Jump to ratings and reviews
Rate this book

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia: Seratus Puisi Taufiq Ismail

Rate this book
Protest poetry of Indonesia.

206 pages, Paperback

First published January 1, 1998

29 people are currently reading
544 people want to read

About the author

Taufiq Ismail

26 books80 followers
Taufik Ismail was born in Bukittinggi West Sumatera on June 25, 1935. He was prominent Indonesian writer and made influence in Indonesian literature the post-Sukarno regime. He was one of pioneer Generation of '66. He was complated his education in FKHP University of Indonesia. Before active as a writer, he taught in Institut Pertanian Bogor. In 1964, he assigned Manifesto Kebudayaan and consequence stopped as a teacher by government. He compiled many of poems, the famous are Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Tirani dan Benteng, Tirani, Benteng, Buku Tamu Musim Perjuangan, Sajak Ladang Jagung, Kenalkan, Saya Hewan, Puisi-puisi Langit, Prahara Budaya : Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk, Ketika Kata Ketika Warna, Seulawah-Antologi Sastra Aceh. Bored with his serious style, in 1970 Taufik created his poems mixed with humor. Taufik has many of regards, such as Cultural Visit Award from Australia government (1977) and South East Asia Write Award from king of Thailand (1994).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
118 (36%)
4 stars
117 (36%)
3 stars
57 (17%)
2 stars
19 (5%)
1 star
10 (3%)
Displaying 1 - 30 of 33 reviews
Profile Image for Nazmi Yaakub.
Author 10 books279 followers
August 18, 2010
TAUFIQ Ismail atau lebih mesra dengan panggilan Pak Taufiq dengan rendah hati menjawab pertanyaan saya tentang sumbangan sasterawan dan penyair dalam reformasi yang meruntuhkan tirani besi Suharto, “Kami hanya pencatat. Mahasiswalah pejuang yang sebenar.”

Memang benar, sasterawan dan penyair menjadi pencatat tetapi satu daripada puisinya yang tergabung dalam kumpulan puisinya, Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia menjadi mantera penting sejauh perjuangan mahasiswa pada 1966 melalui puisi Karangan Bunga:-
Tiga anak kecil
dalam langkah malu-malu
datang ke Selemba
sore itu

‘Ini dari kami bertiga
pita hitam pada karangan bunga
sebab kami ikut berduka
bagi kakak yang ditembak mati
siang tadi.’


Dan alangkah benarnya perbandingan Pak Taufiq tentang idealisme dan aktivisme mahasiswa pada dua era berbeza yang menempati pusat intelektual sehingga dijoloki menara gading tetapi api yang dikobar oleh mereka menakutkan pemerintah di tanah airnya apabila beliau menulis Takut ‘66, Takut ‘98:-
Mahasiswa takut pada dosen
dosen takut pada dekan
dekan takut pada rektor
rektor takut pada menteri
menteri takut pada presiden
presiden takut pada mahasiswa.


Berbeza dengan gaya puisi WS Rendra, langgam Pak Taufiq lebih akrab dan segar dengan nafas Islam, didorong oleh latar budaya Melayu di Sumatera, tetapi dua penyair besar Indonesia ini tidak melupakan suara dan bisik rakyat bawahan.

Tidak hairanlah Pak Taufiq tidak dapat menahan dirinya daripada menjentik, menyinggung dan menyiku serta sesekali menggeletek mereka yang diberikan amanah sebagai pemimpin, tetapi menjadikan tampuk kepimpinan umpama singgahsana warisan mereka.

Acap kali kita juga tidak dapat menahan daripada naluri untuk mencari persamaan dengan karya Pak Taufiq kerana kelihatannya, kita - Malaysia dan Indonesia - berkongsi apa saja daripada kenikmatan (maksud dalam bahasa Melayu) hinggalah kenikmatan (maksud dalam bahasa Arab) seperti puisi yang diambil judul untuk kumpulan ini:-
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,

Di negeriku, sekongkol bisnes dan birokrasi berterang-terang curang susah dicarit tandingan,

Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,

Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan, senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan peuyeum dipotong birokrasi lebih separuh masuk kantun jas safari,

Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan.


