"Anda ingin pasangan date Anda tingginya antara 165 hingga 180 sentimeter?" "Betul." "Untuk umur, Anda memilih antara 26 hingga 40. Betul?" "Ya." "Anda terbuka dipasangkan dengan laki-laki dari berbagai ras? Aku tertawa mengiyakan. "Anda mengharuskan pasangan date Anda single dan unattached. Apakah Anda bersedia dating dengan laki-laki yang statusnya baru 'pisah' dengan istri mereka?" "Nggak. Saya ingin laki-laki single, se-single-single-nya."
Rencana hidup Titania Larasati buyar setelah menemukan Brandon, pacarnya selama tiga tahun, berselingkuh dengan sekretarisnya. Dalam usaha untuk melupakan kejadian itu dan kata-kata yang diucapkan oleh Brandon bahwa dialah satu-satunya laki-laki yang akan pernah menginginkannya, Titania rela mengeluarkan dua ribu dolar untuk memperoleh jasa blind date profesional, yang menjanjikan sebuah pernikahan dalam waktu kurang dari enam bulan. Dengan bantuan adiknya yang suka sok tahu dan agen blind date yang pantang menyerah, Titania bertekad membuktikan bahwa Brandon salah.
AliaZalea lahir di Jakarta, berbintang Taurus, dan seorang yang memercayai fengshui, itulah yang menyebabkan ia memilih nama aliaZalea sebagai nama pena-nya.
AliaZalea itu nama aslinya lho. Dalam penulisan biasa akan ditulis Alia Zalea, dan dengan beberapa pertimbangan ia menyetujui nama aliaZalea sebagai nama pena-nya dengan menekankan bahwa namanya itu harus ditulis dengan huruf “Z” besar di tengah-tengahnya.
Baiklah, aku tidak akan memulai mencetitakan buku ini dengan bagaimana sinopsisnya karena buku ini sangat ‘gampang’ dan mudah ditebak. Heran sih kenapa aku harus membeli buku ini? *hehe…* :) Sebentar, biar aku pikirkan kenapa aku membeli buku ini…..
Alasannya adalah karena waktu gw yang semakin terbatas untuk membaca buku, tapi gw sangat haus membaca buku menyebabkan aku harus mulai memilih genre buku-buku yang aku baca. Aku memutuskan untuk memilih buku yang gampang dipahami dan ringan. :) Akhirnya aku memilih untuk memilih buku METROPOP penerbit Gramedia ini.
Dan seperti tebakanku, buku ini gampang sekali dipahami dan sangat gampang untuk dilupakan. Heran….. mau bangat gramedia menerbitkan buku seperti ini. Yah… menurut gw, image penerbit ini khan besar, pasti akan melakukan penyeleksian ketat untuk skrip cerita terbaik. Huh… ini hanya opini saya sebagai pengemar buku. Sudah sering kali aku dikecewakan oleh penerbit gramedia karena buku-buku yang diterbitkan kurang dapat greget.
Bicara tentang genre buku metropop. Ini adalah chicklit versi Indonesia. Setelah berhasilnya dan banyaknya buku-buku chicklit-chicklit pengarang luar negeri masuk ke Indonesia, maka akhirnya gramedia mengeluarkan buku metropop sebagai produk local. O ya sekali lagi aku protes dengan kualitas penerbit gramedia. Buku-buku chicklit yang dikelurkan, kualitas terjemahannya bener-benar buat pembaca sakit kepala dan menyesal membeli bukunya karena memang kualitasnya kurang. Sekali lagi ini adalah opini dari gw sebagai penikmat buku.
Blind date adalah seri Metropop yang diterbitkan gramedia Juli 2010. Buku baru bangat. Tapi kembali aku disadarkan dengan buku yang punya kualitas ‘sinetron’ bangat. Tidak realistic dan terlalu kebarat-baratan. Penggunaan bahasa Inggris setengah-setengah, setting negara Amerika, kekayaan yang absurd, kegantengan dan kecantikan pemeran utama dan merek-merek terkenal di Luar Negeri. Armani… apa lagi itu… Sedikit sedih bangat karena telah membeli buku ini. Tapi karena ada nilai uang yang sudah aku investasikan, maka aku harus menyelesaikan buku ini.
Semakin aku membaca buku ini, semakin aku bosan dan malas. Tapi tetap…. Dan akhirnya aku bisa menyelesaikan buku ini. Hah… drama bangat. Drama yang dibut dengan versi Indonesia di luar negeri. Oh pliss deh… siapa si pengarang buku ini.
Buku ini jadi buku yang kontras bangat dengan buku andrea hirata yang bisa sangat sukses mengangkat tradisi melayu dan orang-orangnya. Ini lebih masuk akal dibandingkan buku seperti ini.
Buku metropop sempat membuat aku tergila-gila pada tahun 2005-2006. Kalau tidak salah, buku jenis banyak sekali dikeluarkan oleh gramedia. Aku menikmati beberapa buku-bukunya. Lupa dengan judul-judulnya. Bukunya menggambarkan percintaan di Indonesia. Tidak seperti buku ini. Aku tahu pengarangnya pernah sekolah di Kentucy. Tapi aduh, ga down to earth bangat.
