This is an adventure story for children - it combines mystery, friendship, playing Indonesian baseball "kasti" and fighting, Papua landscape... this is a bit more real than Harry Potter, a Friday-the-13th meets National Geographic for kids!
adalah seorang penulis buku Indonesia tahun 70 hingga 80-an. Dia dikenal sebagai penulis buku fiksi-ilmiah seperti seri Penjelajah Antariksa (Bencana di Planet Poa, Sekoci Penyelamat, Kunin Bergolak), Jatuh ke Matahari dan sekuelnya, Bintang Hitam. Selain menulis buku fiksi-ilmiah, Djokolelono juga dikenal sebagai penulis buku anak-anak, seperti seri Astrid, dan beberapa cerita wayang. Djokolelono juga adalah seorang penerjemah. Buku-buku yang ia terjemahkan antara lain Petualangan Tom Sawyer dan karya Mark Twain yang lain, seri Pilih Sendiri Petualanganmu, seri cergam Mimin, seri Mallory Towers dan buku-buku Enid Blyton yang lain, dan seri Rumah Kecil Laura Ingalls Wilder[1]. Karya-karyanya diterbitkan oleh Pustaka Jaya (PT Dunia Pustaka Jaya), Gramedia, dan BPK Gunung Mulia.
Endingnya masih sedikit menggantung :( Tapi tetep seru, sih. Akhirnya terselamatkan dari reading slump karena baca novel Eyang Djokolelono. Terima kasih Eyang Djokolelono 😁
Hening. Wiedha termenung. Merenungkan kejadian setahun yang lalu. Setahun yang hilang bagi Ngatemin. Dan setahun lagi nanti. Hanya karena ia tak bisa menguasai diri. Tapi bagaimana dalam pandangan Ngatemin sendiri? Mungkin tahun-tahun itu tidak hilang baginya. Mungkin malah suatu berkah. Ya, mudah-mudahan ia mampu memetik yang baik-baik saja. Wiedha mengerutkan kening. Atau yang jahat-jahat?
Rasanya mau ikut mengheningkan cipta bareng Wiedha kalau inget pelik yang harus dihadapi Ngatemin di Palungloro. Yes, I’m a firm believer kalau buku ini harusnya dinamain Ngatemin di Palungloro the way Ngatemin dituduh satu kampung, ditahan di penjara, dibebaskan bersyarat, dan harus balik ke kampung yang udah nyakitin dia cuma buat nemuin kalau: 1) ibunya juga ikut diasingkan dan 2) seluruh asetnya kini jatuh ke tangan “Pak Lurah”. And where is Astrid when Ngatemin needs her the most?
Faktanya di serial Astrid di Palungloro, Astrid (hampir) cuma jadi karakter pendukung. Astrid cuma kebetulan aja harus ikut-ikutan mecahin kasus Ngatemin, padahal niatnya ke Palungloro cuma buat liburan bareng kakaknya Sweta, sekalian caper ke Mas Wiedha. Tapi, rentetan kasus ini jadi suatu hal yang eye-opening buat Astrid, dan buat aku juga, soalnya dalam cerita ini, the enemies are closer than we think! Astrid di Palungloro juga jadi makin menarik karena konfliknya nggak cuma ada di Ngatemin aja, tapi Astrid tetap punya porsinya sendiri dengan pertengkaran-pertengkaran kecilnya sama tiga serangkai. Or should I call them 3 idiots the way they’re always up on Astrid’s business?
Astrid di Palungloro hampiiiir aja jadi cerita anak yang sempurna kalau aja closure nya bisa lebih jelas lagi, atau minimal banget Trondol, Blorok, sama si Geleng tuh beneran masuk penjara dan nggak dikasih kebebasan bersyarat (maaf aku orangnya dendaman!!!) Aku cukup kecewa karena disuruh bayangin sendiri akhir nasib dari mereka bertiga itu gimana. Dan, yang lebih disayangkan lagi, akhir ceritanya juga bukan tipikal open ending yang aku bisa bikin teori-teori aku sendiri, tapi emang selesai yang buru-buru diselesaikan gitu aja. Ini kayak aku ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, alias emang boleh ya kayak begini, tuh?
Walaupun aku ditinggalin tanpa dikasih closure (kayak kisah siapa?), tapi Astrid di Palungloro masih sangat-sangat menarik buat diikuti, karena selain kisah Ngatemin dan Astrid, aku juga dikasih lanskap dan gambaran Desa Palungloro yang jadi saksi Astrid kecebur jurang. Semoga si Astrid udah diobatin, ya? Cukup aku aja yang lukanya nggak diobatin. Sakit banget nggak bisa liat Trondol, Blorok, sama Si Geleng nggak dapet karmanya! Untung ceritanya bagus, jadi bakal tetap aku kasih 4 dari 5 bintang deh.. 😓
Kalo sekarang saya kenal anak kayak Astrid tuh kayaknya nyebelin, ya? Tapi kakaknya si Sweta malah lebih nyebelin, hehee...
Saya terhibur dgn adegan tiga kelompok yg tidak tahu-menahu, ternyata punya rencana sama, walau dgn tujuan berbeda, yaitu berusaha membebaskan seorang terdakwa dari ruang tahanan :)
Uniknya, saya menemukan selembar kertas kecil yang berisi ralat urutan halaman. Teks pada halaman 74-77 terbalik penempatannya. Harusnya dibaca dengan urutan 73,76, 77, 74, 75, 78. Saya jadi teringat dengan beberapa buku yang mengalami hal sesama, kacau urutan halaman. Alih-alih memberikan ralat, ada yang membiarkannya, ada yang menarik buku tersebut. Beragam, tergantung kebijakan penerbit.