Jump to ratings and reviews
Rate this book

Project L

Rate this book

232 pages, Paperback

First published March 1, 2010

2 people are currently reading
47 people want to read

About the author

Muti Siahaan

4 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
10 (14%)
4 stars
13 (18%)
3 stars
33 (46%)
2 stars
10 (14%)
1 star
5 (7%)
Displaying 1 - 8 of 8 reviews
467 reviews
July 7, 2010
Awalnya aq beli novel ini karena tertarik dengan covernya. Tapi meskipun begitu, novel ini sukses bertahan dengan masih tersegel di tumpukan novel-novelku. Aku lebih medahulukan novel-novel lain, seperti Fate Orizuka, Jingga dan Senja Esti Kinasih.

Tapi…kemarin entah ada angin apa aku ingin membaca novel ini. Apalagi teman-ku yang bernama Riesty mencoba merayuku untuk membaca novel Project L.
Dan saat membaca…jujur komentar awalku…ini cerita standar yang sudah berjuta2 kali ada di Sinetron, di novel, komik, bahkan di kehidupan remaja. Tapi aku tetap membaca, karena aku penasaran bagaimana sikap si tokoh dalam menghadapi masalah.

Sarah –cewek jutek, antisocial, apalagi sama cowok…juteknya amit-amit deh!-.
Danny –cute, ramah, dan cewe popular-
Mereka berdua bersahabat dan akrab, walau awalnya sempat seperti anjing dan kucing. Mereka dekat dan akrab berkat suatu proyek yang mereka kerjakan bersama. Proyek itu dinamakan “Project L”. Kepanjangannya adalah Project Library. Mereka memang punya misi untuk mendirikan perpustakaan di rumah Sarah.

Lepas dari misi itu, heumm…-tidak jauh-jauh dari masalah remaja sekarang, cinta. Memang…Love is everywhere, hehe-.. Danny ini cinta mati sama seorang cowok bernama Tommy. Tommy yang terkenal play boy karena banyak sekali cewek yang naksir dia.

–Play boy ini cuma ansumsi Sarah saja, tanpa dia tahu kebenarannya apakah betul Tommy itu seplay boy yang dia kira? Yang dia tahu kenyataannya Tommy itu tukang tebar pesona dan pernah menggaet cewek tercantik di angkatan mereka-

Belakangan karena sama-sama anak OSIS, Tommy sering coba mengajak ngobrol Sarah. Meskipun digonggongin sama Sarah, dia maju tak gentar. Entah kenapa dia malah senang mengahdapi sikap jutek Sarah.
Di lain hal, karena Danny naksir Tommy, Sarah membantu Danny dekat sama Tommy.

Cerita pun berjalan mulussss….
Tapi, sayangnya Tommy lebih memilih Sarah ketimbang Danny. Dan lambat laun, Sarah pun mulai menyukai perhatian dan kebaikan Tommy.
Sarah jadi bingung. Dia menyukai Tommy, tapi juga tidak mau menyakiti perasaan Dhanny.

Apa yang terjadi di antara mereka bertiga? Sarah, Danny, dan Tommy??
_Sudah aku katakan, sudah banyak kisah seperti ini. Yang intinya, dua cewek bersahabat dan sedang mengalami masalah berat…yaitu cowok! Dimana salah satu cewek itu menjadi korban perasaan akibat keegoisan cewek yang satunya. Ck. *aku paling benci cerita seperti ini*

Ditambah lagi ketidak berdayaan si cowok yang tentunya nggak bisa berbuat apa-apa. Dia nggak mungkin nerima hati cewek yang nggak dicintainya –walau pun disogok SEMILYAR uang- dan juga nggak bisa menyatakan hatinya ke cewek yang dia cinta karena si cewek yang jadi korban perasaan ini lebih mengutamakan perasaan SAHABATnya.

