Situated along the line that divides the rich ecologies of Asia and Australia, the Indonesian archipelago is a hotbed for scientific exploration, and scientists from around the world have made key discoveries there. But why do the names of Indonesia’s own scientists rarely appear in the annals of scientific history? In The Floracrats Andrew Goss examines the professional lives of Indonesian naturalists and biologists, to show what happens to science when a powerful state becomes its greatest, and indeed only, patron. With only one purse to pay for research, Indonesia’s scientists followed a state agenda focused mainly on exploiting the country’s most valuable natural resources—above all its major export quinine, sugar, coffee, tea, rubber, and indigo. The result was a class of botanic bureaucrats that Goss dubs the “floracrats.” Drawing on archives and oral histories, he shows how these scientists strove for the Enlightenment ideal of objective, universal, and useful knowledge, even as they betrayed that ideal by failing to share scientific knowledge with the general public. With each chapter, Goss details the phases of power and the personalities in Indonesia that have struggled with this dilemma, from the early colonial era, through independence, to the modern Indonesian state. Goss shows just how limiting dependence on an all-powerful state can be for a scientific community, no matter how idealistic its individual scientists may be.
Untuk isi..wow wow wow…ini gem banget ada sejarah ilmuwan di Indo, biasanya sejarah cuma ttg politik or ekonomi or budaya, tapi tentang ilmuwan, di Indo pula..jarang banget, sebagai pencinta sains, nih buku langsung saya sambar, dan cover-nya itu lhooo..so romantic.
Gaya penulisannya memang bukan soft, lebih berupa makalah, tapi setelah dengan sabar diikuti, menarik buangettss..tentang politik seputar penanaman pohon kina, tentang Junghun yg dipaksa-paksa menelurkan hasil secepatnya krn dana pemerintah gak balik, tentang Treub yg ambisius dan menyulap Kebun Raya Buitenzorg jadi salah satu lembaga sains terkemuka di Eropa…betul saudara2, itu Kebun Raya yg depannya macet terus, dan suka ada mafia tikar, yg main taro tiker tak bertuan, pas kita dudukin keluar minta duit..yeah..itu adalah lembaga sains yg tuker-tukeran preparat sama kebun raya di Jerman dan dipuji2 berbagai ilmuwan sbg salah satu lembaga ilmiah terkemuka di dunia, krn fasilitas lengkap, disediakan porter yg angkut2 barang kalau ilmuwan mau ekxpedisi, ada akomodasi, ada tenaga2 lab pribumi yg bisa bikin preparat…pada jamannya yah..pada jamannya..
Ah, berkesan banget nih buku, tentang kekacauan lembaga ilmu ketika Belanda harus angkat kaki, tiba2 semua dinasionalisasikan but gak ada org Indo yg qualified, dan ketika politik menjadi panas, ilmuwan2 ini ketakutan menentukan tema riset, takut gak sesuai sama hawa politik dan jadi sasaran pemerintah. Sebagai bekas mahasiswa yg pernah kebingungan sama tema riset, ini bisa saya hayati banget
Tentang ilmuwan yg dpt beasiswa tp melarikan diri dari ikatan dinas karena tidak kondusif-nya iklim penelitian di Indonesia sampai dicabut kewarganegaraannya, ttg ilmuwan2 idealis yg terpaksa jadi ilmuwan meja tulis demi mendapat gaji memadai…aih..aih..SUPERB..
BUT…terjemahannya itu lhoo…alamakjan…hampir membunuh niat membaca di awal
Hal 21 Sebelum penduduk sipil tercerahkan yang bersemangat tinggi berhasil dijinakkan… APA COBA MAKSUDNYAAAA….APAAAA Ini mah cuma mentah2 dr Inggrisnya toh? Lebih mudah dimengerti kalau kita baca asli di Inggrisnya deh
Hal 21 Para apostel pencerahan membawa pesan tidak hanya perihal pengetahuan alam yang superior, tetapi juga tentang partisipasi populer dalam menentukan masa depan koloni. Apostel pencerahan itu apa ya? Langsung kebayang 12 Rasul Kristus dengan muka bercahaya…gubrax
Lebih lucunya lagi, di tengah2 buku, kata apostel pencerahan ini berubah jadi Floracrat, oke, setelah di google ternyata ini memang kata ciptaan si penulis, jadi penerjemah tentunya kesulitan krn gak ada padanannya di bahasa Indo. Tapi ya, mending ditulis floracrat aja kan? Dengan membaca buku kita dapat nuansanya.
