Jump to ratings and reviews
Rate this book

Orang Miskin Dilarang Sekolah: Mimpi-Mimpi Tak Terjamah

Rate this book
“Sungguh mengerikan dan bahkan melukai hati saat membaca novel ini. Jika kita masih punya nurani, kita akan merasa dihajar habis-habisan oleh novel ini. Bagaimana tidak?! Bukankah tak pernah ada orang yang bermimpi lahir jadi miskin, kere, tak punya apa-apa, tapi gara-gara itu semua mereka tak diberi hak untuk pintar, cerdas, kreatif, dan inovatif?! Mereka dilarang memasuki dunia sekolah, fasilitas bermain yang menggoda, hingga mereka hanya bisa memagut dagu dari balik pagar tinggi nan angkuh dengan mata kecil yang penuh rayu dan pilu. Ya Tuhan, mimpi itu amat jauh dari jangakaun tangan mungil mereka, (tepatnya) dibuat jauh oleh dzalimnya ‘penilaian harga manusia’ atas dasar kaya-miskin. Bacalah novel pengetuk hati ini, Anda pasti akan terasah untuk berempati... Semoga...”
Ibnu Hajar, M.Pd., guru, praktisi pendidikan, di Jawa Timur.

“Novel ini menggetarkan hati...gugatan atas sistematisasi kemiskinan di negeri ini, dari sudut pandang sang bocah yang tak pernah mengerti mengapa ia tidak boleh sekolah!”
Taufiqurrahman al-Azizy, novelis muslim kontemporer.

Bagaimanakah rasanya diasingkan gara-gara Anda miskin? Bagaimanakah pilunya hati Anda dilarang bermain, bersantai, menikmati hidup hanya karena Anda tak punya uang? Bagaimanakah rasanya bila Anda (terpaksa) hanya kuasa berdiri di balik pagar tinggi, memegangnya, dengan (hanya) tatapan mata menembus ragam keindahan fasilitas hidup di balik sana, lantaran Anda miskin?
Dari balik mata bening tak berdosanya, bocah itu tak kunjung mengerti mengapa ia dilarang bersekolah, bermain, bersahabat, dan bergembira ria seperti bocah-bocah se-bayanya di kejauhan sana. Sepasang matanya hanya mampu berkedip murni, bibirnya berkecap-kecap penuh goda, tangannya mencengkeram pagar tinggi....

450 pages, Paperback

First published June 1, 2009

22 people are currently reading
207 people want to read

About the author

Wiwid Prasetyo

15 books11 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
35 (27%)
4 stars
35 (27%)
3 stars
28 (22%)
2 stars
16 (12%)
1 star
12 (9%)
Displaying 1 - 16 of 16 reviews
Profile Image for drg Rifqie Al Haris.
74 reviews5 followers
January 30, 2012
Buku ini mirip dengan Laskar Pelangi. Menceritakan tentang anak-anak miskin yang sangat semangat untuk belajar. Novel ini sarat dengan kritik sosial dan kritik terhadap terpuruknya sistem pendidikan yang tidak terurus akibat pemerintahan yang cacat.

Lain dari itu semua, buku ini mengajarkan pada kita tentang kegigihan untuk berusaha menuntut ilmu walaupun dengan kondisi yang kekurangan. Mengajarkan bahwa mimpi-mimpi itu haruslah tercapai.

Dari segi cerita, buku ini sedikit mengecewakan karena status best sellernya nampaknya belum bisa disandingkan dengan novel best seller lain. Alasannya: tokoh-tokoh sentral dalam novel ini memiliki pemikiran yang terlalu dewasa dan terlalu cerdas untuk anak-anak seusianya. Akan nampak benar bahwa pemikiran dewasa dan cerdas ini adalah pemikiran Wiwid yang dimasukkan ke tokoh anak-anak SD itu yang akhirnya dirasa kurang pas.

Overall, jika kita hanya mengambil pesan dan intisari novelnya, terlepas dari masuk akal atau tidaknya pola pikir itu, inilah buku yang sangat menggugah dan menggetarkan hati.
Profile Image for Naim al-Kalantani.
283 reviews17 followers
July 21, 2015
579 muka surat bagi aku sangat memenatkan. Tambah lagi typo merata dalam novel ini. Apa yang editor dia buat sebenarnya?

Ok tinggal dulu soal itu.