Tapi bukan itu yang harus kita perhatikan di sini. Melainkan bagaimana si penulis menyampaikan alurnya dan penyelesaiannya??

SPOILER:

Saya akan mengcopy satu halaman dari cerita novel ini.

“Gue minta maaf. Tapi gue nggak mungkin jadian sama elo. Gue nggak punya perasaan apa-apa sama elo.Gue minta kita nggak perlu temenan dan ketemu lagi,” ucap Sarah dengan nada datar.

“Kalau elo mau nolak nggak masalah. Tapi kenapa kita nggak bisa tetap berteman?” Ada nada kecewa dalam suara Tommy.

“Nggak aja. Karena kalau kita temenan, bisa menimbulkan prasangka yang bukan-bukan.”

“Elo khawatir amat sih sama pandangan orang! Kayak bukan elo aja!”

“Gue nggak peduli sama pandangan orang. Gue peduli sama Danny.”

“Masih Danny aja yang jadi pikiran lo?” Tommy mengerang sebal.

“Ya iyalah. Elo tega banget bilang begitu.” Sekarang Sarah mulai nyolot. Di kupingnya kalimat Tommy terdengar sangat egois. Dirinya mungkin bukan teman yang menyenangkan dan baik hati, tapi dia nggak akan pernah mengkhianati sahabatnya sendiri. Apalagi sahabatnya itu sudah dia anggap sebagai adik sendiri.

“Sarah, kalau elo khawatir Danny marah karena kita temenan, gue bisa jelasin ke dia. Gue bakal bilang, gue nggak punya perasaan apa-apa sama dia. Antara gue dan dia cuma sebatas teman. Sama seperti keinginan elo, kita nggak ada apa-apa. Beres kan?”

“Beres apanya! Danny itu suka sama elo!” ucap Sarah ketus.

“Jadi, elo minta gue jadian sama dia, gitu?” balas Tommy nggak kalah ketus.

“Terserah elo! Gue cuma minta kita nggak perlu ketemu dan berteman lagi. Hanya itu! Teman elo kan banyak. Cewek-cewek yang mau temenan sama cowok popular kayak elo juga bejibun. Tinggal elo pilih. Susah amat!” ucap Sarah jutek.

“Gitu, ya!”

Mendengar jawaban pendek Tommy, Sarah langsung menyesal telah ngomong soal kepopuleran. Mata Tommy tampak terluka.

“Tom, please banget. Kalau elo bener-bener teman gue, tolong permintaan gue dikabulin. Mungkin tahun depan atau nanti-nanti kita bisa temanan lagi.”

Tommy menatap Sarah lama sekali. Hanya menatap. Tanpa kata-kata dan tanpa senyum. Sarah jadi jengah diliatin seperti itu.

“Well, kalau elo maunya gitu, oke. Hari ini kita berpisah,” akhirnya Tommy buka mulut.

Ditatapnya sekali lagi wajah Sarah. Dia berusaha melihat dan mengingat setiap detail, setiap mili, bahkan setiap pixel wajah cantik di hadapannya itu.

“Bye, Sarah.”

***
Itu lah penyelesaian pertengahan yang diambil sang penulis untuk perjalanan kisah kasih mereka. (aku ngomong apa seeh)
Bagaimana kelanjutannya??

***

(SPOILER)

Life goes on. Begitulah. hidup harus dijalani, suka atau nggak suka. Sarah, Danny, dan Tommy harus menjalani minggu-minggu yang menyakitkan dengan segala beban dan masalahnya. Cinta segi tiga yang di setiap sudutnya ada orang yang terluka.

*penyelesaian awal penulis*

Untung dalam hidup ini ada rutinitas yang perlahan mampu melumatkan emosi setiap orang. Menyerut habis rasa suka, gembira, kesedihan, luka dan kepedihan. Membuat segalanya berjalan dengan emosi yang sama. Datar seperti garis lurus.

