NasSirun PurwOkartun. Nama itu identik dengan gambar kartun. Memang pemilik nama itu adalah seorang kartunis. Namun selain sebagai seorang kartunis, ia juga seorang penyair, cerpenis, dan novelis. Penangsang merupakan novel pertamanya. Kang Nass, nama panggilannya, memang tergolong berani, revolusioner. ia menuangkan kegundahannya terhadap kisah sejarah Jawa dalam sebuah novel. Rujukan sejarah Jawa selama ini adalah kitab Babad Tanah Jawi.
Novel ini diibaratkan oleh Langit Kresna Hariadi –penulis tetralogi novel Gajah Mada–seperti disertasi bagi penulisnya. Memang tidak salah komentar Hariadi tersebut. Dibutuhkan usaha yang keras untuk membuat novel setebal 700 halaman. Apalagi novel yang mengisahkan sejarah yang selama ini sudah “dipatenkan” dalam Babad Tanah Jawi dengan prespektif yang berbeda.
Dalam Babad Tanah Jawi, seorang tokoh Haryo Penangsang digambarkan sebagai sosok yang gila kekuasaan dan sangat bergagasan, hatinya selalu panas dan jiwanya mudah marah. Melalui novel ini, Kang Nass seperti ingin membalik kisah dalam Babad Tanah Jawi. Kisah novel Penangsang berpusat pada tokoh utama yaitu Haryo Penangsang, yang selama ini digambarkan sebagai tokoh antagonis. Haryo Penangsang dalam cerita Kang Nass adalah seorang tokoh protagonis. “Haryo Penangsang di novel ini adalah sosok pemberani, pembela kebenaran dan keadilan, serta penganut ajaran Islam yang bersih, sekaligus penentang sinkretisme di tanah Jawa yang gigih”, begitulah komentar Prof. Dr. Hasanu Simon.
Tokoh sentral selain Haryo Penangsang adalah Sunan Kudus, guru Haryo Penangsang. Selain mengisahkan tokoh Haryo Penangsang novel ini juga mengangkat peran walisongo tidak hanya dalam penyebaran Islam di Jawa tetapi juga dalam pemerintahan di Kasultanan Demak dan dalam bidang kemiliteran. novel ini diawali dengan petikan naskah Babad Tanah Jawi yang bunyi terjemahannya:
“Alkisah Sultan Demak sudah mangkat. Setelah wafatnya Sultan Demak, Adiati Pajang diangkat menjadi sultan. Negara yang dibawah kekuasaan Demak digabung dalam kekuasaan Pajang. Negara yang membangkang ditaklukkan dengan perang. Tanah pesisir juga daerah di luar kerajaan dan daerah timur serta pesisir barat, semuanya sudah takluk, tak ada yang berani melawan berperang. Semuanya takut pada kesaktian Adipati Pajang. Hanya Adipati Jipang yang tidak mau takluk kepadanya. Namanya adalah Pangeran Haryo Penangsang.”
Dari kutipan tersebut penulis seperti memberi pertanyaan yang mengusik pembaca: Siapakah Haryo Penangsang sehingga tidak mau takluk kepada Adipati Pajang? Rasa penasaran pembaca inilah yang merupakan modal awal untuk menarik minat pembaca terhadap sosok Haryo Penangsang. Kang Nass menceritakan Haryo Penangsang dari masa kecilnya hingga menjadi Adipati Jipang di bawah kekuasaan Demak.
Kisah Penangsang-nya Kang Nass ini sungguh menawan. Meskipun tidak terlalu menegangkan, namun alur cerita yang padat dan lambat membuat ceritanya menarik untuk terus disimak.Membaca novel ini butuh konsentrasi jika tidak mau dibuat bingung oleh alurnya yang rumit. Ceritanya dapat meloncat-loncat dari satu alur ke alur yang lain. Dalam lembaran-lembaran kisahnya kita disuguhi banyak istilah-istilah dalam bahasa Jawa –seperti peribahasa, pakaian adat, nama daerah (asal-usul daerah), maupun istilah-istilah dalam bahasa Jawa yang lain– yang oleh penulisnya diberi penjelasan dalam catatan kaki. Hal tersebut dapat menambah pengetahuan kita tentang budaya Jawa. Inilah salah satu kelebihan novel ini. Dalam catatan kaki penulis juga menuliskan beberapa sumber rujukan kisah sejarah. Jadi, bisa dibilang novel ini ada nilai ilmiahnya.
