Lucy Bushill-Matthews, Muslimah muallaf dan ibu dari tiga orang anak, menyerap teori dan acap kali realitas kehidupan yang menggelikan sebagai Muslim di Inggris: sebagai seorang muallaf, seorang wanita bekerja, seorang ibu, dan anggota aktif komunitas Muslim Inggris.
Temukan kehidupan seperti apa yang benar-benar dia jalani sebagai Muslim di Inggris: shalat di kantor tatkala bos ada; ibadah Haji bersama ratusan wanita Arab yang memakai pakaian serbahitam dari atas kepala sampai ujung kaki; atau menjelaskan kepada seorang anak gadis berusia enam tahun, yang melihat gambar-gambar di surat kabar bahwa seorang Muslim Asia berjenggot ditahan karena terorisme, bukanlah kerabat sesama Muslim yang kita semua kenal dan cintai, dia hanyalah seseorang yang benar-benar terlihat sama.
Lucy was born in 1971 in Surrey, England. She went to an all-girls school for most of her childhood, before going on to Charterhouse, a predominantly-boys boarding school with a Christian ethos: there she met her first Muslim. She studied Economics at Cambridge University, investigated Christianity and Islam at the same time, and unexpectedly found herself compelled by what she had discovered to make a life-changing decision about her faith. She happened to meet up again with that former schoolfriend: he went on to become her husband.
They moved to London where Lucy embarked on a career in a major multinational assessing the financial implications of toothpaste and toothbrushes. She later moved to a pharmaceutical company where she became a Health Economist and was assigned to analyse the intricacies of male erectile dysfunction. Children came along and with them came a change of focus: now working only part-time, Lucy partnered with others to set up and run a Muslim madrasah. For many years, she took large groups of local schoolchildren around the historic mosque in her home town of Woking; she also spoke about Islam to groups of interested adults – to teachers, police, and even the Women’s Institute.
Moving to South Africa in 2006 necessitated more changes: since she has been there, Lucy has written her first book, worked for Islamic Relief as Marketing Manager, and now works for Tibb as Social Development Manager developing healthy living projects within poor communities. She remains a regular contributor to UK’s Emel Magazine and – after a few false starts – has found a madrasah to teach in, one which encourages young children to learn about and question their faith in a fun and interactive way, and which includes visits to other places of worship and social outreach projects as part of the learning process. Lucy has 3 children and a kitten who loves walking over the keyboard.
I started out disliking this book a lot, but by the end I had grown to like it a bit more than I figured I would. The writing style reminded me of a Livejournal or some other kind of internet blog -- there were merely snippets of the author's life to be taken in small, easy-to-digest snippets.
Overall, Lucy Bushill-Matthews is trying to get her readers to understand and appreciate Islam, which is something that I am thankful for. Of course she is going to want to convert her readers, but that wasn't the driving force behind her narrative.
The best sections of the book were the periods of struggle. You get the feeling of isolation that must have been felt to many Muslims post-9/11 and after the bombings in London. But on the other side, you also see the life of a contemporary woman Muslim, and she proves (rather successfully in my opinion) that the stereotype of the beaten and downtrodden woman figure is entirely false.
Welcome to Islam is not an earth-shattering read, but it is something that I'm thankful that I picked up.
Buku ini adalah catatan peribadi seorang wanita sepanjang kehidupannya menjadi seorang Muslim muallaf di negaranya sendiri yakni, Britain. Dengan usia yang masih muda iaitu 19 tahun, penulisnya Lucy Bushill-Matthews telah mengambil satu keputusan berani untuk menukar agama anutannya daripada agama Kristian kepada agama Islam. Keputusan ini seperti jangkaan pembaca iaitu mendapat respon yang kurang mesra daripada keluarganya sendiri. Walau bagaimanapun, apa yang saya kagumi adalah apabila ahli keluarga mereka tidak membentak secara melampau sebaliknya menerima keputusan anak mereka dengan sedikit aman. Peristiwa ini disampaikan dalam bentuk satu situasi yang agak mendebarkan iaitu ketika menikmati makan malam.
