Sajak-sajak Husni Djamaluddin dalam kumpulan ini meliputi sajak-sajak yang ditulisnya sepanjang tahun '70-an, suatu masa yang cukup panjang bagi pencarian pengucapan dan pergulatan memperoleh bentuk ekspresi.
Puisi adalah ekstase tertinggi dalam sastra. Puisi tidak serta merta lahir karena perenungan ataupun ekspolarasi nalar seperti yang ditemukan dalam bentuk sastra yang lain. Puisi tersembunyi pada celah jiwa menanti untuk ditemukan, menyentuh jiwa yang meratapinya dan menggaungkan bagi yang memujanya.
Puisi seperti umumnya sastra yang lain, adalah potret, dia bebas dan berironi, tentang cinta dan hasrat, dalam komedi maupun tragedi. Dan seperti itulah yang akan kita dapati dalam BULAN LUKA PARAH ini.
ORANG TUA (hal 82)
Orang tua mengajar anak-anaknya mulai bicara Orang tua mengajar anak-anaknya pintar bicara orang tua mengajar anak-anaknya bicara benar
Orang tua bingung kalau anak-anaknya mulai bicara Orang tua tersinggung kalau anaknya pintar bicara Orang tua marah-marah kalau anak-anaknya bicara benar
Orang tua menganggap anak-anak yang bicara benar adalah anak-anak yang kurang ajar
Satu lagi karya penyair Sulawesi yang keren dan saya baru tahu setelah ngiterin rak buku di perpustakaan tadi pagi. Saya suka puisi-puisi yang tertulis dalam buku ini, yang dibuat medio 1970an. Buku ini sendiri terlahir tahun 1986, waktu itu saya baru saya lahir, wajar saja rasanya kalau saya tidak mengenal Husni Jamaluddin.
Kalau waktu bergerak karena jam berdetak di manakah kau
kalau jam berdetak karena waktu bergerak di manakah aku
kau dan aku terjebak dalam jam berdetak dalam waktu bergerak