Negeri tempat Mathilde tinggal adalah salah satu negeri paling cantik di dunia. Semua aman dan tenteram di bawah pimpinan raja yang baik serta bijaksana.
Suatu pagi, tanah bergetar keras... segalanya jadi tunggang langgang tak keruan. Kata Raja pada Mathilde, "Ini gara-gara si naga Ajdar, yang tinggal di pusat bumi. Kenapa dia marah? Gadis kecil, pergilah ke pusat bumi, temui Ajdar dan tanyakan sebabnya..."
Marjane Satrapi (Persian: مرجان ساتراپی) is an Iranian-born French contemporary graphic novellist, illustrator, animated film director, and children's book author. Apart from her native tongue Persian, she speaks English, Swedish, German, French and Italian.
Satrapi grew up in Tehran in a family which was involved with communist and socialist movements in Iran prior to the Iranian Revolution. She attended the Lycée Français there and witnessed, as a child, the growing suppression of civil liberties and the everyday-life consequences of Iranian politics, including the fall of the Shah, the early regime of Ruhollah Khomeini, and the first years of the Iran-Iraq War. She experienced an Iraqi air raid and Scud missile attacks on Tehran. According to Persepolis, one Scud hit the house next to hers, killing her friend and entire family.
Satrapi's family are of distant Iranian Azeri ancestry and are descendants of Nasser al-Din Shah, Shah of Persia from 1848 until 1896. Satrapi said that "But you have to know the kings of the Qajar dynasty, they had hundreds of wives. They made thousands of kids. If you multiply these kids by generation you have, I don't know, 10-15,000 princes [and princesses]. There's nothing extremely special about that." She added that due to this detail, most Iranian families would be, in the words of Simon Hattenstone of The Guardian, "blue blooded."
In 1983, at the age of 14 Satrapi was sent to Vienna, Austria by her parents in order to flee the Iranian regime. There she attended the Lycée Français de Vienne. According to her autobiographical graphic novel, Persepolis, she stayed in Vienna through her high school years, staying in friends' homes, but spent three months living on the streets. After an almost deadly bout of pneumonia, she returned to Iran. She studied Visual Communication, eventually obtaining a Master's Degree from Islamic Azad University in Tehran.
During this time, Satrapi went to numerous illegal parties hosted by her friends, where she met a man named Reza, a veteran of the Iran-Iraq War. She married him at the age of 21, but divorced roughly three years later. Satrapi then moved to Strasbourg, France.
aku mau baca buku ini.. baca sendiri dulu deh, bunda makan malem dulu, laper.. (bintang membolak-balik halaman buku)
waah, ada istana warna warni, ada kucing di atas pohon, ada mobil, ada anak besar naik sepeda nggak pake roda samping.. bintang masih pakai roda samping? masih, aku kan anak kecil jadi pakai roda samping. (balik halaman lagi)
apa nih, bunda? ini raja. raja pakai mahkota. nah itu ada binatangnya coba apa aja ada domba, beruang, burung, sapi, apa ini bunda? itu kerbau ya? eh banteng, soalnya ada tanduknya.. (secara kartun, si bunda nggak tau pasti) ada jerapah lehernya panjang.. ada bebek.. (balik halaman lagi)
apa nih, bunda? itu anjing, lagi melolong, suaranya hauu.. apa nih, bunda? itu burung, lagi kumpul2 mau terbang.. ooh, burung.. cuit cuit.. (balik halaman lagi)
apa nih, bunda? oh itu berantakan soalnya ada gempa.. (gak menarik mungkin, jadi balik halaman lagi)
apa nih, bunda? (menunjuk halaman penuh binatang aneh. bunda rada seret makannya jadi nyari aer dulu) eh, ini domrung, kuciting, ikapah.. ini pasangannya apa? (bunda bingung jawabnya, rupanya bintang kira ini puzzle yah. tunjuk aja yang warnanya sama)
apa nih, bunda? ini raja. kan pakai mahkota. koq matanya tiga? kan habis ada gempa.. (balik halaman lagi)
apa nih, bunda? ini raja. koq matanya tiga juga? kan habis ada gempa.. (balik halaman lagi)
apa nih, bunda? ini raja. yang matanya tiga. koq matanya tiga? bunda kan udah bilangin tadii.. (balik halaman lagi)
(balik halaman lagi)
(balik halaman lagi)
apa nih, bunda? ini naga sakit punggung. apa nih, bunda? ini bor. karena buminya dibor, naganya sakit punggung. bor apa, bunda? (bunda mikir, gimana caranya ngejelasin bor. di kepala bunda tau2 malah kebayang tiang pancang) bor yang gede banget.. (balik halaman lagi)
(balik halaman lagi)
naah, habis deeh.. waah, pinter bintang baca buku sendiri.. bukunya bagus? bagus. sekarang buku yang ini ya, nda. (ngambil buku monster takut bulan)
oh, bunda sambil mikir, kalau banyak yang mengebor bumi seperti ini, bukan tidak mungkin naga di dalam akan meledak dan marah-marah terus. pasti sakit kan dibor dan dipaku-paku dengan tiang pancang begitu..
