Kisah sukses selalu menarik dan mengilhami, dan kisah Pixar adalah salah satunya. Studio animasi ini berhasil mentransformasikan diri dari perusahaan yang beberapa kali nayris bangkrut, menjadi perusahaan yang paling diperhitungkan di industri animasi. Semua tentu saja bukan pencapaian yang mudah, melainkan melalui proses panjang yang mensyaratkan semangat pantang menyerah, kecerdasan dan kreativitas yang tinggi.
Apa yang terjadi pada Pixar adalah pembuktian betapa sebuah visi yang dipelihara dengan keyakiann dan kepiawaian pad akhirnya membuahkan kesuksesan. Meski harus melewati masa sulit yang panjang, idealisme Pixar pada akhirnya berujung pada masa jaya yang manis
Bungsu dari empat bersaudara ini tinggal di Bali sampai lulus SMA pada tahun 1998. Penulis kemudisn melanjutkan kuliah di Jurusan Ilmu Komputer, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Semester akhir kuliah dijalani sambil bekerja sebagai wartawan teknologi di detik.com, Jakarta, sampai lulus kuliah pada pertengahan 2003, dan berlamjut sampai tahun 2007. Setelah empat tahun bekerja sebagai wawrtawan, penulis kemudian menjabat sebagai SMS Content Supervisor di perusahaan yang sama. Pengalaman yang didapat semakin mematangkan minatnya pada dunia tulis-menulis dan teknologi informasi serta telekomunikasi. Saat ini penulis tinggal dan bersktifitas di Yogyakarta.
Menarik membaca perjalanan Pixar hingga sebesar sekarang ini, walau sepertinya kurang tepat menyebutkan Steve Jobs di bagian sampul mengingat otak utama di balik Pixar adalah John Lasseter.
Lasseter menanamkan prinsip totalitas di setiap hasil karya Pixar. Setiap karya ditangani dengan serius, dan tidak ada tim kedua atau karya kedua yang dikerjakan di saat bersamaan. Alhasil semua film animasi Pixar tidak hanya sempurna dalam pengerjaan komputer tapi juga kuat di cerita.
Bagi Lasseter, film yang terpatri dengan baik adalah film dengan cerita yang berdampak luas, kecanggihan teknologi, karakter yang menarik, dan yang paling penting adalah hati -kualitas yang dinilainya banyak hilang dari kebanyakan film Amerika saat ini.
Tau Toy Story gak? Kenal a bug’s life? Gimana dengan Monster Inc? Atau Finding Nemo? Atau Wall-E? Jika Anda hanya terbengong-bengong mendengar nama-nama tersebut, maka Anda bukanlah penggemar film animasi, atau bahkan bukan seorang penyuka film? Yah, tak apalah. Walaupun Anda bukan penggemar film, sepertinya tetap layak untuk membaca sebuah buku yang menyimpan semangat, keberanian, dan optimisme ini. Pixar, sebuah indutri film yang sangat ternama terutama di dunia animasi.
Bagi pencinta film animasi, pastinya kenal dengan brand Pixar. Setiap kali berjumpa dengan film garapan Pixar, di awal sebelum film berlangsung pasti akan menjumpai logo wajib berbentuk lampu sorot yang melompat-lompat di atas huruf I hingga hilang tertekan sang lampu. Bingung? Ah, coba deh sekali-kali ke rental atau pedagang DVD untuk mendapatkan judul film-film di atas. Saya termasuk penyuka film animasi, walaupun tidak bisa dikatakan maniak. Minimal film-film yang disebutkan di atas sudah pernah saya pelototin di layar komputer. Yeah! Saya menonton hanya lewat VCD atau DVD.
Walaupun hanya menonton dari layar yang tak sebesar bioskop, saya sangat menikmati hampir semua film animasi. Tidak hanya yang diproduksi oleh Pixar, tetapi juga Disney, Warner Bros, DreamWorks ataupun Turner Broadcasting.
Film animasi menawarkan film kartun dengan gaya baru. Selain bentuk tokohnya yang sangat-sangat terlihat nyata, film animasi seringkali menyajikan kisah lucu yang sarat makna. Tidak sekadar seperti cerita Donal Bebek atau Mickey Mouse yang berdurasi pendek, film animasi selalu memiliki alur cerita yang tertata dan berdurasi panjang.