Sarah akirnya terbiasa dengan melihat Tommy dari kejauhan tanpa disertai perasaan sedih, nggak enak, atau emosi lainnya.Danny sudah nggak kecewa lagi karena salah membaca sinyal cinta dari Tommy. Dia punya banyak kesibukan dan gebetan baru yang lain.Tommy pun sudah bisa melihat sosok Sarah dan Danny sama seperti dia melihat cewek lainnya.

Tapi, manusia adalah makhluk yang dibentuk oleh emosional. Suatu saat tanpa disadari, getaran-getaran itu muncul kembali.Menggerakan kembali garis datar itu. Ke atas dan ke bawah, walau cuma sedikit.
*ternyata penyelesaiannya sederhana, hanya saja dibuat ribet dan susah*
Danny pacaran dengan Irwan (yang sudah bisa aku tebak dari awal). Jadi, Danny membujuk Sarah untuk berbaikan dengan Tommy. Tapi mereka berdua GENGSIAN.

Satu kata itu yang bikin masalah nggak selesai-selesai!!

Sebel banget aku baca ini novel.! Aaa…padahal masalahnya ternyata nggak serumit yang aku bayangkan.

Tapi syukur Lah, egois berhasil dikalahkan.. Sarah dan Tommy kembali teguran berkat usaha Danny dan Irwan. And kelanjutan hubungan mereka??
Tidak terjelaskan. Tapi rasanya aku punya bayangan bagaimana kelanjutan mereka. Karena di akhri cerita, Tommy mengatakan pada Sarah, “Gue harap lo mau bantuin proyek gue”

“Proyek apaan?”

“Project L. Project of Love.”
***

Intinya sih , aku bisa dapat apa maksud dari ceritanya. Yaitu korban cinta, perasaan egois, dll. Seandainya semua cewek yang “egois” bisa seperti Danny, mungkin di dunia bakal nggak ada cewek yang jadi “korban perasaan”. Soalnya sebel aku! Tiap nonton sinetron selalu disuguhi adegan cewek yang jadi korban perasaan dan harus mengalah demi perasaan…apa itu? Cinta? Suka? Kagum? Perasaan sejenis itu Lah.
Dari 10 skala, aku beri 6,9 buat novel ini. Project L. Walau pun begitu, aku tetap rekomendasikan novel ini buat dibaca. Siapa tahu bisa membantu solusi kalau2 kalian punya masalah yang sama seperti Tommy, Danny, dan Sarah ^^
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Juno Tisno.
Author 1 book20 followers
January 24, 2013
Cerita dalam Project L berpusat pada dua karakter (ingat, novel ini menggunakan sudut pandang ketiga serba tahu), yakni Sarah dan Danny. Danny sendiri sebenarnya tidak memiliki hubungan saudara dengan Sarah, tapi ia menumpang tinggal di rumah Sarah. Nah, sejak awal pertemuan mereka, keduanya cenderung tidak pernah akur, dan seringkali terlibat dalam perselisihan kecil.

Sarah sendiri sebenarnya memiliki keinginan untuk membuat perpustakaan pribadi di rumahnya setelah ia mendapati seorang bocah kecil yang acapkali mampir ke rumahnya untuk membaca karena tidak memiliki uang untuk membeli buku. Ia merahasiakan proyek ini pada Danny pada awalnya, tapi pada akhirnya, ia mengizinkan Danny untuk turut membantunya juga. Ia kemudian juga mengizinkan orang lain lagi, Tommy, untuk ikut mengurusi perpustakaan kecilnya itu.

Dengan dipadu cinta segitiga antara Sarah-Tommy-Danny, sepertinya perpustakaan Sarah tidak akan sesepi perpustakaan biasa....

