Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri

Rate this book

196 pages, Paperback

First published March 1, 2004

10 people are currently reading
95 people want to read

About the author

Thomas Hidya Tjaya

7 books6 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
46 (45%)
4 stars
36 (35%)
3 stars
17 (16%)
2 stars
1 (<1%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 21 of 21 reviews
Profile Image for Rafli Wahyu.
40 reviews
January 2, 2024
Memahami pemikiran Soren Kierkegaard (filsuf sadboy) tidaklah mudah, penuh dengan metafora dan paradoks serta sarat akan pergulatan terutama dengan dirinya sendiri. Buku ini mengupas setidaknya dan menjadi pengantar ke alam pemikiran Kierkegaard si filsuf eksentrik dan unik, serta berkat sumbangsih pemikirannya terhadap eksistensi manusia maka lahirlah aliran atau ajaran eksistensialisme yang mengilhami beberapa pemikir pada generasi setelahnya.

Di buku ini kita diajak melihat bagaimana latar belakang timbulnya pemikiran eksistensi dari Kierkegaard, mulai dari masa mudanya yang getir dan dekat sekali dengan malaikat kematian (karena banyak saudaranya yang meninggal dalam rentang waktu berdekatan) serta gagalnya pertunangan dengan wanita idamannya. Regina, hingga ia menjadi pribadi yang berbeda, entah apa yang dipikirkan oleh Kierkegaard untuk membatalkan pertunangan ini dan yang jelas ia adalah seorang melankolis dan ia berpikir tidaklah pantas untuk bertunangan dengannya karena ia merasa ada sedikit "Duri" di hidupnya.

Momen gagalnya pertunangan ini mengilhami Kierkegaard untuk fokus dan terus menulis serta menyelesaikan beberapa studi yang menjadi cikal bakal dari "Magnum Opus" nya yang terkait "Eksistensi Manusia", ia mulai penasaran dan selalu mempertanyakan walau ini bertolak belakang dengan sifatnya yang melankolis.

Memahami Kierkegaard tidaklah mudah dan Kierkegaard mengindahkan yang namanya pergulatan. Terutama pergulatan dengan diri sendiri dalam artian filosofis yang bertujuan untuk menjadikan diri sendiri sebagai sesuatu yang otentik dan unik berkat eksistensi diri yang harus selalu diupayakan dan dilakukan secara terus menerus dalam dunia subyektivitas yang terbatas oleh waktu, dan berada di dalam diri sang subyek bukan sesuatu hal yang di luar sang subyek.

Dinamika wilayah eksistensi menurut Kierkegaard dibagi menjadi tiga hal, eksistensi estetis, eksistensi etis, dan eksistensi religius, hal ini dikemukakan oleh Kierkegaard dalam bentuk penggolongan yang bermaksud sebagai cara² bagi manusia berada di dunia (modes of being in the world) yang dimana di setiap wilayah eksistensi ini memiliki pengandaian ataupun pandangan tertentu yang dapat memberikan kepuasan dan kepenuhan hidup bagi orang yang ada di dalamnya, dan Kierkegaard juga menyebutkan hal ini sebagai "Tahap² jalan hidup" karena di tiap tahap atau wilayah eksistensi ini manusia tidak akan tinggal selamanya di tahap tersebut akan tetapi bisa melangkah ke tahap selanjutnya yang lebih utama dan akhir dari tahap eksistensi yakni "Eksistensi Religius".

Eksistensi Religius sebagaimana yang dikemukakan oleh Kierkegaard merupakan wilayah Eksistensi akhir manusia yang di dalamnya hal² logis dan rasional tidak dapat dipuaskan, melainkan hal² seperti ini ditepikan menuju yang absurd lagi maha transenden. Sekalipun hal logis tidak diindahkan akan tetapi hal² yang bersifat objektif masih bisa dipertimbangkan di wilayah ini karena pada dasarnya hakikat pengetahuan manusia hanya sebatas "mendekati" realitas objektif, dan pengetahuan manusia tidak sepenuhnya dan tidak akan pernah menuju tahap Akhir/Final. Pandangan Kierkegaard seperti ini bertentangan dengan pandangan Hegel yang dimana optimis rasional dan objektif akan suatu realitas, tapi sebaliknya bagi Kierkegaard merupakan "Realitas Eksistensial" yang didalamnya penuh dengan pergulatan dan keputusan yang harus ditempuh oleh manusia.

