Cinta adalah kebersamaan yang hangat. Begitulah Kirana merasakan dan memaknai kehadiran Takayama Hiro. Pria itu tak sekadar tutornya selama ia menjalani pertukaran pelajar di Jepang, tapi juga asa bagi Kirana untuk merajut kebahagiaan masa depan. Kebahagiaan yang juga dirajut Kirana bersama sahabat-sahabat antarbangsanya; Voleak, Sandra, Andres, Wahib, dan Grace. Mereka sepakat, suatu hari nanti, pada musim sakura, akan kembali ke Jepang.
Namun, sebab ruang dan waktu, asa itu tak lekas menjelma. Sekembali ke tanah air, Kirana harus menyelesaikan kuliahnya, mendampingi orangtua, dan mengurus GARIS, sebuah LSM yang fokus pada masalah pornografi.
Semakin lama, harapan Kirana terhadap pertemuannya kembali dengan Hiro dan sahabat-sahabatnya selama di Jepang, makin goyah. GARIS makin menyita perhatian Kirana, apalagi ketika LSM tersebut terancam dibubarkan. Kedua orangtuanya menuntut Kirana untuk segera menikah dengan Ridwan, pria yang telah dijodohkan dengannya. Kehadiran Chandra, yang diam-diam menaruh hati, juga membuat Kirana makin tak yakin, akankah cinta yang telah ia titipkan pada sakura, kembali mekar?
***
”Lama saya merindukan lahirnya novelis kuat dari komunitas FLP.... Sampai akhirnya datang novel ini yang membuat saya berteriak gembira. Sebuah novel semi antropologis yang cukup menjanjikan, baik dari segi bahasa maupun dari kedalaman isi yang ditawarkan. Lewat novel Sakura, penulis seakan hendak membuktikan tantangan dari suara miring berbagai kalangan bahwa komunitas FLP belum bisa menghasilkan sebuah karya yang bisa diperbandingkan. Saya kira, harapan penulis tidaklah berlebihan.”
-- Joni Ariadinata, Sastrawan
"Salah satu novel paling bagus yang pernah saya baca."
- Kaori Marohira, Mahasiswa Pascasarjana UI, asal Jepang
Kenapa harus ada peraduan antara cinta berbalut taat pada orangtua dengan cinta romantisme suruhan hati? Bisakah keduanya berkompromi? Atau memang harus ada yang dikorbankan?
Bagaimana rasanya menikah dengan seseorang, sementara hati ini sudah terlanjur penuh dengan nama orang lain?
Tanya-tanya itu memenuhi hati dan pikiran Kirana. Yups.. udah dapat ditebak dunk dari kalimat di atas kalau Kirana adalah episode ke sekian dari Siti Nurbaya abad 21. Dijodohkan! Kirana tak sanggup berkata tidak pada kedua orangtua terkasihnya, walau hati berteriak kalau dia tak punya perasaan apa pun untuk Ridwan, walau dia tau Ridwan adalah laki-laki yang baik, tapi hati Kirana telah penuh dengan satu nama Takayama Hiro.
Seorang pemuda Jepang yang menjadi tutornya selama satu tahun di Jepang. Kirana yang tak pernah dekat dengan seorang pria menjadi punya sesuatu berwarna merah jambu gitu deh terhadap Hiro. Witing trisno jalaran suko kulino kata orang Jawa, atau menurut pepatah Arab Qurbul wisaad wa thuluus siwaad, Cinta tumbuh karena dekatnya fisik dan panjangnya interaksi. Kalau kata orang Jepang, Ai wa kodashinise yo. Cinta yang tumbuh perlahan adalah cinta yang paling kuat. Dan Kirana merasakan itu.. eh.. ga juga ding.. pada awalnya Kirana ragu juga.. apa yang dia rasakan itu Cinta, kagum atau hanya senang terperhatikan? Tapi perlahan tapi pasti Kirana mulai menyadari kalau itu adalah Cinta. Uhuk. Bagaimana rasanya Kirana? :p
Eitss… ada lagi satu pemuda bernama Chandra (cuit… cuit.. Kirana laris manis euy :p). Nah, kalau Chandra ini nih, merasa cocok dengan Kirana karena nama mereka jadi pas gitu kalau disandingkan Chandra Kirana (ada alasan lain lagi sih). Chandra ini digambarkan cerdas dan punya impian yang sama dengan Kirana. Pengin ke Jepang. Kalau sama Chandra sih Kirana oke aja menikah.. hatinya lebih bisa menerima tapiii… pernikahan yang akan dia hadapi adalah dengan Ridwan, pilihan orangtuanya, yang dia sama sekali tak punya perasaan atau kecendrungan apapun. Bukan dengan Hiro.. bukan juga dengan Chandra. So.. gimana dunk? Temukan liukan konflik yang terjadi seputar kehidupan Kirana dalam Sakura yang ditulis oleh Nova Ayu Maulita.
