Jump to ratings and reviews
Rate this book

Jakarta Undercover #1

Jakarta Undercover

Rate this book
Prowling the seedy red-light districts, the underground club circuit and the house parties of wealthy Indonesian society, Moammar Emka offers a unique glimpse into the underbelly of modern, urban Jakarta. This is the book that took Indonesia by storm. Moammar Emka is JakartaÕs answer to Carrie Bradshaw; this is ÒSex and the CityÓ Indonesian-style!

486 pages, Paperback

First published January 1, 2003

64 people are currently reading
816 people want to read

About the author

Moammar Emka

32 books95 followers
Moammar Emka (lahir di Tuban, Jawa Timur, 13 Februari 1974; umur 42 tahun) dikenal sebagai penulis buku kontroversial, "Jakarta Undercover" (Sex in The City).

Moammar Emka telah menulis puluhan buku. Namun buku tulisannya yang paling laris dan mengangkat namanya adalah "Jakarta Undercover". Buku ini menceritakan sisi gelap kehidupan seks 'liar' yang ada di kota Jakarta. Buku ini juga mengalami cetak ulang sebanyak 35 kali. Selain itu juga dilakukan gubahan dalam bentuk bahasa Inggris dan di pasarkan di kota-kota besar Asia, yang juga telah dilakukan cetak ulang. Karya itu kemudian diangkat ke dalam cerita film layar lebar berjudul "Jakarta Undercover", dengan dibintangi Luna Maya, Fachry Albar, Lukman Sardi, Christian Sugiono, dan Fauzi Baadila.

Emka menulis buku-bukunya dengan investigasi secara mendalam selama bertahun-tahun. Berbagai metode pun dia gunakan untuk mendapatkan informasi seperti pendekatan personal, clubbing, nongkrong bareng, curhat, sampai wawancara.

Buku tulisan Emka kebanyakan mengupas sisi seksualitas yang terjadi di masyarakat, seperti "Siti Madonna", "Jakarta Undercover 2","Jakarta Undercover 3", "Ade Ape Dengan Mak Erot?", "2 Selingkuhan", dan "In Bed with Models". Buku In Bed with Models dirilis pertengahan 2006, yang mengisahkan lika-liku sisi gelap para selebriti Indonesia dalam mencari 'pendapatan tambahan' dengan 'menceburkan diri' dalam transaksi seks kelas atas.