***
ngesearch di Gramedia koq masuknya buku TK/anak-anak.. naik ke lantai 3, minta mas2nya nyariin ajah. pas ketemu, looh koq tipis... tapi inget utang dosa dah beli buku banyak tapi belum beliin bintang, jadi buku ini kubeli juga..
negeri tempat Mathilde tinggal adl negeri paling indah d dunia. suatu pagi, tanah bergetar keras... segalanya menjd tak karuan. Kata Raja pd Mathilde," Ini gara2 si naga ajdar, yg tinggal d pusat bumi. kenapa dia marah? Gadis kecil, pergilah k pusat Bumi, temui Ajdar dan tanyakan sebabny..."
terbit d Indo thn 2010. tp sy br beli d dojo buku. udh lama bgt pengen buku anak2 ini. krn sy suka dgn nama pengarangny.. Marjane Satrapi. (cek gugel buat cr tahu) buku anak2 ini menyampaikan pesan moral yg sgt penting. bahwa sbg manusia. makhluk yg berbudi pekerti dn berakal hrs lbh arif dn bijaksana dlm mengelola alam.
Mathilde : Halo Ajdar, aku menempuh perjlnan panjang utk menemuimu. kenapa kau membuat gempa bumi? coba ceritakan padaku! Ajdar : aku sakit punggung. ada tulang punggungku yg patah dan rasanya sakit sekali. kalian menggali dgn mesin-mesin, membuat punggungku sakit. aku menggeliat kuat2, agar tubuhku bs lurus lagi.
suka dgn gbr2nya <3 <3 <3 ini msk kmk... walaupun bkn kmk ^^ (males bikin direktori baru hahaha)
Dunia berantakan saat Ajdar, naga yang bergelung di pusat bumi sakit punggung gara-gara bumi dibor. Gempa yang ditimbulkannya membuat bentuk makhluk-makhluk bumi tung-tang-tung-ting gak karuan. Ada kuciting, ikapah, bantengrung, bahkan mata raja bertambah menjadi tiga. Hanya Mathilde satu-satunya yang tidak terpengaruh karena saat gempa terjadi, dia sedang main lompat tali. Hmm.. apa kalau pas gempa trus kita main lompat tali, efek gempa jadi tidak terasa seperti saat kita naik mobil? *kirmikir*
Maka raja mengutus gadis kecil itu masuk ke perut bumi untuk menemui Ajdar dan membenahi kekacauan yang terjadi.
Ceritanya bagus. Berapa banyak bocah perempuan yang jalan-jalan ke perut bumi? Ilustrasinya menyenangkan. Terutama bagian makhluk campur-campur. Pesannya daleem. Tentang menghargai bumi yang diilustrasikan lewat Ajdar si naga. Hanya pada bagian pertemuan dengan setan yang tidak jahat, saya tidak setuju.
Numpang baca di toko buku. Seru, petualangan paling singkat yang pernah kubaca, tetapi tidak kehilangan elemen keseruannya. Alkisah, di sebuah kerajaan, ada raja, ada pengacara, ada pasangan kekasih, ada hewan-hewan. Kemudian tiba-tiba ada gempa bumi, dan semuanya berubah, raja matanya jadi tiga, pengacaranya tanpa tangan, kemudian--yang paling menarik--hewan-hewannya berubah, menjadi semacam fusi dari dua hewan yang berbeda. Di sinilah bahan perhatian yang menarik untuk anak-anak.
