Jump to ratings and reviews
Rate this book

Malas Tapi Sukses

Rate this book
MALAS TAPI SUKSES sangat berbeda dari buku-buku yang pernah Anda baca atau lihat selama ini. Di sini Anda akan belajar menjalani suatu jenis kemalasan yang menjurus pada kinerja tanpa susah payah—kemampuan mencapai apa saja tanpa melakukan apa-apa.

Buku yang tak bisa ditampik ini menyodorkan cara pandang baru. Ia membuktikan kekeliruan pendapat yang selama ini lumrah diterima bahwa kesuksesan hanya lahir dari kerja keras Bahkan, buku ini dengan mendalam dan meyakinkan serta penuh humor berpendapat yang sebaliknya—bahwa berbuat sedikit itulah sebenarnya yang menghasilkan lebih banyak.

Jalan istimewa menuju sukses ini sekarang terbentang di hadapan Anda. Jadi, santailah. Bersandarlah dan selonjorkan kaki Anda. Nikmatilah formula tanpa kerja keras ini demi meraih kekayaan, kesehatan, dan kebahagiaan yang lebih melimpah.

“Menggairahkan. Banyak memberikan momen Aha. Inovatif, meski dengan gaya ringan dan riang. Sungguh tidak seperti buku apa pun yang pernah Anda baca. Benar-benar buku wajib-baca.”
—Rebecca Fine, The Science of Getting Rich Network

“Saya benar-benar berteriak (di dalam hati) saking senangnya membaca buku Fred. Bacaan yang sangat menyenangkan! Anda pasti ingin membaginya dengan teman-teman dan keluarga.”
—Bob Doyle, Wealth Beyond Reason

324 pages, Paperback

First published February 1, 2010

22 people are currently reading
352 people want to read

About the author

Fred Grazton

1 book3 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
41 (46%)
4 stars
21 (23%)
3 stars
18 (20%)
2 stars
5 (5%)
1 star
3 (3%)
Displaying 1 - 12 of 12 reviews
Profile Image for Arief Bakhtiar D..
134 reviews82 followers
December 23, 2019
MALAS

PADA tahun 1770, di London, tersebar sebuah pamflet anonim yang membikin gempar. Pamflet itu mengabarkan bahaya independensi buruh dari majikan. Ide hak-hak asasi dan kebebasan, kata pamflet itu, hanya cocok untuk serdadu yang berjuang di medan perang. Dan orang miskin, ya, orang miskin, mesti dipenjara dalam “rumah-rumah kerja”, “rumah-rumah teror”, untuk bekerja dua belas jam penuh, bahkan untuk hari Minggu. Napoleon pada 5 Mei 1807 menulis setuju: “semakin banyak rakyatku bekerja, semakin sedikit kejahatan yang akan mereka lakukan.”

Lebih satu abad kemudian, Paul Lafargue menerbitkan sebuah tulisan tangkisan berjudul Hak untuk Malas. Dalam buku itu Lafargue membicarakan praktek kerja dalam kapitalisme, terutama di Prancis.

Dengan bahasa tulis yang berapi-api ia menuduh etika Protestan dan utilitarianisme kapitalis telah menyengsarakan umat manusia dengan menindas kesenangan. Ia, seperti para sosialis lainnya, mengecam khotbah-khotbah borjuasi yang mengibarkan bendera kebebasan, lalu setelah berjaya, menggunakan agama untuk memeras buruh.

Dalam kata pengantarnya, ia langsung mengkritik propaganda dari seorang pejabat pendidikan tahun 1849: filsafat yang baik adalah filsafat yang mengajarkan pada manusia di dunia ini untuk menderita. Khotbah waktu itu memang berlandaskan agama. Menurut ajaran agama yang menurut Lafargue kemudian menjadi dogma, hasrat harus dikekang, nafsu mesti direduksi. Etika itu─suatu “parodi menyedihkan dari etika Kristen”─menyentuh buruh upahan: mereka dipaksa bekerja 14-16 jam sehari, juga wanita dan anak-anak, seperti robot, menjadi budak-budak mesin, tanpa hasrat, tanpa istirahat atau terima kasih yang layak. Sampai-sampai para buruh itu tak sempat “memikirkan toilet mereka”, atau “bergemerisik di dalam sutra-sutra yang mereka buat”.

