Jump to ratings and reviews
Rate this book

Arumdalu

Rate this book
Tiap-tiap sejarah besar diwarnai kejadian kecil yang kadang lebih menarik daripada peristiwa besar itu sendiri

Arumdalu adalah nama tambahan bagi Raden Ayu Danti. Arumdalu, nama Jawa untuk bunga sedap malam, menjadi nama yang melekatinya lantaran kesukaannya menyuntingkan bunga itu di rambutnya.

Pada awal meletusnya Perang Jawa, awal 1825, hampir semua orang Salatiga, terutama kaum lelakinya, mengenal Danti Arumdalu. Orang-orang selalu menghubungkannya dengan kehidupan malam. Selanjutnya Arumdalu dikasak-kusukkan sebagai pelacur kelas tinggi, simpanan seorang bangsawan kaya raya dari Ngayogyakarta Hadiningrat.

Dari sudut pandang pengawalnya, Ki Brontok, kisah tentang Arumdalu ini dituturkan. Dari keterlibatannya dengan pembunuhan jagal sapi Ki Abilawa, kisah ini mengalir. Dan alirannya harus sampai pada upaya pembebasan seorang panglima laskar Dipanegaran yang termashur, Kiai Maja, yang ditangkap dan kemudian disekap di Benteng Salatiga. Namun, misi itu menjadi begitu rumit dan diperumit lagi dengan persoalan yang menggejolak di dalam dada para pembebas, persoalan manusia yang tidak dapat memungkiri jeritan hati nuraninya.

Junaedi Setiyono menulis cerpen, puisi, dan novel. Novel pertamanya, Glonggong (Serambi, 2007) merupakan salah satu pemenang Sayembara Menulis Novel DKJ 2006 dan menjadi finalis Khatulistiwa Literary Award 2008. Kini dia mengajar dan tinggal di Purwerejo.

378 pages, Paperback

First published May 1, 2010

Loading...
Loading...

About the author

Junaedi Setiyono

5 books3 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
6 (15%)
4 stars
10 (25%)
3 stars
19 (48%)
2 stars
3 (7%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 8 of 8 reviews
Profile Image for Truly.
2,802 reviews13 followers
May 22, 2010
i>"Kau, kuundang ke sini untuk mendapatkan hakmu... " Danti menarik Resa ke pinggiran tempat tidur
"Danti, orang mati itu hidup, Aku yakin itu. ...." Bisik Resa

Hidup memang penuh kejutan! Seorang Raden Mas malah menjadi centeng alias pengawal seorang gadis pujaannya, yang karena kemolekan tubuhnya mampu meluluhlantahkan hati pria dari segala golongan. Demikian juga nasib yang menimpa Raden Mas Brata. Pemujaannya terhadap Danti membuatnya menderita lahir dan bathin.

Seperti yang sudah-sudah, sang pembawa panah cinta memang memiliki hak penuh dimana ia mau melepaskan anak panahnya. Seperti yang sudah-sudah juga, alih-alih melepaskan anak panah cinta seorang Raden Ayu Danti Arumdalu ke seorang Raden Mas, anak panah cinta malah dipanahkan ke seorang anak tukang jagal bernama Resa.

Raden Ayu Danti mendapat tambahan nama Arumdalu, bunga sedap malam yang terkenal wanginya. Namu itu diberikan karena ia sering menghiasi rambutnya dengan bunga itu. Bahkan calon ibu mertuanya membuat rangkaian khusus untuknya yang dikalungkan oleh calon ayah mertuanya. Sayang kasih sayang keduanya hanyalah bisa diberikan oleh calon mertua bukan oleh mertua!

Walau pihak keluarga berhasil membuat Danti menikah dengan pilihan keluarga, namun ia tetap menghendaki Resa. Bahkan Danti nekat mengundang Resa untuk memasuki kamar pengantinnya. Alih-alih mewujudkan niatnya menyerahkan kesucian diri, Danti justru menemukan sebuah fakta yang membuatnya kian mencintai Resa. Hal itu justru membuka tabir rahasia bagaimanakah sebenarnya kisah kasih keduanya.

Buku Arumdalu tidak hanya bercerita mengenai ksiah cinta seorang Danti, Brata dan lainnya, namun juga mengenai situasi dan kondisi perjuangan kemerdekaan saat itu. Bagaimana para tokoh pemuka masyarakat berjuang memperebitkan kemerdekaan, mereka yang menjadi teliksandi atau mata-mata hingga kisah perjuangan pasukan Pangeran Diponegoro.

Disebutkan juga bagaimana jika pemuka agama dan pemuka adat bekerja sama bisa melanggengkan kekuasaan dunia. Pemanggu agama bertugas menakut-nakuti orang dengan siksa neraka. Sedangkan pemangku adat negara bertigas menaku-nakuti orang dengan siksa penjara.(hal 270)

Buku ini membuatku seakan pulang kampung!
Seakan ikut berbelanja ke pasar tradisional, membantu mempersiapkan aneka upacara adat hingga memahami filsafat lima "A" Yaitu wisma, wanita, turangga, curiga, kutila (tempat tinggal, istri, krndaraan, senjata serta hiburan)

Memahami mengapa ada istilah bobot bibit dan bebet. Sesuatu yang baru kupahami sekarang dan harus kutanamkan pada benak anakku satu-satunya. Mengerti mengapa "urusan tempat tidur" harus dikerjakan dengan ritual tertentu. Di buku ini hubungan suami istri dilakukan pada saat "Lingsir Wengi" sekitar jam 01.00 Bisanya ditandai dengan Burung Puter dan Deruk yang digantung di atap mengeluarkan suara merdunya secara bersahutan.Bedanya dengan jaman sekarang yang dimana saja, kapan saja bahkan kadang dengan siapa saja ^_^

Membaca uraian panjang lebar mengenai bagaimana perempuan dambaan para lelaki di halaman 161
membuatku jadi berpikir, bagaimana jika seorang perempuan tidak memenuhi kriteria yang ada, Jangankan semua, satu saja sudah sulit. Tak heran perempuan Jawa sangat ketat dan jlimet jika berurusan dengan ke kecantikan.

