Why is the number seven lucky—even holy—in almost every culture? Why do we speak of the four corners of the earth? Why do cats have nine lives (except in Iran, where they have seven)? From literature to folklore to private superstitions, numbers play a conspicuous role in our daily lives. But in this fascinating book, Annemarie Schimmel shows that numbers have been filled with mystery and meaning since the earliest times, and across every society.
In The Mystery of Numbers Annemarie Schimmel conducts an illuminating tour of the mysteries attributed to numbers over the centuries. She begins with an informative and often surprising introduction to the origins of number systems: pre-Roman Europeans, for example, may have had one based on twenty, not ten (as suggested by the English word "score" and the French word for 80, quatrevingt—four times twenty), while the Mayans had a system more sophisticated than our own. Schimmel also reveals how our fascination with numbers has led to a rich cross-fertilization of mathematical knowledge: "Arabic" numerals, for instance, were picked up by Europe from the Arabs, who had earlier adopted them from Indian sources ("Algorithm" and "algebra" are corruptions of the Arabic author and title names of a mathematical text prized in medieval Europe). But the heart of the book is an engrossing guide to the symbolism of numbers. Number symbolism, she shows, has deep roots in Western culture, from the philosophy of the Pythagoreans and Platonists, to the religious mysticism of the Cabala and the Islamic Brethren of Purity, to Kepler's belief that the laws of planetary motion should be mathematically elegant, to the unlucky thirteen. After exploring the sources of number symbolism, Schimmel examines individual numbers ranging from one to ten thousand, discussing the meanings they have had for Judaic, Christian, and Islamic traditions, with examples from Indian, Chinese, and Native American cultures as well. Two, for instance, has widely been seen as a number of contradiction and polarity, a number of discord and antithesis. And six, according to ancient and neo-platonic thinking, is the most perfect number because it is both the sum and the product of its parts (1+2+3=6 and 1x2x3=6). Using examples ranging from the Bible to the Mayans to Shakespeare, she shows how numbers have been considered feminine and masculine, holy and evil, lucky and unlucky.
A highly respected scholar of Islamic culture, Annemarie Schimmel draws on her vast knowledge to paint a rich, cross-cultural portrait of the many meanings of numbers. Engaging and accessible, her account uncovers the roots of a phenomenon we all feel every Friday the thirteenth.
was a well known and very influential German Orientalist and scholar, who wrote extensively on Islam and Sufism. She was a professor at Harvard University from 1967 to 1992. .. مستشرقة المانية ولدت في مدينة إرفورت بوسط ألمانيا لعائلة بروتستانتية تنتمي إلى الطبقة الوسطى..في عام 1939 نزحت مع الأسرة إلى برلين وفيها بدأت دراستها الجامعية للأستشراق. وبعد عام واحد بدأت العمل على رسالتها للدكتوراة حول مكانة علماء الدين في المجتمع المملوكى تحت إشراف ريشارد هارتمان وقد انتهت منها في نوفمبر 1941 وهى في التاسعة عشر من عمرها ونشرتها عام 1943 في مجلة "عالم الإسلام" تحت عنوان "الخليفة والقاضى في مصر في العصور الوسطى المتأخرة". وفى نوفمبر من عام 1941 عملت كمترجمة عن التركية في وزارة الخارجية الألمانية. وفى وقت الفراغ واصلت اهتمامها العلمى بتاريخ المماليك حتى تمكنت من عمل فهارس لتاريخ ابن إياس. وفى مارس 1945، قبيل نهاية الحرب العالمية الثانية بقليل، انتهت من رسالة الدكتوراه في جامعة برلين عن الطبقة العسكرية المملوكية. وقد احرزت،، في عام 1995 وكأول مستشرقة ودارسة للإسلام جائزة السلام الألمانية التي يمنحها اتحاد الناشرين الألمان ويسلمها رئيس الدولة الألمانى.
Sayıların Gizemi matematiğin ilginç oyunlarını veya karşılaştırmalarını anlatan bir kitap değil. Matematik ağırlıklı bir kitap beklerseniz (benim gibi) biraz tadınız kaçabilir. Sayıların hayatımızdaki anlamlarını, farklı din veya inanç sistemlerindeki yerlerini, farklı kültürlerde nasıl kabul edildiklerini anlatıyor. Ancak gizem ve ezoterik dünyadaki yerlerine fazla yer vermemiş olması oldukça olumlu.