Segala cinta yang tidak sampai pada pernikahan itu harus dilupakan. Harus! Harus! Harus!
Memutuskan menikah dengan siapa tentu bukan perkara enteng. Dengannya akan kuhabiskan lebih dari setengah umurku – itupun kalau Tuhan memberiku umur seperti rata-rata manusia.
Yang bikin Gregetan..
Saya gregetaaaaaannnn… Erggghhh.. pertama, gregetan dengan sikap Kirana terhadap perasaannya sendiri. kenapa sih bisa2nya Kirana menyemai asa yang begitu tinggi buat menikah dengan Hiro? Padahal Hiro tak pernah menjanjikan apa pun. Cuman bilang suka. Kalaupun ada agak2 nyinggung tentang pernikahan itu juga tersirat. Hiro hanya bilang suka sama Kirana dan minta Kirana datang lagi ke Jepang, "Kembalilah ke Tokyo pada suatu haru, Kirana!" nah lho kalau udah gitu kenapa menumbuhkan harapan tinggi2 untuk menikah dengan Hiro, Kirana???
Kadang sulit memisahkan apa yang yang kulogikakan dengan yang kurasakan. Cinta memang tak selalu bisa dijelaskan.
Kirana juga sadar sepenuhnya kalau Hiro bukan muslim dan Kirana juga ga mau menikah kalau beda prinsip. Ada proses panjang yang mesti ditempuh untuk sampai ke pernikahan. Dan juga Hiro jauuuh.. di Jepang gitu loh. Hiro juga dikatakan tak pernah membalas email Kirana. Atas sebab itu.. kenapa masih berharap pada Hiro duhai Kirana?
Dan juga nih ya, kenapa sebagai perempuan timur, mesti Kirana yang datang menemui Hiro ke Jepang? Hiro dong yang ke Indonesia..
Tidaklah mawar hampiri kumbang
Bukanlah cinta bila kau kejar
Tenanglah tenang
Dia ‘kan
datang
Dan memungutmu ke hatinya yang terdalam
Bahkan dia takkan bertahan tanpamu
(Untuk Perempuan - S07)
Tapi ya sudahlah.. berhubung Kirana tetap keukeuh pengin ke Jepang, saya hanya bisa bilang Ganbatte ne! ^_^
Kedua.. gregetan sama Ridwan.
Ridwan ini yang mau dijodohkan sama Kirana, ternyata udah punya kekasih gitu deh. Dan dia dengan penuh kerelaan hati meninggalkan cewek yang dia janjikan pernikahan demi memenuhi keinginan hati orangtuanya menjodohkan dia dengan Kirana dengan alasan Kirana oke juga jadi istri. Ihhh… gemes deh saya. Kenapa jadi plin plan kayak gitu sih? kenapa justru dengan seenaknya menyakiti hati seorang wanita. Mana janji manismu Ridwan? Tapi Ridwan pun membela diri, kalau sebagai seorang pria dia punya kecendrungan untuk mendua. Gedubrak!
Ketiga, gregetan juga dengan sikap Chandra.
Apa pada dasarnya cowok emang gitu yaa? Ga bisa ngasih ketegasan terhadap makhluk yang bertitel cantik. Oke lah kalau dia punya niatan menolong Tasya, tapi ga harus dia kan yang selaluuu mendengarkan curhatan Tasya. Minta tolong ke teman ceweknya gitu. Bisa kan Chan?
Tapiiii…. Dengan segala hal yang bikin saya gregetan itulah cerita ini ada. Jadi ada konflik. Kalau ga kayak gitu… ga seru kaliiii… :p
Yang saya suka ^_^
Membaca buku ini di halaman2 awal bikin saya jatuh suka. Soalna mengambil setting Jepang. Dan saya bisa ngebayangin gitu tentang Jepang. Ahaha… beberapa hal agak mirip dengan S'pore ya (sok tau :p). Saya juga mendapatkan beberapa info baru tentang Jepang. Misalkan nih, kalau ternyata Sakura itu cuman ada di Jepang. Kalaupun ada tumbuhan sejenis yang tumbuh di luar Jepang namanya bukan Sakura tapi cherry blossoms. Hihihi... maksa banget ya...
