Sarah - mahasiswi jurusan Sejarah yang sedang menyusun skripsi - ingin menyelidiki peristiwa pembantaian anggota PKI tahun 1965. Untuk itu ia datang ke desa Karya di daerah Jombang, Jawa Timur. Ia tidak tahu bahwa penelitiannya selama seminggu di sana akan mengubah hidupnya.
Semua penduduk desa yang diajaknya bicara tentang topik yang peka itu diam seribu bahasa. Hambatan utama penelitian Sarah datang dari Surya, anak anggota PKI yang terbantai. Masa lalu yang kelam membuat Surya berwatak keras. Ia menganggap Sarah hanyalah gadis kaya yang cuma tahu bersenang-senang dan menghabiskan uang orangtua.
Ketika penelitiannya hampir berakhir, Sarah menyadari dirinya telah jatuh hati pada Surya, padahal pria itu kekasih orang yang memberinya tumpangan selama seminggu berada di desa itu.
Apakah Sarah sanggup menghancurkan kebahagiaan orang lain demi kebahagiaannya sendiri?
Agnes Jessica adalah mantan guru matematika SMUK I BPK Penabur Jakarta. Karena ingin mengembangkan bakat seni, walau ia suka mengajar dan murid-muridnya juga suka diajar olehnya, ia keluar dan memilih berkarya sebagai penulis novel. Selain menulis, ia juga suka menggubah lagu, main gitar, keyboard, dan menyanyi. Ia sudah melahirkan sebelas novel yang berjudul Jejak Kupu-Kupu, Rumah Beratap Bougenvil, Dua Bayang-Bayang, Satu Abad Sekajap Mata, Peluang Kedua, Dongeng Sebelum Tidur, Bunga Yang Terbuang, Angan Sang Cinderella, Jakarta An Undercover Life, Noda Tak Kasamata dan Maharani. Selain memakai nama Agnes Jessica, ia kerap menulis dengan nama samaran Yoshiko Agunesu. Keiginan utamanya adalah bisa berkarya terus; keinginan kedua: bisa diterima di hati pembaca; dan keinginan terakhir: happily ever after. Bila ada yang ingin berkomunikasi melalui surat, silakan kirim ke PO BOX 1410 Jkb 11014, atau ke alamat e-mail: agnesjessi@yahoo.com.
Novel ini mengambil setting tahun 1998, masa di mana era Reformasi menggantikan Orde Baru. Sarah, seorang mahasiswa jurusan Sejarah, ingin melakukan penelitian mengenai penumpasan PKI pada tahun 1965 silam. Menurut Sarah, runtuhnya Orde Baru adalah momentum yang pas untuk mengangkat kebenaran tentang pelaku dan korban penumpasan PKI. Untuk itu Sarah memilih desa Karya, Jombang, salah satu basis PKI pada tahun 1965, sebagai lokasi penelitiannya. Untungnya, dosennya punya kenalan yang tinggal di desa itu dan siap menampung Sarah selama penelitian.
Tentu saja penelitian Sarah tidak berjalan dengan mulus. Tidak ada yang mau menjadi narasumber untuk membuka luka lama di kota itu. Lastri, anak dari kepala desa Karya, membantu Sarah dengan mengenalkannya kepada beberapa penduduk desa. Temasuk juga kepada Surya, pria yang dicintainya, anak salah seorang anggota PKI yang ikut tewas dalam penumpasan anggota PKI. Selama puluhan tahun Surya dan keluarganya merasakan susahnya hidup gara-gara label anggota PKI. Padahal ayahnya dulu ikut partai PKI dengan alasan yang sama dengan kebanyakan penduduk desa lainnya. PKI menawarkan kesamaan derajat pada anggotanya. Tidak ada yang kaya dan miskin, semua sama. Berkecukupan dan tidak kekurangan, sebagaimana paham komunis yang mereka ketahui. Semua petani dan buruh ikut PKI, yang makin lama makin besar. Dan ketika PKI ditumpas, banyak sekali petani dan buruh yang dibantai tanpa hukum yang jelas.
Awalnya Surya tidak mau memberikan keterangan apapun kepada Sarah. Tetapi, karena kegigihan Sarah, akhirnya Surya melunak. Dalam waktu 3 hari Sarah dan Surya menyadari bahwa mereka saling mencintai. Tentu saja Lastri yang sudah menaruh harapan lama kepada Surya merasa sakit hati. Bantuan yang diberikannya kepada Sarah justru dibalas Sarah dengan mengambil kekasihnya.
