Kalau kamu memang tak bisa jadi populer bersama the ‘it’ crowd yang sudah ada, jadilah kontroversial. No, really. It’s like coup d’etat but you’re still allowed to wear good shoes. Cantik itu kekuatan, tetapi kemampuan memengaruhi orang lain adalah sumber kekuasaan para ratu sejak dulu.
So, Dahling, always watch your back. Hati-hati dengan orang yang suka bergosip; lain kali bisa jadi kamulah korban mulut tajamnya. Yang kamu butuhkan adalah pengikut setia, bukan sekelompok boneka yang mengiyakan apapun yang kamu katakan. And yes, being better is not enough. Kamu harus jadi yang terbaik. Tersenyumlah saat orang-orang populer itu mulai menjelek-jelekkanmu. Artinya, kehadiranmu mulai mengkhawatirkan mereka.
Dan ketika mahkota itu akhirnya ada di kepalamu, Yang Mulia, nikmatilah selagi bisa. Dunia popularitas sekejam yang kamu lihat di All About Eve. Hari ini kamulah yang paling berkuasa. Besok? Only heaven knows, Baby....
Baca buku ini bareng baca Totto-chan's Children (kebanting banget yah?). Dan seperti biasa, baca buku ini gak makan waktu lama.
Seperti seri-seri sebelumnya, seri ini bercerita tentang anak-anak high end yang, ampun deh, sekolah apa sekolah. Situasi di sekolah ini sudah seperti kampus-kampus design: barang bermerk dimana-mana, tabrak tubruk gaya, bikin trend. Tapi ya bedanya anak design gayanya lebih ajaib.
Sempet tertawa geli deh melihat membaca tingkah Mindy dan Tara. Lagaknya udah kayak anak playgroup! Bener-bener deh, ga ada apa cara berantem yang lebih elegan & dewasa sedikit?
Sebel banget sama karakter Sundae. Bisa-bisanya murid kayak dia anak beasiswa. She sounds like a fathead, really. Bukan itu aja, dikit-dikit make over lah. Apaan sih? Penting gitu?
Menurut saya, buku ini adalah cerminan anak-anak high end jaman sekarang. Hambur sana sini. Halah.
Ga seperti biasanya, di seri yang kali ini Inggrisnya agak banyak yang ngaco. Well, ga banyak banget sih. Still.
Overall, ya masih okelah buat bacaan ringan tapi mungkin efek baca Totto-chan's Children masih kencang juga, makanya saya gak suka-suka banget.
Oh btw, untuk penggemar May, di dalamnya ada May's side story.
Mindy Minillo seperti menjadi anak buangan di VIS, berbeda dengan kehidupannya selama di Oregon, dia adalah anak populer, bisa mendapatkan apa yang dia mau dan selalu menjadi pusat perhatian, setelah pindah ke Indonesia dan sekolah di VIS, dia nggak ingin bergabung di clique yang sudah ada, prinsip dia adalah menjadi leader bukan follower. Sebagai anak baru dia ingin mencari teman cewek yang bisa diajak bergabung dengan cliquenya. Jangankan punya teman baru, sewaktu makan siang kisah hidupnya nyaris seperti Cady di film Mean Girl yang diperankan oleh Lindsay Lohan, makan di toilet, tapi untungnya Mindy lebih berani, ketika ada sofa merah yang kosong di VIS dengan santai dia menduduki, yang langsung jadi bisik-bisik se-VIS. Mindy nggak tau kalo tempat yang dia duduki adalah milik Rashi and the clique, sempat diusir sebentar tapi begitu Mindy nyeleduk salah satu aksesoris Rashi dan Rashi menyadari kalau orang baru ini melek fashion, Mindy malah diajak bergabung makan siang bersama mereka.