Tapi untuk usahanya menulis buku ini, aku kasih rate 2/5 deh.
Awal bacanya tertarik, tapi lama-lama kenapa jadi kayak sinetron/FTV begini? Laki-bule-minded pula sepertinya. Too good to be true pula itu laki bule super oke naksir orang Indonesia yang nemu di supermarket. Kalau bule culun atau ada kekurangan sih masih bisa diterima logika, atau kalau orang Indonesianya punya karakter kuat yang lovely sampai2 si bule super oke itu cinta mati ya nggak apa2.
Capek deh. Tapi saya juga nggak bisa bikin novel sih, cuma enak ngomentarinnya ajah. Sebenarnya bukan salah penulisnya karena suka2 dia dong mau nulis apa. Tapi si penerbit dan editor mbok ya kasih masukan supaya pembaca gak dipaksa menelan sesuatu yang nggak logis :D
Di novel2 seperti ini, saya selalu menemukan tokoh utama saling suka karena ketertarikan fisik saja. Pembaca tidak diberi info ttg insight si tokoh kenapa dia sampai begitu disukai. Jadi kenapa cerita ini spesial sampai dijadikan novel?
Oke, saya percaya di real life memang ketertarikan fisik itu ada dan menjadi alasan kenapa orang saling suka. Tapi ini kan novel, bukan kisah kita yang mau kita ceritakan ke teman atau keluarga. Penulis harus bisa meng-convince pembaca kenapa si tokoh utama ini disukai, selain fisiknya, setidaknya membuat pembaca simpatik dan peduli dengan masalahnya. Oke dia tidak harus menjadi mary-sue atau malaikat. Dia bisa jadi bitch awalnya, tapi ada bencana besar yang menimpa si tokoh sehingga ada pembangunan karakter. Saya bukan menggurui, tapi ini harapan saya ketika membaca suatu novel.
okayyyy, saya baru sadar bahwa Titania itu sangat guoblokkkkk wkwkwkwk.
Reilley is just too perfect. I know, I said this many times. Too perfect which is impossible to find. :) ------------------------------------------------------------------------------ finished within 4 hours. noooooooo. i can't stop reading, smiling when there is Reilley's part. I'm so sorry, but I'm in love with Reilley. He's too hotttt.
suka dengan ide blind date, but, endingnya juga ngga menunjukkan bahwa Tita dan Reilley bertemu dan akhirnya jodoh karena blind date. masih agak bingung sama alasan Reilley kenapa dia ikut gabung blind date. still blur.
dan wow, Brandon terdampar begitu aja setelah kejadian dia bilang ke Tita kalo Reilley cuma mau sex dari Tita. he's just gone with the wind dengan penyelesaian "Tita memaksa untuk melapor ke polisi." geez. jadi kurang greget. disini sepertinya klimaks ditekankan saat Tita kecelakaan, which was uda diterangkan di prolog, dan jadi agak aneh saat memasuki part-nya di bab berapa itu.
still, i'm in love with Reilley which is too cool, hot untuk dilewatkan! oh, I wish masih ada lelaki seperti Reilley! #ngarep
Konfliknya sederhana, tentang perempuan yang diselingkuhin dan berniat membuktikan diri bahwa dia bisa cari pasangan yang mencintainya.
Lewat blind date dia berharap bisa berhasil. Namun berkali-kali melakukan kencan nggak ada yang klop. Dan akhirnya dia bertemu dengan si malaikat yang selalu membantu.
Terlalu banyak kebetulan, tapi yaa namanya juga tinggal di kota kecil jadi aku maklum deh. Kebetulannya juga nggak yang norak gimana gitu. Terkesan natural aja.
Aku benci banget sama si Brandon, laki-laki peselingkuh yg merasa dunia cuma berpusat di dia aja. Jengkelin banget. Untungnya ada Reilley, si malaikat yang baik dan bikin heartwarming dengan segala tingkahnya. Aku suka sama Titania, tapi menuju ending emosi karena "cari penyakit" sendiri.
Overall aku suka sih sama ini, alurnya juga nggak lama jadi nggak bikin bosen dan aku menikmati baca ini.
Hidup Titania Larasati berantakan setelah memergoki Brandon—pacarnya selama 3 tahun—berselingkuh dengan sekretarisnya. Apalagi perkataan Brandon, bahwa hanya dialah satu-satunya laki-laki yang akan pernah menginginkannya. Untuk mematahkan hal itu, Titania pun berusaha melupakan Brandon dan rela membayar $2000 untuk jasa blind date profesional yang menjanjikan sebuah pernikahan dalam kurun waktu 6 bulan. Apakah Titania berhasil menemukan calon suami yang mencintainya dan membuktikan bahwa Brandon salah?