Trus... pernyataan Kirana kalau Orang Jepang itu belibet. Misalkan tentang kanji-kanji yang sangat sulit dibaca dan dilafalkan oleh Orang asing. Eitsss... ternyata bukan cuma orang asing yang ribet sama kanji itu. Orang Jepangnya kadang juga ada yang ribet dan mereka juga mengalami kesulitan. Wekekeke... jadi ingat cerita Sinchan.. yang suka salah gitu kalau membaca dan melafalkan kalimat.
Ada lagi saat satu ada yang mengusik pikiran Kirana, tentang mengapa Indonesia tidak menganggap tentara-tentara Jepang sebagai musuh? Padahal di Korea dan China ada catatan buruk bahwa Jepang adalah penjajah yang hingga saat ini harus dimusuhi. Satu hal yang tak pernah terbaca dalam buku catatan sejarah Indonesia. Memang sih disebutin kalau Indonesia pernah dijajah Jepang, tapi penyebutan itu datar2 saja.. tanpa emosi.. tanpa kemarahan dan tanpa dendam. Entah apa karena bangsaku yang terlalu ramah tamah dan pemaaf atau justru terlalu bodoh? Hemm...
Trus.. tadinya saya pikir ini hanya kisah cinta biasa.. Tapii.. kehadiran GARIS di mana Kirana bergelut di dalamnya membuat novel ini menjadi tak biasa lagi. Miris rasanya membaca apa yang terjadi di sana. Menggambarkan kondisi social yang mungkin memang terjadi di era sekarang ini. Jadi ingat survey yang dulu heboh itu… tentang sekian persen mahasiswi di Yogyakarta yang tidak virgin lagi. Nah, GARIS adalah lembaga yang peduli dengan masalah pornoaksi dan pornografi.
Sayangnya…tidak disebutkan apa yang dituliskan di sana emang fakta beneran atau hanya fiksi belaka atau fiksi yang berdasarkan kenyataan. Tapii.. setidaknya ini menjadi gambaran. Bikin jadi berpikir, separah inikah kondisi di era sekarang? Sebegitu bebas kah sudah pergaulan remaja (non remaja) masa sekarang? Trus, bagaimana mengendalikannya?
Btw, penulisnya ternyata seorang hafidzah ya... pantas saja di Sakura sosok Kirana digambarkan begitu intens interaksinya dengan Al-Qur'an. Dan saya suka bagian itu :)
Yang bikin bingung dan penasaran.
Ada juga nih yang bikin saya bingung. Ada bagian cerita saat-saat Kirana berjuang di GARIS, di mana teman satu Kirana yang bernama Elis dikerjai gitu deh sama Tasya. Di sms dan telpon seolah2 Elis adalah ayam kampus.
Atas ide Kirana, Elis diminta menemui saja yang menelponnya itu. Siapa tahu bisa ngebongkar sindikat chicken kampus itu? Dan posisi Elis kemudian digantikan Dewi. Udah tegang nih saya ngebacanya. Menebak2 apa yang terjadi. Ehh… ternyataaa… ceritanya hilang begitu saja. Ada awal, tapi tak berakhir. Ada sih disinggung di bab berikutnya. Tapi hanya sampai pada Tasya mendapat BBM yang berisi "kerjaan beres bos," Lalu ada gumam dari Tasya yang bilang "Kena juga akhirnya Elis dikerjainya." Dikerjai sampai gimana sih?
Satu lagi Catatan kaki yang ada di Sakura diletakkan di akhir bab, bukan di bawah halaman. Jadinya kalau mau tau arti dari bahasa Jepang atau penjelasan apa gitu, mesti bolak balik halaman gitu. Iiih.. bikin kenyamanan saya membaca terusik.
Walaupun saya tidak terlalu puas dengan endingnya, yang menurut saya terlalu maksa. Hehee… tapiii.. saya suka Kirana… eh… Sakura ^_^
Quote terfavorit dari Sakura :
Memang tak seharusnya menyimpan cinta yang tidak pada tempatnya. Bila tercerabut akan sakit rasanya, meninggalkan luka berdarah, berbekas. Andai hati ini lebih terjaga.
Semenjak membaca buku ini, saya berangan-angan pergi ke Jepang. Lalu bisa menikah dengan orang Jepang atau ada laki-laki yang tertarik dengan saya sampai mengajukan proposal ta'aruf 2x. Hahaha
Novel islami ini sangat khas menurut saya. Mungkin karena si penulis bergabung dengan grup FLP yang notabene menulis sambil berdakwah.