Kejadian itu nggak lantas menjadikan Mindy dekat atau masuk ke clique-nya Rashi, kembali ke prinsip dia semula, dia selalu menjadi pimpinan sebuah clique, bisa turun derajat kalau menjadi anggota atau malah nggak dianggap. Selain itu dia juga nggak punya teman di VIS, hanya ada Sundae si ratu gosip dan Ning-Ning, gadis pendiam yang sama sekali tidak peduli dengan penampilannya dan kelewat polos, they are so not VIS girl material, di mana sebagian besar murid di VIS punya signature style-nya masing-masing. Dengan terpaksa dia bergabung dengan anak-anak scholarship seperti mereka, alias masuk kategori paling bawah di rantai makanan Voltaire, kalau mengikuti ego, Mindy biasanya menjauhi anak-anak seperti mereka. Sekarang kan kedudukan mereka sama saja, itu yang disadari Mindy. Cobaan terberat baginya yang sebelumnya cewek populer di sekolah kini menjadi socially nobody.
Ternyata, itu bukan cobaan terberat, masih ada satu lagi masalah yang dihadapi Mindy. Waktu dia pertama datang ke sekolah, bukan hanya dia saja yang menjadi anak baru, masih ada satu lagi namanya Tara. Entah sengaja atau emang selera mereka hampir sama, mereka selalu berpenampilan kembar, hal itulah yang menjadi geger satu sekolah, pernah sama-sama masuk final Miss Teen USA, Mindy mewakili Oregon sedangkan Tara mewakili Rhode Island, mobil mereka sama persis, tinggal di apartemen yang sama dan bertetanggaan. Bahkan mereka sempat jambak-jambakan ketika Mindy tahu Tara satu apartemen dengannya saking sebelnya dengan Tara dan menuduh dia menguntit dan nyontek style berpakaiannya. Yang lebih heboh lagi, bagian mading sekolah mewawancari Mindy dan Tara hanya untuk silly competition. Bukan cara seperti ini agar Mindy bisa populer lagi di sekolah.
Mindy's miraculous words: Being a teen is being trendy, awesome, and fabulous. Being popular in VIS is being fabulous. fabulous. and the ONE only. - by Mindy's Personal Thought (after that Bitch Cindy publish her stupid article!).
Buku ini mengangkat tema orang baru di sekolahan, orang yang dulunya populer begitu menginjakkan kaki yang bukan wilayahnya, dia tetap orang baru, yang harus mengikuti peraturan yang sudah ada. Saya cukup menikmati cerita Mindy ini, terlebih pas bagian dia saingan sama Tara dan jambak-jambakan di parkiran, hahahaha kocak banget. Nggak heran kalau yang nulis Moemoe Rizal, selain menyuguhkan cerita yang penuh pesan moral dan quotable, dia juga selalu menyisipkan adegan lucu di ceritanya.
Dari semua seri GlamTeen saya paling suka buku ini, sangat realistik (bagian menjadi orang baru), kita memulai semua dari awal, mencari teman yang seklop dengan kita, adaptasi dengan lingkungan baru, terlebih ini sulit buat Mindy karena sebelumnya dia cewek populer dan di VIS ada cewek populer juga, dia nggak bisa langsung menyabet gelar tersebut untuk dirinya, pesona Rashi udah mendarah daging di VIS, akhirnya dia menjadi 'orang biasa' atau being invisible dan harus puas dengan title tersebut. Persaingan tersebut cukup ngeri juga ya, saya belum pernah menemui di kehidupan nyata, kalau clique yang populer di sekolah dan sering jadi bahan gosip kayaknya udah umum, mungkin kehidupan remaja kaum hedon seperti itu, menomor satukan popularitas dan barang branded.
Apapun itu, kita bisa menjadi diri kita sendiri yang kita sukai, bukannya itu yang terpenting? Dunia popularitas memang nggak seindah bayangan kita, jadi harus benar-benar kuat mental kalau ingin masuk ke lingkungan elit tersebut, harus siap dengan berbagai resiko yang akan dihadapi. Oh ya, baca aja bonus majalah mini di bagian belakang buku ini, ada banyak banget info dan seputar popularitas, kali ini membahas; Frenemy, Hater, Welcome To Popularity Jungle, sampe tips bagi New Comer. Dan terakhir, ada bonus side story Maybella, loh, yang pengen tahu lanjutannya, gih dibaca :D
Moral yang bisa aku ambil dari blackout moment tersebut adalah: terkadang dunia ini terlalu terang sehingga kita butuh kegelapan untuk bisa melihat setitik cahaya.