Blind Date merupakan buku pertama dari aliaZalea yang aku baca, sekitar 10 tahun yang lalu. Aku langsung tertarik dengan cover designnya yang simple namun cantik dan blurb-nya yang cukup menarik. Baca buku ini, aku langsung jatuh cinta dengan tulisan kak Alia yang begitu mengalir dan ringan. Meskipun ceritanya klise dan banyak kebetulannya, tapi aku tetep suka banget sama bukunya! Oh, terutama sama karakter Titania dan Francis O'Reilley! Gila sih, aku bisa secinta itu sama Reilley. He's such a gentleman, yet too good to be true! Can I get someone like him, please? 🥺
Anyway, one of my travel destinations are North Carolina. Semua ini berawal sejak aku baca buku Blind Date yang berlokasi di North Carolina. Entah kenapa aku sangat tertarik dengan kota-kota yang disebutkan terutama Wilmington dan Winston-Salem. Padahal penggambarannya gak begitu detail. Keinginan ini diperkuat ketika baca dan nonton film-film adaptasi dari buku-buku Nicholas Sparks—A Walk to Remember, The Notebook, The Choice, The Longest Ride, Safe Haven dan The Last Song—yang kebanyakan menggambil setting tempat di North Carolina dan South Carolina, United States. Di mataku, tempat-tempat itu terlihat begitu indah! I wish I could go there one day!
Ternyata terakhir baca bulan Juni 2022 ya, pantes rasanya kayak baru kemarin. Sekarang Februari 2023, reread untuk ke sekian kalinya~ mungkin buat sebagian orang, Blind Date bukan favorit mereka, tapi bagiku sebaliknya, paling suka sama judul ini.
Banyak bagian yang kurang konsisten, contohnya buat penyebutan diri sendiri dalam percakapan² tokoh utamanya, kayak di awal mereka pakai "saya" terus tiba-tiba pas pertengahan pakai "aku", kirain bakalan begitu terus sampai ending, eh tahunya balik lagi ke "saya". Kalo ditanya hal janggal di novel ini, jelas banyak, nggak bisa dipungkiri ya, tapi setidaknya di sini tokohnya jauh lebih "sopan" daripada judul yang lainnya, prinsip Titania beneran dipegang teguh sampai akhir, salut karena itu.
Tokoh favorit Didi sih, dia mewakilkan pas bilang kalo Titania mendadak jadi g*bl*k kalo berurusan sama Brandon, dan emang iya. Wkwkwkwk. Sayangnya di buku yang nyeritain Didi aku kurang suka, sosok dia di sini beneran beda 180° udah lupa dulu tuh bacanya sampai beres apa enggak, tapi udah ngasih rating 1 aja. 😂
Buku pertama di 2017 ternyata adalah buku yg nggak saya suka. Aduh, capek banget bacanya. Sebuku ceritanya begitu doang. Bahkan saya udah nggak punya energi buat nulis reviewnya, karena dari awal sampai akhir ceritanya nggak bisa masuk ke otak saya, biarpun saya paksa.
Jadi, saya baca buku ini karena penasaran sama karyanya Mbak Alia Zalea, yang menurut review teman-teman di Goodreads, bagus. Tapi memang review orang tuh sering punya efek terbalik buat saya, apalagi di genre-genre romens dalam negeri, khususnya lagi Metropop macam ini. Sebenernya sih saya penasaran sama yang "Dirty Little Secret", tapi karena di iJak yang tersedia cuma ini, ya jadi saya pikir gak papalah buat kenalan dulu sama karyanya dia.
Baru baca beberapa halaman, saya langsung menyesal. Tapi saya masih berusaha untuk mengikuti. Hingga sampai beberapa bab, saya sudah menyerah untuk memahami cerita ini, karena saya sudah lelah dan ehm... eneg. Maaf ya Mbak, sepertinya cerita romens gaya mbak memang nggak cocok buat orang macam saya.
Pertama, saya nggak suka dengan ketidakefektifan kalimat-kalimatnya. Banyak kalimat yang bisa disampaikan secara sederhana tapi dijelaskan dengan kata yang berputar dan membuat saya capek. Kedua, saya nggak suka dengan pemilihan katanya, yang menurut saya kadang nggak pas sama situasi. Lagi situasi non formal eh dipake bahasa formal dan sebaliknya. Maaf saya nggak menyertakan contoh, karena saya terlalu malas untuk mencarinya. Ketiga, novel ini nggak bisa dibaca oleh warga negara Indonesia yang nggak mengerti Bahasa Inggris. Meskipun bisa dipahami kenapa pakai boso enggris karena si cewek tinggal di Amrik dan pacaran sama bule, tapi tetap saja itu nggak sesuai sama selera saya. Ketika ada satu kalimat berbahasa asing yang dipakai, saya nggak masalah. Tapi satu paragraf.... Dan satu paragraf lagi... Dan satu paragraf lagi.... Eerrrrrrrr... Terlalu berlebihan saya rasa.
Buat saya, membangun suasana keamrikan nggak perlu dengan memakai bahasa Inggris saja. Itu memang sebaiknya dipakai, asal sesuai porsinya. Latar tempat dan suasana bisa digunakan untuk mengantarkan pembaca seolah berada di sana, menyaksikan kedua tokohnya berinteraksi secara langsung. Tidak perlu dengan terus menggunakan Bahasa Inggris, yang tidak dimengerti oleh banyak orang di negara ini. Eh tapi mungkin karena Metropop, jadi memang khusus untuk orang-orang kalangan ibukota yang doyan pake boso enggris, kali yaa.... Heuheuheuu
Jadi, itulah kira-kira kesan saya setelah membaca novel ini. Saya nggak tau bagaimana karya Mbak Alia Zalea berikutnya, tapi sepertinya novel ini membuat saya cukup kapok untuk mencicipi karyanya yang lainnya.