Ketika itu, Lucy merupakan graduan yang masih menuntut di Universiti Cambridge. Mengejutkan, Lucy juga telah mengambil keputusan untuk menikah pada usia muda dengan calon pilihannya, Julian (seorang berketurunan Iran). Maka, seterusnya pembaca dihidangkan dengan rentetan peristiwa yang memaparkan suka-duka Lucy dalam menempuhi kehidupannya sebagai seorang Muslim. Seperti anak yang baru lahir, Lucy begitu rajin berusaha untuk mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu agama khususnya penguasaan bahasa Arab agar dia dapat membaca surah al-Fatiha. Membaca surah al-fatihah adalah syarat sah dalam solat. Maka, dia sentiasa berusaha sehingga berjaya malahan memahami dan menghafal terjemahannya. Keupayaan ini telah memberikan satu paksi positif kepada pembaca bahawa mereka yang baru memeluk Islam tapi sudah mampu menguasai kefahaman mereka tentang pengertian sesuatu surah. Alangkah malunya jika yang dilahirkan sebagai seorang Islam tapi masih gagal menandingi keupayaan tersebut.
Nyata sekali, kehidupan sebagai seorang muallaf di Britain memberikan banyak cabaran kepada Lucy dalam memahamkan insan di sekitarnya tentang Islam walaupun ada yang juga cuba berpandangan sinis dan berbaur keagamaan kepadanya. Melalui pengalaman-pengalaman ini membuatkan pembaca seolah berada di tempat kejadian dan sekaligus memahami apa yang berlaku.
Dari seorang remaja sehingga melahirkan 3 orang anak, banyak perkara yang dikongsikannya bersama pembaca. Antaranya tentang sambutan orang sekeliling kepada gaya hidupnya sebagai seorang Muslim juga kepada anak-anaknya. Pelbagai peristiwa yang terkadang agak meriangkan, lucu malahan juga membuatkan pembaca terkedu seperti peristiwa anak gadisnya yang masih kecil telah memakan daging khinzir ketika sesi persekolahan di mana makanan yang ada sudah disediakan oleh pihak sekolah. Walaupun perkara ini sudah dimaklumkan dengan lebih awal lagi, namun ia tetap berlaku juga. Maka, Lucy memerlukan banyak ketabahan dan kesabaran dalam membimbing anak-anaknya yang nyata sekali mengalami kekeliruan pegangan akibat sekelilingnya yang menuntut kepada perbezaan yang nyata.
Melalui buku ini sebenarnya, ia disusun dengan begitu rapi dan ini memudahkan pembaca menghadami isi yang ada sekaligus menjadikan ia pembacaan yang agak santai walaupun isinya kelihatan sedikit berat. Antaranya bab ketika awal memeluk Islam, ketika penikahan dan pemakaian tudung, pengembaraan di negara orang khususnya negara Islam seperti Indonesia, Arab Saudi dan Iran, perjalanan haji dan pengalaman sebagai ibu muda Islam.
Banyak yang dapat dilihat melalui pembacaan buku ini. Di samping itu, pembaca juga akan berasa kagum dengan semangat penulis ini dalam menegakkan syiar Islam di negaranya sendiri. Contohnya perkongsian penulis dengan rakan-rakan untuk membuka madrasah sendiri demi kepentingan akidah anak-anak yang masih kecil serta memberikan ceramah dan syarahan umum di sekolah, di pejabat mahupun kepada kelompok tertentu untuk memahami apakah Islam dan kaum Muslim itu sendiri.
The book is less like a “welcome to Islam” guide and more like a personal journey told from the perspective of a revert. Lucy shares her story in a very honest, direct, and grounded way. What stood out to me personally is that this book isn’t trying to teach Islam in a formal or theological sense — it’s simply her perspective, her lived experience told in a human and relatable way. One thing I did feel was slightly missing was a clearer moment or turning point around why she chose to convert; it felt like some of that detail was left unsaid. That said, I really enjoyed the way the book was structured, and the way Lucy writes, I could read 20 pages all in one go with not realising!