Seperti yang tertuang dalam kisah Monster Inc, salah satu film animasi terfavoritku. Film tersebut berkisah tentang perusahaan Monster yang mengumpulkan jeritan bocah-bocah dengan cara menakut-nakuti. Nantinya jeritan tersebut akan dijadikan asupan energi listrik bagi kota Monster. Salah satu monsternya yang sangat terkenal menyeramkan adalah James Sullivan. Konflik dimulai ketika seorang bocah cilik ternyata tidak takut dengan Sully, malah mengutit hingga masuk ke wilayah terlarang yaitu kota Monster. Upaya Sully menyelamatkan dan mengembalikan bocah ini ke bumi, menjadi salah satu plot menegangkan dan seru dalam cerita. Namun, yang membuat film animasi menjadi lebih spesial lagi adalah penciptaan tokoh serta segala gerak dan ekspresi yang terlihat sangat hidup.
Gebrakan film animasi dimulai sejak munculnya film Toy Story dan pelopor terciptanya film kartun dengan menggunakan teknologi secara total, tanpa menggunakan gambar-gambar hasil coretan tangan.
Sebelum memiliki nama besar, Pixar memiliki sejarah panjang. Pixar sendiri awalnya tidak bergerak di dunia film tetapi memproduksi berbagai software. Hanya karena ketidak-sengajaan John Lesseter, sang animator unggulan, membuat animasi pendek sebagai contoh hasil karya dari sebuah produk software, ternyata menuai sukses ketika animasi tersebut malah masuk nominasi Oscar.
Pixar pun mulai melirik bisnis film animasi sebagai salah satu peluang besar yang sayang untuk dilewatkan. Permasalahannya adalah Pixar telah lama mengalami kekurangan dana, sejak menjadi “anak” perusahaan Lucasfilm hingga kemudian berada di tangan Steve Jobs---sosok yang membeli Pixar dari Lucasfilm. Jatuh bangun. Pejuangan Ed Catmull, salah satu pencetus Pixar, ke sana- ke mari dalam mempertahankan Pixar patut diacungi jempol, terutama atas komitmen dan optimismenya terhadap masa depan film animasi.
Di buku ini diungkapkan tentang berbagai proses kreatif dari pembuatan film-film animasi. Bahkan riset-riset detail para pembuat animasinya mampu membuat saya terpukau, contohnya dimana salah satu animator rela menceburkan dirinya ke kolam demi melihat bagian baju mana yang melekat pada badan dan mana yang ‘bebas’. Itu baru hal kecil, belum lagi riset-riset yang dilakukan mereka supaya penonton tidak hanya menikmati sang tokoh, tetapi juga latar tempat. Misalnya, ketika harus menciptakan efek air pada film Finding Nemo yang mengharuskan mereka menyelam ke kedalaman laut dan menonton rentetan film yang memuat latar laut.
Berbicara tentang produksi film pasti tidak lepas dari dunia bisnis. Maka lewat tulisan Ni Ketut Susrini ini terlihat bahwa film-film garapan Pixar yang sebagian besar mendapat penghargaan bergengsi, ternyata menyimpan permasalahan kompleks. Bahwa ternyata di balik setiap pembuatan dan proses pendistribusian film-film Pixar terdapat ketegangan dan situasi panas yang sempat membuat Pixar dan Disney hampir ‘bercerai’. Bahkan menyebabkan tertundanya penayangan salah satu film animasi yang di kemudian hari tetap menjadi favorit para penonton, bahkan di Indonesia.
Setelah menuntaskan isi buku dengan gambar berbagai tokoh animasi di sampul depannya ini, saya akan lebih menghargai sebuah film animasi, tidak hanya lewat karena alur cerita yang apik, tetapi juga kerja keras dan perjuangan di balik layar.
Yang menarik, Steve mendorong mereka untuk menilai secara jujur tentang dirinya, tanpa ada hal-hal buruk yang ditup-tutupi. Penulisan buku ini pun dilakukan tanpa ada kontrol dari Steve. Dia bahkan tidak mau menggunakan haknya untuk membaca naskah buku ini sebelum diterbitkan.
Hal ini sangat bertolak belakang dengan biografi yang biasa ditulis untuk pencitraan diri seorang tokoh, biasanya biografi yang ditulis sesuai pesanan sang tokoh ataupun keluarga tokoh, ditulis dengan membesar-besarkan prestasi dan meminimalisasi kekurangan tokoh yang ditulis.