Jump to ratings and reviews
Rate this book

Valharald

Rate this book
VALHARALD berkisah tentang perjalanan dan petualangan 12 Ksatria Talismandala dalam menjalani misi dan takdirnya sebagai ksatria cahaya, menyelamatkan negeri VarchLand dari kekuatan kegelapan.

Valharald bercerita tentang perjalanan, petualangan, panggilan jiwa, keberanian dan seruan moral untuk mementingkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Dua belas ksatria bisa jadi adalah diri kita yang tengah terpanggil untuk melakukan sebuah perubahan besar dalam hidup, namun kita selalu saja dilanda pertanyaan-pertanyaan: benarkah saya harus berubah? Beranikah kita untuk melakukan sesuatu yang besar dalam hidup kita?

Melawan atau Mati!


Sinopsis :

Pada sebuah negeri (VarchLand) yang telah mengalami masa-masa damai selama beratus-ratus tahun, tiba-tiba terancam mengalami kehancuran oleh sebuah kekuatan kegelapan yang datang dari bangsa Vomorian.Padahal, di masa-masa damai tersebut para kesatria VarchLand menyimpan seluruh peralatan perang dan senjata-senjata rahasianya di sebuah ruang rahasia dan menyegelnya dengan sebuah kunci yang juga sangat rahasia.

Bahkan, di ruang rahasia tersebut juga tersimpan Mahkota Liafala yang merupakan mahkota tertinggi negeri VarchLand. Siapa pun yang bisa memakainya, maka dialah yang pantas menjadi raja. Masing-masing kesatria memegang satu buah kunci yang sama berbentuk segitiga yang merupakan bagian dari kunci lainnya. Kunci-kunci tersebut diwariskan turun-temurun kepada orang-orang yang tepat untuk memilikinya.

Sebelum semua kunci berhasil disatukan, pasukan kegelapan bangsa Vomorian telah lebih dulu mendarat di Pantai Vincha dengan armada perangnya yang berjumlah sangat besar. Mereka mulai menebarkan teror dan kerusakan.Nah, dari sinilah sebuah legenda tentang dua belas kesatria gagah berani dari negeri VarchLand yang disebut Kesatria Talismandala kembali menjadi harapan. Mampukah mereka menghadapi kekuatan kegelapan tersebut? Berhasilkah kekuatan Kesatria Talismandala menyelamatkan negeri Vincha dari kehancuran?


Komentar Penerbit :

Sebuah novel yang akan membuatmu gemetar. Sungguh, inilah sebuah dongeng cerdas yang penuh dengan hentakan!

411 pages, Paperback

First published April 20, 2010

5 people are currently reading
39 people want to read

About the author

Adi Toha

25 books38 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
11 (29%)
4 stars
4 (10%)
3 stars
10 (27%)
2 stars
8 (21%)
1 star
4 (10%)
Displaying 1 - 15 of 15 reviews
Profile Image for Nisa diani.
20 reviews4 followers
May 10, 2010
Sinopsis (1)

VALHARALD adalah sebuah novel fiksi fantasi karya Adi Toha. Berkisah tentang perjalanan dan petualangan 12 Ksatria Talismandala dalam menjalani misi dan takdirnya sebagai ksatria cahaya, menyelamatkan negeri VarchLand dari Kekuatan Kegelapan. Kedua belas Ksatria Talismandala ini merupakan orang-orang yang terpilih dengan keunikan dan karakteristik tersendiri dari beragam suku. Menjadi istimewa dengan jati diri dan latar belakangnya masing-masing.

Dalam perjalanannya 12 Ksatria Talismandala tersebut dibekali oleh sebuah kunci berbentuk segitiga yang berfungsi untuk membuka senjata rahasia dan peralatan perang yang telah lama tersimpan di tempat yang juga terahasia. Disamping senjata dan peralatan rahasia tersebut, tersimpan pula Mahkota Liafala, mahkota tertinggi negeri Varchland.

Barangkali itulah yang ingin disampaikan dalam kisah Valharald. Dua belas ksatria bisa jadi adalah diri kita yang tengah terpanggil untuk melakukan sebuah perubahan besar dalam hidup, namun kita selalu saja dilanda pertanyaan-pertanyaan: benarkah saya harus berubah? Beranikah kita untuk melakukan sesuatu yang besar dalam hidup kita?

Melawan atau Mati!


Mutiara Kecil itu…

Kejadian demi kejadian dalam hidup membawa kita kepada satu titik. Jika kita melihat ke belakang dan menyadari sepenuhnya bahwa tibanya kita di satu titik itu adalah sebuah keharusan. Kita akan semakin yakin untuk melangkah ke titik-titik selanjutnya. Meski kita tidak akan pernah tahu apa yang akan kita temui di titik-titik itu. (2)

Kau tidak bisa menjanjikan apa yang belum tentu kau dapatkan. Jangan pernah menjanjikan itu. Kadang takdir tidak berjalan sesuai dengan harapan kita. Apa yang telah kita harapkan, apa yang kita janjikan, apa yang telah kita nanti-nantikan semuanya bisa hilang dan musnah dalam sekejap. (3)

Untuk apa kita takut pada sesuatu yang belum jelas keberadaannya? Kalau pun mereka memang ada, belum tentu mereka akan menyerang kita. Siapa tahu justru mereka akan membantu kita untuk menyelesaikan ujian nanti... (Dialog Fionn). (4)

Jangan pernah menyesali apa yang telah dilenyapkan oleh waktu, ia tidak akan pernah kembali, ia tidak akan pernah kita jumpai lagi karena apa yang telah dilenyapkan oleh waktu sungguh telah berada pada sebuah tempat yang sangat jauh.... (5)

Begitulah beberapa penggalan kata-kata filosofis yang menarik perhatian saya dan bahkan saya dokumentasikan sendiri. Tak banyak namun cukup. Saya katakan beginilah seharusnya sebuah cerita dikisahkan. Ketika membaca Valharald, saya menjadi teringat masa-masa ketika paman saya memberikan dongeng sebelum tidur. Atau mungkin seperti inilah tepatnya ketika seorang penutur di masa itu menceritakan dongeng kepada anak-anak.