I’d say the book does a good job of helping reverts feel less alone and gives insight into Islamic practices and the reasoning behind them through lived experience rather than instruction. It’s not a book about Islam as much as it is a book about becoming Muslim, keep that in mind :)
Udah sering lihat buku ini di toko buku dan tertarik untuk membeli (baca: membacanya) tetapi hati masih ragu karena lebih cenderung untuk membeli buku lain atau barang lain (di toko buku tersebut). Pertimbangannya adalah apakah ini saat yang tetap bagi gw untuk membacanya, takutnya malah di tengah jaan malah ga mood atau bukunya ga cocok buat gw..
Tapi Allah berkehendak lain, waktu ke Islamic Book Fair kemarin (5-14 Maret 2010), nyokap gw beli buku ini. "Wow!!" kata gw, kesampaian jua pengen baca buku ini (lebay)..
Malamnya langsung gw baca, walapun tanpa harapan apa-apa, ga ngarep bukunya bagus, apalagi jelek.. Nothing to lose lah..
Eh sekali baca malah keterusan..
Kesimpulan yang gw ambil dari buku ini adalah: Buku ini bercerita tentang seorang Inggris Muslimah dengan segal kendala hidupnya.. Gak ada konflik berarti, atau mungkin sebenarnya berarti tapi karena Lucy Bushill-Matthews selalu dapat melewatinya dengan lancar, maka seperti tidak berarti.. Muslim itu sangat beragam, apa yang bagi Muslim Indonesia tidak dipersoalkan, bagi Muslim Inggris dipersoalkan, begitu juga sebaliknya.. Permasalahan yang dihadapi Muslim Inggris berbeda dengan yang dialami Muslim Indonesia: di sana orang2 Non-Muslim tidak terlalu bersentuhan dengan Muslim, jadi tidak tahu tentang ajaran2 Islam, sedangkan di Indonesia karena antar agama saling bersentuhan, jadi ada pengertian tentang agama2 dari umat agama lain..
Buku ini sangat menarik. Buku yang menceritakan tentang seseorang yang berkebangsaan inggris menjadi seorang muslim. Muallaf. Sangat mengesankan ketika dia harus mencari cara untuk menyelesaikan permasalahannya, dan memberitahukan kepada lingkungannya bahwa dia seorang muslim. Terlihat sulit, tapi memang itu kenyataannya. Paparannya tulisannya sungguh renyah, mudah disimak dan dinikmati. Semoga ada edisi kedua buku ini ketika ia harus menerap di afrika utara. Saya menunggu tulisannya selanjutnya.
-oOOOo- ketika sayaa membaca buku ini -oOOOo- Realisasi membaca saya sangat sulit beberapa pekan ini, diantara pekerjaan kantor yang menumpuk dan badan yang kelelahan, dan akhirnya saya bersyukur masih bisa menyelesaikan buku ini sampai tuntas, karena biasanya saya hanya menghabiskan buku itu setengah lebih dari total halaman. Reaksi ketika membacanya saya hanya berdecak kagum, ternyata masih ada manusia yang menceritakan ke-muslim-annya dalam tulisan yang menarik. Rasanya saya malu dan iri ketika saya dilahirkan menjadi muslim tapi belum merasa baik sepenuhnya dan menjalankan ibadah sebaik-baiknya. Semoga buku ini memberikan motivasi kuat untuk menjadi muslim yang taat, terlebih lagi sebentar lagi ramadhan, semoga memberikan inovasi dan semangat untuk menjalankannya layaknya penulis ketika berusaha sekuat tenaga di ramadhan pertamanya.