Hey, how could i never read this book along this time, before a few days ago when i decided to read it? Suka banget ama gaya penulisannya! Ngalir khas metropop dan in my opinion sih... ummm... smart! People can talk about the differences point of view about something that called "metropop". Tapi buat saya, metropop selalu menarik untuk dibaca (don't debate me, will ya?):)))
But somehow (kayaknya yang pernah baca review-review saya di Goodreads agak bosen denger statement ini), yap... kebetulan terlalu terjadi dimana-mana. Dan seperti yang biasa saya komentarin, yes--it may be destined one to another. Tapi kalau terlalu banyak... errr... agak-agak mikir... this book is kinda too far from real, yah walaupun jelas ceritanya fiksi. But as a reader, we love to be a part of the story. Am i rite?
Pertemuan pertama sih, oke, jelas. Pertemuan kedua, kebetulan "ban bocor"... ummm, i was little bit being trapped in a disappointment. Trus... ketemu di restoran (wah!). Mulai parah pas ketemu di blind date-nya (but actually this is the main point of the story, isn't it? Yah... berharap ada "cara" lain aja gitu buat jadi benang merah antara: Blind Date-Titania-The Guy).Dan "boom"nya adalah ternyata tuh cowok yang nolong Tita pas awal-awal cerita.
Protesnya banyak banget yaaa? Hahahaha... it's just a comment. Terlepas dari itu, serius deh, saya suka ama novel ini... :)
Not the most worst story dari seri ini, tapi somehow agak kurang klik dengan karakter ceweknya. Kenapa kebanyakan udah aged, tapi kelakuannya kayak masih labil sangat. Well, sepertinya bakal kasih 3.8 aja buat buku ini.
Kisah Titania dan Reilley ini menarik sih, bertemu lewat takdir dan memutuskan mengenal lebih jauh lewat blind date. Menariknya, semua insiden ada benang merahnya. Selebihnya diselingi perasaan gemas dan greget.
Parahnya greget dengan kelakuan super nyeleneh si Tita ini. Bisa-bisa dia menghubungi Brandon buat... ah silahkan baca sendiri dan menentukan jenis kekesalan apa yang akan kalian tumpahkan ke sini. Maybe bakal baca seri lain sebelum berlanjut ke Pentagon series? Soalnya walaupun kelakuan karakter ceweknya kadang idih, tapi bikin candu, apalagi alur dan kejutannya. Eh, sama kadar kemanisannya yang ketakar sih, hehe.
udah lama banget nih buku, iseng aja mau aku review biar nggak kosong listnya wkakakaka *penting amat ya*
aku kasih 4 bintang, otomatis ketika aku baca aku suka nih ya sama novel ini. Ini kayaknya awal-awal aku masih baru kenalan sama novel-novel metropop deh, (dan belum kenal sama novel2 terjemahan), jadi persepsinya masih baru banget. Ya gatau ya kalo baca lagi masih suka atau enggak, kayaknya sih aku nggak bakalan baca lagi.
Anyway, yang aku inget waktu baca buku ini adalah aku suka sama cara pendekatan setiap tokohnya, momen-momen mereka dan obrolan mereka, cuma agak terganggu soalnya pake 'saya' jadi formal gitu. Tapi suka banget deh sama klimaksnya, gak tau pokoknya sukaaaa banget. Dimunculkan di prolog tapi nggak sadar sampe ketika aku mencapai klimaksnya itu.
Titania menjalani hubungan yang cukup serius dengan Brandon selama 3 tahun ini. Sayangnya, kebahagiaan yang tengah dikecap gadis itu luluh lantak tatkala ia memergoki sang kekasih berselingkuh di depan matanya sendiri. Sungguh bukan hal yang mudah bagi Titania untuk melupakan perselingkuhan tersebut. Belum lagi, sang mantan kekasih malah mengolok-oloknya &berkata "Kamu lihat saja, tidak akan ada laki-laki yang mau dengan kamu! Tidak akan ada laki-laki yang bisa tahan berhubungan dengan kamu! Akulah satu-satunya laki-laki untuk kamu!"
Dalam rangka melupakan sang mantan & membuktikan bahwa pria itu salah besar, Titania pun merogoh kocek yang cukup banyak untuk ikutan blind date di MyBlindDate (MBD). Harapannya adalah bisa segera menemukan pria yang dapat dinikahinya kelak.
Ditengah-tengah kesibukan pekerjaan & jadwal kencan buta yang diatur oleh MBD, Titania justru beberapa kali bertemu dengan Reilley yang bukan hanya sempurna secara fisik, namun juga cukup mapan dan entah bagaimana kerap membuat Titania tersengat listrik jika berdekatan dengannya.