Bagi Kierkegaard yang transenden sendiri hanya bisa dijangkau melalui "Lompatan Iman" karena bagi Kierkegaard kita sebagai manusia adalah makhluk yang "Terbatas" baik dari segi pengetahuan maupun segi apapun dalam memahami realitas akan kebenaran, namun yang "Transenden" merupakan zat "Tak Terbatas" yang dimana terdapat hal² yang tidak dapat dipahami dan diketahui secara begitu saja oleh manusia karena berbeda dimensi dan berbeda secara realitas nya. Pendapat Kierkegaard mengenai manusia disini hanya sebagai yang "Mendekati Objektif" bukan "Mengetahui Objektif" maka disini terdapat kontradiksi dan ketidakpastian yang dapat mengintensifkan manusia akan hasrat batinnya yang tak terbatas, jadi dengan ketidakpastian objektif dan hasrat tak terbatas maka manusia dapat memeluk hal yang demikian dengan "Berani", bagi Kierkegaard inilah "Iman".

Iman sebagaimana yang dikemukakan Kierkegaard merupakan syarat utama bagi manusia yang "Terbatas" untuk sebagai cara bertindak bagi akal budi agar tidak "Mengilahikan Dirinya" (Self Deification), karena pada dasarnya manusia memang penuh dengan "Keterbatasan". Karena dengan Iman manusia dapat memahami "Batas² Diri" untuk lebih bisa menghidupkan "Agamanya" dengan sungguh². Artinya adalah manusia sebagai makhluk dengan status yang "Bergantung" kepada Yang Transenden Yang Ilahi dan Yang Mutlak, dengan ini manusia sungguh² menghidupkan agamanya sebagai "Pengakuan" terhadap "Realitas Yang Tak Terbatas/Yang Ilahi" dan yang berada di luar jangkauan manusia itu sendiri.

Jadi secara keseluruhan mengenai pemikiran Kierkegaard akan suatu eksistensi adalah dengan menekankan "Penghayatan Batin" yang harus diupayakan oleh manusia ketika ia berhadapan dengan kebenaran. Penghayatan seperti ini harus diungkapkan oleh manusia untuk kehidupan sehari² nya, khususnya dalam apa yang diperjuangkan oleh manusia tersebut. Menghayati kebenaran sebagai "Subyektivitas" berarti menunjukkan kehidupan kita sebagai manusia yang asli dan siapa diri kita yang sebenarnya. Jika kita sebagai manusia mengabaikan "Penghayatan Subyektivitas" ini maka kita sebagai manusia akan mengalami "Keterasingan" dan "Kehidupan yang tidak Otentik".

Ini saja review buku dari gw. Jika ada salah kata atau kata yang membingungkan, gw pribadi mohon maaf. Kritik dan saran dipersilahkan.
Profile Image for Femi.
205 reviews18 followers
April 29, 2020
Buku ini seakan menjawab keresahanku tentang apa yang kita yakini sebagai kebenaran objektif, pertanyaan seperti 'apakah kita akan menemukan yang namanya cinta sejati?' yang tidak kita sadari selalu hinggap di pikiran kita. Mendengar kisah hidup dan cinta Kierkegaard yang pilu, aku bisa bersimpati bagaimana ia mempertahankan idealnya dan apa yang ia yakini demi menjauhi kehidupan yang tidak autentik. Menutup buku ini, aku bertanya-tanya apakah masih mungkin bagi kita untuk menghidupi kehidupan yang autentik (serta hidup tanpa perasaan takut yang diajarkan Krishnamurti) di masa-masa sekarang di mana semua hal menuntut keinstanan dan kedangkalan.

Bagi yang belum familiar dengan eksistensialisme dan filsafat Hegel, mungkin buku ini akan sedikit susah untuk dicerna. Olehnya, aku merekomendasikan membaca At the Existentialist Café: Freedom, Being, and Apricot Cocktails untuk memfamiliarkan diri dengan cabang pemikiran filsafat ini.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
245 reviews42 followers
May 17, 2020
Kodrat manusia adalah memilih. Pilihan yang dibuatnya bukan tanpa risiko. Ia harus menyingkirkan opsi-opsi lainnya yang mungkin lebih 'benar'. Tetapi, kebenaran, menurut Kierkegaard, bersifat subyektif. Kebenaran obyektif tidak dapat dijangkau oleh manusia. Maka, apapun jalan yang seseorang pilih, itulah kebenaran baginya.