Orang Miskin Dilarang Sekolah. Deep. Serius, deep sangat. Nak pergi sekolah perlukan duit, perlukan baju sekolah, beg, kasut, perlukan duit. Adakah sekolah hanya tempat orang kaya? Orang berduit? Mengapa sekolah distruktur begitu sekali sehinggakan rakyat proletar dan mahraen berfikir 2-3 kali untuk ke sekolah?

Guru-guru di sekolah mengajar pelajar ibarat pelajar itu hanya produk-produk sekolah. Kalau berjaya dipuji, dan kalau tidak berjaya ditongsampahkan. Tiada alternatif lain untuk kau meneruskan pelajaran kalau kau tak berjaya di sekolah. Adakah sekolah satu-satunya tempat menuntut ilmu?

Cerita mengenai persahabatan. Persekolahan. Dan rakyat mahraen. Penulis mengambil tema dari Lasykar Pelangi karya Andrea Hirata untuk menulis novel ini. Novel ini banyak memberi unsur sarkastik kepada tenaga pengajar dan sistem persekolahan.
Profile Image for Heruka Heruka.
Author 9 books9 followers
August 19, 2013
Seperti yang sudah saya duga, gaya penulisan dan garis besar cerita di novel ini tak jauh beda dengan yang dihadirkan andrea hirata di laskar pelangi. Sama sama mengangkat budaya dan status social masyarakat kampung, sama sama dilatar belakangi kehidupan anak-anak yang berkeinginan mengenyam pendidikan, dan juga menghadirkan konflik konflik kecil yang sama. Tapi apa salahnya sih menjadi penulis epigon? Sebenarnya, walaupun setiap orang itu berbeda, tetap aja seseorang akan memiliki selera dan ketertarikan menulis yang sama dengan penulis yang lain. Sebut saja trio penulis komedi SPBU, arief Muhammad, alit susanto, dan bena kribo. Gaya menulis mereka hampir sama dan selalu mengangkat kesialan kesialan kehidupan sehari-hari. Begitupun dengan raditya dika, mereka sama-sama menyentil masalah jomblo, LDR, dan aneka-aneka bahasa cinta lain yang bisa mereka olah menjadi kekonyolan. Tapi jika diperhatikan, penyajian cerita dan alur yang mereka bawa di bukunya masing-masing berbeda.

Lalu bagaimana dengan si wiwid prasetyo ini? Jujur saja saya pun baru membaca karyanya yang satu ini. Walaupun di data dirinya ditulis secara gamblang kalau si penulis memang terinspirasi dengan karya andrea hirata. Tapi bagiku ini terlalu sama. Mungkin bisa dipahami dalam artian terinspirasi kalau latar belakang budaya dan kehidupan kampungnya saja yang diambil. Tapi kalau garis besar latar belakanhg cerita dan penempatan konflik-konflik kecilnya, saya rasa ini memang epigon.

Lalu ada lagi yang membuat saya ganjil dan mengganggu dalam cerita ini. Saya rasa konflik percintaan monyet yang diambil wiwid kurang relevan. Bagaimana seorang anak umur Sembilan tahunan bisa berbicara cinta seperti itu, apalagi dengan bahasa cukup serius mengungkapkan rasa cintanya terhadap teman sekelas yang masih kelas satu SD. Begitupun dengan tokoh utama, bagi saya terlalu bijak untuk ukuran anak kelas tiga SD. Inilah mungkin bedanya, andrea hirata bisa menghadirkan ketidakrealistisan menjadi sedikit lebih nyata dengan gaya penulisannya. Tapi wiwid kurang handal dalam hal itu. Saya yang membacanya jadi sedikit terbebani. Padahal sayang banget kalau dilihat dari gaya menulisnya yang sudah sangat bagus.

Mungkin segini saja reviewnya. Sebenernya gak maksud buat menjelek-jelekkan atau lebih menitikberatkan pada nilai negativnya. Mudah-mudahan buku wiwid yang lain akan segera saya baca dan dapat menghilangkan embel-embel epigon dalam dirinya dari mata saya.
Profile Image for Ain.
138 reviews14 followers
July 31, 2012
Tajuk buku : Orang Miskin dilarang sekolah
Penulis : Wiwid Prasetyo
Keluaran : Global Aksara Communication Sdn. Bhd.
Halaman : 580 m/s


Ulasan Ain Sabrina :

Dari tajuk , sudah dapat kita imbas serba sedikit kisah dalam halaman buku ini. Kisah dimulakan dengan watak ‘aku’ , anak muda bernama Faisal , yang sudah di kelas tahun 3 di SR Kartini. Dia anak dari keluarga sederhana yang berkesempatan untuk ke sekolah. Dan dengan ilmu yang baru hijau itu , dia berimpian mengajak sahabat-sahabat yang tinggal di lading lembu untuk turut sama bersekolah. Namun jalannya tidak mudah. Mereka , Pambudi , Pepeng dan Yudi, anak miskin yang hidupnya kais pagi makan pagi , kais petang makan petang.

