapi entah kenapa seiring ceritanya berjalan justru penurunan ratinglah yang terjadi buat aku pribadi.
3,8 stars. Tapi masih penasaran dengan karya lain penulis. Maybe next time I will give it some try.
Salah satu novel yang pernah heboh pada zamannya. Gimana nggak, jualanan utamanya yakni menguak misteri kota Jakarta dengan segala bangunan-bangunan peninggalannya. Apalagi, sejak awal sudah ditulis di sampul belakang jika ceritanya fiksi, namun semua tempat yang disebutkan ada nyatanya. Untuk seseorang yang menyukai cerita sejarah, jelas novel ini sangat menarik perhatian.
Bercerita tentang John Grant, seorang ahli simbol asal Amerika yang diminta bantuan oleh kepolisian Jakarta untuk menyelidiki kematian seorang petinggi Bappenas yang meninggalkan sebuah petunjuk sesaat setelah terbunuh.
Pria itu terbunuh tepat di depan pintu Museum Fatahillah. Sebetulnya dengan mudah John Grant menebaknya, namun tak langsung ia informasikan kepada kepolisian karena itu berhubungan dengan kelompok freemasonry.
Untuk menyelidiki lebih lanjut, John harus berhubungan dengan beberapa orang. Angel, seseorang yang mempelajari freemasonry namun tengah magang di kepolisian, Sally, wanita selingkuhan si pria yang terbunuh dan tentu saja sosok misterius yang turut mengincar nyawa mereka.
Novel ini seharusnya bisa tersaji dengan jauh lebih menarik jika saja penulisnya dapat menyajikan segala macam data hasil risetnya dengan lebih apik.
Untuk risetnya seputar kota Jakarta (dengan segala macam rahasianya), gerakan freemasonry, legenda dewa-dewi Yunani, keterlibatan CIA dsb, seharusnya novel ini terasa "daging banget!"
Soal data sih, ya okelah. Walaupun gak semuanya juga dapat ditelan mentah-mentah terlebih penulisnya menyebutkan beberapa hal yang sifatnya bias dan tentu saja belum tentu kebenarannya tergantung si pembaca mau merasa itu valid atau tidak.
Hanya saja, buku setebal 500 halaman ini rasanya "hanya" berisi hasil riset yang dihadirkan melalui dialog-dialognya yang terasa begitu berat. Katakanlah si John Grant ini memang punya ingatan dahsyat, tapi rasanya membeberkan semua fakta hingga menyebutkan nomor kepresnya misalnya, kok rasanya agak janggal di kehidupan sehari-hari. Kecuali memang obrolan itu disampaikan di tempat yang semestinya (misalnya saja jaksa atau pengacara yang membeberkan UU dengan segala penomoran ayatnya di ruang sidang).
Sedangkan, untuk konflik utamanya kentang banget. Kayak yang asal selesai aja misterinya sehingga misteri yang dibangun sejak awal jadinya antiklimaks kalau menurut saya.
Karena novel ini termasuk genre misteri dan bertutur tentang Jakarta, mau tak mau saya harus membandingkan dengan novel Rahasia Meede karya E.S Ito yang dari berbagai sisi jauh lebih baik dari The Jacatra Secret ini.
Ah, dijejalkan dengan fakta-fakta yang seharusnya menarik malah bikin "mual". Kenapa sih penulisnya nggak menjelaskan secara singat saja lewat dialognya biar terasa lebih realistis, baru kemudian dibuat catatan kaki di bawahnya? hmm.
Untuk risetnya saya acungi jempol. Namun untuk kisah utuh secara keseluruhan novel ini, saya kasih skor 6/10 saja.
Dari musium fatahillah hingga gedung bappenas, dari kuburan belanda tanah abang sampai ke monas. penulis mencoba melemparkan isu davincicode & angelsdemons ke ibukota jakarta. sebuah novel thriller yg dibangun lewat cerita fiksi dg menghubungkan latar belakang sejarah lokasi, arsitektur bangunan & seni keindahannya!
#thejacatrasecret misteri simbol iblis di jakarta by #rizkyridyasmara
Berhubung masih nuansa gubernur baru, mari membaca kembali jacatra secret novel kontroversial yg saya dapat 2010 silam! mungkin ini sudah yang ketiga kali saya menamatkan novel ini dari 2010 lalu :D sebenarnya ini adalah novel indonesia pertama yang saya baca!
Sebagai penikmat novel danbrown tentu akan menyukai ini, bermain dg sedikit teologi & beberapa kejutan sejarah di dalamnya. walau tidak berharap banyak untuk cerita karena sangat mirip antara langdon danbrown dg john grantnya rizky. antara angel dimitreia dg sophie neveu! untuk riset yg dilakukan penulis sangat luar biasa detailnya. dipertegas dg sejumlah data & foto yang tidak bisa dibantah. hal wajar jika alur cerita sangat begitu cepat karena kedekatan emosional lokasi dg pembaca.