Akankah Titania akhirnya menemukan Mr. Right pada diri pria yang ditemuinya saat blind date? Siapa sebenarnya Reilley yang timbul tenggelam muncul dihadapan Titania? Akankah Brandon benar-benar berhenti mengganggunya da pergi dari kehidupannya? ------------------------------------------------- Ini adalah buku pertama AliaZalea yang kubaca. Overall, aku cukup menikmatinya dan cukup terkejut karena aku berhasil menuntaskannya dalam sekali duduk. Seperti yang sudah kuposting sebelumnya, aku membaca Blind Date via aplikasi iJakarta .
Jujur saja, aku ikut kesengsem sama sosok Reilley dalam buku ini. He's too good to be true! Tampan, atletis, kaya, sayang sama keluarga. Pokoknya tipikal cowok-cowok yang bakal bikin cewek klepek-klepek deh! Sebaliknya, Brandon merupakan tipe cowok menjijikkan! Heran deh si Titania beberapa kali dibuat baper sama dia.
Novel ini mengisahkan si karakter utama perempuan yang sukses bekerja di Amerika, dia punya kekasih yang selain ganteng seperti dewa Yunani juga sukses tajir melintir. Kemudian si tokoh perempuan patah hati karena kekasihnya selingkuh dan akhirnya dia memutuskan untuk mencari calon kekasih idaman yang ideal lewat aplikasi dating online.
Dari sekian genre romantis yang pernah aku baca, novel ini sepertinya bukan yang paling aku suka. Istilahnya that wasn't my cup of tea.
Pertama, sepanjang membaca aku dibuat gagal paham alasan si karakter perempuan yang terkesan lebih memilih pria keturunan Kaukasia. Saat di bagian si admin dating online yang "menawarkan" pilihan kandidat kencan, aku merasa tidak nyaman waktu si karakter perempuan yang aku lupa namanya membuat daftar "kekurangan" dari calon kandidat terkesan men-diskredit. Terutama di bagian pria keturunan Asia "ditolak karena buta warna".
Kedua, si karakter utama seperti melakukan praktek white supremacy dengan narasi dia bahwa pria ganteng dan tinggi itu pasti keturunan Kaukasia. Dan ketiga, ada part yang tidak masuk akal dari Female Lead, dia langsung mau "skinship" dengan laki-laki Kaukasia yang baru dia temui pas mobilnya mogok. Selain itu juga aku menemukan beberapa dialog dari interaksi karakter kurang dewasa untuk standard obrolan orang dewasa.
Kelebihan novel ini yang lumayan bagus, penulis cukup mendetail menjelaskan lingkungan dan life style di kota Amerika. Penjelasan soal arsitektural yang ada di kota Amerika memakai bahasa yang enak diikuti.
sebenarnya setelah membaca 3/4 buku berniat ngasih 3* (naik 1* dari crash into you), tapi setelah kebodohan yang dilakukan si cewek jadinya turun 1/2*...
Setelah puas dengan The Devil in Black Jeans, saya memutuskan untuk memburu dan membaca buku-buku aliaZalea lainnya. Pilihan saya jatuh pada Blind Date ini. Sayangnya, setelah membaca buku ini saya tidak mendapatkan kepuasan yang sama dengan ketika saya membaca dan menyelesaikan The Devil in Black Jeans. Alasannya:
1. Sebenarnya kebanyakan novel romance didasarkan pada tema yang klise dan umum--patah hati lalu bertemu dengan orang baru, dilema antara persahabatan dan rasa cinta, benci-jadi-cinta, dsb. Yang menjadikan sebuah novel romance menarik dan berbeda dengan novel romance lainnya adalah bagaimana si penulis meramu konflik demi konflik dan menciptakan alur yang membuat pembaca tidak bosan bahkan tidak mampu meletakkan buku tersebut sebelum selesai membacanya. Hal inilah yang tidak saya dapati di dalam buku ini. Temanya yang umum (patah hati lalu bertemu orang baru) hanya diramu 'seadanya' oleh aliaZalea sehingga cerita dan alurnya sangat ringan.
2. Terlalu banyak kebetulan pertemuan yang dialami kedua tokoh utamanya, Titania dan Reilley. Mulai dari ban bocor, pertemuan di restaurant, pertemuan di tempat parkir hingga blind date. Bahkan belakangan diketahui bahwa Reilley adalah salah satu orang yang pernah menolongnya di awal cerita.
3. Bagian ending terkesan terburu-buru dan dipaksakan bahkan tidak klimaks.
Meski demikian harus saya akui bahwa saya sangat menyukai cara 'bertutur' aliaZalea yang rapi. Dan meskipun saya sedikit kecewa dengan bukunya yang satu ini, saya masih penasaran ingin membaca buku-bukunya yang lain. :)
"Mbak, kayaknya Mbak harus menjelaskan ke aku deh. Mengapa laki-laki yang perhatian kepada Mbak, dan selalu baik kepada Mbak mengindikasikan mereka akan memutus hubungan?" (Hal 239) . . . ❤ Blind Date menjadi novel mba Aliazalea yang saya baca setelah judul Miss Pesimis dan cukup sukses membuat saya tertawa selama proses membaca karena usaha Titania untuk mencari pria yang sesuai dengan kriterianya yang justru dia 'temukan' secara tidak sengaja lewat insiden yang melibatkan Brandon,mantan kekasih Titania.