Ah.... menurut saya ini kurang realistis sih. Enak banget ya bisa pergi ke Jepang, dapat suami orang Jepang, diincar cowok juga. Ya namanya juga fiksi, banyak bumbu penyedap cerita.
Dia (tokoh cewek utama) terlalu sempurna: Islam, berjilbab, cantik, pintar, berprestasi, dll.
Oia, jika saya menilai dalam sudut pandang kepenulisan (meskipun bukan orang ahli ya). Saya berpendapat novel ini telah sukses mensyiarkan agama Islam. Seperti karakter & respon dari si tokoh (perempuan dan laki-laki yang ta'aruf). Antara cinta Dan Islam bisa anda temukan di novel ini. Juga disuguhi deskripsi tempat dan suasana di negara Jepang.
Good job penulis!
This entire review has been hidden because of spoilers.
"kirana hayaku!" kata-kata ini masih familiar di telinga saya padahal sudah lama saya membaca novel ini, menceritakan seoran kirana yang jatuh hati dengan tutornya di jepang tapi dijodohkan dengan pria pilihan orangtua-nya dah nampaknya takdir berpihak pada kirana hmmmm so sweet!!!
sayang banyak sekali ide cerita di novel ini yang bisa diexplorasi lebih detail, karena selain kisah cinta kirana ada kisah yang lebih menarik saat wawancara dengan ibu dari mahasiswa yang bunuh diri itu dan cerita lain yang lebih tragis dari sekedar kisah kirana, seandainya itu lebih dalam diceritakan saya rasa akan menjadi roman yang manis sekaligus bikin pembacanya merenung
Endingnya mengecewakan, kalau emang udah diplot sm Hiro ngapain nambah2in banyak cowok di sekitar Kirana sih, Ridwanlah, Candralah, sudut pandangnya juga terlalu banyak, jd kurang fokus sm konfliknya, macam sinetron Sinemart. Lagian dr segi karakteristik & penggambaran perjuangannya, orang akan lebih bersimpatik sm Candra, ga jelas jg gimana si Hiro ini akhirnya masuk Islam.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Dua malam terakhir, saya menamatkan buku ini. Buku yang indah. Pilihan cover yang cantik, warna-warnanya saya suka banget!
Tentang romansa anak muda. Kirana adalah gadis berkerudung asal Jawa Tengah, yang begitu memegang teguh nilai-nilai islam yang dianutnya walaupun harus dikepung berbagai godaan di Jepang, tempat dia menjalani studinya.
Menjaga makanan, pakaian, shalat, dan pergaulan.
Kirana jatuh hati pada seorang pemuda Jepang. Hal yang baru disadarinya setelah pulang, dan dihadapkan pada berbagai pilihan sulit.
Tiga perempat pertama dari buku ini sangat saya nikmati. Penulisnya begitu detil menggambarkan situasi sampai seolah-olah saya melihat sendiri suasana stasiun kereta di Jepang. Terbayang bagan jalur kereta, dan suasana berbagai musim yang dihadirkan dengan cermat. Jalan-jalan Tokyo yang sibuk dan cara hidup orang Jepang yang begitu menghargai waktu. Begitu ya? Salut, tak heran mereka bisa begitu maju. Dalam hal pendeskripsian situasi, hampir seperti Anni Iwasaki dan Dinamika Kehidupan-nya, satu buku favorit saya.
Tapiiiiii Saya benci lembar-lembar terakhir. Bagaimana mungkin kisah yang dijalin begitu panjang, selesai hanya dalam beberapa halaman? Penulisnya pelit informasi, saya bahkan harus menebak-nebak dengan siapa Kirana akhirnya menikah. Sedikit petunjuk tentang berapa lama dia akan tinggal di Jepang, membuat saya dapat mengambil kesimpulan. Tetap saja, saya masih tidak yakin.
Jadi kalau boleh, saya ingin protes Kenapa tidak diceritakan bagaimana Hiro pada akhirnya bisa berubah pendapat tentang Islam? Tiba-tiba Kirana sudah ada lagi disana, bagaimana perjuangannya? Bagaimana prosesnya - siapapun itu yang menjadi suaminya?
Sungguh sayang. Seharusnya berpanjang-panjang dibagian tengah bisa dikurangi sedikit, dan menceritakan lebih banyak di bagian akhir.
Satu hal lagi yang cukup penting menurut saya yang pemalas ini, footnote arti kata-kata kalimat, kenapa ya tidak ditempatkan di tiap akhir halaman saja? Ini ditempatkan di akhir bab, jadi kalau mau tahu arti suatu kata yang asing dan diberi nomor, kita harus mencari-cari akhir bab untuk melihat arti kata tersebut. Tak jarang, saya malah kehilangan halaman yang saya baca.