Namun hati anak miskin ini dahagakan ilmu. Lalu mereka berusaha ke arah itu. Memujuk dan menyakinkan ibu dan ayah mereka dan mereka sendiri menampung perbelanjaan sekolah mereka. Walaupun miskin , akhirnya mereka berupaya sekolah , dengan baju yang lusuh dah terkoyak di celah ketiak, bergalaskan beg guni, beralaskan selipar getah yang kaki nya penuh dengan debu lumpur. Lantas mereka seringkali di pandang hina di kelas mereka. Namun tidak semua begitu, ada yang menolong , namanya Kania, gadis cilik molek yang menarik hati muda mereka.

Turut sama diselitkan dalam novel ini , kisah penduduk-penduduk di Kampung Faisal , masih mundur dan masih percaya pada bomoh dan pawang yang hanyalah tiruan semata-mata. Juga dikisahkan tentang Faisal menjadi guru muda buat penduduk-penduduk tua di kampungnya , dia mengajar mereka mengira dan membaca.

Diakhirkan cerita dengan kisah perjuangan dan usaha gigih mereka untuk menghadapi peperiksaan akhir tahun. Dan ternyata ‘ happy ending’ apabila Faisal terpilih sebagai pelajar cemerlang. Namun pengakhiran sebenar bukan di situ kerana banyak lagi yang perlu ditempuh pelajar-pelajar SK Kartini secara amnya dan secara khusunya buat 4 sekawan ini , Faisal, Yudi , Pambudi dan Pepeng.


Komen Ain Sabrina :

Novel ini saya beli di saat motivasi belajar saya agak rendah. Saya tertekan dengan diri sendiri yang asyik malas jadi saya berkeputusan untuk ‘ambil angin’ di kedai buku Popular di KB Mall. Terpandang buku ini dan tajuknya , saya dapatkan rasakan buku ini boleh menaikkan semangat belajar saya dan dalam masa yang sama mensyukuri nikmat ‘dapat belajar’ yang saya ada.

Watak Faisal patut dipuji. Disaat dia bersahabat dengan Yudi , Pepeng dan Pambudi, dia tidak terpengaruh dengan mereka malah dia yang mempengaruhi mereka. Budak-budak , semangat bermainnya kadang-kadang lebih tinggi dari semangat belajar , namun berbeza bagi Faisal malahan dia berjaya pula mengajak sahabat yang lain untuk turut belajar. Semangatnya itu bukan hanya pada sahabatnya, juga turut pada penduduk kampung , sehinggakan dia sanggup menawarkan diri menjadi pengajar buat penduduk kampung.

Watak Pambudi , Yudi , Pepeng dan Kania juga perlu dipuji. Walaupun susah , pagi perlu bekerja kemudian ke sekolah , baliknya kembali bekerja, namun mereka tegar demi mencari sesuap ilmu. Semangat mereka mencari ilmu membuatkan saya sebagai pembaca termalu sendiri. Peluang belajar sudah ada di depan mata , duit tidak perlu berusaha atau meminta-minta kerana biasiswa sudah diberi kerajaan , jadi apa lagi masalahnya – hanya kuatkan tekad , belajar dan belajar. Namun saya ini , asyik melayan emosi dan rasa malas sahaja. Kecewa dengan diri sendiri pabila melihat semangat anak-anak miskin ini.

Dan kita sebagai rakyat Malaysia amnya patutnya bersyukur kerana keadaan kita tidak seteruk keadaan negara jiran. Majoriti anak-anak Malaysia semuanya bersekolah , paling kurang bersekolah hingga ke sekolah rendah. Namun kenapa kita masih leka , masih tidak berusaha. Di saat rasa malas menyelubungi , kita patut muhasabah diri kembali , syukuri nikmat diberi dan teruskan berusaha.

