Presiden Republik Indonesia adalah orang paling penting atau nomor satu di negeri ini. Setidaknya, sesuai pelat nomor sedan kepresidenan: RI 1. Oleh Wisnu Nugroho, wartawan Kompas, sisi tidak penting RI 1 yang kini dijabat Susilo Bambang Yudhoyono dipaparkan dengan lugas, mengalir, dan apa adanya di blog kompasiana.
Menulis berita ”penting” RI 1 dan menyiarkannya langsung dan serentak hanya membuat berita makin seragam. Sifat ”penting” berita Istana membuat gereget ”menarik” hilang karena tak terberitakan.
Pak Beye dan Istananya adalah buku pertama dari ”Tetralogi Sisi Lain SBY”. Sebagai ”manusia biasa”, Pak Beye yang punya gereget dicatat secara rinci, dibagikan secara jenaka dan kadang nakal. Karena rinci, cerita jenaka dan nakal seputar Istana tersusun runut, jelas, dan bernilai sejarah. Bersiaplah tersenyum-senyum.
Dua jempol untuk Wisnu Nugroho. Kalau saja mas Inu tidak menerima paksaan kang Pepih untuk membukukan postingan2nya di kompasiana, tidak akan sebanyak ini org yg tahu sisi lain pak Beye dan istananya.
Sebagai wartawan kompas yg ditugaskan meliput kegiatan pak Beye selama periode I, mas Inu sudah menyampaikan kegelisahannya selama ini dgn hal2 remeh temeh yg mungkin utk sebagian org tidak penting tp buat saya menjadi satu informasi tersendiri dan menjd tahu sisi lain pemimpin negara ini diluar panggung.
Kekritisan mas Inu mungkin saja tidak dimiliki kebanyakan wartawan istana lainnya, mungkin saja ada yg sama kritisnya hanya saja krn merasa tidak penting akhirnya berlalu begitu saja tanpa membagikannya kpd publik.
Semua bab yg ditulis mas Inu saya suka semua, hanya ada satu sub bab yg menarik buat sya yaitu ttg Ki Hujan. Ki Hujan adlh pohon jenis trembesi yg sdh ada sejak thn 1870, bahkan 3thn sblm istana merdeka dibangun pohon itu sdh tertanam. Andai pohon itu bisa bicara dialah saksi sejarah yg akan bnyk bercerita krn selama 140thn dia menyaksikan apa2 saja yg terjd di istana. Dia ada sejak jaman kolonial dan jg ikut menyaksikan pergantian 6x presiden di negeri ini.
Andai ki hujan bisa bicara pasti banyak wartawan dr berbagai stasiun tv yg akan mewawancarai utk menanyakan rahasia2 sekitar pemimpin negeri ini.
Salut buat mas Inu dan saya sedang menunggu utk bisa membaca buku ke-2nya pak beye dan politiknya. Tetaplah mengabarkan yang tidak penting, agar yg penting tetap penting.
Di dunia ini, tidak ada manusia yang sempurna. Semua pasti memiliki kelemahan dan kekurangan, termasuk seorang Presiden sekalipun. Kesempurnaan hanyalah milik Tuhan semata. Begitu yang termaktup dalam ajaran agama.
Buku Pak Beye dan Istananya karya Wisnu Nugroho ini ingin membedah sisi lain di balik pesona seorang Presiden dan gemerlap Istananya. Seperti kebanyakan orang, Pak Beye juga manusia biasa yang memiliki segudang kekurangan. Seperti yang dituliskan pada bab V tentang “Pernik-Pernik Pak Beye” misalnya. Di sini penulis menyoroti banyak hal, seperti tahi lalat Pak Beye yang hilang, soto ayam kegemaran Pak Beye, sampai kasur empuk Pak Beye yang diusung dari Istana Merdeka ke Istana Negara.
Secara kasat mata, tulisan Inu ini memang terkesan mengungkap hal-hal yang tidak penting tentang Pak Beye dan segala sesuatu yang ada di kompleks Istana Kepresidenan selama satu periode (2004-2009). Tapi, karena ditulis oleh wartawan Istana yang pernah mengenyam pendidikan filsafat dan mengetahui secara detail seluk-beluk dan siku-liku dinamika di Istana, buku ini menjadi amat menarik dan sarat dengan pesan-pesan tersembunyi.