Pilihan juga menuntut komitmen untuk menjalankannya dengan gairah dan hasrat. Kierkegaard berpendapat daripada kita mencari kebenaran obyektif, berfokuslah pada komitmen untuk menjalankannya dengan penuh gairah. Di situlah letak hidup yang penuh dan bermakna.

Kira-kira seperti itulah inti pemikiran Soren Kierkegaard dalam buku ini. Hal-hal lain yang juga dibahas di dalamnya adalah mengenai wilayah eksistensi dan keputusasaan, menjadi manusia otentik, dan juga kritiknya akan pemikiran Hegel.

Menarik sekali bagi saya yang awam filsafat dan baru kali ini membaca aliran eksistensialisme. Bahasanya mudah dipahami dan sangat relate dengan kehidupan kita sehari-hari. Boleh dikatakan buku ini adalah titik awal mempelajari filsafat lebih dalam khusunya eksistensialisme.

Profile Image for Monica Elim.
11 reviews14 followers
January 31, 2021
Pengantar yang sistematis sebelum membaca karya asli Kierkegaard dan dijelaskan dengan cukup rinci. Salah satu hal yang penting adalah bagaimana pemikiran Hegel mempengaruhi Kierkegaard dan kritik yang diluncurkan Kierkegaard terhadap Hegel, ditulis dengan singkat tapi cukup padat.

Seperti yang sudah diungkapkan oleh Rm. Thomas di awal buku ini, membaca Kierkegaard tidaklah serumit membaca Heidegger. Memang pada saat membaca buku ini, pemikiran Kierkegaard mengingatkan saya pada Heidegger; misalnya konsep Rede-Gedere dan angst yang tentu saja didapat dari pemikiran Kierkegaard.
Profile Image for franky franky.
21 reviews14 followers
April 23, 2019
Salah satu buku yg membantu saya dalam menoropong zaman dimana hidup immediasi sangat banyak di lingkungan sekitar saya.Menyerdehanakan kebebasan memilih yg diberikan lewat pilihan2 yg dangkal oleh sistem.Mengaku berTuhan tapi larut dalam kerumunan.
Profile Image for Ambar.
71 reviews
February 15, 2021
Kadang saya bingung dengan apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Apa sih tujuan hidup saya, dengan tahapan yang telah dijalani, kemudian apa lagi kedepannya yang dapat membuat saya merasa bahwa hidup pantas untuk dijalani. Hidup bukan sekadar hidup saja. Makan, minum, kerja, ke mall, pacaran, nikah, bereproduksi. Harusnya ada yang lebih dari sekadar itu (menurut saya sebelum baca buku ini). Saya terus mencari makna hidup yang saya jalani ini.

Kemudian saya baca buku ini. Menurut Kierkegaard, hidup harus berhasrat dan mempunyai komitmen. Salah satu kepastian dalam hidup adalah bahwa saya hidup, saya ada, di sini dan sekarang ini, saya adalah diri saya sendiri. Tentang pilihan atas tahapan hidup yang telah terjadi harus dikomitmenkan secara penuh dan diyakini atas pilihan tersebut. Memilih adalah bagian dari penderitaan manusia, dalam hidup kita harus memilih dan bertanggung jawab atas pilihan tsb.

Tak seorang manusia pun yang memiliki kendali atas masa depan, berbagai kemungkinan dapat terjadi. Dengan membuat komitmen, manusia melompat membuat masa depan yang bersifat tidak pasti menjadi sesuatu yang pasti.

Akhirnya saya mengetahui saya tidak lagi harus mencari, melainkan harus bersyukur dengan hidup, dan berkomitmen atas apa yang telah terjadi. Segala sesuatu cukup dan atas apa yang akan terjadi di hidup harus dijalani dengan hasrat hidup yang tinggi.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Kahfi.
140 reviews17 followers
April 10, 2020
Filsafat eksistensialisme memang tidak sepopuler aliran filsafat yang lain seperti idealisme atau post-modernisme, tugas buku ini ialah mempopulerkan aliran tersebut dengan mengacu kepada salah satu pionir nya.

Kierkegaard diyakini sebagai filsuf eksistensialis pertama yang membangun landasan filosofis nya melalui sifat-sifat manusia, karena inilah banyak yang merasa berhubungan dengan persoalan-persoalan eksistensial manusia namun masih banyak dikaitkan dengan psikologi ketimbang filsafat.