❤ Saya pikir, walaupun tidak menjabarkan secara penuh, novel ini memberikan kita gambaran bahwa tidak sedikit wanita di Indonesia khususnya memikirkan kesesuaian antara usia dengan pernikahan. Juga, novel ini menghadirkan ide yang barangkali cukup berbeda dibandingkan beberapa karya lokal yang terbit pada rentang tahun 2011,yakni tentang hubungan antara dua kenegaraan dan budaya yang berbeda.
❤ Konflik asmara yang menurut saya cukup berhasil dalam menghidupkan cerita dengan hubungan yang bergerak perlahan dengan sedikit bumbu tarik ulur.
❤ Novel yang ditulis dgn sudut pandang Titania dgn bahasa yg mudah dicerna. Juga terdapat dialog dan beberapa deskripsi yg berbahasa Inggris.
❤ Jujur, dalam pikiran saya selama ini bahwa pria non-Asia adalah tipe yang sulit bertahan dalam hubungan berpacaran yang tidak melibatkan aksi sentuh menyentuh, namun penulis berhasil menghadirkan tokoh Reilley yang cukup toleran dgn budaya Indonesia terkait sentuh menyentuh antara lawan jenis.
❤ Salah satu novel yang bisa saya sarankan untuk menjadi bacaan di kala santai.
Kinda disappointed with this one. Probably the weakest out of all the novels by this author that I have read. The story is cliche, the writing reads like a translation instead of written by a native speaker (and I suffered the same thing with my novel which is how I could recognize it) and there was just way too many English being slipped into it in general. Almost made me wish she'd just write the whole thing in English. The main character can be frustratingly dumb and really annoyed me at some point, and I found it hard to believe that the guy fell in love with her so completely after a month(?) of dating and decided to propose. I wish the process was shown more (not to mention he already dreamed about having sex with her on their official first date? Ummm okay). This might be too shocking for our culture as well, but I guess it's justified because it was set in America. Still, this would probably work so much better had it not have any Indonesian characters at all.
Too good to be true? Ember. Cliche? Gak perlu ditanya. Karakter cewek labil? Ampun-ampunan dah!
Terus kenapa dong empat bintang? Gaya ceritanya, cin. Enak. Ngalir aja. Itu pantas buat dapat poin plus. Biasanya saya paling males dengan cerita-cerita yang kayak gini. Tapi penulisan yang maknyus emang terbukti bikin betah. Mantap.
It is a light read. Jangan baca sambil mikir realistis atau tidak. Terima aja dan enjoy the storyline yang agak too good to be true. If you start complaining, you would find even more and more things to complained about. 3 stars.. just because i quite enjoyed reading the earlier part dan gaya penulisannya.
p.s : atau mungkin aku yang salah - baca buku untuk remaja terbitan 10 tahun lalu ketika umur udah kelewat dewasa.
Mendadak saya ingin membaca cerita bergenre romantis dan teringat saya masih punya beberapa buku yang belum pernah dibuka dan bergenre itu.
Apakah saya menikmati cerita ini? Ya jika saya hanya mempertimbangkan apa yang menjadi niat awal saya. Buku ini menawarkan cerita bergenre romance dan ceritanya mudah diikuti. Meski begitu, ada beberapa hal yang menurut saya bisa membuat buku ini makin disukai.
Pertama, ok latarnya memang di luar negeri, Amerika Serikat tepatnya, sehingga tidak aneh jika banyak dialog dan monolog yang disampaikan dalam bahasa Inggris. Masalahnya, penulis tetap mempertahankan asal tokoh perempuan dari Indonesia, tetapi tidak memberi porsi apa pun tentang latar tersebut—tidak perihal budaya atau sekadar makanan. Latar belakang ini sia-sia dan mungkin membuat banyak pembaca justru berbalik melihat latar cerita kebarat-baratan.
Kedua, ok jika penulis ingin berargumen bahwa kegagalan hubungan tokoh perempuan sebelumnya akibat perselingkuhan membuatnya trauma dan berdampak dalam hubungannya saat ini. Biar begitu, ya jangan menampilkan plot gol bunuh diri juga sampai membuat pembaca geregetan, bahkan menganggapnya bodoh. Masalah kok dicari, cobaan kok dicobain.
Ketiga, akhir cerita yang… hmm, entah apa bisa dibilang cukup atau tidak. Buat saya, akhir yang dipilih penulis adalah akhir yang mudah. Kesempatan kedua dengan bumbu khawatir kehilangan selamanya membuat kebodohan sebelumnya seolah bisa dimaafkan, tapi apakah ada solusi? Seingat saya tidak. Para tokoh hanya sepakat untuk kembali bersama tanpa ada akhir untuk trauma maupun orang yang membuat trauma. Dipikir-pikir, awal cerita juga mudah—beberapa pertemuan tidak sengaja yang sepertinya langsung dapat meyakinkan kedua tokok untuk saling suka, jatuh cinta bahkan kalau dilihat sampai akhir. Saya jadi penasaran, ada gak sih situasi seperti ini di dunia nyata?