Simaklah kisah pada tajuk “Melihat Pak Beye Gak Pede”. Dalam sambutannya di podium, Pak Beye selalu berpesan kepada para menterinya, bahkan pesan ini mungkin sudah puluhan kali beliau sampaikan baik kepada pejabat berlevel teri mapun kelas kakap. “Mari kita lakukan (lagi) kampanye besar-besaran untuk mengkonsumsi produk dalam negeri”. Ketika sidang usai, pesan tersebut menjadi aneh. Betapa tidak, seorang menteri perempuan diiringi ajudannya dengan gagahnya menenteng tas kulit berwarna putih dengan logo LV (Louis Vuitton). Melihat fakta itu, Pak Beye langsung kehilangan kepedeannya.
Yang tak kalah menariknya, buku ini juga mendedah ihwal “tunggangan” para pejabat lengkap sampai satu bab. Barangkali, di sini, Inu ingin menunjukkan kepada pembaca bahwa Istana Negara sesekali bisa disulap menjadi tempat pertunjukkan mobil papan atas. Sebab, saat rapat kabinet, halaman Istana Negara kerap menyerupai showroom mobil. Puluhan Toyota Camry hitam, mobil dinas menteri saat itu (sekarang Toyota Crown), berjajar rapi. Tak pelak, Yenny Zannuba Wahid—yang pernah tinggal di Istana Merdeka—mengatakan membaca buku ini bak melihat teatrikal di negeri ini, lengkap dengan aktor-aktor di dalamnya.
Kisah tentang makanan Pak Beye juga tak kalah menarik untuk disimak. Bu Budi, misalnya, sebagai juru masak kepresidenan selalu memilih belanja di pasar tradisional daripada di supermarket. Alasannya, daging, ikan, ayam atau sayur di pasar tradisional lebih segar. Menu yang kerap dimasak Bu Budi untuk Pak Beye, antara lain, gado-gado, pecel, trancam, sayur asam, ikan asin, tahu goreng, tempe goreng, dan empal. Sedangkan camilan yang paling disukai Pak Beye adalah tahu sumedang. Jika masih hangat dan dihidangkan dengan cabai rawit, Pak Beye bisa menghabiskan sepuluh potong tahu.
Ihwal Pencitraan Seperti banyak dikatakan pengamat, kepemimpinan Pak Beye saat ini terkesan banyak pencitraan. Benar tidaknya asumsi tersebut pembaca bisa menilai sendiri di Bab IV. Seperti yang kita saksikan ketika Pak Beye diwawancarai doorstop atau konferensi pers dari layar kaca, seolah-olah presiden begitu dekat dengan wartawan dan mau dicegat untuk menjawab pertanyaan wartawan. Padahal, presiden mau memberikan keterangan di halaman Istana bukan karena dicegat wartawan. Ada skenarionya untuk itu semua.
Dalam tradisi Istana, banyak hal yang kerapkali diskenariokan. Ketika ada konferensi pers di Istana atau di kediaman Pak Beye di Cikeas yang disiarkan langsung oleh stasiun televise, misalnya, semua sudah diatur dengan rapih dan sarat dengan polesan pencitraan tingkat tinggi. Seperti pertanyaan yang akan diajukan oleh para wartawan kadang sudah disiapkan dan dititipkan terlebih dahulu kepada sejumlah wartawan kepercayaan. Atau pun posisi-posisi yang tepat ketika hendak wawancara.
Buku ini memberikan tesis berharga bagi pembaca ihwal sisi lain Pak Beye dan sisik-melik Istananya. Karena ternyata, sebuah Istana Kepresidenan tidaklah melulu menghadirkan berita-berita serius seperti laporan tentang rapat kabinet, upacara detik-detik proklamasi, tamu negara, hingga reshuffle kabinet. Namun hal-hal yang tak terduga, jarang diketahui oleh khalayak, serta bernuansa “narsis” juga banyak kita temukan.
Buku Pak Beye dan Istananya ini adalah satu di antara “Tetralogi Sisi Lain SBY” (Pak Beye dan Istananya, Pak Beye dan Politiknya, dan Pak Beye dan Keluarganya) yang tengah terbit. Dari hasil wawancara sederhana saya dengan rekan-rekan muda, ternyata antusias untuk menyambut buku ini sangat tinggi. Bagi mereka, mengetahui hal-hal privasi dan sensitif dari orang nomor satu di negeri ini menjadi perlu. Hukum alam memang selalu berbicara demikian, semakin populis seseorang, semakin menarik untuk disimak perjalanan hidupnya.