Valharald tidak hanya menuturkan cerita atau sekedar curahan hati. Ketika seorang pencerita asyik pada dunianya terkadang ia terjebak pada dunia eksklusifnya, membentengi diri pada pembacanya, tidak mempunyai kontak dengan penikmatnya. Penikmat sering kali dibuat bingung dengan kelebatan-kelebatan peristiwa atau gaya tuturan yang terlalu “aku”. Valharald berusaha menyentuh saya ketika penulis menyisipkan kata-kata atau pesan-pesan filosofisnya secara halus. Bahkan, saya merasa sedang berdialog dengan tokoh tersebut. Menemukan kata-kata filosofis seperti yang saya coba bocorkan di atas, menjadi sebuah “harta karun” kecil yang membuat saya keasyikan dalam dunia Valharald, dan tidak merasa digurui.

Kata-kata filosofis itulah yang saya akui menjadi semacam “reward” kecil ketika saya “dibujuk” tanpa sadar oleh penulis untuk semakin menyelami petualangan demi petualangan, cerita demi cerita, bahkan pertarungan demi pertarungan dari tokohnya. Saya bahkan tidak segan mencatat ulang, mendokumentasikan kata-kata filosofis itu. Novel ini tidak hanya menjadi semacam penghibur namun juga memancing saya untuk membaca secara aktif, terlibat secara emosi maupun retrospeksi dengan penggalan-penggalan kata-kata filosofis, yang entah sadar atau tidak terselip di banyak bagian dialog-dialog tokoh-tokohnya. Saya malah mempunyai pemikiran, apakah seperti demikian pemikiran-pemikiran filosofis yang ada dalam benak penulis?

Membaca-i “Manusia Fiktif” itu…

Di satu sisi saya sangat menikmati “harta karun” itu, di satu sisi lain saya harus terheran-heran dengan kekurangdetailan penulis dalam menangkap gejala-gejala lumrah “manusia”. Satu kejanggalan yang saya tangkap diantaranya adalah ketika penulis menuturkan persahabatan tiga orang pemuda Fionn, Urias dan Cymrodor dengan kaku. Tak ada sekelumit pun percakapan me“manusia” yang nampak, tak ada hal-hal konyol yang tesembul, tak ada keakraban atau kelucuan-kelucuan akrab khas gambaran sebuah persahabatan yang terjalin sangat lama, bahkan semenjak lahir. Tak ada kutipan-kutipan khas “boys talk” yang bisa saya temui.

Keganjilan lain adalah, usia penokohan itu sangat beragam, mulai dari yang masih paruh baya, hingga yang sudah setengah abad, namun sangat aneh apabila gaya bicara mereka juga harus meniru satu sudut pandang saja. Sangat kaku dan tidak menunjukkan pembeda sesuai dengan usia yang dituturkan oleh penulis. Begitu juga latar belakang kesukuan tokohnya, penulis masih belum memikirkan bagaimana meng”karakter”kan tokohnya, padahal ke-12 Ksatria Talismandala merupakan ksatria terpilih dari berbagai suku.

“Bungkus” Dongeng itu…

Saya masih ingat ketika mendapat cetakan pertama novel ini, mata saya langsung tertuju pada sebuah label merah yang tertera di bagian sampul depan cover ini. “Novel yang akam membuatmu GEMETAR”, begitulah yang ter-emboss di cover depan Valharald. Saya rasa emboss ini malah mengebiri konten dari novel ini. Tak ada satu isi pun yang membuat pembaca GEMETAR. Tentu lain soal apabila novel ini merupakan novel horror, saya rasa emboss GEMETAR masih cukup layak. Alih-alih kata GEMETAR, saya lebih menyarankan editor untuk mengalami edisi pembacaan saya dan mengganti kata GEMETAR dengan kata-kata lain. Tergetar, misalnya. Kata “tergetar” menurut saya lebih mewakili karena bisa menggambarkan pembaca yang akan dibuat tergetar secara pikir, emosi dan perbuatan dalam melakukan perlawanan atas ujian atau perbaikan-perbaikan perilaku seperti yang dituturkan sang penulis. Kalau memungkinkan lebih baik kalau emboss itu tak usah ada sama sekali saja, atau dalam bahasa sederhananya ditiadakan.

Saya juga kecewa ketika cover tersebut tidak memiliki orisinalitas dari segi desain cover. Setiap mata pasti langsung mengingat bahwa desain cover Valharald secara jelas mengambil dari gambar film epik-fantasi luar negeri yang telah terlebih dahulu tayang beberapa tahun lalu. Menggabung-gabungkan beberapa film secara “montage”, kemudian diedit sedemikian rupa, dan diberi judul “Valharald”.

Sinopsis di bagian belakang juga saya anggap kurang menarik perhatian saya, terlalu dilebih-lebihkan dan menurut saya hanya sekedar “lips marketing” yang kurang cerdas membaca konten Valharald sesungguhnya. Suatu saat saya coba mengintip deskripsi yang dibuat sendiri oleh penulisnya dalam sebuah grup jejaring pertemanan, dan saya akui deskripsi sinopsis yang diberikan jauh lebih membuat saya tertarik, dibanding yang diberikan di novelnya.