Seharusnya saya males atau nggak suka baca serial glam girls ini karena pernah coba dan kurang cocok, tapi seperti biasanya, saya kasih kesempatan lagi buat diri saya baca seri ini dan suka! Ini kisah tentang Mindy, gadis blasteran trendi, yang baru pindah ke Voltaire High School. Kisahnya soal menjadi anak baru, susahnya cari clique, sampai dibuat sainga sama Tara yang entah kenapa mirip dia banget ternyata seru buat saya. Meski cantik dan suka mode, entah kenapa Mindy ini masih berterima kelakuannya di saya karena nggak kelewatan slengeannya plus otaknya masih logis. Kelakuannya emang rada konyol, tapi kayaknya Mindy ini tipe cewek cakep yang enak buat dijadiin temen. Bagian yang bikin paling saya ngakak entah kenapa pas nggak sengaja dia muter lagunya Robber Kitty😂alias kucing garong. Epilognya saya suka meski agak terburu-buru kesannya. Gaya bahasanya pun suka meski keinggris-inggrisan lah tapi masih oke
Sedikitt membosankan bacanya, tapi masih oke. Mungkin karena di buku-buku Glam sebelumnya, banyak bahas masalah fashion, tapi di buku ini kayak cuma sedikit aja, lebih fokus ke hubungannya Mindy sama teman-temannya aja kali ya. Plot twist yang dia sama Tara itu juga kayak kaget tapi aneh gitu, apalagi tiba-tiba kejadian kebakaran di apartemen itu.
Mindy, murid baru di VIS. Di hari pertamanya dia bertemu dengan sesama murid baru yang bernama Tara. Niatnya ingin berteman dengan Tara malah ditolak mentah-mentah oleh Tara yang menunjukkan sikap acuh tak acuh dan tak bersahabat. Akhirnya Mindy harus mengangkat kepala tinggi-tinggi dan mencari teman lain.
Tapi rupanya mencari teman di VIS tidaklah semudah yang ia harapkan. Terlebih ekspektasinya terlalu tinggi kepada orang-orang yang berminat berteman dengannya. Dan dia mempunyai motto untuk menjadi seorang leader, bukan follower. Namun agaknya itu susah terwujud ketika ia bertemu Rashi and the genk (baca seri GlamGirls sebelumnya) Mindy langsung merasa seperti gadis cupu yang desperate dibandingkan dengan Rashi yang fashionable.
Tapi akhirnya dia bertemu dengan Sundae dan Ning Ning, dua orang yang terpaksa ia jadikan teman. Sementara itu, dalam setiap kesempatan, ajaibnya Tara dan Mindy selalu punya hal yang sama untuk dipamerkan. Hal yang sama disini maksudnya dari berpakaian, cara ngomong, dll sampai hampir semua orang mengira mereka adalah saudara kembar yang terpisah ketika kecil. Well, dua orang kembar aja pasti punya perbedaan. Masa Mindy dan Tara selalu punya kesamaan dalam setiap hal? Pakai baju dengan gaya yang sama, diterima. Punya apartemen yang sama dan tinggal bersebelahan? Okay. Tapi kalau sampai beli mobil yang sama, it's a big thing. Sebenarnya rada capek juga baca never-ending-fight nya Tara dan Mindy. Kedua-duanya sama-sama childish, ego tinggi, dan badmouth banget.
Belum lagi ternyata mereka didekati oleh cowok yang sama, dan mereka berdua berlomba-lomba untuk membuat iri satu sama lain dengan mendekati cowok yang sebenarnya mereka tidak suka. Kasihan banget cowoknya.
"Misalnya meskipun kaya dan ganteng, cowok kelas B cuma jadi tangan kanannya cowok kelas A. Kalo kelas C ya... di luar itu." | "Misalnya?" | "Misalnya, ngng.." "Nah itu contoh untuk kelas C!" | "Mereka kelas C?" sahutku tak terima. "Dari mana lo nyimpulin mereka kelas C, huh? Bisa jadi mereka kaya, famous, atau malah keduanya!" | "Dari mana lo tahu mereka itu anak basket?" sergah Sundae.pg.152 << Correct me if I am wrong, tapi dimana letak Mindy pernah bilang cowok-cowok itu (kelas C) anak basket ya? Aku sampai harus bolak-balik halaman mencari kata-kata Mindy bilang kelas C itu anak basket tapi ternyata memang nggak ada.