Alur cerita dalam novel ini cukup sederhana, dan hampir terkesan seperti tidak berkembang dengan baik. Seorang gadis yang seorang diri pergi meneliti tentang PKI pada akhir masa Orde Baru, dan hanya dilakukan dalam waktu kurang dari seminggu, dengan metode wawancara pada beberapa orang, rasanya terlalu gampangan. Apalagi penelitiannya untuk skripsi. Bahkan kepala desa tidak berperan apa-apa, misalnya memberikan pengarahan sebelumnya kepada masyarakatnya atau apalah untuk membantu seorang mahasiswa yang mencari data di desanya. Penelitian yang dilakukan oleh Sarah terkesan tidak resmi. Belum lagi kisah cinta Sarah dan Surya yang kilat, hanya 2-3 kali bertemu mereka sudah jatuh cinta. Saya malah lebih suka dengan kisah Dewi, kakak Surya, yang bisu gara-gara menjadi saksi mata pembantaian ayahnya, dan selama bertahun-tahun memendam cintanya pada Arif, anak seorang pemimpin tim penumpas PKI.
Buku yang berani membahas tentang Gerakan 30 September 1965. Lho bukannya buku ini kisah cinta? Kenapa jadi kayak buku sejarah?
Hmm... Awalnya tokoh utama kita, Sarah adalah calon guru sejarah yang mau menyelesaikan skripsinya dengan judul 'Peristiwa Pembantaian Besar-besaran Anggota PKI pada Tahun 1965'. Oleh karenanya Sarah berniat untuk mengadakan penelitiannya di salah satu desa di Jombang yang dulunya adalah pusat partai tersebut.
Orang-orang desa tidak menerima kehadiran Sarah dengan tangan terbuka. Walaupun peristiwa tersebut telah terjadi 33 tahun yang lalu (penelitian yang Sarah lakukan di tahun 1998), tapi masih menyimpan kenangan buruk bagi banyak warga desa dan tidak mudah untuk mengorek informasi mengenai siapa saja orang yang terlibat langsung di dalamnya.
Selama di desa, Sarah menumpang tinggal di rumah Lastri. Lastri bersedia membantu Sarah untuk menemui beberapa tokoh yang mungkin dapat membantu skripsi Sarah. Salah satunya adalah Surya. Ayah Surya dibunuh karena ia adalah anggota PKI. Dewi, kakak Surya, menjadi bisu sejak berumur 4 tahun karena melihat ayahnya dibantai.
Beberapa kali Sarah tidak sengaja bertemu dengan Surya yang membuatnya menjadi nyaman ketika bersamanya. Padahal sebelum pergi ke desa, Sarah memiliki Gunawan, pacarnya selama dua tahun. Dan Surya memiliki Lastri...
Bagaimana hubungan Sarah dan Surya? Apakah Sarah berhasil menyelesaikan penelitiannya?
-----------
Sekali lagi saya sebutkan bahwa buku ini berani. Berani menyinggung hal-hal yang teredam oleh pemerintah. Sebenarnya sebelum membaca buku ini, saya tidak memiliki pikiran apapun mengenai PKI. Tapi setelah membacanya mungkin sedikit banyak mengerti apa yang dimaksudkan oleh penulis lewat Sarah.
Saya lebih menikmati membaca bagian wawancara Sarah dengan mereka yang terlibat, terlepas benar atau tidaknya ada penelitian yang sejenis, namun wawancara tersebut tentu dapat menimbulkan kengerian sendiri.
Lain halnya dengan kisah cinta yang agak dangkal menurut saya, dan lagi-lagi tokoh utama pria berumur jauh lebih tua dari tokoh utama wanita (biasa saya temui di beberapa buku penulis). Dengan penyelesaian akhir dengan konflik yang juga tidak terlalu berat dan dibuat cepat tuntas.
Saya juga menikmati ketikan tulisan yang berukuran lebih besar dari biasanya sehingga buku dengan tebal 192 halaman ini dapat dengan cepat saya habiskan.
Buku yang tidak hanya menyuguhkan kisah cinta biasa, namun dapat memberikan perspektif yang berbeda terhadap suatu sejarah yang pernah ada dan benar terjadi, yang hingga saat ini masih 'tabu' untuk dibicarakan secara terbuka.
Sarah memutuskan mengambil tema skripsi yang ekstrim. Dia ingin menyelidiki pembantaian anggota PKI tahun 1965. Hal yang membuatnya harus turun lapangan di Desa Karya, Jombang, Jawa Timur.