Selain menulis, Emka juga pernah tampil sebagai cameo di film "Koper" garapan sutradara Richard Oh.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
84 (6%)
4 stars
138 (10%)
3 stars
358 (26%)
2 stars
449 (33%)
1 star
314 (23%)
Displaying 1 - 30 of 190 reviews
Profile Image for Diana Marie.
48 reviews2 followers
December 11, 2014
This book could have been such an important, awareness-creating book highlighting social issues and realities in the illicit underground scene in Jakarta. Instead, it read as a nonfiction of some man finding crazy parties, watching them as an outsider, but offering absolutely no insight. The book's writing has nothing of substance, too many unnecessary details, and some of the cheesiest chapter endings I have ever read.
Profile Image for Ken.
Author 26 books234 followers
August 7, 2007
Yuck, it's disgusting. Perhaps some people find it provocating. The write knows well Jakarta's red areas and all the 'shocking' things in the sex business. But the fact that he enjoys it makes me feel like puking. Does not he understand that it is a humiliation towards women? Or does it ever cross his mind that those girls probably are the victims or human trafficking? yuck.
Profile Image for Ari.
Author 4 books18 followers
September 30, 2007
the fact that it was a best seller, was most probably because of the sensation of sexuality sold. Revelation of jakarta's phenomenoms are quite extraordinary. However, reading this book is somehow tiresome after a while...
Profile Image for Mirna.
49 reviews6 followers
June 27, 2007
Masturbasi yang gagal.
Profile Image for Farah.
27 reviews15 followers
December 14, 2008
Okay for adding my knowleDge..tapi sayang, ga bisa dicoBa heheheeh
Profile Image for Frida.
201 reviews16 followers
March 6, 2017
Sudah lama punya e-book ini di kartu memori, tapi seperti kebanyakan koleksi e-book saya, nasibnya kurang lebih sama: tak kunjung dibaca tapi download yg baru terus-menerus, sampai lupa kalau ternyata saya punya e-book ini-itu.
Awalnya penasaran karena buku ini pernah booming di masanya dulu, seperti apa, sih, isinya?
Setelah membacanya, saya berpikir, mungkin buku ini sempat booming karena keberanian penulis dan isinya dalam mengungkap fenomena-fenomena seksual di Jakarta. Lalu, kenapa saya hanya memberi rating satu? Tidak, bukan karena saya anti-bacaan dewasa (kalau saya bilang saya anti, berarti saya munafik atau sok suci wkwk). Juga bukan karena saya menganggap bahwa buku ini seharusnya tidak layak terbit karena hanya akan merusak moral pembacanya (oh, ayolah, mungkin malah ada pembaca yang sebelumnya sudah mengalami sendiri fenomena-fenomena seperti tertulis di buku ini--dan itu tidak salah).
Melainkan karena gaya penuturan buku ini monoton, membosankan. Bisa dibilang sebagai kumpulan artikel, dari bab ke bab, alur penemuan si penulis akan fenomena tertentu sangat repetitif. Awalnya mungkin cukup menarik, ya, tapi lama-lama kok saya enek dengan gaya penuturan si penulis. Kalau boleh saya bilang, buku ini menjadi tidak lebih dari semacam katalog lokasi-lokasi di mana fenomena seks bawah tanah bisa ditemukan di Jakarta (yang mungkin sekarang sudah berubah atau tidak ada lagi, atau jadi lebih variatif--mengingat buku ini terbit sudah lebih dari 1 dekade lalu).
Lebih dari itu, saya kurang bisa menerima bagaimana buku ini menggambarkan sosok perempuan: seperti objek pemuas hasrat seksual laki-laki saja, terlebih si penulis "terlihat" menikmatinya pula. Memang, ada beberapa bab yang menjadikan perempuan sebagai "pencari" yang menggunakan laki-laki bayaran sebagai pemuas hasrat seksualnya. Namun, saya menangkap bahwa perempuan-perempuan tersebut dikesankan "nakal", "liar", sedangkan para laki-laki "pencari" dikesankan "wajar".
Yah, sepertinya saya malas membaca buku kedua dan ketiganya.
426 reviews8 followers
July 21, 2022
What happens when the bored and wealthy encounter the desperate and the greedy? This line from the book sums up what you get:
‘The more expensive the package is, the crazier the party will be.’ Moammar Emma, Jakarta Undercover, (Singapore: Monsoon Books, 2006), 43

The book is a positive in that Java is overwhelmingly Muslim-and so the blanket assertion that Muslims are prudish and puritan is wrong.
Sadly, the overwhelming impression one gets is one of triviality, of human commodification, and waste. Several activities are mentioned apart from sex, like karaoke, dancing, eating, driving etc... but reading a book? Never.
Profile Image for Nis Kr.
62 reviews1 follower
Read
February 15, 2020
I have no words but pure disgust. At first I was intrigued by it but along the way, I lost the momentum. Seems like the author enjoyed doing most of the “things” killing two birds with one stone 😕 and I don’t like how men in this book portrayed women as an object 😣
Profile Image for Lelyana's Reviews.
3,416 reviews400 followers
December 7, 2018

I read this book a million years ago, still remember how scary the real Jakarta is.
Maybe just like other capital cities in the world, there's always people doing nasty things.
Eww..
Profile Image for Maria.
221 reviews1 follower
June 3, 2021
Terpaksa nyelesain buku di halaman 97. Tidak terlalu berminat untuk kisah seksual yang berdasar pengalaman dan perburuan.
Profile Image for ukuklele.
463 reviews20 followers
March 9, 2019
Dulu saya mengira ini tipe bacaan yang akan membuat panas-dingin. Rasanya takut-takut hendak membacanya. Namun, hingga saya memiliki cukup kekuatan untuk membaca buku ini dari awal sampai akhir, tampaknya saya telah terpapar oleh materi yang lebih parah (enggak usah tanya apaan :p), sehingga buku ini kok terasa membosankan. Tiap bab alurnya begitu-begitu saja walaupun tentu saja ada beberapa hal yang berbeda. Saya sempat membaca sekilas review-review di sini, rupanya ada yang berpendapat begitu juga.

Memang buku ini bacaan khusus dewasa, tetapi bukan pornografi karena tidak mengeksploitasi detail tertentu. Bisa dibilang, penulis masih cukup sopan. Mungkin buku ini dapat memancing pembaca untuk mengembangkan imajinasi sendiri, tetapi boleh jadi itu tergantung pada kadar kebutuhan periodik individual, sudah terpenuhi atau belum.

