Nemu juga nih buku...setelah pencarian lama. Aduh edisi Indonya belum di list ya...
Little O atau yang di terjemahkan bebas ke bahasa Indonesia berjudul O Mungil. Kisah petualangan seorang gadis cilik bernama Ophelia yang biasa dipanggil oleh kakak-kakaknya O Mungil. Ada-ada saja dech kelakuan O Mungil, dari yang suka pergi ke hutan untuk metik blueberry ampe manjat-manjat pohon tapi gk bisa turun hahahaha. O Mungil tuh gk pernah bisa diam. Makanya waktu pas O Mungil kena cacar air dan gk bisa kemana-mana gara-gara ketularan kakaknya. O Mungil sedih banget tapi itu buat O Mungil tidak kehilangan akal. Tetep bo dia bisa bermain Indian-Indian sama kakaknya. O Mungil jug orangnya iseng abis, suka banget isengin kakak cowonya yang lagi kencan di rumah. Yang gw inget tuh Insiden Rambut Landak, kocak dah.
Gw benar-benar terhibur baca cerita ini, salah satu favorit. Lucu liat tindak tanduknya O Mungil, terus biarpun O Mungil bandel tapi O Mungil tuh sayang banget sama keluarganya. Lihat tingkah O Mungil benar-benar layaknya kelakuan anak-anak. Gw sudah lama banget baca buku ini dan buku ini pun masih sukses berdiam di rak buku gw ya walaupun sekarang di rak buku adek gw.
Little O reminds me of Astrid Lindgren's Mardie and also a little of Dorothy Edwards's The Complete My Naughty Little Sister. Little O is a mischievous little girl and each chapter covers a misadventure of her's, in a similar way as both those other books do. Both this book and Mardie actually have the same illustrator, Ilon Wikland! I didn't find it quite as humorous or as interesting as the aforementioned however, and it also didn't have the quality of writing as The Complete My Naughty Little Sister.
One of my favourite books as a kid. I remember vividly how all the kids in the story are named after Shakespeare’s characters (Ophelia, Desdemona, etc). I love the idea.
Masih sama kelucuannya dengan si Bandel. O Mungil ini adiknya si Bandel, anak bungsu dari keluarga Peep Larsson. Kisah-kisahnya tak kalah seru dan kocak dengan si Bandel.
Gaya bercerita Unnerstad masih sama di buku ini, polos dan sangat khas anak-anak. Sedangkan untuk gaya terjemah, sepertinya ada sedikit perbedaan. Jika di buku Si Bandel, banyak ditemukan kata-kata nggak baku, dan banyak imbuhan seperti 'tuh', 'deh', 'dong' (dan maksud saya banyak artinya beneran banyak), di buku O Mungil, kata-kata nggak baku dan imbuhan seperti itu sedikit berkurang. Entah karya aslinya begitu, atau memang lebih dirapikan lagi di seri yang ini.
Setelah membaca dua karya Edith Unnerstad ini, saya jadi makin ingin baca dua buku sebelumnya. Tamasya ke Laut dan Tamasya Panci Ajaib.
Buku favorit saya sejak kecil, dan sampai sekarang masih saja tetap ngeri kalau membaca cerita O Mungil yang pergi ke sekolah kedua kakaknya, Knut dan Dessi, lalu bertemu dengan patung tengkorak sekolah. Oh ya, masih sangat suka cerita O Mungil dan Si Bandel main rumah-rumahan. Dari seluruh seri keluarga Larsson, buku terakhir ini justru yang pertama kali saya miliki dan jadi favorit saya. Kalau nanti saya punya anak sendiri (hehehe), cerita-cerita seri keluarga Larsson ini akan saya jadikan buku dongeng untuknya sebelum tidur. ;)