Sebenaranya banyak redundant words nya, kata-kata nggak penting dan nggak perlu. Dibeliin nyokap mobil, okay. Belum lancar bawa mobil, fine. Tapi kalau bahas mobil Kijang kapsul warna ijo yang bumper belakangnya penyok yang sama sekali nggak ada hubungan dengan cerita, itu nggak penting dan sia-siain space halaman doang. Selain itu juga terlalu banyak kata shittake, 'fudge', what the fudge, fudge again, again and again. Oh, not to mention ada muncul kata son of a bitch. Sempat shock juga, sepanjang sejarah baca novel Indonesia, seingatku baru kali ini terbaca kata ini.
ini juga aku dapet dengan harga 10k di book fair, mueheheh. ini buku pertama yang aku baca dari moemoe rizal dan salut sama cowok ini untuk menjadikan karakter utamanya cewek! hihiw. Dibawa ketawa ketiwi sendiri sama karater yg dikira twin tapi sebenernya bukan ini, Mindy dan Tara. apalagi waktu mereka keluar dari loker di ruang ganti cowok dan menyadari satu sama lain, yang ini paling kocak kalo menurutku, mereka tuh polos tapi egonya selangit.
entah kebetulan atau apa mereka ini memiliki banyaaaakk sekali kesamaan. kok bisa sih sama banget? selera fashion, makanan, mobil bahkan cowok pun sama! diakhir cerita ada twist berasa -oh ternyata dia itu 'dia'- yang cukup oke sih kalo kata aku. lalu dilanjutin gimana akhir kisah pertemanan mereka juga orang-orang lain yang untungnya gak digantungin karena memang banyaknya karakter itu.
ceritanya sih bagus, banyak pesan moral juga dan emang inilah dunia remaja itu. brandednya gak selalu nyelip kayak di glam girls sebelumnya yg pernah aku baca. tapi sayangnya banyak kalimat yang oh fatal! misal di halaman 152: "Dari mana lo nyimpulin mereka kelas C, huh? Bisa jadi mereka kaya, famous, atau malah keduanya!" "Dari mana lo tahu mereka itu anak basket?" sergah Sundae nah loh kenapa jadi anak basket? perasaan di kalimat si Mindy, dia ngomongin apa-apa sama basket, aku baca ulang lagi bagian ini kali aja aku yang salah tapi nggak, beneran kayak gitu. errr ini yang salah penulis atau siapa? masa editor maupun proofreadernya gak sadar sih? terus halam 213 ada kalimat gini: Dua buah mutiara terjatuh dari ke atas lantai. Satu mutiara memang terpasang di lingerie-ku. Sementara... ada kata yg hilang sesudah kata dari tapi setelah baca kalimat lainnya ternyata 'dari'nya itu harus diilangin. ini masalah yang gak biasa karena biasanya kesalahan itu kurang huruf yang emang ada juga disini, lupa halaman berapa dan kesalahan pengulangan kata yang untungnya gak ada.
Oh tapi give applause buat quote yang diselipin di per bab yang bagus-bagus dan aku suka, pinter deh nyari quote yang pas dengan bab nya :) covernya juga kewl walau aku gak bisa nebak siapa ketiga orang ini yang jadi siapa di cerita. palingan yang di tengah aja, itu cerminan Tara soalnya penulis ngasih tau kalau rambutnya lurus. tapi masa sih? karakter utama kan Mindy kok si Mindy gak disimpen di tengah. ok lupakan._.
dan jeng-jeng-jeng, selain ada artikel yang gak jauh dari fashion, popularity dan pertemanan, ada juga extra story Unbelievablenya Winna Efendi dan wow makasih banget ada selipan ini karena disini nyeritain May sama Mario, iya, mario yang bikin aku jatuh cinta sama karakternya.
Ini salah satu buku hasil hunting di toko buku. 11 rebu ajah, ahahaha... Dulu sempet pengen beli, cuma kok, harganyaaa.. *mringis Kalau buat buku "serius" sih, saya rela. Tapi setelah baca-baca back covernya, saya urung. Dan ternyata buku ini tidak luput dari serangan diskon, hehehe...