Proletariat juga kena damprat. Tulisan itu sebenarnya adalah tangkisan Lafargue yang cukup keras terhadap Hak untuk Bekerja, yang dituntut para buruh sendiri pada Juni 1848 dengan senjata di tangan. Para buruh itu, menurutnya, telah melakukan bunuh diri dengan “mengirim istri dan anak-anaknya kepada raja-raja industri”, “menghancurkan fondasi rumah-tangganya” sendiri.

Di Mulhouse dan di Dornach, buruh bekerja mulai pukul lima pagi sampai delapan malam. Penampakan para buruh itu memilukan: perempuan-perempuan pucat, berjalan bertelanjang kaki melalui lumpur, membawa sepotong roti di tangan yang bila tanpa payung akan sulit disembunyikan jika kondisi hujan, anak-anak dengan pakaian rombeng dan berminyak terkena oli mesin pabrik. Lafargue mengutip cerita Villermé di tempat yang sama: dua keluarga masing-masing tidur di sudut kamar kontrakan, di atas jerami yang dihamparkan di atas lantai, disangga dengan dua papan, dan dengan kehidupan seperti itu anak-anak di “keluarga-keluarga penenun dan pemintal kapas berhenti hidup sebelum mencapai usia dua tahun.”

Tentu kebebasan bukan segala-galanya. Maksud Lafargue dengan tulisannya, seperti yang dinyatakannya sendiri, hanya tak ingin bumi menjadi tempat “limbah air mata bagi buruh”.

Pembicaraan Lafargue tentang malas itu kini dibicarakan lagi oleh Fred Gratzon dalam buku Malas Tapi Sukses (Penerbit Gemilang, 2010). Kedua orang ini agaknya hampir sama dalam persetujuannya untuk malas. Fred menyerukan bahwa semuanya tentang kesuksesan bertolak belakang dengan kerja keras. Buku itu berdasarkan pengalaman Fred dalam hidupnya. Ia mengutip Simon Legree, tokoh pemilik budak dalam novel Uncle’s Tom Cabin yang mencambuk Tom, budaknya, hingga tewas, dengan prihatin: bekerja mati-matian dengan sangat tekun dan teliti adalah “nasihat sukses dari neraka”. Bila Lafargue menyinggung penemuan kincir air untuk membebaskan para pekerja penggilingan dari penindasan, Fred yang ahli meditasi memperkenalkan istilah dari seorang arsitek bernama Dr. Fuller: efemeralisasi.

Pendeknya, efemeralisasi berarti melakukan banyak hal dengan sesedikit mungkin upaya (do more with less). Prinsip itu dinyatakan di abad ke-20, dan tentu saja berhubungan dengan kemajuan teknologi. Dengan mesin-mesin, komputer, atau teknologi canggih lainnya, orang-orang tak perlu bekerja keras, seperti “Tuhan yang bekerja membuat alam semesta enam hari dan beristirahat selamanya”; seperti seseorang dalam kalimat puitis Ralph W. Emerson dimana ia “mengendarai keretanya ke bintang-gemintang, dan melihat tugas-tugasnya diselesaikan oleh dewa-dewi”.

Fred tidak main-main. Kemajuan peradaban, menurut pandangannya, dicapai dengan perpaduan “sifat-sifat pemalas, tukang khayal, dan tidak realistis”. Orang tidak perlu pergi ke Brazil untuk melihat Ronaldinho beraksi di lapangan bola di sebuah stadion besar. Tinggal memencet tombol, klik, dan Ronaldinho tampil meliuk-liuk di layar kaca.