Malah kerana akrabnya Pak Taufiq dengan budaya Melayu, tidak hairanlah beliau meminjam kerangka syair dan gurindam tetapi memberikan nafas politikal yang sinikal dalam puisinya seperti Syair Empat Kartu di Tangan dan puisi bersiri Gurindamnya.

Sifat sinikal pada penyair yang suka tersenyum ini amat jelas dalam puisi-puisinya termasuklah Sebesar-besar, Setinggi-tinggi hingga kita sendiri tidak dapat menahan ketawa terhadap kebodohan yang sering diucap-ucap dan diulang-ulang dalam skrip yang bernama ucapan pada majlis rasmi ini:-
“Kami mengucapkan terima kasih
sebesar-besarnya, dan
setinggi-tingginya
kepada Bapak Bupati
yang telah berkenan
membantu desa kami.”

Di luar, di bawah jendela aula
seorang murid SD kelas enam berkata
“Terima kasihnya
untuk Tuhan tidak tersisa.”


Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia sebenarnya membongkar semua kehodohan dan kebobrokan yang bertompok-tompok dan bertimbun-timbun di negaranya. Ia memerlukan keberanian dan ketelusan yang luar biasa untuk memunggah hal sebegitu dalam buku setebal 206 halaman ini.
Profile Image for Fadillah.
14 reviews3 followers
Read
October 9, 2009
salah satu puisi fav ku ada di buku ini. judulnya ' BERI DAKU SUMBA'

" Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bila mana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga "
Profile Image for Jiwa Rasa.
407 reviews57 followers
wish-to-have
October 16, 2012
Sudah lama mencari buku ini. Pernah mencatat sebuah puis Pak Taufik di blog 5 tahun lepas.

www.jiwarasa.blogspot.com

Rabu, Jun 15, 2005
Lima Syair Tentang Warisan Harta





LIMA SYAIR TENTANG WARISAN HARTA

(I)
Inilah syair pertama tentang secercah sejarah
Mengenai nabi Muhammad menjelang wafat
Ketika sakit beliau sudah terasa berat
Pada tabungannya yang sedikit jadi teringat
Menyedekahkannya belum lagi sempat
Maka Rasulullah berkata pada Aisyah
“Aisyah, mana itu ashrafi?
Berikanlah secepatnya pada orang tidak berpunya
Bila masih ada harta kutinggalkan
Di rumahku ini, pasti itu bakal jadi rintangan
Dan aku tak aman menghadap Tuhan.”
Sesudah tabungan itu dibagikan
Maka wafatlah beliau dengan aman

(II)
Inilah syair kedua tentang Khalid bin Walid
Perwira tinggi yang amat gagah berani
Seorang jenderal pertempuran yang sejati
Caranya mati dia sesali sendiri
Karena bukan gugur di medan pertempuran
Tetapi karena sakit, mati di atas dipan
Mengenai harta benda yang dia tinggalkan
Hanya tiga jenis macamnya :
Sebilah pedang
Seekor kuda
Dan seorang pembantu rumah tangga

(III)
Inilah syair ketiga tentang Umar yang perkasa
Yang pernah menaklukkan persia dan roma
Yang kilatan pedangnya menggoncang kerajaan demi kerajaan
Yang perkasa, kaya serta berkuasa
Tetapi sesudah dia tiada lagi bernyawa
Warisannya Cuma sehelai baju
Terbuat dari kain yang kasar
Dan uang lima keping
Seharga lima dinar

(IV)
Inilah syair keempat tantang Aurangzeb
Penguasa imperium Mughal di India
Luas dan jaya kerajaannya
Adil serta merata kemakmurannya
Dan ketika dia pergi menghadap Tuhan
Dia meninggalkan dua warisan
Pertama, uang sebanyak empat rupi dua ama
Hasil penjualan kopiah jahitannya
Kedua, uang sebanyak 305 rupi
Upah menyalin Quran dengan tangan
Dan semua uang itu kemana pergi
Pada rakyat yang miskin habis dibagi-bagi

