Facebook on Love 2: Berbicara Tentang Takdir
Wooow! Itu yang saya ucapkan saat selesai membaca Facebook on Love 2 (selanjutnya saya sebut FOL2). Untuk kesekian kali saya berdecak kagum membaca karya sahabat, pemberi saran, pemberi dukungan, dan seseorang yang saya anggap kakak, Teh Ifa Avianty. Satu detik pertama saya terdiam hingga detik-detik berikutnya saya mulai berkaca-kaca.
Takdir. Destiny. Banyak orang bilang, "Takdir itu urusan Allah, Ri!" Saya setuju dan percaya. Namun, belum lama, my hun bercerita tentang kisah Umar. "Kalau kita berubah dan mau belajar ke arah lebih baik, semua bisa berubah ke arah yang baik. Dari takdir yang buruk, ke arah takdir yang lebih baik." Subhanallah! Dada saya bergetar mendengarnya, sama ketika membaca FOL2.
Dea dan Fadli, pasangan muda yang jatuh bangun membina rumah tangga. Datangnya kabar buruk dari masa lalu Fadli, cinta lama Dea, orang-orang misterius. Dea berusaha bertahan di tengah badai, sementara Fadli belajar menjadi manusia yang lebih baik. Tidak mudah? Memang. Perjalanan panjang dalam kehidupan tidak selalu mudah, ada kalanya kerikil hingga terjal.
Menjadi istri yang sempurna selalu dikaitkan dengan bisa memberikan keturunan. FOL2 membenturkan takdir pertama dengan tidak kuasanya seorang perempuan menghadapi kenyataan bahwa rahimnya tidak sekuat yang ia kira. Begitulah nasib Dea. Uniknya, nama putranya juga Daffa--sama dengan putra Zahra dan Krisna di novel Rindu, tetapi di sini panggilannya Fathur. Mau tidak mau saya teringat tulisan Clara Ng, yang kurang lebih seperti ini:
"Kalau anak kehilangan ayahnya dipanggil yatim. Kalau anak kehilangan ibunya dipanggil piatu. Tetapi, tidak ada nama untuk seorang ibu yang kehilangan anaknya."
Lagi-lagi saya menangis.
Kedua, tentang takdir masa lalu. Tidak ada yang bisa mengubah, tidak ada yang bisa mengembalikan. Masa lalu Fadli yang mungkin tidak bisa dimaklumi oleh saya (jika menjadi istrinya) menjadi sangat dimengerti. Fadli mungkin salah, ia melakukan dalam keadaan sadar, ia menentukan apa yang harus ia lakukan. Tapi, begitu ia berubah, ternyata Allah memberikan takdir baik untuknya--sebuah surga kecil tempat impian setiap orang yang berisi keluarga.
Takdir ketiga adalah Chandra. Saya merasa ini pun takdir, ketika seseorang tidak bisa berpindah ke lain hati. Atau bukan? Tapi, apa pun bentuknya, saat membaca karakternya, saya menemukan sosok my hun di sana. Seorang dosen, wise, mengajarkan saya lebih mengenal Allah, dan selalu bisa menawarkan solusi. FYI, saya mengenal my hun di dunia maya juga, karena itu saya merasa dekat dengan novel ini.
Terakhir, pada intinya, selama kita mau berusaha memperbaiki, tidak ada yang tidak mungkin. Ikhtiar, berdoa, dan ikhlas. FOL2 mengajarkan saya tentang ketiga hal ini. Betapa Allah mencintai umat-Nya, betapa Allah begitu dekat dan mendengar setiap doa. Juga, betapa kita harus bersyukur untuk setiap kebahagiaan. Sebuah novel yang sangat direkomendasikan! Bravo, Teh!