Buku ini memberikan wawasan dan pengetahuan bahwa hal-hal begituan memang ada juga di Indonesia, khususnya di Jakarta, yang entah kenapa hampir selalu melibatkan warga keturunan (seolah-olah meneguhkan stereotipe tertentu). Kadang rasanya seperti fiksi fantasi. Tetapi, sepertinya memang nyata malah terus terjadi dari masa ke masa. Bab "Bisnis Kolam Susu GM Super", misalnya, mengingatkan pada kasus prostitusi artis yang mencuat baru-baru ini.

Yang paling mengejutkan dari buku ini justru latar belakang penulisnya yang pernah mengenyam ilmu keagamaan, mulai dari pesantren sampai IAIN. Kenyataan tersebut mengesankan seolah-olah pendidikan agama itu enggak lantas menjamin seseorang bebas dari menenggak alkohol atau menikmati aurat perempuan yang bukan mahram. Maksudnya, buku ini kan ditulis berdasarkan observasi partisipatif, kalau semua detail kejadian termasuk yang tidak dieksplisitkan 100% terpercaya.

Yang enggak kalah menarik adalah Kata Pengantar dari Dede Oetomo yang semacam mengglorifikasi seks bagaimanapun bentuknya, semacam menjadi konter bagi sikap sebagian masyarakat yang cenderung menabukan atau menutup-nutupi padahal munafik, yang kalau saya sih lebih suka mengatakannya sebagai "mengendalikan". (Meskipun kalau menikah tujuannya hanya untuk melegalkan seks, menurut saya itu enggak sebanding dengan kewajiban dan tanggung jawab yang mengikutinya. Pelik, memang.)

Memang si penulis sendiri pada akhir beberapa babnya seolah-olah hendak menggiring opini bahwa segala perilaku seks yang kebablasan berhura-hura dan hedonista itu kesemuan dan kehampaan belaka. Tetapi, toh tetap ada penikmatnya, orang-orang yang merayakannya. Terus saja ada yang begitu.

Buku ini lumayan sebagai pengantar seandainya mau riset tentang dunia begituan. Tetapi, saya kira buku ini hanya seperti yang jalan-jalan kecipak-kecipuk main di permukaan air dangkal, enggak sampai menyelam. Buku ini tidak sampai memikirkan dampak jangka panjang dari perilaku demikian, yang enggak usah sampai ke akhiratlah, di tataran dunia saja dulu, kepada masyarakat luas. Mungkin karena namanya sekadar liputan jurnalistik. Maksudnya, kalau mau mengupas sampai mendalam dengan menelisik akar nafsu-nafsi yang mengakibatkan fenomena seperti dieksplorasi dalam buku ini berikut dampak dan cara-cara menanggulanginya, itu namanya kajian ilmiah yang perlu diulas dalam bentuk buku tersendiri dengan daftar pustaka berhalaman-halaman.

Saya baca buku ini yang edisi Indonesia cetakan kesembilan terbitan April 2003, dibeli dengan harga 45.000 rupiah. Biarpun sudah cetakan kesembilan, typo tersebar di mana-mana Bukunya setebal 486 halaman dan jilidnya kurang baik, enggak bisa dibuka lebar-lebar.
Profile Image for Nik Maack.
763 reviews38 followers
February 9, 2020
Badly written, badly translated, and not particularly shocking or interesting. I bought this while on vacation in Indonesia, hoping for a trashy peek into the country's culture. Instead, what I got were fairly dull and abbreviated descriptions of mundane sex work. Without any sex. If this tells me anything, it's that Indonesians are easily titliated. Because this stuff is so boring. This is a best-selling book that sold over half a million copies and inspired a series of trashy books just like it. Hard to believe.

Basically: men can pay for sex. Some people do drugs. The end.

Men can go to a restaurant and if they find the waitresses sexy, they can arrange to have sex with them. You can have sex with a woman in a car. There are sex parties. All the women are very sexy. That's about as much as the author offers up: the women are sexy. Her dress barely hid her boobs. She took off her clothes and she was sexy. Oh my god, they were all so very sexy.

Is there some sort of Indonesian censorship rule that prevents the author from telling us more?

The author introduces you to new people every chapter, with a minimum of description. For example: "Ardi was a thirty-year-old assistant to the marketing director of a heavy-equipment company." That's literally all you get about the guy. Or pretty much any guy.

What does it say that the only part that really interested me were the prices? The author would say it costs roughly 50,000 rupiahs ($50 American) for a sex act, and how expensive that is by Indonesian standards.