Kekecewaan saya pada kemasan Valharald rupanya bisa menjadi catatan tersendiri bagi editor, disamping beberapa kesalahan-kesalahan penulisan kata yang kerap kali saya temukan di sana-sini. Apakah Valharald terburu-buru dalam proses penyuntingan? Bagi saya, hal itu sangat disayangkan bagi bayi novel cerdas dan boleh dikatakan inspiratif namun terlahir secara prematur oleh penerbitnya.

Valharald bagi saya…

Novel ini sedikit banyak memiliki ikatan emosional dengan saya di sana-sini. Di satu saat saya bahkan mengakui merasa dekat dengan Gwyneira yang menyukai kupu-kupu, dan menyelami dialog-dialog filosofis nya dengan Fionn. Di saat yang lain, saya harus dibuat terharu dengan Eira yang dalam beberapa hal mempunyai pengalaman yang bagi saya mendekati pengalaman hidup saya. Satu kata, menyentuh, namun bukan sebagai sebuah tulisan yang berisi tentang kecengengan yang mengharu-biru. Valharald bercerita tentang ketegaran dan perlawanan atas ujian hidup. Seperti yang termaktub dalam salah satu kutipannya.

Harga dari sebuah perjuangan adalah ujian. Yang tak sanggup bertahan dan kalah akan tersingkir. Yang sanggup bertahan dan memenangkan perjuangan akan tetap hidup. Bukankah kehidupan adalah serangkaian pertarungan? (6)

Begitulah Valharald yang ditutup dengan sebuah bab pertempuran dengan ending yang menggantung dan menjanjikan kelanjutan pengisahan perlawanan berikutnya. Apakah Valharald menjadi korban kutipannya sendiri? Menjadi kisah yang akan dengan mudah “dilenyapkan oleh waktu” atau tidak, yang pasti saya tidak sabar menanti kelanjutan dari novel ini.


Referensi :

1. Sinopsis sebagian diambil dari info grup Facebook Valharald, http://www.facebook.com/?sk=messages&...

2. Valharald, hal. 135

3. Valharald, hal. 214

4. Valharald, hal. 52

5. Valharald, hal.10

6. Valharald, hal.129
Profile Image for Luz Balthasaar.
87 reviews69 followers
May 28, 2010
Dikasih sama pengarangnya sendiri karena nyari ga nemu2, hihihi ^^

Berusaha membaca secepatnya karena mau nulis repiu di Fikfanindo.

*Edit*

Untungnya, untungnya banget, novel ini nggak "memberi petuah (sok) filosofis panjang yang disamarkan di dalam dialog tapi masih kelihatan kayak petuah juga" seperti yang kucemaskan. "Petuah-petuah" itu ada, tapi frekuensi pemunculannya nggak sampai pada tahap "OMG ini mau nguliahin atau mau bercerita sih?"

Trus masalahnya apa dunk?

Kalau suatu cerita dirancang untuk 'digerakkan' oleh karakter, berarti karakter-karakternya itu harus dibangun semenarik mungkin. Masalah pertamaku adalah bahwa aku ga merasa pembangunan karakternya cukup istimewa, baik dari premisnya, ataupun penyajiannya.

Masalah dari premis, gini. Coba lihat tipe karakternya satu-satu. Pemuda desa pemberani. Sahabat-sahabat setia. Pemuda-pemuda yang dibesarkan oleh orang yang bukan orang tuanya karena serangan monster. Cewek yang diculik untuk 'dijual' (dan karena 'perlindungan kuasa yang lebih tinggi' ngga di bip-bip dan di tut-tut sama si penculik dan orang yang membelinya? Yeah right. Like it will really happen!)

Duh. Istimewanya di mana?

Terus penyajiannya, background story itu kebanyakan dikisahkan lewat tuturan si karakter yang disisipin ke dalam dialog. Bayangkan kalo 9 dari 12 karakter itu tekniknya gini semua, mana hampir semua buku itu isinya adalah cerita karakter. Ulang lagi, ulang lagi. ~_~

Yang kedua, cara berceritanya buatku terlalu datar. Nggak sedatar beberapa naskah lain yang pernah aku baca, tapi secara umum prosanya nggak menusuk aku dengan muatan emosi. Kalau ada kejadian sedih, aku bukannya ikut sedih. Cuman ngerasa jadi pengamat yang ga terlibat sama sekali di dalam kejadian yang diceritakan, kayak ngelihat pemakaman orang asing, terus berhenti dan ngobrol sama sesama orang lewat, "Oh, jadi si itu meninggal ya? Trus upacara pemakamannya begitu? I see. Semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan." Bis ngomong gitu langsung lanjut jalan dan pergi.

Dan yang ketiga, sinopsisnya yang ditambahin kata-kata bombastis dan predikat-predikat yang wah banget. Aduh. Penerbit satu ini kayaknya hobi yah nambah-nambahin promosi yang 'wah' ke sampul buku...

Balik ngomongin bagusnya lagi: sebagai orang yang nggak dudud-dudud banget soal mitologi Norse dan Celtic, aku lumayan menikmati nama-nama yang diambil kebanyakan dari kedua budaya itu di mitologi ini. Walau agak sayang juga sih ketika nyadar kalau kebanyakan nama itu cuma diambil tanpa mengadopsi mitologi kaya yang menjadi latarnya.