(V)
Inilah syair kelima tentang Sultan Shalahuddin
Pahlawan perang yang sangat harum namanya
Raja dari kawasan yang sangat luasnya
Sultan dari kerajaan yang amat makmurnya
Dan dia, pada hari wafatnya
Tidak mewariskan harta benda suatu apa
Karena seluruhnya sudah habis disedekahkannya
Pada kawula fakir miskin yang lebih memerlukannya
Sehingga biaya pemakamannya
Adalah urunan dari sahabat-sahabatnya
Dan ada rakyat yang menyumbangkannya batang-batang jerami
Sebagai pagar dari makamnya

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
Seratus Puisi Taufiq Ismail


Saya suka puisi Taufiq Ismail, seorang penyair terkenal dari Indonesia. Puisi beliau tentang harta memberikan kesan yang sangat mendalam. Mengenangkan kehebatan pemimpin zaman silam yang tidak tergugat dengan kilauan emas dan permata.

Saya sering bertanya diri sendiri, ada lagikah pemimpin sebegini rupa di zaman ini, yang tidak terhimbau dengan kilauan harta. Wujudkah pemimpin yang ikhlas berkhidmat kerana Allah dan megharapkan keredaan dan ganjaran dari Allah semata-mata? Menjaga harta rakyat dan negara dengan penuh rasa amanah dan tanggungjawab, menyedari setiap nasi yang disuap akan ditanya oleh Allah di kemudian hari?

Bukan senang untuk menghadapi cubaan bila segala-galanya terbentang di depan mata. Satu hayunan tinta boleh menggadaikan nusa dan bangsa. Khazanah bangsa boleh surut jika rapuh iman di dada. Bila sudah memegang kuasa, siapa yang berani menegur sebarang angkara? Semua yang dibikin, diiya sahaja.

Tak perlu kita bicara tentang pemimpin di peringkat negara. Baru jadi kerani menguruskan pembelian untuk syarikat sudah tergugat diri dan goyah iman di dada. Syarikat rugi tetapi dia senang hati memewahkan diri, dari sumber yang tak siapa ketahui. Tanpa disangka sebenarnya dia mengabdikan diri, pada nafsu serakah memakan diri, yang akan disoal di akhirat nanti.

Ramai orang boleh bertahan dengan ujian kemiskinan dan kepapaan, tetapi tidak ramai yang boleh bertahan dengan ujian kesenangan. Ramai yang sanggup berjuang untuk Allah ketika susah, tapi alpa dan lupa diri bila sudah senang.

Moga Allah limpahkan hidayah dan suluhkan jalan untuk kita bagi meneruskan perjalanan di dunia yang penuh cubaan ini.
Profile Image for ukuklele.
463 reviews20 followers
June 27, 2024
Seingat saya, buku ini sudah dibaca sewaktu SMA, dari perpustakaan sekolah, dan saya tergugah, mungkin karena puisi-puisi Taufiq Ismail termasuk relatif mudah dimengerti lagi enak dibaca, dan saya masih penasaran sampai awal kuliah, ketika menemukan lebih banyak karya beliau di perpustakaan pusat kampus, tetapi ada begitu banyak buku lainnya yang mengalihkan perhatian, sehingga sampai lulus kuliah tidak jadi meminjam/membaca karya-karya beliau yang lainnya itu. Walau begitu, semasa kuliah itu, sepertinya saya sempat bertemu langsung dengan Taufiq Ismail, persisnya di acara yang menghadirkan beliau beserta penulis Negeri 5 Menara Anwar Fuadi, bertempat di kampus saya (kebetulan keduanya dari suku bangsa yang sama, ya :v) Ketika itu pula terjadi suatu peristiwa "seru": ada penggemar yang memaksa untuk berbicara kepada mereka walaupun tidak diizinkan oleh panitia. Sayangnya saya tidak menulis di blog mengenai acara hari itu.

Belasan tahun berlalu, saya kembali menemukan buku ini di rumah teman dan meminjamnya dalam rangka memperbanyak baca buku puisi, lagi pula belum pernah membuat review online-nya. Jadi ini pembacaan ulang, dan buku milik teman saya ini dibelinya di Palasari, 28 Maret 2009, seharga 50.000 rupiah.

Buku ini terdiri dari tiga bagian:

I. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, 46 puisi, ditulis antara Mei - Oktober 1998 (ketika naik cetak November 1998, disusulkan 1 puisi),
II. Kembalikan Indonesia Padaku, 44 puisi, 1966 - 1997,
III. Sejarum Peniti, Sepunggung Gunung, 10 puisi, 1986 - 1995, pernah dibacakan sebagai Pidato Kesenian Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-50 RI 17 Agustus 1995 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Jadi total ada seratusan puisi yang ditulis dalam kurun tiga puluhan tahun.