Tapi Fred juga tak menentang kerja. Ia dengan itu sebenarnya menyerukan bahwa tiap-tiap orang hendaknya, dalam skenario terburuk, melakukan pekerjaan sesedikit mungkin. Jika kita buka halaman-halaman lain, kita akan tahu bahwa Fred mempopulerkan perspektif permainan dalam kerja─sesuatu yang sebenarnya bukan hal baru dalam studi psikologi. Seseorang yang mencintai pekerjaannya, itulah seharusnya manusia. Penemuan-penemuan yang dihadiahi penghargaan nobel sebagian besar lahir dari kesenangan seseorang mengutak-atik perhitungan secara, katakanlah, sukarela, sampai-sampai mereka tidak sabar menunggu pagi untuk pekerjaan yang bukan mereka anggap sebagai pekerjaan. Cerpen Tom Sawyer yang termahsyur, dari Mark Twain, bisa menjadi contoh cerdas bagaimana kesenangan mengecat tembok menjadikannya orang sukses cukup dengan bermalas-malasan sambil menikmati apel.

Memang enak membayangkan kehidupan yang malas. Di Jawa, gambaran orang-orangnya adalah gambaran seseorang yang menghabiskan waktu bersiul di bawah burung perkutut. Adakah kita maju?
32 reviews2 followers
July 14, 2020
Haii sobat pena, aku mau review buku super keren nih. Satu-satunya buku yang memuji orang-orang malas atau cenderung menghindari kerja. Kaum rebahan mana suaranya?😎

Kemalasan yang biasa dianggap "tabu" menurut penulis adalah anugerah paling alamiah, rebahan di tempat tidur gantung adalah sumber kekuatan, dan kegagalan adalah sesuatu yang baik. Beliau juga menegaskan, pendapat bahwa sukses lahir dari kerja keras hanyalah mitos.😱

Untuk mendukung argumennya, beliau memaparkan fakta ilmiah, menengok kisah tokoh sukses dunia, juga mengutip nasihat dan pelajaran dari berbagai pandangan. Tak ketinggalan, beliau juga menyebut kesuksesan bisnisnya sebagai akibat dari kecendrungannya menghindari kerja. (Baca: malas).👏

Aku mengapresiasi buku yang sangat effortless ini. Diksi yang mengena, teori yang kredibel, ilustrasi yang unik, serta fakta yang relate dengan banyak orang menjadi ketertarikan tersendiri pada buku ini.👍

Akhir kata, aku rekomendasikan buku ini untuk semua kaum rebahan dimanapun anda berada. Yang gila kerja juga boleh. Siapa tau kalian tertarik gabung ke KKRI (komunitas kaum rebahan se-Indonesia)🙊✌

"Kita akui saja, bekerja keras banting tulang bukanlah gambaran kehidupan yang menyenangkan." (Hal.30)

"Seseorang yang dengan cerdik mampu memanfaatkan nikmat kemalasan yang dianugerahkan Tuhan padanya niscaya akan mampu membereskan semuanya." (Hal.37)
1 review
May 7, 2019
Good
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Hadi Wijaya.
255 reviews13 followers
January 23, 2011
I like the book very much and it is categorized as a fast book to read by me :). The opening is really kicking and convincing us to leave job we're currently working, hehehehe. He doesn't tell it literally but all chapters bring us to that conclusion.

The point is about finding job that meet with something that you like to do, so you will not see it as job but as hobby.

The way the author tells us is using some historical example from inventor in the past. Pretty inspiring, it is said, many of them invent something because they like the area they do research at. So when you want to success, please don't stick on place you are not convenience, but find area that you like to stay at it forever.

One thing that I think need to be added is the example on current situation. As a new book (published at 2003), it has too old example story. It will be more relevant if the author can give today's figures who can support his idea in this book.

The ending is a little bit unexpected since he gives some advertisement about transcendental meditation which I don't think quite relevant. (But since it's his job after all, so I can understand that :p).

Overall I like the book... There are several things that I like to memorize and I write it in my blog.
Profile Image for Ichehsky.
5 reviews31 followers
May 13, 2010
keren n kocak nih buku... wajib-baca dah buat smua orang :)
Profile Image for Rifai  Sumaila.
12 reviews4 followers
February 4, 2011
Kalau mau malas tapi sukses ya baca buku ini,... banyak kiat-kiat yang bisa kita lakukan untuk meraih sukses tanpa harus "ngotot" hehehe...
Displaying 1 - 12 of 12 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.