Jadiii, ya untuk sekadar memenuhi hasrat ingin membaca cerita bergenre romance versi kehidupan metropolitan, tanpa ada faktor-faktor lain yang perlu dipertimbangkan, buku ini bisa jadi pilihan.
Looks like I totally forgot to write a review for this book. Sigh. Let me mentally prepare myself first.
This book tells the story of a woman named Titania who gets cheated on, books a blind date, and wants to find a husband—just to prove to her ex that she can do better. An interesting theme, right? Well... buckle up.
There are a lot of “ifs” in this book. And to be honest, I really, really couldn’t stand the main character. Titania gave off a vibe that made me think, “Yeah, I probably wouldn’t even want to be friends with her.” She falls in love way too fast, judges people based on appearances, and her descriptions of the male lead? Shallow and over the top. The way she jumps to conclusions without thinking things through—ugh, let me take a deep breath.
And don’t even get me started on how easily she lets her ex mess with her head. Titania literally called her ex then brags about her new man, and he with his a good manipulative words, brainwash Tita thoughts and boom—Titania is ready to throw away her current relationship. That’s when I really lost my patience. You feel me?
Now let’s talk about the man. Her new guy is straight out of a romance novel: handsome, rich, royal, smart, kind, humble—basically a unicorn in human form. And yet, he falls in love with her? A walking red flag? Props to him for being so patient, though. I’m sorry, I’m not trying to be a Titania hater, but... maybe I am.
Some parts honestly made me cringe—too much like a soap opera. Bump into each other at the supermarket? Fall in love at first sight based on looks alone? Come on. I really wish the author had dug deeper into their personalities, showed us their strengths and flaws, let us grow with them. But nah.
Still, I have to give credit where it’s due, the author knows how to hook me. Her writing is light, witty, and effortlessly her. I always love her style. But sadly, this book just isn’t one of my favorites.
Setelah putus dari Brandon, Titania mencoba move on, sekaligus membuktikan bahwa perkataan Brandon tentang dirinya adalah salah, Titania mengikuti program blind date yang cukup terkenal (terkenal gara-gara muncul di Oprah). Titania menandatangani kontrak selama 6 bulan. Dan selama itu pula, banyak laki-kali yang ia kencani, dan tidak ada yang sesuai dengan keinginannya. Ia mulai putus asa bahwa kata-kata Brandon menjadi kenyataan.
Aku harus menyarankan pada kak Alia Zalea untuk menulis thriller atau misteri. Kenapa? Karena sepanjang novel ini, Penulis mengombang-ambing aku tentang siapa calon tokoh utama cowok yang akan menjadi pasangan Titania. Dan aku nggak akan menyebut nama cowok itu di sini, biar kamu yg mulai membaca novel ini ikut nebak-nebak siapa cowo yang akan jadi pasangan Titania. Karena jujur aja, Penulis "menipu" aku beberapa kali dengan munculnya banyak cowo yang memenuhi standar jadi tokoh utama 😅
Aku suka romance-nya. Cara penulis membawakan karakter Tinatia dan Mr. X itu dewasa sekali dan manis di saat bersamaan. Suka sama Mr. X yg menghormati kehormatan Titania hingga menikah. Suka sama emosi yang timbul setelahnya dan gimana lanjutan hubungan mereka.
Masalah sepele pun muncul. Sebenarnya nggak sepele, karena beda budaya, yang bikin Titania tiba-tiba ragu apa benar Mr. X mencintainya? Disini sempat ngutuk Titania sih, nyebelin.
Pesannya sih keren. Cowo yang benar-benar cinta sama cewe-nya akan menjaga kehormatan si cewe dan bukannya menggunakan alasan tersebut untuk selingkuh.
Intinya sih, aku sukak sama novel ini. Banget malah 😘 Nggak berbelit-belit sekaligus bikin betah buat baca sampai habis dalam sekali duduk.
Hm, tapi agak dewasa. Aku rasa nggak masalah juga sih kalau dibaca remaja.
-Blind Date- (3/5) Selain prolog dan epilog, kisah ini menggunakan alur mundur.
Menceritakan proses Titania bertemu dengan soulmate-nya pasca perpisahan tragis dengan Brandon yg telah dipacarinya selama 3 thn. Pisahnya benar2 horor. Brandon ketauan selingkuh dgn asistennya. Setelah putus, Titania bukannya hidup dengan damai malah diteror tiada henti oleh Brandon.
Guna memutarbalikkan omongan Brandon jika tidak ada pria yg cocok dengan Titania selain dirinya, Titania merogoh kocek dalam2 mengikuti program blinddate.com yg tingkat kecocokan menemukan pasangan lebih akurat.
Sebenarnya sejak prolog sudah bisa ketebak sih cowok yg bakal jadi soulmate Titania. Meski begitu yg bikin terus fokus baca kisah ini adalah bagian kegalauan Titania dalam menentukan pasangan.
Bahkan meski sudah klik dgn si cowok, dia tetap aja pengen terus ngelakuin date dengan pria2 lain (mumpung masih ada kesempatan). Di sini pengen rasanya noyor kepala Titania. Kok bisa2nya gitu masang dua kaki. Untungnya date lekas berhenti pasca lamaran si soulmate.