Namun, satu barangkali pernyataan teman saya yang cukup getir untuk didengarkan, “Kalau seperti ini, apa bedanya Presiden kita dengan selebriti yang ada di infotainment?” begitu kelakarnya di sela-sela ngobrol gayeng.
Ibarat judul-judul jadul mungkin buku ini semacam Kisah-kisah dibuang sayang diseputaran istana. Berhubung ini adalah kisah remeh temeh alias dibuang sayang tentang orang-orang penting di negeri ini menjadikannya menarik dan memancing rasa ingin tahu.
Wisnu Nugroho, seorang wartawan istana memposting cerita-cerita itu di Kompasiana dan akhirnya menjadi kumpulan cerita dibuku ini.
Sayang, banyak pengulangan-pengulangan bahkan resume buku ini seolah sudah dikemukakan diawal sehingga saat membacanya tidak terlalu menarik lagi. Buku ini bahkan menjadi 3 serial buku.....waah banyak ternyata yang dibuang sayang dari istana...
Buku ini mengisahkan 'remeh temeh'. Walaupun remeh, karena membahas remeh temeh orang no-1 di Indonesia, menyebabkan bahasan remeh itu jadi istimewa. Wisnu lumayan cermat mencermati hal-hal yang luput dicermati orang lain. Sayangnya, saya merasa buku ini hanya menarik di halaman awal saja. Selebihnya saya agak malas membacanya. Banyak sekali hal-hal yang diulang sehingga sangat membosankan. Selain itu, kata pengantar di awal buku terkesan meringkas isi buku terbitan Kompas itu. Akibatnya, rasa penasaran saya cuma berhenti sampai seperlima dari total halaman.
Seru banget, selain karena kenal sama penulisnya, tp juga menemukan sisi lain Pak Beye yang selama ini tidak terungkap di media. Orang-orang 'terdekat'nya yang pernah menginjak istana. Orang-orang yang seringkali terabaikan namun memiliki peran besar di Istana. Orang-orang yang sesekali keluar-masuk Istana. Bahkan mobil-mobil yang pernah parkir di Istana. Dikemas dalam cerita dan foto yang menarik untuk menyingkap kehidupan di Istana. Tp opini tetap kembali pada individu yang membacanya.
bagus sih buat yang belum pernah baca blognya tapi yang udah sering ngubek2 mungkin bakal boring ya lagian ini ceritanya plek plek sama kalo di blog kan ga tiap hari posting, jadi ada cerita diulang
(seperti kamera pinjaman ituh) yang diungkit-ungkit mulu sih ga pa pa tapi kalo dalam buku, jadi berasa bosen ga sih :p
buku ini memaparkan fakta2 'ga penting' yang menarik tentang istana presiden.. sayangnya, dari awal, entah di kata pengantar, di sambutan, di review, di belakang buku, dan ulasan2nya kerap kali ngutip beberapa bagian cerita di dalam buku.. akibatnya kita serasa dipaksa untuk baca "pengulangan2" yang menurut saya membuat ga ada kejutan di dalam buku ini..
ini tetralogi yah! sisi lain dari pak presiden sby, dan ini tentang yang ada di istanya. Jadi tahu, kalau mau ke istana pake mobil kijang tu agak susah. hmmmm kalo pake angkutan umum naik no brpa yah?.... pak mayar tahu?....:D
Menarik juga membaca sisi2 lain kehidupan Pak Beye dan mengulik "rahasia-rahasia" Istana Kepresidenan. Yang jelas, pejabat istana dan orang2 pemerintahan ternyata mobilnya kuerenn2. Emm,, pada pake premium bersubsidi gak tuh ya? hehe..
Tulisan2 Mas Inu yang biasa saya baca di Kompasiana, akhirnya dibukukan. Buku ini mengungkap sisi lain (yang tidak penting sehingga tidak pernah diberitakan secara luas) Istananya Pak Beye.
tak banyak wartawan yg punya nyali untuk membuka "kehidupan" didalam istana, dikemas dengan cerdas, lugas apa adanya..membuat kita tersenyum samapai mengerutkan dahi...
This entire review has been hidden because of spoilers.