Forget talk of Indonesian culture, language, politics, etc. None of that is here.

I didn't finish this book. Each chapter was a chore. Everything felt superficial, hardly described, uninteresting.
Profile Image for Matt Hutson.
319 reviews109 followers
August 5, 2015
Considering that this is one of the best sellers in Indonesia is pretty sad. I can understand that sex sells in no matter what kind or form, or where you are in the world, but I find this book to be disgusting and demoralizing toward women.

This book consists of several chapters which are fairly short and only focus on Emka's personal experience. When I first saw the title for this and read the back I thought there was going to be more than just the sexual degradation of women. I thought there were going to be facts about where these women are coming from and why they are in the sex trade and maybe possibly some idea of a solution to this problem. But no, there were no facts except for how much fun Emka said he had and how much he, or most of the time his rich friends ended up paying for the many nights of craziness.

It's written in the style of telling a story practically starts out and ends the same way in each chapter. Emka's descriptive writing is actually not that bad, although I've seen better. That was the only plus about this book that I can think of. In each chapter Emka sets out on his mission to find sex for sell in hidden places throughout Jakarta. According to him this was just a journalist's project, but it didn't seem just that as a reader.

I was thoroughly disappointed in this book. People shouldn't be enjoying or supporting this sex entertainment business. It's absolutely awful to find out that places like this actually exist anywhere in this world.
3 reviews
July 23, 2014
Saya benar-benar tidak menyangka kehidupan malam di ibukota sedemikian brutalnya mengenai seks. Awalnya saya tidak tahu kalau buku ini genrenya dewasa. Tetapi, sebelum saya membacanya, saya terlebih dahulu mencari sinopsisnya di internet. Setelah tahu kira-kira isinya seperti itu, saya kaget sekali. Itupun saya belum terpikir kalau isinya ternyata lebih parah dan benar-benar mengupas tuntas tentang kehidupan seks di Jakarta. Oh, my God. It's so disgusting. Terlebih lagi pikiran saya masih sangat polos dan minim tentang yang begituan walaupun umur saya sudah 18+ tapi tetap saja rasanya muak sekali ketika membacanya. Ini semua gara-gara kakak sepupu saya yang menyarankan saya untuk membaca buku tersebut. Dan sayangnya, dia tidak memberitahu saya kalau isi buku tersebut khusus dewasa. Mengenai isinya, sang penulis memberikan ulasan yang sangat mendetil dan benar-benar berhasil membuat saya bergidik ngeri membayangkannya hahaha. Tips untuk yang baru mau membaca buku ini, bacalah dengan hati dan sikap yang bijak agar tidak terpengaruh secara emosional dan perasaan. Khususnya para lelaki. Nanti kalian melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Don't try this at home ya. Happy reading guys !
Profile Image for Fhily.
Author 1 book44 followers
January 25, 2012
Baca buku ini cengo banget :O
Kehidupan malam kota Jakarta sangat MENGERIKAN pengen muntah banget hueeekkk....
mulai dari one night stand, underground party, sauna, SPG, Arabian nite, No hand service dan lain sebagainya sangat MENGERIKAN

Ada dua kemungkinan orang membeli buku ini pertama karena penasaran sama bukunya yang pernah jadi best seller, kedua karena memang ingin tahu bagaimana sih sisi gelapnya kota Jakarta, dan ketiga beli ahhh, sapa tahu bisa 'hunting' tempat-tempat seperti itu di Jakarta. :O pisss ._.v

Saya sebagai perempuan meratapi nasib sesama perempuan yang 'paling banyak' didalam buku ini menjadi 'lubang para buaya'. Dan cuma bisa mendoakan mereka semua yang ada didalamnya supaya bisa bertaubat (?) *nahlo
Profile Image for Mira Permata Sari.
14 reviews1 follower
April 10, 2012
Novel yang saya baca diam-diam saking penasarannya akan kehidupan malam Jakarta. Banyak cerita tidak diduga yang diluar akal sehat orang awam. Gemerlap kehidupan orang borjuis Jakarta yang haus akan cinta dan kasih sayang. NB: untuk DEWASA!
Profile Image for Oni.
Author 9 books45 followers
May 17, 2013
Should have been titled: Jakarta Sex Guide, without exact address and contact number. Which make you guys just drool...
17 reviews
March 30, 2009
Couldn't even read it after a few pages....no meat or purpose to the book except curiosity about how the seedier side of Jakarta functions. Disgusting.
Profile Image for Afifah.
Author 62 books222 followers
November 20, 2013
Baca sekilas buku ini beberapa tahun silam, dan bikin muntah-muntah. Buat apa buku kayak gini ditulis?
Profile Image for Lindri.
57 reviews17 followers
April 13, 2019
Buku yang terkenal banget sampai dibikin film. Bahkan beberapa teman yang mendapati saya sedang baca buku ini pun tidak asing dengan Jakarta Undercover,
"Bukannya udah lama ya?"
"Gue baca pas masih SD tuh"
"Ngapain baca? Cari aja filmnya"