Perkecualian dikit untuk Mahkota Liafala (yang cuman disebut2). Lambang kekuasaan tertinggi ini kayaknya diambil dari An Lia Fal (The Stone of Destiny) yang berperan penting dalam upacara pemilihan raja di Irlandia. Ada mirifnya lah, hehehe.

Overall, buku ini nggak 'ngena' ke aku. Eksekusinya nggak jelek sih, tapi juga nggak istimewa.
Profile Image for Andry Chang.
Author 56 books37 followers
October 22, 2010
Valharald – A Knight in Shining Armor?

Kembali dalam rangkaian marathon antardunia, kali ini Sang Musafir berkunjung ke – sebutlah ini – Dunia Tak Bernama, ke Negeri VarchLand yang indah.

Karena media “perpindahan ke dunia lain” ini adalah buku, tentunya “kunci penarik” pertama adalah sampul bukunya. Kesan pertama yang didapat Sang Musafir adalah tokoh utama novel ini adalah “a knight in shining armor”, ksatria berzirah besi yang namanya terkesan seperti plesetan dari “Valhalla”.

Tata sampul khas Gobaqsodor yang artistik, “Cinemalicious” dan “real-life images tambal-sulam” memang jadi nilai jual tersendiri, tetapi jangan sampai ini menjadi pisau bermata dua dengan mengurangi “spirit” dari cerita ini sehingga terkesan “menyesatkan” para calon musafir tentang figur Valharald yang adalah judul besar cerita yang pada dasarnya seharusnya ditampilkan di cover. Atau, bila nanti mau membuat cetakan kedua, diusulkan pada cover ditampilkan keduabelas lambang yang mewakili para ksatria dan Mahkota Liafala di tengah-tengahnya – no less, no more.

Satu hal yang membuat “idealistic senses” Sang Musafir “gemetar” adalah endorsement pada cover yang mungkin adalah salah satu trik marketing dengan memberi “janji jaminan mutu” untuk menarik pembaca umum dari kalangan mainstream, sama seperti prinsip: “kecap saya dijamin nomor satu!” Yah, untunglah isinya cukup memberikan kesan bagus, menghibur, exciting dan feel good, walaupun tidak sampai “gemetar”. Mungkin – Sang Musafir setuju dengan istilah reviewer lain – lebih tepatnya “tergetar”.

Oke, terlepas dari yang di-endorsed, kita kembali pada prinsip marketing lainnya, “yang penting rasanya, bung!” yang dalam konteks ini adalah CERITAnya.

Tema utama cerita yang di-ekstrak Sang Musafir adalah perang antara kebaikan dan kejahatan, dimana pihak kejahatan dengan jumlah pasukan yang lebih besar hanya bisa diimbangi oleh – tentunya – kekuatan “lebih” yang bernama “pahlawan”.

Sekali lagi, dalam cerita yang satu ini Sang Musafir mengabaikan segala unsur klise dan pakem-pakem Tolkienisme yang rupanya cukup kental terasa – Kenapa? Mungkin karena beliau merasa “senasib” dengan penulis novel ini. Jadi, sekembalinya dari pertempuran hebat di Vincha ada beberapa kesan yang didapatnya sudah cukup untuk membuatnya rela menyisihkan waktu membedah dan membuat review dan fan sketch-nya. Berikut uraiannya.

1. Alur cerita ini melibatkan banyak flashback yang polanya adalah di mana tempat pemilihan, siapa yang terpilih, apa buktinya, kapan ia terpilih, dan mengapa terpilih. Jadi inti plotnya adalah proses pemilihan 12 Ksatria Talismandala dan pertempuran di Vincha sebagai finale-nya – sederhana, standar dan tak ada kejutan yang benar-benar ekstrim.

2. Setiap calon ksatria punya konflik dan pertarungannya sendiri, dan ini membuat prosesnya jadi lebih menarik ala karya klasik Tiongkok “Tepi Air” (Water Margin). Satu hal, terlalu banyak “kebetulan” yang terjadi di sini. Mungkin bila fungsi “kunci kalung segitiga” lebih diaktifkan sebagai “alat pelacak” untuk mencari saudara-saudaranya dan bereaksi bila dekat, faktor kebetulan itu bisa setidaknya dikurangi.

3. Pemikiran “purist” Sang Musafir sedikit terusik oleh penggunaan nama Cuchulainn yang ciri-ciri fisiknya hingga rambutnyapun mirip dengan versi asalnya, seorang pahlawan legendaris Irlandia setara Sigurd & Beowulf. http://fireheart-vadis.blogspot.com/2.... Ini bisa dimaklumi karena nama-nama seperti Percival, Sigurd, Fafnir dll sering muncul di cerita beda dalam novel-novel dan game-game. Mungkin Adi Toha sangat terinspirasi oleh karakter pemberani legendaris ini dan ingin “menghidupkannya” kembali dalam dunia dan cerita yang berbeda, dan akhirnya kita coba cerna dengan pemikiran “mungkin saja ada 2 orang dan benda yang bernama dan berciri-ciri sama, apalagi di dunia yang beda.”

4. Nama “Talismandala” sendiri, walaupun menurut Sang Musafir mungkin berasal dari kata “Talisman” dan “Mandala” yang berarti “Ksatria Suci Dewata”, terkesan aneh sendiri di antara sederetan nama-nama bernafaskan high fantasy ala Eropa Abad Pertengahan. Sekali lagi perlu sedikit toleransi dengan menganggap nama ini punya arti mendalam bagi si penulis, yang mengandung unsur “semangat” dan “jiwa” cerita ini. Mungkin terkesan inkonsisten, tapi juga idealisme yang kental.