Meskipun tidak membahas secara menyeluruh, buku ini mampu menangkap inti-inti filsafat Kierkegaard yang dapat ditemukan jejaknya pada filsafat Sartre dan Heidegger.
Profile Image for Anne.
21 reviews
September 30, 2020
Kierkegaard, salah satu filsuf favoritku!

Pemikirannya masih sangat relevan hingga saat ini. Dia mengajak kita untuk lebih aware terhadap diri kita sendiri. Kierkegaard mengatakan supaya kita jangan terlalu larut dalam publik karena itu membuat kita kehilangan diri kita yang sebenarnya. Menurutnya seseorang yang tidak berani 'sendirian' merupakan orang takut menghadapi eksistensinya sendiri.

Saya rasa buku ini cocok bagi mereka yang sedang berada dalam Quarter Life Crisis maupun bagi mereka yang sedang mengkhawatirkan kehidupan dan mempertanyakan eksistensinya.
Profile Image for Husain Aqil.
20 reviews2 followers
April 29, 2023
A simple book to those who are new into Existentialism. The way of the author explains anything philosophical is really great here, yet simple. This book is the gate for me to know deeper in regards to existentialism.
Profile Image for Jason.
15 reviews
March 25, 2020
Walaupun sebelumnya saya sudah tertarik dengan filsafat Kierkegaard, buku ini adalah buku yang mengantar saya ke dalam pemikirannya secara teratur. Walaupun menurut saya tidak terlalu komprehensif (kadang penjelasan-penjelasannya terlalu disederhanakan dan singkat), karya ini dengan baik mengundang para pembaca untuk merenungkan kehidupannya dalam konteks yang (pasca)modern ini. Karena keringkasannya pula, menurut saya buku ini dapat menjadi pengantar yang baik bagi filsafat Kierkegaard, Eksistensialisme, dan juga Filsafat Kontintental.
Profile Image for Ara Kucing.
32 reviews
July 17, 2022
hhhhm okay, cukup membantu untuk yang mencari sekilas gambaran filsafat eksistensialisme Kierkegaard. bahasanya runut dan mudah dimengerti, seperti mendengarkan kuliah dari dosen favorit
Profile Image for Wima.
7 reviews
July 29, 2024
Cocok dibaca oleh orang-orang yg sedang mengalami krisis eksistensial!
Profile Image for rushrosemarie.
57 reviews
October 27, 2024
Pretty easy-to-digest beginner read to Kierkegaard's writing, retold in practical manner.
Profile Image for Nadhira Nurfathiya.
7 reviews
November 8, 2016
well, gambar ini mengingatkanku dengan kelas 'filsafat' kemarin.
filsafat menurutku adalah suatu ilmu yang menjembatani pengetahuan dan kebijaksanaan.
dalam ilmu ini pemeran utamanya adalah kata tanya: apa, mengapa, siapa, dimana, yang mana, dan bagaimana.
ilmu ini memiliki banyak persepsi, sudut pandang, dan pemikiran bercabang yang disusun berdasarkan pendekatan yang berbeda.
mungkin banyak yang menganggap ilmu ini tidak terlalu penting, menghabiskan waktu, dan membuat kita jauh dari agama.
wah, saya tidak mau menyalahkan, dan itu hal yang lumrah. tapi, menurut pandangan saya berbeda.
dulu, saya iseng-iseng membaca buku tentang filsafat di perpustakaan, hanya untuk sekedar memuaskan rasa ingin tahu.
yang waktu itu saya rasakan adalah seperti merasuki tubuh seseorang dan melihat dari sudut pandangnya. ya, proses dalam menyelami ilmu ini adalah mempertanyakan hal yang kita tahu dan alami, menjadikannya sebagai refleksi diri. awalnya memang membingungkan, karena banyak hal yang bertentangan, banyak hal yang sudah terlihat jelas namun ternyata belum. namun, perlahan ada sesuatu yang saya rasa menarik untuk digali.
_______
kemudian beberapa waktu yang lalu saya membaca salah satu buku karya thomas hidya tjaya, buku itu berjudul kierkegaard. buku ini mengisahkan salah satu tokoh filsafat eksistensialis (filsafat tentang eksistensi manusia). di buku ini, saya melihat gambaran diri sang filsuf yang tersiksa, yang larut dalam penyesalan dan kesendirian yang pekat, namun memunculkan gagasan atas sikap diri untuk lebih tegar, hingga akhirnya mempengaruhi sang filsuf dalam menerjemahkan kejadian dalam hidupnya. di buku ini juga banyak sesi yang menggambarkan betapa sulitnya menentukan pilihan dalam hidup, mengapa harus seperti ini atau seperti itu. menariknya, di sini sang filsuf menentang gagasan dari filsuf lain, ia menentang gagasan bahwa filsafat merupakan jawaban dari segala permasalahan di dunia. ia menganggap hal tersebut terlalu ambisius untuk diwujudkan, seolah olah manusia harus mengetahui kebenaran objektif absolut (kebenaran yang sebenarnya, bukan terkaan), dan filsafat merupakan sumber dari seluruh ilmu pengetahuan.
dari buku ini, saya belajar untuk memperkuat apa yang saya yakini, dan bersikap fair dalam perbedaan, tidak memaksa dan menghakimi, karena ada alasan yang muncul dari suatu sikap yang dimiliki.
filsafat membuat diri terus melaju, dalam ranah ruang dan waktu, spasial dan temporal. menerima, lapang dada, dan menekan ego, membuat diri terus merasa bodoh, dan mau belajar untuk *setidaknya lebih baik dari sebelumnya.
memang, dalam hal keyakinan, ada sesuatu yang harus dibiarkan menjadi misteri, dan diyakini dengan hati. hal ini memang tidak didapat dari ilmu filsafat, karena dalam ilmu filsafat, semua selalu dipertanyakan.
tapi yang saya garis bawahi adalah, keyakinan tersebut dapat diperkuat dengan ujian dan pergolakan. yang berakhir pada kesimpulan bahwa, dengan filsafat saya menguji diri saya tentang seberapa besar keyakinan yang saya miliki, seberapa banyak input ilmu dibandingkan output aksi dalam hidup, dan mengelola hati dan akal agar selaras dalam menjalani kesenangan dan kesukaran dalam hidup. sehingga rasa ingin tahu, kritis, dan skeptis yang seharusnya dimiliki untuk mengahadapi kemajuan zaman dapat terasah, dan terwujud suatu kebijaksanaan dalam hidup.
______
satu kalimat yang mungkin mewakilkan tulisan ini:
wisdom is the next level of learning process.
______
catatan: ini hanya opini, kebenaran tulisan ini bersifat relatif berdasarkan pengetahuan penulis.
Profile Image for Anjani.
17 reviews3 followers
May 28, 2020
Sangat memudahkan pembaca awam (khususnya yang masih asing dengan gaya bahasa para filsuf) untuk memahami dinamika singkat aliran eksistensialisme dari akarnya.

