Read paperback version and write the review in my own languange, Indonesia
Zoe merasa kehidupannya tidak sama lagi setelah kelahiran adik perempuannya Abria. Abria yang autis membuat keluarga Zoe sangat protektif terhadapnya, dan membuat hubungan Zoe, adik laki-lakinya Luke, dan orangtua mereka menjadi renggang, karena orangtua Zoe lebih memfokuskan perhatian mereka terhadapa Abria. Untuk mengisi kekosongan dalam hidupnya, Zoe melakukan satu-satunya hal yang dia tahu : berpesta dan hura-hura.
Suatu hari, saat Zoe menemani Abria bermain di taman, dia kehilangan Abria. Panik karena tahu Abria adalah anak autis yang tidak bisa diam, Zoe mencari ke penjuru taman, dan mendapati Abria bersama dengan seorang laki-laki, yang memanggil adiknya “Miss Abria”. Keanehan terjadi, karena hanya Zoe dan Abria yang bisa melihat laki-laki itu, yang belakangan memperkenalkan dirinya sebagai Matthias.
Matthias memberitahu Zoe bahwa dia adalah “guardian angel” dan dia ditugaskan sebagai pelindung Abria. Zoe, yang sedikit shock dengan keberadaan Mathhias, mendapati bahwa sang adik Luke, ternyata mengalami ketergantungan terhadap obat-obatan. Belum lagi, sahabat karibnya, Britt, yang tidak mengacuhkan dirinya setelah berpacaran dengan laki-laki populer di sekolah, Weston. Dan, teman baru Zoe, Chase, yang mengaku bahwa dia mengetahui keberadaan “guardian angel” dan ingin mengetahui lebih dalam tentang Matthias. Seolah belum cukup, orangtua Zoe mengetahui ketergantungan Luke terhadap obat-obatan dan kegemaran Zoe yang suka minum-minuman keras.
Lelah dengan semua masalah yang menimpanya, Zoe mendapati keberadaan Mathhias menenangkannya, walaupun dia hanya bisa bertemu Matthias saat bersama Abria. Sedikit demi sedikit keadaan keluarga Zoe mulai membaik, dan Matthias tidak hanya menjadi “guardian angel” Abria, tapi juga “guardian angel”nya. Zoe kemudian menyadari bahwa dia mencintai Matthias, namun Matthias tidak merespon, hanya memanggil namanya “Zoe” sebagai jawaban. Saat itulah Zoe menyadari bahwa dirinya dan Matthias tidak bisa bersatu karena kehidupan mereka yang berbeda.
Untuk sebuah YA, Heavenly merupakan awal yang bagus untuk sebuah buku dengan genre ini. Dan juga keberanian Jennifer Laurens, sang pengarang , untuk membuat suatu karakter yang terkena autisme (dalam hal ini Abria) dan how to deal with autism character.
Jadi pengen baca lanjutannya, Penitence dan Absolutely (sayang aku ga dikasih bukunya, hmpfh =)) )