Sebuah novel yg kaya akan sejarah, semua misteri tersembunyi dimulai sejak zaman VOC & masih bisa kita saksikan sampai hari ini. Novel yg mengambil tempat di sekitar wilayah jakarta, tempat tempat umum yg sudah banyak orang tahu, dg arsitektur bangunan & sejarah lokasi, terlebih nuansa lokasi sangat akrab dg keseharian saya. dg lokasi yg sering saya lewati membacanya serasa sedang menyelusuri jalan disana! musium fatahillah, musium nasional, taman suropati, kuburan belanda tanah abang, jembatan harmoni, gedung bappenas, bunderan HI dll.. ini bisa menjadi poin sebagai daya tarik wisatawan berkunjung ke jakarta!
Bukankah banyaknya wisatawan yang melihat lukisan & karya-karya leonardo da vinci karena buku-bukunya danbrown? Bukankah banyaknya peziarah di desa kaki gunung rennes le chateau hanya untuk memastikan bahwa disana ada makam maria magdalena? ah.. semoga pemerintah DKI siapapun itu bisa serius membesarkan sejarah dan memelihara musium-musium yang berada disini!
sebuah novel kadangkala sering lebih jujur bertutur sejarah ketimbang buku-buku teks di sekolah-sekolah resmi (Hal 54)
Dapat rekomendasi buku ini dari mahasiswa yang bakalan ngangkat tour dengan tema freemasonry. Karna msh banyak pendingan buku lain makanya baru dibaca setelah tour nya lama selesai. Awal baca buku ini, yg terpikirkan adalah tentang Da Vinci Code... sama hanya beda setting saja, hhmmm... Cara penyampaian, lalu bagaimana cerita di buat berdasarkan fakta (mungkin) yang ada di lapangan, bagaikan sedang membaca Da Vinci Code versi Indonesia.
Cara penyampaian Mas Rizki menurut saya keren, tp bbrpa hal yg mengganggu sy adalah penokohan yang berlebih menurut saya. Sy tidak tau apakah Mas Rizki pernah punya masalah sm polisi seblmnya, tapi penokohan Lutfi di buku ini menurut sy terlalu dipaksakan. Lutfi digambarkan sosok polisi yg mata duitan, penuh nafsu dan gila ketenaran. Tapi jdnya terlalu aneh menurut sy, apalagi digambarkan background Lutfi yg menurut sy sih agk jarang (mungkin mustahil) bisa menempati posisinya skrng di kepolisian.
Selanjutnya tentang keterlibatan beberapa pihak yg menurut sy kurang. Dengan besarnya masalah yg dihadapi seharusnya lebih banyak dan besar pihak yg terlibat. Masalah di dalam cerita adalah tentang penghianatan seorang anggota loji, sepertinya tidak mngkn hanya mengutus seorang pembunuh saja untuk membereskannya. Ini terkait keberlangsungan sebuah organisasi yg digambarkan besar mencakup negara2 di dunia, dan hanya mengutus seorang saja hhmmm... Sampai pembunuhannya sj bisa tercium oleh media menurut sy memperlihatkan org yg di utus bukan lah org yg profesional. Polisi yang terlibat pun hanya satu daerah yg menurut sy sih harusnya kepolisian seluruh Indonesia ini geger. Dari pihak militer yang mengetahui hanya Pak Kasturi, hhhmmm makin mencurigakan, tp dia bertempat tinggal di daerah militer, dan org2 militer tidak ada yang menyadari masalah ini, hhhmmm semakin mencurigakan... Jdnya tidak seimbang antara masalah besar yg ada dengan pihak2 yg terkait.
Menurut saya dengan kemampuan Mas Rizki dalam membuat sebuah cerita, dia seharusnya bisa membuat cerita yg lebih baik dari sekedar membuat Da Vinci Code versi Indonesia. :)
it feel like... buang-buang waktu karena membaca novel setebal ini. di awal novel memang dibuai dengan informasi-informasi tentang Jakarta yang jarang diketahui umum. dan buat saya ber-oh ria. tapi informasi yang segitu banyak disuguhkan sekaligus sehingga membuat kesan seperti membaca buku sejarah.
wajar kalau novel ini dibandingkan dengan Dan Brown ya karena memang alur dan karakter tokohnya punya kesamaan. simbolog dan perempuan cantik.
konflik di awal cukup memantik rasa penasaran namun sayang rasa penasaran itu tidak terjawab dengan baik di akhir novel. antiklimaks. saya berharap semoga ada novel lanjutannya setelah ini yang lebih memuaskan.
but well, penulis cukup berani mengangkat tema seperti ini yang saya yakin pasti risetnya luar biasa rumit. menambah warna bacaan.
It's been a long time since I found a book in Bahasa that interests me. Cool concept, clearly inspired by the Robert Langdon series, but I find the plot disappointing. Some of the words and the tatabahasa felt superficial/translated (i.e the use of "Nona"). I always have mixed feelings with conspiracy theories because while it is nice to see history from another side, it makes me frustrated. But this book succeeded in giving me many new facts in Indonesian history from the VOC era to Soeharto's presidency.
PS. I read this book on G30S & Hari Kesaktian Pancasila
This entire review has been hidden because of spoilers.