Awalnya Sarah begitu bersemangat melakukan penelitian tentang itu. Namun ternyata tak semudah yang dipikirkannya! Penduduk yang bersinggungan langsung dengan peristiwa itu merasa terlalu kelam mengingatnya. Tentu saja, siapa yang mau mengingat peristiwa tragis pembantaian keluarganya?🥺
Namun Sarah pantang menyerah. Dia berusaha menggali informasi demi mengulik sejarah yang benar! Dia pun menemui Surya, anak mantan anggota PKI yang dibantai. Surya bungkam, bahkan ia begitu ketus pada Sarah!
Seiring berjalannya waktu Sarah dan Surya justru saling jatuh hati. Bagaimana bisa? Padahal Sarah telah memiliki kekasih. Dan Surya telah menjalani hubungan dengan Lastri, gadis yang rumahnya ditumpangi oleh Sarah. Bagaimana akhir kisah mereka? Lantas mampukah Sarah menuntaskan penelitiannya? Yuk langsung aja baca novelnya!!!
🌿🌿🌿 Novel berlatar tahun 1965 dan 1998 ini mengangkat tema yang jarang diekspos. Bagian awalnya saja sudah membuatku miris, kisah yang sangat tragis. Tentang pembantaian anggota PKI. Pergolakan politik yang kelam! Namun juga dibumbui romansa yang manis. Ada juga romansa yang terhalang kepentingan politik🤧 Ah, benar-benar berhasil mengaduk-aduk perasaan!
Alurnya cukup cepat. Gaya bahasanya sangat ringan. Recommended untuk penggemar genre His-Fi dengan bumbu-bumbu romansa😅
Seperti novel Agnes Jessica lainny, ceritanya tidak jauh-jauh dari kisah cinta si miskin dan si kaya. Noda Tak Kasat Mata lebih menekankan kepada unsur sosial. Saya lebih suka Noda Tak Kasat Mata dibandingkan dengan Piano di Kotak Kaca. Alurnya, konfliknya, bahkan karakternya. Meskipun di bagian ending sudah tertebak dan ditutup dengan buru-buru. Saya suka.
topik yang diambil cukup menantang yah tentang cewek yang melakukan penelitian terhadap pembantaian pki tahun 1965. Aku suka topiknya dan karakter-karakter yang menurutku cukup menarik, cuma untuk development romansa Sarah dan Surya instan sekali waw. Dan buku ini tipissss banget jadi menurutku eksekusinya kurang... terlalu buru-buru gitu.
Setelah baca blurb nya aku mulai inget sama ceritanya. Deserve 5 star. Untukku dulu yg pernah baca di waktu sma juga. Karena buku ini juga jadi cari karya2 agnes jessica
Lagi-lagi kurang terkesan sama novel Agnes Jessica yang satu ini. Kemungkinan besar sih karena bukunya tipis, sehingga ceritanya tidak berkembang terlalu banyak - jadi tidak seru. Terkadang ceritanya malah terkesan membosankan karena lebih banyak mengulas cerita sejarah mengenai G30S/PKI.
--Noda Tak Kasatmata bercerita tentang seorang gadis bernama Sarah. Ia kuliah jurusan sejarah dan akan melakukan skripsinya. Pada saat itu, Indonesia sedang gencar-gencarnya mengekspos sejarah tentang pembantaian G30S/PKI tersebut. Hal ini membuat Sarah tertarik untuk mengangkat topik tersebut sebagai bahan skripsinya.
Namun usahanya untuk mencari bahan skripsinya bukanlah hal yang mudah, karena tidak ada informasi penting yang ia dapatkan bersangkutan dengan kejadian tersebut dimana-mana. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke Jombang, Jawa Timur, untuk mewawancara sendiri orang-orang yang mungkin adalah keturunan atau saksi mata pembantaian tersebut.
Dengan bantuan seorang kenalan bernama Lastri, Sarah dapat berkeliling untuk menanyakan perihal kejadian mengerikan 30 tahun yang lalu. Akan tetapi semuanya tidak berjalan mulus. Kebanyakan orang sangat tertutup dan sama sekali tidak mau menceritakan lebih jelas tentang kebenaran sejarah, termasuk seorang lelaki bernama Surya. Surya adalah anak dari salah satu orang yang terbunuh dalam pembantaian tersebut.
Penilitian tersebut tidak hanya membuahkan hasil skripsinya yang cukup baik bagi Sarah, akan tetapi juga cinta yang tak pernah ia rasakan pada pacarnya sebelumnya. Tanpa ia sadari, Sarah sudah jatuh cinta pada Surya. Namun Lastri - orang yang selama ini membantunya - sudah mencintai Surya terlebih dahulu.