5. Ada baiknya selain Zwehly ditambahkan pula beberapa “Pahlawan Kegelapan” dari ras orcus atau semacamnya, jadi walaupun pihak kebaikan harus kalah, setidaknya mereka kalah dengan lebih “terhormat”, bukan semata-mata kalah jumlah saja.

6. Bumbu-bumbunya yang berunsur diantaranya pengkhianatan, intrik, perpecahan, penderitaan, cinta dan konflik terasa kurang ekstrim dan terkesan “dikurangi kadarnya”. Mungkin karena tekanan budaya Indonesia-kah? Maklumlah, batas antara “ekstrim” dan “wajar” memang setipis kertas, dan itu juga yang jadi dilema setiap penulis novel-novel laga termasuk Sang Musafir sendiri.

7. Teka-teki Sphinx yang terdapat dalam buku ini adalah hak cipta Sphinx. Harus dimaklumi, memang tidak mudah membuat “riddle” unik yang bisa diingat orang (Contoh: Sphinx dalam “Harry Potter and the Goblet of Fire”), jadi kadang jalan pintasnya adalah “meminjam” dari yang sudah ada. Maklum, Sang Musafir juga kadang suka “meminjam” dengan menyertakan penjelasan yang (harap saja) masuk akal.

Dalam petualangannya ini Sang Musafir juga bertemu dengan beberapa tokoh lain yang cukup berkesan baginya:

1. Einar, seorang pangeran yang berusaha menekan ambisinya untuk menyatukan seluruh kerajaan di Dataran Tak Bernama demi tujuan yang lebih mulia.

2. Eira: Mungkin ia adalah Ksatria Talismandala yang paling misterius. Selamatnya dia selama ini dari “tangan-tangan jahil” mungkin ada hubungannya dengan semacam kekuatan misterius yang mengerikan dalam dirinya, bukan hanya berkat lindungan Yang Kuasa saja. Bila dikembangkan lebih lanjut, Eira bisa digambarkan sebagai gadis yang punya sedikit gangguan mental dan sifat aneh, dan dengan twist yang tidak terduga bisa jadi dialah yang jadi sasaran Zwehly yang sebenarnya.

3. Nimrodir: Tokoh yang sangat versatile, serba bisa, satu-satunya Ksatria Talismandala generasi pertama yang masih hidup. Bersama Draach si pelindung, dia adalah tokoh terkuat dalam episode ini, tapi diduga dia akan jadi salah satu yang “expendable” – yang akan dimatikan oleh salah satu Ksatria Talismandala yang berkhianat (mirip-mirip “Togira Ikonoka”-nya Eragon di “Brisingr”?)

4. Cymrodor: Satu lagi tokoh yang terkesan “expendable”, sudah diduga dari awal. Formasi 12 ksatria yang asli terkesan “disayang-sayang”, jadi Cymrodor-lah yang terkesan “dikorbankan”. Andai saja bukan dia, tapi Urias, Fionn atau anggota lain yang tewas dan dia jadi tokoh pengganti yang menjadikan formasi jadi “tidak terlalu sempurna”, itu akan jadi tambahan kejutan yang menambah nilai keasyikan cerita ini.

Di akhir segala akhir, Sang Musafir menutup buku portal Dunia Tak Bernama ini dengan tersenyum, disertai harapan bilamana nanti ia berkunjung kedua kalinya, Sang Musafir akan menemukan legenda yang lebih epik dan berwarna meriah.

“Kebijaksanaan, keberanian, kesetiaan, ketekunan, kasih sayang, ketabahan, pengampunan, keteguhan, keadilan, belas kasihan, kepercayaan dan kejujuran. Dan semuanya itu bersatu, memancarkan kebaikan demi dunia, demi cinta kasih dan demi kehidupan itu sendiri.”


Daftar 12 Ksatria Talismandala (Berdasarkan Urutan Kemunculannya):

1. Valharald Cadwaladir – Kunci Kebijaksanaan (Wisdom)
2. Cuchulainn – Kunci Keberanian (Valor)
3. Fionn d’Arthfael – Kunci Kesetiaan (Loyalty)
4. Urias d’Eoghan – Kunci Ketekunan (Diligence)
5. Gwyneira – Kunci Kasih Sayang (Love)
6. Eira Olwydd – Kunci Ketabahan (Preserverance)
7. Owain – Kunci Pengampunan (Mercy)
8. Tighearnan – Kunci Keteguhan (Righteousness)
9. Einar – Kunci Keadilan (Justice)
10. Ingemar – Kunci Belas Kasihan (Compassion)
11. Ingolf – Kunci Kepercayaan (Faith)
12. Gavin Mor – Kunci Kejujuran (Honesty)

Catatan:
Untuk melihat fan-sketchnya, klik di link ini:
http://fantasindo.blogspot.com/2010/1...
Profile Image for Truly.
2,764 reviews12 followers
February 22, 2011
Menulis sebuah cerita memang tidak mudah, apalagi jika itu sebuah cerita fantasi. Tidak saja dibutuhkan kreatifitas namun rambu-rambu seperti nalar, kepribadian tokoh yang konsisten serta arah yang jelas cerita itu mau dibawa kemana harus mendapat perhatian dari sang penulis. Belum lagi semangat sang penulis yang harus tetap dijaga sehingga buku itu bisa selesai, dan jika diniatkan menjadi beberapa bagian, setiap bagian bisa selesai, syukur jika jarangnya tak terlalu lama.