Reading the accounts of reverts’ journeys to Islam always rejuvenates my own faith. Such is the remarkable tale of Lucy Bushill Matthews who takes the reader along with her as she unfolds her past and reveals her exciting experiences. The author’s writing style is direct and unobtrusive. Rather than detailing her sojourn with long and dreary prose, she shrewdly breaks them into short and enjoyable portions with catchy sub headings. Belonging to a Christian family, her conversion and the subsequent sacrifices she had to make are sure to inspire any Muslim. However, as much as she practises the new faith, Lucy also attempts to retain her English identity by amalgamating the British and Islamic values that coincide with each other. I also found her determination and focus in clearing away the misconceptions that arise in the minds of non-Muslims to be very motivating. While discovering more about the beauty of Islam, she logically questions the prevalent practices in her society. It is through her charitable and social work for the Muslim community that she hopes to bring forth a positive change, which is on its own a commendable virtue. Reviewed by Sumreen Wasiq for the February 2013 issue of SISTERS Magazine
Bushill-Matthews, a white, British-born convert to Islam, leads us through her world, recounting her experiences with the reader and explaining the differences and similarities between the Muslim and Christian faiths. Her accounts are rather balanced, admitting that although she met many friendly, helpful and modern Muslims in her journeys, she also encountered much descrimination, criticism and misogyny (much like you will in most religions, I'd imagine). Knowing a little about Islam beforehand, but unsure of the basics, I was hoping that a 'Welcome to Islam' through the eyes of a British woman would be the ideal starting place and I was not disapointed. Naturally however, as a British convert, she can only can only give a limited view of the Islamic faith, based on her own beliefs and opinions (she mentions several occasions when Muslims, even the British, disagree with her practices and ideas). Further reading may be required, but this is a tidy little introduction.
Sebenarnya, dari gaya bahasanya, saya kurang menikmati. Bahasanya, menurut saya, terjemahan bangeeet. Jadi taste nya agak beda.
Selain itu, ada beberapa bagian yang penulis menceritakannya melompat-lompat dan beberapa nggak begitu jelas waktunya. Sesekali saya merasa bingung waktu membacanya (bab Ramadhan).
Tapi, bahasa yang digunakan pada novel ini memang ringan. Sehingga mudah dipahami.
Disini saya juga belajar memahami pandangan muallaf tentang Islam. Dan yang paling menarik untuk saya adalah mengetahui bagaimana mereka berjuang menjadi Muslim di Eropa. Sebagai muallaf, sebagai kaum minoritas.
Buku ini menyumbangkan semangat memperbaiki diri di mata Allah. Kalau mereka yang ber-Islam dengan begitu banyak perjuangan di Eropa, yang merindukan adzan dan madrasah Islam, yang bahkan tidak libur ketika hari raya 'Ied, saya yang tinggal di Indonesia dengan segala keterbukaan beragama, seharusnya malu dan lebih mampu untuk ber-Islam dengan baik.
A light and yet informative reading. It feels very personal too. It enlightened me on several aspects, for instance I just knew that the Night Journey (Isra' and Mi'raj) by the Prophet Muhammad s.a.w (peace be upon him) has been viewed by some sahabahs (including his wife Ayesha r.a) was purely spiritual in nature, not physically happened. There must be a reason, though.
To Lucy, I already loved your kids - Safiyya, Asim and Amaani. Big hugs to them (and you!) :)
I found this book to be rather dry, but it proved to be an invaluable resource when it came to learning about Islam. (In fact, I used this book as a cross-reference when I read the book The Taqwacores by Michael Muhammad Knight.) If you don't know anything about the religion outside of Al-Qaeda or ISIS, I definitely recommend picking this book up to at least understand why over a billion people practice Islam.
A really nice personal story of the author's journey to Islam in Britain - her struggles, the questions she was asked and her answers, all seems to be covered here which makes a nice book for someone who wants to learn about Islam in a gentle way, via the story of an ordinary woman nowadays.
may by I'll take lots of time to done it because I'm not native speaker so I'll have some problem with some words ,second I don't have suitable time to finish it in short time , so my reviews are late
This entire review has been hidden because of spoilers.
Pengalaman-pengalaman hebat yang dirasakan oleh seorang Muslimah-Mualaf. semua pendapatnya selalu merujuk pada Al-Qur'an dan Hadist serta teori-teori yang rasional.
Kagum bagaimana main karakter dapat berpegang teguh dengan ajaran agama barunya (Islam) di negaranya yang jumlah angka penduduk muslim sangat minim. May Allah always bless her.