Sampai saya bolak-balik, oh, ternyata memang ada 2 penterjemah, tapi hey! Saya juga pernah terlibat proyek terjemahan raksasa yang dikerjakan bersama oleh lebih dari 2 penterjemah,dan adalah TANGGUNG JAWAB EDITOR untuk MENYELARASKAN semua istilah berbeda2 yg dipakai oleh bbrp penterjemah tersebut sehingga buku menjadi satu kesatuan. Atau kalau males, ya biarin satu penterjemah aja yg kerjain dengan resiko waktunya jadi lama.
Entah yg mana dari 2 penterjemah itu, tapi saya lebih suka paruh belakang, rasanya lebih natural bahasanya.
Saya percaya, misi seorang penterjemah bukan hanya mengganti satu bahasa menjadi bahasa lainnya, tapi juga 'mengunyah' isi dan mengemasnya jadi lebih mudah dimengerti utk pembaca. Kalau cuma di translate begitu aja, saya jadi curiga deh, ini penterjemahnya mungkin gak terlalu ngerti maksud teks dan main aman.
Entah kenapa dulu waktu belajar sejarah, kita ngga diajarin soal sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Berawal dari nonton videonya Frame and Sentences dan baca review dari temanku, tertarik deh buat baca buku yang satu ini.
Katanya, lembaga penelitiannya Hindia Belanda itu ngga kalah canggih sama negara negara lain. Tapi kok, makin kesini, makin ngga keliatan ya? Apa yang terjadi? Pokoknya, lagi lagi ada sentuhan 'politik', karena buat kepentingan para penguasa gitu deh, akhirnya pengetahuan ngga bisa berkembang seidealnya. Bahkan, ngga tau deh sekarang rencana riset dan teknologi mau dibawa kemana. Tapi, ya pernah oke di zaman itu aja. Dan emang sih, seperti katanya Foucault, kalo pengetahuan ya, ngga bisa dilepasin sama kekuasaan sih, ya ngga?
Nah, buat yang suka sejarah, kayanya bole nih baca buku yang satu ini, aku ngga ngerti ya kenapa kalo bahasan Indonesia, yang nulis lengkap malah orang asing. Oh iya, di sini ada bahasan soal Kebun Raya Bogor juga, tapi ehm bukan bahas soal jalan jalan atau kulinerannya ya, lebih ke posisinya dulu sebagai surganya eksplorasi ilmiah.
Btw bukunya ada 7 bab, yang tiap babnya, bikin mindblowing deh beneran ._. Ini versi terjemahannya lumayan juga
Science is always political. Lewat bukunya, Goss menyajikan bagaimana gagalnya ilmuwan-ilmuwan Eropa awal (floracrats; para ilmuwan bidang botani) yang memiliki idealisme Pencerahan untuk menghadirkan masyarakat terpelajar di Hindia Belanda. Lewat pemerintahan kolonial para ilmuwan diarahkan untuk riset-riset yang berorientasi profitabilitas dan menutup kemungkinan untuk membangun interaksi dengan masyarakat lokal. Saat pascakolonial, Goss memberi perspektif mengapa riset di Indonesia cenderung mandek disamping minimnya kultur independen.
Suka sekali! Buku ini panjang-lebar mengupas produksi pengetahuan di Indonesia yang bermasalah karena patronase negara. Pola ini ditemukan nyaris sejalan dari periode kolonialisme dan pascakemerdekaan. Fokusnya adalah ilmuwan botani, di mana mereka bersusah payah menuruti arahan pemerintah dan kelembagaan. Banyak temuan-temuan menarik di sini, antara lain yang berkaitan dengan pendirian Kebun Raya Bogor, kelompok intelektual era Politik Etis, dan masalah dekolonisasi pengetahuan itu sendiri. Saya setuju dengan keluhan terjemahan terutama di bagian awal buku, namun tesis buku ini kelewat menarik dan hal itulah yang membuat saya bisa menikmati bukunya :)