Banyak puisi yang berkesan buat saya, baik sepenggal-sepenggal maupun keseluruhan. Jadi saya bikin saja daftar judulnya.

DHARMA WANITA (1998), halaman 15
ORANG INDONESIA GAGAP BERBAHASA INGGERIS, halaman 16
SYAIR EMPAT KARTU DI TANGAN (1998), halaman 28
ALANGKAH BETAPA (1998)
SURAT MOBIL PAMAN SI TONI
BERI DAKU SUMBA (1970), halaman 90
BAGAIMANA KALAU (1971), halaman 91
KISAH SINGA YANG BERBURU BERSAMA SERIGALA DAN ANJING GELADAK (1977)
KISAH SAUDAGAR DAN BURUNG BEO, halaman 99
LIMA SYAIR TENTANG WARISAN HARTA, halaman 104-106
PACUAN KUDA, halaman 109
SYAIR UNTUK SEORANG PETANI DARI WAIMITAL, PULAU SERAM, YANG PADA HARI INI PULANG KE ALMAMATERNYA, halaman 112
PENERBANGAN TERAKHIR, halaman 142-147
PELAJARAN MEMBUNUH ORANG, halaman 153-154
MENDOAKAN KHATIB JUM'AT AGAR MENDOAKAN (1991, 1995, 1997), halaman 155
MIKROFON, halaman 158
PANGERAN DIPONEGORO, MAGELANG, 28 MARET, 1830, halaman 178-179
TERINGAT HAMBA PADA SYUHADA KITA DI HARI KEMERDEKAAN MUSIM HAJI 1406 H/1986 M, halaman 186
TENTANG MERENUNGI BINTANG DAN MENGHIDU IRISAN BAWANG GORENG, halaman 190
TENTANG JOKI JAM SEMBILAN PAGI, halaman 191
SEJARUM PENITI, SEPUNGGUNG GUNUNG, halaman 194

Tema puisinya sangat beragam dan kosmopolitan, menunjukkan kepekaan penulisnya terhadap sekitar di mana saja berada, entahkah mancanegara atau sekadar ruang TV di rumahnya. Berkali-kali puisinya mengandung pemujaan terhadap puisi itu sendiri (tidak saya catat karena saya tidak sebegitunya memuja puisi).

Amat kuat kecenderungannya pada religi. Beberapa telah dijadikan lagu oleh grup musik Bimbo, seperti "AISYAH ADINDA KITA" (halaman 119) serta "SAJADAH PANJANG" (halaman 121). Banyak mengenai tokoh-tokoh sejarah yang juga muslimin: Syekh Yusuf, Haji Miskin, Cheng Ho, Fatahillah, Pangeran Diponegoro, dan seterusnya. Banyak yang menyoroti fenomena-fenomena internasional, peperangan dan penindasan bangsa-bangsa, terutama yang menimpa sesama kaum muslim di Bosnia dan Palestina, di antaranya "PALESTINA, BAGAIMANA BISA AKU MELUPAKANMU" (halaman 150-151).

Pastinya banyak puisi yang berupa kritik. Ada beberapa puisi yang secara beruntun mengkritik pertandingan tinju, yang ketimbang "olah raga" menurutnya lebih merupakan "adu manusia", dalam "LONCENG TINJU" (1987), "YANG MENETES YANG MELELEH" (1988), dan seterusnya, saya hitung ada 5 puisi, dari halaman 129-133 yang ditulis dalam 1987-9.