Dan cerita berlanjut dari situ....
Menurutku plot ceritanya terlalu biasa dan semuanya terkesan terlalu mudah. Jadi secara keseluruhan ceritanya kurang bagus untukku. Apalagi karena aku sudah punya ekspektasi yang tinggi setiap membaca karya Agnes Jessica, aku langsung kecewa begitu selesai baca yang ini. :(
Sarah - mahasiswi jurusan Sejarah yang sedang menyusun skripsi - ingin menyelidiki peristiwa pembantaian anggota PKI tahun 1965. Untuk itu ia datang ke desa Karya di daerah Jombang, Jawa Timur. Ia tidak tahu bahwa penelitiannya selama seminggu di sana akan mengubah hidupnya.
Semua penduduk desa yang diajaknya bicara tentang topik yang peka itu diam seribu bahasa. Hambatan utama penelitian Sarah datang dari Surya, anak anggota PKI yang terbantai. Masa lalu yang kelam membuat Surya berwatak keras. Ia menganggap Sarah hanyalah gadis kaya yang cuma tahu bersenang-senang dan menghabiskan uang orangtua.
Ketika penelitiannya hampir berakhir, Sarah menyadari dirinya telah jatuh hati pada Surya, padahal pria itu kekasih orang yang memberinya tumpangan selama seminggu berada di desa itu.
Apakah Sarah sanggup menghancurkan kebahagiaan orang lain demi kebahagiaannya sendiri?
Selalu suka karya-karya Agnes Jessica yang ini mudah dinikmati. Alurnya jelas, saya merasa terbawa emosi Sarah, terbawa ke latar tempat cerita, di sebuah desa di Jombang. Saya pun ikut terbawa ke dalam getirnya sejarah masa kelam pembantaian PKI, yang hampir absen dalam buku-buku sejarah di sekolah-sekolah. Tidak hanya kisah cinta, ada sejarah di dalam buku ini yang seakan minta dikulik lebih lanjut. Menggugah saya untuk mencari buku-buku lain yang dapat memuaskan keingintahuan tentang apa yang terjadi kala itu.
buku ini kutemukan di antara tumpukan buku-buku obralan di pameran buku, tahun 2007 silam. yang aku punya cetakan 2004, mungkin yang ada disini adalah sampul yang cetakan baru dengan penerbit berbeda. tapi ceritanya cukup berkesan buatku, mengisahkan sedikit cerita tentang kehidupan para keturunan pki serta terjadinya tragedi tersebut. dan satu yang khas dari tulisan agnes jessica adalah kehidupan percintaan tokohnya, cukup menarik...
Menarik sekali, tak menyangka ada cerita sedalam ini dalam judul Noda Tak Kasat Mata. Buku ini mencampuradukkan emosi. Kadang membuat saya cukup bingung harus merasa iba, senang, benci, atau yang lainnya. Begitu sederhana dengan latar belakang desa tempat dimana dahulu pernah terjadi kasus pembantaian anggota PKI. Buku ini juga membuka wawasan tentang kasus PKI. Keren, saya rasa tak sembarang orang bisa menerima buku ini dengan pandangan terbuka.
aku suka dengan cerita ini, tidak melulu akan CINTA, tapi juga mengulas tentang perjuangan seorang gadis dalam mencari kebenaran dari sejarah. sungguh salut untuk AJ yang mampu bereksplorasi dengan cerita-cerita yang terkesan sulit untuk ditulis semacam ini.
Udah baca buku ini untuk kesekian kian kian kalinya. Tapi gak pernah mengecewakan! Selalu berhasil buat aku deg-degan, sakit hati, dan sedikit air mata ( walaupun waktu pertama kali baca lebih bercucuran )
Beli buku ini karena diskon dan karena penulisnya kesukaan. Cuma mungkin karena terbitan lawas, bahasanya masih jadul dan isinya tentang PKI... kurang tertarik. Trus terlalu singkat jadi proses jatuh cintanya si Sarah ke Surya terlalu singkat.
cukup 3 bintang aja ya untuk buku ini. entahlah apa karena memang buku ini tipis dan banyak cerita yang sepertinya terlalu diburu-buru sehingga agak kurang jelas..
suka bgt dg judul ini,tema yg diusung jg agak sensitif yaitu PKI,meskipun dilumuri dg romansa antara tokoh utama tp tdk membuat ketegangan cerita luntur..goodjob