Saat menulis sebuah cerita fantasi, kadang sang penulis harus menciptakan sebuah dunia baru, dunia dengan situasi dan kondisi yang berbeda dengan yang selama ini ada. Misalnya penulis menciptakan seluruh daun di dunianya bukan berwarna hijau namun biru. Untuk itu Ia perlu memberikan penjelasan mengapa bisa biru. Anggaplah karena disana tanahnya mengandung sesuatu zat sehingga jika zat yang diserap tumbuhan lalu terkena sinar matahari akan menjadi biru. Selama cerita berlangsung sang penulis harus konsisten menyebut warna daun yang umum disana adalah warna biru. Sehingga jika ingin menciptakan unsur kejutan, cukup dengan mendadak warna daun berubah menjadi ungu, orange bahkan hijau.

Selain menciptakan sebuah dunia baru untuk wadah cerita, tokoh juga harus diceritakan secara konsisten dari awal hingga akhir. Misalnya sang tokoh sangat membenci pencuri apapun alasannya mencuri. Maka ia tidak akan berteman seorang mencuri. Namun mendadak di tengah cerita disebutkan ia berkawan akrab dengan seorang pencuri. Jika ia tidak tahu kawan akrabnya itu seorang pencuri, bisa dimaklumi , tapi jika ia bertemu justru saat kawannya sedang melakukan aksi , maka ceritanya akan menjadi aneh.

Membangun karakter tokoh bukannya hal mudah. Apalagi jika dalam cerita itu tokohnya tidak hanya satu. Maka bisa ditebak bagaimana kerja keras seorang Adi Toha untuk menciptakan lebih dari SEBELAS tokoh dalam Valhard. Setiap tokoh yang ada memiliki karakter yang berbeda, juga dengan penampilan fisik yang berbeda. Menjaga para tokoh untuk tetap konsisten dari awal hingga akhir cerita menunjukkan kemampuan sang penulis yang mumpuni.

Buku ini berkisah mengenai gonjang-ganjing yang akan terjadi di tanah VarchLand jika tidak dicegah sesegera mungkin. Seperti juga buku fantasi umumnya, kejahatan digambarkan akan mengganggu kebaikan, maka dalam buku ini dikisahkan akan ada sebuah kekuatan hitam dalam wujud Bangsa Vomorion yang akan menghancurkan VarchLand. Mereka ingin membalas dendam atas kekalahan mereka beberapa ratus tahun yang lalu.

Untuk itu mencegah kekuatan hitam merajela Valharld Cadwaladir, petinggi istana mengembara ke pelosok negeri untuk menemukan 12 orang yang ditandai dengan sebuah kunci berbentuk segitiga yang sama besar bentuknya. Mereka bukan orang sembarangan, mereka adalah 12 Ksatria Talismandala pemegang kunci rahasia. Kedua belas kunci tersebut harus disatukan untuk membuka sebuah ruang rahasia dimana senjata-senjata rahasia milik pendahulu mereka disimpan. Kunci-kunci tersebut diwariskan turun-temurun kepada orang-orang yang tepat untuk memilikinya.

Kedua belas Ksatria Talismandala tidak saja akan menemukan senjata-senjata rahasia dalam ruangan rahasia tersebut, mereka juga akan menemukan Mahkota Liafala yang merupakan mahkota tertinggi negeri VarchLand. Siapa pun memakainya dianggap pantas menjadi raja.

Valharld Cadwaladir yang sangat mencintai negerinya berusaha menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh, tak perduli betapa sulitnya tugas itu. Apalagi karena janjinya pada Sang Raja Hallvard. “Berjanjilah padaku, Valharald. Jika aku meninggal nanti, berjanjilah kau tidak akan membiarkan negeri ini hancur. Jangan biarkan ruhku melihat dari atas langit sana negeri ini hancur” desak sang raja sambil mencengkeram bahu Valharld Cadwaladir.

Sepanjang perjalanan, banyak ditemui hal-hal yang menakjubkan. Mencari 12 orang bukanlah hal yang mudah. Namun membuat mereka mau ikut dan membuat keluarganya mau merelakan mereka pergi , jauh lebih sulit lagi. Disini kejutan-kejutan manis bermunculan , tapi ada beberapa keganjilan yang membuat saya jadi berpikir memang sudah seharusnya begitu. Kejutan yang diawalnya menengangkan jadi berkurang gregetnya. Kisah mengenai bayi yang dibelah dua yang sudah melegenda juga ada dalam buku ini.

Sekilas, saya sempat menduga buku ini mirip dengan salah satu film yang berkisah mengenai sekian belas ksatria dengan tugas menumpas kejahatan yang terjadi di suatu daerah. Salah satu dari ksatria itu berasal dari Negeri Arab. Adi Toha memberikan kejutan yang lebih menggemparkan! Tidak ada kstaria dari Negeri Arab, namun kemampuannya tidak diragukan lagi, mereka justru berasal dari kaum yang selama ini dianggap lemah dan harus dilindungi.

Dari hanya 12 orang yang dianggap mau membantu, Valharld Cadwaladir justru mendapat bantuan dari banyak pihak. Memang 12 ksatria itu adalah kuncinya. Tapi tanpa ada dukungan dari banyak pihak bagaimana mungkin mereka bisa mengalahkan kejahatan. Secara logika, mana mungkin hanya 12 orang yang bertempur menyelamatkan negeri.

Seperti penulis cerita fantasi yang lain, Adi Toga juga menciptakan nama tokoh dengan apiknya. Kita akan bertemu antara lain dengan Cuchulainn, Urais d’ Eoghan, Fionn d’ Arthfael, Owain, Gavin, Einar Sang Pangeran Vincha, Eira dan Gwyneira, Ingemar, Ingolf dan lainnya. Dari dulu saya selalu penasaran bagaimana nama-nama itu bisa bermunculan dengan peranannya masing-masing tanpa tertukar.