Sayıların kralının “1” mi, “3” mü olduğuna karar veremedim. Bu arada “0” dan bahsetmemesi onu 10, 100, 1000 gibi sayılarda hatırlaması da bence eksiklik. En geniş yeri “3” sayısı kaplıyor, onu “7” sayısı izliyor. Bu iki sayı hemen hemen tüm kültür ve inanışta kendisine yer bulmuş. “9” un Hint-Germen ve Orta Asya (Türk-Moğol) uygarlıklarında Yahudi ve Hristiyan dünyasına göre çok daha önemli olduğunu, “11” in dilsiz bir sayı (ben gariban diyorum), “12” nin gürültücü ve spekülatif bir sayı olduğunu okudum .
Amerika’da her ayın 13’ünde uçak, tren ve otel rezervasyonu iptalleri, işe gitmeme ve ticaretin azalmasıyla yaklaşık yılda 1 milyar dolar kayıp olduğuna şaşırdım. Bir de “13” sayısının uğursuzluğunun geçmişinin ancak 17. yüzyıla kadar geri gittiğini son yemekteki 12 havari+1 dışında bir açıklama veya yakıştırma olmadığını, aksine Aztek-Maya kültüründe ve Kabala inancında kutsal ve uğurlu bir sayı olduğunu da gülümseyerek okudum.
Rahat okunan, bol şekil ve resimli bir kitap. Meraklısına öneririm.
Secara sederhana angka memang tidak menyimpan rahasia apapun, kecuali sebagai media perhitungan. Mewakili jumlah “sesuatu”. Namun, tidak jarang pula orang suka mengotak-atik angka untuk dicari maknanya. Bahkan, ada beberapa angka sangat digandrungi sebab diyakini membawa keberuntungan. Begitu pula, ada angka yang dijauhi, tidak diminati sebab bisa membawa sial. Begitulah, kenyataannya angka tidak berhenti hanya sebagai perhitungan tetapi mempengaruhi peruntungan dan kebuntungan. 13 merupakan angka yang sangat tidak disukai. Konon, angka tersebut angka naas, angka sial atau sejenisnya. Padahal kalau dipikir-pikir, bukankah 13 juga angka selayaknya angka 12, 11, 14 atau yang lainnya. Tetapi, mengapa banyak yang menghindari? Sedangkan angka 9 diyakini angka yang baik, meski kebaikan seperti apa juga tidak diketahuinya? Apakah masalah beruntung-celakanya dari angka sebetulnya hanya sugesti mental, tahayul-tahayul yang berurat akar pada masyarakat? Ataukah memang angka-angka, kombinasinya menyimpan kekuatan di dalamnya? Sehingga dia (angka) bukan lagi sebagai alat pembilang suatu hal semata? Bidang numerology dan daya magis angka telah menarik perhatian umat manusia selama ribuan tahun. Matahari dan bulan, sebagai tanda-tanda dalam buku agung alam semesta menjadikan manusia merasa bahwa angka-angka memiliki berbagai keistimewaan khusus yang bukan hanya mengelilingi serta menunjukkan ruang dan waktu dalam rumusan-rumusan abstrak, melainkan juga menjadi bagian dari sebuah sistem hubungan yang misterius dengan bintang-bintang dan berbagai fenomena alam lainnya. Pengetahuan tentang makna dan rahasia angka-angka tercermin dalam adat-istiadat, cerita rakyat, kesusastraan, arsitektur, dan musik yang dipandang sebagai memanifestasikan harmoni kehidupan. Simbolisme angka memang sangat beragam, dan berbagai kesamaan yang menakjubkan dalam menafsirkan angka-angka bisa ditemukan dalam berbagai kebudayaan yang berbeda. Buku “The Mystery of Numbers (Miseri Angka-Angka)” yang ditulis oleh Annemarie Schimmel ini mencoba menelusuri kepercayaan-kepercayan mengenai angka dari berbagai peradaban kuno dan tradisi agama Islam, Yahudi, dan Kristen. Setiap peradaban memiliki tanda-tanda angkanya sendiri. Kita bisa membayangkan quipus (tali-tali yang diikat dengan berwarna-wrni untuk mencatat kejadian atau mengirim berta di zaman dahulu) di mana utang-utang digoreskan dengan garis-garis yang berbeda. Ungkapan dalam bahasa Jerman, Etwas auf dem kerbholz haben, “memiliki seuatu tentang catatan seseorang”, dalam pengertian bahwa ia telah melakukan sejumlah dosa atau pelanggaran, mencerminkan cara berhitung terkemudian. Angka Arab, seperti yang telah kita kenal dan dipakai sekarang, mengikuti huruf-huruf semitik kuno, yang disebut abjad, dan karena setiap huruf memiliki makna ganda, kita dapat dengan mudah membentuk