Novel ini, seperti dikatakan Ahmad Tohari, memberi suara pada lama yang terbungkam. Kita seperti diberi pertanyaan yang tidak perlu dijawab, apakah sudah benar sejarah yang kita yakini selama ini? Bacalah novel ini dan Anda akan mendapatkan pencerahan sejarah yang baru.
Seriea Penangsang karya Nasirun Purwokarto. Mengandung Plot twist terbaik dalam kisah kolosal sejarah Indonesia. Memutar balikan sejarah konvensional yang kita dapatkan di bangku sekolah dengan sudut pandang baru yang didukung fakta fakta yang scientific. Perlu diperbanyak buku seperti ini di bagian kolosal lainnya karena Indonesia kaya akan kisah kisah epic seperti ini
Buku pertama ini menceritakan masa keemasan Demak sebelum pereburan tahta dimulai
Yang biasa nonton ketoprak pasti apal kisah Hadiwijaya vs Penangsang dan semua intrik & konspirasi di sekitarnya. Novel ini spesial karena memotret dari sisi lain. Biasanya selalu dari sisi Hadiwijaya (Karebet), kali ini dari sisi Penangsang-nya. Upaya yang sangat berani, dan baru! Beberapa hal yang patut disorot: - Amat kurang eksyen. Seluruhnya berisi pembicaraan dan obrolan berisi renungan, nasihat, retrospeksi, dan bahkan information dump (tokoh2 membicarakan "informasi" yg disampaikan pada pembaca; bukan mengobrol sungguhan). Untuk buku setebal 700 hal, kita tentu mengharap lebih dari sekadar obrolan-obrolan. Satu percakapan bisa mencapai 3-4 bab, sementara pertempuran yang seru cukup dalam 2 halaman, atau bahkan ada yang 2 alinea tok, itupun flashback. - Terlalu banyak footnote, mengganggu kenyamanan membaca. Selepas footnote nomer 150, footnote-nya tak kubaca lagi karna kebanyakan tak berhubungan dengan plot cerita. - Terlalu banyak flashback, mengganggu progress cerita. Aku sampai kehilangan jejak mana yang "present time" (saat ini) di dalam belantara flashback itu. - Tokoh2nya kurang telengas dan aneh, tak seperti dalam Senopati Pamungkas atau Nagabumi. Semua berwatak biasa2 saja, seperti kerabat atau warga satu RT. Untuk tokoh2 besar yang tercatat dalam sejarah, pasti kebanyakan berpola pikir aneh, kejam, cerdas-tapi-sadis, atau luar biasa ambisius. - Seperti belum selesai. Cerita ditutup pas Penangsang akan membunuh Prawata (bukan Prawoto--kayak tetangga satu RT-ku dulu!) dan Hadiri. Apakah ada Penangsang 2? - Vokal "a" yang dibaca o (seperti bunyi o dalam "pohon") tapi ditulis dengan huruf "o" seperti Jowo-salah-ejaan masa kini (Retno Kencono, Ratu Mas Nyowo, Prawoto, dll). Mungkin maksudnya untuk membantu pembaca non-Jawa memahami pengucapan, tapi tentu sangat mengganggu bagi orjaw yang mudeng ejaan. Awalnya kukira Penangsang memberi tafsir baru, tapi ternyata hanya sekadar ganti angle tok. Yang antagonis (Penangsang) jadi protagonis, sedang yang protagonis (Karebet cs) jadi antagonis yang serba sinis dan penuh kecurangan. Kalau ada sekuel (atau novel mengisahkan tokoh ketoprak lain) aku mengharap plis plis pliiiis harus jadi cerita silat. Kalau tidak, bakal jadi berasa kayak mbaca buku Slametmuljana atau De Graaf dengan dialog...
This entire review has been hidden because of spoilers.
Nassirun mampu menggabungkan unsur-unsur dari berbagai literatur kuno dengan ide-ide kontemporer yang berkembang. Pembaca novel ini dibawa untuk memahami masing-masing tokoh yang ada dengan sudut pandang yang objektif, sehingga pembaca bebas mengambil kesimpulan mengenai bagaimana karakter masing-masing tokoh dan apa saja pesan yang dibawa.