Buku ini membuatku teringat pada buku Maharani (Pearl S. Buck), Karena pernikahan sebelumnya, Danti mampu membuat seorang pembesar tunduk padanya. Semua keinginannya terpenuhi, bahkan yang menurut orang tidak mungkin. Padahal status Danti hanyalah perempuan simpanan dari priagung bernama Pringgawinata. Ternyata Danti tidak sepolos dan selugu yang diperkirakan orang.

Kadang, ada suatu saat aku tidak ingin menjadi Orang Jawa. Namun biar bagaimana, itu sudah melekat di badan, yang bisa dilakukan hanyalah melakukan beberapa kompromi. Buku ini membuatku untuk kembali ingat pada akar dimana aku berasal.
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
February 7, 2017
Buku ini menjadi salah satu KLA nominee tahun 2010. Seperti biasa selalu tertarik ingin membaca buku-buku nominasi KLA demikian pula dengan buku ini aku pun berkeinginan...halah.

Arumdalu bercerita tentang hidup seorang perempuan di suatu masa. Perempuan molek dengan para pemuja dan kisah cintanya yang tak bahagia. Arumdalu adalah bunga sedap malam yang harum baunya.Bunga yang selalu menghiasi rambutnya.

Buku ini bukan hanya bercerita tentang cinta, tapi juga situasi perjuangan saat itu.
Profile Image for Nanto.
702 reviews104 followers
wishlist-‎a-k-a-buku-buruan
August 2, 2010
"Saya tidak senang dengan tokoh superior. Banyak orang yang menyepelekan hal kecil. Glonggong itulah simbol hal sepele yang sebenarnya sangat penting." Junaedi Setioyono

Kalau mau diterka kedekatan primordial Pram kepada TAS yang difiksikannya sebagai Minke dalam tetralogi Buru adalah karena berasal dari daerah yang sama: Blora Bojonegoro. Pram yang anti-"jawa" mencoba mereka ulang kejawaan melalui sosok Minke didalamnya. Begitupun mungkin Junaedi Setiyono yang berasal dari Purworejo melukiskan warna-warni kehidupan prajurit pendukung Dipanegara yang memang banyak berasal dari tanah asalnya. Tetapi hal yang menarik adalah bagaimana Junaedi yang juga pengagum Pram menuliskan pergolakan besar itu dari sudut pandang pihak-pihak yang selama ini diabaikan. Atau tentang latar belakang yang selama ini jarang dikemukakan: hedonisme kaum istana dan pajak berat yang harus ditanggung rakyat. Ledakan Diponegoro bukan semata disebabkan tanah leluhur yang dipatok secara sewenang-wenang, tetapi ledakan atas segala kesuntukan rakyat jelata atas perilaku masa bodoh elit penguasa.

Mau meledak? nanti dulu, saya harus baca buku ini dulu :D
Profile Image for Larasestu Hadisumarinda.
188 reviews34 followers
September 21, 2014
Giliran baca buku non-fiksi ya, dua hari kelar 378 halaman, apa banget, sedangkan saya sampai detik ini baca surat-surat kartini lamaaaaa pakai banget.

Ceritanya lumayan lah, harga bukunya juga lumayan, 7000 cuy, 7000.

Siapa yang gak seneng beli buku murah kualitas lumayan?

Saya mau ikut lomba novelnya Diva Press yang mengangkat kearifan lokal tapi masih bingung dikemas macem mana. Pokoknya berhenti baca non-fiksi dulu sampai September lah. Tapi saya belum mulai nulis nih, takutnya wacana doang, belum lagi skripsi menghantui.

Mm. Mm.

POV-nya bisa ditiru.

Apalagi ya, buku ini bikin nostalgia mungkin. Bener-bener khas Jawa-nya nampol. Jadi bikin saya pengen tahu kisah-kisah pewayangan dan penokohannya secara mendetil, secara saya gak apal juga. Novel historis romance tapi gak romance banget a la a la stensil atau harlequin, mungkin ini yang bikin saya suka.

Pengen baca yang "Glongong" tapi nyari dimana ya bukunya? Atau telpon Serambi aja?
Profile Image for Diana.
60 reviews13 followers
June 4, 2015
Sudah punya buku ini lama sekali tapi baru saya baca secara utuh. Awalnya memang agak menjemukan, tapi kemudian kita digiring pada konflik-konflik yang mendebarkan. Angle penulisannya sangat menarik. Cerita dikisahkan oleh seseorang yang bukan tokoh sentral, bukan tokoh protagonis, dan bukan tokoh pemenang. Ia hanya tokoh yabg kebetulan ada di sekitar kejadian dan merangkai cerita yang dikumpulkannya dari beberapa tokoh lain.

Melalui buku ini, penulis mengajak kita kembali ke masa kolonial dengan setting pedesaan dan konflik politik yang mewarnai pergantian kepemimpinan yang rupanya juga mempengaruhi kehidupan sosial dan pribadi masyarakatnya. Sayangnya, penulis masih kurang mengeksplorasi imajinasi pembaca untuk merasakan detail masa lalu yang coba dihadirkannya.

Overall, ini bacaan yang cukup bagus untuk peminat sejarah.
Profile Image for Weni.
113 reviews40 followers
July 31, 2010
Pemberian dari seorang sahabat.
Displaying 1 - 8 of 8 reviews