Maaf,..saya hanya pembaca awam..betulkan kalau saya salah ya,.. semoga yang berikutnya lebih baik lagi yaa. Pasti.
Kirana, akhirnya kembali ke Jepang pada suatu haru* seperti janjinya, cintanya pada Hiro yg dititipkannya pada Sakura. Yang namanya jodoh, memang tidak bisa ditebak, meski akad sdh didepan mata, tetap saja batal, kalau tidak jodoh.... Meski jauh, karena memang sudah jodohnya, yaa.. akhirnya bersama dong! hehehheeh Perjalanan cinta Kirana yang mengharu biru, meski ruang dan waktu terpisah jauh, namun asanya tetap tak padam. Sebab bagi Kirana, cinta adalah kebersamaan yang hangat. Begitulah dia memaknai kehadiran dan kebersamaannya bersama Takayama Hiro.
ps. berhubung aku suka dengan sakura juga detail Jepang lainnya, so aku recomended kan deh buat kalian pecinta novel. baca ya, bahasanya enak kok, meski ada kata yang salah2 dikit, dan pengulangan yg nggak gitu penting. tiga setengah bintang deh. *ngikutin istilah Rini.... hhihihihih*
Rasanya ingin mereview buku ini, tapi speechless. :| Sejak dulu, saya suka mengoleksi buku2/novel bersetting negeri sakura. Awal membaca judulnya, saya kurang tertarik karena judul sesederhana "Sakura" saya rasa sudah banyak digunakan penulis-penulis lain. Namun, ketika menyelami ceritanya, subhanallah... -speechless- Namun, bersiaplah menerka-nerka di endingnya. Kehidupan Kirana dan lika-liku cintanya antara 3 pria (Hiro si orang Jepang, Chandra, dan Ridwan) tentu membuat pembaca bertanya-tanya, kepada siapa hatinya berlabuh pada akhirnya?
Saya selalu suka novel yang bersetting luar negeri. Interaksi seorang muslim dengan orang lain yang beda budaya selalu menarik untuk disimak. Tapi novel ini lebih berkesan bagi saya karena ceritanya yang sukar ditebak endingnya dan gaya bahasanya yang indah. Tema yang diangkat pun tidak melulu soal cinta tapi juga kehidupan sosial mahasiswa. Satu lagi yang saya suka dari novel ini adalah tokoh Candra (saya suka karakternya, mirip suami saya yang namanya Chandra juga hehe...).
I was torn in heart when I read this. So much of this book tells exactly how I feel about living Japan and the feeling that was grown when I was there. The love that I have there and the one that ask the falling maple leave in ohara to keep it for me. Until the day I can comeback there... one thing, it apparent that i am not the only one with the same story.
Ah kak Nova nih, jangan ceritain jepang terus dong,,, tau nggak aku tuh udah pengen banget ke jepang, ek kak Nova malah nyeritain kekerenan jepang duluan, aku jadi nggak sabar...
aku suka novel kak Nova... keren, suatu hari kalo kak Nova ada di jepang, tunggu aku di sana... teruslah ciptakan novel-novel terbaikmu...
Wow! Masya Allah.. jadi mupeng banget ke Jepang liat Sakura asli! aamiin... >_< Suka deh ma cara salah seorang saudariku ini mengungkapkan idenya di novel pertamanya.. Malah, seperti membaca kisah hidup penulisnya sendiri.. Hoho, atau karena kisah hidupku hampir mirip dengan alur ceritanya, ya??? *tanya diri sendiri
Bukan karena ini novel anak FLP, bukan juga karena diterbitkan oleh LPPH ;), tapi novel ini memang keren. Cukup banyak novel yang ditulis penulis Indonesia dengan setting Jepang, dan SAKURA adalah sedikit dari novel yang berhasil "mengangkat" Jepang menjadi setting dan tema yang bagus.
novel yang menginspirasi dan memotivasi saya, dimana penulis menyajikan kisah tentang sebuah arti perjuangan, idealisme dan romantika yang diselipi oleh aspek religi didalamnya. novel yang membuat saya tertarik, mencintai dan memimpikan Jepang!
Tiga bintang untuk setting Jepang dan diksinya yang oke banget. Sayang, bintangku tak bisa naik karena terlalu banyak tokoh dengan konfliknya masing-masing, sehingga cerita kurang fokus.