Banyak orang yang beranggapan bahwa filsafat menggiring pembaca ke ketidakyakinan akan Yang Transenden, tapi sebenarnya kembali kepada konteks dan sebab dari akibat munculnya sebuah aliran itu sendiri.

Bacaan yang cukup relevan bagi usia dewasa muda terlebih yang mengalami kegundahan atas esensinya sebagai manusia.

Tetapi bacaan ini akan terasa terlalu singkat untuk pembaca yang menginginkan penjelasan yang komprehensif.
Profile Image for M Adi.
174 reviews17 followers
May 12, 2021
Buku ini memberi rumusan pada orang-orang di bawah atap rumah yang sedang menghadapi dorongan dari dalam diri. Memenuhi dorongan dengan segera atau memikirkan dahulu dorongan tersebut. Pada hal-hal naluriah, sebuah konsekuensi rasio dapat dipertimbangkan.
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,101 reviews17 followers
April 19, 2023
Ketika melihat buku ini di salah satu aplikasi belanja online, saya langsung tertarik dengan judulnya. Alasannya, di umur saya yang sudah mencapai 20+ ini, saya suka merasa khawatir tentang masa depan saya, bahkan sampai mempertanyakan tentang keadaan diri saya sekarang. Setelah saya yakin buku tersebut memang cocok, saya pun membelinya.

Lebih lanjut, bisa dibaca ulasan singkat saya di sini:
https://www.agungwicaks.com/2020/06/k...
Profile Image for Rory.
26 reviews
December 13, 2011
Dari pertama beli, kesulitan bacanya. Mungkin bahasa penulisannya kurang "ramah" untuk pembaca awam. Atau, mungkin aku yang "nggak nyampe", hehe...
Displaying 1 - 21 of 21 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.