Untungnya, ada Mathilde yang tidak berubah. Karena saat terjadi gempa, dia sedang main lompat tali, sedang berada di antara bumi dan langit. Akhirnya, dia diutus ke pusat bumi untuk mencari sumber gempa. Tidak perlu berpanjang-panjang untuk mengetahui penyebab dan mengatasinya, tapi berkesan sekali.
ahahahahahahahaha... Satrapi berwarna yang pertama saya baca.. setelah bordir dan persepolis yang semuanya hitam putih.. gambarnya keren, suka banget!!! bagus buat jadi buku anak-anak.. highly recomended deh sebagai buku anak-anak!!
ceritanya juga bagus, ngajarin kita untuk jaga bumi tercinta karena kalo nggak, banyak hal di dunia yang acak adut.. nah, bagian acak adut nya ini yang aku suka... ada sapiciiiiiiiiing.. huahahahahhahahaha ada domrung, kurateng, kuciting, ikapah..hihihihi kira-kira, bahasa perancis nya jadi apa yaa? penasaran.. hehehehehe
Bumi bergetar. Dan makhluk-makhluk bumi pun berubah menjadi chimera. Binatang-binatang beralih rupa menjadi kuciting, burupi, banterung, paujing, ikapah, dll. Manusia juga menjadi tak karuan rupanya. Apa penyebab semua ini?
Mathilde, satu-satunya yang tak berubah, mendapat tugas untuk pergi ke pusat bumi dan menyembuhkan Ajdar, naga api penjaga bumi yang menderita gara-gara ulah manusia mengesploitasi bumi.
Menemukan buku ini di tumpukan timbunan entah tahun berapa belinya waktu ke IRF pertama kali kalo ngga salah :)
Membacakan ini buat ponakan 5 tahun dengan sedikit dramatis membuat cerita singkat ini terasa seruuuuu. Diselingi ketawa ngakak ngakak ketika muncul berbagai hewan aneh seusai gempa bumi dan diakhiri dengan pesan moral untuk menyayangi bumi tercinta demi menghindari sang Naga Ajdar ngamuk lagi.
Itulah inti cerita dari buku ini, dengan menggunakan perumpamaan yang "out of box" dan dengan gambar-gambar penuh warna. Saya yakin siapa pun akan suka membaca buku ini tanpa terkesan seperti sedang diajari.
Hmm, yg ini ada pesen yg nyelip, yaitu kita harus menjaga lingkungan. Gempa itu berarti Ajdar lagi marah soalnya ketusuk alat bor manusia. Binatangnya lucu2, jadi pengen tau bahasa inggrisnya apa hehehe...
Was quite shocked that Satrapi wrote story for kids, yet amazed with this super thin book with quite deep message to deliver. And of course, Satrapi's strength is her illustrations and here we got them in color. My future kid(s) gotta read this.
Gambar & warni-warninya benar2 manjain mata. Suka banget! Ceritanya simpel, tapi maknanya dalem. Jangan jadi manusia yg melampaui batas, karena ada kekuatan besaaaarrr yg mungkin jadi terganggu karena ulah kita. Nggak mau kan kalo sampai Ajdar sakit lagi..
Kuciting, burupi, banterung, ikapah, paujing, hehe... lucu nama-namanya. Pesannya lumayan dalem: jaga lingkungan, jangan serakah yang bikin badan Ajdar si naga api jadi pegal-pegal dan terluka...
Una gran historia que pudo ser narrada con más sutileza. La autora, por nada, se pone a sí misma al final explicando el mensaje, cuando la potencia del mundo que construyó bastaba y sobraba. Sospecho que la traducción tampoco aportó (se habla, por ejemplo, de “el hombre” para referirse a “el ser humano”). La edición además incorpora un texto que parece ser la continuación del de arriba, pero solo tiene lógica si se continúa con el de la página de al lado. Creo que eso es mejor si se usa como recurso, que permite leerlo de ambas formas, sino es mejor evitarlo.
Den ene boken jeg rakk å lese under tvangslesingsmiddag. Men forfatteren av Persepolis skuffer ikke. Lett og tung på samme tid. Like fin for voksen som for liten. Kan brukse til felleslesing for å fremme gode samtaler og holdningsdannelser rundt miljøvern, konsekvenstenkning mm. Likte den godt jeg.