Berkisah jurnalis yang meliput dunia malam Jakarta yang gak jauh dari hura-hura, drugs, and sex. Berlatar Jakarta pada awal tahun 2000-2002. Jijik sendiri gitu bacanya, pada masa itu aja sudah serusak itu, gimana sekarang?

Cukup banyak menyebut berbagai lokasi berlangsungnya transaksi dunia malam. Bikin menebak-nebak tapi nggak ketebak juga, padahal beberapa tempat berada di Jakpus sekitar Sudirman Thamrin yang (harusnya) saya sudah nggak asing wkwkwkwk.

Versi ini banyak typo, bahkan salah nama, tadi disebut namanya siapa eh kalimat selanjutnya siapa.
Profile Image for Hariz S. H..
78 reviews18 followers
May 5, 2018
While I didn't read many Indonesian books, the writing style was cancerous. I think the memoirs style what made it indigestable. Or the author really can't write memoirs. Normal report would be fine, eventhough it will be thinning the book a lot.

While I think this would be good script for documentary, it really wasn't a suitable style for book. But love the statistics though. All of this really made me almost puke the grim prospect of reality of future generations.

Now I'm not sure, all the bad reviews for this book is because the book is really bad, or people can't handle the stories it contained. I think it's both.
1 review
August 4, 2021
Dissapointing. Title doesn’t meet the content. Only on the surface, lots of personal opinion. I was expecting more investigating, objective observation, moreover bringing up some profiles of the questioned matter- but none. This is more to self personal opinion of the writer where “everybody knew it already” especially those who live in Jakarta like myself long long time ago. Comparing with books with similar topic, the standard, editing, sorting or whatever it’s called, it is off from the process before publishing. Sorry but I don’t recommend this book to anyone, although the title seems intriguing.
Profile Image for Sebastian Song.
591 reviews5 followers
February 28, 2018
I was recommended this title as an expose of the Jakarta night life but it was a terrible piece of work. The author can't seem to decide if he's an undercover journalist, someone who wish to narrate his sexual escapades or simply someone who is having his wildest sexual fantasies.
Sex sells, I guess.
Profile Image for Varrel Vendira.
3 reviews1 follower
January 16, 2019
I was expecting that this book would tell in-depth story about Jakarta's night life. In truth, this book feels like a compilation of brothels reviews that you might found in underground online forums. If you want to know the reality of Jakarta's prostitution life in a complex understanding, this book wouldn't be the one.
52 reviews21 followers
January 30, 2018
well the only reason to read the book is out of curiosity. but it was too flat and boring, for me. feel like I'm currently readig a newspaper. but most of all, I really appreciate the author —is awareness, his splendid courage; and I can't help to think how cool journalism is.
Profile Image for Lock Heart.
3 reviews
November 4, 2018
Buku yang menurut saya sangat liar, yang dimana ketika buku ini dipegang oleh orang yang 'salah' menjadikan buku ini sebagai sex-guide di Jakarta. Terlalu membuka dunia 'sex' jakarta secara vulgar walau penulis tidak menelanjangi tempat dan para pelaku.
Profile Image for kumara.
11 reviews1 follower
January 5, 2026
Baca buku ini murni karena waktu itu pernah disinggung dosen trus sepanjang baca ini kaget-kaget sendiri. Ada perasaan ngga nyaman juga. Insight? Jadi lebih tahu sisi “lain” dari ibukota, tapi selebihnya? Tidak ada. Cukup miris sih.
Profile Image for Anarki..
2 reviews
July 15, 2019
Tiresome, boring. Saya kira bakal ada lika-liku dan semacamnya, ternyata cuma kaya ngereview tempat-tempat yang menyediakan wanita penghibur. Kecewa, bingung juga kenapa sempat jadi bestseller..
Displaying 1 - 30 of 190 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.