What do you think?
Rate this book


206 pages, Paperback
First published January 1, 1998
Tiga anak kecil
dalam langkah malu-malu
datang ke Selemba
sore itu
‘Ini dari kami bertiga
pita hitam pada karangan bunga
sebab kami ikut berduka
bagi kakak yang ditembak mati
siang tadi.’
Mahasiswa takut pada dosen
dosen takut pada dekan
dekan takut pada rektor
rektor takut pada menteri
menteri takut pada presiden
presiden takut pada mahasiswa.
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnes dan birokrasi berterang-terang curang susah dicarit tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan, senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan peuyeum dipotong birokrasi lebih separuh masuk kantun jas safari,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan.
“Kami mengucapkan terima kasih
sebesar-besarnya, dan
setinggi-tingginya
kepada Bapak Bupati
yang telah berkenan
membantu desa kami.”
Di luar, di bawah jendela aula
seorang murid SD kelas enam berkata
“Terima kasihnya
untuk Tuhan tidak tersisa.”
...
Kalian anemi referensi dan melarat bahan perbandingan
Itu karena malas baca buku apalagi karya sastra.
...
...
Dan mengenai masalah membaca buku dan karya sastra
Pak Guru sudah tahu lama sekali
Mata kami rabun novel, rabun cerpen, rabun drama dan rabun puisi
Tapi mata kami 'kan nyalang bila menonton televisi.