Sebagai ganti ilustrasi, diambil kalimat yang dianggap paling menarik lalu dicetak ulang dengan format yang berbeda dengan aslinya. Dengan membacanya kita bisa mengenai garis besar cerita yang sedang berlangsung di halaman tersebut. Sekilas mengingatkan saya pada sebuah majalah remaja yang seluruh isinya adalah cerpen. Ini yang membuat saya terpaksa menurunkan bintang yang semula saya berikan. Kesan yang semula ditampilkan mendadak berubah menjadi menye-menye buat saya.

Dari sekian banyak bab, sungguh sayang adegan serunya hanya sedikit, maksud saya adegan pertempuran bersama kedua belas ksatria itu. Memang beberapa ksatria dibuatkan sebuah bab yang penuh dengan adegan seru . Tapi justru bab yang menceritakan usaha Valharld Cadwaladir menemukan mereka malah lebih banyak jumlahnya dari pada bab perihal bagaimana mereka bahu membahu bertempur melawan musuh. Atau mungkin buku ini hanya sebagai pembuka saja? Urusan bertempur bersama memang sengaja disiapkan di buku selanjutnya. Saya jadi penasaran apakah buku ini dibuat dengan akhir yang sengaja dibuat menggantung karena penulis menunggu bagaimana tanggapan pasar atau penulis sedang meracik kisah selanjutnya tanpa perduli bagaimana tanggapan pasar di buku pertama.

Mari berharap kejutan masih berlanjut. Kita akan lebih sering disuguhi adegan pertempuran dengan melibatkan banyak Orcus, Ogre serta Chimera. Untuk mengetahui makhluk apakah itu, anda harus membaca buku ini. Termasuk mantera Ye imperus graute creare!Ye imperus povoire creare! Ye Draach sauveoure
Profile Image for Shiki.
215 reviews34 followers
May 19, 2010
Sebenarnya, cerita Vallharald ini tidak buruk. Kenapa saya cuma beri dua bintang, dua alasan;
Satu, cetakan yang saya dapat berantakan, ada sekitar dua puluh lembar yang tercetak dobel.
Dua, ini bukan tipe saya. Terlalu banyak hal yang kurang mengena, dan ini bukan masalah teknik atau penjelasan belaka.

Kalau diumpamakan laut...
Ini laut yang bagus, tapi, terlalu biasa. Bukan laut yang akan mengundang saya menyelam kedua kalinya.

Tapi, mungkin ini karena saya terbiasa membaca yang lebih keras, sehingga buku ini - yang notabene cukup 'damai', cuma menampilkan mayat dicabit gagak dan hewan buas, terasa biasa saja.
Profile Image for Rapael Sianturi.
8 reviews
June 30, 2022
Ini adalah novel fantasi yang keren. Pencarian 12 Kesatria Talismandala adalah kisah petualangan yang menarik dan terangkai dengan begitu apik. Bahkan sempat terpikir, si Bijak Valharald seperti Yesus yang sedang mencari ke-12 murid. Belum lagi saat di bab 6, ada kisah tentang raja yang bijak yang ingin membuktikan ibu kandung dari bayi yang diperebutkan (oh, my brain😁).

Novel ini fokus pada perjalanan Valharald untuk mencari ke-12 Kesatria yang menyebar di seluruh VarcLand dengan balutan riwayat hidup dan latar belakang masing-masing mereka dan kejadian-kejadian tak terduga yang saling berkaitan dan mempertemukan mereka untuk satu misi yang sama, mencegah kekuatan kegelapan menghancurkan negeri mereka.

Tapi aku kurang puas dengan endingnya. Mereka akhirnya bersatu dan melakukan pertempuran melawan pasukan kegelapan Zwehly dari Vomorian, namun hasil dari pertempuran belum terungkap. Endingnya justru menekankan bahwa VarchLand masih tetap memiliki harapan untuk bertahan hidup di tengah gempuran pasukan kegelapan yang sangat besar.

Apakah novel ini butuh sekuel?
Kalau aku pribadi, jawabnya antara ya dan tidak. Ya, jika kita pengen tahu pemenang pertempuran, keadaan VarchLand pasca perang dan kisah keduabelas Kesatria. Tidak, karena optimisme yang disuarakan di akhir cerita seakan menyiratkan bahwa mereka mampu mengatasi kuasa kegelapan, dan VarchLand bisa melanjutkan masa-masa damai seperti sebelumnya.

So, menurut kalian gimana?
Profile Image for Manikmaya.
99 reviews40 followers
August 19, 2013
ACHIEVEMENT UNLOCKED!!!

READING A 'GREAT BOOK' IN 'GREAT TIME'!!!!



Oke saya udah lama beli buku ini. Sudah 2 tahun malah, tapi sejak baca 40 halaman pertama rasanya sudah beraaat mau lanjutin. Baru hari ini nih selesai baca. Itupun karena situasi dan kondisi yang 'mendesak'. Jadi saya harus menunggu antrian di sebuah instansi selama kurang lebih 6 jam dan apesnya lagi di tas saya hanya ada buku ini.

Oke mari kita telisik dulu kelebihannya.
1. Buku ini bercerita ttg para pemberani dan kesulitan2 hidup yang mereka alami.
2. Tidak ada lagi, cuma satu.

Mari kita lihat kekurangannya :
1. Bule celup! Setting Eropa, nama campuran antara Latin, Inggris kuno, dan Jerman tapi ... karakternya sama sekali tidak istimewa. Tidak ada konflik yang menonjol. Si penjual budaknya juga santun banget! Oi! Ini Eropa zaman Medieval woi! Harusnya si perempuan sudah dijadikan 'mainan' ratusan pria kan???