Kiranya puisi-puisi Taufiq Ismail dapat digolongkan ke tipe karya yang "ramah tapi tidak murahan". Karena relatif mudah dimengerti, makanya bisa dinikmati, akan tetapi nikmatnya itu bukan semata-mata karena mudah--dan karena itu "ramah"--melainkan juga tetap menyuguhkan kekayaan detail, keluasan imajinasi, dan kesegaran ungkapan--dan karena itu "tidak murahan". Misal, dalam "BRAZIL LAWAN BELANDA", di halaman 58, Mario Zagallo dan Pele dikatakannya sebagai "veteran pendekar di lapangan bola". Malah Pele dijulukinya dengan "penyair besar Brazil yang menulis puisi dengan kakinya". Lalu di halaman 60, dalam "SURAT MOBIL PAMAN SI TONI", "Si-Ai-E" (CIA) disebutnya "Siskamling Dunia yang kurang pekerjaan". Memang tidak semua puisinya mudah dipahami, ada juga yang masih menyediakan teka-teki, contohnya puisi di halaman 152, "KUITANSI", pembaca mesti berpikir, menebak-nebak, apakah yang dimaksudkannya sebagai "KUITANSI" di sini dan kenapa hanya yang berbentuk lipatan kain kafan yang dapat ia tandatangani.

Di penghujung buku, dalam "Kata Penutup, Akhir Kalam. KAIT BERKAIT ROTAN SAGA, TERKAIT DIA DI AKAR BAHAR TIBA DI LANGIT TERBERITA, JATUH KE BUMI JADI KABAR", Taufiq Ismail mengakhiri perjumpaan dengan rangkaian karya puisinya, dengan membeberkan proses kreatifnya. Katanya, "Daripada dia memenuhi syarat padat dan minimum kata tapi tak indah serta gagap berkomunikasi, saya memilih puisi banyak kata tapi cantik, menyentuh perasaan, laju menghilir dan komunikatif." Mungkin ini sebab puisinya mudah dimengerti tapi tetap enak dan unik, karena daripada memadatkan, beliau lebih suka menguraikan dan mengimbuhinya dengan efek bunyi yang nikmat tidak hanya ketika dibaca sendiri tetapi juga ketika dibacakan sebagai pertunjukan. Sensitivitas audio ini sepertinya tumbuh berkat kegemarannya menonton pertunjukan wayang di Jawa dan Kaba di Bukittinggi semasa kanak-remaja.
Profile Image for Prita Indrianingsih.
36 reviews4 followers
June 3, 2008
I love Taufik Ismail poetries. Not just because they're easy to understand, almost all of his poetry contained a deep thought, advice, knowledge, love or sympathy. Most of his pieces also very influenced by his belief (Islam). Although I don't really like the title of the book because I think it is too vulgar and gave a negative effect for nationalism. Especially in Indonesia where nationalism are easily trade-able.
Profile Image for Noep.
49 reviews28 followers
July 22, 2018
Siapa yang tidak mengenal Taufiq Ismail? Saya yakin banyak orang mengenalnya sebagai penyair yang berhasil menyuarakan kepedihan sekaligus kemarahannya terhadap berbagai isu, terutama dalam konteks Orde Baru dan kejatuhannya tahun 1998. Banyak hal yang ia luapkan menyoal kebobrokan pemerintahan, kritik sosial, hubungan transendental dan seruan untuk perubahan. Siapapun mungkin akan tercerahkan tentang sejarah ketika membaca puisi-puisi dalam kumpulan ini. Kesederhanaan dan kelugasan kata-kata membuat puisi-puisi Beliau begitu mengalir. Namun, poin yang mungkin membuat saya agak memberikan rating yang tidak terlalu banyak adalah karena puisi-puisi Beliau panjang-panjang dan membuat saya harus cukup berjuang untuk mengikuti ledakan-ledakan emosinya sampai akhir; saya cukup kecapaian pada titik ini.

Tetap, saya suka puisi-puisi beliau. Beberapa di antaranya berjudul "Demokrasi", "Kuitansi" dan "Air Kopi Menyiram Hutan". Dengan judulnya yang begitu ugahari, tentunya penikmat bisa menduga-duga pesan yang bisa berusaha disampaikan. Namun, dalam puisi "Demokrasi"; yang bagi saya cukup unik dan nyinyir, adalah yang terbaik. Sederhana, saya suka satir-satir yang unik dengan sudut pandang yang tidak biasa apalagi dengan kombinasi berbagai bahasa. Sampai tidak kepikiran saya hehe.