hubungan antara nama-nama, kata-kata yang bermakna, dan angka-angka.dalam tradisi Islam seni mengasilkan kronogram-kronogram yang elegan dan sangat maju, dan pada waktu-waktu kemudian judul sebuah buku bisa digunakan untuk mencatat tanggal selesai penerbitannya: judul sebuah buku dalam bahasa Persia, Bagh u Bahar (Taman dan Musim Semi), misalnya, menunjukkan nilai angkanya (2+1+1000+6+2+5+1+2+200), yang berarti bahwa buku ini disusun tahun 1216 H (1801/2 M). Kepercayaan kuno pada tatanan angka telah menggiring, seperti dalam kasus Kepler, pada penemuan-penemuan ilmiah, tetapi jauh lebih sering mendorong pada manipulasi-manipulasi magis. Kepercayaan pada kekuatan mistisisme angka seperti ini masih bertahan hingga sekarang. Semisal angka 9, dapat diinterpretasikan secara bermacam-macam. Ternyata angka Sembilan tidak hanya sebagai angka keberuntungan, tetapi juga angka kenegatifan, misalnya Petrus Bungus yang menyamakan angka Sembilan dengan sakit dan kesedihan dan mengatakan bahwa mazmur kesembilan berisi ramalan antikristus. Interpretasi lain yang telah dikenal sejak zaman kuno menekanan watak angka 9 yang nyaris sempurna. Troy dikepung selama 9 tahun, dan Odysseus menempuh perjalanan dalam rentang waktu yang sama. Sembilan malaikat dalam Dante adalah refleksi dari kesempurnaan angka 3, yang kemudian dilengkapi dengan Tuhan yang Esa yang meliputi segala sesuatu sehingga membentuk keutuhan 10. Interpretasi “surgawi” lain atas angka 9 bisa ditelisik dari perannya sebagai hasil 8 +1, keindahan agung dan tinggi. Kedudukan 9 yang serupa bisa dijumpai di dalam filsafat Ikhwan ash Shafa dengan tingkat eksistensinya: satu pencipta, 2 jenis intelek, 3 jiwa. 4 jenis materi, 5 jenis alam, alam badaniah yang ditentukan dengan 6 arah, 7 langit berplanet, 2 x 4 unsur, dan terakhir 3 x 3 tingkat kerajaan bintang, tumbuhan dan mineral. Menurut kosmologi Islam, alam semesta dibangun dengan 9 langit. Di luar bumi terdapat langit bulan. Di atasnya terdapat langit Merkurius dan Venus. Langit matahari merupakan titik tengah di antara 7 langit berplanet, dan, karenanya, sering disebut “Pusat Alam Semesta.” Tiga langit berplanet dan selebihnya adalah langit Mars, Yupiter, dan Saturnus. Di luar itu ada langit kedelapan, yakni langit yang berisi bintang-bintang dengan kedudukan tetap. Sampai di sini struktur alam semesta sama seperti yang dikemukakan oleh Ptolemy, tetapi astronom Tsabit ibn Qurrah dan Harran (w.901) menambahkan langit kesembilan untuk menjelaskan apa yang dianggapnya semacam “kacaunya panjang siang dan malam,” dan kebanyakan astronom Muslim mengikuti pendapat-pendapatnya. Langit kesembilan biasanya disebut falak al-falak, “langitnya langit”, dan langit kesembilan ini diyakini tidak mempunyai bintang (hal. 170). Dalam sebuah artikel “Triskaidekaphobia” (ketakutan pada angka 13), Paul Holfman menulis di Smithsonian Magazine Februari 1987 bahwa fobia yang namanya sulit dieja ini “menelan biaya satu miliar dolar Amerika per tahun karena fobia itu menyebabkan orang mangkir dan pembatalan keberangkatan kereta dan pesawat terbang, serta mengurangi aktivitas perdagangan pada tanggal tiga belas setiap bulannya”. Kenapa ketakutan ini terjadi? Apa yang menjadi tonggak permasalahan dengan angka 13 sehingga begitu fobianya? Dan apakah semua peradaban, angka 13 dianggap angka buntung? Tradisi Kristen memandang ketakutan angka 13 ini sebagai sebuah kenangan akan Jamuan Terakhir. Waktu itu, salah seorang murid—ketiga belas—mengkhianati Yesus. Namun, munculya peran negatif angka 13 dalam peradaban-peradaban Timur Dekat dan budaya-budaya yang berasal darinya jauh lebih awal. Seperti 11, 13 adalah angka yang melampui sebuah sistem utuh yang dilambangkan dengan 12, angka zodiac. Masih dalam tradisi Kristen, dengan berpatokan pola 12 + 1 pada Jamuan Terakhir, sering disebut sebagai angka hierarki-hierarki