Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita dewasa ini, yang cenderung dinilai bersifat transisional, ternyata posisi wartawan lebih dituntut pada peran etisnya sebagai pelayan masyarakat. Itu sebabnya, wartawan harus selalu resah dalam memaknai kebebasannya. Apalagi, jika kebebasannya itu dipertalikan dengan etika pers, yang normanya mestinya dipangkalkan dari nilai-nilai etis bangsa. Inilah tantangan wartawan Indonesia abad ke-21. Ditulis melalui perspektif Filsafat Bahasa, buku ini menjadi penting dibaca oleh wartawan, politikus, akademikus, praktisi komunikasi, praktisi bisnis, pakar bahasa, dan siapa pun Anda yang mencintai keutuhan negeri ini. Penulisnya, Dr. Wahyu Wibowo, adalah wartawan, dosen, dan penulis sejumlah buku mengenai bahasa, sastra, jurnalistik, dan komunikasi pragmatik.
Dr. Wahyu Wibowo dilahirkan di Kampung Serdang, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada 8 Maret 1957. Setelah menamatkan S-1 dalam Ilmu Sastra dan S-2 dalam Ilmu Manajemen, ia merampungkan S-3 dalam Ilmu Filsafat di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dengan disertasi mengenai Filsafat Bahasa dan relevansinya terhadap etika pers nasional. Minatnya berorganisasi, berkesenian, dan berjurnalistik tumbuh subur selama menjadi mahasiswa FSUI kampus Rawamangun, Jakarta (1976-1984). Sebagai aktivis, ia adalah pendiri Ikatan Keluarga Sastra Indonesia (gaya baru) FSUI (1978) dan penggagas berdirinya Ikatan Keluarga Mahasiswa Sastra Jawa FSUI (1979). Wahyu Wibowo pernah aktif sebagai sekjen BPM FSUI (1978), ketua Bengkel Sastra Ibu Kota (1980), dan anggota MPM-UI (1983). Sebagai penyair, ia dikelompokkan ke dalam Sastrawan Indonesia Angkatan 2000. Sebagai kritikus, ia membidani Aliran Kritik Sastra Sawo Manila di Kampus Universitas Nasional, Jakarta (1988). Sebagai jurnalis, Wahyu Wibowo adalah penerima Sertifikasi Wartawan Utama dari Dewan Pers (2011). Ia pernah pula memeroleh Sastra Award sebagai dosen terbaik Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional, Jakarta (2004 dan 2008). Karier jurnalistiknya berangkat dari pers kampus, yakni sebagai redaktur majalah kebudayaan Tifa Sastra (1976-1984), kontributor koran Salemba (1979-1980), dan redaktur majalah kebudayaan Bende (1977-1985), kemudian terjun ke pers umum menjadi reporter majalah berita umum Fokus (1982- 1984), redaktur majalah musik IHE (1984-1985), redaktur majalah Video (1985-1987), redaktur majalah remaja Monalisa (1987-1989), redaktur majalah berita ekonomi Prospek (1989- 1992), wakil pemimpin umum/pemimpin redaksi tabloid Paron (1992-1997), redaktur pelaksana harian umum ABRI (1998-1999), wartawan senior majalah Solusi Investasi (sejak 2003), dan penasihat manajemen majalah Hortiku (sejak 2008). Selama kariernya Wahyu Wibowo sudah berkeliling Indonesia dan juga sudah melanglang jagat ke sejumlah negara Asean, Asia, Eropa, dan Australia. Sementara itu, karier akademiknya dibangun sejak 1985 dengan mengajar di sejumlah PTS Ibu Kota dalam mata kuliah, di antaranya Bahasa Indonesia, Penulisan Kreatif, Kemahiran Menulis, Manajemen Pers, Filsafat Ilmu Pengetahuan, dan Filsafat Bahasa. Karyanya yang sudah diterbitkan, di antaranya kumpulan puisi (bersama Hendry Ch. Bangun) Ken Mokar Ikan dalam Kaca (IKSI-FSUI, 1980); Katarsis: Kumpulan Esai Sastra (Nusa Indah, 1984); Menyingkap Dunia Kepenyairan Subagio Sastrowardoyo (Balai Pustaka, 1984); novel Merajut Angan-angan (Serajaya, 1986);kumpulan puisi Liang Luka (Serajaya, 1989); kumpulan puisi Cinta Batu, Batu Cinta (Serajaya, 1992); Mitos Bahasa (Paronpers, 1994); Konglomerasi Sastra (Paronpers, 1995); Model Waktu dalam Perahu Kertas Sapardi Djoko Damono (Balai Pustaka, 1997); kumpulan cerpen Glasnots (Balai Pustaka, 1999); Manajemen Bahasa (Gramedia Pustaka Utama, 2001), Otonomi Bahasa (Gramedia Pustaka Utama, 2001); Enam Langkah Jitu Agar Tulisan Anda Makin Hidup dan Enak Dibaca (Gramedia Pustaka Utama, 2002); Sihir Iklan (Gramedia Pustaka Utama, 2003), Membangun Kultur Perusahaan Melalui Kesadaran Komunikasi Adab (Gramedia Pustaka Utama, 2004), Berani Menulis Artikel Jurnalistik (Gramedia Pustaka Utama, 2006), Menjadi Penulis & Penyunting Sukses (Bumi Aksara, 2007), Piawai Menembus Jurnal Terakreditasi (Bumi Aksara, 2008); Menuju Jurnalisme Beretika (Penerbit Kompas, 2009); Tata Permainan Bahasa Karya Tulis Ilmiah (Bumi Aksara, 2010); Cara Cerdas Menulis Artikel Ilmiah (Penerbit Kompas, 2011); kumpulan puisi Pangeran Katak & Sang Putri bersama Hendry Ch. Bangun dan Frieda Amran (Pustaka Spirit, 2011), dan Linguistik Fenomenologis John Langshaw Austin: Ketika Tuturan Berarti Tindakan (Bidik-Phronesis Publishing, 2011). Buku yang tengah dipersiapkan dan segera diterbitkan oleh BPP adalah tentang revitalisasi teori Framing dan Filsafat Ilmu Pengetahuan.