Berikut puisi "Demokrasi":

Pah pah kok papah orasi ngotot begitu amat sih dengarkan juga kami-kami ini dong mbok yo sing sabar ngono to pak tos sabaraha tahun nya bapa teu nyetir ha iko apak lah tigo puluah sambilan tahun indak manjalankan oto daddy daddy your democracy license expired in the fifties dad in the late fifties

Pah pah papah ambil ujian SIM lagi dong jangan malu-maluin keluarga sampeyan niki karepe menang dewe piye to pak aih urang mah ari demokrasi terpimpin demokrasi pancasila sarua keneh ha rombak majelis buek pamarintah samantaro apo rasian anarki ko daddy daddy are you making a complete guided democracy cycle to collective dictatorship or what

Pah pah ujian ambil SIM demokrasi yang sabar makan waktu luama yang kompromi dengar 100 pendapat partai orang coba bikin pemilihan umum lurus takda bunuh-bunuhan tanpa sandiwara penghitungan suara woalah piye to ngger ngger bakatmu nek slonong ngono yo angele ora jamak aih aih urang mah asararipuh pisan ha sutan baa ko ka ditaruihkan juo barang ko daddy daddy please listen

Pah pah ujian SIM demokrasi papah mau nyogok lagi?

PAH!
3 reviews
January 11, 2023
Beberapa bulan kebelakang saya merasa diri saya santuy dan hikmat diluar tuntutan sarjana yang kadang juga jadi bayang-bayang belenggu.

setelah merampungkan “Hujan bulan juni - Sapardi D.D” & “Melihat api bekerja - M. Aan Mansyur”
saya berkesempatan membaca buku milik penyair yang juga megah namanya di belantara kesusastraan:

Taufiq Ismail


Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia berhasil menggarap taman di hati saya.

Menurut saya Taufiq Ismail menulis puisi dalam konteks bernafaskan politik dan agama. Puisi-puisi yang bersangkut paut dengan politik, khususnya tahun 1960an, sering dikritik oleh Taufiq Ismail, karena pada zaman tersebutlah Republik Indonesia mengalami krisis; seperti, PKI dan perubahan orde lama ke orde baru.

Melalui aspirasi keagamaan, menunjukkan bahwasannya Taufiq Ismail merupakan orang yang taat dan teguh dalam memeluk beragama. Aspirasi politik dan agama tersebut sering dikaitkan kedalam puisi-puisinya agar pembaca atau pendengar dapat mengkaitkan kritiknya dengan posisinya dalam menganut ajaran agama. Puisi-puisinya juga terkadang terbentuk dalam sebuah nasihat.

Jika para pembaca menyimak puisi-puisi karya Taufik Ismail, maka pembaca tak akan dibuat rumit dengan sajian diksi yang sublim. Puisi-puisi karya Taufik Ismail adalah puisi transparan yang cukup mudah untuk dimengerti dan dinikmati. Puisinya bagaikan cerpen yang ringkas. Penggunaan majas dalam puisi-puisi Taufik Ismail lebih sederhana.

Betapa Picasso karya Taufik Ismail ini✌️
Profile Image for Alvin Qobulsyah.
75 reviews1 follower
July 15, 2020
Published right after the aftermath of 1998 riot and the so-called reformation period. The poems within describing the context and even the underlining one with rhymes and vibrating euphony.
.
But the greatest treasure from the works for me personally is about the author itself. The inquiry on why Mr. Ismail confronted the communism so harsh is answered due to his mourned past. The consequences of being involved in Manikebu's signatory.
Profile Image for Pieter Sahibu Labobar.
17 reviews1 follower
September 9, 2022
Lebih dari 20 tahun saya baca ulang, dan masih tetap terasa sama. Larik dan syair seperti ditunggangi beban untuk menyampaikan pesan, tanpa memikirkan bahwa puisi juga butuh keindahan.
Profile Image for Skylar Alvins.
17 reviews5 followers
April 27, 2016
So, for the examinations I took a month's break away from town and wandered to one of the places I have wanted to visit in years: the famous book market. It was there that I found this gem.

I should not comment that much about this. I am basically not the poetic kind, and even if I do read it, mostly my literal mind will take over and try to grasp it in two ways: its language and its literal meaning. Yet, I enjoy Pak Taufiq's way with words and the meaning behind them, effectively highlighting all the right issues and reinforcing the message meant to be conveyed in the poems. Quite hard to describe, actually, especially when an amateur with no good way with words has to do this.