Gemesnya, Titania bukannya say yes ke si cowok ehh malah janjian ketemuan dgn Brandon dgn niat mau pamerin cincin lamarannya plus ngebuktiin klo asumsi Brandon keliru besar.
Namanya juga cowok psikopat. Pastinya doi ngasih sugesti yg engga2lah. Bodohnya? Titania pake acara percaya lagi! Trs ujug2 memengaruhi rencana nikah! Kesel maksimal 'kan baca ni cerita?!
Jadi di BD ini setidaknya pembaca diajak mikir agar jgn suka plin-plan ngambil keputusan. Dan ga usah percaya opsi mantan!
Setelah aku membaca novel ini, ada dua masalah yang aku garis bawahi tebal-tebal yaitu tentang perbedaan budaya (Titania一orang Asia一tinggal di negara Amerika) terlihat jelas gap budaya yang sangat jauh tentunya. Di mulai dari Brandon (mantan pacar Titania) yang memilih berselingkuh hanya untuk mencari kepuasan seks semata karena Titania tidak bisa memberikan keperawanannya sebelum ia menikah kelak.
Dari permasalahan di awal saja, sudah terlihat perbedaan budaya yang sangat dipegang erat oleh Titania ketika tinggal di negeri orang. Bagi orang Asia, mempertahankan mahkota wanita (aka keperawanan) adalah hal yang wajib dilakukan. Sementara budaya orang barat, melakukan seks bebas (tanpa hubungan) sudah seperti kegiatan sehari-hari.
Lewat novel ini, ada beberapa pesan yang aku tangkap. Pertama soal pacaran sehat, dimana memiliki hubungan secara sehat, tidak ada toxic dan lebih mengutamakan menjaga mahkota wanitanya. Kedua, jangan pernah kembali lagi pada musuhmu hanya untuk pamer ataupun sekedar say thanks atau dia akan balik menyerang, seperti Brandon. Ketiga, nggak semua rasa sayang ataupun cinta harus diungkapkan dengan tiga kata一I LOVE YOU一setiap pasangan punya cara menyampaikan / mengekspresikan masing-masing. Terakhir, ingat budaya setiap tempat itu berbeda-beda bahkan budaya setiap penghuni rumah pun berbeda, apa lagi budaya suatu negara.
Ini adalah buku kesukaan saya kedua dari hasil karya AliaZalea. Yang pertama tetap saja Dirty Little Secret. Saya suka buku ini dan tergila-gila sekali sama Reilley! Posisi saya saat ini mirip dengan Titania, karena itu saya mengerti sekali perasaannya. Baca buku ini juga sukses buat saya sangat ingin punya sosok adik seperti Didi dan keluarga semenarik The O'Reilleys dalam hidup saya. Andai saja hidup seindah dalam novel....
Walaupun saya suka, masih ada beberapa kejanggalan di buku ini yang bikin 'nggak lengkap'. Kenapa sih Titania ngotot benar pengin buktiin dirinya ke Brandon di bagian klimaks buku? saya setuju banget sama Didi yang bilang Titania itu pintar tapi mendadak jadi goblok kalau dekat-dekat Brandon. (beneran ditulis goblok ya sama penulisnya, bukan saya yang bilang gitu. gimana pun juga rasanya kata 'goblok' itu kasar sekali lol). Saya juga tadinya berharap Titania akan bertemu Sandra (agennya di MBD) dan jadi best friend atau apa kek gitu. Saya suka tokoh Sandra, walaupun hanya jadi peran pembantu. Kesannya mulia sekali, gitu, menjodohkan dua orang yang lalu menikah. Apa saya aja yang mikir begini?
Over all bagus sekali. i would definitely recommend this book to my friends. :)
Selesai baca buku ini hanya dalam waktu di bawah 24 jam, berhubung gue udah baca Miss Pesimis duluan, jadi udah bisa langsung tau sih sebenernya cerita akhirnya. Cara menulisnya tetap khas AliaZalea, makanya gue baca bisa cepet banget. Tapi duuuh ceritanya klise banget ya? Sama seperti Miss Pesimis, terlalu banyak kebetulan yang mustahil terjadi di kejadian nyata. Untuk beberapa kejadian, alurnya terlalu cepat dan ngga diceritakan secara jelas, dan lagi kejadian yang gue makaud di sini adalah kejadian yang seharusnya penting. Klimaks di buku ini juga ngga banget :( astaghfirullah maafin kalo gue jahat.. Tapi duh ya, menghubungi mantan untuk pamer udah tunangan? Kayaknya kemungkinannya kecil banget deh kejadian di dunia nyata. Lalu juga ada beberapa halaman saat Titania membanding bandingkan Reilley dan Brandon, katanya selama bertahun tahun pacaran Brandonnya ngga pernah muji masakan Titania lah, ngga pernah membantu cuci piring di dapur lah... Lah terus gimana coba dia bisa pacaran bertahun tahun gitu? Hiks untung tutur ceritanya enak dan ringan, makanya nih bisa selesai cepet banget.
This entire review has been hidden because of spoilers.