Kalau saya ditanya mengenai satu hal yang paling menarik dalam buku ini, maka saya akan dengan tegas menjawab: karakterisasi. Yup, Muti dengan sukses telah membangun karakter kedua tokoh utama Project L, Sarah dan Danny. Melalui sikap dan perkataan yang ia tulis, Muti membuat Sarah terlihat seperti cewek yang dingin, kaku, dan agak dewasa, sementara Danny terlihat ceria dan sedikit kekanakkan. Background kedua karakternya juga diutarakan meskipun berada di dua halaman yang berbeda. Nice one.

Selain itu, saya juga kagum dengan kepiawaian penulis dalam mendeskripsikan dunia per-hip hop-an dan breakdance. Lihat saja halaman 92 hingga 100. Meskipun sebenarnya bukan hal yang rumit untuk mencari istilah tersebut lewat Google, tapi saya menghargai usaha sang penulis yang mau mencarinya.

Kemudian, masalah konflik. Meskipun novel ini memiliki judul Project L dan sampulnya menggambarkan Sarah membawa sekotak buku, tapi sepertinya Muti tidak menjadikan perpustakaan sebagai cerita utamanya. Memang, ada beberapa halaman yang didedikasikan khusus untuk menceritakan perkembangan proyek perpustakaan Sarah, tapi dalam pandangan saya, cerita justru lebih didominasi oleh cerita cinta segitiga Sarah-Tommy-Danny (kalau bisa dibilang segitiga, karena Sarah sendiri tidak ada rasa pada Tommy—pada awalnya). Konflik yang benar-benar melibatkan proyek perpustakaannya justru berada di seperempat akhir kisah ini (bab 9 ke atas). Perpustakaan justru lebih condong kepada setting semata. Sebenarnya, kalau sang pengarang mau, bagian perpustakaan dalam Project L bisa diekspolarasi secara lebih mendalam, sehingga nilai moralnya juga kena. Meskipun begitu, sisa dua bab itu lumayanlah, karena digarap secara intens sehingga cukup membuat twist dalam cerita (meski penyelesaiannya dalam pandangan saya agak wagu juga).

Kesimpulannya, Muti sepertinya termasuk pengarang yang kuat dalam karakter, tapi untuk konflik, harus lenih fokus lagi.

Sebagai penutup, entah saya yang belum mengerti atau bagaimana, tapi apa artinya kata "jiper" yang berulang kali muncul dalam novel ini? Ada yang tahu?

Penilaian? Secara keseluruhan, dengan beberapa flashback di sejumlah adegan, alur dalam novel ini tidak buruk juga. Ceritanya yang mengandung pesan sosial cukup segar, meski kalau ditilik lebih dalam, pesan sosial itu sedikit teredam oleh kisah cinta para karakter utama. Kalau kamu suka novel dengan unsur kepedulian sosial di dalamnya, bolehlah novel ini menjadi selingan.
Profile Image for Viktoria.
135 reviews1 follower
May 13, 2014
“Dalam berteman, yang penting tuh elo cocok dan nyaman bersama mereka.” (hlm. 136)


Jadiii, novel ini sebenarnya udah ketahuan garis besar ceritanya kalau dilihat dari sinopsisnya. Yup, garis besarnya. Dan saya cukup suka novel ini. Khasnya teenlit: nggak berat-berat dan temanya juga keseharian. Sangaaat ringan, lumayan cepet juga bacanya cukup sehari :) saya juga suka ide Sarah mendirikan perpustakaan. Jujur, udah lama banget pengen kayak gitu juga. Memanfaatkan buku-buku yang saya punya untuk dibaca orang lain juga, daripada hanya terpendam di lemari dan sesekali saja tersentuh kembali. Novel ini membangkitkan motivasi tersendiri bagi saya, sekaligus menjadi pembelajaran kalau jaga perpustakaan itu tak semudah yang dibayangkan (banyak godaan: males, bosen, mengantuk, dan lain-lain).