I enjoyed the whole ride across varying issues and styles, but for now I shall just highlight a few that left me quite the deeper impression at the moment. With all due respect and most sincere apology, yes, I am writing this in Inggehis.


Dharma Wanita (p. 15)

A criticism about the eponymous organization, whose members are, well, women - to be slightly more specific, wives of civil servants - which sometimes tends to overact instead of just do its regular program and activity, leading to its members sometimes losing a grip at their children's education, their household, and even using this organizational activity to boost their husbands' career in a negative sense. This poem pleads to just dismiss such activity if the overacting continues on.

This resonates with me, since when I was in my younger days, I witnessed similar tendency not just in the aforementioned Dharma Wanita. Some other women's organizations also seemed to emphasize this aspect, clear as day, so much that even 10-year-old me knew it was not a good thing. Wondering if that will still be the issue once I enter the real working world. (This old lady is still sort of stuck in between: not exactly in school, but no license to work.)


Tiga Tangga Sama, Kau Daki Berulang Kali (p. 24-5)

Sometimes patriotism is just but a vehiculum for other purposes. Sounding so heroic, like sugar coating for your bitter preparations, but well, as repeated three times in the poem, only very few is worth the listen. Eighteen years passed since the poem was written, and I am once again left thinking, will people still go for the same sugar coat yet again, making a fourth, fifth, sixth?


Kupu-Kupu di Dalam Buku (p. 169)

Written in 1996, twenty years passed and not much have changed. Not many people read books. Although the current technology has enabled a lot of books to be brought along everywhere in the electronic form, in a thin brick-sized apparatus with a screen that reacts to even banana fingers like mine, still... I sometimes still think positively. When people gaze at their phones, they might be reading e-books.


Pelajaran Tatabahasa dan Mengarang (174-6)



...
Kalian anemi referensi dan melarat bahan perbandingan
Itu karena malas baca buku apalagi karya sastra.
...



This was written in 1997. Technology marched on, nearly 20 years later, still the same thing happens. Access to a lot of reading material is now available - only needing an internet connection, virtually everywhere especially in the cities, and a judicious mind to choose the valid ones.

And yet, this next verse applies well into this day:



...
Dan mengenai masalah membaca buku dan karya sastra
Pak Guru sudah tahu lama sekali
Mata kami rabun novel, rabun cerpen, rabun drama dan rabun puisi
Tapi mata kami 'kan nyalang bila menonton televisi.



Sad truth.


Aside from these highlighted poems, I also find all the religious-themed poems very touching, so much I could not find a way to express it properly. They made me contemplate, think, and introspect: have I done enough good?
Profile Image for Arista Vee.
Author 6 books44 followers
March 10, 2017
Magis! buku ini benar-benar magis besar bagi saya, salah satu referensi dan rujukan saya dalam belajar membuat puisi, salah satu buku yang mengantarkan saya meraih juara di FLS2N tk Jawa Timur 2013 lalu. Suka sekali sama kumpulan puisinya, dikawinkan dengan kumpulan cerpennya Seno Gumira cocok ini hehe
Profile Image for Sulin.
332 reviews56 followers
April 2, 2015
Buku ini saya baca sampai habis sekaligus saya cari maknanya(beberapa puisi) waktu kelas 12 SMA dan yang mengantarkan saya menjadi pelajar SMA sederajat Kota Malang nomor 1 dalam mengulas karya sastra kontemporer+presentasinya di bulan bahasa tahun 2012. Mengalahkan 60 sekolah partisipan lain di Malang (heheheheh sombong dikit).
Dapet banget sindirannya, cuma orang dengan pengetahuan luas yang tahu maksudnya. Butuh waktu seminggu bagi saya untuk menelanjangi SATU saja puisi di buku ini. Yang saya pilih waktu itu adalah M(A)JOI sendiri yang ada persis di tengah-tengah buku.
Satirenya ngena banget, setiap kalimat yang ada disana bahkan setiap barisnya itu mengacu ke satu peristiwa-peristiwa Orde Baru yang bila digabung saya cuma bisa tetes-teteskan iler saja. Ajib.
Terimakasih Bapak Taufik <3
Profile Image for Wella Madjid.
23 reviews6 followers
Read
December 8, 2012
When you had your own personal and historical experiences, sometimes you don't need long time to think about the words you want to use. You let your feeling ruled your mind, heart and soul deeply and subjectively back to the memories and to all people that involved within. That's what Taufiq Ismail had done in this book. He brings the readers to the land of history called INDONESIA with his book as our transportation :-)