Dan saya suka falsafah yang diterapkan dalam novel ini :

“ Jangan takut untuk berimpian besar kerana orang yang tidak punya impian bererti tidak punya cita-cita dan masa depan “

Profile Image for Neneng Lestari.
296 reviews1 follower
December 6, 2015
Kesan saat aku mengakhiri membaca buku ini adalah, aku seperti kembali ke masa-masa SD dimana buku pelajaran Bahasa Indonesia memuat banyak cerita-cerita pendek yang berakhir happy ending. Misalnya kalau Budi malas sekolah, maka ia akan bodoh. Atau, kalau Budi ingin pintar, ia harus rajin belajar. Dan isi buku ini tidak begitu jauh dengan cerita-cerita tersebut, bedanya dalam buku ini konflik dan karakter para tokohnya lebih kuat dan menonjol.

Konfliknya sendiri sih biasa aja, umum banget cerita tentang gimana anak-anak dari kalangan bawah mendapat cobaan saat ingin bersekolah. Bisa dari tekanan hidup, biaya, waktu dan lain-lain. Tapi beberapa diantaranya ada yang berhasil melalui itu semua dan menjadi bintang kelas bahkan mendapat julukan anak jenius.

Fenomena dalam kehidupan kampung juga ada. Seperti tokoh-tokoh dukun masih dipercaya oleh warga, lemahnya pengawasan orang tua terhadap penjahat anak-anak dan bagaimana warga masih gampang terpedaya dan di bujuk oleh orang tidak bertanggung jawab.

Secara keseluruhan, aku suka buku ini. Bacaan yang cocok untuk membuka mata dan melihat dari sudut pandang yang berbeda.

#ReviewBuku #PenerbitDivaPress
Profile Image for Agus Indra R.
7 reviews3 followers
September 24, 2010
Kisah yang sangat menginspirasi,semangat seorang sahabat yang ingin menjadikan teman-temannya lebih baik lagi. Agar mereka dapat keluar dari kungkungan perbudakan,tidak mengikuti jejak orang tua mereka. Karena dunia ini sesungguhnya sangat luas dan banyak pengetahuan diluar sana. dikemas dengan cerita sehari-hari anak kampung yang lugas dan enteng,sehingga enggan untuk berhenti membacanya... Ada tentang cinta monyet, semangat yang membara, hingga mengharukan.
Profile Image for Zarul Ariffin.
3 reviews
February 13, 2011
buku ni mmg best. mengisahkan 4 org kawan mengharungi kehidupan. mereka bersungguh-sungguh ke sekolah untuk mengubah nasib kehidupan mereka. byk pengajaran yg boleh kita ambil. semangat setiakawan, tidak mudah putus asa dan rajin menuntut ilmu adalah antara nilai yang diterapkan dalam novel ni.

tp 1 je yg wat spoil. byk taiping error. kdg2 ianya mengganggu penghayatan..
Profile Image for Maria Michelle Angelica.
10 reviews
June 25, 2014
Sangat menyukai novel ini! Ia berhasil membungkus seluruh kesedihan menjadi anak yang terlahir miskin. Mulai dari ingin sekolah, dikelilingi orang bodoh yang mendengarkan perkataan orang bodoh, penyalahgunaan pendidikan, pedofilia, penutupan gebong sapi, dan lain-lain. Belum menyelesaikan novelnya sih, tapi sudah yakin ini pasti seru!

Recommended!
Profile Image for Riesna Zasly.
152 reviews1 follower
November 26, 2016
mengambil terlalu banyak waktu untuk menamatkan karya ini.. plot yg bercelaru, bahasa terjemahan yang awat jelek serta kemampuan bercerita yang agak kucar kacir.. hanya nilai2 positif dan sebahagian info bernas sahaja yang menjadi sumber kekuatan karyanya.. amat meletihkan untuk menghadam apa yang ingin disalurkan oleh penulisnya
Profile Image for Adriana.
68 reviews12 followers
January 3, 2011
karya nya ada sedikit persamaan dengan laskar pelangi. tetapi masih ada keistimewaan nya yang tersendiri. sesiapa yang meminati laskar pelangi patut memiliki novel ini.
Profile Image for Asty Intan.
26 reviews
December 22, 2013
Sebenernya bagus, tapi saya cepat lupa sama isi ceritanya dan ga tertarik untuk membaca ulang. Entah ya.
Displaying 1 - 16 of 16 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.