Ruang Belakang adalah kumpulan cerita pendek karya Nenden Lilis yang termuat dalam cerita pendek pilihan Kompas Tahun 2000. Nama Lengkapnya Nenden Lilis Aisyah, ia lahir di Garut, Jawa Barat, 26 September 1971, Menyelesaikan pendidikan di Jurusan Pendidikan dan Sastra Indonesia FBPS IKIP Bandung dan menyelesaikan S2 di IKIP Bandung, dan sekarang ia berprofesi sebagai dosen di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Suaminya, Beni R. Budiman, adalah seorang sastrawan asal bumi parahyangan juga, alumnus sastra Perancis IKIP Bandung.
Dalam kata pengantar buku ini, ia mendedikasikan kumpulan cerpen ini pada almarhum suaminya itu, karena suaminya dulu yang mendorong dan memberi semangat padanya agar mengumpulkan cerpen-cerpennya dalam sebuah antologi.
Antologi Ruang Belakang ini terdiri dari 15 buah cerpen. Rentang penulisannya cukup panjang dari 1992-2002. Tema yang diangkat dalam cerpennya adalah tantangan yang dihadapi perempuan dalam masyarakat, sebagai istri, sebagai mitra pria, sebagai bagian dari komunitas. Hal ini mungkin ia lakukan sebagai kritik sosial pada masyarakat yang meminggirkan atau kurang memperhitungkan peran perempuan. Sebagai akademisi, tentunya ia melihat kehidupan sosial masyarakat yang kurang berpihak pada perempuan, seperti pendidikan yang kurang, sebagai orang yang membantu suami dengan sepenuh jiwa sehingga ia mendapati dirinya tiba-tiba tua dan tak menarik lagi (Perempuan berbaju bunga-bunga). Dialog (dalam hati perempuan) yang seolah-olah "protes" pada ketidakadilan yang ia rasakan, "Seandainya laki-laki itu punya ketulusan dan kesadaran untuk menerima semua perubahan ini, ia tak akan mengalami kekecewaan seperti itu. Mungkin ia akan bersama-sama dan bahu membahu menciptakan peradaban yang lebih baik dengan perempuan yang satu tanpa yang satu merepresi yang lain. maka ketika itu, barulah hidup ini terasa adil." (Oresteia).
Cerpen yang tidak saya paham, yakni Wabah. Dimana seluruh penduduk desa merasa aneh dengan penyakit Pak Camat, yang suka berkata-kata dengan terbalik. misalnya Mau bilang "siap", jadi "pais", dan penyakit itu menjalar ke beberapa penduduk. Ada satu yg dipercaya bisa menyembuhkan, yakni Mbah Bajik. Mbah Bajik berdoa dan berkonsentrasi. namun tubuh mbah bajik malah tumbang, dan ia gagal. Mbah Bajik ditangkap polisi karena dituduh memimpin rapat gelap. Penduduk protes di depan kantor Camat. pak Camat dan stafnya menertawakan penduduknya yang berdemonstrasi, dengan bahasa terbalik juga.
Cerpen-cerpen Nenden Lilis ini termasuk yang tidak gamblang. Mungkin karena terbentuk lingkungan akademis, saya menilai cerpennya sarat dengan kritik sosial dan latar belakang. Tinggal bagaimana saja merangkainya dan mendapat pelajarannya.
Saya mendapat buku ini dari sahabat saya, dan rasanya seperti melihat dunia dari matanya. Benarlah buku adalah salah satu alat kita melihat sudut pandang orang lain. Saya baru mengenal tulisan Ibu Nenden Lilis A. di satu buku ini saja, tapi saya mengerti kenapa buku ini jadi begitu besar impactnya di diri teman saya.
Sulit memilih cerita pendek favorit, tiap cerita ada kesannya masing-masing. Saya suka Hari Pasar, misalnya, karena ia adalah kejadian yang sayangnya familiar. Bagaimana pembangunan justru merusak lanskap pedesaan dan dinamika masyarakat di dalamnya. Seorang Kakek di Trotoar menurut saya amat 'nakal'--dalam artian sindiran yang jenaka sekaligus mengena tentang bagaimana cara kita memandang kewarasan. Gerobak Mang Udi rasanya pahit sekali; satu cerita tentang kenangan masa kecil manis yang tiba-tiba, atas getirnya kehidupan,enjadi pahit. Ruang Belakang--yang jadi judul cerita ini, adalah cerita yang sederhana namun penuh konflik. Di Ruang Belakang sudut pandang kita diobrak-abrik, mana yang benar dan yang tidak? Perempuan Berbaju Bunga-Bunga, salah satu favorit saya juga: adalah soal kegiatan domestik perempuan dan bagaimana ia dikecilkan ke situ saja. Kàlau saya bahas satu-satu, barangkali review ini akan panjang sekali. Ruang Belakang, menurut saya, adalah kumpulab cerita tentang perempuan, perlawanan, dan bagaimana melawan nasib ketika kita terpinggirkan.
Cerita-cerita sederhana yang ditulis dengan tidak sederhana. Entahlah, saya sering menjumpai cerpen-cerpen seperti ini di media bernama Kompas atau Jawa Pos. Dan memang cerpen-cerpen di buku ini merupakan cerpen yang pernah termuat di sejumlah media, termasuk dua media tadi.
Saya selalu suka. Saya selalu suka dengan cerpen sederhana seperti ini. Penulis mungkin melakukan riset dengan cara bercinta dengan kehidupan. Itulah sebabnya, nyawa pada cerpen ini sangat hidup. Tidak semata-mata menempelkan hasil riset pada karya sastra.
Luar biasa senang bisa membaca cerita-cerita pendek yang terbit lebih dari 20 tahun yang lalu ini. Sebagian ceritanya begitu kritis dan penuh pertanyaan; sebagian yang lain begitu dekat bahkan membayangkannya saja amat mudah.