Okay, setelah beli buku ini saya baru tahu kalau Outrageous ini adalah satu dari serangkaian seri Glam Girls. Dan dari istilah "Glam Girls" we can a little bit imagine about what it's about . And yes, it's all about GLAM GIRLS. Ceritanya tentang seorang cewek ABG yang "terpaksa" pindah sekolah dari US ke Indonesia (Jakarta). Di situ diceritakan betapa glamourous dan menterengnya sekolahan ini (namanya aja gue lupa, hahahah), siswa-siswa sampe kultur orang-orang di sana. Tiap hari Jumat mereka dibebaskan untuk pake baju bebas. Dan BEBAS dalam otak anak-anak kosmpolit adalah: wear all your branded, fine, good and expensive fashion then show them off!
Shallow!
Kronik utamanya adalah tentang si pemeran utama (Mindy) with her shcoolmate named Tara. Mindy found that Tara is soooo her. Entah itu gaya bicara, bahasa tubuh, kesukaan, where they're live, sampe mobil segala (mini VW convertible putih yang oh-not-so-important-to-describe). Stereotip bahwa Tara itu mirip dengan Mindy sebetulnya tidak diceritakan dengan detail dan dalam. Sebagian karena disampaikan oleh teman-teman mereka, sebagian lagi karena kebetulan aja ketemu. Problematika utamanya ya itu, Mindy thought that she has to figure out why Tara is so her. Persoalan dunia pertama banget, yes :p
Dari segi isi cerita, saya gak nemu signifikansi persoalan hidupnya orang-orang ini. Meski Mindy beberapa kali bilang bahwa sumber kecantikan yang utama itu bukan dari make over, saya pengen banget teriak di mukanya: HELLOOOOOWW, MENURUT LOOOO?! Hahahaa... Jika diibaratkan manusia, penokohannya amat sangat kosong otaknya. Shallow banget.
Anyway, buku ini bakal jadi favorit bagi mereka ABG (atau mereka yang masih merasa ABG) yang udah ngerti apa itu Louboutin, ZARA, and blablabla. Buat saya, it's just not my cup of coffee.[]
This Glammest novel! Like they tittle : The Glam Girls Novel. Khusus Outrageous, friendshipnya feel banget, ‘acara rebutan orang’ juga, terus newcomer yang first day-nya aja udah ancur just cause iron, how silly. I think its based on trus story. Friendship, School, enemy, komposisi yang komplek diadon oleh penulis JUMP ini, komlpeks deh konfliknya. Berbeda dengan glam girls novel lainnya, di Outrageous, jarang sekali ada Dior, Channel, Silk Sweater, or anything about it. Fashion kurang mendominasi di sini (I think).
I love it!
Selain itu, banyak percakapan pake English. Nggak heran sih, namanya juga Voltare INTERNATIONAL School dan si Mindy juga pindahan dari Portland. Hanya saja, aku tidak terlalu menguasai yang namanya English, jadi ya pas baca buku ini aku juga bawa kamus John Echols, hahaha. Sinopsisnya, i mean blurp, cool banget euy, aku suka banget kata-katanya, terpesona sama “... being better is not enough ...” buatku makin termotivasi!
Ah-nyway, iam a lil fan of her miraculous word, yang diselipin hampir di setiap bab. Actually, aku pengen cantumin banyak kalimat favoritku, tapi karena kebetulan banyak sekali . Kalimat favoritku ke seluruhannya English, keren semua. Hanya sedikit yang akan ku cantumin di sini.
“Once you’re bitch, you’re going to be a bitch forever. At least, until you reach the age of sixty, coz it looks horible if you’re bitch while you’re granny” – by Mindy Minillo personal thought (bab 3)
“ There is no twin things in the world. Even a twin sister is different by name. Except Oprah Winrey and Riyo Mori in their famous black Gucci gown” – by Mindy Minillo personal thought (bab 6)
“ Dunia ini masih menampung hukum possibility ...” (Hlm.143)
Entah apa yang bikin gua beli novel ini ya, pdhl dari covernya aga2 gimana gitu. Hm, tapi ya.. gitu deh, akibat ngebet pengen punya bacaan, jadi ya.. dibeli juga di detik-detik terakhir.