2. Gimana dengan penamaan karakter dan tempatnya? Duh ... 'aduhai' sekali. Saking aduhainya saya sampai tidak ingat satupun nama karakter dan nama tempatnya kecualo Valharald, si kakek tua yang mirip Gandalf ini. Karakternya juga kelewat banyak.

3. Ternyata buku ini dimaksudkan untuk punya sekuel! Tapi sekuelnya tampaknya tidak pernah keluar. Penasaran dengan akhirnya? Jangan khawatir, ketebak kok akhirnya. Itu 12 orang menang dengan gemilang, si abadi terbunuh, dan satu dari antara 12 orang itu akan jadi raja atas Varchland.

4. Narasi yang AMAT BURUK ... GRROOAAA!!! Kebanyakan tell daripada show!!!

5. Riset yang kurang! Bisa dilihat di satu wilayah ada banyak raja. Oi! Itu raja atau duke atau archduke atau souvereign prince sih??? Terus itu ada raja yang mangkat kok malah nunjuk kepala pengawalnya jadi raja??? Kerajaannya punya konstitusi nggak sih??? *EMOSI karena habis main Crusader Kings II!*

6. Tokoh-tokohnya kebanyakan tokoh ideaaall semuaaaa, wuhuu 12 orang berbudi baik semua! Waow luar biasa 'bagus' jalan ceritanya untuk para tokoh, tapi tidak bagus untuk pembaca. Pembaca disuguhin konflik yang datar-datar saja. Tokoh-tokohnya yang dapat perlakuan kurang pantas pun kayak pasrah saja sama nasibnya.

7. Dialognya suuueepeerrr dueeeperrr dataaaarrrr!!!!! Ada beberapa kalimat yang bisa dijadikan 'quote'. Tapi itu sediiikiiittt sekali!!!

8. Jalan ceritanya mudah ketebak. Nggak ada halangan yang berarti bagi 12 kesatria Talismanda ini. Membosankan.

9. Endorsemennya menyesatkan!


Rating yang saya kasih sebenarnya : -1



Profile Image for Magdalena Amanda.
Author 2 books32 followers
November 17, 2010
Kalau disuruh membicarakan buku dari kulit sampai jeroannya, saya akan langsung mengomentari kalau selera saya tidak klop dengan kover novel ini. Hmm, saya sebenarnya tidak tahu proses detail di balik pembuatan kover sebuah buku, tapi sampai sekarang saya agak memandang rendah kover2 yang menggunakan foto tambal sulam. Ada kesan kalau kover tersebut hasil copased (copy-paste-edit) dari beberapa sumber.

Membedah ceritanya, Valharald ini bukannya jelek, tapi cerita yang dimuat di buku (pertama) ini lebih banyak menceritakan mengenai para Kesatria Talismandala, padahal saya rasa cerita utamanya hrsnya mengenai peperangan di Vincha. Bagi saya, komposisi penceritaannya timpang. Cerita karakter memang diperlukan, tapi sebenarnya yang seharusnya lebih diutamakan--menurut saya--adalah cerita mengenai bagaimana para Kesatria tersebut beraksi menghadapi serbuan bangsa Vormorant.

Cerita yang menurut saya sudah kurang mantap ternyata masih dihiasi dengan typo nama, karakteristik yang "miss", plus keanehan di mana para Kesatria Talismandala yang (saya kira) seharusnya "diamankan" karena mereka membawa kunci spesial untuk membuka tempat penyimpanan senjata rahasia malah diterjunkan langsung dalam peperangan melawan serbuan gelombang pertama di Vincha. Hmmmmmm ... No good, I guess.

Dengan demikian, berakhirlah Valharald dengan rating sekian di mata saya, dalam lingkup fiksi fantasi lokal.

Hehe.
Profile Image for Mega Yohana.
Author 1 book2 followers
July 19, 2012
Hm...........
Ngebelinya sih udah dari jaman semester 2 dulu kala, pas ultah ku itu...
tapi baru tau ada yg seperti ni sini sekarang ni, O_O
Jadi,
Yah,
Hazuki cuma kecewa berat seberat-beratnya pd bagian akhir doang, itu yg paling menusuk.
Tapi, masalah2 lainnya, udah pernah d-review toh, ama Kakak2 yg laen, :P
Lalu,
masalah teknis,
ini nih, ada sekitar berapa yah, beberapa halaman lepas gitu, pdhl itu buku masih d dalem plastik loh, kok bisa begitu yah, (,")?
Tapi intinya, berhubung Hazuki penikmat cerita, mau yg gimana pun, jd oke2 aja lah, :D
Profile Image for Agus Dwi R.
137 reviews8 followers
August 7, 2014
Penyajian ceritanya menurut saya ga proporsional. 9/10 isi buku habis buat ngumpulin satu2 karakter ksatrianya. Kirain sisanya bakal dikebut bahas perangnya. Bener juga, tapi tak disangka ternyata cerita terputus dan belum tuntas. Dan ga ada lanjutannya ini gimana woyy.
Profile Image for Novi Syaftika.
4 reviews
Want to read
February 1, 2011
bukunya baru aja dapet dikirim sama penulisnya langsung. belom dibaca. hehehe
Profile Image for DIVA Press.
26 reviews21 followers
March 3, 2011
saya suka buku ini tapi sayang berhenti di tengah jalan ceritanya :)
Displaying 1 - 15 of 15 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.