infernal. Sama halnya, tukang-tukang sihir sering tampil dalam kelompok-kelompok 13. Angka ini secara umum dikaitkan dengan sihir dan black magig, dan di sini kotak magis yang bertalian dengan Mars memainkan peran penting, karena angka sentralnya adalah 13, dan jumlahnya selalu sama dengn 5 x 13. Dalam dongeng Eropa, misalnya, 1 anak perempuan dan 12 anak laki-lakinya (yang kerap disihir menjadi binatang sehingga ia harus menyelamatkannya). Cerita-cerita Yunani. Kapten 13 dibuang ke dalam jurang yang sangat dalam sebagai awak terakhir, meski demikian ia selamat. Di Prancis, konon, setan selalu minta korban setiap orang ketiga belas yang melewati sebuah jembatan tertentu sebelum akhirnya diselamatkan oleh anggota ketiga belas dari sekelompok orang lain. Tetapi tidak selalu angka 13 dianggap sebagai angka buntung, malah sebaliknya sebagai angka untung. Suku Maya, dalam agama Maya Kuno angka 13 mempunyai nilai yang penting. Dalam salah satu varian dari angka 19 angka ditambah dengan nol yang disebut dengan varian “berkepala,” 13 angka dibedakan dengan tanda kepala dewa yang berlainan. Selain itu, 20 tanda untuk hari-hari selama satu bulan dikombinasikan dengan angka-angka 1-13, dan penyusunan sebuah kalender dilakukan dengan ramalan (prognostication). Sebagaimana dalam kebudayaan Maya Kuno, 13 juga dianggap sebagai angka sakral dan menguntungkan dalam tradisi Ibrani. Cabala memandangnya sebagai angka keberuntungan karena nilai numeriknya dalam bahasa Ibrani membentuk kata Ahad “Esa,” sifat terpenting Tuhan. Seorang peramal Kerajaan Talmud mengatakan bahwa “pada suatu hari nanti tanah Israel akan terbagi menjadi 13 bagian, dan ketiga belas akan jatuh ke tangan raja Isa.” Kabala dibagi menjadi 13 sumber surgawi, 13 pintu berkah, dan 13 sungai minyak balsam yang kelak akan dijumpai orang-orang salih di surga. Dengan demikian, mengenai kesakralan suatu angka, untung-rugi yang diyakini di dalamnya belum tentu sama antara budaya satu dengan yang lain, antara keyakinan satu dengan yang lain. Sepertinya makna yang terkandung di dalam angka sangat bergantung dari interpretasi masyarakat yang dikontruks oleh cara pandang, keseharian, bahkan dikaitkan dengan suatu peristiwa yang terjadi dan menimpa salah satu tokoh yang dikagumi masyarakat. Dan, mungkin, bagi kita dalam menyermati misteri, rahasia dalam angka tersebut dengan bertanya: “bagaimana bila?” Itu jalan terbaik untuk keluar dari kungkungan angka yang bisa saja sampai hari ini menghambat pola pikir dan kemajuan manusia.
Supposedly a book on the symbolism of numbers, and the cross-fertilization of ideas amongst different cultures and faiths. And yes, the book manages to look at a large range of ideas, from a large range of cultures and faiths.
According to the preface, this book is an expansion on a 1951 book by a different author. The first seven chapters address an interesting range of topics related to numbers and mysticism, and were well worth the read.
The second part of the book (starting on p41) is titled "A little dictionary of numbers", and has a section for each integer from 1 to 22, and then four addressing various larger numbers. I managed to read through 1 and 2, and there were some interesting statements, although some seemed to be drawing a rather long bow. Three is where I got bogged down. I found some of the claims a bit much in terms of trying to link all of the religious systems to three as 'the most important number', and the constant litany of this, plus this, plus this, plus this got horribly boring. bored bored bored bored bored. You get the drift.
I love a readable dictionary! Lots of information which I already knew, but it was helpful to have it lain out in an orderly and relatively complete way. The definitions of the numbers and what they symbolise stretch more the higher they climb, but still very solid.