Novel ini abis dibaca dalam 2 hari aja. Novelnya sendiri kayaknya semacam serial gitu. Tokoh2nya dibikin beberapa yg muncul juga di novel lain dengan seri sama, “The Glam Girls”. Novel yang gua baca, yang judulnya “Outrageous”.
Menurut gua pribadi nih, novel ini terlalu banyak gimmick yang ga perlu. Jadi berasa hampa aja, ga ada fokus cerita dan terlalu detail untuk hal-hal yang ga perlu. Gua jadi susah buat berimajinasi pada karakter yg mau dibentuk sama penulisnya.
Kl dipikir2 lagi, novel ini emang nyeritain kehidupan sosial di sekolah internasional. Mungkin bukan tampilan terbaiknya ya, secara yg gua tangkep kok jadi kesannya hanya sekumpulan anak2 tajir yg kurang bersyukur dan cuman mikirin fashion. Meskipun endingnya cukup okelah dgn twist yang gua ga nyangka bakal kayak gitu. meskipun agak ga real pas nyeritain kejadian gempa di Jepang yang dialamin ama si Mindy itu.
So, anyway. Gua emang ga bisa nulis novel kayak novel ini. Kualitas tulisan gua juga cukup diragukan. Ya ga papa juga sih kalo penulisnya emang sengaja bikin tokohnya kyk gitu, novelnya gaya berceritanya seperti itu. Bebas aja. Toh Gagas Media mau nyetak dan nerbitin bukunya. Jadi dari segi penjualan, novel ini berarti kan ada nilai jualnya.
Ceritanya super ringan, berkisah tentang dua remaja yang 'saingan' di segala aspek kehidupan dengan bumbu kehidupan glamor. Gaya bahasanya juga asyik, loncat-loncat lincah gitu. Dan nggak seperti orang kebanyakan, saya malahan suka dengan endingnya. Twisted, nggak disangka-sangka, dan nggak cowok melulu! Meskipun begitu, ada beberapa hal yang bikin buku ini jadi minus:
1. Tokoh lain selain Tara dan Mindy rasanya cuma tempelan dan selewat doang. Ya cewek-ceweknya, dan termasuk juga si cowok-cowoknya, yang rasanya juga cuma jadi pajangan aja.
2. Ending yang meskipun bagus, cuma ada yang missed. Seharusnya bisa dikasih spoiler tentang ending di depan, jadi nggak tiba-tiba muncul begitu.
Meskipun begitu, nggak mengurangi keasyikan baca buku ini sih. Cocok untuk lazy beach reading.
PS. Kenapa seri glam girls nggak dilanjutin sih? Kayaknya dulu (duluuuu banget) mau dibuat Glam Girls series yang class baru.
Another book in Glam Girls series, kisah sampingan di luar Rashi & geng glam-nya di VIS. Enggak tahu kenapa aku tetap membaca set Glam Girls ini, guilty pleasure kayaknya (sama seperti kalau baca semua edisi Shopaholic atau chicklit lainnya), udah tahu padahal berasa membaca sinetron, tapi cocok banget buat dibaca di jalan. Aku tetap beranggapan bahwa the original story (Rashi dan pengikut-pengikutnya) lebih menarik. Malah, buku 1 (oleh Nina Ardianti) adalah yang terbaik, mungkin karena dia penaruh dasar cerita, sehingga kalau ada perubahan karakter sedikit, terasa aneh. Harap maklum, setiap buku ditulis oleh orang yang berbeda.
Di bagian belakang buku, ada sedikit extra story yang menyenangkan, lanjutan Unbelievable (buku 3, tentang Maybella, salah satu pengikut Rashi) oleh Winna Efendi.
Hmmm, sebenernya saya emang kurang demen baca teenlit sik, apalagi ini ceritanya tentang cewek-cewek populer(dan ingin jadi populer) di sebuah sekolah internasional. Tapi, buku ini dengan gaya bahasa yang "bang Moemoe banget", sukses saya selesaikan satu hari saja, yah walaupun sedikit lelah dengan merk-merk yang bertebaran (dan cara membacanya(secara benar) pun saya tak bisa xD).