He's sewn all anger, sadness, frustrations, encouragement and the spirit left after 1998 moral and economic crisis in our country and try as hard as he can to take lessons from bad and good things.
Profile Image for Hidya Nuralfi Mentari.
149 reviews15 followers
April 24, 2014
Favoritku sajak "Takut 66, Takut 98" dan "Bagaimana Kalau".

"Mahasiswa takut pada dosen
Dosen takut pada dekan
Dekan takut pada rektor
Rektor takut pada menteri
Menteri takut pada presiden
Presiden takut pada MAHASISWA." -Takut 66, Takut 98, Taufiq Ismail

Dan ini cuplikan Bagaimana Kalau di buku ini (hanya beberapa cuplikan, bukan keseluruhan sajaknya)

"Bagaimana kalau dulu
bukan khuldi yang dimakan Adam,
tapi buah alpukat...

Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah,
dan kepada Koes Plus kita beri mandat

Bagaimana kalau hutang-hutang Indonesia
dibayar dengan pementasan Rendra..." -Bagaimana Kalau, Taufiq Ismail
Profile Image for Rahmadiyanti.
Author 15 books174 followers
August 3, 2007
Seperti biasa, puisi-puisi Pak Taufik selalu menohok tapi juga bikin kita merenung. Kalimat-kalimatnya yang bernas, lugas, kita kayak nggak baca puisi tapi ngobrol sambil diajak keliling negeri lara ini.
Profile Image for Asep Sambodja.
28 reviews35 followers
October 23, 2007
Kenapa Taufiq Ismail malu jadi orang Indonesia? Dalam buku ini ada satu puisi yang saya sukai, yakni "Surat Amplop Putih untuk PBB". Karena dalam surat yang disampaikan penyair kepada PBB itu berisi ludah.
Profile Image for za.
130 reviews21 followers
September 2, 2007
Dari dulu kepengen punya, tapi kok gak beli-beli. Palasari barusan terbakar, masih adakah buku ini?
Profile Image for Desti Kurniawati.
1 review
April 5, 2008
pendapat Pak Taufiq Ismail tentang Indonesia bikin kita mikir soal negara ini. Kita dibuat tambah cinta dan mungkin sedikit lebih paham buat mengerti arti seorang yang peduli terhadap bangsa.
Profile Image for Didit.
35 reviews4 followers
May 2, 2008
Ketika peristiwa bangsa dibangkai dalam sebuah karya sastra yang tajam, menusuk tepat sasaran. Lihat kondisi negara kita dari sini.
20 reviews1 follower
October 8, 2008
sebenernya mau ngasih 7 bintang untuk kumpulan puisi ini! sangat taufiq ismail, dengan gaya puisi yang seolah bertutur. menyengat!
Profile Image for Nulur.
138 reviews24 followers
October 11, 2008
Sebenarnya, puisi-puisi Pak Taufik agak mudah dicerna. Apalagi, pas puisinya dibuat lirik lagu Bimbo. Dooh, kata2 sederhana, tapi maknanya dalam sekalee buat saya.
27 reviews
November 23, 2008
aduh aq kehabisan kata2 untuk memuji penyair favoritku
1 review
Read
March 24, 2012
aku rasa buku bapak taufiq ini adalah buku perasa yang akan mengetarkan hati warga indonesia yang sesuangguhnya dan akan menyadarkannya kemabli
Profile Image for Ardianakonita.
16 reviews2 followers
December 19, 2020
ngga diraguin lagilah, pengarang yang luar biasa. soalnya aku suka banget puisi. jadi buku ini baguuuuuuuuuuuuuus
4 reviews
April 22, 2014
Puisi-puisinya begitu kembut namun tegas mengatakan sejarah. Seolah darah dan lidah Pak Taufiq adalah Pena yang mencatat waktu sejarah perjuangan di masanya
Displaying 1 - 30 of 33 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.