It was interesting to catch a handful of statements which have since been disproven since the book's public. Nothing too big, but interesting to notice how even folklore and history are evolving as we learn more about the past.
کتاب ترجمه خوبی شده و مقدمه خوبی هم هست برای ورود به علم العداد . از طرفی دلممیخواست مباحث بیشتر و بهتر شکافته میشد ولی با وجود معرفی منابع بسیار توی خود کتاب این نیاز هم برطرف شده
I personally didn’t find this book insightful or entertaining.
The book is divided into chapters for each number from 1 to 22 then five more chapters for further noted numbers of interest.
It reads like a reference book citing where and when each number has been used in history. There is very little depth or analysis apart from the 34 page introduction which examines how humans’ understanding of numbers has evolved. For that reason, I found the introduction interesting but it doesn’t compensate for the superficiality of the rest of the book. For example, the chapter on the Number 21 is literally one sentence: “Twenty-one is connected with perfection, since it is the product of the sacred numbers 7 and 3.” That is the entire chapter, no reference as to where that meaning comes from or why.
Overall, there is very little substance to the book and there are probably better books on the topic out there.
Sayılara yönelik gizemli ve enteresan bilgilerin yer aldığı bir kitap. Anlatılanların belli bir yere bağlandığı bir hikayeyi takip etme durumu söz konusu değil.
Her sayıya yönelik ayrılan bölüm kendi içinde bir bütünlük taşıyor. Yine de gizemcilikle ilgililenenlerin kütüphanelerinde yer almasını önerdiğim bir kitap
Ann adalah salah satu penulis favorit gue. Walaupun sudah menginjak usia senja, tapi dia tetep aja produktif. Di dalam buku ini Ann memberikan kepada kita arti dari setiap angka-angka yang ternyata punya simbolisme atau kekuatan magis ditinjau dari beberapa sejarah, budaya, bahkan agama. Bagi yang suka dengan mytology, pasti kepincut buat baca ni buku. Ann begitu cerdas dalam menyusun buku ini menjadi sesuatu yang menarik. Memang buku ini bukan novel, tapi Ann menambahkan beberapa cerita mitos yang seru dalam setiap penjelasannya, jadi terkesan seperti sebuah cerita sejarah yang sangat exotic. Juga buku ini disusun seperti sebuah Dictionary Angka, sehingga kita mudah untuk mencari “Angka” apa yang ingin kita tahu maknanya. Bagi yang suka RAMALAN ANGKA, mungkin bisa menjadikan buku ini sebagai referensi yang bermutu. So, ni buku gue saranin buat dibaca semua orang, yang suka buku “Berat” atau buku “Ringan”.
Jika Muriel Rukeyser pernah berkata bahwa alam semesta terbentuk oleh cerita-cerita, maka lewat buku ini Annemarie Schimmel hendak menegaskan bahwa semesta juga terbentuk atas angka-angka. Dari angka nol yang kosong hingga 360 yang membagi sebuah lingkaran, peradaban-peradaban kuno di Bumi diwarnai oleh angka-angka (selain juga cerita). Dalam beberapa peradaban, angka-angka bahkan menjadi bukti kemajuan mereka, seperti angka nol di India dan 360 pada bangsa Sumeria. Sementara dalam sejumlah peradaban yang lebih modern, angka-angka dianggap memiliki nilai numerik serta dapat melambangkan sesuatu. Angka 13 misalnya, kondang sebagai angka sial di Barat sementara angka 8 dianggap sebagai angka keberuntungan di Tiongkok karena bentuknya yang tidak terputus. Setiap angka, dengan demikian, memiliki 'nilai dan sejarahnya sendiri.'
Biraz daha kapsamlı olabilirdi bence, çok genel tutulmuş verilen bilgiler. En sevdiğim ve merak ettiğim sayı 13 tü ama 13 e ayrılan sayfa sayısı çok azdı… Kültürler ve dinlerde ne anlam ifade ediyor sayılar, kitap daha çok bununla ilgili aslında. Fakat bilmiyorum çok yüzeyseldi bence (2,5-3 lük bir kitap)
2.5/5. Leuk om een keer gelezen te hebben, maar nu weet ik dat ik mij op dit moment niet verder ga verdiepen in numerologie (dus ik sluit niet uit dat het later zal terugkomen als interesse. Hetzelfde geldt voor astrologie.).
Lots of information, but at times it comes across like a long list of trivia bullet points, rather than a structured narrative on the subject of number symbolism throughout history.