Kalau nggak tahu nama penulisnya, saya akan mengira kalau buku ini ditulis oleh seorang cowok. Sumfeh, dunia cewek benar-benar tergambar di buku ini. Salut. *kayak ngerti aja dunia cewek*
Mungkin kalau saya membaca serial Glam Girls dari buku pertama, mungkin akan lebih "ngeh" dengan siswa-siswi Voltaire International School.
p.s.: agak sedikit terganggu dengan kata bitch yang bertebaran sepanjang cerita. p.s.s.: twist di ending ceritanya cukup manis :)
After reading the whole story I end up with the question: what was that about? Kenapa aku gagal paham memahami cerita intinya ya? Tentang Mindy si mantan Miss USA yang malah jadi bukan apa-apa di SMA Internasional di Jakarta? Tentang perang fashion bermerek yang sangat nggak masuk akal antar anak-anak SMA? Tentang kekembaran Mindy dan Tara yang sungguh bikin aku ngebanting ini buku saking buanyaaknya kesamaan dari tindakan, perkataan, dan pemikiran meereka yang bagiku amat sangat nggak masuk akal? Tentang... bagaimana berpikir positif dan menilai diri-sendiri dengan citra baik??
I don't know... I just don't get the frame. Yah intinya tentang kehidupan remaja elite lah.
Mindy, murid baru VIS. Dari awal udah punya musuh bernama Tara. Tapi banyak kesamaan Mindy dan Tara. Dari minat2 fashion nya, mobil, bahkan 1 apartemen. Banyak yang bilang mereka berdua adalah kembar *Lol*
Ini bikin Mindy dan Tara gondok setengah mati karena disama2in terus.
Tapi karena satu kejadian, akhirnya mereka dapat mengetahui kalau ternyata dulu mereka saling kenal dan bahkan berjanji untuk sahabatan.
Well, inti ceritanya ya seperti itu sih. Suka nih sama cara bercerita bang Moemoe. Bahkan gk cuma 1 atau 2 kali dibikin ketawa baca ini, ada aja kejadian2 lucu yang mancing buat ngakak.
Sepertinya, sudah lama sekali saya tidak membaca novel yang berbau teenlit--pure--seperti ini. saya sangat tertarik dengan cerita novel ini yang dikemas sesuai kepribadian remaja, okelah, di sini remajanya hedon. Mungkin cerita tentang Mindy dan Tara terkesan klise, tapi saya suka konsep VIS. Haha. Meski banyak merk branded tertera di sini, tidak membuat semnagat saya lantas luntur membacanya. Saya masih bisa menikmati. Tapi, ya kembali ke awla lagi, ceritanya memang klise dan Mindy di sini terlihat terlalu menyombongkan diri. Hiks. Tapi saya masih suka kok.
hmhm,. cerita yang berputar di lingkungan sekolah anak sosialita. Agak kurang sreg bacanya, karena banyak bahasa inggris yang aneh *menurutku*, banyak merk merk terkenal juga bertebaran, tapi kesannya gak nempel, cuman jadi hiasan. But, at least tetep ada pelajaran yang bisa diambil seperti Persahabatan yang lebih penting dibanding rasa egois. ^_^
Aku suka dari seri Glam Girls adalah ceritanya yang ringan dan menghibur. Konflik di buku ini juga cukup banyak, dan seru. Tapi asli ending-nya bikin anti-klimaks. Kurang make-sense orang bisa semirip itu.
Suka dengan gaya tulisnya aja, ceritanya enggak. Hahaha... Ini satu2nya glamgirls yang tokohnya, dan banyak tokoh sampingannya, pada bahlul. Mirip amat ama yang ditulis si penulis di Fly To The Sky. jadi saya kasih banyak bintang karena saya terhibur dengan leluconnya, bukan dengan ceritanya.
Memang kualitasnya jauh menurun dibanding seri pertama yang pernah aku baca. Hal ini terutama disebabkan oleh konflik yang oh-please-deh-emang-mungkin-ya. Tapi hawa hawa Voltaire-nya masih sangat terasa di buku ini. And I love anything about Voltaire.
Entah, ya mungkin karena sebelum membaca Outrageous malahan membaca Unbelievable membuat pencitraannya sedikit meleset. Terlalu tinggi mengekspektasi hahaha.