Tapi sepanjang saya membaca, ada 1-2 hal yang saya rasa kurang logis dan nggak menyambung satu sama lain. Contohnya, dua momen percakapan di bawah ini:

“… Eh Sar, elo tau nggak kalau Tommy suka Tupac Shakur?” tanya Danny sebelum melangkah keluar.
Sarah menghentikan gerakannya Apa dia nggak salah dengar? “Siapa?”
“Tupac Shakur. Kayaknya sih pemusik, tapi nggak tahu juga ya. Penyanyi India, kali.”
“Kayaknya sih nggak. Tapi udah ah, gue nggak tahu!” (hlm. 27)


…Sarah juga suka musik hip hop. Dan yang lebih penting, dia suka banget sama Tupac Shakur. Koleksi Sarah lengkap. Nggak hanya CD, tapi juga buku dan kumpulan puisi Tupac. Sarah ngasih bocoran, kalau mau cepat hafal, dengerin aja album 2Pac The Greatest Hits, karena di album yang isinya double CD itu terdapat lagu-lagu hitnya Tupac. (hlm. 38)


See? Di momen pertama Sarah nggak kenal Tupac Shakur, tapi di momen kedua dijelaskan kalo Sarah punya banyak koleksi berbau Tupac Shakur. Kalo Sarah sampai memberi ‘bocoran’ kepada Danny, itu artinya Sarah sangat sangat tahu tentang Tupac Shakur kan? Di situlah saya melihat ada yang tidak sinkron.

Di sini komplit khas teenlit lagi: keluarga, sekolah, teman, cinta. Geng-geng populer sekolah, kegiatan rapat, masalah keluarga, hubungan pertemanan, dan intrik percintaan. Yang saya suka adalah karakter tokoh-tokohnya dibangun kuat, seperti apa mereka dan apa yang menyebabkan mereka seperti itu. Tapi sayangnya makin ke belakang kok sepertinya kurang, seperti terburu-buru ingin diselesaikan. Konflik cinta Danny-Sarah-Tommy juga [SPOILER] hilang begitu saja ketika Danny suka cowok lain. Apa karena tokoh-tokohnya masih remaja, jadi hati gampang beralih begitu saja? Hahaha. Tapi overall, saya cukup menikmati!

“Gue nggak mau pura-pura senyum kalau memang hati gue nggak tersenyum.”
“Gimana kalau elo jangan pura-pura jutek kalau sebenarnya hati elo nggak lagi jutek?” (hlm. 221)
Profile Image for Zuhria Husna.
27 reviews7 followers
February 12, 2013
Aku membeli buku ini karena (pertama) buku ini didiskon 25% di Gramedia, trus (kedua) aku tertarik dengan reviewnya yang menceritakan tentang gadis SMA yang ingin mendirikan sebuah perpustakaan melalui "Project L"-nya. Ide mendirikan perpustakaan itu sangat bagus (karena aku juga mempunyai mimpi yang serupa). Jujur saja aku mengabaikan cerita cinta segitiga dalam buku ini karena terlalu "remaja" (dan aku bukan remaja lagi). Tapi menarik juga ceritanya karena membuat aku bernostalgia dengan masa-masa SMA yang sangat menyenangkan
Author 17 books22 followers
January 16, 2011
Untuk ukuran jenis buku yang biasanya tidak membuatku tertarik untuk membaca, buku ini cukup menarik. Terutama karena ada selipan kisah tentang pembuatan perpustakaan. Saat kanak-kanak dan remaja dulu, aku pun ingin punya perpustakaan :).
Profile Image for Anita.
14 reviews
April 8, 2014
Sudah lama baca ini. tapi, baru update di goodreads. hehe. Tokoh-tokohnya sih gak begitu menarik. tapi aku masih ingat jelas sama ceritanya. tentang bikin perpustakaan. semenjak baca ini jadi kepengen bikin perpus sendiri heheheee
Profile Image for Shannon.
47 reviews
June 17, 2011
This is a first written novel by Muti Siahaan, but it looks as if she's been writing for years on end!
Displaying 1 - 8 of 8 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.